EPISODE 12
Episode 12
Pulang dari rumah Yuli tepat saat petugas takmir masjid mulai menghidupkan sound system-nya, dan lantunan ayat suci berkumandang mengepul di udara malam. Badanku pegal, mataku berat. Kalau dijumlahkan dengan yang tadi siang di penginapan, aku sudah ngecrot total lima kali.
Sehabis nembak terakhir, istirahat sekitar 15-20 menit, Aseng junior sudah mulai menggeliat bangun lagi — karena Yuli terus-menerus merangsangnya dengan segala cara dan variasi. Pokoknya malam itu si toket gede itu nggak kasih Aseng junior istirahat sampai dini hari. Lama-lama ngilu juga, ya. Si anak keponcoung itu terasa panas karena bolak-balik disuruh gesek sampai kayak ulekan sambal. Tapi mau bagaimana, dia bangun lagi dan lagi. Enaklah si Yuli ini. Jepitan liang kawinnya memang paten kali, walau sudah punya laki sampai tiga kali. Dia memang pandai merawat onderdilnya itu. Kayak pengantin baru kami ngentot berulang-ulang. Rekor terakhirku bareng Aida malam-malam begini paling cuma empat kali.
Pagi itu aku membawa Salwa keliling gang dengan mata sepet. Pedih dan nggak enak rasanya. Tumben-tumbenan aku minta dibuatin kopi biar mataku ada yang mengganjal. Ngantuk seberat itu nggak ada obat paling manjur kecuali tidur. Tapi itu nggak mungkin. "Salah papa sendiri kan, yang bikin kebiasaan sama anaknya... Kalau nggak jalan-jalan, mana senang hatinya..." kata istriku. Benar juga, salahku sendiri yang menciptakan kebiasaan itu. Mana sorenya harus berangkat kerja lagi.
Rumah Yuli sepi; dia sedang mengantar anaknya sekolah dengan motor barunya. Entah bagaimana caranya dia mengatasi rasa kantuk yang pasti sedang menyerangnya. Mungkin abis ngantar dia bakal tidur abis-abisan. Yah... enak dia. IRT. Aku?
Eh? Pada kepo nggak, kenapa istriku nggak pernah curiga aku sering keluar malam? Senyenyak-nyenyaknya tidur, pasti sesekali dia terbangun dan mendapati suaminya nggak ada di tempat tidur. Itu karena istriku sebenarnya sudah paham siapa suaminya. Kami sudah kenal lama, dan dia tahu aku luar dalam sak baret-baretnya. Dia tahu aku seorang Menggala yang sering berlatih pada malam hari. Dulu pernah kuberitahu padanya bagaimana cara aku berlatih, tapi dia seperti acuh tak acuh dengan penjelasanku, jadi hanya kuberitau secara garis besar saja. Aku sering berlatih malam hari sih sebenarnya cuma soal waktu: pulang kerja, istirahat sebentar, main bareng keluarga terutama istri, baru bisa latihan. Sesimpel itu. Dan di situlah letak keuntunganku saat ini. Jadi buat istriku, kalau aku tidak ada di sampingnya malam hari, artinya aku sedang latihan. Latihannya sering kulakukan di dimensi alam lain yang kumiliki sendiri.
Kangen juga ketemu Aida. Beberapa waktu ini hanya ngeliat dia sekilas-sekilas. Dia bukannya menghindariku, hanya saja dia tidak tahan berdiri lama karena keadaan berbadan dua. Paham sih. Tapi ya itu tadi, kangen. Ngobrol sebentar saja pun jadilah. Nggak usah merasakan pelukannya, kelembutan kulitnya, kehangatan sentuhannya. Eh, itu dia.
"Pagi, Bu Aida... Udah sehat, nih?" sapaku sebaik dan senormal mungkin. Sepertinya dia bermaksud membeli sesuatu di warung.
"Eh, Bang Aseng... Salwaaa... Dah lama yaa gak gendong Salwa... Kangen ibu Aida-nya..." jawabnya nanggung, malah minta gendong Salwa. Dengan senang hati kuoperkan bayiku padanya tanpa ada insiden apa pun, karena ada beberapa orang lalu lalang. Dia menciumi rambut dan pipi Salwa dengan penuh gemes — tak lama lagi dia akan punya bayi sendiri.
"Kangen Salwa atau yang lain?" godaku saat orang-orang itu lewat. Pakai suara pelan, tentu saja.
"Kangen Salwa-lah, Bang..." jawabnya sambil kembali menciumi rambut bayiku yang lebat. "Kalau sama papanya... kangen ditidurin..." bisiknya nakal. Dia mengucapkannya sambil meleletkan lidahnya. Tetap menggairahkan kamu, Aida.
"Abang-pun rindu juga... Tapi masih muda gini jangan sering-sering... Takut kenapa-napa..." jawabku sama-sama pelan, biar nggak kedengaran siapa-siapa.
"Iya, Bang... Agus-pun gak kukasih..." katanya soal jatah untuk suaminya. Tidak lama kami berbincang karena tiba-tiba dia merasa pusing dan masuk kembali ke dalam rumah. Kami melanjutkan jalan-jalan pagi keliling gang.
Dan kami tiba di depan kedai Iva yang ramai dikerumungi anak-anak kecil pembeli jajan. Anakku Rio tidak ada di sana karena kami mengusahakan dia tidak jajan di pagi hari. Biar pun cuma doyan telor, cukuplah itu sebagai sarapannya ditambah susu formula. Salwa senang melihat anak-anak di sana rame-rame dan bising, sampai kami berhenti sekadar menengok. Salwa menikmati keramaian, dan aku menikmati keindahan. Keindahan yang punya kedai. Sepertinya dia belum mandi — masih memakai baju tanpa lengan dan celana pendek longgar kostum tidurnya semalam. Kulit putihnya tetap cemerlang di pagi ini walau belum mandi.
Iva dengan antusias melayani anak-anak kecil yang sudah bedakan cemong-cemong tebal. Sabar dia meladeni permintaan mereka yang terkadang menyebalkan. Awalnya minta yang itu, ganti dengan yang ini. Ada yang uangnya kurang tapi pengen jajanan yang banyak. Lebih ekstrim lagi, bermodalkan uang mainan bergambar Barbie juga pengen beli. Hadeeh. Sabarlah kamu, Iva. Orang sabar pantatnya lebar, Pa.
"Mei-Mei mau beli juga, ya?" tanyanya akrab seperti biasa. "Udah bisa jajan dia, Bang?" sambung Iva sambil merapikan galon-galon air mineral di depan kedenya.
"Ada-ada aja kau, Pa... Enggaklah..." jawabku mengikuti gerakannya. Gerakan menunduknya. Dia melirikku sebentar, dan malah memperbaiki posisi. Dia berlama-lama membereskan galon-galon itu. Pemandangan langka bagiku — karena dari balik kerah longgarnya, dadanya terlihat jelas. Ukurannya tidak terlalu besar, proporsional dengan tubuh langsingnya. Dan untungnya lagi, bra yang dipakainya sepertinya longgar, jadi tidak terlalu ketat membungkus payudaranya. Sebagian besar toket itu jadi santapan pagi untukku. Cukup lama dia menunduk di hadapanku, sampai serombongan anak kecil lain datang untuk jajan lagi. Dia melirikku dan tersenyum lagi. Aku kenyang susumu, Pa.
Ah, aku teringat foto-foto yang sudah dikirimkannya ke chatting kami sebelumnya. Foto-foto seksi dirinya terutama. Belum ada yang bugil sih memang. Tapi bagian ini, tampilan live barusan bahkan lebih mendebarkan jantung. Lemah jantungku dibuatnya. Berdebar-debar tak menentu — sudah kayak mau melompat semua tadi payudaranya demi pamer padaku. Sedikiiiit lagi sudah hampir nip-slip kalau saja tuyul-tuyul berbedak cemong itu nggak muncul. Aaahh... jadi kotor pikiranku dibuatnya.
Kotor kenapa? Cucilah! Kepala otak kao yang harus dicuci. Nggak ada puas-puasnya? Udah Aida... Yuli... sekarang mau Iva pulak? Kenapa nggak sekalian Pipit? Ide bagus itu — terus semua aja bini orang kao buntingin. Teros semua anak tuyul yang keliaran di gang ini semua anak kao. Puas kao?
Gitu kalau aku lagi ngobrol sama Aseng junior yang bandel. Kalau sekadar goyang-goyang terus ngecrot, itu memang enak kali, kan? Semua laki-laki di dunia ini kujamin pasti mau. Buaya dikasi bangke? Buaya mana yang nolak bangke? Bangkenya sedap pulak, kayak Aida, Yuli, Iva, dan lain-lain. Kek mana aku bisa nahan dan nggak mendonasikan spermapada mereka. Apalagi casing-casing MILF itu kelas wahid semua. Kalau yang gembrot-gembrot, jelek pulak baunya kayak belacan, taklah aku mau. Taklah pula Aseng junior-ku mau ngaceng dan memasuki mereka. Masih pilih-pilih-nya aku, kan?
Gimana kalau bini orang yang normal bisa bunting sama lakinya sendiri, tapi minta dibuntingin juga? Aa... kalau itu lain cerita. Lain lagi masalahnya. Itu namanya kegatelan, bini orang itu. Itu udah penyakit ujungnya. Kalau itu akupun takut jadinya. Nggak ada pembelaan lagi kalau aku ikut berminat. Tapi aku nggak bisa bilang nggak akan kejadian, karena sudah kukatakan di atas tadi: imanku ini lemah. Iman-ku yang kuat. Aseng junior inilah si imin itu. Plak! Ketawa kao! (Ngeplak si Aseng junior.)
"Eh... Mau ke mana, Imran?" sapaku pada tetanggaku yang sedang bersiap-siap di depan rumahnya. Pipit juga ada.
"Bang Aseng... Iya nih... Ada tugas ke luar kota..." jawabnya mengangkat koper yang lumayan besar. Kayaknya mau pergi jauh dan lama. "Dapat tugas pendidikan dari kantor, Bang... Ke Jakarta..." lanjutnya. "Tadi sudah mesan taksi... mungkin bentar lagi sampai depan gang taksinya..."
"Oo..." pahamku. Pekerjaan Imran juga cukup lumayan. Kalau dia dapat proyeksi pendidikan seperti ini, mungkin nggak lama lagi dia dapat promosi. Aku nggak perlu tanya kenapa dia nggak nyetir sendiri ke bandara Polonia — bandara lama Medan, sekarang jadi Kuala Namu yang ada di luar kota sejak 2013 — karena pastinya Pipit nggak akan bisa membawa mobil mereka pulang. Pipit cuma bisa naik motor, itu pun nggak jauh-jauh. Takut katanya. Mereka berdua pamit padaku.
Skip-skip.
Ppt: Bang Aseng?
Aseng: Ya Pit, masih di Polonia.
Ini kondisinya aku sudah masuk kantor dan kerjaan sedang seru-serunya. Apa lakinya sudah berangkat ke Jakarta? Sudah jam 11. Kayaknya si Imran naik pesawat jam 10-an.
Ppt: Iya Bang, bisa ketemuan sama Abang nggak?
Aseng: He? Ketemuan? Ada apa?
Loh, ini kok terulang lagi? Kemarin diminta ketemuan sama Yuli karena mau beli motor — dan malah berlanjut ke ranjang. Sekarang diajak ketemuan lagi sama Pipit, dan spesifikasi dan masalahnya juga mirip-mirip. Nggak panjang berpikir, dia menjawab...
Ppt: Ada yang mau Pipit ceritain sama minta pendapat, curhat gitu.
Aseng: Harus sekarang, Pit? Abang lagi kerja loh.
Ppt: Sekarang juga kalau bisa, Bang. SEKARANG.
Kok pakai maksa? Apa-anh ini? Alisku mengernyit membaca tulisan huruf besar itu. Beberapa detik menyusul getar pesan masuk berikutnya — sebuah foto. Ada jeda sampai semua foto itu terbuka sempurna dan terlihat jelas.
PUKIMAK!
Kan pakai caps lock juga kan aku? Kenapa aku sampai hampir teriak di depan komputer saat melotot melihat foto yang dikirim Pipit lewat BBM ini? Foto itu adalah foto diriku sedang memasuki pintu depan penginapan Ard*na kemarin, bersama seorang perempuan semok yang memakai masker hijau. KIMAK kali kubilang. Gimana caranya dia bisa mendapat foto itu? Apa dia kebetulan sedang melintasi jalan Krakatau dan memergokiku sedang berduaan dengan Yuli kemarin siang? Sejauh apa dia melihat kami?
AAARRGGHHH! KIMAK!
Aseng: Di mana?
---
Berhubung Bu Sandra masih belum kembali ke pabrik karena masih keluar kota untuk keperluan pekerjaan — baru besok masuk — aku kembali permisi keluar. Tepatnya mempermisikan diriku keluar lagi. Dari KIM 2 ke tujuan yang ditentukan Pipit itu lumayan jauh karena berada di tengah kota. Apalagi sedang jam sibuknya kota Medan. Lalu lintas pasti sedang padat merayap ke arah sana.
Aku sampai di sana dalam waktu 1 jam 14 menit. Ini adalah sebuah hotel besar yang sudah lama berdiri di Medan. Hotel Dau Ta di jalan Imam Bonjol. Aku parkir di belakang hotel dan segera menuju sebuah café di lingkungan hotel tempat Pipit menunggu. Apa maunya dia? Kenapa malah ngajak ketemuan di tempat sejauh ini? Pasrah sebenarnya aku. Entah apa maunya.
Itu dia. Duduk sendiri, masih dengan pakaian yang tadi pagi dipakainya saat mengantar lakinya ke bandara. Dia sudah memesan teh dan cemilan kecil sambil main HP. Dari jauh dia sudah melihatku dan mengangguk. Aku berjalan dengan sedikit gontai ke arahnya. Aku harus siap-siap.
Pipit.
"Jauh ya, Bang Aseng?" sapanya tersenyum. Dia mempersilakanku duduk di depannya. Meja ini hanya untuk dua orang. Musik kafe adalah lagu easy listening yang tidak terlalu keras, cocok untuk mengobrol. Senyumannya sebenarnya biasa saja. Tetapi aku merasa ngeri — karena kebodohanku sendiri sebenarnya. Lebih pada kesalahanku. Perasaanku jelas tidak karuan. Perutku terasa nggak enak karena suasana hatiku jauh lebih buruk. Yang jelas mukaku terlihat suntuk.
"Lumayan, Pit... Jam berapa pesawat Imran take off-nya?" tanyaku basa-basi. Pastinya dia juga merasakan intonasi gugupku. Guguplah anak mudanya, woi. Cak lah kelen dalam situasi kayak gini. Apalah yang kelen buat?
"Jam setengah sepuluh, Bang... Gak usah seperti itu, Bang... Kalem aja... Pesan dulu... Abang mau minum atau makan? Pipit traktir, deh..." tawarnya sambil memanggil pelayan yang entah dari mana datangnya. Mungkin nggak ada lagi kerjaan karena ternyata hanya kami pengunjung kafe ini. Udah pakai start melayang mungkin dia dari tadi nunggu dipanggil. Aku pesan teh juga seperti Pipit. Nggak ada pulak kafe ini nyediain orong-orong sama lapet.
"Sorry dulu, Bang Aseng, kalau cara Pipit seperti ini... Sebab kalau nggak seperti ini... Bang Aseng bakalan nggak mau dateng dan nyamperin Pipit di sini... Pipit sudah hapus semua foto-foto itu dari HP Pipit... Abang boleh cek di sini..." katanya sambil menyerahkan HP BB-nya padaku yang sudah terbuka. Ragu aku mengambilnya dan memeriksa galerinya. Tak ada foto itu di mana-mana. "Itu cuma alat untuk menarik perhatian Bang Aseng aja... tidak lebih..." lanjutnya. Aku memeriksa berulang-ulang HP itu sampai hapal isinya. Isinya hanya foto-foto pribadi.
Kukembalikan HP itu pada Pipit dan dia meletakkannya di atas meja. "Jadi ada apa, Pit?" tanyaku agak mereda gemuruh di dadaku. Sebenarnya aku merutuki kebodohan dan kecerobohanku. Seharusnya aku lebih berhati-hati dalam melangkah. Aku malu menjadi diriku sendiri saat ini.
"Pipit nggak akan nanya siapa perempuan itu... atau apa yang kalian lakukan di sana... Yang Pipit mau adalah... tolong bantu selesaikan masalah yang Pipit hadapi saat ini... Bang Aseng nggak usah tanya karena Pipit udah tau... Bang Aseng boleh nanya sama yang ada di samping kiri Pipit ini... Pipit nggak bisa liat, tapi Bang Aseng bisa..." katanya membingungkan.
Yang ada di samping kirinya? Ke arah itu kulihat — hanya ada kekosongan dan dinding. Apa maksudnya entitas gaib di samping kirinya ini?
Kembali kufokuskan pandangan pada Pipit. "Maksudnya itu..." tunjukku pada entitas yang berdiri diam melayang. Sosoknya adalah lelaki tua kurus ceking dengan kulit abu-abu keriput, berpakaian batik lama yang sedikit lusuh tapi cukup bersih. Yang menarik perhatian dari sosok gaib ini adalah libatan sejenis akar tebal di tubuhnya. Dari kaki, melilit beberapa kali, lalu menyambung ke pinggang, membetot kedua tangan sekaligus perut hingga dada, ke leher, lalu menutup mulutnya sampai berakhir di kening. Mulutnya tertutup — lebih tepatnya terberangus. Bagaimana aku bisa bertanya padanya kalau entitas ini tidak bisa memberitahuku info apa yang dimaksud Pipit barusan.
"Abang bisa ngeliat dia, kan?" kata Pipit sedikit melirik kekosongan di samping kirinya.
"Coba Pipit aja yang ngomong langsung... Awak ini sedang bingung kali ini... Abang nggak bisa berpikir sekarang... Apalagi orang tua itu mulutnya tertutup... jadi dia-pun nggak bisa ngomong juga kalau kutanya..." kataku runyam. Sukak kali-lah perempuan ngomong pakai nanggung-nanggung kayak gini. Langsung aja bilang dia mau apa, nggak usah pakai teka-teki, napa?
"Mulutnya tertutup? Terikat akar-akaran itu ya, Bang Aseng?" kaget Pipit tak terduga. Cemana-nya? Katanya dia nggak bisa ngeliat, tapi tau-nya mulutnya terikat akar.
"Apa makhluk ini khodam dari nenek moyang Pipit?" tebakku. Hanya itu jawaban masuk akal tentang makhluk itu. Khodam jenis ini hanya suruhan pemiliknya — dalam hal ini untuk menjaga anggota keluarga tertentu dari marabahaya. Levelnya rendah, begitu juga kekuatannya.
"Kata yang ngerti... iya... Dia biasanya jadi pelindungku... Tapi sesuatu terjadi padanya, kan?" jelas Pipit. "Dulu dia sering membisikiku kalau ada sesuatu yang berbahaya... Tapi sudah beberapa tahun ini dia bungkam..."
Kupandangi khodam malang itu. Ada yang mengerjai makhluk pelindung ini. Libatan akar pohon ini sangat kuat sampai bisa memberangus pergerakannya — terutama fungsi utamanya: komunikasi. Dia tidak bisa melepaskan libatan berangus ini sehingga fungsinya tidak lagi maksimal. Apa yang mengerjai khodam ini juga yang mencelakai Pipit hingga sakit parah dulu?
"Kista yang dioperasi beberapa tahun lalu itu... apa masih sering kambuh?" tanyaku sambil berpaling pada Pipit. Aku curiga ini ada hubungannya. Sudah kayak dokter pulak aku nanya-nanyain penyakit lamanya. Tapi memang aliran Lini perempuan ini memang terganggu. Penyakitnya cukup kompleks. "Kista itu bisa jadi yang menyebabkan Pipit belum bisa punya anak..."
"Masih terasa sakit kadang-kadang, Bang... Menstruasiku-pun nggak lancar... Kadang mens bisa sampai 2-3 minggu... Abis itu dua bulan nggak dapet... Pernah juga sebulan malah dua kali... Nggak menentu, Bang..." jelasnya. Para perempuan pasti kelimpungan kalau dapat jadwal nggak jelas kayak gitu. Awak yang laki aja dengarnya pening. Kek mana jatahnya si Imran kalau semuanya nggak jelas kayak gitu?
"Jadi cemana-lah kita buat, nih? Awak udah nyuruh Pipit minta maaf sama semua, kan? Sama orang tua... keluarga... sama yang sudah menyakiti Pipit... dan yang sudah Pipit sakiti... Sudah semua?" tanyaku soal obrolan kami lewat BBM beberapa waktu lalu.
"Udah hampir semuanya, Bang Aseng... Kecuali satu mantanku... Mantan suamiku yang sudah kujebak untuk menikahiku itu..." jawabnya lalu menunduk. Dia diam sebentar karena kutahu dia akan melanjutkannya. Ada sesuatu yang menggantung. Tapi tak kunjung diucapkan.
"Dia sudah meninggal, kan?" tebakku.
Pipit tiba-tiba menangis tanpa suara. Dia menutupi mulutnya, tetapi setitik air mata menetes, mengalir, dan jatuh dari dagunya. "Dosa Pipit besar banget ya, Bang Aseng... Sampe Pipit nggak sempet minta maaf padanya... Pipit sudah menipunya... menjebaknya... menjerumuskannya... Padahal dia dulu sudah punya pacar, tapi terpaksa ditinggal karena harus menikahi Pipit..." Dia menceritakan itu dengan suara parau. Untung kafe ini sepi jadi tidak ada yang memperhatikan kami yang sudah kayak pasangan sedang bertengkar. Pelayan tadi-pun nggak keliatan batang kontolnya — eh, idungnya.
Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana. Apa harus empati dan mengusap air matanya. Jarak kami cukup jauh karena dibatasi sebuah meja. Nggak etis juga kalau aku bergeser ke sampingnya dan melakukan itu. Jadinya aku hanya diam dan melihat. Lalu perhatianku berpaling ke khodam berbentuk pria tua itu lagi. Matanya melotot memandangi Pipit seakan ingin meneriakkan sesuatu. "WOY! DA PADA NGOPI BELOM?" Paok! Mana mungkin khodam itu mau ngomong kayak gitu. Paok kao, Seng. Udah senget kurasa kepala otak kao tuh.
"Jadi gimana, Bang... Abang bisa bantu Pipit, kan?" katanya beberapa saat kemudian. Air matanya tidak menitik lagi, tapi isakannya masih ada.
Aku terdiam.
"Maafkan Pipit, Bang Aseng. Pipit nggak seharusnya melakukan ini... Pipit kebetulan lewat di depan Ard*na kemarin sehabis dari belanja... Waktu itu Imran nelpon sehingga Pipit menepi tepat di depan Ard*na... Imran ngasih tau kalau dia dapat tugas pendidikan singkat di Jakarta selama 3 minggu... Abis nelpon... Pipit ngeliat Bang Aseng sama perempuan itu masuk ke penginapan... Entah kenapa Pipit malah memfoto kejadian itu beberapa kali... Maafin Pipit, Bang..." jelasnya tentang asal-muasal foto yang sudah sukses membuatku galau. Puih!
"Ya udah-lah, Pit... Itu salah awak juga... yang nggak ati-ati... Jadi apa yang bisa awak bantu, awak bantu-lah..." kataku pasrah saja. Paling dimintai tolong nyari dukun lagi atau apalah gitu.
"Pipit mau minta tolong sama Bang Aseng... untuk mengobati Pipit... Sepertinya Abang sangat paham sekali masalah-masalah seperti ini... Abang Aseng bahkan bisa tau siapa yang nyolong burung yang kemarin itu... Bahkan juga tau kalau ilmu dukun di Belawan itu palsu... Pipit mau cerita sebentar... Tunggu, Bang..." dia minta jeda sebentar dan mencari sesuatu di HP-nya lalu menunjukkannya padaku. Apa lagi ini?
Ini adalah foto cermin yang berembun tipis di dalam kamar mandi. Pipit menyuruhku memperbesar gambarnya dan mengarahkan pada sudut kiri atas cermin. Ada goresan berbentuk tulisan di sana. Embun ini berasal dari uap air panas water heater — karena mataku malah fokus pada pantulan perempuan yang sedang memotret cermin itu. Pipit sedang memegang HP-nya yang sedang menjepret, terlihat dari lampu flash. Dia hanya memakai handuk pendek menutupi tubuhnya sampai setengah paha. Rambut merahnya basah abis keramas. "...tulisannya boso Jowo, Bang Aseng..."
Bahasa Jawa? Buru-buru aku men-zoom kembali goresan tulisan di embun tadi. Tulisannya... "...ja... jalu... jaluk... Jaluk?" ejaku pada tulisan yang acakadut itu. Jaluk itu artinya minta, kan? "Minta?"
"Liat foto berikutnya, Bang... Ada tiga foto totalnya..." instruksi Pipit menyuruhku melihat dua foto berikutnya. Segera kugeser ke foto berikutnya. Masih Pipit berfoto yang lumayan artistik di cermin berembunnya dengan balutan handuk yang sama. Ini foto berturut-turut ternyata. Pipit yang abis mandi setelah ehem-ehem sama lakinya dan keramas — foto-foto abis itu. Lalu ku-zoom kembali tulisan tadi.
Tulisan jaluk masih ada, dan di sampingnya ada tulisan baru. "...to... long... tolong..." masih tulisan acak yang uuuelek tenan, tapi untung masih bisa terbaca. Minta tolong? Coba lihat foto berikutnya.
Foto ini lebih mendekat, karena Pipit lebih mepet ke arah objeknya dan dia menunduk. Pantulannya di cermin lebih jelas di antara embun. Belahan dadanya keliatan seger karenanya, terjepit erat di lilitan handuk yang membungkus tubuhnya. Fokus Seng, sama tulisan, woy! "...cin... cino... Cino? Cappuccino?" Setan jaluk tolong buatin cappuccino? Kimak, setannya ini ngelunjak.
"Maksudnya cino itu Bang Aseng... Dia minta tolong sama Bang Aseng... Bang Aseng dikiranya Cino... Cina..." jelas Pipit mengartikan teka-teki bahasa itu. Masuk akal sih. Lah, ngapain khodam itu minta cappuccino, ya? Paok kali kao, Seng!
"Iyooo? Kuwi jaluk tolong karo aku, toh? (Iya? Kamu minta tolong kepadaku, ya?)" tanyaku langsung menatap entitas khodam malang yang melayang namun terbelenggu itu. Pipit memandangi sebelah kirinya di mana khodam itu berada. Lalu beralih padaku.
Bahkan untuk mengangguk saja khodam itu tidak bisa. Sebagai gantinya, dia menutup matanya yang melotot lebar, lalu terbuka lagi. Fix dia minta tolong buatin cappuccino — eh, minta tolong padaku untuk membuka belenggunya.
"Jadi Pipit juga minta tolong sama awak untuk membantu dia?" tanyaku menyimpulkan.
"Intinya begitu, Bang Aseng... Jadi gini, Bang..." Dia lalu menceritakan bagaimana biasanya khodam ini selalu memberinya peringatan atas apa pun yang berpotensi menjadi bahaya atau ancaman paska kejadian dulu di masa lalunya. Sang khodam biasanya memberikan bisikan langsung pada Pipit dengan suara yang mirip suara mbah buyutnya yang sudah lama tiada. Bisikan ini sirna tak lama setelah dia menikah untuk pertama kalinya. Awalnya Pipit mengira itu bukan hal yang perlu dirisaukan, tetapi malah masalah demi masalah terus melanda — berujung pada dia keguguran, bercerai, bertengkar hebat dengan keluarganya, kabur dan kabur hingga kemari, menikah lagi, sakit parah, dan sampai sekarang. Beberapa bulan ini ada percobaan kontak yang dilakukan sang khodam — ternyata dia masih ada. Awalnya dia hanya bisa meniup-niup rambut Pipit, telinga, dan pipinya untuk menarik perhatiannya. Dan akhirnya bisa melakukan sentuhan pada objek material dengan menuliskan pesan di cermin yang berembun. Itu terjadi asli tadi pagi.
"Tadi pagi?" ulangku berpikir sok serius. Padahal mikirnya gini, kan... Karena ini hari terakhir Pipit ketemu lakinya, mereka enak-enakan dulu sepuasnya tadi malam. Nyetor sperma sebanyak-banyaknya, siapa tau ada yang bisa jadi anak. Kalau enak sudah pasti, kalau anak belum tau. Ini menjelaskan kenapa dia mandi keramas tadi pagi di tiga foto itu. Dan di saat itulah si khodam kakek buyutnya ini berkesempatan menitipkan pesan jaluk/minta tolong ini. (Khodam ini sepertinya adalah jin khorin kakek buyut Pipit. Jin khorin adalah jin yang terlahir persis bersamaan saat seorang jabang bayi lahir ke dunia — seumpama kembaran kita dalam bentuk jin. Penampakan seseorang yang telah tiada seringnya karena melihat jenis jin khorin ini.)
"Gimana, Bang?" tanya Pipit berharap-harap cemas.
Kalau cuma membantu si khodam itu melepaskan belenggu akar tebalnya, tidak ada masalah untukku. Aku akan dengan senang hati membantunya. Monggo... Apalagi kita bisa tahu duduk permasalahannya gimana. Sang khodam bisa memberi tahu informasi apa yang sebenarnya terjadi pada Pipit.
"Bisa aja, Pit... Tapi ini makan waktu, loh... Ini masih siang... Ini tadi awak-pun permisi cuma sebentar aja dari kerjaan... Harus balik lagi, kan?" kataku memberi alasan yang benar-benar loh. Ini nggak boong.
"Tapi abang mau nolongin Pipit, kan pokoknya?" desaknya lebih berharap. Aku mengangguk membenarkan. Atur saja waktunya.