EPISODE 24
Setelah apa yang aku lakukan kepada Amanda memang tidak berefek pada hari itu. Namun beberapa hari setelahnya aku merasa bersalah, depresi, dan hina. Aku mengurung diri di dalam kostku, belum berkomunikasi dengan siapapun. Aku menangis dalam kesendirian, biarkan orang mengataku lemah. Apa yang aku lakukan ini saat salah. Memang ada perbedaan jika bersetubuh dengan orang yang enggak perawan dan yang belum. Beban moralnya sungguh luar biasa. Bisa saja aku menyalahkan Sandra mengenai ini, tapi itu kan kembali pada pilihanku sendiri.
Terkait dengan ucapan i love you, ya itu juga menambah luka di hatiku, bukan karena aku ingin nambah porsi bercinta dengannya, namun untuk menjaga dia setelah apa yang aku lakukan.
"Trrreeeettt treeeeeerrrtttt," suara HP-ku bergetar. Ku pandangi layar HP-ku, dan itu telepon dari Sandra. Aku angkat telepon itu.
"Hello, Rend, heh, kita dicariin pak Sadewo, diminta untuk ketemu bimbingan nanti siang," kata Sandra langsung nrocos.
"Hiks..hickkk..hiksss..hmm ohh iyaa jam berapa?" Suaraku menahan rasa tangis.
"Eh lho, kamu kenapa? Kamu dimana? Aku ke tempatmu ya," kata Sandra panik, apa yang terjadi padaku.
"Gak usah," jawabku singkat dengan nada berat.
"Rend, aku kalau ada apa-apa menghubungi kamu, tapi kalau kamu ada apa-apa, kamu diem aja. Kamu dimana?" kata dia kembali dengan lebih lembut.
"Di kost," jawabku kembali. Mungkin aku perlu saatnya cerita kepada orang yang melemparku pada jurang surga dunia yang semu ini.
"Aku ke sana," jawab dia tegas.
Aku beranjak dari kasurku dan ke kamar mandi untuk membasuh wajahku. Namun mataku cukup lebam seperti panda. Tidak mungkin aku ke kampus dengan kondisi seperti ini, bisa menimbulkan pertanyaan banyak orang yang berpapasan denganku. Pak Sadewo juga memintaku untuk menghadap, tapi mungkin dengan kondisi seperti ini. Ku kembali duduk di kasurku untuk menunggu Sandra tiba di kostku.
Knok knok knok—
"Rend, bukain dong," teriak Sandra dari luar. Aku beranjak membuka pintu tanpa mengucapkan apa-apa, langsung membalikkan badan dan duduk di kasur. Sandra nampak bingung dan berusaha merangkai teka-teki apa yang telah terjadi padaku.
"Kamu kenapa?" ujar dia pelan dan menatapku dalam-dalam. Aku hanya diam dengan menatap kembali dia.
"Kalau ada apa-apa bisa lho cerita padaku, tapi kalau kamu enggan juga gapapa," lanjutnya. Setelah aku mengenalnya, dia sebenarnya orang yang sungguh baik dan positif. Mungkin dulu aku hanya belum mengenal dia secara personal saja, mungkin.
"Ak-akuu, aku sangat berasa bersalah dengan apa yang aku lakukan pada Manda," jawabku datar. Ku pandangi dia, wajahnya cukup shock dengan apa yang aku katakan, karena itu memang rekomendasi dia.
"Rend, ohh, hmmm, maafkan aku kalau akhirnya bakal seperti ini. Rend, maafkan aku," balas dia dengan cukup menyesal.
"Hmmm, aku gak tau Manda bagaimana, tapi.. aku seperti.. ahh, sudahlah.." balasku kembali. "Rasanya aku seperti sampah. Aku bukan seperti ini. Aku gak ingin diriku dikuasai nafsu." Aku menurunkan dudukku dan duduk di lantai disertai menutupi wajahku. Sandra berusaha memelukku.
"Rend, aku sudah berhubungan dengan Manda, dia baik-baik aja," dia berusaha membalikkan keadaan. "Hmmm, aku minta maaf ya jika aku telah berbuat salah padamu." Dia menyesal dengan berusaha menahan tangis.
"Aku mau bukan karena aku nafsu, tapi karena kamu," balasku dengan tegas. "Aku takut menolak kamu," lanjutku kembali.
Sandra lantas membalasku dengan pelukan yang sangat dalam dan membisikkan minta maaf.
"Iya, aku maafin, Sandra. Aku gak ingin ini terjadi kembali," mintaku.
"Iya, maaf ya, Rendy," ujar dia dengan senyuman dan pelukan.
Dari obrolan tadi, aku pandangi Sandra masih berusaha merangkai maksud mengapa aku mau melakukan itu karena Sandra. Dia hanya terdiam dan pikirannya berpikir keras. Memang hatiku sedang diombang-ambingkan oleh Sandra. Bisa saja aku move on dan mencari wanita lain yang layak untuk aku cintai, tapi aku juga perlu memandang diriku sendiri. Emang aku berani memulainya duluan?
Setelah semuanya menjadi reda dan terkontrol, lantas Sandra mengajakku untuk makan siang. Dia menelpon dosen pembimbing jika bimbingan minta dimundurkan menjadi esok, namun dia tidak cerita apa yang terjadi pada kami. Di lain sisi, aku mendapatkan sosok yang care denganku namun selalu memberiku teka-teki.
"Sandra, hari minggu esok, tante Dina akan menikah. Kamu mau gak nemenin aku dateng?" ajakku. Sebenarnya aku lebih memilih Manda, namun dia orang yang aneh bagiku. Yauda, aku ajak aja yang ada.
"Boleh, boleh!" balas dia semangat sambil mengunyah makanannya.
Siang itu moodku berubah menjadi positif. Semua menjadi lebih cerah dan aku harus bisa menerima apa yang telah aku lakukan dan move on. Memang bagi orang yang memiliki hati, apa yang aku lakukan pada Manda menyisakan beban moral yang sungguh berat, namun bagi penjahat kelamin sejati, bisa melupakan dan move on untuk menjebol wanita berikutnya.
*
Hari minggu, pernikahan tante Dina.
Aku jadi datang dengan Sandra. Dia sungguh anggun dengan dress terusannya. Badannya yang proporsional, tinggi, dan langsing membuatnya menjadi lebih cantik. Banyak mata para lelaki jelalatan melihat Sandra. Dia menggandeng lenganku dengan mantab dan seolah-olah akulah suaminya. Ku pandangi kiri kanan, banyak tante-tante cantik juga di sini. Ada pula yang datang dengan cowok yang umurnya jauh lebih muda, hmmm, mungkin simpanannya. Ku sudah tak peduli dengan lifestyle-ku yang dulu, yang berkeinginan menjadi pemuas nafsu para wanita. Yang penting, aku udah tau rasanya dan ingin menata kehidupanku kembali menjadi Rendy yang culun.
"Omji, cantik banget tante Dina, aaaaa, aku pengeeeen!" ujar Sandra gemas.
"Ya besok dong, pasti kamu akan menikah dan pasti juga seperti itu," ujarku. "Dan aku memandangi kamu dari bawah sini," lanjutku.
"Haha, kamu memandangi aku dari bawah dengan calonmu ya. Janji ya," ucap dia kembali.
"Haha, siaaappp," balasku singkat.
"Besok kalau udah nemu calonmu, kenal-kenalin lhooo," tawa dia.
"Masih lama kalau itu, hahahha," balasku kembali.
Siang itu kami hanya berimajinasi jika nanti kita sudah menikah dengan pasangan masing-masing. Sangat kecil kemungkinan aku menikahi Sandra. Status sosial kami berbeda, dan yang jelas etnis kita beda: aku Jawa dan dia Chinese. Dari gang itu, yang memiliki etnis yang sama denganku adalah Amanda, Callisa, dan Andita. Tentunya teman-teman di kampus lainnya mayoritas etnis Jawa. Pastinya keluarga kami juga inginnya dengan etnis yang sama.
Kami berjalan mengantri untuk bersalaman dengan pasangan pengantin. Kulihat kiri dan kanan, aku dapat melihat tante Cyntia dengan suami dan anaknya, begitu pula dengan tante Bella, dan tentunya tante-tante yang lain.
Mataku cukup tajam melihat di kerumunan orang mana tante atau wanita yang seksi, dan mayoritas seksi dan cantik. Tanpa berpikir panjang, otakku langsung memutar ulang kejadian-kejadian yang pernah aku alami bersama tante Dina, dan sekarang dia sedang berdiri anggun di atas pelaminan. Pikiran jorokku membuat kontolku sedikit bergerak.
"Tante dan Mas Erwin, selamat ya," ucap kami berdua saat bersalaman.
"Rendy, Sandra, terimakasih, semoga segera bisa nyusul yaa," balas kedua mempelai.
"Aaaa, makasih tanteee," ujar Sandra gemas.
Lantas kami berdua jalan menuruni pelaminan dan kembali untuk memburu makanan. Dalam pikiranku, yang jelas sudah tidak ada lagi ngentotin tante Dina, tapi pelajaran yang tante Dina berikan telah mengubah hidupku. Aku lebih berani berhubungan dengan wanita, entah itu dalam obrolan maupun obrolan ranjang.
Setelah acara pesta resepsi selesai, aku mengantar kembali ke apartment Sandra. Aku tidak mampir atau diajak mampir, aku juga langsung pulang ke kostanku. Obrolan kami lebih berbobot saat tidak dibarengi oleh pikiran kotor.
Selama di kostan, aku hanya berfokus mengerjakan skripsiku yang aku tinggal beberapa hari lalu karena sibuk memikirkan diriku yang sedang dilanda kegalauan tingkat gunung Everest. Akhirnya, aku sudah mampu menguasai diriku dan kembali pada rutinitasku. Aku tidak memikirkan Amanda agar aku tidak dirubung oleh rasa bersalah. Aku hanya ingin move on dan melupakannya.
[18.45] Rendy Surya: Maaf pak Sadewo, bisakah saya bertemu untuk bimbingan besok?
[19.52] Sadewo Saputra: Aduh, maaf Rend, bapak besok berangkat ke Perancis kurang lebih satu bulan. Bimbingan via email saja, kirimkan draft kamu ya. Sama yang lain diberitahui jika mencari saya.
[19.53] Rendy Surya: Baik pak, terimakasih, selamat jalan. Akan segera saya kirim draft saya.
Dosen memang pekerjaan yang cukup menyenangkan menurutku: gaji full time tapi kerja part time, dan tugasnya kadang keliling dunia juga. Sungguh mengasyikkan. Draft skripsiku tak lupa langsung aku kirimkan ke pak Sadewo agar bisa segera di-check. Aku menelpon Sandra agar dia juga tau bahwa dosen pembimbing sedang tugas di Perancis.
Tuuut tuuut tuuut, suara nada sambung telepon.
"Haaahhhahhlooo awhh Rend," suara Sandra seperti sedang olahraga.
"Wehh, kamu ngapainn?" balasku penasaran.
"Ngapain telepon malem-maleem?" Nadanya masih ngos-ngosan.
"Anu, pak Sadewo tugas sebulan, semua draft via email. Kamu lagi ena-ena sama cowok ya, haha?" kataku cepat dan bercanda.
"Ohhh ahhwhh okee dehh. Kagak weii, ahaha, biasa sendirian aja," balas dia, terlihat salting.
"Yah, kok gak minta bantuan aku?" balasku.
"Ahaha, katanya kamu ogah nafsu-nafsuan. Yauda sih ya, udah yaa, aku dah capek, butuh konsen biar segera keluar, hahaha, byeee," kata dia.
