EPISODE 14
Episode 14
Aku posisikan dia duduk di bawah kran air. Aku nyalakan, ambil segayung air lalu guyurkan perlahan dari atas kepalanya. Cindy mengusap wajahnya, membersihkan sisa-sisa spermat yang masih menempel di sana. Aku ambil lagi segayung, guyurkan lagi ke badannya. Tanganku yang satunya mengusap kulit halusnya perlahan, memastikan air membasahi rata bahu dan punggungnya. Di sudut mata, aku melihat Cindy mengusap dadanya sendiri—payudaranya bergoyang lembut mengikuti gerakan tangannya. Aku menelan ludah. Harusnya aku menolak ajakannya tadi.
"M-mbul, berdiri bentar dong..." Aku berjongkok, menopang ketiaknya, bersiap mengangkat tubuhnya.
"Eh? Kenapa, Kak?" Cindy menoleh cepat ke arahku.
"B-biar enak..."
"Enak gim—Eeh?!" Cindy tersentak saat kedua tanganku tiba-tiba meraih payudaranya.
"Enak gituan lagi..." Aku meremas perlahan kedua buah dada itu. Bibirku mulai mencium dan meniup-niup lehernya.
"Aakh... k-kak... mmhh..." Rintihannya terdengar lemah. Ia bahkan berusaha melawan, memegangi kedua pergelangan tanganku, mencoba menyingkirkannya dari dadanya. Tapi tenaganya tidak cukup. Payudara itu terus aku remas-remas, sementara lehernya terus kuberi rangsangan dengan ciuman dan jilatan.
"Sekali lagi ya... Mmhh..."
"Aahh... y-yaudahh... mmhh..."
Aku raih dagunya, arahkan wajahnya ke kanan, lalu sambut dengan lumatan liar di bibirnya. Seperti yang kuharapkan, dia membalas—lebih rakus daripada ciuman pertama kami dulu. Posisiku kini berada di hadapannya. Tanganku yang semula meramas toketnya beralih menopang ketiaknya, membantunya berdiri. Kedua tangannya mengait erat di belakang leherku saat tubuhnya perlahan aku bangkitkan.
Setelah yakin kami berdua berdiri stabil, aku remas lagi toketnya, lalu perlahan mendorong tubuhnya sampai menempel ke dinding.
"Aahh... Ssh... Aahh.. mMmHH..." Desahnya pecah saat bibirku turun menyambangi lehernya. Aku mengendus kulit lehernya yang setengah tertutup rambut panjangnya, menyibak rambut itu dengan wajahku, lalu kembali menciumi dan menjilati lehernya dengan penuh birahi.
Bersamaan dengan itu, jariku memutari putingnya yang mulai mengeras. Cindy menggelinjang. Gerakanku kuperlambat, menggoda, sebelum akhirnya puting itu kucubit dan kupelintir pelan. Cindy mendongak, mendesah panjang.
Badannya bergerak-gerak tak tentu, kedua tangannya mencengkeram bahuku erat. Tanganku turun menyusur tubuhnya, meraba-raba dari pusar hingga ke pahanya yang halus.
Aku kembali menyerang dadanya—kini puting kirinya kuhisap, lalu bergantian ke yang kanan. Tangan Cindy mencoba menyingkirkan kepalaku yang nakal itu, sepertinya geli dengan isapanku, tapi desahan nikmatnya tetap lolos dari bibirnya. Aku tak peduli. Jilatan dan hisapanku terus berlanjut sambil tanganku mengelus-elus pahanya. Tanpa kuberi dia celah sedikit pun.
"Aakh... N-nakal... Mmhhh..."
"Mmh.. ah.. udah diem ah.. Mmh... mau nenen..."
Hisapan itu terus kulanjutkan sampai kedua putingnya basah oleh liurku. Aku angkat wajah, memandang wajahnya. Mata Cindy sayu, dia tersenyum lebar padaku sebelum aku melumat bibirnya lagi. Badan kami kembali basah keringat. Kamar mandi ini pun dipenuhi aroma birahi kami berdua.
Beberapa saat kami bertukar liur, aku lepaskan ciuman itu. Tersenyum pada perempuanku, lalu aku angkat kaki kanannya dan mengelus-elus memeknya yang mulai basah. Kedua tangannya kembali mengait erat di belakang leherku.
"Jangan di dalam, ya." Dia berkedip, tersenyum menggoda.
Satu tanganku memegangi kaki kanannya, tangan satunya mencengkeram pinggangnya. Kontolku yang sudah mengacung tegang perlahan kudekatkan ke lubang memeknya. Aku atur nafas, lalu hujamkan perlahan.
"AaaAkKKHH—"
Erangan kerasnya meledak sesaat setelah memeknya menelan batang kontolku utuh. Cepat-cepat kubekap mulutnya dengan tangan kananku.
"Ssst... jangan keras-keras... oke?" Bisikku. Cindy dengan mata yang kembali sayu itu mengangguk pelan. Aku lepaskan bekapannya, ganti dengan ciuman lembut agar dia lebih rileks.
Sementara kontolku menikmati hangat dan sempitnya liang itu, bibirku terus melumat bibir lembutnya. Tanganku yang satunya kembali meramas toketnya yang terasa membesar. Aku bisa mendengar erangan Cindy tertelan di dalam ciuman kami. Lumatannya tak kalah liar—kedua tangannya menahan kepalaku agar tetap di posisi ini. Kami kembali bertukar liur di sana.
Pinggulnya mulai bergerak-gerak. Sepertinya dia mulai gelisah dengan posisinya. Aku lepas dari lumatannya—untaian liur masih terbentang menghubungkan bibir kami. Remasanku di toketnya tak berhenti, malah makin liar.
"KaAKK... MmPHH—" Dia segera membekap mulutnya sendiri. Aku terus memainkan puting kerasnya, sementara lehernya kembali kuserang jilatan dan ciuman. Cindy mendongak lagi, desahannya tertahan di balik telapak tangannya sendiri.
Perlahan, pinggulku mulai bergerak maju-mundur sementara 'serangan' di tubuh bagian atasnya tak berhenti. Cindy menggelinjang hebat, desahannya makin keras walau tertahan bekapannya. Nafasnya mulai tak beraturan. Setelah beberapa saat, aku putuskan untuk mulai menggenjot memeknya sungguh-sungguhan.
"Ready?"
"Hhh... hhh..." Dia hanya mengangguk.
Tangan kananku kembali ke pinggulnya. Kedua tangannya mengait erat di belakang leherku.
Dan ini dia.
Plok.
Plok.
Plok.
"AakMmmhh... MMMPHH..." Cindy mati-matian menahan desahannya. Ia menggigit bibir bawahnya, mata terpejam rapat. Kewalahan dengan semua ini.
Plok.
Plok.
Plok.
Sempit. Hangat. Kontolku benar-benar dimanjakan oleh memeknya. Setiap hujaman masuk, sensasi luar biasa itu menghantam seluruh penaku. Desahan yang kami tahan terdengar tak beraturan, nafas kami saling memburu.
Plok.
Plok.
Plok.
Genjotan itu kulanjutkan dengan tempo sama, secepat yang kubisa. Kadang kuperlambat, lalu kutancap lagi cepat-cepat.
"Kaakk... ahh.. g-ganti posisi... pegelhh..." Pintanya dengan suara lemas.
Aku mengiyakan—kakinya memang sudah lelah sejak latihan futsal tadi. Aku cabut kontolku, turunkan kakinya perlahan. Dia rebahan di lantai, melipat dan mengangkat kedua kakinya. Aku buka kedua kakinya lebar-lebar. Mataku menyapu seluruh tubuhnya. Mengkilap oleh keringat yang mengucur deras. Rambutnya berantakan, lepek basah. Aku benar-benar sudah membuatnya kacau balau.
"Siap?"
"Hhh... hhh..."
Aku sibak sedikit bulu halus yang menutupi memeknya itu.
Satu.
Dua.
Tiga.
"Aaakkhh..." Mulutnya terbuka sedikit, mata terpejam.
Kontolku berhasil masuk lagi ke dalam memeknya. Sepertinya aku harus cepat menyelesaikan ini—aku mulai kasihan. Energi Cindy pasti sudah terkuras habis oleh latihan tadi. Ah, tapi tak apa. Sepertinya dia menikmatinya juga.
Plok.
Plok.
Plok.
Plok.
"AaaAAKKHH... E-ENAKKHH... MMMPPHH...!!" Cindy kelepasan erangan keras sebelum akhirnya dia tahan sekuat tenaga.
"Enakkhh...? M-mau lagi nanti.. hhh?!" Godaku sambil terus menggenjot.
"MMMPPHH.. U-UDAHHHKH... MMMHH..!"
Plok.
Plok.
Plok.
Kutancap secepat yang kubisa. Aku hampir sampai di puncak. Aliran sperma itu bisa kurasa mulai mengalir ke ujung kontolku. Tubuh Cindy menegang, bergetar hebat. Sepertinya dia juga sudah di ambang.
"MMMPPGH... KAAKK...! MMPGHH...!!!"
"Barengannhh..!"
"MMMGGHH...!!" Kedua kakinya tiba-tiba menjepit pinggangku.
Ternyata Cindy climax duluan dariku. Cairan nikmat itu membasahi kontolku di dalam sana. Sedangkan aku masih butuh sedikit waktu lagi.
Plok.
Plok.
Plok.
Dan ini dia. Beberapa hujaman lagi, aliran itu benar-benar sudah di ujung. Aku buru-buru mencabut sebelum terlambat.
Crot.
Crot.
Sperma itu menyembur tepat setelah aku cabut. Kali ini hanya sedikit yang keluar. Belum sempat kuarahkan ke wajahnya, hanya menetes di perutnya saja.
Kedua kakinya rebah perlahan. Cindy terbaring dengan nafas terengah-engah. Wajahnya memerah di balik beberapa helai rambut lepek yang menutupinya.
"Hhh... hhh... M-makasihh... hhh..."
"Hhh... Hehe... sama-samahh... hehe..." Dia tersenyum lebar. Aku bersyukur melihatnya.
Aku terduduk lelah. Tidak seharusnya aku memaksanya tadi. Melihat Cindy terbaring lemas di lantai ini membuatku merasa bersalah. Sepertinya aku benar-benar harus mulai belajar mengendalikan nafsuku.
"M-maaf, Mbul... k-kamu capek banget ya..."
"Hhh... enggak kok... hehe..."
Cindy kini duduk menghadapku yang menyandar tembok. Dia merapikan helai-helai rambut yang menutupi wajahnya.
"Hhh... Yaudah deh... mandi sendiri-sendiri aja ya... hhh..."
Aku bangkit berdiri.
Cindy terdengar tertawa kecil di sana.
"Eh? Kenapa ketawa?"
"Ah... enggak kok, Kak, hihihi... enggak apa-apa."
"Dih, yaudah. Kamu mandi duluan aja."
"Okee..." Dia tersenyum lebar padaku saat kakiku melangkah keluar.
***
Kesegaran mengalir di seluruh tubuhku selepas mandi. Handuk biru kualeungkan di leher. Berdada telanjang dan memakai celana pendek, aku berjalan ke ruang depan menemui Cindy.
Begitu sampai di sana, aku melihat gumpalan daging menggemaskan itu tertidur lelap di sofa. Ah, dia benar-benar kelelahan—kupahami dari nafasnya yang berat. Pantas saja tidak ada suara apa pun dari dapur tadi. Ternyata dia ketiduran di sini. Beberapa helai rambut menutupi wajahnya. Pipi gembulnya terlihat sangat menggemaskan.
"Bangunin enggak ya?"
Namun sepertinya dia belum lama terlelap. Aku jadi tidak enak membangunkannya.
"Atau... aku ajak dia masak bareng aja ya?"
Aku mendekat ke arahnya. Tangan kananku bersiap menggoyang pelan bahunya. Sepertinya aku memilih opsi kedua. Tapi sebelum tanganku sampai di bahunya, entah kenapa kepalaku terbesit sebuah pikiran nakal.
"Remes teteknya aja apa ya biar langsung bangun?"
"Jangan!"
"Remes."
"Jangan!"
"Remes."
"Jangan!"
Aku menggeleng cepat. Menghentikan aktivitasku itu.
Namun setelah kupikir lagi, memang seharusnya aku membiarkannya istirahat dulu. Aku menghela nafas, berjongkok di sampingnya. Tangan ini kugunakan merapikan rambut yang menutupi wajahnya. Perlahan, wajahku kudekatkan lalu kuberikan satu kecupan hangat di keningnya.
"Get some rest, my Aurora. You deserve it..." Kataku lembut selepas mengecup keningnya.
Cindy tetap dalam posisinya, tidak ada gerakan yang merespons kata-kataku. Hanya dada dan bahunya yang bergerak seiring nafasnya.
Kututup dengan membelai rambut lurusnya. Sepertinya aku yang akan menggantikannya memasak selagi dia beristirahat. Saatnya memanjakan sayangku ini. Hehe.
Setelah memakai kaus, aku berjalan ke dapur. Menyiapkan hidangan untuk mengisi perut kami berdua. Semua kuselesaikan dalam hampir satu jam. Menanak nasi, menyiapkan bahan-bahan, memasak lauk, hingga menyeduh teh. Dua piring omelette spesial berisi sosis, keju, dan sedikit potongan cabai dengan nasi panas telah tersaji, begitu pula dua gelas teh hangat yang baru selesai kubuat.
Aku kembali ke ruang depan, membawa hidangan kami dengan sebuah nampan. Aku tersenyum. Cindy masih terlelap di sofa. Perlahan kuletakkan nampan itu di meja setelah berjongkok. Aku memandanginya—sebenarnya aku masih tidak tega membangunkannya dari tidur yang terlihat sangat nyenyak itu. Yah, tapi apa boleh buat. Masakan ini kan enaknya memang dimakan selagi hangat.
"Mbul..." Panggilku lembut. Cindy tidak merespons.
"Mbul..." Panggilku agak keras. Masih tidak ada respon.
"Cindy gembul..." Kutambah sambil mengusap-usap pelan dahinya. Kali ini dia bergerak sedikit, tapi kedua matanya masih lekat terpejam. Aku menghela nafas.
"Cin...dy... Gembul... mbul... mbul..." Karena gemas, aku malah menusuk-nusuk pelan pipi gembulnya itu dengan jariku.
"Nnggh... apasih, Kak..." Akhirnya dia terbangun. Suaranya berat, matanya masih tertutup.
"Makan yuk. Ini udah aku masakin. Kasihan perut kamu kosong, kan?" Aku menarik jariku dari pipinya, membiarkannya mengucek mata sesaat.
"Nngh... makan? Ngh.. kakaknya yang masak ya? Duh... maaf... aku ketiduran... hhh..." Cindy memposisikan dirinya duduk, masih mengucek matanya. Mungkin juga masih berusaha membuka kedua kelopak itu.
"Udah, santai. Nih, omelette."
"Wah, telur dadar." Katanya setelah kedua matanya terbuka dan menerima piring dariku.
"B-bukan, omelette."
"Sama aja kali."
"Beda."
"Sama, Kak..."
"Beda."
"Ish, omelette itu sama aja telur dadar."
"T-tapi—"
"Ini dari telur kan?"
"I-iya."
"Dadar kan?"
"I-iya..."
"Ya udah, telur dadar."
Entah kenapa kami malah bisa berdebat hanya karena nama.
"Udah. Makan aja yuk, hehe."
"Hehe. Oke. Kayaknya enak nih omelettenya, Kak."
"Karepmu!" Aku yang sebal menyentil jidat lebarnya itu.
"Hahaha." Dia tertawa. Aku pun ikut tertawa karena tingkahnya tadi. Dasar.
Segera aku raih piringku lalu duduk di sebelahnya. Cindy mulai menyantap suapan pertamanya.
"Gimana?"
"Emm, enak banget, Kak, serius!" Matanya berbinar. Sepertinya dia tidak berbohong barusan. Aku turut senang mendengarnya.
"Eh iya, futsal kamu dua hari lagi kan?"
"Ah iya, Kak. Ehehe, dateng ya."
"Jelas lah. Ehehe. Aku anter sekalian?"
"Yakin bangun pagi? Hihihi."
"Yee, bisa lah. Gimana?" Aku melahap suapan pertamaku.
"Okedeh. Janji ya? Awas kalo telat lagi!" Dia menodongkan garpu itu ke depan mataku.
"Ah elah, galak amat sih. Ahaha. Janji."
"Okedehh, hahaha."
Aku menyalakan televisi di depan kami.
"Oh iya, Kak. Aku lawan timnya kak Jinan loh, besok."
"Wah iya? Seru nih."
"Dukung aku dong?"
"Dih, dukung Jinan lah. Emang kamu bisa futsal? Yee..."
"Iiih, emang, Kak? Kakak aja enggak ikutan main di tim cowok? Wlee." Dia menjulurkan lidahnya, mengejekku yang memang tidak bisa bermain futsal ataupun sepak bola. Emm... bukan tidak bisa, hanya saja aku tidak terlalu suka berolahraga.
"Yee, canda kali, Mbul."
"Ahahaha! Dasar!"
Kami pun lanjut mengobrol tentang banyak hal. Kadang soal musik, perkuliahan, film, Cindy bercerita tentang pengalaman masa sekolahnya, macam-macam. Hingga sepiring omelette dan teh hangat itu habis.
Aku bersiap mengantarnya pulang ke kost—tidak enak juga memulangkannya setelah jam malam di kostnya. Aku tidak mau citranya jelek di mata pemilik kost.
***
Smartphoneku bergetar. Aku yang sedang asyik menonton klip video Sheila on 7 meraih benda yang tergeletak tak jauh dari laptopku. Ah, pesan LINE dari Cindy.
22.06 Aku tidur dulu ya kak. Jangan begadang lho. Hehe
22.07 ⋯
22.07 ⋯
22.07 Good night ♥♥♥ Love you
Aaaarrrggghhh! Gemas! Kenapa harus pakai foto sih?! AAAAAKKKK!!
Aku menghela nafas sejenak sebelum membalasnya.
22.07 Iya iya, enggak begadang kok. Hehe.
22.08 Good night mbul, Love u too ♥♥♥
To be Continued...