EPISODE 01
Part 1
"Selamat malam, kak Dimas."
Notifikasi LINE menyala di layar smartphoneku. Tatapanku yang tadinya tertuju pada laptop berisi tugas kuliah yang membosankan itu, beralih ke ponsel di sampingku. Sudah berkali-kali kupinggirkan notifikasi dari teman-teman sebelas berapa malam ini, tapi yang satu ini beda. Nama yang sama sekali asing tertera di sana. Dari foto profilnya, dia perempuan. Aku melepas headset dari kepala, lagu Take on Me-nya A-ha yang baru setengah berputar terpaksa kupause.
Namaku Dimas Putra. Mahasiswa semester tiga di sebuah universitas di Jakarta. Penikmat musik. Anak Semarang yang merantau ke ibu kota, mengontrak kamar di daerah yang agak jauh dari gemerlap kota. Hmm... apalagi ya? Perlahan kau akan mengenalku lebih dalam seiring cerita ini berjalan. Hehe.
"Cindy Hapsari...?" Dahiku mengernyit setelah kupelototi nama kontak itu.
"Malam, maaf, ini siapa ya?" Balasku singkat. Belum sedetik, tulisan 'read' muncul, disusul jawabannya.
"Maaf kak sebelumnya, saya Cindy Hapsari, maba angkatan 2016. Saya dapat kontak kak Dimas dari kak Jinan. Untuk tugas LKMPD saya diminta mewawancarai salah satu kakak tingkat soal organisasi. Kebetulan saya belum dapat narasumber. Saya mau minta tolong kak Dimas ya kak." Panjang lebar. Dasar maba, formal banget. "Bagaimana kak Dimas?" tambahnya empat detik kemudian.
Ah... aku ingat. Setiap maba di jurusanku yang berminat masuk organisasi pasti dapat tugas saat LKMPD, Latihan Kepemimpinan Mahasiswa Pra-Dasar, yang biasanya digelar sebulan setelah penerimaan mahasiswa baru. Setelah ini masih ada LKMD. Katanya kedua kegiatan ini jadi bekal kalau mau mendaftar organisasi kampus. Di sana kau akan diajari segala hal tentang berorganisasi, dan ilmunya takkan pernah sia-sia.
Kubaca pesannya beberapa saat sebelum membalas.
"Oke, aku bisa. Kapan?"
"Biar saya yang menyesuaikan jadwal kak Dimas."
"Besok siang gimana? Jam 12 di pelataran gedung C." Tawarku. Kalau tidak salah, hasil wawancara ini nanti direkam video, jadi memang kupilih tempat yang relatif sepi biar audionya jernih. Asal kau tahu, tahun lalu aku juga mewawancarai kakak tingkatku di tempat yang sama, hehe.
Tidak seperti balasan-balasan sebelumnya, kali ini dia agak lama menjawab.
"Baik kak, saya bisa."
"Oke."
"Terima kasih ya kak Dimas, maaf ganggu malam-malem gini."
Kubalas dengan stiker jempol. Dan setelah 'read' muncul lagi, tak ada pesan lanjutan darinya. Rasa penasaranku memandu jari menekan foto profil perempuan itu.
Tak lama, tersaji foto seorang perempuan berambut panjang dengan senyum yang manis. Parasnya ayu. Sepasang mata beliau terlihat indah bagiku. Kulitnya putih mulus tanpa satu pun cela. Kurasa, perempuan ini baru saja mencuri hatiku. Ya ampun... aku harus berterima kasih pada Jinan...
"Woe, Dim! Ngapain lo?!"
Tepukan di bahu dari seorang laki-laki itu nyaris membuatku tersedak.
"Ha? Apaan sih Har! Ngagetin aja!"
"Lu senyum-senyum sendiri ngeliatin hape. Pasti liat cewek bugil kan? Ngaku."
"Enggak, woe. Nih, gue liat foto profil maba doang." Kubukakan layar ponsel untuk membantah.
Namanya Hary Daniel. Teman dekatku asal Bandung, satu jurusan dan satu kampus denganku. Dia sering main ke kontrakanku, numpang wifi sambil tidur-tiduran. Tapi kau tahu? Dia juga sering mentraktirku makan di kantin, atau pas kami jajan di luar kampus.
"Dih, ntar pasti lo buat coli tuh."
"Otak lo ngeres ya."
"Dih, lo lebih ngeres. Gue inget dulu lo cerita pernah pake foto si Jinan buat coli. Parah emang, temen sendiri dipake bacolan." Dia menghempaskan tubuh tingginya ke kasur di belakangku.
"Heh! Kaga! Ngarang! Itu elu! Gue gapernah coli pake Jinan ya!"
"Hehehe, canda. Siapa tuh?"
"Maba. Minta interview buat tugas LKMPD." Kuletakkan ponselku di meja lipat, kupasang lagi headset-ku, muter musik, lalu kembali mengetik beberapa kalimat di draft tugas yang memuakkan itu.
"Ooohh..."
"Makanya Har, ikutan organisasi. Biar kayak gue, di-chat cewek cantik." Kataku sok sombong tanpa menoleh ke arahnya.
"Dih, lo aja sekarang enggak ikutan apa-apa. Sombong amat dah."
"Ya... yang penting kan pernah ikut, hehe."
"Iye iye, serah. Gue balik dulu ye, thanks wifinya."
"Yo'i, Har."
"Awas jangan coli ye pake maba tadi." Dia menutup pintu kamarku.
"BACOT!"
Aku meraih smartphone dan kembali memandangi foto profil perempuan itu. Entah kenapa, rasa penasaranku pada malam ini justru semakin membara.
Kututup LINE dan membuka Instagram di sampingnya. Iseng, kuketik nama perempuan ini di kolom pencarian. Akun paling atas dengan username CindyHapsari kupilih. Saat akun yang tak dikunci itu terbuka, keterangan followed by: jinan_s menguatkan dugaanku bahwa ini memang dia.
*"As elegant as Aurora in the night sky, I'll be a light for you."* Begitulah kalimat yang tertera di bionya. Entah kenapa aku senyum-senyum sendiri membacanya.
Jariku menari, scroll naik turun di feeds yang berisi 34 foto. Perempuan ini sering sekali mem-posting foto aurora. Sepertinya dia jatuh cinta pada pancaran cahaya indah di langit malam itu.
Lalu tiba-tiba mataku terhenti di satu foto — dia tersenyum manis, mengenakan kaus lengan panjang dan rok katun hitam.
Perempuan ini terlihat sangat anggun... seperti... aurora! Dan yang lebih parahnya — Damn! Tubuhnya bagus! Dadanya tampak menyembul karena kedua tangannya yang terlipat di bawah sana. Kuhentikan jariku agar layar terus menampilkan foto itu. Kenapa baru sekarang aku tahu punya adik tingkat sekelas gini?!
Aku menelan ludah. Hasratku muncul begitu saja... Perlahan tangan kiriku menyelusup masuk ke dalam celana pendekku, memijat-mijat kontolku sampai terbangun. Fantasiku langsung liar, melayang pada perempuan ini. Tak butuh waktu lama sampai kemaluanku berdiri tegang. Masih terduduk di pinggir kasur, kubalut genggamanku di sekelilingnya, kuocok pelan-pelan, lalu temponya naik, makin cepat, makin cepat...
"Eh, Dim. Sorry k—" Tiba-tiba manusia kampret itu muncul lagi dari balik pintu. Aku panik, langsung nyopot tangan kiriku dari celana. Bego! Sepertinya dia sempat melihat gerakan tadi.
"Kan, ada yang coli nih, hahahaha! Lain kali dikunci dulu, Dim."
"Enggak, anjir! Gue gak coli! Gatel do—"
"Tuh, lo ngaceng."
Aku lirik ke bawah — dan benar, tonjolan itu menggunung jelas. Buru-buru kututupi dengan selimut. Wajah Hary nyaris pecah menahan tawa.
"Gak apa-apa, Dim. Gue juga sering coli kok. Dah, lanjut aja, gue cuma ambil kontak gue yang ketinggalan. Maaf ganggu. Bye!" Dia berlalu, menutup pintu, dan dari luar masih kedengaran terkekeh. Aku langsung bangkit dan mengunci pintu. Beberapa hari ke depan, sepertinya aku bakal diejeknya habis-habisan. Tunggu... bagaimana kalau dia nyebarin hal memalukan ini ke anak-anak tongkrongan?!
Ah, masa bodoh. Kukembali ke kasur, kuberbaring mencari posisi paling nyaman untuk melampiaskan nafsuku. Kuambil ponsel yang tergeletak, kunyalakan layarnya — foto itu kembali tertampil. Aku menelan ludah. Jantungku serasa berhenti berdetak. Keringat dingin tiba-tiba menetes. Mataku terpaku pada ikon hati di bawah fotonya yang kini berwarna merah.
"Kelike..."
To be continued...