EPISODE 18
Episode 18
“Oh... asli Palembang?”
“Iya, mas.”
Aku mengangguk pelan, mencerna informasi itu sambil tetap memperhatikan jalan.
“Aku sekeluarga pindah ke Purwokerto pas umurku 16 tahun. Nah pas SMA itu aku kenal sama Cindy.” Tambahnya lagi.
Aku melirik ke belakang lewat spion. Cindy sudah terlelap di kursi belakang. Dasar... padahal beberapa menit yang lalu dia dan Aya masih riuh sekali mengobrol.
“Magang di mana, Ney?”
“Koran, mas. Sebulan saja.”
“Apply jadi...?”
“Emm... belum tahu sih, mas. Besok hari pertama baru dibagi tugasnya.”
“Ohh... Kok baru semester satu udah magang?”
“Ya... pengen nyari pengalaman aja, mas. Hehe. Kebetulan tempat magangku syaratnya nggak ribet, jadi bisa masuk.”
Aku tersenyum mendengar jawabannya yang polos itu.
“Purwokerto, Semarang... wis isoh basa Jawa durung?”
“Wah, belum, mas, haha. Kalau dengar orang ngomong masih paham artinya, tapi kalau ngomong sendiri, belum bisa. Sulit.” Jelasnya sambil tertawa kecil.
“Walah, patang taun nang Jawa durung isoh ngomong Jawa ki piye?”
“Hahaha, ya mas Dimas mau ngajarin aku? Orang Jawa asli, toh?”
Boleh, hehe... malah aku yang senang.
“Emm... ya ayo, kapan? Hahaha.”
“Kapan-kapan, hehe.”
Beberapa saat keheningan menyelimuti kabin. Aku menyalakan radio, membiarkan alunan musik mengisi sunyi.
“Udah Aya, tidur dulu. Nanti kalau udah mau nyampe, aku bangunin.”
“Ah, nggak usah, mas. Nanti mas Dimas nggak ada temennya.”
“Walah, udah, aku masih belum ngantuk kok. Masih lama nih meleknya.”
“Oohh... yaudah. Ceritain dong gimana bisa ketemu Cindy, mas.”
Wajahku memerah mendadak. Dari spion, kulihat Aya menahan tawa di belakang sana.
***
“Makasih ya, Cindy, mas. Maaf lho malah repot-repot...” Senyuman lebar nan hangat itu kembali ia lemparkan.
“Santai. Yakin nih nggak sekalian mau dibantu beres-beres?” Tawar Cindy sekali lagi.
“Ah, udah. Nggak usah.”
“Okedeh.” Cindy dan Aya saling berpelukan sebagai salam penutup hari ini. Emm... aku boleh ikut di tengah-tengah, nggak?
“Udah ya.” Cindy berjalan mengekoriku selepas pelukan itu.
“Makasih ya semuanya.”
“Yops.” Aku menoleh ke arahnya sambil melambaikan tangan.
“Okee.” Cindy juga melakukan hal yang sama.
Sret.
Sabuk pengaman kukeningkan setelah aku duduk di kursi kemudi dan menutup pintu. Cindy membuka kaca mobil, melambaikan tangan sekali lagi untuk sahabatnya yang masih berdiri di balik pagar, menunggu kami pergi. Kunci kontak kuputar, mesin mobil kembali menyala.
“Mampir ya kapan-kapan.” Sekali lagi, senyum manis itu ia lemparkan.
Ya ampun... semoga kita cepat ketemu lagi ya, Ney, hehe.
Perlahan, kami mulai menjauh dari kontrakan itu, kembali pulang.
Nurhayati. Gadis yang menarik. Parasnya cantik khas Indonesia. Dia juga ramah, hangat, dan cukup interaktif. Setidaknya itu yang kutangkap dari pertemuan kami hari ini. Tidak buruk sama sekali. Aku penasaran, apakah Cindy masih punya teman-teman yang cukup ‘menarik’ lainnya, hehe.
“Huft...”
“Kenapa, mbul?”
Cindy terlihat sibuk dengan smartphone-nya, membalas sebuah chat.
“Gerbang kosku udah digembok.”
“Lah, kok? Kan masih jam segini?”
“Iya... sekarang kadang jam sebelasan begini udah digembok.”
Aku melihat jam tanganku. Jarum-jarumnya menunjuk pukul sebelas lewat empat belas menit.
“Oh... yaudah, terus ini kamu gimana?”
“Bentar.”
Dia kembali memainkan jarinya di atas layar, mengetikkan sebuah pesan, sepertinya.
“Kak, aku nginep kontrakan kakak ya.”
“Nggak. Kamu aku buang aja di kali Ciliwung.”
“Iiihhh!”
“Aaaakkk!”
Cindy mencubit tangan kiriku. Salah satu hal yang kutakuti darinya—cubitan itu sakit. Percayalah.
“Kaakk...” Dia melenguh, nada memohon padaku. Ia memelintir tangannya hingga cubitannya terasa semakin perih. Tangan kananku yang semula memegang kemudi menampar-nampar pelan tangan nakalnya itu.
“Aakk— I-iya, iya! Canda doang! Lepasin! Sakit!”
“Nah, gitu dong, hehe.” Dia tersenyum puas, seperti anak kecil yang dipenuhi permintaannya.
Aku mengelus-elus bekas cubitan itu sambil menunggu lampu lalu lintas berubah hijau. Awas aja ya kamu...
***
“Aaakkhh... MmMPhhH”
Cindy melenguh kasar saat kedua putingnya kupilintir pelan. Selalu ada kepuasan tersendiri mendengar suara seksi itu keluar dari mulutnya—dan akulah orang yang membuatnya seperti itu.
“Dih, keenak—”
Kepalaku ditariknya mendekat, bibirku langsung ia lumat begitu sampai di jangkauannya. Kedua tangannya menahan kepalaku dari belakang, tak ingin ciuman ini cepat berakhir. Aku semakin liar mencumbunya, sampai kepalanya kadang tertekan ke bantal di bawahnya. Sementara bibir kami saling melumat, kedua tanganku masih bermain-main dengan dua gundukan menggoda itu. Kuremas perlahan, kadang jempolku menekan dan memutar-mutar putingnya yang mulai mengeras. Lumayan juga, bisa merasakan lagi sensasi memainkan analog stik Playstation setelah sekian lama. Terima kasih ya, Cindy, hehe.
Lehernya menjadi sasaran bibirku berikutnya setelah puas bertukar liur dan melumat bibir tipis seksinya. Leher sebelah kanannya kuserang dengan beberapa ciuman, tak lupa tiupan-tiupan pelan di sana. Cindy bergidik. Aroma shampoo masih wangi di rambutnya.
“Mmhh... Sshhmmhh...”
Cindy terus bergerak-gerak, menikmati semua rangsangan yang kuberikan. Setelah beberapa saat, kuakhir semua aktivitasku. Dengan satu gerakan, kutarik seluruh celana Cindy hingga kini ia telanjang bulat. Rupanya ia sudah lumayan basah.
“Nakal banget sih, kak.”
“Halah.”
Aku memegangi pinggulnya, berniat memposisikannya sesuai keinginanku.
“Eits, aku sendiri aja.”
“Hm?”
“Biasa kan?”
Aku hanya tersenyum melihat muka sok nakalnya. Entahlah, bagaimanapun juga, wajahnya tetap saja imut di mataku. Kubiarakan dia memposisikan diri sendiri, sementara aku membebaskan kontolku yang sudah tegang keras dari sarangnya. Cindy sudah dalam posisi—kedua tangan dan lututnya menopang tubuhnya, siap menantiku.
Plak.
Plak.
Plak.
Kutampar pantatnya yang lumayan kenyal itu beberapa kali, dan erangan seksi itu kembali terdengar dari mulutnya.
Plak.
Plak.
Plak.
Kedua tanganku memegangi pinggulnya, bersiap memasukkan kontolku ke dalam memeknya. Namun sesaat sebelum ujung kontolku menyentuh lubang kewanitaannya, tiba-tiba terbesit di kepalaku untuk mencicipi satu lubang lainnya. Yap, lubang anusnya.
“Kak...?”
“Mbul... b-boleh ya...?” Aku menempelkan kepala kontolku di luar lubang anusnya.
“Eh?! Eh!” Cindy tersentak lalu tiba-tiba membalik tubuhnya, menyembunyikan pantatnya dariku. Dari ekspresinya, sepertinya dia ketakutan.
“K-kenapa?”
“J-jangan analin aku, kak... plis.” Dia sedikit mengangkat tubuh bagian atasnya.
“Iya kenapa?”
“Pokoknya jangan! Sakit... aku takut...”
“Ha? Kamu tahu darimana? Emang pernah nyoba?”
“Aku nonton vid—” Cindy membekap mulutnya sendiri dengan tangan kanannya, matanya membulat. Dia seperti habis membocorkan sebuah rahasia besar padaku.
“Video...? Kamu nonton bokep?”
Wajahnya memerah. Ia mengangguk pelan.
“K-kan udah gede, kak...” Cindy membuang muka, tak mau menatapku.
“Emang isinya gimana videonya?”
“Emm... ya gitu... ceweknya ditusuk-tusuk lubang anusnya pake kelamin cowoknya... ceweknya kayak kesakitan banget...” Jelasnya. Aku masih terkesima mendengar hal semacam ini dari mulut seorang perempuan.
“Ah, enggak. Coba aja dulu ya...” Aku kembali memegangi pinggulnya.
“Eng-enggak! Aku juga pernah baca cerita kalau dianal itu sakitnya ngelebihin pecah perawan!” Dia menepis kedua tanganku. Aku menelan ludah.
“P-pokoknya... pokoknya jangan, kak... plis... jangan...” Cindy menatapku penuh harap.
Yah, mau bagaimana lagi? Kalau memang dia belum mau, aku juga tak bisa memaksanya. Sepertinya memang aku harus menunggu.
“Y-yaudah deh...”
“M-maaf...”
“Udah, udah... lanjut?” Aku menatapnya nakal.
“Ehehe...”
Dia kembali melahap bibirku. Bunyi decakan yang tadi pernah kami buat kembali terdengar. Ciuman itu berlangsung singkat, hingga akhirnya dia kembali ke posisi semula. Aku pun bersiap di posisiku.
“Nngghhh... AaAhh...”
Memeknya kembali menerima hujaman kontolku. Satu lagi malam yang kulewati bersamanya di kamar ini.
***
“Halo, Dim?”
“Halo.”
“Kenapa?”
“Sorry, mobil lo jadinya gue balikin pagi ya...”
“Oh... iya, Dim, selaw. Ini juga deres banget hujannya, kasihan lo ntar baliknya.”
“Okedeh.”
“Eh tapi... balikin sebelum jam 9 ya, gue mau nonton sama Tyas soalnya.”
“Siap. Nonton apaan?”
“Fantastic Beasts...”
Oh iya, Jinan memang suka Harry Potter. Kalau tidak salah, film itu masih ada hubungannya dengan cerita penyihir laki-laki berkacamata bundar itu.
“Wih, okedeh.”
“Lu gamau ikutan?”
“Enggak ah, enggak paham gue film begituan.”
“Yee, lu mah pahamnya bokep doang ya?”
“Woe, kagak, anjir!”
“Ahahaha! Canda, Dim.”
“Yaudah, besok—enggak—ntar pagi gue balikin ya.”
“Iya, iya.”
“Udah ya. Tidur lu.”
“Dih. Iyaa...”
Aku mengakhiri panggilan itu. Segelas teh hangat di meja ini kuhabiskan. Mataku sudah mulai berat, sepertinya aku akan menyusul Cindy tidur sekarang. Selepas memastikan semua pintu terkunci dan jendela tertutup rapat, aku memasuki kamar. Cindy terlihat sudah tertidur pulas di sana. Cukup puas sudah membuatnya orgasme tiga kali tadi.
“Darimana, kak?”
Lah, melek ternyata.
“Bikin teh, sama nelpon Jinan.”
“Oh, ngembaliin mobil ya?”
“He’eh.” Aku menarik selimut dan memposisikan diri tidur di sampingnya. “Kok masih melek? Dari tadi?”
“Barusan kok, pas kakak buka pintu...” Dia mengubah posisi tidurnya, memunggungiku.
“Ooh... yaudah, tidur lagi.” Aku mengusap dahinya.
“Kak...”
“Iya?”
“Nonton yuk ntar...”
“Emm... boleh. Mau Fantastic Beasts?”
To be Continued...