←18+
← As Elegant As Aurora

Episode 21 — As Elegant As Aurora

EPISODE 21
"Mmpgh—Ah! Anjing! Gue mau diapain?! Maksud lo apa, bangsat?!" Umpatan itu langsung menyambut telingaku begitu slayer kain yang membungkam mulutnya aku lepas. "Ssst... tenang, Nan." "Lo mau minta tebusan sama bokap nyokap gue ya?!" Jinan meronta-ronta di kasurku, tubuhnya bergulat dengan ikatan di pergelangan tangannya. "Enggak, woe." "Lo nyulik gue, tolol!" Aku membekap mulutnya dengan telapak tangan. "Diem, njing." *** Sekitar satu jam yang lalu. Aku menghela napas. Ujung telunjuk kananku melayang di depan tombol bel, siap menekannya. Sesuai kata dia, cuma satu mobil yang terparkir di garasi rumah itu—artinya semua persis seperti rencanaku. Di dalam jaketku, semua yang kubutuhkan untuk memakannya tutup mulut soal kejadian tadi sudah kusiapkan. Ting tong... Bel listrik itu berbunyi nyaring. Aku menunggu, jantung berdegup lebih kencang dari yang seharusnya. Entah kenapa, di detik-detik begini aku justru merasa ini ide paling bodoh sepanjang hidupku. Aku menghela napas lagi, mencoba menenangkan diri. Krek krek. Pintu itu terbuka. Jinan keluar dara— Ya ampun. Aku menahan napas. "Kenapa?" tanyanya ketus. "I-itu..." Aku tidak pernah membayangkan, tidak sekali pun, bahwa Jinan—dengan wajah jutek dan mudah marahnya itu—ternyata memiliki sebuah onesie kelinci warna merah muda. Gemesin banget, anjir! Baru sekarang aku ingat dia punya gigi kelinci juga. AAAKKK. ENGGAK BOLEH GESREK SEKARANG! "Apa? Baju gue? Suka-suka gue lah. Mau apa lo kesini?" Dia menatapku tajam. Sepertinya dendamnya soal tadi masih membara. "Galak amat sih. Masuk dulu la—" "Enggak! Mau apa lo kesini?" Dia menahan dadaku dengan telapak tangan, mencegahku melangkah masuk. "Pinjem mobil. Hehe." "Buat apa lagi sih?! Besok gue pake kuliah, anjir." "Ih, pinjem dong..." "Gak jelas lu." "Dih." Dan entah kesetan bagaimana, tubuhku kembali bergerak sendiri. Dari dalam kantong jaket, sebuah slayer kain kutarik keluar. Sebelum sempat dia menepis, slayer itu sudah kusumpalkan ke mulutnya. Jinan yang terkejut bahkan tak sempat memberi perlawanan saat tubuhnya kusudutkan ke dinding. Kedua tangannya kutarik ke belakang, lalu kucatat erat-erat dengan slayer lain yang sudah kusediakan. "Diem." Tubuhnya kuhempaskan ke sofa. Aku bergegas menuju kamarnya. Sebenarnya aku sudah hafal letak kuncinya—Jinan selalu menggantungkan kunci di gantungan baju di samping kaca kamarnya. Dan benar saja, kunci mobil itu tergantung di sana, menunggu diambil. Saat aku kembali, Jinan masih meronta ringan dan meracau di balik sumpalan itu. Entah kenapa wajahnya tampak pucat pasi. Dia melempar tatapan memelas padaku. "Ikut gue." Kutarik pakai tubuhnya masuk ke dalam mobil, lalu kutidurkan di jok belakang. Kedua kakinya pun kuiikat dengan slayer kain. Jinan terus meracau dan menggeliat sepanjang perjalanan, sementara aku sudah memastikan pintu dan gerbang rumahnya terkunci rapat sebelum pergi. *** Baiklah... sepertinya ini memang sudah bisa dikategorikan sebagai penculikan. "Nan... gue... minta lo tutup mulut soal kejadian di warung bakso tadi." Jinan yang masih kubekap mulutnya mengernyitkan dahi. "Aya enggak salah. Gue minta lo baikan sama dia lagi, ya." Baru kemudian kulepas bekapanku. "Gue enggak minta tebusan kok. Ahaha. Maaf juga pake mob—" "Terus, dengan lo nyulik gue begini... gue bakal ngeiyain permintaan lo, gitu?" Aku menahan napas. Tidak menjawab. "Bego lu, njing." "Oh..." Aku menyumpalkan kembali slayer itu ke mulutnya. Jinan menerimainya dengan geleng-gelangan penuh protes, terus meracau di balik kain. Dan aku—yang sejak tadi berusaha menahan hasrat yang menggelora di dada—akhirnya menyerah. Tanganku mulai meraba-raba tubuhnya yang masih terbalut onesie kelinci itu. Panik langsung tergambar jelas di wajahnya. Kedua tanganku meremas pelan payudara mungilnya melalui kain tebal itu. Kaki Jinan yang terikat bergerak-gerak gelisah. Aku tersenyum nakal padanya yang mulai mengeluarkan lenguhan-lenguhan kecil di balik sumpalan. Kelinci tangkapanku ini sepertinya malam ini akan kusantap. Hehe. "Mmngh... mngh..." Kedua tanganku yang tadi kompak meremas buah dada itu kini membagi tugas—tangan kananku menyusur turun ke selangkangannya, tangan kiri tetap bermain di gundukan kecil itu. Dan aku agak terkejut ketika meraba area selangkangannya. Basah. Mataku melebar. Dengan cermat, kubuka kancing paling bawah onesienya dan kumasukkan tanganku ke dalam untuk memastikannya. Benar saja. Selangkangannya memang basah. Jinan sudah becek. Aku menggeleng pelan, setengah tak percaya. Remasanku di payudaranya makin intens, sementara tangan kananku mulai mengusap vaginanya dari luar celana dalamnya. Jinan menggelinjang, erangannya menebal. Respon ini semakin membuatku ingin terus 'mengerjai'-nya. Tangan kananku kemudian menyelusup masuk ke dalam celana dalam itu—Jinan tersentak kaget. Tangan kiriku berhenti meremas payudaranya, lalu menarik keluar slayer dari mulutnya. Wajah Jinan sudah memerah dan sedikit berkeringat. Dia menatapku sayu. Ya ampun... dia jadi terlihat tambah seksi... "Dim—mmph... mmhh..." Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, aku terlebih dulu melumat bibir tipis itu. Akhirnya aku rasakan lagi setelah sekian lama. Jinan langsung membalas lumatanku—ciuman yang makin liar dan penuh nafsu itu sukses melumpuhkan kedua tanganku yang semula bergerak. Bibir kami saling berpagut, ludah kami bertukar, lidah kami saling mengait dan menjelajah. Napas kami saling memburu, dagu kami basah oleh air liur yang tercampur itu. Kini aku naik ke kasur, membuka celah dengan tubuhku di antara kaki Jinan. Ciuman liar itu kuhentikan. Kaus yang kupakai kulempar entah ke mana—keringat membuatku gerah. Lalu kubenamkan kepalaku ke dalam tudung onesie kelincinya itu dan menciumi lehernya. Di sana, aroma tubuhnya benar-benar terasa. Aku menghirupnya dalam-dalam. Jinan bergidik ketika telinganya aku tiup dan kulati. Kedua tanganku kembali meremas payudaranya dengan intens, dan lenguhan-lenguhan kecil itu mengalun lagi dari mulutnya. "Dimmhh... g-gatel..." "Hhmm..?" "M-memek gue gatelhh..." Aku masih menyisakan beberapa ciuman di leher Jinan hingga akhirnya berhenti. Tanpa menunggu kode kedua darinya, aku langsung beralih ke vaginanya yang tadi sempat kuraba. Setelah memposisikan diri, tangan kananku masuk lagi lewat celah kancing itu, mengusap-usap liang itu dari luar celana dalamnya. "Mmh.. mmphh.." Jinan menggigit bibir bawahnya sambil menggerak-gerakkan pinggulnya. Beberapa saat kemudian, tanganku menyelusup masuk, menyentuh vaginanya secara langsung. "Mmhh..!" Jinan tersentak ketika dua jariku menembus masuk ke lubang kewanitaannya. Selangkangannya membuka sebisanya yang bisa dibuka. Vagina yang sudah becek itu dengan mudahnya kuobok-obok. "Ah, Dim! Gila..! mmgh..! Ahh..!" Jinan memejamkan mata sambil menggelengkan kepala, desahan demi desahan terus keluar seiring jariku yang menusuk dan mengobok liangnya. Baru sebentar aku bermain, Jinan mengejan—tubuhnya menegang, pinggulnya terangkat. "Aaakkh! D-Dimm..!!" "Jangan ditahan." "MmPpPHH...!! AaaKKH!!" Jinan orgasme. Jariku basah oleh cairan itu, begitu pun seluruh area selangkangannya. Aku mencabut jariku perlahan. Jinan tersengal. Wajahnya banjir keringat, rambut panjangnya lepek. Dengan onesie segala macam itu, pasti dia kepanasan. Tapi sepertinya... aku tidak akan melepas onesie itu darinya. Sembari menunggu napasnya teratur kembali, aku melucuti celanaku. Penis yang sudah tegang itu langsung mengacung kokoh begitu keluar dari sarangnya. Dan aku menatap nakal—Jinan rupanya sudah menatap penisku dengan penuh antusias. "Lo kangen ini, kan?" Aku mengocok pelan batang itu. Jinan hanya tersenyum tipis. Aku meraih kedua kuping kelinci panjang itu, lalu menariknya kuat hingga Jinan terduduk. Tak kuduga, tanpa harus kusuruh dia langsung melahap penisku. Aku mendesis—mulut hangatnya sukses membuatku lengah oleh kenikmatan. "Tuh kan. Kangen berat lo, ya...?" "Bacopmhh..." jawabnya, mulutnya masih penuh oleh penisku. Kubiarkan dia menikmati batang kemaluanku sesukanya. Kedua tanganku hanya mengelus-elus kepalanya yang terbungkus tudung kelinci itu. Jinan benar-benar memanjakanku—penisku dipijat lembut oleh lumatan bibirnya, lidahnya lihai menjilati batang sampai kepala kontolku. Bunyi decakan terdengar dari bawah sana. Jinan makin liar, mengulum dengan gerakan maju-mundur yang dia kendalikan sendiri, bahkan sekarang dia memberiku sebuah deepthroat. Aku yang geli dan keenakan sontak mendongak, mendesah kasar. "Aaaahhh... gila, Nan.. enak banget, woi... aahh..." Kedua tanganku menahan kepalanya beberapa saat—dan Jinan bahkan tidak keberatan. Dia tetap memberi sentuhan-sentuhan lembut dengan lidahnya. Aku tak sanggup berkata-kata lagi. Hanya bisa menikmati. Jinan melanjutkan aksinya begitu tanganku lepas. Ia terus mengulum penisku bak permen gagang. Lubang kencingku ia jilati—tubuhku langsung merinding. Ia juga sempat menggigit-gigit kecil batang penisku, memberiku sensasi yang berbeda. Setelah beberapa saat, aku kembali menggenggam kepalanya. Tanpa menunggu lama, pinggulku mulai kumaju-mundurkan sambil menahan posisi kepalanya. Ah... Ah... Aaahh... Tangan Jinan yang masih terikat tak bisa memberi perlawanan. Dia hanya bisa pasrah, mulutnya kutusuk-tusuk dengan penisku ini. Ah... Aaaahhh... Mmmhh... Mmphh.. Aahh... Aku terus menyodokkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Tiap detiknya adalah kenikmatan tiada tara. Sodokan demi sodokan kuberikan, hingga tak lama kemudian aku merasakan akan segera sampai. Sodokan itu kupercepat. Eerrgghh... Crot. Crot. Aku menyemburkan spermasku di dalam mulutnya. Mata Jinan yang sayu itu berair. Ia menarik kepalanya begitu tanganku tak lagi menahan. "Hhh... dikit banget, Dim..." Aku sempoyongan. Sialan. Energiku sudah terkuras habis gara-gara Aya. Dengan napas yang masih terengah, kuhempaskan tubuhku ke kasur. Jinan yang terbaring di sebelah kiriku memandangku heran. "Heh, kenapa lu? Hhh..." "Hhh... Nan... capek gue..." "Woi, lepasin iketan gue dulu!" "Hhh... lepas sendiri..." "Woi, Dim!" Lalu semua berubah gelap. Aku rasa aku akan tidur sebentar... *** Perlahan, kedua mataku terbuka. Langit-langit kamarku jadi pemandangan pertama pagi ini. Tapi sensasi aneh yang kurasakan di bawah sana langsung mengalihkan pandanganku ke bawah. Ya ampun! Jinan sudah telanjang bulat dan sedang mengulum penisku. Kedua tangannya sudah lepas dari ikatan slayer. Aku juga dalam keadaan telanjang bulat. Tunggu sebentar. Kenapa kedua tanganku diikat ke ujung kasur begini?! Masing-masing kakiku pun terikat dengan slayer ke sudut kasur, membuat selangkanganku terbuka lebar. "Nan... lu ngapain?! Lepasin gue!" "Diem." Jinan melepas kulumannya, lalu mengocok pelan batang penisku yang sudah berdiri tegak itu. Kulirik jam dinding—jarumnya menunjuk pukul lima pagi. Ternyata hari sudah berganti. "Eerrgghh... m-masih pagi, anjir! Udah woi! Mmmphh..." Aku jadi panik sendiri. "Kalo lu mau gue tutup mulut, nurut sama gue!" bentaknya, tangannya tak henti mengocok penisku. Kenapa situasinya jadi terbalik begini?! "Semaleman gue tidur tangan kaki diiket, njir! Pegel tau ga?!" Dia menghentikan kocokannya, lalu mulai mengangkat tubuhnya. Aku menahan napas ketika melihatnya memposisikan diri, siap menurunkan pinggulnya membenamkan penisku ke dalam vaginanya. Dan aku yang sudah dibelenggu ini tak bisa berbuat apa-apa. Mmmghh... Lenguh kami nyaris berbarengan begitu Jinan mendorong pinggulnya hingga penisku masuk utuh ke dalam vaginanya. Wajahnya mendekat. Dia masih menatapku sayu, dan napas hangatnya bisa kurasa di jarak sesempit ini. Suhu badanku makin panas. "Nikmatin aja, Dim..." Dia berbisik di telinga kananku. Dan sebelum aku sempat menjawab, dia melumat bibirku—sama seperti yang kulakukan padanya tadi malam. "Mmhh..." "Mmghp.." Lenguhan-lenguhan kecil kami hasilkan selagi bibir kami beradu. Aku menggerak-gerakkan pinggulku—penisku yang menancap dalam liang itu mulai terasa gatal. Vagina yang sempit itu serasa memijit dan menelan batangku. Jinan yang sepertinya juga sudah tak tahan ikut memaju-mundurkan pinggulnya sambil terus melumat bibirku. Payudaranya ia tekan ke dadaku, menggesek-gesekkannya di sana. Putingnya sudah terasa mengeras. Kami berdua sudah dikuasai penuh oleh nafsu. Ah.. Ah.. Ah.. Ah... Gerakan pinggul Jinan makin liar. Aku yang terbelenggu hanya bisa diam, menikmati permainan yang kini sepenuhnya dalam kendalinya. Plok. Plok. Plok. Setelah beberapa sodokan, Jinan berhenti dan melepaskan penisku dari vaginanya. Kedua kakinya ditariknya ke depan, kedua tangannya bertumpu di pahaku. Begitu merasa posisinya pas, ia memasukkan kembali penisku ke dalam vagina itu lalu mulai menaik-turunkan tubuhnya. Penisku serasa menusuk liang hangat itu dari bawah. Dari posisi ini, tubuh bagian depannya yang mengkilap oleh keringat bisa kulihat dengan jelas. Dua payudara itu terlihat membesar, puting mungilnya mengeras, dan ekspresi kacau Jinan memanjakan mata ini. Pemandangan indah di pagi hari. "Aah.. N-nan, cepetin. Engh..." "Gak usah ngatur, njing!" protesnya sambil tetap memejamkan mata, menikmati bagaimana penisku menusuknya dari bawah. Galak banget sih... Yah, baiklah. Terserah. Semua dalam kendalinya. Plok. Plok. Plok. Jinan terus menaik-turunkan tubuhnya pelan. Mulutnya menganga, matanya terpejam. Aku ikut memejamkan mata, mendesah kasar seiring gerakan pinggulnya yang makin cepat. "Aaahh.. Dim..! Mmghh..!!" "Nanhh... Mmgh..!" Desahannya makin kasar. Rambut panjang itu pun sudah berantakan—dan alih-alih merapikannya, kedua tangannya masih bertumpu di pahaku. Selang beberapa gerakan, Jinan berhenti. Pinggulnya didorongnya mendalam, tubuhnya mengejan. "AaAkHH...!" Jinan mendapat orgasmenya pagi ini. Penisku masih dibiarkannya di dalam vagina itu selagi ia mengatur napas dan merapikan rambutnya. Napasku pun tersengal—aku belum ejakulasi, tapi penisku sudah terasa perih. Sepertinya batang ini akan kubisirahatkan beberapa hari ke depan. Jinan menatapku sambil tersenyum puas setelah anak rambut itu ia rapikan. "Enak?" "Hhh... bacot, Dim..." "Gue belum keluar..." "Iya, iya..." Jinan menarik pinggulnya sehingga penisku yang basah oleh cairan orgasmenya itu lepas dari vaginanya. Aku sudah paham apa yang akan dia lakukan. Jinan kembali menggenggam batang penisku lalu mengocoknya pelan dengan tangan kanannya, sementara jari-jari tangan kirinya mengusap-usap kepala kontolku, membuatku menggelinjang. Sesekali jari-jari itu beralih memainkan buah pelirku lalu kembali mengusap kepala penisku. Aku kagum dengan lihainya—penisku benar-benar dimanjakan oleh kulit halus tangannya itu. Kocokannya berangsur cepat, dan aku tak bisa menahan desahan-desahanku lagi. Ini terlalu nikmat. Eeerrgghh... Crot. Crot. Tanpa sempat memberinya aba-aba—karena terlalu asyik menikmati kocokan itu—semburan sperma yang tak seberapa itu mengenai wajahnya. "Iih... kok enggak bilang sih..?" Dengan punggung tangannya, Jinan mengelap cairan hangat itu dari wajahnya. "Hhh... maaf... enak sih... hehe..." "Dih, dasar..." Jinan turun dari kasur, lalu mengambil pakaian dalam dan onesienya yang tergeletak di kursi kamarku. "Woi woi! Mau ke mana?! Lepasin iketan gue!" Aku menggeliat sekuat tenaga. Ikatan Jinan ini erat sekali. "Sabar, njing." Jinan langsung memakai onesie itu tanpa pakaian dalam. Tudungnya tidak ia pakai. Aku menghela napas panjang. "Nan..." "Hmm...?" "Lo... jadi tutup mulut, kan...?" "Hhh... Dim, Dim... Gue sebenernya gak usah lo culik-culik begini juga gak bakal bilang ke Cindy." "Hah...?" "Gue mah bodoamat lo tidur sama cewek lain, atau ciuman kayak tadi." Jelas Jinan sambil membuka ikatan di kakiku. "Gue marah soalnya menurut gue lo udah keterlaluan, Dim. Pacar lo masih ada di sekitar situ, dan lo malah ciuman sama sahabat pacar lo sendiri. Bayangin... gimana enggak remuk perasaan Cindy kalau tau, bahkan ngeliat, pacar sama sahabatnya sendiri ngelakuin hal kayak gitu? Untung dia enggak ikut ke toilet." Aku terdiam mendengar penjelasannya. "Gue pun sebenernya ngerasa salah juga, berhubungan badan sama lo kayak gini. Walaupun gue enggak munafik—ini enak. Gue kadang emang gak bisa nahan nafsu, kayak lo ini. Brengsek." Jinan beralih membuka ikatan tanganku. "Lo takut banget kehilangan dia, ya?" "Iya lah..." "Hahaha... pokoknya, udah. Jangan sampe buat hati pacar lo itu remuk, ya. Cindy itu cewek baik. Jangan sampe dia kecewa." Jinan meraih kunci mobilnya yang tergeletak di meja belajarku. "Soal Aya, ntar biar gue yang ketemu." Aku memposisikan diri duduk. "Eh tapi, gue masih enggak terima ya lo culik kayak kemarin. Mana lo pake bawa mobil gue lagi." "Err..." "Traktir gue makan di kantin seminggu—eh enggak, sebulan." "Dih! Lo ngerampok gue namanya!" "Lo nyulik gue, njing! Sumpah dah, gue takut lo macem-macemin. Gue kira lo jadi psikopat terus mau bunuh gue, njir." "Lah, ahahaha! Ya udah deh, iya. Terserah." Aku menggeleng. Ada-ada saja pikirannya. "Deal." Jinan melangkahkan kakinya keluar kamar. "Nan..." "Apa?" Jinan memutar badan. "Emm... makasih ya..." "Iye iye ah. Gue balik dulu. Jangan skip kelas, ntar." "Eh, Nan." "Apalagi?" Jinan memutar badan lagi. "Tapi lo beneran kangen sama kontol gue, kan?" "APASIH, NJING?!" Wajahnya memerah. *** Aku mengusap rambutku yang masih basah dengan handuk sambil melangkah masuk kamar. Segar sekali rasanya tubuh ini. Kulirik jam—sepertinya aku masih sempat sarapan sebelum berangkat ke kampus. Drrtt... Getar smartphone di atas mejaku membuatku meraihnya dengan tangan kiri. Tangan kananku masih sibuk mengusap rambut. Sebuah notifikasi pesan LINE. Kutbak itu dari Cindy. Ternyata bukan. Nama pengirim yang tidak asing bagiku tertampil di layar. "Pucchi?" To be Continued...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 20
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal