EPISODE 16
Aku lihat ci Lina pasti sebentar lagi orgasme, maka aku segera berhenti aktivitas di kemaluannya.
"Dinoo.. Kenapa berhenti mendadak begitu.. Ihhh sebel, aku sudah mau.. Ahhh kamu jahat.." katanya sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya.
"Ci Lina kan saya bilang bonusnya nanti saya akan berikan lebih dari ini tadi.." kataku meyakinkan dia sambil aku peluk beberapa saat.
"Gila, aku dipermainkan sama kamu. Tetapi aku ga bisa marah.." katanya dan mengikuti ketika aku ajak berdiri.
"Sekarang kita jalan 2 muter 2 sini dan ini ditinggal di sini saja," kataku sambil menaruh celana panjang dan celana dalam ci Lina di gazebo.
Aku lihat ci Lina jalannya lucu karena malu. Luar biasa, ci Lina terlihat menggairahkan. Tubuhnya yang sintal padat berjalan di alam terbuka hanya memakai pakaian bagian atasnya, sedangkan bagian bawah terlihat lolos. Pahanya yang putih mulus dengan betisnya dan pangkal pahanya mempunyai daya tarik sendiri.
"Dino.." katanya sambil cubit aku. "Coba ngapain kamu lihatin aku seperti itu? Mau aku telanjang sekalian?" katanya sambil manyunin bibirnya.
"Ci Lina cantik banget, dan bokongnya mengundang pengen digigit," kataku sambil berlarian pelan meninggalkan dia.
"Awas ya kamu Din.. Sudah berani gombalin aku..." katanya sambil berlari mengejar aku.
Yes... Aku sudah hampir bisa menaklukkan ci Lina. Aku yakin sepulangnya dari sini ci Lina akan seperti ci Jeny ataupun ci Vero. Apapun yang direncanakan ci Jeny aku tidak peduli, yang penting sangat menguntungkan buat aku juga. Aku sekarang sudah mempunyai budak 3 orang amoy, dan statusnya mereka bukan sembarangan, melainkan pengusaha kaya semua.
"Ci, saya mau ke toilet sebentar," kataku.
"Dino.. Terus aku gimana? Nanti kalau ada orang.." katanya sambil memegang lenganku.
"Sebentar saja. Lagi pula mana ada orang di sini," kataku sambil berjalan ke arah villa.
Sebenarnya aku cuma mau lihat reaksi ci Lina seperti apa kalau sendiri dalam keadaan begitu. Aku cari tempat yang tidak terlihat, namun aku masih bisa lihat ci Lina. Hahaha.. Lucu juga, ci Lina jalan sambil kedua tangannya menutupi kemaluannya, tetapi pantatnya yang bulat putih terlihat jelas.
Wah.. Ada yang bakalan lebih menarik, kataku setelah melihat bapak penjaga villa sedang membersihkan pinggiran kolam renang. Aku hampiri dia.
"Pak, tadi saya lihat di sana ada musang, kayaknya galak lo Pak. Coba bapak usir, takut nanti gigit orang yang di sini," kataku sambil menunjukkan posisinya ci Lina.
"Iya Pak, biasanya adanya malam hari. Kalau jam segini ga pernah kelihatan. Baik Pak, saya ke sana," katanya.
Yes... Aku mengikuti bapak penjaga villa dan berhenti agak jauh. Tidak menunggu beberapa lama,
"Ehh.. Ehh.. Pak mau ngapain di sini? Sana pergi, jangan lihat ke mari!" terdengar ci Lina teriak sambil berusaha berdiri di balik bunga-bunga yang bisa menutupi tubuh bagian bawah yang telanjang.
"Maaf Bu, saya ga lihat kok. Tadi saya dikasih tau di sini ada musang yang galak, takutnya gigit orang karena kaget," kata bapak itu.
Mendengar si bapak bilang seperti itu, tiba-tiba ci Lina langsung berlari ke arah bapak tadi dari balik pohon dan sampai lupa kalau ci Lina dalam keadaan telanjang bulat sambil berteriak-teriak.
"Tolong Pak diusir... Saya takut digigit..." teriak ci Lina.
Saatnya aku keluar, karena teriakan ci Lina tadi cukup kencang. Melihat aku datang, ci Lina kembali berlari ke arahku dan memelukku dari belakang.
"Pak, di mana musangnya?" kata si bapak.
"Tadi ada di sini Pak, mungkin sudah ketakutan melihat bapak," kataku sambil melirik ci Lina.
"Pak, bapak sekarang balik ke depan saja, cepat," kata ci Lina sambil mencubit perutku kencang.
Setelah melihat bapaknya pergi,
"Dino.. Kamu jahat, aku sebel sama kamu... Beneran kamu ini gila ya," katanya seperti mau nangis.
Mungkin mendengar jeritan ci Lina tadi, ci Jeny sama ci Vero keluar dan mencari kita.
"Lin.. Kenapa Lin..?" kata ci Jeny dengan cemas.
Tetapi melihat keadaan ci Lina seperti itu, ci Jeny langsung melotot ke aku.
"Dino.. Kamu ini. Kalau Lina belum mau jangan dipaksa, nanti pemerkosaan!" katanya sambil marah wajahnya.
"Iya kamu, jangan kasar. Lagi pula di luaran begini, haduhhh.." ci Vero menimpalinya.
Aku diam saja melihat mereka sudah salah sangka.
"Bukan gw mau diperkosa sama Dino, tapi dia ngerjain gw! Beneran kata lo, dia ini jahil banget," kata ci Lina sambil mukulin pundak aku.
"Coba saja gw diajak jalan 2, tetapi gw harus telanjang begini. Katanya melatih supaya gw ga malu, gw ikutin kata Dino. Malah dia pura-pura kencing, si bapak penjaga villa disuruh lihat gw begini. Coba gila ga!" katanya masih sewot.
Mendengar cerita ci Lina, ci Vero dan ci Jeny malah tertawa.
"Kena lo sekarang sama Dino, emang jahil dia. Sekarang gantian kita kerjain dia. Kalau ga mau, kita keroyok saja," kata ci Jeny.
Aku dipegangin ci Jeny sama ci Vero.
"Sekarang kamu gantian buka celana kamu, dan kita jalan menuju kolam renang," kata ci Jeny.
"Iyaa.. Jangan dipegangin begitu, gimana saya bisa buka celananya," kataku.
"Aku yang buka! Kalau ga, pasti nanti kamu kabur," kata ci Lina.
Aku sebenarnya ga masalah kalau harus telanjang di depan mereka, tapi aku pura-pura sedikit ngadain perlawanan biar mereka semangat. Begitu celana panjang sudah dilepas, sekarang tinggal celana dalamnya.
"Aihhhh... Panjang.." kata ci Lina bengong melihat batang penisku sudah berdiri keras.
Melihat itu, ci Jeny sama ci Vero tertawa.
"Mentok Lin, sampai ngilu gw awalnya," kata ci Vero.
"Iya tuh, awalnya ga mau sok nolak, giliran udah kena minta nambah," kata ci Jeny sambil dibarengin ketawa.
"Sialan lo Jen... Gw mau nerusin di kamar sama Dino, Jeny ikutan aja. Kayak ga rela gw sama Dino berdua," Lagi lagi mereka tertawa lepas.
"Terus kalau sama gw, tar lo mau ikutan juga Jen?" kata ci Lina.
"Hemmmm... Gw kasih pinjem deh sampai subuh," jawab ci Jeny.
Kacaunya mereka bertiga, aku seakan-akan jadi barang simpanan mereka. Ahh, biarkan saja, yang penting aku bisa menikmati, kataku dalam hati.
"Jadi saya cuma disuruh berdiri sambil dengerin ibu-ibu pada ngerumpi?" kataku.
"Wahh.. Kamu Din, kita di bilang ibu-ibu.." kata ci Vero.
"Maaf Ci.. Tante-tante.." kataku lagi.
"Tante girang kita maksudnya, Dino," kata ci Lina.
"Nyamber saja neh," ci Lina, sambil aku tarik tangannya, aku peluk dan aku cium bibirnya, sambil aku kasih kode ke ci Jeny.
"Gila ya, sudah berani main nyosor saja," kata ci Jeny seakan-akan marah.
Aku segera melepaskan ciumanku ke ci Lina. Akhirnya aku disuruh jalan tanpa celana atau bugil bagian bawah, diikuti mereka sambil bercanda.
"Gimana Ci? Kalau saya berani minta enci untuk telanjang, maka saya juga harus berani," kataku membanggakan diri.
"Iyaaa, apa yang kamu takutkan? Bosnya yang terkenal galak aja di plototin, nyari celah terus biar lagi diomelin," kata ci Jeny.
"Tapi sekarang masih suka cari celah ga?" kata ci Lina.
"Sekarang ga perlu celah, habis semua sama Dino," kata ci Jeny sambil menggandeng tanganku.
Tiba-tiba kita dikejutkan dengan teriakan suara gadis cantik berhijab.
"Bu.. Ahhh.. Maaf saya tidak melihat.." katanya, dan disusul munculnya bapak penjaga villa.
"Maaf Bu, ini anak saya tadinya mau kasih tau kalau makanan sudah siap," kata bapak penjaga villa langsung mengajak anaknya kembali ke depan.
"Kamu seh Din. Lihat tuh, anak orang jadi sawan lihat punya kamu, ga sopan berdiri terus," kata ci Vero sambil tertawa.
"Iya Din, itu dari tadi ga tidur-tidur, heran aku," kata ci Lina sambil melirik ke batang penisku.
"Asal sudah dapat sasarannya juga nanti tidur. Sudah, ayo kita makan, habis itu kasih sasaran aja biar tidur," kata ci Jeny.
"Iya.. Tapi celana saya mana biar saya pake? Masak saya makan begini," kataku.
Ci Vero sama ci Lina masuk duluan ke villa, sedangkan ci Jeny masih nunggu aku memakai celana.
"Din... Sebenarnya aku ga rela kamu sama Lina, tetapi demi tujuan yang kemarin aku ceritakan, ya sudah. Habis ini kamu mulai saja, biar aku sama ci Vero keluar cari buat cemilan nanti malam," kata ci Jeny.
"Iya siap.. Jadi nanti malam saya tidurnya sama ci Lina," tanyaku.
"Huhh, dasar memang kamu maunya begitu ya. Terus aku di sini sendiri kedinginan," kata ci Jeny manja.
"Makanya nanti kamu bikin dia bakalan butuh kamu, cukuplah 2 jam. Tapi ingat nanti malam, awas ya kalau kamu capek," katanya sambil ngelek aku.
"Iya iya.. Sudah kayak pengantin baru," kataku.
"Kan memang baru, cuma ga ada pernikahan saja. Saling memberi, saling menikmati dan saling melengkapi," katanya, tiba-tiba memelukku.
"Iya bos ku yang cantik," kataku.
"Gombalnya mulai keluar. Ayo kita masuk, sudah ditunggu pastinya."
Setelah selesai makan, ci Jeny sama ci Vero pergi buat cari makanan. Aku lihat ci Lina masih duduk sambil main HP. Aku deketin dia, aku peluk dari belakang dan bau cium lehernya bagian belakang.
"Hemm.. Mulai deh. Emangnya kamu belum puas dapetin Jeny sama Vero?" katanya sambil memegangi tanganku.
"Ci, wanita itu punya kelebihan masing-masing, jadi kepuasannya juga beda. Ci Lina terlihat lebih energic, ceria, dan tentunya kecantikan dengan bulu matanya yang lentik," kataku sembari mencium pipinya.
"Iya.. Iya.. Aku tau kamu mau gombalin aku seperti mereka," katanya masih cuek.
Kayaknya ci Lina ini tipe cewek yang jinak merpati, aku harus mulai, kataku dalam hati. Tanpa bicara apa-apa lagi aku langsung angkat tubuhnya, aku gendong ke kamar, dan benar saja ci Lina cuma tersenyum.
"Hemm, ada yang sudah ga tahan," katanya.
Begitu sampai kamar, aku minta ci Lina berdiri dan aku lepaskan pakaiannya, dan aku sengaja sisakan bh dan celana dalamnya. Kembali aku cium dari belakang, dan tanganku meremas lembut buah dadanya yang masih tertutup bh.
"Hemmsss.. Ahhhhh.. Dino..." mulai terdengar desahan ci Lina.
Aku naikan kedua tangannya agar memegang kepalaku. Sekarang tangan kiriku masih meremas pelan buah dadanya bergantian, sedangkan tangan kananku mulai mengelus perutnya yang masih datar putih bersih, aku raba pelan dan ciuman ku. Terlihat ci Lina merasakan sensasi pelan, tapi justru membuatnya menggeliat.
Ciumanku mulai turun ke bawah dan berhenti di bongkahan pantatnya. Aku turunkan celana dalamnya dan kedua tanganku mulai menjamah bagian pahanya yang dalam, dan lidahku bermain di bongkahan pantatnya yang padat.
"Ohhassss... Dino.. Kamu bikin aku merinding, geli dan nikmat banget," katanya sambil disertai erangan. Aku minta ci Lina untuk merentangkan kedua pahanya. Aku cium dan jilat paha bagian dalam dan berhenti di bagian bibir vagina belakang, dengan pelan dan lembut aku sapukan lidahku di bagian itu.
Oohhhssa.. Ohhassss.. Din.. Aku ga kuat berdiri lagi.. Awalnya cuma desahan, tetapi ketika jariku mulai bermain di vaginanya dari depan dan aku cari kelemahannya,
"Dino... Aku ga tahan lagi.. Akhsss... Akhsss... Hemm, Din, aku keluar, Dino..." jeritan ci Lina.
Ci Lina segera duduk di ranjang dengan wajahnya yang cantik tersenyum puas.
"Pantesan mereka pada ngebet sama kamu. Gila, baru pemanas cumbuan saja aku sudah klimaks."
Aku yang belum puas memberikan rangsangan kepada ci Lina. Dengan posisi di pinggir ranjang aku buka lebar kedua pahanya yang pasti membuat mata lelaki akan terangsang. Aku ciumin pangkal pahanya, dan setelah itu lidahku kembali bermain dari bawah sampai atas lobang vaginanya. Desahannya kembali terdengar.
Aku mau bikin dia seperti ci Vero. Ketika lidahku bermain di seputar lobang anusnya, ci Lina terlihat menggeliat-geliat. Jari tanganku yang sudah dari dalam lobang vaginanya aku pindahkan ke lobang anusnya, awalnya aku gesekan.
"Hemmsss.. Din... Ahhasssss..." terdengar desahan ci Lina.
Aku akan mainkan di 2 tempat yang akan membuat ci Lina menjerit. Lidahku aku tujukan ke bagian klitorisnya yang mungil, aku sedot-sedot.
"Dinn.. Oksss... Gilaa, Din.. Aksss... Din.. Dino auwhh.. Akhsss..." Ci Lina terlihat berusaha merapatkan pahanya dan mengangkat pinggulnya ketika jari tanganku sudah masuk ke dalam lobang anusnya.
Pelan tapi pasti, ci Lina mendapatkan sensasi yang baru pertama dirasakan. Desahan dan jeritan saling bersahutan, dan jari tanganku aku berikan kocokan di titik G-spot.
"Ouwww.. Dinoo... Akhssss... Akuuu... Keluar lagi, Din... Ohhhasss," jeritan ci Lina disertai dengan mengangkat pantatnya.
"Din, kamu memang jagonya bikin perempuan tunduk sama kamu," katanya sambil menarik tanganku untuk naik ke ranjang.
"Ci Lina pernah oral punya cowok ga?" kataku.
"Ahhh ga mau lahh.... Ngebayangin saja sudah mual," katanya.
"Ohhh.. Ya sudaah.. Cuma saya minta, nanti pas kita sudah mulai, kalau saya minta buka mulut, buruan dibuka," kataku.
"Terus kamu mau aneh-aneh pastinya," jawab ci Lina curiga.
"Mau dapat sensasi yang luar biasa ga?" kataku supaya bikin dia penasaran.
"Hemm... Tapi awas ya kalau macem-macem, tar aku gigit sampai putus itu," mu sambil tertawa.
Aku lihat ci Lina sudah terbaring di ranjang. Kain sarung berwarna merah polos menjadi terkesan kontras sekali dengan tubuhnya yang putih mulus, rambutnya terurai, wajahnya yang cantik.
"Din.. Ihhh, jangan lihat begitu, aku jadi malu. Baru jalan sekali sudah kamu telanjangi dan kamu lihatin begitu," kata ci Lina.
"Saya kagum sama ci Lina. Mendekati sempurna di mata lelaki," kataku, langsung memeluknya.
"Bener kata Jeny, Dino jago ngegombal," katanya.
Aku tidak kasih kesempatan ci Lina buat berbicara lagi. Aku cium bibirnya, aku lumat, dan membuat kita saling bermain lidah. Tanganku yang sudah pengen merasakan kenyalnya buah dada ci Lina segera aku remas lembut.
"Ohhhsss... Din..." desahan ci Lina kembali terdengar.
Lehernya yang jenjang aku mainkan dengan ciuman dan lidahku, yang membuat ci Lina semakin terangsang. Sambil aku gesekan batang penisku ke vaginanya, buah dadanya sekarang menjadi sasaran utama. Aku cium sesaat dan aku jilat puntingnya.
"Ohhhsss... Ahhkass... Dinn.. Sekarang masukin," kata ci Lina sambil memegang batang penisku untuk diarahkan ke lobang vaginanya.
"Dinn hemmmsss... Tekan din.... Ohhhsss..."
Ci Lina melingkarkan kedua kakinya ke pinggangku. Pelan tapi pasti batang penisku menembus ke dalam vaginanya. Aku kocok dengan pelan teratur. Terlihat buah dadanya yang montok putih semakin mengeras kenyal. Hampir 10 menit, irama kocokanku aku percepat dan kadang aku hentakan sampai amblas semuanya.
"Gila din... Ohhhsss.. Mentok rasanya..." Aku semakin agresif, aku lumat bibirnya dan aku remas kencang buah dadanya.
"Akhss.. Akhsas... Aku keluar lagi dinooo... Ohksss..." kata ci Lina dibarengin tubuhnya menggelinjang menahan nikmat.
"Mau dilanjut apa istirahat dulu ci?" kataku.
"Kamu pengertian banget din. Kebanyakan cowok sebelum dirinya klimaks pasti jalan terus walaupun ceweknya kelelahan," kata ci Lina dengan napas yang masih terengah-engah.
"Kayaknya pengalaman pribadinya hebat juga ya ci Lina," kataku masih memeluknya.
"Sembarangan kamu ya, itu aku taunya dari baca."
Aku minta ci Lina posisi nungging. Bokongnya yang putih itu segera aku remas dan aku atur posisi dan aku masukan batang penisku. Bless.. Crep.. Crep... Suara terdengar dari sentuhan batang penis dengan vaginanya ci Lina.
Buah dadanya yang mengantung berayun-ayun mengikuti irama gerakan badannya. Tak kubiarkan begitu saja, aku remas dari belakang dan aku ciumin punggungnya yang datar bersih.
"Yessss.. Ohhhsss... Ohhhsss... Dinnn ahksss.." suara ci Lina kembali meninggi.
Setelah 10 menit, aku minta ci Lina mengatur posisi menyamping, aku mainkan dari belakang. Setelah aku rasa saatnya, aku juga mau klimaks.
"Ci, kembali terlentang saja, aku mau kita keluarin barengan," kataku.
Kembali aku hujamkan batang penisku, aku peluk erat ci Lina.
"Ci Lina, nanti kalau saya minta buka mulut, buruan ya," kataku semakin agresif dengan hentakan-hentakan sedikit keras.
"Ohh.. Ohhkssa.. Akhhh.. Dinn.. Cepet dinn..." rintihan ci Lina.
Disaat dia sudah mau di ujung kenikmatan, aku cabut dan aku rubah menjadi gaya 69. Aku sedot klitoris ci Lina kuat-kuat, dan disaat itu pula batang penisku sudah di dalam mulutnya.
"Upsss.. Uhgg... Crot.. Crot.. Crot..." Ci Lina tak kuasa menghindar karena disaat yang sama dia mencapai klimaksnya terakhir.
Ci Lina baru sadar setelah beberapa saat dan langsung mendorong aku supaya batang penisku terlepas.
"Huk.. Huk.." terdengar suara ci Lina terbatuk-batuk dan mulutnya masih menahan spermaku. Aku segera berbalik badan, aku ciumin bagian telinga ci Lina yang tadinya mau dimuntahin tetapi karena merasakan geli,
"Din.. Geliii.. Huk..." Aku lihat ci Lina masih terengah-engah menahan napasnya dan langsung berlari ke kamar mandi.
Aku masih tiduran di sofa. Tak lama, ci Lina sudah keluar.
"Aduhhh.. Aduhhh... Cici sakit.." kataku ketika perutku dicubit kencang.
"Gila kamu ya din.. Sampai merinding aku kalau inget," kata ci Lina, terlihat kurang suka.
"Maaf ci. Disaat puncaknya tadi, apa yang ci Lina rasakan?" kataku sambil memeluknya ketika ci Lina tiduran di sampingku.
"Napas rasanya mau putus. Kamu paksakan itumu masuk, disaat itu aku beneran klimaks, mau teriak dan napas sampai susah. Tetapi pas kamu tarik.. Gilaa, antara nikmat dan lega banget," katanya.
"Itulah tujuan saya, bukan saya kurang ajar suruh nelan punya saya. Tetapi dengan begini kan ci Lina tau rasanya," kataku sambil tertawa.
"Dasar ya kamu.. Tapi yang aku rasakan ini ga pernah terbayang sampai segitunya..."
Aku cium bibirnya. "Makasih ya ci, telah memberikan hal yang berharga buat saya."
"Maksudnya.." kata ci Lina.
"Tidak sembarang lelaki yang bisa begini sama ci Lina. Wanita cantik, pintar dan bos besar," kataku.
"Bener katamu Din. Kamu satu-satunya orang setelah suamiku yang bisa bercinta dengan aku. Aku seneng kamu orangnya sopan walaupun sedikit konyol. Tetapi itulah yang membuat kamu bisa menaklukkan Jeny, Vero, juga aku."