EPISODE 05
EPISODE 5
Kejadian di mobil tadi masih terngiang di kepalaku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, spermakeluarp bukan karena tanganku sendiri—dan yang bikin gilanya, aku baru saja di-blowjob. Rasanya jauh berbeda dengan main sendiri. Badanku gak terasa lemas sama sekali, malah sebaliknya, tubuhku menyala, semangat dan penuh nafsu.
Kularikkan pandangan ke arah tante Dina yang baru saja menelan habis seluruh isiku. Dia bergeser-geser membetulkan bajunya yang acak-acakan—wajar saja, dari tadi perhatiannya cuma fokus ke kontolku. Lalu dia mengambil air putih dari bottle holder di sebelahnya. Aku sendiri? Celanaku masih berantakan, belum kubereskan. Biarlah, nanti saja kalau sudah berhenti.
"Tante, arah hotelnya bener ke kiri itu?"
"Iya bener. Nanti aku drop di lobby buat check in. Kamu cari parkir ya. Nanti aku WA nomer kamarnya, tas aku dan punyamu dibawa ya. Celanamu itu dibenerin dulu."
"Oke tante. Susah nih, kudu berhenti dulu."
"Haha, dasar amatir," jawabnya sambil meledek, bibirnya menyeringai nakal.
Perjalanan hari ini seolah tahu harus berakhir di mana. Di kejauhan, gapura besar bertuliskan Grand Palace Mount Resort mulai terlihat. Nama yang terdengar cukup mewah untuk hotel di daerah sejuk seperti ini.
"Ini mah bukan hotel biasa, ini resort mewah," pikirku dalam hati.
Kuparkirkan mobil tepat di depan lobby. Pintu sebelah penumpang langsung dibukakan oleh satpam hotel sambil menyapa, "Selamat datang di Grand Palace Mount Resort." Kubuka jendela mobilku dan satpam satunya memberi petunjuk, "Lurus aja pak, nanti belok kanan."
"Dipanggil bapak? Enak aja, umur aja belum genap dua puluh," pikirku protes dalam hati sambil menjalankan mobil ke arah parkiran.
Mobil gagah ini kusandarkan rapi. Aku bersiap turun mengambil tas tante dan tasku. Hapeku bergetar—pesan masuk. Sebelum turun, celanaku kubereskan dulu, untunglah.
[02/03 06.57PM] Dina Indirawati: kamar 307 ya.
Tak perlu kubalas. Langsung saja aku melangkah ke arah ruangan yang disebut di pesan itu.
"Hmm, cukup mewah juga hotel ini. Gak nyangka ada hotel semewah ini di sini. Pasti permalamnya mahal," gumamku dalam hati sambil menelusuri lorongnya.
Knock knock knock. Aku mengetuk pintu 307, tas-tas tadi kupanggul. Tante Dina membukakan pintu, masih memakai pakaian yang sama, hanya sepatunya yang sudah tak ada di kakinya. Tas langsung dimintanya dari tanganku.
"Mana tasku? Mau mandi. Badan rasanya gak enak, penuh keringat," ucapnya pelan.
Suara air shower yang mengalir dari balik pintu kamar mandi cukup membuatku ikut ingin segera menyiram badan. Tak lama, suara air itu mati dan tante Dina keluar mengenakan celana yoga ketat dan atasan santai berwarna pink.
"Alamak, pantatnya jadi keliatan banget bentuknya," pikirku menelan ludah.
"Buruan mandi. Aku tadi pesan makanan. Abis kamu mandi, pas makanannya dateng."
Kulangkahkan kaki masuk kamar mandi sambil membawa pakaian ganti. Ditempatku kulepas semua pakaian hingga bugil total. Pandanganku turun ke kontolku sendiri dan aku tersenyum. "Akhirnya."
Selesai mandi, aku keluar dan makanan ternyata sudah tiba sejak aku di kamar mandi. Kami menyantapnya lahap-lapahan, dan begitu selesai, piring-piring kutaruh di luar pintu.
"Sini Rendy, duduk aja dari tadi. Duduk di kasur juga gapapa lho, biar kamu bisa istirahat."
"Iya tante, ini sambil nge-charge kok."
Tinggalku hape di meja dan berjalan ke arah kasur. Jujur, aku bingung harus bersikap bagaimana. Tante Dina memasukkan kakinya ke dalam selimut, dan aku turut mengikutinya. Dingin akibat AC perlahan sirna oleh kehangatan selimut berkualitas ini. Tapi jujur, aku gak nyaman—dalam arti lain. Satu kasur dengan wanita yang sangat mempesona membuat selangkanganku resah tak keruan. Tante Dina menonton TV sambil membelakangiku.
"Rend, apa yang terjadi di dalam mobil tadi... aku harap kamu bisa menyimpan rapat-rapat ya. Jangan kamu ceritakan ke siapapun."
"Iya tante, pasti. Tapi sungguh, tadi luar biasa banget, walau aku cuma kuat sebentar," jawabku grogi setengah mati.
"Haha, dasar amatir," ledeknya sembari membalikkan badan ke arahku. Kini jarak bibir kami cuma beberapa senti.
"Bukannya yang amatir ya yang banyak dicari?"
"Kalau cewek iya. Kalau cowok, buat apa haha."
Kuberanikan diri semakin mendekat. Smooocchhh—bibir kami bertemu untuk kedua kalinya. Sentuhan ini semakin lama semakin dalam, tak ada niat untuk lepas. Ciuman kami makin liar, lidah kami saling menjelajah dan saling menjilat. Schuuup... smoochhh... cuiiippp... ahh... shhuuurpppp. Tante Dina berpindah posisi, kini dia berada di atasku. Kujilati lehernya yang mulus dari bawah ke atas. Dia menggelinjang, mendesah, "Ahhh... ahhh... please... ahhh..." Ciumanku semakin tak terkendali, air ludahku berceceran di leher dan bibirnya. Di balik selimut, kontolku menegang sampai sakit.
Tante Dina kini duduk menunggangi perutku, menatapku dengan mata yang seakan memohon untuk digauli. Lalu dia memerintahkanku melepas bajuku.
"Lepas bajumu, sayang." Tatapannya sudah benar-benar sange.
Begitu dada telanjangku terbuka, seluruh dadaku dilahap habis oleh bibir dan lidahnya. Aku membalikkan posisi, kini aku yang berada di atas. Kutarik bajunya ke atas, dan terpampanglah payudaranya yang kenyal, masih terbungkus BH renda pink itu. Tanpa perlu kusuruh, tante Dina sendiri melepas BH-nya untukku. Tanpa basa-basi kulahap teteknya, kujilat dan kuhisap putingnya bergantian.
"Ahhhhh... ahhhh... enak banget sayangg... ahhh ahhh... disitu sayang, teruuusss..."
Cukup lama aku melayani susunya, sampai akhirnya tante Dina berbisik nafsu, "Sayang, puasin aku please... jilatin memekku ya, sayang."
Aku terdiam. Jujur, aku gak tau caranya.
"Iya tante, tapi... aku belum pernah."
"Aku ajarin, sayang. Lepas celanaku sekarang."
Kutarik celana yoga yang menempel seperti kulit di badannya. Terlihatlah celana dalam hitam itu, dan tak berapa lama turut kulepas juga. Dan di hadapan mataku, terbentang memek tante Dina yang mulus tanpa bulu.
"Wow... indah sekali, tante."
Tante Dina tersenyum ke arahku. "Sekarang, pakai jarimu buka-buka memekku. Jilat tepat di situ, sayangg... ahhhh enak, Rendy sayanggg... naik dikit sayang, di klitorisnya sayangg."
Wait—apa itu klitoris? Apapun artinya, daerah mana pun yang diminta tante Dina, tetep kujilati dengan lahapnya.
"Terus sayang, jangan berhenti sebelum aku minta," ujarnya, mendominasi seluruh ranjang ini.
Kurang lebih dua puluh lima menit aku terjebak di antara paha mulusnya, menjilat dan menghisap tanpa henti. "Aaahhhh... terus sayang, cepet dikit... ahhh... ahhhhhh... ahhhhhhhhh..." Desahannya semakin kencang, kepalaku terjepit oleh pahanya yang bergetar hebat.
"Aku orgasme, sayanggg," jawabnya pelan namun penuh nikmat. Dagingku capek setengah mati, tapi bangga campur birahi menyelimutiku.
Aku merangkak mendekatinya. "Terima kasih, sayang. Sekarang giliranmu."
Tante Dina dengan sigap meraih pinggangku dan melepas celanaku dalam sekali tarikan. Kontolku langsung tegak mengacung penuh. Dan tanpa penundaan, dilahapnya habis oleh mulutnya yang hangat.
"Ahhh... ahhh... ahhhhhhh..."
Anehnya, di benakku ragu—hanya sebentar tahan? Tante berhenti menghisap dan berbisik padaku, "Apa aku boleh minta perjaka mu, Rendy?"
"Boleh, tante," jawabku penuh nafsu.
Tante Dina lalu berbaring di ujung kasur, kakinya terbuka lebar, sementara aku berdiri di hadapannya.
"Masukin sini, sayang."
Tante meraih kontolku dan mengarahkannya sendiri ke lubang memeknya. Perlahan tapi pasti, kontolku mulam merambat masuk, merasakan hangat dan sempitnya liang itu untuk pertama kalinya dalam hidupku.
"Ahh... enak sayangg... ahhh... ohhhh," desahku tak bisa ditahan.
Tante menahankan gerakan sebentar. "Jangan panggil aku sayang. Panggil tante," mintanya.
"Siap, tante."
Kulanjutkan gerakanku, naik-turun semakin cepat, memeknya menghisap kontolku dengan luar biasa. Tapi aku hanya mampu bertahan sebentar—tubuhku mengeras, dan akhirnya semua isiku meledak. "Ahhhhhhh... ahhhhh... aku keluar, tante Dinaaaaaahhhhh... ahhh!"
Semburan sperma demi sperma membanjiri memek tante Dina, mengalir hangat di dalam sana. Aku gempor, dan kulihat tante Dina tersenyum puas ke arahku. Aku merangkak mendekat, dan dia berbisik, "Terima kasih, Rendy sayangg."
Kucium bibirnya lembut, lalu kubaringkan diri di sampingnya, memeluknya mesra. Malam ini adalah malam pertama yang tak akan pernah kulupakan.
---BERSAMBUNG---