Tanpa sempat aku balas, sudah ditutup nada sambungnya. Yah, yauda, siapa sih yang lagi enak mau diganggu. Biarpun dia melakukannya dengan cowok pun, aku sudah tak lagi peduli. Bukan aku tak peduli dengan Sandra, tapi aku harus bisa mengontrol nafsuku. Kontol memang baik untuk digunakan pada wanita yang berbeda-beda, tapi jika keterusan, ya jadi gak baik.
Malam ini sungguh sepi rasanya. Maka aku memutuskan untuk menelpon ibuku, menanyakan kabar, dan aku juga berpikir untuk pulang kampung jika memang memungkinkan dan orang rumah sedang tidak sibuk.
"Hello Bu, hello," suaraku di balik telepon.
"Eh Nak, tumbeen," suara ibuku yang semakin hari semakin menua.
"Baik-baik aja to?" tanyaku.
"Iya baik kok. Gimana, kuliah lancar?" kata ibu.
"Iya Bu. Ni lagi libur sebulan, dosenku lagi tugas di luar negeri. Aku pengen pulang, kangen rumah," kataku.
"Lusa bapak, ibu, dan Rahma mau main ke Surabaya, mau jenguk pakde Rahmat, mau ada hajatan, sekalian jengukin mbak Novita. Kamu langsung ke Surabaya aja, nanti setelah itu baru ke rumah bareng-bareng. Ya, kira-kira gak nyampe seminggu kok," terang ibuku.
"Yauda gitu aja Bu. Lha, emang Rahma dan bapak libur?" tanyaku.
"Katanya bapak lagi gak ada tugas luar kota, dan Rahma diijinkan aja, gapapa," balas ibuku.
Lantas pembicaraan kami berlanjut, diberikan kepada bapak dan Rahma. Walau kami terpisah jarak—aku di ibukota, kakakku di Surabaya, serta bapakku sering keliling Indonesia—namun kami selalu menyempatkan waktu untuk telepon rumah.
Setelah telpon tadi, aku sungguh excited, akhirnya bisa kumpul bertemu keluarga utuh, walau tak di rumah. Kami selalu merencanakan liburan namun sering kali tidak lengkap, seperti kak Novita gak ikutlah, atau aku ada kegiatan di sekolahlah, atau Rahma ada apa. Ya, namanya aja berbanyak dan banyak butuh, jadi bisa kumaklumi keadaan ini.
Aku diutus ibuku ke kota tempat kakakku menempuh kuliahnya. Utusan itu dilatarbelakangi oleh karena bapak ibuku akan mendatangi pakde Rahmat yang akan punya hajatan, dan kami sekeluarga akan bertemu di sana. Selain itu, ku dengar dari ibu dan ayahku bahwa kakakku akan segera menikah.
Untuk ke kota kakakku, aku pilih moda transportasi udara. Selain karena cepat, namun juga pula banyak wanita seksi dan cantik di sini. Perjalanan ini mengingatkanku pertemuan pertamaku dengan tante Dina yang masih aku bina baik hingga saat ini.
"Selamat siang, bapak," ujar wanita di balik konter check-in pesawat ini.
"Siang, mbak. Mau check-in untuk penerbangan ke kota Surabaya," jawabku sembari melihat wajahnya yang ramah, khas perusahaan pelat merah ini.
"Oke, bapak, di business class ya, nomor 3A," jawabnya sembari memperhatikan siapa anak muda yang naik business class ini.
"Oke, terimakasih," jawabku singkat. Ya, setelah pertemuanku dengan tante Dina dulu, masalah finansial bukanlah masalah yang berarti bagiku. Tante Dina kadang memberi aku uang untuk sekedar jajan katanya, namun jumlahnya cukup besar, kadang hingga 2 digit. Namun setelah dia menikah, entah apakah aku masih diberi tunjangan hidup atau tidak.
"GA177 tujuan kota Surabaya, silahkan boarding melewati gate 2," ujar pria yang menjadi petugas di ruang tunggu ini.
Aku berdiri dan berjalan menuju pesawatku, sembari aku bernostalgia pertemuanku dengan tante Dina. Tak luput pula mataku mencari-cari apakah ada wanita seperti tante Dina yang bisa aku ajak kenalan. Namun tidak ada.
Aku duduk di business class ini. Kulihat samping kanan kiriku hanya para bapak-bapak selayaknya pejabat, pramugarinya pun yang sudah senior. Selama perjalanan 2 jam ini, aku hanya duduk termenung melihat awan yang bergerombol. Aku juga berpikir, ini apa bener ya gosip tentang pilot pada selingkuh dengan pramugari saat menginap di suatu kota. Kalau benar, enak kali hidupnya para pilot. Dulu aku memiliki cita-cita kepengin sekolah pilot, namun terkendala dana pendidikan yang sangat fantastis.
Tak terasa, penerbangan ini sudah akan sampai. Beberapa suara flaps pesawat mulai turun, suaranya sangat khas.
"Tuuuung," tanda sabuk pengaman dikenakan menyala.
"Flight attendant, prepare for landing," suara berat khas seorang penerbang.
Pesawat landing dengan mulus di kota ini. Aku gak sabar ingin segera ketemu dengan orangtuaku dan kakakku. Sejak dia kuliah di sini, jarang sekali kita ketemu. Aku dengan kakakku bukan seperti lainnya, kami bagaikan sahabat yang saling mendukung.
Aku pun mengambil tasku yang di atas kabin dan berjalan menuju keluar. Karena aku di business class, jadi kami diutamakan.
"Terimakasih, bapak, sampai bertemu kembali," ujar Linda, sang pramugari yang ku ketahui namanya dari name tag di dadanya yang bulat itu. Mungkin sangat enak jika kontolku dijepit di antara dada itu.
Aku berjalan menelusuri airport ini. Seumur hidup baru pertama kali aku ke sini, excited juga. Apalagi kata orang-orang, di sini terkenal dengan amoy-nya. Siapa tau kakakku punya temen amoy yang bisa ku coba.
Sebelum aku keluar menuju pintu kedatangan, aku memutuskan untuk mampir ke toilet untuk membuang air seni yang aku simpan selama di penerbangan. Tak lupa pula aku menghidupkan HP-ku, dan ada 1 sms masuk dari bapakku.
[11.09] Bapak: Nak, bapak ada tugas mendadak ke Belitung sore ini, ibu ikut menemani bapak.
Bagaikan kesambar petir di siang bolong. Memang kuakui bapakku sebagai finansial auditor sangat sibuk sekali, tapi ya masa gak bisa meluangkan waktu untuk keluarga. Tapi ya, apa yang dilakukannya untuk kami. Setelah keluar dari stall toilet, aku langsung menelpon ibuku.
"Hello Bu," sapaku di telpon.
"Kamu sudah landing?" tanya ibu.
"Sudah. Lho, ini gak jadi?" tanyaku cemas.
"Enggak. Lha, bapak ini tadi dapet panggilan ke Belitung, ibu nemenin bapak seperti biasa. Rahma sendirian di rumah, cuma untuk 3 hari kok. Nanti setelah dari Surabaya, kamu ke kampung ya dengan Novita ya, ibu udah bilang kakakmu," jelas ibuku.
"Hmmm, yauda. Hati-hati ya, Bu," balasku.
Aku berjalan menuju pintu keluar. Wajahku kutekuk kecewa karena tidak jadi kumpul keluarga. Tapi yaudalah, gapapa, setidaknya aku bisa bertemu dengan kakakku ini. Setibanya di pintu keluar, udaranya sangat panas dan kering. Banyak orang berjubel menawarkan jasa taksi.
"Heeeh, bengong aja, ayooo!" bentak kakakku. Selama berjalan, aku berada pada autopilot sembari melihat-lihat. Njiir, kakakku tambah seksi aja ini. Dia mengenakan pakaian lengan pendek dengan celana jeans panjang dan rambutnya terurai indah.
