←18+
← As Elegant As Aurora

Episode 19 — As Elegant As Aurora

EPISODE 19
“Mmpgh...” “Mmhh...” “AaAhHH... M-mas... U-udah... Udah!” “Mmghh! A-Aya...!” Mataku membuka dengan paksa. Sadar-sadar saja badanku sudah terduduk di atas kasur, keringat dingin membasahi punggung dan pelipisku. Barusan itu... aku mimpi... tentang Aya. Tapi kenapa harus Aya?! Jantungku masih berpacu liar. Aku menoleh ke samping kiri—tempat tidur itu sudah kosong. Cindy tidak ada di sana. “Eh, udah bangun?” Suara Cindy mengejutkanku dari arah dapur. Dari kamar, lewat pintu yang terbuka lebar, aku bisa melihatnya dengan rambut yang dikuncir rapi, sibuk di depan kompor. “Ehehe... masak ya?” Balasku dengan suara masih serak. Aroma masakannya merambat masuk ke kamar—sepertinya nasi goreng, seperti biasa. “Bentar lagi jadi.” Aku mengerjap beberapa kali, lalu menyibak selimut. Dan di sanalah, di balik celana pendekku, penisku mengacung tegak dengan angkuhnya. Tonjolannya menonjol begitu jelas. Eerrghh... Aku melirik ke arah dapur. Cindy masih asyik dengan teh yang diseduhnya. Hmm... kalau tidak salah, Cindy pernah bilang... sering-sering olahraga pagi biar sehat... Kedua kakiku melangkah sunyi senyap menuju dapur. Cindy masih sibuk, tak menyadari kedatanganku. Aku mengendap-endap sampai tepat di belakangnya, lalu berjongkok, dan... Grep “Eh?!” Cindy terperanjat begitu kedua telapak tanganku meremas pantatnya. Denting gelas terdengar tipis. “Hehe, pagi, gembul...” Sret Sekali gerakan, celana pendek Cindy kutarik turun. Pantatnya langsung memekak di depan wajahku—perempuan ini tidak memakai celana dalam sama sekali. “Kak!” Cindy buru-buru memutar badan. “J-jangan analhh... mmpgh...” Sebelum sempat dia menutupnya, ligaku sudah menyambar liang kewanitaannya. Lidahku menjilati memeknya dengan rakus, sementara kedua tanganku tidak tinggal diam—merayapi pahanya, menggerayangi kulitnya yang halus hingga Cindy bergoncang. Tangannya berusaha mendorong kepalaku yang masih nakal menempel di selangkangannya. “Aduh, kakhh... Mmpghh... m-masih pagiihh...” Aku bangkit, lalu lumat bibir tipisnya. Cindy yang semula kaku perlahan mulai membalas ciumanku. Lidah kami saling mengait, saling menjelajah. Kedua tangannya kini menahan kepalaku, memeluknya erat. Decakan liar terpancar dari ciuman kami yang saling melumat. Deru napas kami saling memburu. Dua gundukan toketnya yang masih terbungkus kaus kutekan pelan, dan lenguhnya makin gemuruh di mulutku. Di dalam celanaku, kontolku makin memberontak, sudah tidak tahan ingin bebas. Masih melumat bibirnya, kusibak dan kulepas seluruh pakaian bagian bawahku. Kami melepas cumbuan itu, dan Cindy—dengan tangan kirinya—mengocok kontolku pelan beberapa kali sebelum mengangkat kakinya. Tak tega membuatnya menunggu, atau mungkin aku sendiri yang sudah tidak sabar, pinggulku kudorong—menembakkan kontolku masuk ke dalam memeknya. “Mmghh...” Lenguh kami pecah hampir bersamaan. Lubang sempit itu memijit dan menelan kontolku sampai ke pangkal, membuatku selalu menikmati setiap detik yang kuhabiskan di dalam sana. Cindy mengaitkan kedua lengannya di leherku, kakinya menyilang di punggungku, dan aku menyangga seluruh berat badannya di kedua pahanya. “Kakak tingkat kampret...” “Hm...?” Aku tersenyum geli. “Rasain.” Plok Plok Plok Cindy mulai menggerakkan pantatnya sendiri, maju-mundur menghantam kontolku. Errgghh... Sial. Enak... *** Aku lahap lagi sesuap nasi goreng buatan Cindy. Masakannya memang tak pernah mengecewakan—selalu mampu memanjakan lidahku. Istri idaman, sungguh, hehe. Aku melirik ke kiri tempatnya duduk. Cindy sedang mengunyah, dan di kepalaku