EPISODE 17
“Oohh, magang.”
“Iya kak.” Cindy memasang helm bercorak Hello Kitty itu, kupingnya sedikit tertutup geometri pink yang konyol itu.
“Kapan berangkatnya?”
“Besok, kak.”
“Naik apa?”
“Kereta, kak. Kita jemput ya pas nyampe.”
“Hah?” Kami saling bertukar pandang, ekspresi heran sama persis di wajah kami berdua.
“Iya, kita jemput di stasiun.”
“Jemput pakai a—”
“Aku udah bilang kak Jinan. Mobilnya boleh dipinjem besok.”
Aku terdiam. Menelan ludah pelan. Dasar... seenaknya sendiri. Untung dia cakep, imut, gembul. Baru sekarang dia kasih tahu kalau aku harus menjemput sahabatnya bernama Aya itu. Entahlah, aku kurang suka hal-hal yang mendadak seperti ini.
“Hehe, kenapa? Kakak kan free besok?” Dia tersenyum lebar, penuh harapan, pipi bulatnya menggembung.
“Iya iya, aku free kok. Besok jam berapa?”
Cindy mulai memposisikan dirinya duduk di jok belakang motorku.
“Dia dari Semarang jam dua siang kak. Paling sekitar jam sembilan malem nyampe sini.”
“Oke.” Mesin motor matic itu menyala. Aku menarik tuas gas, meninggalkan parkiran fakultas dengannya.
***
“AaaKkKHH...! KAKKH...!”
“Ssstt!”
Plok
Plok
Plok
Pantatnya dan selangkanganku bertabrakan setiap kali kontolku menghujam dalam-dalam ke memeknya. Toketnya bergelantung bebas, mengikuti irama tubuhnya yang terhantur oleh setiap sodokanku.
“IyAkkH...! M-MaAFFhh... Besok-besok... MnnGHH..! AKU bakaL nGaSIH TAU DULU!”
Plak!
Plak!
Plak!
Aku menghentikan hujaman kontolku. Pantat Cindy yang lumayan mantap itu kutampar berkali-kali, meninggalkan jejak kemerahan di kulitnya.
“Aakhh... Akkhh... Mmppgh...!” Dia melenguh menikmati 'hukuman' yang kuberikan.
“Gak. Maaf enggak diterima! Pokoknya...hhh... kamu harus dihukum! Mhh...!” Aku kembali memaju-mundurkan pinggulku, menghujam liang hangat yang sudah becek sejak tadi oleh cairannya. Rambutnya yang terurai mulai terlihat lepek. Punggungnya mengkilap basah oleh keringat, dan pemandangan itu justru menambah birahiku untuk terus 'menghukumnya'.
“AakkhhH... MmmHHH... iya kaakk... aku emang salahh... mmhphh... HUKUM AKU KAAKK...!” Pintanya lirih, penuh haru birahi.
Kedua tanganku mencengkeram erat pinggulnya, sodokanku kupercepat semampuku. Aku melihat kedua tangannya yang menumpu badan itu menggenggam sprei merah dengan erat, hingga jari-jarinya memutih.
“MMmmpHG... Iyaahghh... T-terusshh KaAK...! MmmPHH...! K-kencengaann...!”
“Aahhs.. Hmmpgh...” Aku mengiyakan permintaannya. Menggigit bibir bawah, aku mempercepat sodokan kontolku sesuai permintaannya.
“ErrgGhH...! KAKK...!!”
Aku menghentikan sodokanku. Tubuhnya menegang sejenak sebelum akhirnya pinggulnya bergetar hebat.
Seerr...
Cindy mendapat orgasme pertamanya. Selangkanganku terciprat sedikit cairannya. Sprei di bawahnya pun basah. Ah, harus ganti sprei lagi. Semoga masih ada stok di lemari.
“Ahh... hhh... hhh...” Cindy tersengal-sengal. Dia masih tertahan di posisi itu, memeknya masih tertancap rapat oleh kontolku.
Plak!
Plak!
Plak!
Kembali, beberapa tamparan keras mendarat di bongkahan pantatnya. Cindy hanya bisa melenguh dan menerimanya semua. Puas memainkan pantatnya, kontol itu kucabut dari memeknya. Tubuh Cindy kurebahkan di kasur. Dia menatapku sayu.
“Kenapa kak? Udah capek?” Ejeknya sambil menjulurkan lidahnya nakal.
Oh, nantang?
Slrrpp
Slrrpp
Puting kirinya yang sudah mengeras langsung menjadi sasaran kulumanku. Dengan liar kujilat, sesekali kugigit-gigit pelan. Toket kanannya tak luput dari remasan tanganku. Cindy menggelinjang hebat, kedua tangannya berusaha menyingkirkanku dari kedua bongkahan besar itu. Namun percuma—tangan kiriku berhasil menahannya.
“Iihh... geli kaakk.. mmppghh... aahhssh...!”
Aku terus menyerang kedua teteknya secara bergantian hingga basah oleh air liurku. Entahlah, sepertinya aku sedikit lebih kasar padanya kali ini. Tapi desahan yang terus keluar dari mulutnya tidak bisa berbohong—dia menikmatinya. Remasan demi remasan kulancarkan di kedua toketnya itu. Desahannya semakin liar, tubuh kami semakin basah oleh keringat, aroma birahi kami menyebar memenuhi setiap sudut kamarku.
“AaaKKHH... KaAKK...!! Aaku... MMpPgGHH...!”
Cindy mendapat orgasme keduanya hari ini. Senyum kemenangan kulemparkan padanya. Cindy membalas menatapku sayu dengan napas tersengal. Belum. Aku masih belum puas menghukumnya. Wajahnya masih belum terlumuri spermarku.
Aku langsung beralih ke memeknya lagi. Kedua pahanya kubuka dan kuangkat hingga lubang becek itu kembali terlihat jelas. Tanpa basa-basi, kontolku yang masih tegang itu kembali menyodok vagina hangatnya. Lenguhan Cindy kembali pecah saat liangnya dimasuki lagi. Wajahnya memerah, bibir bawahnya digigit kuat-kuat, matanya terpejam rapat.
“Mmmpphh... a-ayo kaakk...!”
Baiklah. Aku tak menunggunya meminta dua kali. Pinggulku langsung bergerak memaju-mundurkan.
“AaKhH! AaHhH!! Mmppgh! Yakh..! T-terus.. Kaakk!”
Matanya masih terpejam, mulutnya menganga sedikit. Beberapa helai rambut menutupi wajahnya, membuatnya tampak kacau dan menggairahkan. Kedua toketnya yang menjulang itu dia remas-remas sendiri.
“Mmpgh! Mmpgh! Ahhss...” Sodokan demi sodokan terus kulancarkan. Tubuhnya yang terbaring ikut bergeser maju-mundur seirama dengan tempoku. Spreiku benar-benar berantakan sekarang.
“Aaahh... E-ENAKK...! MmpGH..!!” Desah Cindy, tangannya kini berhenti meremas toketnya sendiri. Keduanya mencengkeram erat sprei kasurku.
Plok
Plok
Plok
Aku mempercepat tempo. Sepertinya aku sudah hampir sampai. Sedikit lagi... sedikit lagi...
Plok
Plok
Plok
Ini dia. Aliran sperma itu bisa kurasakan merambat hampir sampai di pucuk kontolku.
“Eeerrghh...”
Crot
Crot
Crot
Crot
Sperma itu tertembak sesaat setelah kontolku kucabut dari memeknya. Cairan kental itu tumpah banyak di pusar dan sela-sela toketnya. Pipinya hanya terkena sedikit. Sialan. Aku masih belum puas.
Aku membalik badannya hingga Cindy tengkurap. Dia terkejut dengan tindakanku yang mendadak ini. Dari sudut wajahnya, kulihat matanya menunjukkan rasa cemas. Tapi aku tak peduli. Dia sedang dihukum.
Kedua tangannya kutangkap dan kutarik ke belakang. Tangan kiriku meraih branya yang tergeletak tak jauh dari kasur. Tanpa perlawanan, kedua tangannya kini terikat menyilang oleh bra itu.
Sret
Aku menarik kedua talinya, memastikan simpulnya mengikat erat kedua pergelangan tangannya.
“Eh eh! Kak! Hati-hati... kalau rusak gimana bra aku!”
“Diem ah, beli lagi gampang!”
“Iiihh... kenapa harus diikat sih?!”
“Sstt!”
Setelah beres, aku menarik badannya turun dari kasur.
“Duduk!” Aku mendorong bahunya ke bawah. Cindy pasrah menuruti perintahku hingga kini ia duduk dengan kaki terlipat ke kiri. Dia mengangkat wajah, memasang tatapan memelas padaku. Rambutnya berantakan sekali, kacau balau. Nafsuku langsung naik lagi melihat kondisinya yang tak berdaya seperti ini. Kontolku kembali mengacung tegang.
Aku membelai rambutnya, menyematkan beberapa helai di sela daun telinganya. Lalu kontol itu kudekatkan ke wajahnya.
“Ise-mmpgh! Oohh...!” Belum sempat tanganku menyentuh kepalanya, Cindy sudah lebih dulu mengulum kontolku itu bagai permen lolipop. Bibir tipisnya dengan lihainya mengisap dan melumat batangku—jauh lebih jago daripada pertama kali dia melakukannya dulu.
Kedua tanganku memegangi kepalanya yang sibuk memberikan blowjob. Cindy memaju-mundurkan sendiri kepalanya, kontolku sudah basah oleh air liurnya. Kadang ia berhenti, melumat-lumat sekeliling batang, lalu maju-mundur lagi. Lidahnya menjilat-jilati kepala kontolku di dalam sana. Dia tampak menikmatinya. Begitupun aku. Aku mendongak, napasku memburu. Kontolku benar-benar dimanjakan olehnya.
Aku menghela napas.
Rambut panjangnya kujambak.
“Mmghp?!” Kulumannya terhenti. Cindy meringis.
Aku menahan kepalanya diam, sementara pinggulku mulai bergerak maju-mundur, menusuk-nusuk mulutnya dengan kontolku. Mulutnya tetap melumat kontolku setiap kali masuk ke dalamnya. Aku menggigit bibir bawah, memejamkan mata, mendongak. Sial. Nikmat sekali.
“Mmpgh... Mmphh..” Erangannya tertelan oleh batang yang menghunjam di mulutnya.
Slrp
Slrp
Slrp
Gerakan itu berlanjut beberapa saat hingga akhirnya aku mulai merasakan lagi aliran sperma itu. Tidak boleh gagal lagi. Segera kulusutkan kontolku dari mulutnya, kuocok cepat hingga sperma itu akhirnya siap tertembak.
“Ih kak! J-jangan di muk—”
Crot
Crot
Crot
Yes! Berhasil. Nyaris seluruh wajahnya belepotan dengan spermarku. Cindy tak sempat menghindari semburan itu.
“Nngh... kaakk... tisu... Mmgh...” Rengeknya padaku, tangannya masih terikat.
Cindy memejamkan mata, mungkin risih dengan sperma yang menempel di wajahnya.
“Issh... buruan kak...”
“Sabar... nih, bersihin dulu.” Aku menyodorkan kontolku ke depan bibirnya. Dia menyambutnya dengan lumatan yang nikmat. Beberapa saat ia mengulumnya, lalu menutupnya dengan kecupan lembut di kepala kontolku.
Aku meraih lima lembar tisu. Perlahan kuusap wajahnya, membersihkan sperma yang melekat di sana. Matanya terbuka, menatapku dalam, lalu tersenyum lebar.
“Udah puas hukum aku? Hmm?”
“Hehehe...”
“Enaknya nakalin maba...”
“Hahaha, apaan sih, udah biasa juga.”
Kami tertawa kecil. Selesai membersihkan wajah dan badannya dari spermarku, ikatan di tangannya kulepas.
“Sana mandi, aku beliin es krim.” Aku merebahkan diri ke kasur.
“Mmhh... aku mau ikut makan...” Rengeknya sambil memanyunkan bibirnya di bawah sana.
“Hm? Iya sih, aku juga laper. Makan apa?”
“Ayam geprek.”
“Ish, mbul. Ingat kemarin-kemarin kamu sakit gara-gara kebanyakan ayam geprek lho.”
“Iyaa... aku tau... ayoo kaakk... nanti cabenya aku kurangin deh...”
“Bener ya. Gak boleh sakit lagi pokoknya gara-gara makan pedes-pedes.”
“Iyaa...”
“Okedeh. Dah, sana mandi.”
“Okee. Hehe, makasih kak.”
Cindy bangkit berdiri, mengambil handuk dari dalam lemari, lalu berjalan keluar menuju kamar mandi. Sementara aku tiduran memainkan smartphone, menunggunya selesai mandi.
***
Tok
Tok
Tok
“Permisi...”
Hari berganti. Aku sudah berada di rumah Jinan untuk meminjam mobilnya. Aku menunggu beberapa saat, tak ada respon dari dalam. Terlihat sepi—sepertinya Jinan sendirian lagi di rumah. Kedua orang tuanya pasti sedang ada urusan kerjaan lagi, keluar kota.
Tok
Tok
Tok
Kembali aku mengetuk pintu itu.
“Bentar, Dimm..!”
Terdengar suara Jinan dari dalam. Baiklah, aku lega. Tak berselang lama, pintu itu terbuka. Jinan yang berkacamata itu muncul dari baliknya. Ia mengenakan celana pendek hitam dan kaus putih. Ia tersenyum lebar begitu melihatku. Aku menahan napas. Dia cantik...
“Halo. Nih, kuncinya.” Dia menyerahkan kunci mobil itu padaku.
“Halo. Ehe, pinjem dulu ya.” Aku menerima kunci itu.
“Santai. Eh, Cindy mana?”
“Oh, dia masih di kos. Mau siap-siap dulu katanya.”
“Oh, oke, sip sip. Motor lu masukin sini aja, Dim.” Jinan menunjuk area di garasinya. Aku mengangguk. Motor itu kuparkir sesuai perintahnya. Memastikan semua sudah beres, aku berpamitan sambil membawa mobil itu.
“Pinjem dulu ya.”
“Ati-ati, Dim.” Dia melambaikan tangan sambil tersenyum hangat padaku.
Aku membunyikan klakson, menjauh dari kediamannya itu. Lewat spion, kulihat Jinan menutup gerbang.
***
Cindy dan aku berjalan memasuki stasiun, menunggu di titik yang sudah mereka rencanakan sebelumnya—sesuai saranku yang lebih lama tinggal di Jakarta ketimbang dia. Orang-orang berlalu lalang, namun gadis yang kami tunggu tak kunjung datang. Yah, mungkin gara-gara kami datang terlalu cepat ke sini. Padahal tadi kami mengira akan terjebak macet.
Sekitar sepuluh menit kami menunggu, akhirnya gadis yang kami tunggu itu datang dari arah selatan. Cindy yang melihatnya langsung menghampiri dan memeluknya. Mereka heboh sendiri, membuat beberapa orang sempat menoleh ke arah mereka. Ah, dasar, perempuan...
Aku bangkit dari tempat duduk dan menghampiri mereka berdua.
“Aya, ini kak Dimas. Hehe...” Cindy mengenalkanku padanya.
“Oohh... ini toh mas Dimas. Hehe. Salam kenal, mas. Aku Aya.” Dia menurunkan masker yang dikenakannya, tersenyum padaku, lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat. Aku menahan napas ketika melihat senyum manis itu.
Ya ampun...
Dia...
Cantik...
To be Continued...