"Eh iya, haha, sante to, namanya juga baru pertama kali ke sini, pengen lihat-lihat dulu. Eh, bapak sama ibu gak bisa dateng, udah tau to?" ujarku sembari memberi pelukan ke kakakku.
"Udah iya. Yauda, gapapa, ntar ke rumah aja setelah kamu puas jalan-jalan di sini. Yauda yuuk, jalan cusss! Udah makan? Eh, berapa hari di sini?" tanyanya padaku.
"Belum lah, haha. Bayari makan. Bebas sih mau brpa hari, blm beli tiket balik juga. Denger-denger kamu juga mau nikah, haha," ujarku.
"Haha, masih taun depan, woe, nikahnya!" jawabnya sembari kami berjalan menuju mobil kakakku.
"Sama siapa sih nikahmu? Lama bngt kita gak ngbrol, haha, sampe banyak ketinggalan," protesku karena kami saling sibuk.
"Haha, makanya jangan terlalu pinter yang sekolah sampe lupa sama bersosialisasi, kata ibu. Kamu kumloude ya?" tanyanya padaku.
"Ah, enggak kok, biasa aja. Eh, siapa elu nikah sama siapa? Dan doi kerja dimana?" ujarku ingin tau. Kami masuk ke dalam mobil kakakku, mobil hatchback keluaran Jepang ini.
"Berisik amat sih jadi orang, haha. Nikah sama Harris, mantanku waktu SMA dulu. Dia pilot sekarang, tinggal di ibukota. Inget gak?" jawabnya.
"Lah, inget lah. Ooo, sama Harris to," jawabku datar. Menurutku dia orangnya baik sih, pacarnya waktu SMA yang membuat aku cemburu. Karena aku dulu sangat dekat dengan kakakku, namun saat dia masuk SMA, dia semakin sibuk dengan kegiatan di luar dan pacarannya.
Kupandangi, kota ini juga ramai seperti kota di tempat aku kuliah, namun lebih tertata lah. Udara yang sangat panas dan banyak amoy berkulit putih menjadi kombinasi yang pas agar mereka tampil dengan pakaian mini dan membuat nafsu melonjak. Entah kenapa aku lebih suka dengan cewek cina walau aku bukan orang cina. Tapi kombinasi Jawa-cina pasti akan menghasilkan anak yang sempurna.
Sampailah kami di tempat makan. Kakakku mengajak makan sate kambing yang sering dia ceritakan saat dia pulang kampung. Konon, ini sate kambing terenak di dunia, kambingnya berasal dari Arab.
"Aku pesen sate kambing aja deh, pengen mbuktiin omonganmu, haha," mintaku.
"Ntar coba sendiri. Tapi maap ya, tempatnya panas, haha," jawabnya.
"Eh, tempatmu gak ada AC-nya ya?" tanyaku.
"Ada dong," ujarnya.
Kakakku melambaikan tangannya, memberi isyarat bahwa siap untuk memesan makanan.
"Mas, mas, pesen sate kambing 1 dan nasi goreng kambing 1," minta kakakku ke pelayan rumah makan.
Selama di rumah makan itu, kita hanya mengobrolkan hal-hal ttg kondisi rumah dan kabar adikku Rahma dan bapak ibu, dan berangan-angan nanti kalau sudah berkeluarga akan seperti apa hubungan kita. Menurutku sate kambing ini biasa, tak spesial namun empuk dagingnya. Tapi aku gak bilang ke kakakku agar tak menyinggung perasaannya.
"Udah, yuk, ke kostku," ajaknya.
"Yuuk, capek nih, pengen tidur bentar," ajakku.
Sesampainya di tempat kakakku—kakakku menyebutnya ini sebagai kos-kos.an, namun aku menyebutnya sebagai apartment. Setelah keluar dari lift di lantai 5 ini, kami berjalan menuju kamarnya, yaitu kamar 508.
Memasuki pintu, terdapat full size kitchen yang langsung tergabung dengan ruang tengah. Terdapat jendela cukup besar sehingga viewnya jg lumayan bagus. Di arah kiri ada kamar tidur yang di dalamnya ada kamar mandi. Apartment ini lebih besar dari milik Sandra dan Andita yang bertipe studio.
"Aku tidur mana nih nanti?" tanyaku.
"Di sofa bed depan TV, gpp ya. Tapi paling ntar kita tidurnya jg menjelang pagi, haha," ujarnya.
"Yeeeee," ucapku sembari aku berbaring di sofa depan TV.
Beberapa saat kemudian, dia keluar dari kamarnya mengenakan hotpants dan baju yang tadi.
"Njiiir, bisa gitu ya," pikirku dalam hati sembari membayangkan keindahan tubuhnya. Dulu waktu aku pertama onani, yang kubayangkan kakakku sendiri, karena jika memabayangkan bokep ya hanya membayangkan, namun kalau membayangkan kakakku sendiri kan ada fisiknya.
"Heeh, bangun! Mandi, udah jam setengah 7 malem. Kenyang terus molor," bentak kakakku membangunkanku. Ternyata aku tertidur.
"Iye iye, namanya juga abis perjalanan. Hmmm, aku mandi." Aku lantas berdiri dan masuk ke kamar mandi.
Ku lepas satu per satu pakaianku. Ku pandangi tubuhku di depan kaca dan membayangkan kakakku sendiri. Sedikit demi sedikit, kontolku mengeras. Sudah cukup lama aku tak membuat kontolku berdiri karena kesibukanku dan kuusahakan untuk mengontrol nafsu. Ah, tapi kali ini bolehlah, kan hanya ngocok. Ku lihat di pojokan kamar mandi ada ember berisi pakaian kotor untuk kujadikan bahan bacolanku, dan di atasnya ada celana dalam kakakku berwarna merah berenda.
Aku ambil celana dalam itu, dan aku bau tepat dimana celana dalam itu menyentuh vaginanya.
"Ahhhh, baunya enak sekali, kak Novita, ahhhhh." Aku terus menghirup.
Ku raih kontolku yang sudah sangat tegang, dan ku kocok pelan-pelan sambil menikmati aroma vagina kakakku.
"Ahhhh kak Nov, enak banget ah, teruuus kak."
"Ahhhh terus kak, ahhh," sembari membayangkan kontolku di dalam tubuhnya.
"Hmmmm uuuhhhhh."
Ku lingkarkan celana dalam itu di kontolku, aku terus mengocoknya. Kontolku yang berurat itu semakin perkasa saat dalam keadaan tegang penuh. Tiap kocokan aku rasakan dengan penuh penghayatan, mengimajinasikan bahwa lingkar tanganku adalah rahim wanita.
"Ahhhhhhhh uuuhhhhh," desahku lirih agar tak terdengar dari balik pintu.
Desakan sperma ingin keluar semakin dekat.
"Uuuuuuuuhhhhhh ahhhh kak Noovvv ahhh aku keluar kaaaak."
CROT CROOT CROOOOOOOOT~ Semburan sperma yang cukup banyak keluar hingga ke lantai dan tertempel di celana dalam kakakku, yang jumlahnya jg cukup banyak dan menyengat itu.
Aku memandangi diriku sendiri di depan kaca. "Haaaahh, setelah sekian lama gak coli bayangin kak Nov, ternyata juga masih enak. Ahh, matih, pejuhku nempel di celana dalam kak Novita, mampus," pikirku dalam hati.
Aku berusaha menghilanginya, tapi tak mungkin menggunakan air, justru semakin ketahuan karena basah. Pejuh yang tertempel hanya aku lap dengan tisu. Setelah nampaknya cukup bersih, lantas aku kembalikan di tempat tadi dengan aku tumpukkan pakaian yang lain dengan harapan tidak ketahuan. Lantas aku melangkahkan kakiku ke shower dan bertindak seolah-olah tak ada yang terjadi.