←18+
← As Elegant As Aurora

Episode 13 — As Elegant As Aurora

EPISODE 13
Episode 13 Slrrrp... Slrrp... Slrrpp... "Mmmhhh... Mmmnhh..." Slrrpp... Slrrpp... Jinan terus mengulum kontolku bagai permen lolipop yang lupa cara berhenti. Decakan licin itu menggema di kamar yang masih berbau sex semalam, dan jujur saja—tak ada cara terbaik untuk memulai pagi selain ini. Kau tidak akan percaya apa yang aku alami pagi ini. Beberapa menit setelah aku terbangun, niat awalku yang cuma mau mengerjai Jinan agar bangun dengan menyentuh dan menggelitik badannya jadi kacau balau. Akhirnya justru aku yang 'menghajar' vaginanya itu lagi pagi-pagi begini, padahal presentasinya jam tujuh. Tapi kau tahu kenapa aku menyesal sudah mengerjainya? Karena Jinan mengerjaiku balik. Saat aku baru saja mengambil handuk dan bersiap mandi, dia merengkuhku dari belakang, berlutut, lalu kontolku yang masih lemas langsung lenyap di dalam mulutnya. Dan sekarang... beginilah nasibku. Dia sukses membuatku sange lagi dengan rangsangan licik yang dia berikan. Slrrpp.... Jinan mendalamkan lagi. Deep throat. Kontolku lenyap sampai ke pangkal, tenggorokannya mengemut dan mengencangkan di sekeliling kepala kontolku. Kedua tanganku mencengkeram sprei sampai kusut. Aku menggigit bibir bawah, terpejam, tenggelam dalam sensasi hangat dan beceknya mulut Jinan yang memanjakan kontolku tanpa ampun. "Mmngh... Aahh..." Aku menahan desahan dengan segala sisa kehormatanku. Jinan terus mengulum, diselingi kocokan tangan di batang kontolku yang sudah basah oleh liurnya sendiri. Jempolnya yang lain tak lupa meremas dan memijat buah pelirku pelan-pelan. Slrrp... Slrrpp... Jinan makin liar. Kecepatannya meningkat, ludahnya meluber di mana-mana. Aarrgg! Aku sudah di ujung! "Ahh... Nan... g-gue keluarr!" CROOT CROOT Aku muntahkan semuanya di dalam mulut Jinan. Dia menahan kontolku tetap tertancap di mulutnya saat aku memperingatkannya tadi, menelan setiap tetes spermasku yang memang tak terlalu banyak. Lalu, selepas menelannya habis, Jinan merangkak naik, menindih badanku, dan mulai melumat bibirku. Damn it! Kedua tanganku yang tadinya cuma pasrah di atas sprei kini meraba-raba kulitnya yang basah oleh keringat. Nafas kami saling memburu di sela berciuman, desahannya terdengar pelan sesekali. Aku balas mencium dan menjilati lehernya, menyeret lidahku di kulitnya yang menggeliat. Keringat kami yang bertemu menciptakan bau khas yang justru membuat birahiku naik dua kali lipat. "Lu sange kan Dim? Hhh... Dasar..." "Hhh... ini yang lu mau kan... Hhh..." Jinan merangkak mundur sedikit, lalu tanpa aba-aba sedikitpun—dia menurunkan pinggulnya, memasukkan perlahan kontolku yang sudah kembali tegang itu ke dalam memeknya. Becek. Dia sudah becek sejak tadi. Dia membiarkan kontolku tertanam penuh di dalam memeknya beberapa saat, merasakanku mengembang di dinding-dindingnya. Dia menatapku. "Lo diem aja..." Ya ampun. Woman on top. Aku menelan ludah berat. Jinan tersenyum nakal, lalu begitu posisinya siap, dia mulai memompa kontolku dengan pinggulnya. Naik. Turun. Memutar. Sementara aku cuma bisa berbaring pasrah, jadi tontonan sekaligus korban dari permainan Jinan. Toketnya bergoyang-goyang liar mengikuti gerakan pinggulnya yang menusuk-nusukkan kontolku ke memeknya. Wajahnya memerah, mulutnya menganga, rambutnya berantakan—pemandangan terindah yang bisa kubayangkan dari sudut pandang ini. Tanganku yang semula diam tak kuasa menahan diri dari toketnya yang bergoyang itu. Alhasil, kedua toketnya itu akhirnya kuremas-remas. Putingnya yang imut itu turut kucubit dan kuputar-putar pelan. "Mmhh... Ssshh... Aahh..." Desahnya tumpah ketika aku terus meremas dan memutar toketnya. Jinan merem-melek, berkali-kali menggigit bibir bawahnya sampai putih. Sesekali kusibak rambutnya yang menutupi wajahnya. Melihatnya mulai kelelahan, kedua tanganku berpindah memegangi pinggulnya, membantu mengatur tempo naik-turunnya. Dan setelah beberapa menit bergoyang di atas kontolku, Jinan akhirnya sampai di puncaknya. Tubuhnya bergetar hebat, ia menutup mata rapat dan mendongak dengan mulut terbuka lebar. "AaaAAHH..." Orgasme itu akhirnya ia dapatkan. Kontolku kembali terlumuri cairan hangat dari memeknya. Setelah mencabut kontolku dari liangnya, Jinan berbaring di sampingku. Nafas kami tergengah-engah. Keringat kami membasahi sprei sampai basah. Sepertinya aku benar-benar harus ganti sprei lagi. Aku melirik jam. Setengah delapan lewat. Sepertinya aku memang harus skip presentasi. Ah, biarlah. Nilai bisa diperbaiki besok. Tinggal soal bagaimana aku menghadapi teman-teman satu kelompokku... yah, sepertinya itu juga bukan masalah sebesar Jinan. "Hehe..." Dia tersenyum saat menoleh ke arahku, dan aku membalasnya dengan senyum. Aku menghela nafas sambil menatap langit-langit. Untuk sejenak... aku merasa bersalah. Seolah barusan mengkhianati Cindy... "Dim..." "Kenapa?" Aku menoleh ke arahnya. "Emm... gue boleh jujur enggak?" "Soal apa?" "Emm... Perasaan gue ke elu, Dim..." "Hah?" "I-iya..." "Maksud lo apa?" Aku bangkit duduk di pinggir kasur. Jinan masih berbaring, matanya melamun entah ke mana. "Y-ya... gimana ya... emm..." Jinan menghela nafas panjang. "Gak jadi deh." "Lah anjir, ngom—" "Gue mandi dulu." Jinan buru-buru bangkit dari kasur, mengambil handukku yang tergeletak di lantai, lalu menghilang. Aku memilih diam di tempatku, masih lemas setelah 'dikerjai' habis-habisan olehnya. Perasaan? Apa maksudnya itu? Jangan-jangan Jinan... Aku menggeleng cepat-cepat. Tidak mungkin. Lagipula dia sudah menolakku mentah-mentah waktu aku nyatakan perasaanku dulu. Aku menghela nafas. Kontolku terasa perih. Keterlaluan memang Jinan. Aku yakin kemaluannya sekarang juga perih sama. Emm... tapi... kalau ditelisik... ini semua berawal dari kesalahanku juga sih... Perlahan aku bangkit, mengambil kaus dan celana pendek dari lemari, memakainya, lalu berjalan ke dapur. Risih juga sih berkeliaran telanjang bulat dalam rumah sendi— Astaga. Jinan mandi dengan pintu kamar mandi terbuka lebar. Aku yakin seratus persen pintu itu tidak rusak. Sumpah. Kuncinya masih berfungsi dengan baik. Bagian belakang tubuhnya yang basah itu terlihat jelas sekali. Rambut panjangnya menutupi sebagian punggung, sementara pantatnya... bersih, mulus, membulat, tersaji bebas tanpa terhalang apa pun. Aku menelan ludah keras. Tidak. Cukup. Sudah cukup untuk hari ini. "Kalo mandi tuh ya... Pintunya ditutup!" Aku bergegas menutup pintu itu sampai bunyi klik. Dari dalam terdengar Jinan tertawa kecil. Sialan. Dia sengaja, ya. *** "Kenapa lu?" Aku menghampirinya. Handuk yang masih agak basah kusampirkan di bahu kananku. Jinan terlihat melamun di atas sofa. Kini dia mengenakan kaus dan celana training milikku yang kelihatan longgar di badannya. "Eh, eng-enggak kok, enggak apa-apa." Sepertinya aku membuyarkan lamunannya. "Tadi lu mau bilang sesuatu kan?" Aku duduk di sisi sebelahnya. "Tentang... perasaan lu?" "Eh? Iya emang? Enggak... enggak... lu salah denger." Dia tidak menoleh ke arahku. Tapi dari samping, aku bisa melihat wajahnya memerah. "Hmm?" "G-gue balik dulu," Jinan beranjak dari tempatnya. Ketiga kardus yang semalam ia minta sudah kuturunkan ke mobilnya tadi. "Yakin nih enggak mau makan dulu?" "Enggak." Jawabnya singkat, sudah setengah badan di luar pintu. Aku pun bangkit mengantarnya. Jinan sudah masuk ke dalam mobilnya. Aku menghela nafas. "Dim..." kaca mobil turun. Wajahnya yang tampak lebih segar itu muncul dari sana. "Iya?" "Makasih ya..." Aku tersenyum sebelum membalasnya. "Iya, hati-hati lu." Aku melambaikan tangan seiring mobil itu perlahan keluar dari garasi. Jinan tersenyum lebar dan melemparkan kiss bye padaku sebelum jendela ditutup dan mobilnya melaju menjauhi kontrakanku. Begitu mobilnya hilang dari pandangan, kukunci gerbang, lalu kembali masuk. Aku mengunci semua pintu. Sepertinya aku akan tidur lagi. Jinan sukses membuat badanku remuk. Aku menarik selimut yang masih lekat dengan aromanya. Tanganku meraih smartphone di meja samping kasur. Foto itu masih jadi wallpaperku—Cindy dan aku saat wawancara. Waktu kami pertama kali bertemu... Aku menghela nafas. Perlahan, kedua mataku terpejam, menyeretku ke dalam tidur. Dan di dalam tidur itulah... aku melakukan kesalahan kedua hari ini. *** "Mmmphh...." "Aaahh... T-terus Naann... mmhh..." Sllrrpp... Sllrrpp... "AAAHH... Gue k-eluaarr.... MMhHH..." Crot Crot Crot "Ahh... Diimm..." "Jinan..." Seketika mataku terbuka. Aku tersadar dalam keadaan masih berbalut selimut, pakaian masih utuh menempel di tubuhku. Hanya saja... kontolku tegak tegang sekarang. "Mimpi..." gumamku. Ya ampun... sampai ke dalam mimpi pun... dia masih... Huft... dasar... Drrt... Drrt.... Getar smartphone di meja itu menarik perhatianku. Aku yang sebelumnya berniat tidur lagi turun dari kasur dan mengambilnya. "Wah. Dari Cindy." "Halo? Gimana mbul?" "Kak, dimana?" "Di kontrakan. Kenapa?" "Huft... kebiasaan... katanya kemarin mau anter aku latihan futsal lagi... Lupa ya?" Astaga. Aku menoleh ke jam dinding. Setengah empat lebih sepuluh menit. "Eh, ya ampun! Maaf maaf mbul, aku baru bangun. Oke oke, aku otw kos kamu yaa..." "Enggak usah kak. Aku udah di tempat futsal. Tadi naik ojek online. Nanti jemput aku aja ya jam 5." "Duuhh... maaf banget mbul... aku bener-bener lupa..." "Iya..." suaranya memelan. "Ih, kamu ngambek ya?" "Enggak." Iya. Dia ngambek. "M-maaf..." "Udah udah... Jangan sampe lupa ya. JAM LIMA SORE. Kalau sampe lupa lagi... awas aja kak." "Iya mbul, nanti aku sampe sana jam lima kurang deh." "Serah. Aku latihan dulu." "Oke, Lov—" Panggilan terputus. Aku menghela nafas panjang sekali. "JINAN KAMPREETTT!!!!" *** Aku memarkir motorku di tempat parkir. Tempat futsal ini tidak pernah sepi—selain sewanya murah, lapangannya nyaman dipakai. Di sini pula turnamen futsal jurusanku akan diadakan. Tiga angkatan akan saling berhadapan: angkatan 2016-nya Cindy, 2015 angkatanku, dan 2014 angkatan atas. Tiap angkatan mengirim dua tim putra dan dua tim putri. Drrtt.... Drrtt... Smartphone di sakuku berdering. Pasti dari Cindy. Ah, benar. "Halo mbul." "Dimana?" "Aku udah didepan kok, santai. Hehe." "Yaudah. Aku keluar sekarang." Dia mengakhiri panggilan. Aku menghela nafas. Sambil menunggu dia keluar, kubuka beberapa chat di LINE. Dan tiba-tiba, saat jariku masih sibuk menari di layar, Plakk Bahu kiriku ditampar. Aku reflek menoleh. Oh, gembul. Dia berdiri menatapku tajam, rahang bawahnya bergerak mengunyah permen, lalu berhenti dan memanyunkan bibir. "Ih kok kasar?" "Habis. Nyebelin banget sih kakak..." "Huft... aku kan udah minta maaf..." Aku mengelus-elus area tamparannya. "Makan yuk. Aku laper nih, kamu juga laper kan habis latihan?" "Emm... huft... gini aja kak... aku masakin aja gimana? Biar enggak keluar uang." "Hah?" "Iya... sekarang ke kontrakan kakak aja ya." "O-oke..." "Ih kok gitu? Enggak suka aku masakin ya?" "Eh, enggak, enggak. Aku suka kok, hehe. Yaudah yuk naik." *** Kami tiba di kontrakanku. "Ngh... kamu mandi dulu sana! Bau banget." Aku memencet hidung saat menghirup bau keringatnya lagi. "Ih, laper..." "Nanti masakan kamu jadi baru keringet. Udah sana mandi dulu!" suruhku. "Ish... iya deh iya..." Setelah menerima handuk pinjanku, Cindy bergegas masuk kamar mandi. Sebenarnya... bau keringatnya dan wajahnya yang lepek itu sukses membuatku sange sejak di sepanjang jalan tadi... Bahkan sekarang pun aku masih menahan-nahan kontol ini agar tidak mengacung dan ketahuan olehnya. Tapi akhirnya... nafsu ini menang. Aku yang tadi duduk di sofa tiba-tiba beranjak dan mendekati kamar mandi. Melalui lubang kecil di gagang pintu, mata kiriku berusaha memfokuskan pandangan pada Cindy di dalam, sementara tangan kiriku sudah memijit-mijit kontolku yang tegang di dalam celana pendek. Bingo! Mataku berhasil menangkap Cindy yang telanjang bulat di dalam sana—putih mulus tanpa cacat. Dia baru saja melepas bra biru mudanya. Karena lubangnya kecil, aku hanya bisa melihat sebagian tubuhnya, tapi kini mataku menangkap dua toket besarnya yang ranum, menggoda banget untuk diremas. Tangan kiriku mulai mengocok kontolku pelan. Naik-turun. Memijit. Meremas. Cindy mengubah posisi ke kanan. Hilang dari pandangan. Sial! Aku ikut menggeser posisi, mencari sudut yang pas untuk kembali memandangi pemandangan itu. Krek Aargh! Pintu itu terbuka sedikit karena kepalaku tak sengaja mendorongnya saat berpindah. Kenapa dia tidak mengunci pintunya?! Cindy reflek membuka pintu lebih lebar. "Dih, mesum! Ngintip!" "Eh eh, m-maaf aku eng—" Aku panik sendiri tertangkap basah. Dan yang lebih parah—dia berdiri di ambang pintu tanpa menutupi apa pun. Toket besarnya terpacak bebas, daerah kewanitaannya pun tanpa sehelai penutup. Tubuh telanjangnya benar-benar kusuguhkan leluasa. Mataku terbuka lebar. Ingin rasanya menerkamnya sekarang juga. "Kakak mau bacolin aku ya?!" "Eh m-maaf, aku—" Tiba-tiba tangan kiriku ditariknya. Aku yang kaget tak sempat melawan. Cindy menyeretku masuk ke kamar mandi lalu mendorongku ke dinding. Bahuku tekanan tangannya, menahanku tak bisa bergerak. Dia menatapku tajam dengan dua bola mata besarnya itu. "A-aku eng—" Belum sempat aku selesai, tangan satunya sigap melucuti celanaku sampai ke lutut. Tak ada lagi sehelai benang yang menutupi kontolku yang tegang. "Woi. Kamu juga mes—" Bibirnya yang lembut membekap mulutku, melumatku. Baiklah. Sepertinya aku paham apa yang dia mau. "Mending gini kan kak..." Nafas kami saling memburu. Kedua tangannya menahan kepalaku, sementara kedua tanganku yang sudah nggak sabar sejak tadi akhirnya meraih toket ranum itu dan meremas-remasnya pelan. Terlalu sayang untuk dianggurkan. "Mmmhh... MmHhh.." Desahannya tumpah di sela ciuman kami. Dua putingnya mengeras dalam genggamanku tak lama kemudian. Ciumanku turun ke lehernya. Aku menghirup bau keringatnya dalam-dalam sebelum menciumi dan menjilati kulit lehernya, sambil tetap memainkan toketnya. Cindy mendongak, mendesah-desah karena rangsangan itu. "Aakkhh... Kaakk.... mmhh... Teruss..." Lenguhnya melebar ketika bibirku mulai menghisap putingnya bergantian—kiri, kanan, kiri, kanan. Tangan kananku berkelana turun, mengelus-elus sekitar pusarnya sampai Cindy menggelinjang tak karuan. Hingga akhirnya jariku tiba di bibir memeknya. Begitu aku hendak mainkan klitorisnya... dia menahan tanganku kuat. "Mmhhh... kaakk..." Aku menghentikan semuanya. "Denger..." Cindy mendorongku lagi ke dinding. "Jangan didalem ya..." Tiba-tiba, Cindy merangkul leherku, mendekatkan badannya sampai kontolku menempel pada memeknya. Dia menggerak-gerakkan pinggulnya pelan, memeknya tergesek-gesek batang kontolku yang sudah basah. Aku menelan ludah. Apa dia serius? "C-cin..." "Ayo kak..." "K-kamu serius...?" "Udah... ayo kak..." "C-Cindy... ak—" "Kak... aku percaya sama kakak..." Dia tersenyum lebar. "Jangan didalem, oke?" Aku menghela nafas, lalu membalas senyumnya. Tangan kiriku memegangi pinggulnya, kaki kanannya kuangkat dan kutahan. Perlahan... aku mendorong kontolku mendekat. Aku bisa merasakan nafasnya jadi berat. Jantungku berdegup kencang tak keruan. Aku tidak percaya momen ini datang secepat ini. Jleb "AaaKkhhHh...." Cindy membuka mulutnya, mendesah pelan. Kontolku belum masuk seluruhnya ke dalam lubang itu. Aku berhenti sejenak, mencium bibirnya agar dia lebih rileks. Kedua tangannya berpindah ke belakang kepalaku, membelai rambut pendekku, lalu menarikku lebih dekat. Ciuman kami berlanjut, dalam, saling melumat. Setelah merasa dia cukup rileks, aku lepas dari ciuman itu dan mendorong lagi. "MmmHhHH... Kaakk..." Dan kontolku akhirnya terbenam seluruhnya di dalam liang hangat itu. Ini pertama kalinya aku merasakan hangatnya memek Cindy. Dan di sana... cairan merah mulai keluar perlahan dari sela nafasku dan kontolku. "K-kamu enggak bakal nyesel kan...?" "Aku... punya kakak sepenuhnya..." bisiknya di telinga kananku. Aku merinding, lalu tersenyum. Tak menunggu lama, aku mulai memompa dengan tempo lambat. "Aakh.. Akkh... Kaaakk... Mmmhhh... EnaAKK..." Desahannya menikmati tiap hujamanku. Aku pun sama—sempitnya memek Cindy ini benar-benar nikmat, nggak bisa kupungkiri. Plok Plok Plok Bunyi basah setiap kontolku menghujam memeknya. Kupercepat tempo itu sebisaku. Tubuh Cindy bergoyang seiring hujamanku, toketnya yang mengeras berkali-kali berpapasan dengan dadaku. "AaakKKMmPPh..." Aku buru-buru membekap mulutnya. "Sssttt... pelan-pelan... ntar ketauan..." kataku sambil terus memompa. "MMPPHHH...!" Desahannya tertahan di balik telapak tanganku. Tubuh Cindy bergetar hebat. Kontolku serasa dipijat dan ditelan oleh dinding memeknya yang berkedut. Kedua tangannya mencengkeram rambutku kuat. Tak lama, kontolku terasa basah oleh cairan hangat dari dalam sana—Cindy orgasme. Wajahnya yang merah dan berantakan itu... begitu indah. Ekspresi seperti ini belum pernah kulihat darinya. Aku melepas bekapanku. Nafasnya masih terengah. Matanya sayu. "Hhh... e-enak... hhh... Mmhh... kakak belum nyampe kan...? hhh..." "Hhh..." Aku mengangguk sebelum mencabut kontolku. Cindy menoleh, lalu memposisikan dirinya tengkurap bertumpu pada tangan dan lutut. Beruntung kamar mandi ini cukup luas. "Siap siap." "Ayo kaakk... hhh... buru..." Aku melepas kaus dan melemparnya sembarangan. Keringat membuatku gerah kalau terus berpakaian. Perlahan, kontolku kembali menghujam memeknya. Cindy kembali mendesah saat lubang itu dimasuki kontol yang masih sangat tegang. Sebenarnya kontol ini sudah terasa perih gara-gara Jinan pagi tadi... tapi apa boleh buat. Aku sudah terlanjur merenggut keperawanan Cindy. Terlalu sayang kalau harus berhenti sekarang. Aku langsung menyerang dengan tempo cepat. Toketnya bergelantungan liar saat tubuhnya bergetar menerima tiap hujamanku. Kedua tanganku menangkap merekanya lalu meremas-remas sendiri pelan. Plok Plok Plok Pantatnya dan pahaku berbunyi saling berpapasan. Nafasku makin tak beraturan, tenagaku seperti mau habis—tapi aku nggak peduli. Aku harus sampai. Setelah sekitar sepuluh menit memompa, aku putuskan ganti posisi. Kini Cindy terlentang. Kedua kakinya kubuka lebar-lebar lalu kuangkat, dan kontolku kembali kutusukkan ke memeknya. Dari posisi ini aku bebas memandangi wajah sayunya dan toketnya yang bergoyang-goyang mengikuti iramaku. Kembali dengan secepat-cepatnya. "Akh... Akh.. Akkhhh.... teruss... Mmhhh..." Dia menggigit bibir bawah sambil menutup mata. Rambutnya berantakan, beberapa helai menutupi wajahnya. Toketnya yang kencang itu sukses memindahkan tanganku ke sana. Dengan jempolku, kutekan putingnya lalu kuputar-putar bagai analog Playstation. Itu sukses membuatnya bergelinjang makin heboh. Hampir lima menit aku terus memompa sambil memainkan putingnya. Aku mendongak, menutup mata, mempercepat lagi hujamanku. Tak lama setelah itu, tiba-tiba— DUK "Aduhh!" Dia meringis kesakitan, mengelus-elus cepat ubun-ubunnya. Kepalanya terbentur bak mandi. Sepertinya aku terlalu keras dan nggak memperhatikan posisi kami. Aku juga merasakan benturan itu. "E-eh, y-yaampun... m-maaf." "Bego banget sih kak!" keluhnya. "Maaf..." Aku menggeser posisinya ke tengah, kini tak ada lagi dinding atau benda apa pun di dekatnya. Putingnya kembali kuputar-putar, memeknya kembali kupompa. Bau keringat kami makin memenuhi rongga nafasku. Makin bergairah, kupercepat lagi tempo hujamanku. Kedua tangannya yang sejak tadi diam kini main sendiri—memutar putingnya sendiri, meremas toketnya sendiri. Sementara tanganku kini meraba-raba pahanya yang gemetar. "Sshh... kaakk... e-enaakk.. t-teruss... mmhh..." "I-iyaa... mmhhh..." Sepertinya aku sudah mulai merasakan aliran sperma ini merayap menuju kepala kontolku. Beberapa hujaman lagi... dan ini dia—aku mulai bergetar hebat, bulu kudukku berdiri. "A-aku... S-sampee..." Segera aku mencabut kontolku, lalu mengocoknya cepat di depan wajahnya. Crot Crot Crot Aku menembakkan spermasku ke wajahnya sampai belepotan. Nafas kami sudah sangat tak beraturan. Aku terduduk bersandar ke dinding, sementara Cindy masih terbaring lemas, wajahnya masih berlumuran spermasku. "Dah, kamu mandi dulu sana..." aku bangkit berdiri, berjalan keluar. "Kaak..." panggilnya. Aku menoleh ke wajahnya yang masih terlihat sangat lemas. "Mandi bareng aja... biar cepet makan..." Aku menelan ludah. "Ya ampun..." To be Continued...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 12
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal