EPISODE 20
Tok tok tok.
Pintu kayu bercat putih itu aku ketuk pelan-pelan. Aku berdiri mematung di depannya, lidahku kelu, tenggorokanku rasanya tersumpal sesuatu. Satu kata pun sulit keluar dari mulutku ini, bahkan sekadar 'permisi' saja tak mampu. Aku takut... kesal... bingung... entah apa lagi yang kurasakan sekarang. Semuanya campur aduk jadi satu.
Tok tok tok.
Jantungku berdebar makin cepat. Tidak ada jawaban sedikit pun dari dalam. Aku menghela nafas panjang. Setelah menunggu beberapa saat dalam keheningan yang canggung, kuputuskan untuk pulang saja. Sepertinya dia sedang keluar.
Krek.
Suara slot kunci itu berhasil menghentikan langkahku. Aku membalikkan badan bersamaan dengan bukaan pintu itu.
"Halo." Gadis itu melangkah keluar dari ambang pintu perlahan, menyunggingkan senyum hangat yang sudah-sudah selalu berhasil membuat dadaku sesak. Aya mengenakan sebuah daster, rambutnya yang masih setengah basah menyebarkan harum sampo yang semerbak ke arahku. Aku menahan nafas.
"H-halo..."
"Kenapa, mas?"
"Aku... mau ngobrol..."
***
Aya kembali membawa segelas kopi hitam. Aku duduk di sofa ruang tamu kontrakannya, canggung tak tentu arah.
"Nih, mas." Ia meletakkan gelas itu di meja kecil tepat di hadapanku.
"M-makasih..."
Gadis itu lalu duduk di sofa sebelah kananku. Hening. Rasa canggung kali ini terasa begitu pekat di antara kami berdua. Aya yang biasanya cerewet dan banyak bicara tiba-tiba berubah menjadi gadis asing yang tak kukenal. Hanya 'minum apa' dan 'tunggu ya' yang berhasil kudengar dari mulutnya tadi. Dan sejak itu, aku hanya menunggu minuman datang tanpa sekalipun berbicara dengannya.
Bahkan sekarang pun aku masih tak berani menatap wajahnya. Mataku sibuk beralih menatap sudut ruangan, atau gelas kopi yang mengepul di hadapanku itu.
Aya menghela nafas, lalu berdehem. Aku menoleh.
"Tadi nunggu lama ya di depan? Maaf ya, baru mandi soalnya, hehe."
"Oh, enggak kok, hehe. Pantes wangi."
"Jadi... gimana, mas Dimas?"
"Emm... aku..." Dua jempolku saling mengusap gelisah. Aku berusaha mengatur nafas. "Aku minta maaf."
"Mmm... soal?"
Tatapan matanya berubah serius.
Sial.
Indah sekali...
Aku menahan nafas.
"Warung bakso..."
"Oh..."
"Itu salah aku. Maaf."
Aya melipat tangannya di atas paha, kepalanya sedikit tertunduk.
"Sekarang kamu tahu kan sifat jelekku ini. Aku yang brengsek. Kamu enggak usah dengerin apa kata Jinan soal kamu kemarin."
"Hehe... iya, mas. Aku maafin kok. Temen mas juga."
Aya mengurai rambutnya sambil terus berbicara padaku.
"Ya udah lah ya, mas. Lupain aja. Aku enggak apa-apa kok."
"I-iya..."
"Ehehe, aku paham kok. Cindy juga pernah cerita kalau mas itu agak mesum."
Mbul... tega bener sih kamu... tapi bener juga ya... eh, tunggu. Kamu enggak cerita kan soal kita pernah... gituan?
"Dih, sembarangan. Emang iya dia cerita?"
"Ahahaha! Enggak lah, mas. Bercanda aku." Ia tertawa kecil sambil menutupi mulutnya. "Bentar ya, mas."
"Dih, ngeselin. Iya, iya, sana."
"Itu kopi diminum, mas."
"Oke."
Aya bangkit berdiri lalu berjalan masuk ke satu kamar — sepertinya kamarnya. Sekali lagi aku memaksakan diri mengalihkan lirikan dari lekuk tubuhnya yang melenggang itu.
Mmpgh...
Mmhh...
AaAhHH... M-mas... U-udah... Udah!
Mmghh! A-Aya...!
Sial.
Celanaku terasa sempit sekali.
Aku meraih gelas kopi yang dibuatkan Aya tadi, meniupnya tiga kali, lalu menyesap kopi hitam itu perlahan. Aku melirik layar smartphoneku — tertulis 19:47. Sepertinya urusanku dengannya sudah selesai.
"Mas."
Aya kembali sambil menguncir rambut panjangnya. Posisi itu membuat dua gundukan yang pas digenggam itu tercetak jelas di balik daster merah mudanya. Aku menahan nafas. Jantungku berdegup makin cepat. Udara malam yang dingin mulai merayap masuk, semakin mempersulit keadaan.
Brengsek!
Kontolku kembali tegang kaku. Payudara itu selalu mengganggu konsentrasiku. Tubuh itu... tubuh itu... ingin aku rasakan sampai tenggelam di dalamnya...
Tidak.
Pulang.
Aku harus pulang. Sekarang!
"Emm... Aya, aku... pokoknya aku minta maaf ya. Aku harus pulang sekarang."
Aku bangkit dari sofa dan bergegas menuju pintu.
"Eh, mas! Masih ujan deres banget lho. Emang bawa mantol?"
"Bawa." Jawabku singkat, langkahku tak berhenti, tak berani menoleh ke arahnya.
Suara petir kian menggelegar. Bahkan jendela-jendela kontrakan ini sampai bergetar. Angin menderu kencang, membawa suara hujan yang menghantam atap rumah ini.
Grep.
Gadis itu meraih tanganku dan menahannya. Sentuhan kulitnya yang lembut nan halus itu langsung membuat nafsuku memuncak.
Sial!
Aya... kau baru saja membuat satu kesalahan besar...
"Katanya mau ngobrol. Sini dulu ah, nanti mas Dimas sakit."
Aku hanya mengangguk, menuruti kata-katanya. Namun goyangan pelan yang kubuat di tanganku membuat genggamannya terlepas. Aya membalikkan badan, bermaksud kembali ke sofa.
"Ya udah mas, ayo sini ngob—Eh?!"
Dengan satu langkah cepat, kedua tanganku meremas dua gundukan ranum itu dari belakang.
"Massmmhh... ahh..."
Lenguhan halus mengalun dari mulutnya saat aku meremas-remas pelan payudaranya yang masih terbungkus daster itu. Tubuh kami yang kini nyaris menempel tanpa jarak membuat aroma wanginya semakin semerbak memenuhi rongga hidungku. Tak lama, leher putihnya kucumbu — kunyal dan kujilat dalam-dalam, menyesap wangi tubuhnya yang memabukkan. Nafasku menderu. Semakin liar aku menjilati leher yang menggiurkan itu, dan Aya tak henti-hentinya mendesah.
Aku menekan tubuhnya hingga punggungnya menempel di dadaku. Otomatis, pantat semok itu menyentuh tonjolan keras di celanaku. Sambil terus menyerang dada dan lehernya, aku menggesek-gesekkan kontolku pada belahan pantatnya. Empuk. Nikmat. Aya semakin bergerak tidak karuan, rangsangan dariku menghantam hampir seluruh tubuhnya.
"Akh... mas! Mmghh..."
