←18+
← As Elegant As Aurora

Episode 11 — As Elegant As Aurora

EPISODE 11
Senar terakhir ini akhirnya sudah tepat bernada E. Lampu di layar tuner yang menempel di headstock gitar merahku itu padam. Kupasang kabel jack yang sudah tersambung ke ampli, lalu mataku menyusuri meja-meja di café ini — hampir semuanya terisi. Kulihat Hary dan beberapa teman satu jurusanku duduk di sana. Di antara mereka, Cindy menenyum hangat padaku dari mejanya. Aku selalu suka saat rambutnya dikucir rapi. Ponytail. Dia mengacungkan dua jempol, tanda semangat. Ah, senyumanmu saja sudah cukup, sayang. Ehehehe. Beberapa hari lalu aku mendapat tawaran tampil sebagai performer di sebuah café baru yang tak jauh dari kontrakanku. Yah, kesempatan tidak datang dua kali, kan? Dengan mantapku kuyakinkan tawaran temanku itu. Lagu demi lagu kubawakan. Lega rasanya, para pengunjung ikut bernyanyi di beberapa lagu. Dua jam berlalu, aku tiba di lagu terakhir. Sang aurora kembali tersenyum bahagia saat kukatakan akan menyanyikan lagu yang kutulis sendiri — As Elegant As Aurora. Hangatnya senyum itu sampai hingga ke panggung. Dan berbekal hangat senyumnya, lagu ini mulai kubawakan. *** Tulisan 'Open' kini berganti 'Closed'. Pelanggan café satu per satu meninggalkan tempat setelah membayar di kasir, termasuk teman-temanku yang pamit lebih dulu. Para pegawai mulai membersihkan café, bersiap menutup hari dan beristirahat untuk esok. Beberapa laki-laki menata piring dan gelas kotor yang tersisa di meja, si kasir menghitung keuntungan hari ini. Begitu pula kami berdua. Setelah menghabiskan pesanan, meja itu kami tinggalkan. Cindy berjalan lebih dulu menuju sepeda motorku, sementara aku masih berbincang dengan Tama, orang yang menawariku tampil di café ini. "Thanks ya, Dim. Terbaik emang lu." "Halah, biasa aja, Tam. Hehe." "Minggu depan lagi ya. Sekalian bayarannya." "Oh, siap!" "Sip sip. Dah tuh, buruan — cewek lu udah nungguin." "Hahaha. Yaudah deh, duluan ya, Tam." "Ati-ati lu." Tangan kami berjabat. Tama menepuk-nepuk bahuku sebelum aku membalik badan dan melangkah menuju pintu keluar. Dari dinding kaca itu, kulihat Cindy yang sudah duduk di jok belakang motor sambil memainkan smartphone-nya. BUG... Karena tidak fokus ke depan, aku menabrak seseorang. Tepatnya, seorang gadis. Untung hanya bahu kami yang bersenggolan. Seragam yang dikenakannya menandakan dia pegawai café ini. Sepertinya ia baru selesai mengelap meja di dekat pintu, dan sama tidak fokusnya denganku. "Eh, mbak, maaf..." Aku menoleh ke arah gadis berambut panjang itu. "Enggak apa-apa, mas, hehe..." Ia tersenyum lalu berlalu. Ya Tuhan... Walau hanya sekilas, senyum itu sangat indah. Ada tahi lalat di sisi kanan bawah bibir tipisnya yang menggoda. Parasnya ayu, khas Jawa Tengah. "Woe, udah punya Cindy juga!" Aku menggeleng cepat, lalu bergegas keluar. *** "Gimana, Nan? Lu mau berapa anak?" "Tiga cukup, sih." "Dikit amat? Yakin enggak mau nambah?" Eits... bentar, jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Sekarang gue ada di salah satu ruang meeting sebuah tempat makan, bareng teman-teman gue di organisasi jurusan. Malam ini ada rapat buat plotting mahasiswa baru yang sudah daftar masuk organisasi. Gue jelasin dikit ya — di organisasi jurusan ini ada lima departemen, masing-masing dipimpin satu orang yang disebut Kepala Departemen. Dan kebetulan, gue jadi Kepala Departemen yang fokus ke bidang sosial dan kemasyarakatan. Ya, harusnya lu udah tau gue siapa, hehe. "Bentar-bentar, kita ada berapa anak sih yang daftar?" tanya gue ke Leon, ketua organisasi. "Nih nih, udah selesai aku tulis. Ada 30 anak," jelas Devi, si sekretaris sekaligus bendahara. Tiga nama yang memang sudah kupandang potensinya langsung kutarik ke departemen gue. Begitu pula kepala-kepala departemen lain, sibuk menarik-narik nama yang mereka incar. Pada akhirnya, ada tiga nama yang belum kebagian departemen. Kata Tia, Kepala Departemen yang mengurus seleksi dan wawancara, mereka kurang capable untuk departemen pilihan mereka. "Nan, si Cindy Hapsari ini cocok nih buat departemen lu," kata Dion, Kepala Departemen minat dan bakat. "Gue yang wawancarain sekaligus ngawasin kelompoknya. Dari wawancara sih, gue rasa dia emang suka kegiatan sosial. Di kelompok pun dia aktif, kerjaannya juga oke," lanjutnya. "Kenapa enggak lu terima di departemen lu? Dia kan milih di sana." "Udah pas nih departemen gue. Keisi semua, dan mereka lebih capable daripada dia. Gimana? Terima enggak?" Gue terdiam sejenak, memikirkan struktur dan porsi di departemen nanti. Hmm... gue pikir, enggak apa-apa juga sih. Gue juga udah kenal dia sedikit sejak dia daftar LKMPD. "Oke deh, gue ambil Cindy." Rapat pun dilanjutkan. Hampir dua jam kami membahas berbagai hal soal persiapan organisasi ke depannya. Gue iseng ngecek smartphone — pop-up dari beberapa chat LINE muncul di layar. Gue scroll dan membaca cepat pesan-pesan dari grup itu, lalu berhenti di satu pesan. Dari Dimas. "Gue main nih ntar, dateng ya ke Pong Café jam 8. Hehe, gue tunggu." Gue tersenyum tipis. Gue lupa kalau Dimas tampil hari ini. Ah, rapat juga belum selesai — udah jam sepuluh pula. Pesan balasan gue kirim cepat. "Goodluck." *** Kuletakkan softcase berisi gitar itu di kamarku. Cindy masih membereskan barang-barangnya di meja depan. Beberapa jam sebelum ke café tadi, dia datang memintaku membantunya mengerjakan tugas kuliah. Dan dengan senang hati kubantu. Apa sih yang enggak untuk sayangku? Hehe. "Udah beres semua?" "Udah." Totebag putih bergambar Hello Kitty itu ia jinjing. Aku berjalan mendahuluinya. "Emm... Kak..." "Iya?" Aku membalik badan. Dia mendekat. Menatapku dalam, lalu memejamkan mata. Napas hangatnya kian kurasakan di wajahku. Bibir tipisnya dan bibirku saling melumat satu sama lain. "Yakin enggak mau kutemani sampai kos?" tanyaku setelah melepas ciuman itu. "Enggak usah. Kakak istirahat aja... pasti capek kan seharian ini, hehe..." "Hati-hati ya..." Aku mengusap ubun-ubunnya. Rambutnya jadi agak berantakan. "Duuhh... jadi berantakan kan." Dia buru-buru merapikan rambutnya. "Ehehe, maaf..." Aku terkekeh melihat tingkahnya. Cup... Satu kecupan hangat di dahinya jadi salam perpisahan hari ini. Senyuman manisnya ia berikan padaku sebelum ia menaiki sepeda motor matic pinjaman teman kosnya itu. "Ngabarin ya kalau udah sampai." Dia mengangguk. Aku melambaikan tangan saat gas motor itu ditariknya. Setelah memastikan punggung itu menjauh dan menghilang dari pandangan, kunci gerbang ini lalu aku masuk ke kontrakan untuk beristirahat. Kurebahkan tubuhku, menghela napas panjang. Hari yang cukup melelahkan. Smartphone yang masih tertancap charger kuraih. Foto kami — aku dan Cindy saat wawancara LKMPD dulu — menjadi wallpaper di sana. Aku tersenyum. Tidak menyangka, karena wawancara itu kami bisa bertemu. Hingga kini kami pacaran, sudah banyak kejadian yang kami lalui bersama. Dia benar-benar menjadi Aurora untukku. Cindy membuatku bersyukur bisa mendapatkan perempuan sebaik dia. Aku merasa jadi laki-laki paling beruntung di dunia. Drrtt Drrtt Sebuah pesan masuk. Dari Cindy. "Aku udah sampe kosan. Hehe, good night." Aku tersenyum. Lega, dia sudah sampai. "Syukur deh. Good night, jangan lupa berdoa ya. Aurora." Kuletakkan smartphone ke tempat semula. Kedua mata ini perlahan terpejam. Setelah ini, aku yakin, akan lebih banyak lagi hal yang kami lalui. Ini hanya sebuah awal — untuk sebuah kisah yang baru... The End
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 10
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal