←18+
← As Elegant As Aurora

Episode 10 — As Elegant As Aurora

EPISODE 10
Dengan langkah kecil yang berat, aku keluar dari kamar. Ketukan pintu yang selama ini kunantikan akhirnya terdengar. Tapi suara perempuan yang menyusul setelahnya membuatku terdiam sesaat. Aku menelan ludah. "Kak Dimas..." "Suara ini..." Aku mematung di tempat. Tanganku menggenggam erat. Tok. Tok. Tok. "Kak Dimas?" Tok. Tok. Tok. Sisa beberapa langkah ke arah pintu itu kini kutempuh juga. Kunci berwarna putih metalik itu kuputar, sebelum pintu coklat itu kubuka. Entah kenapa aku membisu. Kata-kata yang ingin kuucap serasa tertahan di tenggorokan. Maaf, aku tidak bisa mendeskripsikan perasaanku saat melihatnya seperti sekarang. Entah senang, takut, atau marah. Rambut panjangnya basah. Tidak, bukan hanya rambutnya. Sekujur tubuhnya basah kuyup. Dia menyilangkan tangan di depan dadanya sambil menggigil kedinginan. Rahang bawahnya bergetar. "M-maaf kak... tadi ak—" "Masuk dulu." *** Canggung. Tak ada percakapan di antara kami. Dia duduk di sisi kanan sofa, mengangkat dua kakinya lalu merapatkannya ke depan dada. Selimut hangatku kini membungkus tubuhnya yang sudah tak menggigil lagi. Segelas minuman jahe yang masih mengepul itu ia genggam erat. Sementara aku di ujung kiri sofa, hanya membuka dan mengunci smartphone-ku berulang kali. "Dari mana?" Akhirnya aku membuka percakapan. "Gimana, kak?" Dia menoleh ke arahku. Aku menahan napas sejenak. Baru kali ini kulihat rambutnya terikat ala ponytail seperti itu. Dia... menawan. "T-tadi dari mana?" "Oh, gitu, kak. Tadi aku ke ATM ambil uang pakai motor temen kosanku. Eh, tapi pas udah deket sini, bannya tiba-tiba bocor. Kayaknya kebelah paku deh. Aku bingung, nggak ada tempat tambal ban atau bengkel deket sini. Nah, waktu aku dorong motornya, tiba-tiba hujan... Untungnya udah deket sama kontrakan kak Dimas." "ATM? Kamu nggak ke Sakura Fest tadi?" "Acara Jepang itu? Nggak, kak." "Ohh..." "Lalu siapa yang aku lihat tadi?" "Kenapa, kak?" "Nggak. Lupakan." Lagi, kami berdua saling diam. Tak ada kata yang terucap. Ruangan hanya dipenuhi suara bising hujan yang menghantam deras di luar sana. "Kak Dimas... masih marah ya...?" Jariku yang sejak tadi bermain-main dengan hal tak penting di layar smartphone itu kuhentikan. Dia tak menghadapku saat aku menoleh ke arahnya. "Marah?" Dia menghela napas. Lalu menatapku dalam. "Tolong dengerin ya, kak... Andhika Dewa itu bukan pacar aku." Aku terdiam. "Tapi... kami pernah pacaran." *** Sekitar satu tahun yang lalu. Sebuah SMA di Purwokerto. "Kak Cindyyy!" Aku menoleh ke belakang. Seorang perempuan berambut panjang melangkah cepat mendekatiku. Wajahnya manis, dan setiap dia tersenyum, lesung pipinya yang memikat langsung terlihat. "Eh, Amel. Gimana?" Namanya Riska Amelia Putri, adik kelasku. Kami berteman dekat semenjak tergabung di satu ekstrakurikuler yang fokus di pelajaran bahasa Inggris, English Club. Kebetulan sekarang dialah yang menggantikanku di posisi sekretaris setelah kepengurusanku lengser. "Hehe, nggak apa-apa kak. Nyapa aja." "Dih." "Ahaha! Canda, kak. Aku mau ke kantin." "Ya udah, yuk, bareng." Kami berjalan beriringan menuju kantin. Kebetulan sahabatku, Aya, tidak masuk hari ini karena sakit. Sepertinya aku akan menjenguknya nanti sepulang sekolah. Kalau Aya tidak masuk seperti sekarang, aku memang sering kesana-kemari sendirian. Untunglah aku bertemu Amel. Walau sudah ikut ekstrakurikuler, aku masih saja kesulitan bergaul dengan orang lain. "Gimana, kak, seleksi yang di Jogja itu?" "Tinggal nunggu pengumuman sih, Mel. Doain aja ya." Hampir semua teman sekelasku sudah diterima di universitas negeri pilihan mereka lewat jalur undangan. Aya salah satunya—dia sudah diterima di sebuah universitas di Semarang. Setidaknya dia bisa tenang, tak ada beban lagi selepas Ujian Nasional nanti. Yah, semua orang punya keberuntungannya masing-masing, kan? Sekarang aku mencoba peruntunganku lewat ujian masuk universitas swasta di Jogja, karena seleksi undangan itu tidak membuahkan hasil. Anggap saja persiapan sebelum ikut seleksi universitas negeri beberapa bulan lagi. "Kamu gimana, Mel? Udah kepikiran kuliah di mana?" Tenggorokanku terasa segar kembali setelah es teh itu mengalir. Dahaga yang kutahan sejak kelas tadi pagi akhirnya reda. "Aku rencananya mau nyusul kakak aku di Jakarta." "Wah, ambil Ilmu Komunikasi juga?" "Iya, kak, hehe." "Semangat ya!" Bangku di pojok kanan kantin ini yang kami pilih. Satu-satunya yang masih kosong. Hiruk pikuk siswa-siswi yang bercengkrama seusai kelas menemani kami. Minimal tiga sampai empat orang duduk dalam satu meja. Perempuan dengan perempuan, laki-laki dengan laki-laki, ada juga yang campur, sibuk bersenda gurau atau sekadar berbincang ringan sambil menunggu pesanan datang. Melepas penat seusai kelas. "Halo." Suara seorang laki-laki membuat kami menoleh ke belakang, ke arahnya yang berdiri. Aku menelan ludah. "Cindy, nih." Dia memberiku secarik kertas terlipat. Tangan kananku menerimanya. "I-ini apa?" "Baca aja nanti. Dah." Laki-laki berambut gondrong itu tersenyum lalu berlalu begitu saja. "Cieee, kok aku baru tau, kak Cindy pacaran sama kak Andi?" "Hush! Ngawur! Nggak ya!" "Ih ih ih, mukanya merah. Ciee." Amel yang duduk di hadapanku menunjuk wajahku sambil nyengir. Sial! Kenapa aku salah tingkah begini?! "Baca dong itu suratnyaa..." "Ssst... diem!" Aku membuka kertas putih terlipat itu. Sebuah pesan tertulis di sana. Tulisan tangan Andi. "Ketemu yuk habis pulang sekolah. Aku tunggu di gerbang depan sekolah ya. -Andhika Dewa" Andhika Dewa. Gitaris sekaligus vokalis yang namanya sudah sangat terkenal di SMA-ku. Dia bersama bandnya selalu tampil memukau, baik di pensi sekolah maupun di panggung-panggung lain. Selain musikalitasnya, banyak perempuan mengidolakannya karena parasnya yang tampan. Pesona laki-laki itu memang mampu meluluhkan. Apakah aku salah satu dari para perempuan itu? Emm... Mungkin? Hehe... "Apa tulisannya, kak?" "Kepo." Aku langsung memasukkan kertas itu ke saku saat tangan Amel mencoba meraihnya. "Wah wah, surat cinta nih! Yes! Nasi goreng sama es tehku dibayarin kak Cindy! Pajak jadian, ehehe." "Woee, enggakkk!" *** Seusai pelajaran. Gerbang depan sekolah. Andi sudah menungguku di atas sepeda motornya. Senyumannya begitu hangat. Ya ampun... jantungku berdebar kencang lagi. Wajahku memerah. Tersipu malu. "Yuk, naik." "Eh, k-kita mau ke mana?" "Makan." "Eh, eng... nggak usah, Di. Aku nggak laper." Krucuk. "Eh, gimana? Nggak laper?" Dia menahan tawa, sementara aku harus menahan malu. Perut sialan! Ah, tapi... aku memang lapar. Pelajaran siang tadi begitu berat sampai menguras tenaga dan pikiranku. "Emm..." "Udah, ayo. Aku traktir." Setelah beberapa saat, aku berjalan malu-malu ke motor Andi lalu duduk di belakangnya. Memastikan aku sudah duduk nyaman, dia mulai menarik gas motor tua itu. Sebuah café di dekat alun-alun Purwokerto menjadi pilihannya. Ada panggung kecil di sudut kanan café bernuansa retro ini—katanya rutin mengadakan live music setiap Rabu dan Sabtu. Meja di sebelah kanan pintu menjadi pilihan kami; angin sepoi-sepoi bebas menerpa kami dari jendela yang berdekatan. Aku menyusuri menu yang tertera di buku itu. Pilihanku jatuh pada nasi goreng sosis dan segelas es coklat. "Kamu pesen apa?" Aku menuliskan pesananku. "Roti bakar deh." "Loh? Nggak makan nasi?" "Masih kenyang kok, hehe." "Iihh, jangan gitu, aku jadi nggak enak." "Serius, aku masih kenyang. Udah, aku tau kamu laper kok. Santai aja." "Bener nih?" "Iyaa." "Minum?" "Jus stroberi." Roti bakar dan jus stroberi. Dua pesanan itu tertulis di kertas yang kini kuserahkan pada pelayan café. Pemuda berseragam hitam-putih itu pun meninggalkan kami. Dan laki-laki yang duduk di hadapanku ini malah sibuk dengan smartphone-nya sendiri. Aku menghela napas. "Cindy, bentar ya." Dia berdiri sesaat setelah meletakkan alat komunikasi itu di meja. "Ke mana?" "Toilet." Jawabnya singkat, lalu berlalu ke bagian dalam café. Aku kembali menghela napas. Smartphone kuambil dari dalam tas. Mungkin dia tidak akan lama, tapi aku juga butuh sesuatu untuk membunuh waktu menunggu ini. Satu pesan WhatsApp dari Aya menjadi perhatian pertamaku setelah membuka sandi. Dia menanyakan PR yang diberikan tadi. Sakit aja masih mikir tugas, dasar. Hehe. "Nggak ada kok, tadi cuma materi biasa. Nanti aku ke rumah ya, ngasih tau." Ketikku, membalas pesan yang masuk beberapa menit lalu. Tak butuh waktu lama sampai ikon centang dua itu berubah biru. Aya membalas, dan begitu pun aku, gantian membalas lagi. Lima menit. Sepuluh menit. Kenapa Andi lama sekali? Aku menoleh ke arah tempat Andi pergi tadi. Hei, tunggu. Kenapa dia ada di atas panggung itu? Sejak kapan dia ada di sana? "Cek cek. Yak, hei. Maaf nunggu lama, hehe." Dia tersenyum ke arahku dari atas panggung. Ia berdiri di sana dengan sebuah gitar. Aku mematung. "Cindy Hapsari Maharani, ini lagu buat kamu." DEG... Ia memainkan intro dengan petikan gitar, mengantar lirik yang ia nyanyikan dengan suara merdunya. "Kau satu terkasih Kulihat di sinar matamu Tersimpan kekayaan batinmu Di dalam senyummu Kudengar bahasa kalbu Mengalun bening menggetarkan Kini dirimu yang selalu Bertahta di benakku Dan aku kan mengiringi Bersama di setiap langkahmu Percayalah Hanya diriku yang paling mengerti Kegelisahan jiwamu, kasih Dan arti kata kecewamu Kasih, yakinlah Hanya aku yang paling memahami Besar arti kejujuran diri Indah sanubarimu, kasih Percayalah~" Bahasa Kalbu. Sebuah lagu dari Titi DJ. Dia menyanyikan lagu ini untukku? Kenapa? "Cindy, mau nggak jadi pacar aku?" Mataku membulat. Detak jantungku serasa berhenti. Aku tidak menyangka dia menyatakan perasaannya sekarang. Aku menelan ludah. Jujur, hatiku berbunga-bunga. Wajahku memerah. Aku menutup mulutku dengan dua tangan dan menundukkan kepala. "Berdiri, lalu mengangguklah kalau kau terima." Entah kenapa air mataku mengalir keluar. "Aku tunggu." Dan kau tahu apa jawabanku? Ya. Aku berdiri dari bangku itu, lalu mengangguk mantap. Seisi café kompak ber-'ciee'-ria, ada juga yang bertepuk tangan dan bersorak. Andi tersenyum lebar, lalu turun dari panggung setelah meletakkan gitarnya, menghampiriku yang masih terharu di bangku. Sejak saat itu, kami resmi pacaran. Kami melewati berbagai macam cerita. Pahit, manis, semuanya. Dia memberiku semangat saat beberapa kali kugagal dalam seleksi universitas, hingga akhirnya aku mendapatkan satu bangku di sebuah universitas swasta di Jakarta. Hampir setiap malam kami belajar bersama untuk persiapan Ujian Nasional, tak lupa ditemani selingan petikan gitar dan suaranya yang merdu. Dia membuatku merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia. Laki-laki idaman yang selalu mengertikku. Namun, itu tidak selamanya. "Aku tidak salah lihat, kan...?" Aku bergetar. "Andi... itu Andi, kan...? Kenapa dia ciuman dengan perempuan itu...?" Pada suatu hari, aku tanpa sengaja mendapati Andi sedang berciuman dengan seorang perempuan di sebuah taman. Ciuman itu sangat mesra. Bahkan, aku tak melihat sedikit pun keraguan dari Andi. Air mataku jatuh. Pengkhianatan ini sungguh menyakitkan. Semula ia beri aku sebuah harapan, tapi kini apa yang kudapat? Sebuah kenyataan pahit. Sejak saat itu, aku dan Andi tidak lagi berpacaran. *** "Terus kemarin... dia ngehubungin aku lagi. Dia minta balikan. Tapi hati aku udah tertutup rapat buat laki-laki kurang ajar kayak dia, kak." Aku membisu. Dadaku terasa sesak mendengar cerita Cindy. "Dia sok-sokan pakai foto profil itu biar aku inget sama dia... tapi ya... percuma." Dia meletakkan gelas jahe itu ke meja. "Jujur, kak... aku sayang sama kak Dimas. Kakak udah jadi sosok laki-laki yang bisa aku percaya buat naruh hati ini. Kakak tau gimana caranya memperlakukan seorang perempuan. Kakak baik, perhatian, sabar..." Aku membelalakkan mata. Menahan napas. "Selama ini kamu cuma anggep aku jadi tempat pelampiasan nafsu kamu, kan?" "Atau aku cuma jadi pelarian sesaat gara-gara bosen sama pacar kamu?" "A-aku nggak punya pac—" "Bacot. Siapa itu Andhika Dewa? Hah?!" "K-kak, d-dia b—" "Dasar, cewek rendahan." "Cukup, kak!" "Aku... kecewa sama kakak..." Bodoh! Apa yang sudah kulakukan ini?! "Maaf aku nggak jelasin semua ini pas kemarin kakak bentak aku. Jujur, aku kemarin kaget banget... aku nggak bisa ngomong apa-apa..." Dia mulai terisak. "Jujur, kak... I am so lucky... ketemu laki-laki baik kayak kak Dimas..." Jujur, melihatnya berlinang air mata seperti ini membuatku sangat tidak nyaman. Apalagi aku tahu, akulah penyebab air mata itu jatuh. Kini aku memaki diriku sendiri. Dengan kata-kata busuk itu, aku telah menyakiti hatinya. Andai waktu bisa diputar... mungkin aku akan lebih mengendalikan emosiku saat itu. "Cindy..." Aku merengkuh tubuhnya yang bergetar itu. "Aku yang harusnya minta maaf. Emosi aku waktu itu memang nggak bisa aku tahan. Maaf... sekali lagi, maaf..." Dia memelukku erat. Bahuku mulai basah oleh air matanya. "Aku janji... kalau kamu masih ngasih aku kesempatan... aku nggak bakal ngecewain kamu lagi." Kurasa ia mengangguk di bahuku. Baru kemudian ia melepas pelukannya, dan kami saling pandang. Aku menyeka air mata itu dengan jariku. "Janji?" "Janji." Kedua kelingking kami saling mengait. Senyuman manisnya itu akhirnya kembali kulihat. Aku merasa lega bisa melihat senyum itu lagi. "Kak." "Iy—" PLAK. "Ish?! Kok ditampar?" "Hehehe, hukuman buat kakak. Soalnya udah bentak aku." "Kan aku udah minta maaf..." "Ih, lagian sih, kakak ya, nggak ada otak apa ya? Masak nama kontak pacar cuma nama biasa? Hahaha." Dia menutup mulutnya saat tertawa. "Ya, namanya juga emosi, hahaha. Kan aku cemburu, gitu..." "Bisa aja, ahahaha!" Kami tertawa bersama. Aku lega—rasa canggung yang sempat kami alami tadi kini hilang sudah. "Aku sayang kamu, Cindy." "Hehe, sayang kakak juga..." Pelukan hangat itu kembali terjalin di antara kami. Ah, ya... sepertinya kami resmi pacaran. Iya, kan? Hehe. Cindy sudah memberiku satu kesempatan, dan tidak akan kusiakan. Aku akan berusaha menjadi seseorang yang bisa dia andalkan... sampai nanti kami jadi tua, bahkan sampai jadi debu. "Oh iya, Cindy." "Kenapa, kak?" "Kamu inget lagu yang pernah kakak mainin pas di taman itu?" "Oh, lagu yang kakak tulis sendiri itu ya? Inget, inget. Kenapa?" "Aku udah punya judul yang pas." "Apa tuh?" "As Elegant As Aurora." To be Continued...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 09
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal