←18+
← As Elegant As Aurora

Episode 02 — As Elegant As Aurora

EPISODE 02
Episode 2 Aku keluar ruang kelas dengan kelopak mata yang masih berat layaknya diganjal pasir. Keputusan bodohku semalam untuk melanjutkan masturbasi sampai selesai adalah kesalahan besar yang harus dibayar mahal. Akibatnya, tugas analisa novel yang seharusnya beres kemarin malam terpaksa aku kebut dalam satu jam menjelang kelas, jam 8 pagi tadi. Untunglah aku masih sempat mencetaknya tanpa tercatat sebagai mahasiswa telat. Dosenku sempat bersermon singkat, "Kalau kau terlambat satu detik saja dari jadwal, atau pintu sudah tertutup, anggap saja satu kolom absenmu hangus." Seperti yang menimpa Hary pagi ini. Sepertinya nilai pria satu itu nggak akan aman. Dasar ****** emang. Ehm, oh iya... satu tambahan lagi. Kalau kau penasaran, aku nggak jadi memakai foto Cindy sebagai bahan semalam. Aku langsung badmood pas tanpa sengaja men-like fotonya, udahlah kuputer arah. Bahan penggantinya adalah foto Jinan, teman satu jurusanku... Dan jangan bilang Hary ya... di folder khusus di HP-ku, tersimpan hampir dua puluh foto Jinan, dan... sering sekali kupakai... "Dimas." Seseorang menyapaku dari belakang bahu. Dari nada suaranya saja, aku sudah tahu siapa dia. "Eh, Jinan. Gimana?" Aku berbalik, sambil sedikit menunduk—Jinan lebih pendek dua puluh senti dari tubuhku yang 180 cm. Astaga, dia selalu menawan kalau pakai kacamata itu. Paras cantiknya berpadu sempurna dengan kulit putih mulus. Oh, kau juga harus lihat gigi kelincinya yang menggemaskan dan bibir tipisnya yang seksi. Huft... berkali-kali aku berfantasi memiliki seluruhnya, menjamah setiap inci tubuh seksi itu... Woe, brengsek! "Lo udah dichat sama Cindy?" "Udah kok, ini mau interview." Aku membetulkan posisi tas selempang di bahuku. "Oh, okedeh, thanks ya. Soalnya udah nggak ada orang lagi. Terus gue inget lo dulu pernah ikut organisasi juga." Dia berjalan beriringan denganku menuju lobby. "Santai, gue yang harusnya makasih sama lo. Hehe." "Maksudnya?" "Enggak apa-apa, hehe." "Oohh... gue paham. Dasar cowok. Emang ya." "Apaan sih, gajelas." "Hahaha, yaudah sono buruan. Pasti dia udah nungguin. Goodluck ye! Baik-baik sama dia." Kami berpisah di pintu lobby. Jinan melangkah menuju parkiran motor yang tak jauh dari sana. Dan aku? Aku mematung, memandangi tubuhnya dari belakang. Rambut hitam panjangnya menari-nari ditiup angin sepoi-sepoi. *Someday... I will fuck you girl... Yes... I will fuck you!... YES! YESS!!* Tiba-tiba celana jeansku terasa sempit. Gue sangean banget, bangsat! Aku berjalan pelan menuju gedung C di sisi timur gedung A, sambil membayangkan hal-hal membosankan agar 'adikku' ini mau tidur kembali. Aku mengeluarkan smartphone. Ada satu chat masuk dari Cindy. "Kak, saya di pelataran sayap kiri ya." Kuputuskan untuk tidak membalas. Sudah sepuluh menit lewat dari jadwal janjian kami. Aku bergegas. Pelataran sayap kiri. Seorang gadis duduk sendirian di sudut kanan, asyik memainkan smartphone, dengan notebook merah muda tergeletak di depannya. Dari kejauhan saja profil wajahnya sudah terlihat indah. Semakin kudekati, aku yakin dialah orangnya. "Cindy Hapsari, ya? Maaf aku telat, tadi dosennya agak ribet." "Eh, kak Dimas. Enggak apa-apa, kak. Hehe..." Dia berdiri menyambut, mengulurkan tangan kanannya. Dia tersenyum. Benar, pipinya membolong sedikit saat mengukir senyum itu. Sepasang mata belonya terlihat jauh lebih menawan kalau dilihat langsung. Saat tangan kami bertaut, kulit putih halusnya menyentuh kulitku. Dan... dadanya itu... Aku menelan ludah. "Kok sendirian? Enggak sama temen kelompok?" Aku duduk di hadapannya. "Emm... ini tugas individu kak, hehe." ********... "Oh, iya! Haha, maaf, lupa. Yaudah yuk mulai." Aku terkekeh menahan malu. Kami pun memulai wawancara. Berbeda dengan tugasku dulu, kali ini tak perlu direkam video—cukup dirangkum dan ditandatangani narasumber. Jauh lebih simpel, kurasa. Pertanyaan-pertanyaan standar. 'Kenapa ikut organisasi?' 'Gimana cara ngatur waktu?' Tak jauh beda dengan yang dulu kujawab. Sepanjang proses, Cindy terlihat gugup—jari-jarinya main-main dengan tutup pulpen saat aku menjawab, sering mengetikkan 'eee' di sela pertanyaannya. Wajarlah, mahasiswa baru. Aku menjawab semuanya dengan jelas. "Terakhir ya kak, ada pesan buat kami mahasiswa baru?" "Ya... seperti yang udah aku bilang tadi. Jangan takut buat berorganisasi. Kalian bakal dapat banyak pengalaman yang nggak terlupakan seumur kuliah, dan aku yakin itu berguna buat masa depan." Dia mencatat cepat di notebooknya. Ada gambar Hello Kitty di kertasnya. Duh, anak ini ternyata lucu juga. Aku takjub melihat tulisannya tetap rapi meski tangannya bergerak secepat itu. Percayalah, kalau aku yang menulis, bahkan aku sendiri nggak akan sanggup membacanya. "Oke, terimakasih ya kaakk." Dia tersenyum puas. Aku mengangguk, membalas senyumnya. Notebooknya dia letakkan, lalu dia meraih smartphone di sampingnya. "Kak, satu lagi. Hehe. Foto bareng buat bukti wawancara." Dia bergeser ke sebelahku, menyiapkan kamera depan. Cekrek! Hasil fotonya tertampil di layar. Kok mukaku tegang banget, sih?! "Hehe... terimakasih ya kak sudah membantu saya. Hehe..." "Ih, kamu jangan kaku-kaku gitu. Santai aja sama kakak tingkat. Nggak usah formal-formal banget." "Eh, i-iya kak, hehe." Dia mengangguk cepat. "Ada kuliah lagi habis ini?" "Enggak kak, udah selesai. Ini mau pesen ojek online buat balik ke kos, hehe." "Kosmu mana sih?" Dia tampak canggung sesaat sebelum menyebutkan daerah kosnya. "Ooohhh, kita searah. Sama aku aja. Enggak apa-apa kok, daripada kamu keluar duit." "Eh... engg... enggak apa-apa nih kak...? Ngerepotin... Kakak enggak ada acara lagi emang?" Dia merapikan barang-barangnya. "Enggak ada kok." Aku berdiri setelah membereskan barangku. Dalam hati, kupanjakan doa supaya dia tak menolak. "Emm... hehe... udah kak, nggak usah repot-repot... aku juga ada promo ojek kok, jadi gratis. Makasih ya kak Dimas." Dia berlalu dengan langkah cepat. Ah, penolakan halus. Aku terdiam sejenak, lalu melangkah meninggalkan gedung menuju parkiran. Kutatap langit—matahari bersinar terik. Kutetapkan hati cari minuman dingin dulu. Tak lama, aku tiba di lahan parkir fakultas. Area ini terbuka; siapa pun yang masuk fakultasku langsung menyambung ke parkir, baru setelah berjalan lima belas meter sampai ke gedung-gedung perkuliahan. Aku naiki motor matic putihku, memakai helm, memasukkan kontak, dan— "Kak Dimas." "Cindy?!" Aku terperanjat kena tepuk di bahu. Kok aku nggak sadar kehadirannya?! "Ada yang ketinggalan?" "Eh eh, maaf kak... emm... enggak kok... gini, hape aku baterainya habis... belum sempet pesen ojek... temen-temenku udah pada pulang, soalnya mereka selesai kuliah jam 11 tadi..." "Jadi?" Aku membalikkan badan. "Ehm... tolong anter ya kak..." Dia menaikkan alis. "Halah, bilang aja dari tadi kenapa? Hahaha, pake alasan segala." "Iiihh... beneran kak..." "Iya, iya. Eh, tapi aku mau beli minum dulu, enggak apa-apa?" "Aku ngikut kak Dimas aja..." "Oke. Yaudah yuk." Mesin motorku kuhidupkan. *** Tiba-tiba di tengah perjalanan, setelah kami mampir beli minuman dingin, langit Jakarta yang semula cerah terselimuti awan hitam. Angin berhembus kencang. Kubayangkan rambut panjang Cindy menari terhempas badai, tangan kirinya berusaha menahannya. Tak sampai beberapa detik, hujan menghantam dengan derasnya. Damn! Aku