masih terngiang ekspresinya—mata sayu, mulut ternganga—selepas tiga kali orgasme yang kuberikan padanya tadi pagi. “Kenapa, kak?” Sepertinya dia menyadari lirikanku. “Enak banget sih nasi gorengnya.” “Hehe, makaseh.” Senyumnya merekah lebar mendengar pujianku. Dan aku bersungguh-sungguh—ini nasi goreng terlezat yang pernah kumakan seumur hidup. Aku menggeser badanku sampai tepat di sampingnya. Cindy bersandar manja di bahu kiriku, kecil seperti anak kecil. Aku mengambil sesendok nasi goreng lagi, lalu menyuapkannya ke bibirnya. “Ak...” Cindy melahap suapanku, wajahnya memancarkan kebahagiaan yang sederhana. Aku mengusap-usap dahinya pelan. “Oh iya, kak.” “Kenapa?” Cindy masih mengunyah. “Udah bilang kak Jinan?” “Eh, belum.” “Ye, kirain.” Aku meraih smartphone yang tergeletak di meja. Jariku menekan layar, melakukan voice call ke Jinan. Tak sampai lama, panggilan itu terangkat. “Halo?” “Halo, Jin.” “Heh!” “Apaan?” “Bagusan dikit kek! Nan apa Jinan gitu, kayak biasanya.” “Ye, ye, canda. Ahahaha. Galak amat sih.” “Hih... Kenapa nelpon?” Aku mengaktifkan loudspeaker, sementara Cindy meraih remote dan mengecilkan volume TV. “Haloo kak Jinaaann.” “Walah, ada Cindy toh. Sarapan berdua ya? So sweet.” “Hehe.” “Hehe.” “Gimana gimana?” “Gue ntar juga nonton ya, sama Cindy juga.” “Ohh.. okelah.” “Tapi kita nonton Moana, kak.” “Oh yaudah sih, santai. Jam?” “Nah ini gue ngikut lo aja, Nan. Lu udah beli tiket?” “Belum, sih. Gue niatnya malah enggak jadi nonton tadi.” “Lah kenapa?” “Tyas ada acara keluarga. Gue males berangkat sendiri.” “Oohh...” “Yaudah sih, agak siangan aja gimana? Nonton yang jam satu.” “Okedeh.” “Sip, gue tunggu ya kalian.” “Oke kaakk.” “Okee.” Voice call itu kuakhiri. Cindy dan aku melanjutkan sarapan sambil menonton Tom & Jerry yang tayang di televisi. “Kak.” “Iya?” “Kapan-kapan dong olahraga pagi.” “Lah, tadi itu—” “Bukan olahraga yang itu!” *** Singkat cerita, aku, Cindy, dan Jinan sudah berada di mall tempat kami akan menonton. Berada dalam satu lift dengan dua gadis ini benar-benar ujian kesabaran—aku harus memegang kendali penuh agar tidak bertindak kurang ajar. Aroma parfum vanilla semerbak menyelimuti Jinan yang mengenakan hoodie putih, celana jeans, dan sepatu casual. Sama seperti Cindy—hanya saja ia memakai kemeja kotak-kotak sebagai atasan, dan Cindy mengenakan parfum stroberi yang manis. Tidak. Tidak boleh. Lift bukan tempat yang tepat untuk threesome. Tunggu—threesome?! Aku menggeleng cepat. Ding! Pintu lift terbuka begitu kami sampai di lantai tujuan, dan kami bertiga melangkah masuk ke bioskop. Beruntung, tiket masih tersedia untuk sesi yang sama. Aku dan Cindy menonton Moana, sedangkan Jinan memilih Fantastic Beasts. Masih sekitar 20 menit sebelum jam yang tercetak di tiket. Dua gadis itu duduk di bangku tunggu, sementara aku berinisiatif membelikan popcorn. “Nih.” Aku menyerahkan satu bungkus popcorn sedang pada Jinan. “Lah, kok punya gue kecil? Cindy gede?” Protesnya begitu melihat bungkus lain yang lebih besar di tangan kiriku. Emang punya lo kecil, Nan... “Kan lo sendiri, Nan. Gue berdua sama Cindy.” “Ahaha, canda doang, Dim. Thanks.” “Makasih kak Dimas.” Cindy menerima popcorn itu dengan manis. “Bentar ya, minumnya.” “Sini gue bantu.” “Gak, enggak usah. Lu di sini aja sama Cindy.” “Bisa emang, kak?” “Bisa.” Jawabku yakin. Aku melangkah kembali ke kios makanan, mengambil tiga gelas sedang berisi minuman bersoda yang sudah kupesan tadi. Dua gelas kugenggam dengan tangan kanan, sisanya di tangan kiri. Cindy dan Jinan yang melihatku mulai kerepotan buru-buru menghampiri dan mengambil gelas mereka masing-masing. “Dih, dibantuin gak mau, dasar. Dim Dim...” “Kak kak...” Mereka berdua kompak menggelengkan kepala. Aku hanya tersenyum malu sambil menggaruk-garuk kepala. Ting Tong... Pengumuman bahwa pintu teater 1 dan 4 telah dibuka menggema. Aku dan Cindy masuk ke teater 1, Jinan ke teater 4. *** “Mau makan di mana nih?” Tanyaku saat kami bertiga berkumpul kembali seusai menonton. “Ayam geprek.” Usul Cindy. “Heh, kemarin udah ayam geprek!” Larangku. “Huft... Yaudah, yang kuah-kuah gitu.” Usulnya lagi. “Bakso? Soto?” Tanyaku pada si gembul. “Terserah sih.” “Gue tau sih warung bakso enak deket sini. Mau nyoba?” “Boleh.” Aku dan Cindy menjawab hampir bersamaan. “Okedeh, gue yang nyetir aja.” Keputusan pun bulat. Kami menuju lantai dasar, tempat mobil kami terparkir. Dalam perjalanan menuju lift, kami melewati sebuah toko pakaian, dan tiba-tiba Cindy melangkah lebih cepat—menghampiri seorang gadis yang berjalan di depan kami. Puk Dia menepuk bahu gadis itu. Gadis tersebut agak tersentak sebelum akhirnya berbalik. “Nah, kan bener.” “Eh, Cindy!” Gadis itu adalah Nurhayati, sahabat Cindy yang kami jemput kemarin. Sebuah kebetulan. Ia membawa tas belanjaan, sepertinya baru saja membeli sesuatu di sini. Aku menahan napas—entah kenapa kacamata bulat itu membuatnya semakin menawan, apalagi saat ia tersenyum. “Wah, mas Dimas juga.” “Halo.” Balasku singkat. “Dari mana?” Tanya Cindy. “Ini, beli rok. Tadi baru dikasih tau kalau hari Senin sampai Kamis pakai rok item. Punyaku enggak ada, hehe.” Jelasnya. “Kalian? Nge-date ya? Ciyeee.” Sebelum jawabannya didapat, Aya sudah lebih dulu menarik kesimpulan. Ekspresinya berubah menyebalkan, sambil menunjuk kami berdua. “Eh eh?! Enggak.” Cindy mengayunkan dua telapak tangannya di depan dadanya, lalu menoleh ke arahku. Wajahnya agak memerah. “Ahaha. Enggak juga. Nih, ada temenku juga kok.” Aku mendorong pelan bahu Jinan yang sejak tadi diam di belakangku. “Jinan.” Ia mengulurkan tangan. “Oh, iya mbak, hehe. Aya, salam kenal.” Dua gadis itu berjabat singkat sambil tersenyum. “Jadi obat nyamuk, ya?” “Aya!” Cindy menepuk bahunya pelan. “Ahahaha! Ya, gitu lah. Ahahaha!” Jinan tertawa kecil. “Apa sih, Nan...” Aku menyenggol bahunya, membuat Jinan sedikit terdorong ke depan. “Makan yuk, Ay.” Ajak Cindy. Kami kompak melangkah. “Eh?” “Iya, kita mau makan bareng, sekalian aja.” Aku ikut mengajaknya. “Enggak apa-apa nih?” “Santai kali. Lo belum makan kan?” Jinan menambahi. “Belum, mbak.” “Nah ini. Cocok lah, kuy.” “Boleh deh.” Ding! Pintu lift terbuka, dan kami berempat memasuki lift kosong itu. Beberapa saat setelah keluar lift, aku merasa terasingkan. Mereka bertiga asyik mengobrol, sementara aku mengekor di belakang. Dan mataku... malah tak bisa lepas dari lekuk tubuh Aya sejak tadi. Kalau diperhatikan, tingginya memang sedikit di bawah Jinan dan Cindy, tapi tubuhnya—kurasa cukup ideal. “Mmpgh...” “Mmhh...” “AaAhHH... M-mas... U-udah... Udah!” “Mmghh! A-Aya...!” Aku menggeleng cepat. Gambaran mimpi itu tiba-tiba lagi—menyeruak memenuhi kepalaku. Yang kuingat hanya aku sedang bersetubuh dengannya dalam posisi misionaris. Ekspresinya sangat menggairahkan, apalagi desahannya itu... Eerrgghh... Sial. Tidak. Tidak boleh. Aku tidak mungkin meniduri perempuan lain lagi. Cindy—aku tidak mau membuat Cindy kecewa dan menangis lagi. “Kak Dimas!” Suara seorang gadis memanggilku dari belakang. Aku tersadar. Mereka bertiga sudah tak ada di depanku, dan kini hanya dinding kaca yang berhadapan denganku. Ternyata sejak tadi aku melamun sambil jalan. Ya ampun... untung tidak sampai menabrak... Gadis itu Cindy. Dia berdiri tak jauh dariku. “Kan jalannya ke situ. Kakak ngelamun ya?” Tunjuknya ke arah kanan. “Eh, ehehe... maaf. Laper.” Aku menggaruk kepala dan menghampirinya dengan cepat. *** Kurang dari 30 menit, kami tiba di warung bakso yang Jinan maksud. Jujur, aku tak menyangka Jinan yang kupikir sangat menyukai makanan dan tempat mahal bisa tahu dan memilih tempat sesederhana ini. “Ini langganan gue dari kecil.” Jelasnya saat kami turun dari Honda Jazz itu. “Bokap nyokap dulu sering banget ke sini.” Empat piring bakso yang kami pesan pun habis. Benar kata Jinan—enak sekali. Kuahnya pas, tidak terlalu asin dan tidak tawar. Ukuran baksonya tidak tanggung-tanggung. Perutku kini penuh sesak. Jinan dan Aya sedang asyik berbincang. Aku merogoh dompet dan mengeluarkan selembar uang 100 ribu di bawah meja. “Mbul, ntar bayarin ya. Aku ke toilet dulu.” Bisikku sambil menyerahkan uang itu. “Okedeh.” Aku berdiri, meninggalkan ketiga gadis itu menuju kamar mandi. Toilet ini terletak agak jauh dari dapur—melewati lorong berdinding semen yang tak terlalu panjang, lalu belok ke kanan. Ada dua bilik di sini. Cukup terkejut menemukan kamar mandinya sangat bersih. Kloset jongkok dan embernya pun bersih, airnya jernih. Pintu plastik itu kukunci, dan kontolku keluarkan dari celana. Serr... Ahh... lega rasanya bisa mengeluarkan semua air kencing yang tadi tertahan. Sial. Sejak tadi, Aya yang duduk di depanku sukses membuatku tidak nyaman. Wajahnya ternyata terlihat lebih cantik jika diperhatikan dari dekat. Apalagi baju yang dikenakannya agak sempit—beberapa kali payudaranya yang pas di genggaman itu tercetak jelas di baliknya. Eerrghh... Kontolku tiba-tiba menegang kembali. Akh! Aku buru-buru memasukkannya kembali dan merapikan jeans yang kukenakan. Setelah menyiram kloset, aku membuka pintu itu. “Eh, mas Dimas. Udah?” Gawat. Aya juga ke toilet. Waktunya tidak tepat. Jangan. Jangan macem-macem... “Aya...” “Kenap—” Sial. Apa yang aku lakukan?! Aku menarik tangan Aya dengan cepat. Ia terperanjat. Tangan kananku menahan belakang kepalanya, lalu bibirku melumat bibir tipisnya. Lembut—terasa sedikit manis. Aya tidak membalas lumatanku; ia hanya pasrah, tidak melawan. Tangan kiriku mulai merambat turun menuju dadanya. Tanpa ragu, aku meremas gundukan toket yang memang pas di genggaman itu. Aya terdengar melenguh tatkala payudaranya kuremas pelan. Tak disangka, beberapa saat kemudian Aya membalas lumatanku. Memang terasa canggung—sepertinya ini pengalaman pertamanya berciuman—namun tak mengapa, aku tetap menikmatinya. Aku menempelkan punggungnya ke dinding kamar mandi. Kini tangan kananku bergabung dengan tangan kiriku, meremas-remas kedua teteknya yang menggairahkan itu, sambil terus mencumbui bibirnya. “Dimas.” Sebuah suara dari arah pintu sukses membuatku terperanjat. Semua aktivitasku di tubuh Aya berhenti seketika. Aku menoleh ke kiri. Mataku membulat. Jantungku berdebar makin liar, dan entah kenapa dingin menjalar di sekujur tubuhku. Kedua kakiku mulai lemas—aku tidak menyangka dia juga ke toilet. “Eh, ehr—Jinan.” Aku mengelap bekas liur dengan kaosku. Sial, aku panik sendiri. “T-tunggu, gue—” “Bener-bener lu ye.” Katanya ketus. Kedua tangannya dilipat di dada. Wajahnya jelas menunjukkan kesal. Ia menatapku tajam. Aya juga terlihat panik. “Nan, gu—” “Brengsek. Tega bener lu, Dim. Nih ya, kalau gue jadi Cindy dan liat langsung... gue pasti putusin lo di sini.” Aku terdiam. “Udah udah, cuci muka sana. Cepet balik. Cindy udah nunggu di mobil.” To be Continued...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 18
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal