EPISODE 09
Episode 9
"Situasinya rumit, Dim..."
"Pokoknya... maaf... gue nggak bisa..."
"Tapi, Dim... kalo lo pengen... bilang aja aja... hehe..."
Bukankah ini lebih dari yang pernah kuharapkan? Jinan sudah melepas semua pagarnya. Aku boleh menjamah tubuhnya sesukaku. Dia mempersilakannya.
Tapi...
Tidak.
Tidak!
Aku tidak mau jadi laki-laki murahan seperti itu. Lagipula, aku takut Jinan kelak berubah jadi seorang maniak seks gara-gara ulahku.
Atau lebih buruk lagi...
Kalau sampai aku—sengaja atau bukan—menghamili Jinan. Aku belum siap untuk itu. Kuliahku bisa hancur berantakan... Dan aku tak bisa membayangkan ekspresi orang tuaku saat tahu anaknya berbuat sebinatang itu...
Lalu bagaimana dengan Cindy?
Itu pun bukan pilihan yang benar.
Argh!
Aku meneguk sisa anggur di gelasku. Tanpa kusadari, botol merah kedua itu nyaris kosong. Kepalaku mulai berat dan berdenyut. Ini pertama kalinya aku menghabiskan hampir dua botol sendirian. Biasanya setengah sampai satu botol, lalu aku langsung terlelap.
Gelas kecil dengan sisa es batu yang sudah mencair itu perlahan terisi lagi oleh anggur yang kutuang.
"Kak Dimas."
Mataku membelalak.
"Kak Dimas suka musik ya?"
Kenapa kepalaku harus memutar memori ini?!
"Iih! Kakak harus banyak makan sayur biar sehat!"
"Kak, temenin aku dong, takut..."
"Lho, bunyi. Kalo kakak laper bilang dong. Yuk cari makan."
Cindy...
"Kak, nih diminum, biar tenggorokannya baikan."
"Aduuhh! Sakit tau kak! Ngapain sih cubit pipi aku?!"
"Eh kak! Kak! Jangan ngebut!!!"
"Kak Dimas, aku masakin nasi goreng ya, hehe."
"Wih, lagunya bagus, kakak yang buat nih? Judulnya apa?"
Aku terdiam. Ternyata begitu banyak yang pernah kulewati bersamanya.
"Kak... kenapa berhenti?"
"Huft... yaudah, cepet aja ya kak."
"Mmhh..! E-enakk! Mmhh... kaakkk...!"
"Ahh... sshh... t-terus kak... mmhh..."
"Ahh..! Cindyy..!! Mmmph..!!!"
Eh, ya ampun. Momen begituan ikut muncul juga di kepala yang dipenuhi alkohol ini.
"Selama ini kamu cuma anggep aku jadi tempat pelampiasan nafsu kamu kan?"
"Atau aku cuma jadi pelarian sesaat gara-gara bosen sama pacar kamu?"
"A-aku enggak punya pac-"
"Bacot. Siapa itu Andhika Dewa? Hah?!"
"K-kak, d-dia b-"
"Dasar, cewek rendahan."
"Cukup kak!"
"Aku... kecewa sama kakak..."
Cih.
Sepertinya aku terlalu banyak minum...
Glek.
Tegukan itu adalah yang terakhir untuk malam ini.
Aku merebahkan tubuh ke kasur, menarik selimut, dan terlelap tak lama setelah kedua kelopak mataku menutup. Urusan dengan para perempuan ini mulai membuat kepalaku tidak karuan.
***
"Dim."
Seseorang memanggil dari balik pintu sambil mengetuknya. Aku terbangun, bangkit dari kasur, dan melirik jam dinding. Kesadaran belum sepenuhnya kembali ke kepalaku.
"Jam 9... siapa sih..."
Prang!
Ah! Gelas dan botol-botol anggur semalam! Botol yang masih berisi setengah itu tersenggol kakiku, dan sisa anggurnya kini tumpah membasahi lantai.
Sialan, sayang banget. Aku buru-buru meraih botol itu dan 'menyelamatkan' sisanya, sementara genangan di lantai kulap dengan tisu.
"Dim! Lu coli ya?!"
Nadanya meninggi. Pintu semakin keras diketuk. Ah, sudah kuduga. Hary.
"Kagak! Bentar!"
Setelah menghabiskan hampir lima lembar tisu, lantai akhirnya bersih. Aku langsung melangkah ke pintu depan.
Krek.
Krek.
"Ngapain lu kesini?"
"Dih, lu enggak inget hari ini ada acara apaan?"
"Ha?" Pintu kuterbuka sepenuhnya.
"Ha he ha he. Sakura Fest, bego! Lu lupa ya? Kan udah gue beliin tiket. Gimana sih."
Ya ampun, iya. Hari ini Sakura Fest. Festival budaya Jepang yang digelar organisasi jurusan Jepang di fakultasku. Katanya, acara tahunan ini yang paling ditunggu-tunggu—yang terbesar, kebanggaan fakultas. Tiap tahunnya ribuan orang datang. Ada stand jajanan khas Jepang, merchandise, penampilan band-band pembawakan lagu Jepang, dan tentu saja para cosplayer.
Sejujurnya aku nggak terlalu suka hal-hal berbau Jepang. Tapi kemarin Hary mengajakku. Tiket yang ia beli beberapa minggu lalu tadinya untuk temannya, namun temannya itu batal datang. Jujur aku belum pernah melihat langsung acara ini—hanya tahu betapa besarnya lewat akun-akun LINE fakultas atau dari mulut ke mulut. Ah, sudahlah. Anggap saja refreshing.
"Oh, iya, hehe. Yaudah lu masuk dulu, gue mandi bentar."
"Buru, udah mau open gate nih."
"Iye."
Hary duduk di sofa sementara aku buru-buru mengambil handuk lalu masuk kamar mandi. Ugh, kepalaku masih agak berdenyut.
***
Setelah mengantre penukaran tiket hampir 20 menit, aku dan Hary akhirnya masuk ke area Sakura Fest. Hiruk-pikuk orang-orang yang rata-rata seumuran dengan kami langsung menyambut. Baju-baju dengan aksara Jepang, pin tokoh anime tertempel di tas, topi-topi bernuansa sakura.
Padahal baru satu jam acara dibuka, pengunjungnya sudah sebanyak ini. Aku nggak nyana area fakultasku bisa disulap sedekat ini dengan Jepang.
"Hmm... bau bawang..."
Batin gelapku.
"Dim, cobain itu yuk."
Hary menunjuk stand takoyaki. Yah, aku hanya mengikutinya.
Kami duduk menunggu pesanan. Hary asyik dengan smartphone-nya, dan aku mengalihkan pandangan ke sekeliling. Lalu mataku menangkap sesuatu. Wajah samping seorang perempuan yang kutkenal. Sedetik aku berpikir itu bukan dia. Tapi saat kupandang lagi... tidak salah. Hidung mancung itu, mata bulat besar itu, gaya rambut itu...
Aku buru-buru menoleh saat kepalanya mulai bergerak ke arahku. Semoga dia nggak lihat aku di sini.
Sial, kenapa Cindy datang kesini?! Buktinya dia nggak suka hal-hal berbau Jepang seperti ini.
"Emm... Har, balik yuk."
"Hah? Gila lu ya, baru aja kita masuk."
"Perut gue mules tiba-tiba nih." Aku meremas perut dan memasang wajah perih.
"Dim, gue tau kalo lo itu paling nggak jago akting."
"T-tapi ini serius sakit, uuuhh..."
"Woe, jijik gue. Lu kenapa sih?"
"Sakit p-perut..."
"Heh, Dim. Lu pura-pura ya. Aneh lu."
Bodoh. Kenapa aku berbuat konyol seperti ini.
"Takut dibilang wibu lu ya?"
"Dih, enggak!"
"Terus lu kenapa?"
"Eng-gak... maaf..." Wajah kupalingkan.
"Aneh lu."
Sial, kalau saja aku nggak nebeng motor Hary tadi, aku bisa langsung pergi dari sini. Oh iya, kenapa nggak pesan ojek online aja?
Sialan. Baterai smartphone-ku habis.
Hary juga nggak punya aplikasi ojek online—perangkatnya sudah kuno, nggak bisa diisi aplikasi lagi.
Aku menghela nafas.
"Ini kak, pesanannyaa!" Penjual menyerahkan dua bungkus takoyaki pada Hary.
Kami pun lanjut berkeliling. Dua jam lebih kami memutar area. Berfoto dengan beberapa cosplayer, main game di booth-booth, mencoba beberapa makanan Jepang. Hary membeli keychain berbentuk tokoh anime yang nggak kukenal. Hanya satu yang kualihati—Monkey D. Luffy dari One Piece.
Ada juga beberapa penampil yang kutonton bersama Hary. Lagu-lagu Jepang yang tak kuketahui judul dan penciptanya. Yang jelas, Hary hafal semuanya.
"Aduh, Dim. Gue lupa."
"Apaan?"
"Gue jam 5 harus jemput adik gue di bandara."
"Ya udah sih, gue nurut aja. Mau balik dulu?" Aku melirik jam tanganku. Tiga sore.
"Emm... gimana ya, balik dulu aja kali ya? Takut macet gue kesananya. Kasihan dia kalo nunggu lama."
"Yaudah sih, gue mah ngikut lo aja, Har."
"Yaudah, ayo."
Kami melangkah keluar area. Masih ada beberapa orang yang masuk lewat gate.
Hary menaikkan standar motornya dan menghidupkan mesin. Aku masih membolak-balik foto kami bersama para cosplayer cantik tadi di smartphone Hary. Jempolku berhenti pada satu cosplayer yang mengenakan kostum Hinata dari Naruto. Entah kenapa... wajahnya familiar.
"Har, lu tau dia siapa?"
Aku menunjukkan foto itu.
"Oh, namanya Pucchi. Anak fakultas sini kok. Sastra Jepang, semester tiga. Kenapa lu?"
"Pucchi? Oh... berarti bukan. Aku kira dia yang nabrak aku waktu itu."
"Enggak apa-apa sih, nanya doang."
"Bacol ya?"
"Woee. Gue enggak selemah itu, anjir."
"Yaudah. Padahal gue tahu akun Instagramnya lho..."
"Bodo amat."
"Dih, yaudah. Sampe gue tau lu follow dia, gue ketawain."
"Terserah."
"Buru naik!"
***
Akor yang seharusnya bernada mayor tiba-tiba berubah jadi minor. Nuansa lagu ini mendadak sendu. Padahal kukarang dengan nuansa ceria.
Aarrgh!
Gitar merah itu kuletakkan kembali ke raknya. Tubuh yang lelah kubantingkan ke kasur. Guntur kembali menggelegar di luar sana—sepertinya hujan lebat akan turun lagi. Semoga panitia Sakura Fest tadi sudah menyiapkan pawang hujan yang sakti. Semoga berita esok nggak isinya kegagalan acara puncak.
Aku menghela nafas panjang, mengusap wajah. Biasanya kalau kejebak bosanan seperti ini, yang kulakukan adalah chatting dengan Cindy.
Tidak...
Aku nggak perlu mengingatnya lagi.
Jinan...
Aku rasa... nggak juga...
Aku menghela nafas lagi. Smartphone yang tergeletak di meja itu kuraih. Meski belum penuh terisi, kucabut dari charger. Hary masih belum mengirim foto-foto tadi. Hmm... sepertinya dia sudah di jalan ke bandara. Ya, lebih baik begitu. Nggak baik membiarkan adik cantiknya menunggu.
Aplikasi Instagram terbuka begitu jariku mengetuk ikonnya. Tanpa memedulikan Instastory dan post yang muncul di beranda, jempolku mengetuk ikon pencarian dan mengetik sebuah username.
Akun yang kucari langsung muncul begitu hanya kuletik 'Puc'.
Followed by: Hary_d, Dio234, AntoniusB.
"Puti Nadhira Azalia..."
Ternyata benar. Cosplayer ini adalah orang yang sama yang menabrakku waktu itu. Jariku bermain di layar, membolak-balik post dari akun Pucchii_ satu per satu. Untung nggak private.
Oh shit...
Jempolku berhenti pada sebuah foto.
Bibirnya...
Tangan kiriku perlahan merosot masuk ke dalam celana pendekku, mengelus penisku yang masih tertidur, sementara mataku tak lepas dari foto itu.
Hujan mulai turun deras. Angin terdengar meresap dari celah jendela. Udara dingin menyebar perlahan ke dalam kamar. Suasana yang pas, hehe.
Tak lama, penisku mulai tegang mengacung. Fantasi liar itu pun mulai berjalan. Aku membayangkan bibir tebal seksi itu mengulum kontolku—lidahnya menjilati ujungnya, lalu kepala perempuan itu bergerak maju-mundur mengocok batangku dengan mulutnya. Semakin dalam... semakin cepat... erangannya tertahan di tenggorokan saat kontolku menyobek bibirnya yang basah...
Ahh...
Aku menurunkan semua celanaku, membiarkan kontol itu menjulang bebas ke udara dingin. Mata kupejamkan. Sudah lama aku nggak memanjakan diriku sendiri seperti ini.
Kreeekkk...
Gerbang depan kontrakanku terbuka. Aneh. Tidak ada suara mesin motor ataupun mobil...
Aku buru-buru mengenakan celanaku, kontol yang masih tegang itu kusembunyikan dengan susah payah.
Dengan langkah hati-hati, aku keluar kamar. Ketukan pintu yang kutunggu itu akhirnya terdengar. Lalu suara perempuan di baliknya membuatku terdiam sesaat. Aku menelan ludah.
"Kak Dimas..."
To be Continued...