←18+
← Life Changing Experience

Episode 21 — Life Changing Experience

EPISODE 21
Selama perjalanan pulang aku ditemani oleh musik dari radio yang memainkan lagu "Satu Jam Saja" dari Zaskia Gothic, dari hotel setelah menerima panggilan dari tante Bella. "Lah, kok ya pas lagunya ini, haha," ucapku pada diri sendiri. Kurang lebih hanya satu jam aku bercinta dengan tante Bella. "Ah, walau bisa ngerasain dengan wanita lain, tapi kalau gak tuntas gini ya gak enak ya. Kentang rasanya," lanjutku. Mobil kuarahkan kerumah tante Dina, waktu masih menunjukkan pukul empat sore. Setibanya di rumah tante Dina, mobil aku parkirkan, dan tante Dina keluar dan berdiri di teras menyambutku dengan wajah sedikit bingung, kenapa baru beberapa jam aku sudah pulang. "Lho, kok...." ucap tante Dina tidak melanjutkan ucapannya. "Hahaha, aku ceritain di dalem aja, mah," terangku sambil turun dari mobil dan menutup pagar kembali. "Haha, parah tapi pengalaman unik. Masa kentot doi gak mau lepas baju, dan endingnya aku disuru ngloco sendiri setelah doi dapet orgasme. Doi hanya bisa sebentar karena ada janji mendadak, dan alasan gak mau lepas baju karena aku newbie. Dan alasan disuru ngloco sendiri karena cowok panggilan tugasnya muasin wanita, masa gitu? Tapi aku dikasih amplop ini," terangku bingung sambil menunjukkan amplop itu. "Hahahaa, serius? Yaaahh, parah. Segimanapun ya, namanya cowok panggilan, seharusnya gantian dong ya, haha. Eh, coba dibuka itu amplopnya," suru tante Dina. Lantas aku membuka amplop itu dan terlihatlah beberapa lembar Soekarno-Hatta berwarna merah. "Hmm, 700rb mah," terangku. "Itu tarif normal cowok untuk semalam deh. Hmm, mungkin awalnya dia pengen semalam, tapi ada apa itu yang akhirnya hanya sejam," jelas tante Dina. "Gimana kalau ada yang mau lagi, mau gak?" lanjutnya. "Hmm, ogah ah, mah. Aku gak menikmati bercinta yang seperti itu. Kan mamah juga tau kalau aku sukanya yang slow dan sensual, haha," terangku sambil bercanda. "Ahaa, ya udah. Bella ditunggu aja, ntar dia ngontak lagi gak. Kalau ngontak, berangkatlah, dan ntar kalau ada yang minat, aku cancel ya. Eh, aku gak masak nih, keluar cari nasi goreng yuk ntar malam," ajak tante Dina. "Yuk, boleh, mah," balasku. Kami berdua lanjut keluar untuk cari makan di warung nasi goreng pinggir jalan dan sekedar ngobrol santai mengenai progress kuliahku dan percintaan. Aku bercerita mengenai hubunganku dengan Sandra yang cukup aneh; terkadang aku merasakan bahwa dia menggunakan hati, namun di sisi lain dia menjualku ke teman-temannya untuk digunakan, khususnya kejadian beberapa minggu lalu dengan Helga. Tante Dina juga menyarankan untuk fokus pada kuliah dulu aja. Terkait dengan Sandra, jangan hanya fokus pada kentot; kalau emang suka, diajak jalan atau makan. Selain itu, aku juga bercerita tentang aku yang sedikit berani menghadapi cewek setelah di-training khusus oleh tante Dina, khususnya mengenai berbicara santai dengan wanita. Tante Dina juga bercerita bahwa pasangan yang akan menikahi dirinya sudah dibawa kerumah kedua orangtua tante Dina dan sebaliknya. Kabar baiknya, kedua keluarga sudah bertemu untuk membicarakan masa depan keduanya, khususnya masa depan putri dari calon suaminya. Aku cukup bahagia mendengar cerita tante Dina dan rona wajahnya yang berbunga-bunga. Obrolan yang berat ini kami selingi dengan makan nasi goreng yang enak dan lezat, tentunya cukup murah. Hingga pukul jam sepuluh lebih, tante Bella tidak menghubungiku. Mungkin aku melakukan hal yang menurut tante Bella membuat turn off. Ya udah, lagi pula aku juga tak begitu menikmatinya. * Setibanya di kampus, aku duduk di lantai ruang dosen untuk menunggu dosenku yang bernama Dr. Sadewo. Beliau ahli di topik isu global pemasaran yang menjadi minatku untuk melakukan penelitian dalam bentuk skripsi. Suasana ruangan dosen ini cukup sepi dan sunyi, mungkin orang kentut aja kedengaran. Tok tok tok tok—suara langkah kaki sepatu mengenai lantai keras ini. Tak aku tau siapa yang mengenakan sepatu ini. Tak mungkin Sandra; dia suka mengenakan sepatu wedges dengan alas yang empuk sehingga suaranya tidak begitu keras saat mengenai lantai. "Oh," pikirku dalam hati saat wanita itu memasuki lorong di dalam ruang dosen di mana aku duduk di lantai. Dia wanita yang sangat anteng dan pendiam, namun justru banyak yang berusaha mendekati. Dia melewati di depanku, hanya mengangguk pelan dan melihatku sekilas, akupun mengangguk balik. Dia duduk di sebelah jauh, mungkin dia mencari dosen yang lain, yang tak kuketahui siapa. "Bro, silahkan kalau mau ketemu Pak Sadewo, ane udah," ucap Rafa saat keluar dari ruangan Pak Sadewo. "Oke, bro, makaseh," balasku singkat. Lantas aku berdiri dan masuk keruangan Pak Sadewo. Memang skripsiku masih semester berikutnya, namun karena beliau ini salah satu pembimbing terbaik, tak ada salahnya aku mulai pendekatan dengan beliau. Setelah selesai ngobrol dengan dosenku tadi, langkah kaki kuarahkan menuju kantin, siapa tau ada yang aku kenal di sana. Setibanya di sana cukup ramai hari ini. Para wanita geng hedon sedang tidak beredar, entah ke mana. Namun ada cowok-cowok teman sekelasku, Taufik, Indra, dan Jono; selain itu ada anak gaul-gaul lain yang juga aku kenal. "Eh broh, dari mana?" tanya Taufik. "Dari ruang dosen, ketemu Pak Sadewo," balasku. "Weee, Rendy, duduk sini. Woe, geser-geser," ujar Edu, si anak gaul yang sangat friendly dan di satu sisi suka bullying. Lantas aku duduk di mana Edu memberiku tempat duduk, dan kami pun ngobrol mulai hal sepak bola hingga bokep. Namun biasa, aku kalah suara dengan mereka, jadi aku lebih banyak ngikut tertawa dan hanya balas ngobrol dikit-dikit. "Wiih, guys, lihat tuh," ujar Roni. Lantas kami semua pada memutar badan atau menggelengkan kepala ke arah Roni menunjuk. "Karina, bro," lanjut dia sambil bisik-bisik. "Pantatnya, bro, kalau jalan seperti bebek. Badannya kecil tapi pantatnya woh, manteb. Walau berjilbab dan berpakaian longgar, tapi gak bisa nutupin pantat semoknya." "Masih perawan, bro, doi," ujar Taufik. "Kok tau, weh?" balas Edu, dan yang lain menjadi serius. "Jaman segini masih ada yang perawan? Wiih, gilak," lanjut yang lain. "Sahabatnya namanya Hernita. Ceritain ke aku waktu duduk jejeran di kelas," balasnya Taufik. "Wih, sianjir. Eh, eh, Amanda tuh," ucap Roni lagi. "Itu juga perawan," balasku. "Aku tau dari temennya," lanjutku. "Kalau itu iya jelas, gak ada yang berani deketin, bro. Pendiem kaya patung, haha," balas si Taufik. "Eh, Du, bukannya kamu, Vidi, Jono, dan Resta pada taruhan ngambil keperawanannya tu cewek?" ujar Roni. "Haha, iya. Karina, Amanda, Selvira, dan Cindy. Tapi belum ada yang berhasil. Nampaknya Vidi doang bisa ndeketin Cindy," terang dia bisik-bisik. "Gimana cara taruhannya kalau boleh tau?" tanyaku. "Elu deketin, atau jadian, kentotin, dengan bukti foto lah atau apa, bukti darah perawannya itu, dan kamu menang. Taruhannya menang duit. Duit partisipasi sejuta, kalau berhasil dapet empat juta," balas Taufik. "Anjiiiirrrrr, kok seru!" balasku hebring. "Hadiahnya duit dan memek peret sempit, bro. Taun lalu kakak kelas pada bisa sapu bersih, empat target dapet semua," cerita si Roni menggambarkan dengan semangat. Wow, aku masih gak percaya, cewek perawan malah dijadikan trofi untuk taruhan. Tapi kok ya, keempat cewek cantik dan anggun yang tak berdosa itu. "Udah, sorean, yuk pulang," ucap kami saat hari sudah memasuki sore dan kantin sudah mulai sepi. Saat memasuki kost-kostan—sudah lama aku tak masuk ke kostanku—aku duduk di kasurku dan membuka HP-ku untuk melihat apakah ada SMS atau missed call. Ada missed call dari Sandra, dan aku menghubungi balik dia, siapa tau ada hal penting. "Hello, apaan, Sandra, tadi telpon aku ya?" ucapku di telepon. "Iyaa, di mana aja kamu, woo? Iya, tadi aku diberitahu temenku, katanya kamu udah mulai cari dosen pembimbing ya. Lho, kok gak ajak-ajak aku? Udah lupa ya sama aku setelah dapet yang lain? Wuu, jahat lu ah," balas dia norak gak jelas di balik sana. "Enggak ya, gak mungkin dong lupa sama kamu. Jadi tadi aku ketemuan dulu buat kenalan," balasku menenangkan Sandra. "Hmm, yowes. Kapan lagi ketemu sama dosennya? Malem ini ngapain? Temenin cari makan dong?" ajak Sandra. "Boleh yuk. Makan doang nih?" candaku. "Iyalah, mau minta apaan lagi? Ngentot? Haha, lagi halangan aku," terang Sandra. "Yaah, kecewa," balasku. "Oh, jadi maunya ketemu kalau kentot? Oke, fine," balas dia judes. "Enggak, woe, haha, canda. Ayo, jadi gak, princess?" ajakku kembali. "Jadiiiiii. Jam tujuh ya, aku tunggu di lobby yak," jawab dia happy. Asyik, akhirnya aku bisa bertemu dengan Sandra, walau hanya untuk kencan makan. Tak apalah, yang penting bisa ketemu dan meyakinkan perasaanku atau dia tentang masing-masing. Setelah selesai dengan urusan badanku seperti mandi dan bersolek agar wangi, akupun langsung berangkat ke apartemen dia untuk menjemputnya. "Hellooooo, Rendyyyyyy," ujar dia ramai. Saat memasuki mobilku, kami saling cium pipi. "Ke mana nihhhh?" balasku. "Aku pengen ke Chicken and Grill nih," balas dia. "Okee." Aku pun memacu kendaraanku ke arah yang dimaksud. "Eh, Sandra, aku kemarin-kemarin takut untuk ngontak kamu duluan setelah apa yang terjadi di Lombok, aku sama Helga," terangku dengan grogi. "Apaan, lho, ah. Kita itu gak ada apa-apa, kenapa sih kamu kok khawatir kalau aku cemburu atau apa? Atau jangan-jangan kamu...... suka sama aku?" ujar dia menjadi serius. Aku menjadi keringat dingin dan terbisu, bingung mau jawab apa. "Rend, aku udah nganggep kamu sebagai sahabatku. Terlepas apa yang pernah kita lakukan, aku nyaman dan happy sama kamu, tapi hanya sebatas ini, gak ada rasa yang lebih. Maaf ya," ujar dia menjelaskan. Aku hanya terdiam, badanku berkeringat, grogi, dan tentunya sedikit patah hati. Kukira wanita yang selalu dekat denganku ini menaruh rasa padaku, namun ternyata hanya sebatas sahabat dan teman tidur (?). Tak kusangka, aku jadi friend-zone di mata Sandra. Aku berusaha menahan emosiku agar tidak menjadi awkward di dinner date malam ini. Di tengah enak-enaknya makan, perasaan awkward berkali dua saat tante Dina tengah turun dari mobilnya yang mungkin itu milik pasangan barunya, dan mereka berdua berjalan menuju pintu masuk resto ini. Hatiku berdegup kencang, aku bingung harus bagaimana. Akankah kami seperti tidak kenal? "Eh, ada Rendy!" Jantungku copot saat tau-tau tante Dina menyapaku dengan kencang. Aku lantas berdiri dan memberinya salam. "Ini, kenalin, Dr. Erwin yang aku ceritain. Eh, siapa cewek cantik ini, kok gak pernah dikenalin ke aku?" balas dia. "Ini lho, anak yang sering bantu-bantu aku di rumah dan bantuin urusan kerjaan administrasi pasien di klinik," lanjut dia menjelaskan ke Dr. Erwin. "Kenalin, Tante, aku Sandra, temannya Rendy," Sandra memperkenalkan diri. "Oohh, Sandra. Iya, Rendy sering ceritain kamu. Aku bisa dibilang mamah angkatnya, haha," terang tante Dina. "Ya udah ya, have fun kalian," kata tante Dina dan melambaikan tangan. Kamipun melanjutkan makan lagi, disertai dengan keringat dingin di badanku. "Kok kamu gak pernah cerita kalau punya mamah angkat di sini?" ujar Sandra, menanyaku. "Ya maap, pikirku juga gak penting dan gak perlu diceritakan," balasku grogi. "Cantik ya dia. Itu suaminya ya?" tanya dia lagi. "Calon suaminya. Dia janda, terus mau nikah lagi. Aku bantuin di rumahnya ngurusin kerjaannya," terangku, semoga gak menimbulkan kecurigaan. "Oooooo," balas singkat Sandra sambil sibuk makan makanannya. "Eh, kamu cerita apa aja ke mamahmu? Gak yang aneh-aneh kan?" tanya Sandra padaku. "Ya bilang, ceritain tentang kamu," jawabku malu-malu. "Eh, Sandra, kamu kok kemarin ngumpanin aku ke Helga?" tanyaku melanjutkan. "Hahaa, abisnya doi pengen gitu. Lagian kan kita juga gak ada apa-apa, so tak apalah. Tapi overall seru kan?" tanya Sandra. "Lebih seruan sama kamu, hehe," balasku bercanda. "Ah, gombal. Bilang aja lagi pengen kentot, haha. No kentot ya, aku pengen bersahabat layaknya yang lain," jawab dia berbisik. "Yaahhh, kering dong. Tapi oke lah," balasku. "Ntar aku umpanin ke temenku kalau pada mau, hihi, aku jadi mami aja," tawa Sandra. "Yeeee, hmmmmmmm." Setelah dinner date malam itu, aku kembali ke kostanku. Tante Dina sedang kencan, aku tak mau mengganggunya, siapa tau dia lanjut kerumah untuk bercinta atau apa. Sandra hanya aku antar hingga lobby apartemen, dan tidak masuk ke dalam. Sandra sudah jelas-jelas menolak untuk berhubungan badan lagi denganku, entah kenapa. Memang wanita susah dimengerti; butuh waktu yang lama untuk merayu cewek untuk menurunkan celananya, namun hanya butuh satu detik bagi cowok untuk memutuskan mau menurunkan celananya atau tidak setelah kontolnya disentuh dari luar celana. Dari apa yang kualami sekarang ini, nampaknya petualangan bercintaku akan berkurang, kembali pada cara lama, yaitu ngloco. Bisa sih jadi pemuas tante-tante seperti yang aku lakukan ke tante Bella, tapi itu bukan aku yang melakukan; aku telah tertutup nafsu yang tebal. Yang aku cari dari seks, selain bisa ngcrot, namun juga bercinta dengan penuh gairah, sentuhan yang sensual, dan ciuman-ciuman panjang.
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 20
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal