←18+
← Bb M - Baby Maker (Ribak Sude Story)

Episode 01 — Bb M - Baby Maker (Ribak Sude Story)

EPISODE 01
Episode 1 — Bb M (Ribak Sude Story) Kenalkan, namaku Nasrul. Tapi orang-orang lebih akrab memanggilku Aseng, gara-gara muka dan kulitku yang mirip orang Cina. Aku sih nggak masalah. Dari kecil panggilan itu sudah nempel di badanku, padahal aku Ajo tulen—Minang asli. Bapak dan ibuku berdua dari kampung di Pariaman, Sumatera Barat. Mungkin karena kulitku putih, warisan dari ibuku yang juga putih bersih, orang-orang langsung menyimpulkan begitu. Dari kecil aku tumbuh besar di Medan. Kini menikah dan punya tiga anak—semuanya ganteng dan cantik, alhamdulillah. Waktu cerita ini terjadi, aku tinggal di pinggiran kota Medan, tepatnya di daerah Mabar, di perbatasan dengan kabupaten tetangga. Yang orang Medan pasti tahu di mana Mabar itu. Kupilih tempat ini karena dekat dengan tempat kerjaku dulu—pabrik di kawasan industri, cuma sepuluh menit naik motor dari rumah. Sebagai staf administrasi senior, aku sudah sanggup membangun rumah sederhana untuk istri dan anak-anakku. Rumah kami ada di dalam sebuah gang di tepi jalan yang ramai. Lima belas tahun sudah kami bermukim di sini, sejak gang ini masih sepi sampai sekarang penuh sesak oleh rumah-rumah—milik sendiri maupun kontrakan. Rumah kami, walau tidak mewah, satu-satunya yang punya halaman luas. Bayangkan saja, halamannya cukup untuk dibangun satu rumah lagi. Banyak yang menyarankan aku membangun rumah petak untuk disewakan. Tapi tidak dulu-lah, pikirku. Halaman itu untuk anak-anakku bermain. Mereka masih kecil—mau main di mana kalau bukan di sini? Di jalanan gang? Bahaya. Motor lalu-lalang, mobil kadang seliweran keluar-masuk. Cerita ini dimulai dari lahirnya anak keduaku beberapa tahun lalu. Anak perempuan cantik, kulitnya putih bersih, rambut hitam legam tebal, lahir seberat 3,5 kilogram. Namanya Salwa. Abangnya, Rio, waktu itu baru berumur empat tahun dan bangga sekali jadi kakak. Ada kebiasaan yang kulakukan pada semua anakku: kugendong mereka keliling gang, pagi sebelum berangkat kerja dan sore saat pulang. Mulai usia empat sampai lima bulan, anak-anakku sudah kubawa berkeliling menyapa tetangga, mengenal lingkungan. Jadilah anak-anakku yang tampan dan cantik ini terkenal di sepanjang gang yang lumayan panjang itu. Sudah wara-wiri dari depan sampai belakang, mengukur panjang jalan berton ini sedari bayi. "Wah, cantik sekali Salwa... Udah mandi, jalan-jalan sama papa pagi-pagi..." sapa seorang tetangga yang sedang menyapu halaman. "Salwa cantik sekali... Mau ke mana pagi-pagi?" sapa yang lain yang sedang menyiapkan anaknya berangkat sekolah. Salwa tertawa-tawa sepanjang perjalanan, girang dijawil dan dielus pipinya. Sepanjang gang sepanjang lebih kurang tiga ratus meter itu, fans Salwa banyak sekali, menyapa tiap pagi atau sore. Kadang Rio ikut serta, doelnya biar dibelikan jajanan di warung. "Salwa... gendong-lah, biar nular..." pinta seorang ibu hamil muda yang sedang mengandung anak keempat. Anaknya laki-laki semua, susun paku istilah orang Medan—umurnya cuma beda setahun. Ia berharap sering menggendong Salwa, anaknya nanti lahir perempuan juga. Cantiknya sih belum tentu, itu tergantung bibit. Bener, nggak, bos? Kebiasaan itu ditiru juga oleh para wanita yang belum dikaruniai anak. Kadang istriku memanfaatkan momen ini—menyerahkan Salwa untuk dimomong mereka saat ia sibuk dengan pekerjaan rumah. Kalau dihitung kasar, ada lima sampai enam pasangan suami istri di gang ini yang belum punya anak. Padahal rata-rata sudah menikah lebih dari tiga tahun. Contohnya wanita satu ini. Bernama Aida. Suaminya bernama Agus. Sama-sama berumur dua puluh enam tahun, sudah empat tahun menikah. Baru dua tahun ini mereka mengontrak rumah di gang kami. Agus bekerja di kawasan industri yang sama denganku, beda pabrik saja. Waktu itu Aida sedang menggendong Salwa dengan riangnya. Mungkin sedang membayangkan senangnya punya bayi cantik dan sehat sendiri. Yang lahir dari rahimnya sendiri. "Bang Aseng... kalau bosan dengan Salwa... kasikan Aida saja, ya?" cetusnya. Kutanggap sebagai candaan biasa. "Ah, ada-ada saja kau, Da... Masak anak sendiri mau dikasikan orang... Buatlah sendiri..." jawabku ikut bermain canda. "Nggak jadi-jadi, bang Aseng... Udah empat tahun kami kawin... Nggak hamil-hamil awak..." jawabnya sambil mengayun-ayun pelan Salwa di gendongannya, lalu mengecup ubun-ubun bayiku berulang-ulang. "Ah, mana si Agus? Masuk shift malam dia? Gas terus-lah ini kalau dia pulang nanti..." kataku ketawa-ketiwi, tetap bercanda. "Entar-entar lagi pulang dia, bang... Mana sempat lagi dia... Terus tidur dia itu nanti..." keluhnya, tapi tetap menciumi pipi Salwa yang gemas. "Capek kali katanya... Padahal nggak berat kerjanya... Cuma nengok-nengok operator mesin sebentar... tidurnya dia abis itu sampai Subuh..." lanjutnya. Agus memang supervisor mesin produksi. Pernah ia cerita, kalau tidak ada masalah, mesin-mesin cukup dihandle para operator. Jadilah dia punya waktu santai yang berlebih. Santai sampai badannya pun melar. "Eh, ngomong-ngomong soal kerja... Awak permisi juga-lah, Da... Mau masuk kerja..." kataku setelah melirik jam tangan, sambil memberi isyarat meminta Salwa kembali. Salwa waktu itu baru lima bulan, lehernya belum kuat menopang kepala, jadi Aida menyandarkan kepala Salwa di dadanya. Ia belum terlalu paham teknik menggendong bayi—ya iyalah, belum pernah punya anak. Dan aku jadi agak kesulitan mengambil Salwa dari gendongannya tanpa menyentuh... Tahu kan kalau menggendong bayi itu bagaimana? Satu tangan harus masuk di ketiak bayi, tangan satunya menahan bokongnya. ...Tanpa menyentuh dada Aida tentunya. Dadanya tidak terlalu besar, paling hanya cup B. Tapi aku jamin, kalau dia hamil dan melahirkan nanti, ukurannya pasti melonjak drastis. Salwa berhasil berpindah kembali ke lenganku—dengan sedikit insiden kecil ujung jariku menowel dadanya, lebih tepatnya bra-nya. Mudah-mudahan tidak terasa. "Da-dah, bu Aida..." kataku pamit sambil melambaikan tangan mungil Salwa. "Da-dah, Salwa... Nanti sore gendong lagi, ya?" jawabnya riang, muka berseri-seri melambaikan tangan pada anakku. Untung dia tidak merasakan towelan kecil tadi, jadi tidak ada masalah, pikirku. Saat melewati depan rumahnya, kulihat motor Agus sudah terparkir di teras kecil. Berarti dia sudah pulang. Aida ada di depan, menyapu dengan sapu ijuk. Ia mengangguk dan tersenyum lebar padaku. Kubalas senyumnya. --- Pulang kerja dengan Supra X 125-ku, kulihat istriku sedang berjalan-jalan dengan kedua anak di gang. Rio asyik makan es lilin, sementara Salwa—lagi—digendong oleh Aida. Istriku sedang mengobrol dengannya. "...langsung jadi... padahal waktu di pelaminan kakak lagi halangan, loh..." bisa kutebak apa yang mereka bicarakan. Pasti masa-masa kehamilanku dulu waktu mengandung Rio. "Ini orangnya..." kata istriku menunjuk padaku yang baru saja turun dari motor. "Jadi kakak subur kali-lah ya? Langsung jadi gitu..." komentar Aida, memandang kami berdua bergantian. Rio langsung menaiki motor bagian depan, minta diajak jalan-jalan sore. "Mungkin juga... Senggol langsung jadi... Mungkin bapaknya juga yang subur... Ini Salwa juga cepat... Baru buka spiral, bulan depannya langsung jadi juga..." kata istriku dengan nada yang sedikit bangga—tidak ada masalah dengan keturunan. Mudah-mudahan memberi semangat Aida untuk terus berusaha dengan suaminya. Salwa sudah berpindah kembali ke pelukan ibunya, dan istriku sudah nangkring di jok belakang. "Jalan-jalan!" teriak Rio. Kami berpamitan pada Aida. "Kalau dipikir-pikir... banyak juga ya yang belum punya anak di gang ini, pa..." kata istriku saat kami melintasi gang, sebelum mencapai jalan aspal di depan. "Iya... Itu Aida udah empat tahun katanya..." jawabku, motor berhenti di mulut gang, lampu sein berkedip ke kanan, menunggu giliran masuk arus. "Fitri juga tuh... Ini kan dia dengan laki keduanya... Yang pertama dulu sempat keguguran sekali waktu di Jawa... Abis itu sampai sekarang... Sampai ganti laki juga belum hamil-hamil... Lima tahun..." cerita istriku tentang tetangga kami yang menyewa rumah tidak jauh dari rumah kami. Gosip di antara ibu-ibu kadang lebih akurat dari kantor kelurahan. "Kalau Iva?" tanyaku tentang wanita yang tinggal tepat di pertengahan gang, pembuka warung. Anaknya baru tiga tahun—anak pungut dari saudaranya. Ia dan suaminya menikah lebih lama dari kami berdua. "Udah sembilan atau sepuluh tahun gitu..." jawab istriku, tak ingat pasti. "Terus si Lita juga... Enam tahun... Laki-nya kebanyakan meranto... Gimana mau buat anak?" cerocosnya dari jok belakang. Salwa sudah tertidur, terpejam kena angin sepoi-sepoi sore, sementara Rio masih duduk anteng di depanku. "Kalau Asri sama Wiwit hampir sama, ya? Mungut anak dulu baru dapat anak sendiri..." begitulah obrolan kami sepanjang jalan sore itu. Pulang-pulang bawa gorengan dan seplastik penuh jajanan untuk Rio. --- Beberapa hari kemudian. Rutinitas tetap sama. Pagi dan sore aku tetap membawa Salwa keliling gang—bahkan sampai ke ujung belakang, di mana masih ada sawah-sawah di pinggiran jalan tol. Salwa melonjak-lonjak girang melihat kawanan kambing dan bebek. Bagian ini masih sepi, rumahnya sedikit, lebih banyak sawah. "Eh, Salwa... Mainnya sampai kemari ya?" sapa seseorang yang melintas dari belakang dengan motor matic merah. "Iyaa, bu Aida... Salwa mainnya jauh sampai kemari..." jawabku, menyapa wanita yang niat banget—sampai berhenti motor demi menyapa Salwa. "Liat bebek... Liat embek..." Awalnya ia ragu-ragu, mau terus jalan atau bercengkrama dengan Salwa. Malah ia turun dari motor setelah mematikan mesinnya. Kurang begitu kupperhatikan apakah ia melirik kanan-kiri dulu sebelum turun. Yang jelas ia sudah meminta menggendong Salwa. Dibawanya bayiku mendekati kawanan bebek yang bermain di genangan air sawah yang sudah panen. "Aku pengen kali-lah, bang..." katanya, tertelan suara kwek-kwek bebek yang bising. Kurang paham apa katanya sehingga aku mendekat. Atau mungkin aku salah dengar. Ia sedang menciumi ubun-ubun Salwa, membaui aroma minyak bayi yang wangi. Kumasih tersenyum wajar saat berada di dekatnya, dan ia mengulangi kalimat tadi dengan tambahan, "Aku pengen kali-lah, bang... punya anak kayak Salwa..." Jelas aku kaget. Bukan sekali ini kudengar ia mengatakan hal itu, tapi pandangannya kali ini berbeda. Ada tatapan mengharap di sana. "Banyak-banyak berdoa saja-lah, Da... Namanya juga rezeki, dari Tuhan semuanya..." jawabku berusaha bijak. Kebetulan saja Tuhan memberi kemudahan pada kami berdua, tapi tidak pada mereka. "Yang persis kayak Salwa ini aja, bang... Harus kayak Salwa..." katanya dengan nada memelas. "Mana mungkin bisa sama, Da... Kalau nggak mirip kau, ya... nanti mirip lakikmu-lah..." kataku setengah bercanda. Anakku memang saling mirip, Rio dan Salwa. Mungkin nanti adik-adiknya juga begitu. Warna kulit, perawakan—walau masih terlihat beda karena laki dan perempuan. Dari dua anakku jelas keduanya menurun padaku, karena aku berkulit putih sedangkan istriku sawo matang cenderung gelap. Kalau mau mirip banget dengan Salwa, jelas tidak mungkin. Mungkin warna putihnya bisa kali ya—secara Aida itu juga putih, meski suaminya berkulit gelap, lebih gelap dari istriku malah. Aida menggendong Salwa mendekat. Kukira ia akan mengoperkan Salwa padaku. Malah ia mengatakan ini: "Dari bang Aseng aja... Pasti anaknya nanti mirip Salwa, kan?" Terkejut. Itu yang kurasakan. Seperti ada dengung di telingaku saat mendengar kalimat itu. "Dari bang Aseng aja..." Aida mengangguk beberapa kali, memastikan bahwa ia benar-benar bermaksud mengatakan itu. Matanya berbinar-binar, penuh pengharapan. "Hamili aku, Bang..."
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal