←18+
← Bb M - Baby Maker (Ribak Sude Story)

Episode 09 — Bb M - Baby Maker (Ribak Sude Story)

EPISODE 09
Episode 9 "Wes hewes-hewes. Bablas angine!" Demikian penutup sang dukun yang mengatasnamakan sakti mandraguna itu, diakhiri dengan mantra yang katanya ampuh. Di depannya, kemenyan menyala di atas bokor tanah liat, arangnya masih membara menyemburkan asap keputihan yang berkejar-kejaran menerobos hidung kami. Bokor itu dialasi kain hitam, berlapis-lapis lagi dengan ulos, batik, sarung cap gajah bengkak, dan entah kain apa lagi yang ia tumpuk menjadi alas. Bingung aku mau menyebutnya. Ini dukun atau tengkulak kain keliling? Kami sedang berada di kawasan Kampung Bahari, Belawan. Perjalanan malam menuju ke sana ditempuh dengan menumpang mobil Imran, suami Pipit, yang dikemudikan sendiri olehnya, dipandu arah dari pak Jumadi — sang marketing yang merekomendasikan dukun ini. Hanya kami berempat: aku, pak Jumadi, Pipit, dan suaminya. Tempatnya jauh sekali, mak! Sekali datang, nggak akan kuhafalkan jalannya lagi. Bukan jarak Mabar ke Belawan yang jadi masalah. Masalahnya, mobil nggak bisa masuk sampai depan rumah. Kendaraan hanya bisa diparkir di mulut gang, selebihnya kami melangkah kaki menyusuri gang-gang kecil dan sempit yang cuma muat dilewati satu motor. Bau langit khas tepi laut menusuk hidung. Di kiri-kanan berjejer jemuran ikan asin yang mengering di jemuran, genangan air pasang mengapungkan sampah bermacam-macam rupa. Lengkap sudah pemandangan malam itu. Dan setelah semua tontonan menggelikan itu selesai, kami tiba di rumah dukun-dukun sok sakti. Hadeeh. "Ini belom jauh barangnya nih... Masih dekat disimpannya... Masih menunggu kesempatan untuk dipindahkan..." teori sang dukun sambil memelototi telur ayam kampung yang sudah ia pecahkan. Kuning telurnya berubah merah, merah seperti darah. Telur itu kan kami yang bawa sendiri, lima butuh dari pasar. Sejak kapan kuning telur bisa jadi merah, coba? "Mbah? Bisa gak diputar giling aja malingnya ini... Supaya dia bingung..." usul pak Jumadi, ikut menambah bumbu. Pipit dan Imran saling berpandangan, wajah mereka menampakkan kesan takjub akan kesaktian yang meyakinkan itu. Sang dukun komat-kamit mengucapkan sesuatu yang mirip mantra. Paling juga dia cuma mengulang-ulang doa makan dan doa masuk WC. Dukun ini sebenernya belum terlalu tua, tapi sudah senang dipanggil mbah. Kira-kira masih 50-an. Rambut, jenggot, dan kumisnya masih hitam legam tanpa sehelai uban pun sudah berleha-leha disapa mbah. Mbah gundulmu! "Bisa-bisa... Mudah itu... Kita matikan-pun dia bisa..." jawab dukun itu sambil manggut-manggut, mengacak-acak kuning telur merah itu dengan ujung jarinya. "Jangan sampai mati-la, mbah..." potong Imran seraya tersentak. Masa gara-gara maling burung sampai harus nyawa jadi taruhannya. Mungkin kalau yang dimaling burungnya orang lain, dia akan mengangguk setuju. "Biar aja mati, bang... Enak aja dia maling-maling..." Pipit malah setuju kalau maling itu dimatikan saja. Wah! Ternyata Pipit temperamennya tinggi juga. Wajar mungkin, dia kesal karena burungnya dicolong dari dalam rumah — sementara dia ada di tempat kejadian, sedang asyik nonton TV. "Gini aja... Mbah akan pakai Aji Putar Giling... Mbah akan usahakan membuatnya mengembalikan semua barang yang sudah diambilnya... Sukmanya akan kebingungan dan mengembalikan barang itu... Tunggu saja dua-tiga hari ini..." katanya menutup sesi konsultasi. Sebab masih banyak pasien lain yang mengantre di luar. Kami saja tadi ngantri lama, kok. Kami harus berjalan kaki lagi menembus kekumuhan tadi untuk mencapai mobil Imran. Pipit menjadi yang paling menderita; ia harus menutupi hidung dan mulutnya dengan sapu tangan yang sudah ditetesi minyak kayu putih. Berkali-kali ia merasa akan muntah, tapi tak jadi, setiap kali aromanya menguap ke wajahnya. "Kenak berapa tadi?" tanyaku pelan sambil merapat pada Imran. "Kata pak Jumadi seiklasnya... Jadi kukasih cepek aja..." bisik Imran. Yah... Udah burung hilang lima juta, koyak lagi cepek. Apes-apesan. Kujamin burungnya nggak akan balik. Malah tambah rugi dobel, pulak. Sesampainya di mobil, kami sempat berhenti karena Imran dan pak Jumadi harus membeli bunga sajen — plus rokok. Rokok itu sebenarnya buat pak Jumadi, yang dari tadi belum sempat mengebul. Pipit yang masih mual minta menunggu saja di tepi jalan, katanya bau AC mobil malah menambah perutnya mual. Aku menemaninya, sementara mereka bertiga berkeliling mencari toko bunga. Katanya pak Jumadi, ada penjual bunga 24 jam di seputaran Belawan. "Masih kesal, Pit?" tanyaku supaya waktu menunggu tak terasa berat. "Iya, bang... Kesel banget-banget aku... Bisa-bisanya Pipit ada di dalam rumah, burung bisa dicolong... Kebangetan banget tuh maling... Mending dimatiin aja sekalian sama mbah itu..." katanya sambil duduk di tepi trotoar karena perutnya masih mual. Ini lakiknya paok atau bego, ya? Perempuan cantik semlohay begini ditinggal sendirian begitu saja di tepi jalan. Untung masih kujagain. Digondol maling lagi, tau rasa tuh orang. Lebih baik aja aku yang gondolin... Pipit "Gak baik-loh, Pit, ke dukun-dukun gituh... Abang sebenarnya gak mau ke dukun kek begini... Banyakan gak bagusnya..." kataku dengan sepenuh hati. Ini informasi standar, kan. Di semua agama, percaya pada dukun sama saja dengan menduakan Tuhan. Akur? "Biarlah, bang... Kesel banget aku... Udah kepalang tanggung... Sekalian nyebur aja... Berdosa-berdosa-lah..." jawabnya. Cukup mengejutkanku. Ternyata Pipit termasuk perempuan pemberani. Ia bahkan tak gentar pada dosa. Mungkin masa lalunya memang cukup kelam. "Sori nih, Pit... Abang gak bermaksud ngorek-ngorek... Ada banyak masalah di rumah tangga kalian, kan? Pipit juga punya banyak masalah... Masa lalu, pastinya..." kataku, mulai menjalarkan racunku perlahan. Ada celah. Ini kesempatan emas. Ia melirikku sebentar, lalu terdiam menatap aspal di depannya. Coba dengan cara ini... "Itu tadi dukun penipu... Kalian jangan asal percaya dengannya. Terutama kau, Pit... Dia hanya tahu sedikit ilmu saja sudah berani buka praktek..." kataku. "Pak Jumadi mengarahkan kita ke dukun ini karena dia saudaranya sendiri... Yang ngambil semua burung itu anaknya Pak Jumadi... Jadi sampai kapanpun burung itu gak akan ketemu kalau pakai arahan dukun tadi... Datangi aja rumah anaknya yang di gang XXX... Pasti burung kalian semua ada di sana..." kataku membeberkan semuanya. Pipit terkaget mendengar penuturanku. Pasti dia heran, dari mana aku tahu semua itu. Kubisikkan pesan padanya untuk menyampaikan hal ini hanya pada suaminya, nanti kalau mereka berdua saja. Dan satu pesan terakhirku, "Kalau gak takut dosa... Ada jalan untuk masalahmu, Pit..." — kuberikan secarik kertas padanya. Bersamaan itu, mobil Imran merapat menjemput kami, lalu beranjak pulang ke Mabar. Lewat tol biar cepat. Keesokan harinya, kelima ekor burung itu sudah kembali berkicau riang di kandangnya. Iya, benar. Semua sudah kembali. Hebat, kan? Ppt: Makasih ya bg Aseng Aseng: Sm-sm pit cm nolong aj Benar lagi. Kertas yang kuberi pada Pipit itu berisi pin BB-ku, untuk menghubungiku kalau perlu arahan lebih lanjut. Dan benar saja, tengah malam ia nge-ping BB-ku. Ternyata-eh-ternyata, setelah tiba di rumah, Pipit bercerita pada suaminya bahwa ia mendapat penerawangan — entah dari mana — bahwa ia tahu siapa pelaku maling burung itu sebenarnya. Langsung mereka mendatangi rumah anak pak Jumadi yang terletak dua gang dari situ. Dari luar rumah saja sudah terdengar bising suara burung bersahut-sahutan, yang dikenali Imran sebagai burung piaraannya sendiri. Tanpa membuat keributan, mereka bertamu ke rumah yang memang pecinta burung itu dan mengklaim semua burung yang telah dimaling. Si anak gak bisa berkutik, pura-puranya damai, burung-burung itu kembali berpindah tangan ke pemilik aslinya. Kasus selesai. Pak Jumadi tidak kelihatan batang hidungnya selama beberapa hari setelah kejadian itu dari lingkungan ini. Kalau istilah orang sini: sporing — lari sementara. Ia punya beberapa anak, kemungkinan ia sporing ke tempat anaknya yang lain. Sore itu pulang kerja, di meja makan tersaji satu kotak bolu gulung Meranti, yang terkenal enak seantero Medan. Kata istriku, pemberian dari Pipit dan suaminya sebagai ucapan terima kasih. Istriku pahamnya, ini hadiah karena sudah menemani mereka ke dukun di Belawan — seperti yang kebanyakan orang tahu. Padahal cerita aslinya tidak sesederhana itu. Cukup kami saja yang tahu. Ppt: jd sebenarnya bg Aseng bisa yg gitu2 jg? Aseng: gitu2 gimana? Ppt: Gitu2 pinter gitu Aseng: dikit Percakapan kami berlanjut lewat BBM. Kucuri-curi waktu setelah makan siang, karena kerjaan sedang kendor saat itu. Ppt: jd utk mslh Pipit bisa? Aseng: apa mslh y? yg blm pny anak? Ppt: itu yg utama ap krn Pipit byk dosa? Aseng: merasa bdosa gk Panjang lebar ternyata obrolan kami lewat chatting itu. Dia bisa lebih supel dan terbuka kalau berbincang tidak muka-muka begini, dan akhirnya mencurahkan segala uneg-uneg yang selama ini dipendamnya. Ada begitu banyak masalah dalam hidupnya. Ia tampak seperti perempuan biasa, adem ayem menjalani hari-harinya — padahal di balik itu semua, ia menyimpan segudang persoalan. Kutenggarai masalah-masalah itu sudah lama mengkristal dan diam-diam menggerogoti kesehatannya sendiri. Pertama; hubungannya dengan keluarganya tidak harmonis. Bertahun-tahun ia tak pernah berhubungan dengan ibu-bapaknya di Semarang, apalagi dengan sanak-saudaranya. Semuanya bermula dari kehidupan liarnya masa remaja bersama deretan pacarnya. Video mesumnya pernah sempat beredar saat ia SMA, disebar oleh mantan yang sakit hati. Agak mereda sesaat hingga tamat SMA, lalu membara lagi hingga menggila — sampai ia hamil entah dengan siapa, pacar yang mana. Ia harus menempuh siasat licik: menjebak satu pacar yang ekonominya lumayan untuk menikahinya. Menikah pun terlaksana, tapi keguguran di bulan kelima. Merasa lepas dari tanggung jawab, sang suami menceraikannya. Malu, Pipit melarikan diri sampai ke Sumatera ini. Sempat bekerja, lalu menikah lagi dengan Imran, suami keduanya saat ini. Detail kebinalannya selama itu tentu tak perlu kuceritakan. Selama chatting dengannya, aku sempat mencari video viral bertahun-tahun lalu itu. Pernah dengar cerita, tapi belum pernah mencari video pemersatu bangsa tersebut. Ubek-ubek internet, malah ketemu di Por**ub. Emang oke punya Pipit waktu muda dulu. Goyangannya sudah seperti profesional, emutannya yahud, ditambah tampangnya yang sangat mendukung. Waktu remaja saja sudah begitu — apalagi sekarang. Lebih semok, ukuran dadanya semakin besar. Kutanya, apakah Imran tahu soal masa lalunya yang begitu kelam? Jawabnya tidak. Ia tak pernah bercerita detail. Hanya mengaku pernah ML dengan pacar beberapa kali — wajar, itu kasus biasa. Apalagi statusnya memang janda yang pernah hamil lalu keguguran. Selama pacaran dengan Imran mereka juga sudah sering ML, dan akhirnya menikah walau belum berhasil hamil sampai sekarang. Kupancing juga soal proses pernikahannya dengan Imran, karena sudah pasti ia tak punya wali yang bisa menikahkannya — tak punya seorang pun sanak saudara di Medan ini. Ternyata pakai wali wakil saja bisa oleh KUA. Aku kurang paham. Ppt: gmna bang? Aseng: satu-satu selesaikan masalah Pipit. PERTAMA minta maaf sm bpk ibu di kampung. Telepon mereka sekarang juga. Nnt kita ngobrol lg. bisa? Sementara meng-input data dan memeriksa pekerjaan bawahan, aku berkali-kali terfikir cara membereskan masalah Pipit ini. Sampai harus membuat coretan di kertas berisi langkah-langkah yang harus ditempuh, lengkap dengan analisa rencana B atau C kalau skema awal gagal. Perempuan itu punya terlalu banyak simpul hidup yang harus diurai satu per satu. Ih. Kok jadi peduli kali aku pada masalah Pipit? Padahal niat awalnya cuma iseng-iseng menitipkan benihku pada perempuan yang tak kunjung hamil itu. Pernah berhasil dengan Aida, membuatku ingin beralih ke Pipit juga. Lalu nanti perempuan lainnya lagi. Gitu? Coretanku di kertas sudah kek benang kusut. --- Aseng: bu Iva. Beli pulsa lg 50K Iva: yg kemaren dah abis? Cepat pula ia membalas pesanku. Padahal sudah jam 11 malam. Fast respond juga penjual pulsa satu ini. Aseng: iya bu Iva. bisa bu? Iva: bentar lg sampe tuh. Aseng: belom tidur bu? (iseng-iseng ngajak ngobrol) Iva: belom. kiki lg demam jd rewel Aseng: oh. sori bu ganggu sy y Iva: gk la ini kiki lg tidur kok Aseng: toni mana? Iva: k t4 mamak sakit jg Aseng: kambuh lg Iva: biasa d Jadi yang sakit itu ibunya Iva. Toni — sang menantu — malah yang paling sering mengurus mertuanya. Ibu Iva sempat tinggal bersama mereka sejak ayah Iva meninggal, tapi karena sempat bermasalah dengan tetangga, akhirnya beliau pindah tinggal bersama adiknya Iva. Tak jauh kokoh dari rumah. Sakit yang diderita ibunya cukup kompleks: penyakit jantung berkomplikasi dengan kesurupan. Nah loh? Dan Toni-lah yang kebagian tugas membawakan dukun langganan mereka untuk menangani kesurupan rutin ibunya, seperti malam ini. Sering kudengar orang pergi ke dukun. Kayaknya memang gak ada solusi lain selain ke dukun. Capek-capek dokter belajar bertahun-tahun plus spesialisasi lagi, ujung-ujungnya orang tetap ke dukun juga. Paok kali kurasa. Aseng: da sampe bu pulsa y Iva: abisnya chatting ato nyari bokep Aseng: bokep? gak la ngapain bokep Iva: cepat x abis kuota y Aseng: bisnis bu banyak x urusanku Iva: bisnis tuyul seken (bekas) Aseng: WKWKWK Obrolan kami jadinya panjang malam itu. Untunglah ada teman chatting di jam-jam begini — yang dulu, Aida, sudah tak pernah lagi, atau mungkin tak sanggup lagi karena masalah kesehatannya. Pipit juga belum kunjung menghubungi. Jadinya, modusin si Iva inilah andalanku. Iva yang supel dan enak diajak ngobrol cukup ngocol pula kalau diajak bercanda. Ia mengirim foto-foto lucu yang lazim beredar sebagai meme. Kubalas dengan gambar-gambar lucu lainnya. Malam itu kami berperang gambar, saling berbalas kiriman, terkadang ada foto yang menjurus sedikit ke arah porno. Wajarlah, sudah pada dewasa-begini. Kupancing dia dengan minta foto cantiknya — kirimkan dulu fotoku yang berlagak alay. Tak pake lama, ia membanjiriku dengan foto-foto selfie, bahkan foto full body. Sudah kuceritakan di atas kan, tentang bodi Iva dan gaya berpakaiannya? Indah-indah semua fotonya. Ada yang menonjolkan belahan dada. Ada yang memajang kemulusan kaki jenjangnya. Ada pula yang menonjolkan kemolekan sekaligus buah bokongnya. Banyak pula foto wajahnya yang cantik. Cuma semuanya masih berpakaian lengkap, sih. Aku jadi muas-muasin mata, memelototi koleksi fotonya satu per satu. Cantik dan seksi abis. Kayaknya Iva suka pamer nih. Moga-moga eksibis? Ngarep. Iva Aseng: cantik-cantik bu aku smp ngences liat y. sempat jd model ya? Iva: model kaos kaki. WKWK Aseng: bener loh bu cantik semua loh ini jd model cocok loh bu kek masih gadis Iva: mmg masih gadis yee... Aseng: org gk percaya klo dibilang emak-emak kalo begini mah Iva: iya sering loh kiki dikira ponakanq Aseng: pusing nih bu liat semua Iva: pusing yg atas ato bawah Aseng: atas bawah bu suwer kewer kewer Iva: sukurin Aseng: gimana ni bu? bu Iva sih Iva: kan ada yg di kamar Aseng: lg palang merah bu (padahal enggak) Iva: sabun ada? WKWKWK Aseng: sabun mana sabun Bertambah satu lagi bahan khayalanku. Setelah Aida, kemudian Pipit, kini Iva masuk dengan segala pesonanya. Cenat-cenut Aseng junior membayangkan menikmati dua perempuan itu. --- "Papa Rio?" tegur seseorang di depan gang. "Eh. Bu Yuli... Mau kemana bu?" kataku saat hendak berangkat kerja dengan motor kesayanganku. "Mau ke ATM... Boleh numpang gak?" pintanya. "ATM bank apa?" tanyaku lagi. Di depan bundaran pintu masuk kawasan industri tempatku bekerja, ada banyak jejeran ATM dari berbagai bank. Mungkin salah satunya, pikirku. Lumayan, bantu-bantu tetangga. Ia menyebutkan satu nama bank yang ada. Angkut, deh. Mabar di jam berangkat sekolah dan kerja tentu ramai seperti daerah lainnya. Angkot, kendaraan pribadi, motor, ditambah kendaraan berat. Penuh tumpek-blek jadi satu memenuhi jalan. Aku harus konsentrasi penuh memacu motor, jangan sampai terjadi lakalantas. Tarik gas-rem-masuk gigi-turun gigi-rem lagi-gas terus-rem. Nyot! Nyot-nyot! Tiga kali daging empuk berukuran besar itu menempel di punggungku, dan walau terlapis jaket, kenyalnya terasa sekali. Tiba-tiba seperti ada spotlight terang dari surga menyinari mereka. Merasa sangat diberkahi, gitu, saat merasakannya. Empuk lagi, besar pula. "Sori-sori bu... Jalannya macet..." kataku tergugah, karena kupijak rem mendadak berkali-kali — sebuah angkot tiba-tiba berhenti lalu langsung menepi. Posisi duduk bu Yuli di jok belakang menyamping, karena gamisnya berrok lebar. Ada lagi yang terasa banget: pinggul besarnya yang menempel di jok belakang motorku, mendesak erat punggung bawahku dan sebagian bokongku. Motorku tiba-tiba terasa sesak sempit. Biasanya membonceng istri dan kedua anakku saja, gak sesempit ini keadaannya. "Iya, gak pa-pa..." jawab bu Yuli maklum. Ia bahkan tak melindungi bemper depannya setelah insiden tadi. Dan sekali-dua kali itu terjadi lagi. Gak sengaja, loh, ya. Ini murni karena kondisi jalan. Tos untuk pak sopir. Sering-sering begitu ya. Kalau aku lagi sendirian, jangan kek gitu, ya. Piis. Pertengahan jalan, lalu lintas mulai lancar. Kami terlibat obrolan basa-basi saja. "Kiriman dari abang, bu Yuli?" tanyaku. "Iya papa Rio... Dia lagi di Sidempuan... Mungkin minggu ini gak pulang, jadi cuma bisa ngirim duit aja..." katanya. "Oh... Lagi di Sidempuan... Jauh tuh..." timpalku. "Katanya papa Rio aslinya bukan orang Medan ya?" tanya bu Yuli. "Lahir besarnya ya di Medan, bu... Cuma orang tuanya orang Minang sana..." jawabku. "Awalnya awak kira papa Rio orang Cina... Tumben ada orang Cina mau kawin sama orang Jawa, tinggalnya di dalam gang... Gak taunya orang Padang... He-he-he..." kata Yuli seperti yang sudah-sudah. Sudah tak terhitung lagi orang yang berpikiran seperti itu. Gimana kalau aku belajar bahasa Hokkien, terus ngaku Cina sekalian aja. WKWK. "Eh... Ada polisi, papa Rio!" kaget bu Yuli tiba-tiba. Lebih kaget lagi aku, karena ia mencengkram pinggangku — lebih tepatnya di posisi di mana kantong kanan samping celana panjangku berada. Sedikit lagi, cengkeramannya sudah akan mendarat di area bertahta Aseng junior. Wajar ia kaget, sebab ia tidak memakai helm, walau aku sendiri memakainya. Bu Yuli khawatir, gara-gara ia numpang, aku kena tilang. "Bukan polisi itu bu... Cuma petugas ngatur jalan, pake rompi ijo kek punya polisi..." kataku menenangkannya. Selamat, Aseng junior, dari betotan maut sang emak-emak montok ini. Tapi cengkeramannya tak juga mengendur. Ia seperti mengumpetkan kepalanya di bahuku. Begitu mendengar yang dilihatnya tadi ternyata bukan polisi, ia melongokkan kepala mengintip. Nyot! Bemper depannya kembali menekan punggungku. "Oh... Kirain polisi... Kaget aku..." katanya. Bempernya tetap nempel, walau tak seketat tadi. Di jejeran ATM depan bundaran KIM 2, kuturunkan bu Yuli. "Papa Rio minta nomer HP-nya dong?" pintanya seraya mengeluarkan ponsel dari tasnya. Wow. HP BB yang ia pegang di masa itu harganya kisaran 11 juta. Kaget aku melihatnya. HP-nya mahal, tapi rumahnya ngontrak. Entah macam apa keluarga ini? Kusebutkan nomor HP-ku, yang segera ia catat. "Gak sekalian pin-nya, bu Yuli?" tawarku, menunjukkan barcode-ku untuk discan. Ia pun men-scan-nya, dan kami terhubung. Setelah itu aku lanjut menuju gawean. --- Dua hari kemudian, baru Pipit menghubungiku kembali, di malam hari. Ia sudah menghubungi keluarganya. Terutama kedua orang tuanya yang sudah tua dan sakit-sakitan di sana. Mereka saling bertangisan lewat sambungan telepon, saling rindu karena bertahun-tahun tak berkabar. Berjam-jam mereka saling menelepon, menanyakan kabar Pipit, mengabarkan keluarga di kampung. Ada yang sudah meninggal, ada yang sudah menikah dan beranak. Ada yang pergi, ada yang datang. Aseng: gmna perasaan Pipit skrg? Ppt: lbh lega bg bahagia jg Aseng: bagus dong Ppt: langkah selanjutnya bg? Aseng: ttp silaturahmi temanya. langkah KEDUA minta maaf kepada semua yg sudah menyakiti Pipit Ppt: ?? Aseng: heran kan? Ppt: iya bingung Aseng: coba aj dulu nnt pasti paham Ppt: termasuk mantan2 nih? Aseng: nah itu tau coba dulu Ppt: jgn2 nnt yg ketiga minta maaf sm yg sdh Pipit sakiti lg? Aseng: anak dukun y? Ppt: ish bg Aseng godain Pipit mulu ini beneran kn? Aseng: ya beneran toh mbakyu Pipit yg beneran ayu cam kue putu ayu mlaku2 alias mlayu Ppt: bg Aseng iso ngomong jowo toh? Aseng: lah bojoku wong jowo kok Ppt: bg Aseng lucu Aseng: kek apa? badut? Ppt: bagong (babi hutan/member Punakawan 48, gendut cebol) Aseng: WKWKWK Kali ini chatting-an kami lebih luwes dari sebelumnya yang cenderung serius dan mellow. Ini lebih ke ledek-ledekan teman. Rupanya Pipit cukup lucu juga dengan selera humornya. Humornya lebih ke satir — mungkin karena pengalaman hidupnya. Ia lebih banyak berdiam di dalam rumah, nonton TV seharian, daripada bersosialisasi dengan tetangga. Keluar hanya untuk berbelanja cemilan, sementara belanja bulanannya lebih sering lewat supermarket. Sangat jarang kudapati ia keluar rumah dengan motor, lebih sering bersama suaminya naik mobil. Setelah malam itu, obrolan kami kembali terputus. Mungkin ia sedang berusaha menghubungi orang-orang tertentu — yang masuk kriteria pernah menyakitinya, atau malah yang pernah disakitinya. Barisan para mantan, pastinya. Ini mungkin akan memakan waktu lama.
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 08
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal