EPISODE 16
Episode 16
Aku membaringkan Jinan pelan-pelan di kasur, ekstra hati-hati supaya kakinya yang cedera itu tidak tersentuh sedikit pun. Aku tidak mau cederanya makin parah karena ulahku. Jinan merangkak mendekati pinggir kasur, sementara celanaku sudah kutanggalkan—penisku kini berdiri tegak memacak. Kembali ia berbaring, kepalanya mendongak ke bawah, rambut panjangnya terurai menjuntai nyaris menyentuh lantai.
Mulutnya terbuka sedikit, sebuah isyarat yang tidak bisa kusalah artikan. Aku tidak menyia-nyiakannya. Aku mendekat, mengatur posisi kontolku di depan mulutnya. Tapi Jinan yang tak sabaran itu justru menarik kedua pahaku, menyeretnya mendekat, lalu melahap kontolku sekaligus. Ia menahannya di dalam mulut beberapa saat, merasakannya memenuhi sana.
Slrrp
Slrrp
Slrrp
Jinan mulai mengisapku. Bibir tipisnya melumat batang daging itu dengan lihai, lidahnya menari menjilati kepala kontolku bagai menjilat lolipop favoritnya. Kedua tanganku yang menganggur tak kubuang percuma—kuremas-remas toket mungilnya yang masih tersembunyi di balik seragam futsal warna krem itu. Entah kenapa, melihatnya masih berseragam seperti ini membuat birahiku meledak-ledak.
"Mnghh..." Lenguhnya, tanpa lepas mengulum kontolku. Sayang sekali, dari posisinya begini aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya.
Kuremas terus toketnya sementara Jinan sibuk mengulum, sesekali mengocok batangku dengan tangannya. Tangan satunya malah main ke kampung halamanku, memilin-milin buah dada bawahku. Sialan. Dia benar-benar tahu cara membuatku teler keenakan.
Drrtt...
Drrtt...
Drrtt...
Dering smartphoneku membunyikan dari saku celanaku. Tapi aku acuhkan. Kenikmatan seperti ini sayang untuk dilewatkan.
"Akkh.. gila... T-terus Naannghh...! Mmpgh..!" Kocokannya makin liar, membuat remasanku di toketnya makin kencang tak terkendali. Tubuh Jinan berginjak-ginjak, sprei kasur yang tadinya rapi kini kusut tak berbentuk.
Beberapa menit ia menghibur kontolku, akhirnya kedua tangannya kutangkap dan kucengkeram erat ke atas. Tanpa aba-aba, kudorong kontolku lebih dalam ke mulutnya. Aku mendesah puas—kehangatan mulut Jinan benar-benar memanjakan kontolku sampai ke akar-akarnya. Tangan Jinan bergerak-gerak, ia mulai meronta. Tapi biarkan kontol itu bertengger di sana lebih lama lagi. Tangan kananku kembali meremas-remas toketnya yang menggoda.
"Mmngghh...! Mngh! Mnnghh!!" Rintihannya tersendat, tersumpal penuh oleh kontolku.
"Eerrgh...! Emut tuh kontol gue Nan! Rasain!"
Drrrttt...
Drrttt...
Drrtt...
Smartphoneku berdering lagi. Mendesah, aku menghentikan remasanku, melepas cengkeramanku di tangannya, lalu menarik keluar kontolku dari mulutnya—walaupun rasanya sayang sekali harus berhenti. Jinan terbatuk-batuk hebat.
"Uhuk uhuk! Anjing! Woe! Uhuk! Lo mau matiin gue kehabisan nafas, ya?! Uhuk uhuk uhuk!" Protesnya padaku, matanya memanas.
"Hehe, maaf. Enak habisnya."
"Bacot! Uhuk!" Ia masih terbatuk-batuk.
"Bentar, ini gue angkat telepon dulu, barangkali pent—" Kulihat layar smartphoneku. Voice call dari Cindy. "Bentar, dari Cindy. Diem." Kutepelkan jari telunjuk ke mulutku. Jinan yang kini terduduk menatapku kesal. Kelihatannya ia masih dengki soal deep throat barusan.
"Halo, mbul? Gimana?"
Jinan mengerutkan dahinya begitu mendengar aku menyebut 'mbul'. Pipiku memanas. Diam-diam kugerakkan mulutku, 'apaan sih'—sementara dia menahan tawa di tempatnya.
"Kak?"
"Eh iya iya? Maaf tadi ngelamun." Aku memalingkan badan dari Jinan.
"Ish... itu, kak Jinan gimana?"
"Oh... Jinan udah aku anter ke rumah kok. Keseleonya udah diurus juga tadi. Tapi kayaknya semingguan deh baru sembuh. Jinannya udah di kamar dari tadi..." Jelasku, setengah berbohong.
"Oh gitu, syukur deh. Ini kakak sekarang dimana?"
"Ini udah mau pesen ojek buat—" Aku kaget. Jinan tiba-tiba merangkak mendekatiku. "—balik lagi ke stadion..." Sial. Terpaksa aku berbohong lagi pada Cindy. Aku menatap Jinan yang tersenyum nakal, menggeleng-geleng kecil saat ia bersiap mengulum kontolku lagi. Ia sudah terduduk tepat di depanku. Tanganku yang satunya berusaha menahan kepalanya.
"Ah, oke deh. Hati-hati ya kak. Tim aku masuk semifinal nih. Hehe. Ditungguu.."
"Oke—"
Slrrp.
Aku lengah. Jinan berhasil lolos dan mengulum kontolku lagi. Aku memacamut desahanku sampai ke ubun-ubun.
"Dadahh... Hati-hati ya kak, hehe."
"I-iya—Mnghh..." Sempat kujauhkan smartphone dari mulutku saat mendesah. Untung Cindy langsung mengakhiri panggilan itu. Dan Jinan? Kembali bergilir mengulum dan mengocok kontolku bergantian.
"Woi! Kalo ketauan gimana tadi?! Mmmggh..."
"Mmgh... Santai kali... Lagian sayang, udah tegang gini... mmpphh..."
Ia menggerakkan kepalanya maju-mundur dengan ritme yang menggila.
Eerrghh... Aku mendesah lagi. Smartphone yang masih kugenggam kulempar begitu saja ke arah kasur, lalu kedua tanganku menjambak rambut panjangnya itu.
"Sshh... aahh... I-iya... Mmhh.. terusshh..." Aku mendesis, mata terpejam. Blowjob-nya Jinan luar biasa nikmat. Kepalanya terus maju-mundur, sementara kedua tangannya sibuk memainkan buah dada bawahku.
Jinan sesekali berhenti, berganti mengulum lalu menjilati kontolku sambil mengocoknya. Bahkan lubang kencingku pun tak luput dari jilatan lidahnya yang nakal. Aku tak bisa berbuat banyak—aku memilih diam, menyerahkan diri pada kelezatan yang ia berikan.
Beberapa menit kemudian, aku merasakan aliran panas itu merayap dari dasar pangkal pahaku. Menjambak rambutnya lebih kuat.
"Eeergggh! Jinan! G-gue nyamp—"
Crot
Crot
Crot
Crot
Belum sempat aku memperingatkannya, sperma itu sudah meledak lebih dulu. Jinan mengerutkan dahi, sempat kaget saat crotahan itu menyembur di dalam mulutnya. Tapi setelah kontolku kutarik keluar, ia menelan semuanya. Tanpa sisa. Wajahnya memerah—begitu pula wajahku.
"Hhh... udah ya, gue bal—"
Jinan dengan mukanya yang paling polos melepas bajunya. Bra hitamnya pun ditanggalkan. Dua toket mungil dengan puting kecoklatan yang sudah mengeras itu terpampang, menggoda untuk dimainkan. Dari posisi yang sama, ia memelorotkan seluruh cellananya sampai ke tulang kering, memperlihatkan memek yang berbulu halus itu. Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering.
"Udah nih, sini garap gue." Ia menopang tubuhnya dengan kedua tangan di belakang, membusungkan dadanya.
Aarrrghh!
Sial!
Kubuat dia berbaring di lantai—tubuhnya kudorong perlahan, tetap ekstra hati-hati agar kakinya yang cedera tak tersentuh. Bibirnya kulumat, toketnya kuremas, setelah seluruh pakaianku juga kutanggalkan. Aku memilih tidak menindih tubuhnya, melainkan berada di sisi kirinya—dari sini pun aku tetap bisa menyerangnya.
"Mmpgh... Mmpffh..." Desahnya saat kucubit dan kupilin-pilin putingnya yang menggemaskan itu. Wajahku mengincar lehernya. Setelah rambutnya kusingkap, lehernya yang terbuka itu kuciumi, hembusan napasku kuhembuskan ke sana berulang-ulang.
"Aahh.. Mmmhhh... Dimmmhh..." Telinganya pun kutiup dan kujilat. Jinan bergidik hebat. Serangan demi serangan kulancarkan selama beberapa menit. Jinan pasti sudah terangsang maksimal sekarang. Baru kemudian kupergilas memeknya—kontolku sudah tegak memacak lagi setelah beberapa saat 'beristirahat'.
Kubuka selangkangannya, kedua pahanya kuangkat perlahan-lahan. Celana yang masih tersangkut di pergelangan kaki kirinya kulepas lepas.
"Siap?"
"Hhh... buruan..."
Slep.
"Aaakkkhhh.... hhh...." Lenguh panjang keluar dari mulutnya saat memeknya kembali merasakan kontolku menghujam masuk.
Aku berusaha meminimalisir guncangan yang bisa membahayakan kakinya. Akh, sudah kuduga, kaki cedera ini akan merepotkanku.
"Genjot.. hhh... Dim...! hhh!" Kelihatannya ia tak tahan lagi dengan kontolku yang memenuhi liang hangatnya itu. Baiklah. Ini dia...
Plok
Plok
Plok
Perlahan, kontolku menghujam memeknya naik-turun. Pinggulku bergerak dalam tempo pelan dulu, tubuh Jinan bergoyang mengikuti irama pinggulku.
"Aaakkkhhh... k-kencengin... anj-ing! AahHH...!"
"Sssttt... ahh... Udah lo nurut gue aja... mmhh...!"
"Kencengin kontol! MmMhHh...!"
Akhirnya aku mengalah. Kupercepat tempo sebisanya—dengan tetap berhati-hati pada kakinya.
"AaKhHH! Terus..! N-njing!! AAAKKHHH!" Ia mendongak ke belakang, mata terpejam rapat, mendesah-desah liar—seluruh nafsunya ia tumpahkan saat ini juga. Kedua tangannya sendiri memainkan dua puting toketnya. Kulitnya mulai membasah oleh keringat.
Beberapa menit berlalu, Jinan menggelinjang tak tentu arah. Tubuhnya menegang. Dia sampai di puncaknya.
"Eerrghh! Dim! G-gue nyamphh..! AakKHHH...!"
Jinan mendapat orgasmenya. Cairan putih itu menyembur, membasahi sebagian selangkanganku dan lantai di bawah tubuhnya. Wajahnya memerah, napasnya sengal-sengal, bibirnya terbuka sedikit, matanya sayu.
Kucabut kontolku dari memeknya, menurunkan kedua kakinya perlahan ke lantai. Lalu kuocok kontolku—dan aliran panas itu sampai juga. Orgasme keduaku.
Crot
Crot
Sperma yang tak sebanyak tadi berhasil kudaratkan tepat di wajahnya. Akhirnya aku bisa melihat lagi wajahnya yang kacau itu—rambut lepek, wajah melumuri sperma. Ia menatapku puas. Begitu pula aku menatapnya.
***
"Udah ya, gue balik ke stadion dulu." Pamitku setelah membantunya membersihkan sisa-sisa permainan kami barusan.
"Iya." Jinan sudah berbaring lagi di kasurnya. "Emm... Dim." Suaranya itu berhasil menahanku di ambang pintu.
"Iya?" Aku menoleh ke arahnya.
"Makasih banget ya... buat semuanya..."
Aku menghela napas, lalu tersenyum lebar padanya. Jinan tampak sangat kelelahan.
"Santai."
"Hati-hati ya, salam buat mbul."
Pipiku kembali memanas.
"Eh eh, udah Nan! Apaan sih?!"
Jinan tertawa melihatku salah tingkah.
"Hahaha. Nan..."
"Apa lagi?"
"Ehehe... besok-besok, gue titip jagain dia ya, pas dia lagi sama lu."
"Sip." Ia membentuk simbol 'OK' dengan jari kanannya.
"Cepet sembuh ya. Gue balik dulu. Salam buat orangtua lo nanti."
"Makasih... ntar gue sampein..."
Aku tersenyum lebar lagi. Sepertinya aku harus bergegas ke stadion. Semoga aku masih bisa mengejar pertandingan semifinal itu dengan ojek online.
***
Hampir dua bulan berlalu. Hubungan Cindy dan Jinan semakin erat. Kami sering makan bertiga di kantin, bahkan aku sering melihat mereka jalan-jalan bersama lewat story yang mereka unggah. Di organisasi jurusan pun mereka satu divisi—pasti makin akrab lagi karenanya. Aku bersyukur mereka berdua bisa akur, terutama Jinan, yang notabene mengalah demi Cindy. Baik-baik ya kalian, hehe.
"Kak?"
"Hah?!"
"Ngelamun lagi ya?"
Aku tersenyum. Cindy yang duduk di depanku menatapku heran.
"Ah, iya. Hehe, maaf..." Aku mengusap-usap rambut gondrongku.
"Hayo, ngelamunin siapa?"
"Hahaha, enggak kok, enggak. Laper aja, jadi ngelamunin makanan."
"Oh, hehe. Dasar. Iya sih, ini lama banget makanannya dateng."
"Ehehe..."
Aku menusuk-nusuk pipi gembulnya itu dengan jari telunjukku. Dia hanya tersenyum, membiarkanku melakukannya.
"Eh iya, kak."
"Kenapa?"
"Bentar lagi sahabat aku mau ke Jakarta, loh."
"Oh iya? Siapa?"
"Aya."
To be Continued...