EPISODE 15
Kriinngg
Kriinngg
Aku terbangun oleh alarm yang sengaja kupasang pukul lima pagi. Mataku kucek sejenak sebelum alarm di smartphone itu kumatikan. Hari ini turnamen futsal jurusan—tim futsal dari tiga angkatan bakal saling berhadapan. Acara tahunan ini memang jadi ajang silaturahmi antar angkatan biar makin akrab. Dan selain dukung tim angkatanku, tentu saja aku datang untuk... siapa lagi kalau bukan Cindy.
Dua hari lalu aku sudah janji mau mengantarnya ke lokasi acara sekaligus dukung dia di sana. Jadi, kau tahu sendiri kenapa aku pasang alarm pagi-pagi buta begini.
Aku duduk di pinggir kasur, mengucek mata sekali lagi sampai rasanya ringan dan nyawa terkumpul kembali. Lalu kakiku melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu, sepertinya tak ada salahnya menikmati secangkir teh panas dulu sebelum mandi dan berangkat menjemput Cindy.
Ikon Instagram kutekan. Layar menampilkan satu postingan kemarin dan deretan stories teman-temanku. Begitu layar kutarik ke bawah, laman me-refresh dan memunculkan unggahan terbaru.
Hmm?
Postingan dari seorang gadis yang kukenal langsung muncul di urutan paling atas. Sebuah video dance cover. Aku tak menyangka ternyata dia sekarang jadi penari. Aku menelan ludah. Badannya juga jauh berbeda sekarang—jauh lebih sexy. Pinggangnya meliuk lincah mengikuti irama lagu upbeat yang mengalun. Kulit putih mulusnya mengintip dari balik kaos dan celana pendek yang ia kenakan. Payudaranya yang pas digenggaman itu berguncang mengikuti gerakannya yang sesekali melompat kecil.
Eeerrggghhh...
Kontolku menegang...
Buruan kuscroll ke bawah sampai video itu hilang dari pandangan. Lebih baik kutekan tombol power sampai layar padam dan terkunci. Kuparkir kasar smartphone itu di meja. Aku menghela napas panjang, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
Sial.
Sial.
Sial.
Aku menggeleng cepat.
Tidak...
Lupakan dia...
Aku bangkit dan bersiap mandi.
***
Kami sudah sampai di stadion universitas, tempat turnamen ini diselenggarakan. Cindy sudah lebih dulu masuk untuk berkumpul dengan timnya. Aku masih di parkiran, menunggu Hary dan yang lain datang. Oh iya, hari ini Cindy kembali menguncir rambutnya, tanpa poni. Dia sempat minta difoto saat aku jemput tadi. Aku jadi gemas sendiri melihatnya dengan gaya rambut itu.
Sepuluh menit berlalu, sebuah mobil yang tak asing lagi parkir tak jauh dariku. Benar, itu mobil Jinan. Tak lama setelah mobil terparkir rapi, perempuan itu keluar dari balik kursi pengemudi. Seragam futsal warna krem dan celana pendek hitam membungkus tubuhnya. Jinan mengibaskan rambut panjangnya sekali sebelum merapikan poni.
Dia berbalik setelah menutup pintu. Dari jarak sepuluh meter, sepertinya dia menemukanku yang sedang menatap ke arahnya. Jinan tersenyum padaku. Senyuman balik dan acungan jempol jadi balasanku. Seperti terburu-buru, dia langsung masuk ke stadion tanpa menghampiriku.
"Aduh aduh, yang kesengsem sama senyumnya Jinan padahal udah punya pacar."
Aku tersentak. Nyaris jatuh dari motorku. SEJAK KAPAN HARY DISINI?!
"Dih! Bacot! Apaan sih Har?!"
"Elah, galak amat. Kok dek Cindy bisa betah ya sama lu?"
"Dak dek dak dek. Lu kok enggak bilang kalo udah nyampe? LINE gue bales njir!" Jantungku masih berdebar gara-gara kaget tadi.
"Udah gue bales ya. Lu gue panggil juga kagak nengok-nengok, ler. Ternyata ngeliatin Jinan. Gue laporin dek Cindy tau rasa lu."
"Eh, eh! Gua senyum doang ye, dia kan mau main ngewakilin angkatan kita juga. Masak enggak gue kasih semangat?"
"Ye ye terserah. Yaudah ayo masuk. Temen-temen udah di depan pintu tuh."
"Lu gak usah bilang aneh-aneh ke Cindy."
"Yee takut amat lu, hahaha!"
***
Pertandingan pertama futsal putra dimenangkan angkatan 14 yang mengalahkan angkatanku 5-3. Selanjutnya adalah laga tim putri angkatan 16 melawan 15—di mana Cindy dan Jinan akan bertemu. Kedua tim memasuki lapangan setelah jeda lima menit. Cindy langsung berada di jajaran pemain utama, sementara Jinan duduk di kursi cadangan. Sorakan semangat kembali bergema saat peluit kick-off babak pertama berbunyi.
Cindy yang menerima bola langsung berlari ke depan. Aku terkejut dia bisa selincah itu menggiring bola sendirian sampai ke depan gawang. Rini, Fira, dan Ika dilewatinya dengan mudah. Tersisa Tyas, sang kiper. Cindy bebas—dia langsung menendang bola ke sudut kanan gawang.
Hap!
Tyas berhasil membendung tendangan keras itu. Gawang selamat. Aku menelan ludah. Cindy ternyata punya energi lumayan juga. Tim angkatanku melancarkan serangan balik. Babak pertama berlangsung sengit, bahkan skor kacamata bertahan sampai babak pertama usai. Sorakan dukungan untuk masing-masing tim terus digaungkan para suporter.
Babak kedua dimulai. Jinan masuk menggantikan Martha sebagai penyerang. Inilah yang kutunggu-tunggu—semoga ada duel di antara Cindy dan Jinan.
Entahlah, sepertinya akan seru.
Jinan menerima bola operan, langsung menuju garis pertahanan 2016. Cindy yang semula di depan ikut mundur membantu pertahanan. Jinan yang masih menguasai bola berhasil melewati dua pemain penghalang. Bola itu langsung ia tembak dari sisi kiri lapangan, namun kiper berhasil menepisnya. Bola diterima Cindy dan langsung dibawanya menuju gawang. Jinan berhasil mengejar.
Cindy berhenti, berusaha melewati Jinan yang kini ada di depannya. Teman satu timnya sedang dijaga ketat. Saat pandangannya lengah, Jinan merebut bola dan kembali menyerang. Dari luar kotak penalti, Jinan menendang bola itu keras. Dan...
GOL!
Tendangan keras yang mengarah ke sisi kiri gawang itu tak mampu dibendung kiper 2016. Sorakan suporter 2015 langsung menggema. Skor sementara 1-0 untuk keunggulan 2015. Pertandingan berlanjut. Jinan langsung merebut bola dari Cindy yang menggiring ke depan. Dengan cepat Jinan menggiring sendirian, namun tiba-tiba salah satu bek 2016 melancarkan sliding tackle yang cukup keras padanya.
Bruk!
Jinan kehilangan bola dan jatuh ke lantai. Bahkan sempat terguling. Wasit langsung meniup peluit dan menghentikan pertandingan sementara. Jinan terlihat merintih kesakitan sambil memegangi pergelangan kakinya. Beberapa temanku di kursi penonton langsung berdiri, begitu juga diriku. Jinan dikerumuni beberapa pemain. Mereka tampak kebingungan memanggil panitia.
"Hah? Enggak ada P3K?! Gimana sih?!"
Kudengar Fira membentak salah satu panitia. Kalau itu benar, bisa bahaya kalau cedera Jinan tak segera ditangani. Beberapa saat kemudian, Jinan dibopong ke pinggir lapangan oleh wasit. Aku langsung berlari menghampirinya dari luar jaring. Pertandingan dilanjutkan, Martha kembali masuk menggantikan Jinan.
Jinan yang basah keringat itu masih merintih. Bekas air mata di pipinya belum kering.
"Lu bisa jalan Nan?" kataku dari balik jaring lapangan.
Dia hanya menggeleng, tak mampu menjawab dengan kata-kata. Isak tangisnya masih terdengar. Pergelangan kakinya terlihat bengkak.
"Angkle kayaknya, Dim." Jelas Anton, teman seangkatanku yang tadi bermain di pertandingan pertama. Dia juga ketua tim futsal kami. Beberapa anggota tim lain di sekelilingnya hanya diam.
"Kunci mobil mana? Gue anter aja ke puskesmas. Kelamaan kalau nunggu dari panitia."
Jinan menunjuk tas kecil warna abu-abunya yang tergeletak di bawah bangku. Putri, teman seangkatanku, mengambilkannya.
"Enggak apa-apa Dim?" tanya Anton lagi.
"Iya, biar gue aja."
Aku memasuki lapangan, menjinjing tas kecil itu, lalu bersiap membopong Jinan.
"Tahan, Nan. Sama gue ya." Kataku berusaha menenangkannya. Jinan hanya mengganguk cepat, masih terlihat menahan sakit di pergelangan kakinya.
Aku membopongnya keluar. Anton mengikutiku sampai ke mobil Jinan. Setelah memastikan dia berbaring dengan posisi nyaman, kubawa dia ke puskesmas yang letaknya tak jauh dari stadion.
***
"Dim..."
"Iya?"
"M-makasih ya..."
"Santai Nan."
Kulihat dia tersenyum manis dari sudut mataku. Kami sedang dalam perjalanan pulang ke rumah Jinan selepas dia dapat penanganan di puskesmas. Untung cedera di pergelangan kakinya cepat tertangani.
"Dim..."
"Iya?"
"Lo udah... berapa lama pacaran sama Cindy?"
Aku menelan ludah. Jeda hening terbentang di antara kami beberapa saat.
"Emm... belum ada sebulan sih."
"Oohh..."
Lagi. Hening.
Kunyalakan audio player. Satu lagu Korea terputar, entah apa judulnya, yang penting suasana di mobil ini tak hening lagi.
"Sebenernya... gue... suka sama lo Dim..."
Kutahan napas, menelan ludah. Telingaku tidak salah dengar, kan?
"Hah?"
"Iya, gue s-suka sama lo Dim."
Apa dia baru saja mengungkapkan perasaannya padaku?
"Kepala lo kebentur tadi ya?"
"Serius anjing."
Kasar...
"Eh, m-maaf..."
"O-oke... dari kapan?"
"Dari... bahkan sebelum gue putus sama pacar gue Dim..."
"Hah?! Lo punya pacar?"
Sebenarnya aku tidak heran. Mustahil perempuan secantik Jinan tak menarik perhatian laki-laki. Hanya saja, dia tak pernah sekali pun terlihat dekat dengan laki-laki manapun, baik di fakultas maupun universitas. Bahkan di media sosialnya tak pernah ada unggahan berisi dia dan pacarnya itu.
"Tapi jujur... gue mulai enggak nyaman sama dia sejak semingguan setelah jadian..."
Jinan mulai bercerita soal mantan pacarnya itu. Dia sering mendapat perlakuan kasar darinya. Bentakan, tamparan, dan pukulan—semuanya sering dia terima.
"Lu mau tau kenapa gue udah enggak perawan? Ya... karena dia itu..."
Aku masih mendengarkan sambil fokus menyetir. Menelan ludah.
"Enggak lama setelah itu... dia mutusin gue... semester 2 kemarin."
"Terus? Lu enggak ngelaporin dia apa gimana gitu?"
"Eng... enggak..."
"L-lu kenapa enggak pernah cerita sih? Pantes dulu lo sempet ngilang juga kan, enggak ikutan aktivitas organisasi..."
Cerita berlanjut soal alibinya belajar gitar padaku agar bisa lebih dekat denganku setelah lama memendam rasa.
"Pas lo nemenin gue beli gitar, lo pegang-pegang tangan gue... kita ketawa bareng... lo ngajarin gue main gitar... itu bikin hati gue tambah luluh..." Jinan menghela napas "...tapi gue paham... lo pasti udah ngejalin hubungan sama Cindy... gue sering mergokin lu berdua jalan, makan bareng, boncengan..."
"...Gue jadi ragu buat ngejar lu..."
Kudengar dia terisak. Saat aku menoleh, dia terlihat menyeka air matanya yang jatuh dengan punggung tangan.
Aku menghela napas. Menepuk dan mengelus-elus bahu kanannya pelan.
"Y-yaudah... kalau udah gini..."
"Yaudah lah ya Dim, hehe... semua udah kejadian juga..."
"Iya..."
"Huft... tapi... lo... masih mau jadi temen gue kan?"
"Hah? Ya masih lah. Ngapain juga gue ngejauhin lu."
"Ehehe... m-makasih."
"Sa—mph?!" Aku terkejut saat tiba-tiba dia melumat bibirku. Untung kami sudah sampai di jalanan sepi dekat rumah Jinan.
"Kalo gitu, gue boleh minta satu permintaan terakhir...?" katanya pelan setelah menjauhkan bibirnya.
"A-apaan?" Jantungku berdebar cepat.
"Kentotin gue sekali lagi, Dim... sekali lagi aja..."
Ya ampun...
Pandangan mata itu lagi...
Sial!
Aku diam. Membalasnya dengan gelengan cepat.
"Oh... oke..."
Ah, syukur kalau dia menger—
Hei!
Hei!
Hei!
Tangan kanannya perlahan menarik ritsleting celana jeansku hingga terbuka. Aku mulai panik saat tangannya meremas-remas kontolku yang masih tertidur di balik celana dalam—walau sudah kutahan dengan tangan kananku. Tatapan menggoda itu dia pakai lagi untuk menatapku. Dia tersenyum nakal, mengedipkan sekali mata kanannya.
"Kaki lo lagi c-cedera Nan... eerrgghh..."
"Bukan memek gue kan?"
Arrgghhh... Jinan dengan seragam futsal itu terlihat semakin menggoda.
Damn it!
To be Continued...