Kini bibirku bertemu bibir tipisnya. Beberapa kali kukecup lembut sebelum akhirnya kulumat penuh birahi. Ia yang awalnya diam kini mulai melumat balik bibirku. Berbeda dengan Jinan dan Cindy, gadis ini masih kelihatan hijau — belum berpengalaman. Tapi apa peduliku. Aku tetap menikmati lumatannya. Lidah kami saling mengait di dalam sana, liur kami tertukar, nafas kami saling memburu. Kucir rambutnya kulepas hingga tergerai kembali indah di bahunya.
Setelah beberapa saat bercumbu, kubalikkan badannya, lalu dengan cepat kudorong tubuhnya sampai menempel di dinding. Kedua pergelangan tangannya kutahan di atas kepalanya.
"Hhh... jujur... waktu di toilet kamu juga nafsu kan...?"
"Eh, eng... enggak..."
Aku meremas lagi payudaranya dengan tangan kananku.
"Aaakkhh..."
Kedua tangannya bergerak gelisah, namun cengkramanku masih kuat menahannya menempel di dinding.
"Gak usah bohong..."
Tangan kananku beralih turun ke area vaginanya. Aku menggesek pelan dari luar, dan Aya makin gelisah. Kedua kakinya bergerak-gerak geli, sepertinya gatal oleh gesekan itu.
Aya tetap tidak menjawab. Baiklah. Untuk sekarang, tak masalah jika ia tak mau jujur...
Akh... ekspresinya itu membuatku tak tahan lagi. Aku melepaskan cengkraman pada tangannya, lalu dengan satu tarikan kasar, kuangkat paksa daster itu hingga terlepas seluruhnya dari tubuhnya. Kini terpampang tubuh Aya yang hanya berbalut bra hitam dan celana dalam berenda warna senada.
Fuck!
Dia seksi sekali.
Aya terkejut. Ia buru-buru menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menutupi payudaranya dari pandanganku. Wajahnya memerah padam.
"J-jangan, mas..."
Tidak bisa. Aku tak bisa berhenti sekarang.
Aku melepas seluruh pakaianku. Kontolku yang sudah tegang sempurna itu akhirnya bernafas lega. Aya membulatkan matanya begitu melihat batang kemaluan itu — sepertinya ini pertama kalinya ia melihat penis secara langsung di depan matanya. Dengan kasar, kudorongnya turun hingga ia terduduk di atas lututnya.
"Pegang." Perintahku.
Aya ragu sesaat. Lalu tangan kanannya perlahan menggenggam kontolku.
"Aah..." Sensasi mengalir di seluruh tubuhku begitu kulit lembutnya menyentuh batangku. "Kocok."
"Eh, gi-gimana...?"
"Gerakin aja maju mundur..."
Aya mulai menggerakkan tangannya maju mundur. Buruk, sepertinya ini memang pengalaman pertamanya. Tapi aku tetap menikmati 'siksaan' darinya ini. Lama-kelamaan Aya terlihat semakin antusias — kocokannya makin lama makin nikmat. Kubiarakan ia menikmati sensasi mengocok kontolku beberapa saat, sebelum...
"Sekarang, buka mulut kamu." Aku mengusap-usap ubun-ubunnya.
Aya mengangkat wajah, menatapku heran sambil tetap menggenggam kontolku. Aarrkghh... melihat ekspresinya dengan balutan pakaian seperti itu adalah kesempatan langka nan nikmat.
"Eh? B-buka—mmpgh?!"
Tentu saja Aya terkejut saat kontolku langsung kujejalkan ke mulutnya. Tangannya memukul-mukul dan mendorong pahaku, berusaha membebaskan mulutnya dari batangku.
"Oohh..." Kubiarakan penis itu di dalam sana beberapa saat. Wajah Aya makin memerah. Entah ia jijik dengan benda asing di mulutnya itu, atau justru menikmatinya.
Aya hanya bisa meracau dengan mulut tersumpal penuh. Ekspresi memelas yang ia pasang itu malah membuatku makin bergairah untuk 'menghajar' mulutnya. Aku menjambak rambut panjangnya, lalu dengan sedikit kasar, memaju-mundurkan pinggulku sambil terus menahan kepalanya di posisi itu. Aya yang kini sepenuhnya dalam kendaliku tak bisa meloloskan diri.
Ah...
Ah...
Ah...
Aku menikmati tiap sodokan kontolku di mulutnya. Aya hanya memejamkan mata. Kedua tangannya yang sejak tadi melawan kini diam saja, berpegangan pada pahaku.
Ah...
Ah...
Ah...
Entah sudah berapa kali kunjalkan kontolku ke sana. Yang jelas, kini aku merasakan aliran sperma hampir mencapai ujung batangku.
Eerrgghh...!
Crot.
Crot.
Crot.
Crot.
Aku memuntahkan seluruh spermatu di dalam mulutnya. Aya tersentak karena mulutnya dipenuhi cairan kental itu — ia sempat ingin lepas, namun cengkramanku cukup kuat menahan kepalanya, memaksanya menampung semua sperma itu di dalam mulutnya. Matanya berair, wajahnya lebih merah dari sebelumnya.
"Telen." Perintahku setelah menarik keluar kontolku dari mulutnya.
Aya terlihat khawatir.
"Tenang... enggak apa-apa..."
Glek.
Aya menelan semuanya. Ia sempat terpingkal ingin memuntahkannya kembali begitu semua sperma itu melorot ke tenggorokannya.
"Uhuk! Uhuk! Mmngh..."
Aya mengusap air matanya yang mengalir.
Kaus ini kulengkap dengan melepas seluruh pakaianku. Kini aku telanjang bulat. Belum puas menikmatinya, kutarik Aya agar berdiri, lalu kutekan lagi tubuhnya ke dinding. Kedua tangannya kuangkat ke atas dan kutahan di sana, membuat ketiaknya terbuka lebar.
Sambil menunggu kontolku kembali beristirahat, kurasa aku akan bermain-main lagi dengan tubuhnya.
"Aaahhh... mmpghhaass... g-gelii... aahh..."
Wangi tubuhnya masih lengket di sana. Ketiak itu kujilat dan kuciumi, sementara tangan kananku kembali meremas-remas payudaranya yang kini hanya terbungkus bra. Kedua tangannya berusaha turun, melepaskan diri dari cengkramanku karena 'serangan' yang kembali kulancarkan — namun usahanya tetap tak mampu mengalahkanku.
Aya tidak lagi memberikan perlawanan berarti, bahkan ketika jari-jariku mencungkil buah dadanya keluar dari bra itu. Akhirnya aku bisa memandang dua gundukan ranum itu dengan puting kecoklatan yang menggemaskan. Keduanya sudah mengeras. Tubuh Aya yang berguncang kanan-kiri membuat kedua dada itu ikut bergoyang. Semakin menggiurkan.
Wajahku kubenamkan ke payudara kanannya — menekan-nekan lalu melahap putingnya, sementara jari telunjuk tangan kananku memutari area sekitar puting kirinya. Aya semakin tak karuan. Kedua tangannya menegang, terus berusaha lepas dari tahanku. Sensasi geli dan basah di puting kanannya, sensasi gatal di puting kirinya — pertama kali ia merasakannya, dan kupastikan, ia menikmatinya.
Puting kanannya terus kuhisap dan kujilat-jilat, sementara puting kirinya mulai kutekan dan kucubit pelan. Aya menggeleng-geleng sambil terus mendesis dan mendesah penuh kenikmatan.
"Iissh... aAhH... mmpgh... AangMhH..."
"Mmgh... mmmphh..."
Nafasku yang tak teratur itu pun sepertinya bisa didengarnya.
Selang beberapa menit, mulutku berpindah melumat dan menjilati puting kirinya. Tangan kananku menyusur ke bawah, meraba-raba hingga sampai di vaginanya yang masih tertutup celana dalam. Dengan empat jari, aku menggesek dan menggaruk-garuk pelan area itu.
"M-mass... g-gatel... aahhh..."
Selangkangannya merapat dan bergerak-gerak, namun aku tetap melanjutkannya beberapa saat sambil terus melumat puting kirinya. Perlahan, tanganku menyeruak masuk ke dalam celana dalam itu. Kutemukan vaginanya yang sudah lumayan basah di dalam sana — tak heran, mengingat semua rangsangan yang sudah kuberikan sejak tadi.
Secepat kilat, kuturunkan celana dalam itu hingga melorot ke mata kakinya. Tangan kiriku yang selama ini menahan kedua tangannya melepaskan mereka. Lalu kutarik dan kudorong tubuhnya ke sofa. Belum sempat ia merapatkan selangkangannya, aku sudah lebih dulu menahan kedua kakinya agar tetap terbuka lebar.
Vagina kemerahmudaan yang tertutup rambut halus itu terlihat begitu menggiurkan. Tapi sepertinya aku akan bermain dengan jariku dulu, walau kontolku sudah mulai tegang lagi. Dengan jari telunjuk dan tengahku, klitoris itu kumainkan. Kuusap-usap pelan, menggerakkannya maju mundur.
"Aahhh... g-geliii, mass..."
Tak ayal Aya kembali mendongak dan mendesah tanpa henti. Kocokanku pada klitorisnya makin cepat, desahannya makin tak karuan. Aku jadi makin semangat — kini dua jariku kutusuk-tusukkan ke dalam lubang itu. Dengan tempo cepat aku mengobok-obok memeknya. Aya membuka mulut dan matanya, desahannya nyaris seperti teriakan. Ia mengejan, kedua tangannya mencengkeram erat sofa.
"AAAHHH! M-MAASS!!"
Aya orgasme. Cairan yang menyembur dari vaginanya membasahi dua jariku yang masih tertancap di dalam sana. Nafasnya tersengal, dadanya naik-turun, tubuhnya berkeringat. Tubuhnya yang tegang kini berangsur rileks. Dua jariku kukeluarkan dari dalam memeknya. Selangkangannya jatuh. Aya masih mengatur nafas dengan kepala mendongak ke atas, sementara aku mulai mengocok pelan kontolku yang sudah kembali tegak — sepertinya ia tak sabar mencicipi lubang kewanitaan itu.
Aku mendorong tubuhnya sampai tergeletak menyamping di sofa. Langsung kuambil posisi berlutut sambil terus mengocok kontolku. Aya membulatkan mata. Dengan nafas yang belum teratur, ia memohon padaku.
"M-mas... j-jangan... hhh..."
Aku tak mempedulikan rayuannya. Bahkan kubuka selangkangannya lebar-lebar, memek kemerahmudaan itu kembali terlihat. Nafas tersengal Aya masih terdengar. Ia menatapku penuh harap agar aku tak melakukannya.
Tidak bisa. Aku harus merasakan memek itu.
"Mas—AaAhh!!" Desah Aya saat kontolku masuk ke dalam vaginanya.
Aya udah enggak perawan...? batinku saat menyadari tak ada yang menghalangi kontolku hingga nyaris masuk seluruhnya ke dalam memeknya. Ah, sepertinya memang tidak... mungkin faktor biologis, atau mungkin dia pernah terbentur sesuatu.
Masa bodoh. Lubang itu masih sempit dan bisa kunikmati. Kubiarkan kontolku menancap di dalam sana sementara aku mencium bibirnya. Perlahan-lahan Aya mulai membalas ciumanku, tubuhnya yang semula kaku kini berangsur meleleh. Tanganku mencari-cari pengait bra-nya — sayang rasanya kalau tak dilepas. Aya yang menyadari gerakanku itu sedikit mengangkat tubuhnya, hingga akhirnya pengait itu terlepas dan pembungkus payudaranya kulempar sembarangan sambil terus melumati bibirnya. Kami berdua kini impas — sama-sama telanjang bulat.
Pinggulnya terasa bergerak-gerak. Sepertinya ia sudah mulai gatal oleh benda asing yang tertancap di vaginanya. Aku tak mau berlama-lama lagi — kugenjot lubang hangat itu. Ciuman itu kulepas agar Aya bisa mendesah sepuasnya.
Plok.
Plok.
Plok.
Memek sempit Aya seolah memijit dan menelan kontolku di setiap sodokannya. Kondisinya yang sudah becek memudahkanku terus menusuknya. Desahan kami nyaris bersamaan setiap kali selangkangan kami beradu. Aku memandang Aya di bawah sana — payudaranya ikut berguncang mengikuti hentakanku. Aya terlihat berantakan. Sungguh berbeda dengan saat kami bertemu tadi... rapi, harum wangi.
Ah...
Ahh...
Ah...
Aaahhh....
"E-enaaakkkhhh!"
"Hm?"
"T-terus, mas Dimas! Aahh! Genjot terrusshh! Mmmpphhh!"
Aya memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya.
"Tuhh... kan... kamu juga mesummhh..."
"Bodo aaahhh! T-terus, maass!!"
Plok.
Plok.
Plok.
Perlahan kuturunkan tubuhku hingga dada kami saling bersentuhan. Keringat kami bertemu, aromanya bercampur memenuhi ruangan ini. Aku bisa merasakan deru nafasnya. Ia menatapku sayu, wajahnya memerah lagi. Aku menekan-nekan payudaranya dengan dadaku sambil terus menggenjot memeknya.
"Nngghh... mmmghh..."
Desahannya terus mengalun.
Plok.
Plok.
Plok.
Beberapa menit berlalu, dan desahan Aya berubah lagi. Sepertinya ia akan mencapai orgasme keduanya. Aku mengangkat tubuhku, lalu mempercepat tempo hingga tubuh Aya benar-benar menegang dan mengejan.
"AAAKKKHHH!"
Aya orgasme keduanya. Kontolku yang kini berlumuran cairan kenikmatannya itu kudiamkan di dalam.
Sialan.
Aku masih belum juga mencapai puncakku. Tanpa menunggu Aya beristirahat, aku langsung memaju-mundurkan pinggulku lagi.
"Mmpgh!"
"Mmhh!"
"AaAhHH... m-mas! U-udah... udah!"
"Mmghh! A-Aya! E-enak banget! Aaahh!!"
Tiba-tiba tangan kiriku bergerak, mencekik lehernya. Aya terkejut. Kedua tangannya langsung menggenggam dan berusaha menyingkirkannya.
"M-mas! Uhuk! Mmgh! G-gak bisa nafasshh!!" Aya menggeleng. Ekspresi tersiksanya itu justru membuatku makin bergairah. Aku terus mencekik dan menggenjotnya dengan tempo cepat. Mata Aya mulai berair, mulutnya menganga, matanya terpejam.
"Mas Dimas! Mmgh! S-sesek! Aahh!!"
Aku mulai merasakan aliran sperma di ujung kontolku. Tempo cepat ini terus kujaga, tangan kiriku masih mencekik lehernya.
Sedikit lagi...
Sedikit lagi...
Sedikit lagi...
Eeerrgghhh!
Aku melepaskan cengkraman itu. Aya langsung terbatuk-batuk. Kontolku buru-buru kutarik keluar.
Crot.
Crot.
Crot.
Sperma itu menyembur melumuri perut dan sela-sela payudaranya.
Sial!
Aku mengangkat kasar tubuh Aya lalu membalikkan badannya, memaksanya berposisi sesuka hatiku — bertumpu pada lutut dan kedua tangannya. Tanpa menunggu, langsung kujejalkan lagi kontolku yang masih tegang itu ke dalam vaginanya. Aya tersentak.
"AAKKHH! M-maass! Uhuk! U-udah! Beneran aku—uhuk! U-dah eng-gak k-uaattthh..." Suaranya melemah, tapi aku tak peduli. Aku masih ingin membuat wajah cantiknya itu belepotan dengan spermatu.
"Tahan!"
Plok.
Plok.
Plok.
Tubuhnya berguncang setiap pantatnya dan selangkanganku beradu. Desahan Aya terdengar semakin lemah di sana. Tangan kananku melilit rambut panjangnya lalu menariknya kuat — kepalanya ikut tertarik ke belakang hingga ia mendongak.
"Aaakkgh!" Aya mengerang.
Plok.
Plok.
Plok.
Aku terus menusuk-nusuk memeknya dari belakang dengan posisi ini, sesekali mengendorkan tarikan lalu menariknya lagi. Desahan Aya sudah berubah menjadi erangan kasar, namun itu tak membuatku menghentikan jambakan itu.
Ahh!
Ah!
Aaahh!!
Desahanku makin keras, begitu pula erangannya. Punggungnya mengkilap oleh keringat yang benar-benar membasahi tubuhnya — pemandangan itu membuatku makin bergairah. Kutarik lagi rambut panjang Aya, dan erangan kasar kembali keluar dari mulutnya.
Sial!
Aya benar-benar membuatku merem-melek.
"M-MaaSsS! A-AkKKHH! MMMPGHH!"
Aya orgasme lagi.
"Tahan!"
Sepertinya aku juga akan mencapai puncak. Aku melepaskan cengkraman pada rambutnya. Tubuh Aya bergetar, hampir oleng jika aku tak menahannya.
"M-mas Dimass!"
Plok.
Plok.
Plok.
Ini dia!
Aku mencabut kontolku, tubuh Aya langsung roboh ke samping. Kontolku yang sudah siap menyembur itu kukocok lagi, tangan kiriku meraih dagunya dan menghadapkannya ke arahku.
Crot.
Crot.
Crot.
Aya memejamkan mata begitu sperma hangat itu menyembur melumuri wajahnya. Aku menghela nafas panjang. Berhasil. Wajahnya kini belepotan spermatu.
Nafasnya berat. Mata indah yang ia miliki berubah sayu, air mata sedikit mengalir dari sana. Rambut lurus yang tadinya harum, rapi, dan indah kini benar-benar berantakan. Beberapa helai jatuh menutupi wajahnya. Wajah yang tadinya berseri kini redup. Tubuhnya terkulai lemas di sofa. Aku turun dari tempat itu lalu mengambil pakaianku yang tersebar di lantai kontrakannya.
"Hhh... mas Dimas..." Suaranya lemah, matanya semakin berat untuk terbuka.
Aku menoleh ke arahnya yang sudah sangat kacau itu. Sepertinya aku sudah agak kasar padanya. Setelah mengenakan seluruh pakaianku, aku menggendongnya ke kamar, lalu membaringkan Aya yang masih telanjang itu di kasurnya.
"Maaf..."
Aku mengambil beberapa lembar tissue, mengelap semua sperma yang menempel di tubuhnya.
"Nnghh..." Aya hanya melenguh tanpa membuka mata. Selimut yang ada di sana kutarik, menutupi tubuhnya. Aya mengubah posisi, membelakangiku.
"Aku pulang dulu..."
Tanpa menanti jawaban darinya, aku berjalan keluar, menutup pintu kamarnya, lalu bersiap pulang. Hujan kelihatannya sudah tidak selebat tadi.
Eh, tunggu dulu...
Masih ada satu masalah lagi — dan sepertinya harus kuselesaikan juga hari ini...
Aku mengambil smartphone dari kantong celanaku, lalu menghubungi seseorang. Tak butuh waktu lama bagi gadis itu menjawab voice call-ku.
"Ngapain lo nelpon gue, njing?"
To be Continued...