juga lupa bawa jas hujan. "Cindy! Ke kontrakanku dulu aja ya! Deres banget!" Teriakku cukup keras agar terdengar. "I-Iya kak!" Untungnya kami sudah tak jauh dari kontrakanku—kira-kira lima ratus meter lagi. Kutancas gas menembus tirai air yang dikirim sang langit. Sekejap kami sampai. Setelah menepikan motor di garasi, kopersilakan Cindy masuk. Hujan deras itu sukses membuat kami basah kuyup. Dan barulah aku sadar—kemeja putih yang ia kenakan kini transparan total. Bra merah muda yang membungkus dadanya tampak jelas sebelum dia menyilangkan tangan di depan dada. Meski begitu, silangan tangan itu belum cukup menutup seluruh dadanya. Sepertinya dia nggak sadar aku memandanginya. "M-masuk dulu, Cin." "I-iya kak..." Mulutnya bergetar. Ia menggigil kedinginan. Sekejap, nafsuku yang tadinya memuncak luntur begitu saja. Aku jadi iba. "Aku ambilin handuk sama baju ganti ya. Tunggu, duduk dulu sini." Kubimbing dia duduk di sofa. Aku bergegas ke kamar mencari handuk dan pakaian ganti. Tunggu... sepertinya aku nggak punya baju seukuran tubuhnya... Ah, masa bodoh. Yang penting dia nggak kedinginan. Kukembali dengan handuk, kaos hitam, dan celana training. "Emm... Cin, maaf ya, cuma ada baju ukuran segini. Kamu ganti dulu di kamarku. Aku buatin teh panas sama mie rebus." Dia hanya mengangguk, menerima handukku, lalu menyelimutkan tubuh yang masih menggigil. Setelah menunjukkan kamarku, kuburu ke dapur, menyalakan kompor, merebus air. Kubuka kotak lemari—ternyata cuma tersisa satu bungkus mie rebus dan satu butir telur. Hmm... kelupaan berbelanja lagi. Tanpa mikir diriku yang juga dingin ini, kumasakkan mie itu untuknya. Aku kembali ke ruang tengah dengan semangkuk mie rebus dan teh panas. Cindy sudah duduk di sana, mengenakan training dan kaos hitam pinjamanuku. "Cindy, ini ya. Aku ganti dulu." Aku meletakkan hidangan penghangat itu di meja di hadapannya. "Nyalain aja TV-nya kalau mau nonton, remotnya tuh." Tunjukku remote yang tergeletak di dekat TV. "Eh, ya ampun... makasih ya kak... maaf ngerepotin lagi..." Dia mengalungkan handuk di lehernya untuk mengeringkan rambut. "Kok mienya cuma satu? Kakak enggak makan?" "Ah, udah. Kamu aja yang makan. Aku mah gampang." Dia tersenyum tipis. Aku masuk ke kamar dan berganti pakaian. Saat kembali mengenakan kaos merah maroon bertuliskan Sheila on 7 dan celana pendek sport hitam, mangkuk itu sudah kosong licin dan teh panasku pun sudah habis diminumnya. Dia terlihat segar kembali. Semoga cukup untuk menghangatkan tubuhnya. Hujan masih menghantam di luar sana, anginnya pun semakin liar. "Wah, udah habis aja. Mau aku masakin yang lain?" "U-udah kak, gak usah. Udah kenyang kok. Makasih, hehe... ini juga udah angetan kok." "Oh, yaudah. Emm... disini dulu ya, Cin. Masih deres banget. Nanti aku anter. Kamu enggak ada acara kan?" "Iya kak. Enggak kok, aku gak ada acara." "Okedeh... Lho? Kok enggak dinyalain? Enggak suka nonton TV ya?" Aku menyalakan TV 24 inci itu. Tertayang serial kartun SpongeBob SquarePants. "Wih, SpongeBob. Hihi." "Kamu suka?" Cindy mengangguk antusias. Kalau begitu, biarkan saja, kutemani dia menunggu hujan reda. Wah, ternyata perempuan segede gini masih suka kartun, hehe. Aku duduk di sebelahnya setelah menaikkan volume. Kaos hitamku terlihat kekecilan di tubuhnya, dan sekali lagi aku terpaku pada dadanya yang tertekan kain—gambar gitar di kaos itu terlihat menonjol mengikuti bentuk buah dadanya. Err... Aku merasakan aliran darah mengalir deras ke penisku. Enggak... jangan... sekarang... To be continued...
BERSAMBUNG…
Episode berikutnya sudah tayang — lanjut baca di bawah ya.
← Ep. 01Ep. 03 →
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal