←18+
← As Elegant As Aurora

Episode 22 — As Elegant As Aurora

EPISODE 22
07.58 Selamat pagi kak, saya Pucchi, anggota divisi PR dari acara Bazaar Budaya FIB 2016. Kami bermaksud mengundang kak Dimas sebagai salah satu pengisi acara. Wah. Akhirnya bisa perform lagi setelah Pong cafe tutup... 07.59 Acaranya tanggal berapa? 07.59 Seminggu sebelum UAS kak 08.00 Oke. Aku bisa 08.00 Nanti bisa ketemu kak? 08.00 Jam berapa ya? 08.01 Sore sih, jam 4? Kita ngobrol bentar aja soal acaranya 08.02 Kenapa enggak di kampus jam 12? 08.02 Aku ada acara kak, enggak bisa. 08.02 Oh, okedeh. Bisa jam 4 08.02 OK. Tempatnya aku kasih tau nanti ya kak. Makasih Chat itu kubungkus rapi dengan stiker jempol. Aku menghela napas lega lalu meletakkan smartphone itu kembali. Dari dalam lemari, kuambil kemeja kotak-kotak merah dan celana jeans. Tubuhku yang masih cuma dibalut pakaian dalam kini terbungkus pakaian tadi, kancing demi kancing kutaut dengan santai. Prang! Tiba-tiba suara kaca pecah meledak nyaring dari ruang depan. Aku berlari ke depan tanpa sempat menyelesaikan pengancing bajuku. Benar saja, ada lubang pecahan di kaca depan kontrakan. Kakiku melangkah refleks, matanya sempat menangkap sebuah objek mirip batako tergeletak di lantai — pasti dilempar seseorang dari luar. Kubuka pintu, pandanganku menyapu segala arah, tapi tak ada satu nyawa pun yang tertangkap. Aku berlari sampai ke luar pagar. "WOI KELUAR LO!" Percuma. Tak ada yang kudapati. Aku menghela napas kasar sambil menatap kacaku yang remuk. Umpatan demi umpatan kuteriakkan dalam hati — pecahannya lumayan parah. Kembali ke dalam, aku menghindari serpihan kaca yang tercecer. Benda itu ternyata potongan batako, dengan secarik kertas diikatkan padanya. Kuraih benda itu dan kubuka lipatan kertasnya. Sebuah surat... Dimas anjing... Lu gak pantes jadi pacarnya Cindy Gue bakal rebut dia dari lo Mati aja lo bangsat!! Emosiku naik lagi dalam sekejap. "Ini apa lagi sih bangsat..." Aku menghela napas panjang, melipat lagi kertas itu dan memasukkannya ke kantong kemeja. Buru-buru aku masuk kamar, mengambil smartphone, lalu menghubungi Cindy. Voice call langsung — seharusnya kelasnya sudah selesai. Tiga belas detik berlalu sebelum panggilanku diangkat. "Halo, kak. Kenapa?" "Halo, mbul. Kamu di mana?" "Nunggu depan kelas A.2.6. Ruangnya masih dipake." "Oohh... ya udah." "Kenapa sih?" "Nanti siang aja deh aku cerita, hehe." "Dih. Kakak ini enggak kuliah emang? Tadi aku lihat kak Jinan sama kak Hary udah masuk kelas." "Hah?!" "Eh, kakak jam ini kelas bu Ratna kan? Di A.2.7?" "Jam 9 kok..." "Nah barusan aku lihat dia udah masuk kelas lho." "Lah kok—" "Kakak di mana?" "Kontrakan." "Ye pekok... Salah jadwal pasti..." "Y-yaudah, mbul. Ntar siang deh. Kamu kuliah dulu sana." "Ya." "Dah, gembul." "Dah, kak." Aku buru-buru membuka grup kelas, menggulir layar mencari pesan dari Doni selaku koordinator mata kuliah. Tubuhku terasa dingin, lututku lemas. Aku mengumpat dalam hati lagi — betapa bodohnya aku. Benar saja, aku salah jadwal. Entah bagaimana tadi bisa salah membaca jam 08.00 jadi 09.00... Padahal di kelas tambahan ini ada dua kali tanda tangan... dan sudah dua kali aku bolos. Artinya... namaku bakal dicoret. Tidak bisa ikut UAS... Aku mengacak-acak rambut, lalu berjalan lagi ke ruang depan. Ah, sudahlah. Aku bisa mengulang mata kuliah itu tahun depan. Santai... Aku menatap kesal seluruh kekacauan pagi ini. Siapa pun pengirim surat tadi, dia harus bertanggung jawab atas kaca kontrakanku. Aku menelan ludah, lalu mengambil sapu dan serokan, membersihkan lantai dari serpihan-serpihan kaca itu. *** Guncangan di bahu kananku memaksa mata ini membuka perlahan. "Dor." Ya ampun... "Ngh... apasih, Nan..." "Lu tadi kenapa enggak masuk kelas bu Ratna?" Jinan menjauhkan wajahnya. "Salah baca jadwal..." Aku duduk di bangku samping joglo fakultas. Sepertinya aku tertidur di sini saat menunggu kelas Cindy usai. "Ye, bego." "Biarlah, gue ngulang taun depan." Jelasku sambil mengucek mata. "Dim." "Hah?" "Ayo kantin. Bayarin, hehe..." Dia memanyunkan bibir, mencubit-cubit lenganku. "Ish, apasih! Gak mau!" "Iihh... Kan. Lu. Udah. Janji. Traktir. Gue. Sebulan. Anjing..." Cubitannya dipelintir perlahan. Tatapannya berubah licik. "Aak! I-iya iya! Sakit!" "Nah, gitu dong, hehe." Ia melepaskan cubitan lalu tersenyum lebar. Sial. Harusnya aku nggak iyain permintaannya setelah 'penculikan' itu... "Bentar, nunggu Cindy." Aku mengelus area yang dicubit, kini mulai memerah. Jinan duduk di sampingku. "Gimana organisasi? Lancar?" "Lancar. Cindy juga bagus kok di divisi gue." "Eh iya? Gimana dia?" "Ya dia su—" "Kak." Aku dan Jinan kompak terperanjat. Dari belakang, kepala Cindy tiba-tiba nyempil di antara kepala kami berdua. "Heh! Kaget tau!" Aku refleks mencubit gemas pipi gembulnya. Jinan di sisi lain tak ketinggalan melakukan hal yang sama. "Iiisshhh... udah dong..." Cindy yang tadinya hanya pasrah kini menyingkirkan tangan kami dari pipinya. "Gemesin sih." Kataku sambil membenarkan posisi duduk. "Mmmhh... lagian kak Dimas sama kak Jinan aja yang lebay. Gitu aja kaget..." Cindy cemberut sambil mengusap-usap kedua pipinya. "Ayo makan... aku laper..." *** Meja makan di bawah pohon ini jadi pilihan kami. Aku, Cindy, dan Jinan duduk menyantap pesanan masing-masing. Di tengah obrolan soal perkuliahan, Cindy nyeletuk soal urusanku tadi pagi. "Eh iya, kak Dimas, katanya ada yang mau diomongin?" Jinan menyeruput kuah sotonya sambil melirik ke arahku. "Oh, iya." Aku menyeruput es teh lewat sedotan. "Jadi tadi pagi, sekitar jam 8, ada yang lempar batako ke kontrakan—" "Hah?" Mereka berdua terheran, kompak memiringkan kepala. "Siapa, kak?" "Enggak tau. Pas aku keluar gak ada orang." "Setan kali." "Sembarangan lu, Nan." "Terus terus, kak?" "Ya, kaca depan kontrakanku pecah. Untung aku lagi di kamar, habis mandi." Aku menunjukkan foto kondisi kaca kontrakanku lewat smartphone. "Anjir, parah juga ya, Dim." Cindy memasang ekspresi terheran yang sama. "Nah, terus..." Aku mengeluarkan kertas berisi pesan tadi dari saku kemeja. "Ada kertas, diikat ke batako itu. Baca deh isinya." Cindy membukanya lalu membacanya bersama Jinan. Mereka berdua menahan napas sesaat. "Dim... lu pernah ribut sama orang ya?" "Enggak pernah." Cindy masih menatap kertas itu. "Tapi serem juga ya, orang cemburu sampai lempar-lempar batako gitu." "Banci tau gak sih? Pake cara beginian. Langsung ketemuan sama gue kek." "Eh tapi, kok orang itu bisa tau kontrakan lo, Dim?" "Ya mana gue tau, Nan. Takutnya orang itu emang udah ngikutin gue sama Cindy. Enggak nutup kemungkinan dia juga udah tau kos-kosan Cindy." "Lo dapet teror gini enggak, Cin?" "Enggak, kak." Cindy meletakkan kertas itu di meja, menghela napas. "Yaudah sih, kak, tenang dulu aja. Gak usah terlalu dipikirin. Lagian ini mah paling orang iseng doang." "Iseng enggak mungkin sampai ngerusak kayak tadi lah, mbul..." Aku mengambil kembali kertas itu. "Aku takutnya kamu yang kenapa-kenapa..." "Ah, enggak, kak. Tenang. Aku pasti bisa jaga diri kok, hehe." "Dim, bener kata Cindy. Tenang dulu aja. Ntar kalau si banci ini bikin ulah lagi, kabar-kabarin. Gue bantu sebisanya kalau dibutuhin. Yang jelas kalian tetep hati-hati aja." Aku mengangguk pelan, menghela napas panjang. "Terus kacanya kakak gimana?" "Ya, masih kayak gitu. Kalian tau tempat bikin kaca jendela gitu gak?" Cindy menggeleng. "Coba deh ntar gue tanyain bokap ya. Dulu kaca rumah gue juga pernah pecah kena bola bocah-bocah komplek." "Okedeh." "Bener ya, kalau kalian butuh apa-apa bilang aja." Aku dan Cindy kompak mengangguk. "Keren sih, Cindy. Jadi cewek makanya jangan cakep-cakep amat. Jadi direbutin gini kan." "Ahaha, apaan sih, kak Jinan." "Lagian kayaknya gue setuju deh sama orang ini. Lu kan emang anjing, Dim. Hahaha!" "Apasih, Nan." "Nah iya, setuju sih. Hahaha!" "Ye, ini gumpalan bakpao ikut-ikutan. Belain kek." Ketegangan dan keseriusan tadi berangsur luruh. Canda tawa kami kembali mengalir. Aku sempat bercerita soal Bazaar Budaya yang mau mengundangku sebagai pengisi acara, dan mereka tampak antusias — terutama si gembul. Aku berniat mengajaknya ikut bertemu Pucchi, tapi ternyata Cindy ada kerja kelompok sepulang kuliah sore nanti. Yah, sepertinya aku akan menemuinya sendirian. *** Kak, aku udah di Yasushi ya Sesuai perjanjian, aku tiba di restoran itu. Dasar wibu, meeting juga harus di tempat bernuansa Jepang... "Irasshaimase!" Sambut dua perempuan dari balik pintu saat aku masuk. Nggih, mbak'e... batinku asal. Mungkin artinya silakan masuk, mas. Entahlah. Koreksi kalau aku salah, ya. Aku tersenyum pada mereka, lalu mengedarkan pandang. Pucchi bilang dia sudah di sini. "Kak Dimas!" Aku menoleh ke arah suara itu. Dia melambai-lambai padaku dari meja di ujung pojok kanan restoran. Gadis manis berkacamata berambut pendek ini tersenyum padaku. "Halo, kak." Kami berjabat tangan. Ya ampun... halus sekali kulitnya... "Halo. Kita berdua aja nih?" Aku duduk di seberangnya. "Enggak kok, nanti ada temenku lagi. Kakak pesen dulu aja." Pucchi menyodorkan menu restoran, lalu memainkan smartphonenya. Pandanganku menyusuri daftar makanan dan minuman. Aku menelan ludah — harga-harganya tidak sejalan dengan isi dompetku. Sepertinya minuman saja. "Udah, kak?" "Err... iya." "Mas!" Pucchi melambaikan tangan. Pelayan restoran datang dengan buku catatan kecil. "Iya, kak?" "Ini mas, tambah pesenan." "Emm... ocha satu, mas." "Makannya, kak?" "Enggak mas, itu aja." "Oke, ditunggu ya, kak." Lelaki itu bergegas ke dapur setelah mencatat pesananku. "Lah, kok kak Dimas enggak makan?" "Udah kenyang kok, hehe..." Bilang aja enggak ada duit, Dim... "Oohh, okedeh." Pucchi mengeluarkan buku catatan dari tas kecilnya. "Emm... sambil nunggu temenku, mulai aja kali ya? Gak apa-apa kan?" "Oh, iya iya, monggo." Pucchi mulai menjelaskan Bazaar Budaya secara singkat — yang sebenarnya sudah kutahu dari BEM fakultas. Aku kan sudah lebih dulu di dunia ini ketimbang dia. "Nah, jadi intinya kita mau pengisi acaranya dari mahasiswa-mahasiswi FIB, mas. Biar orang-orang juga tahu FIB itu punya mahasiswa-mahasiswi berbakat. Salah satunya ya, kak Dimas." Aku tersenyum kecil. Rasanya perkataannya tadi terlalu berlebihan. "Oohh... okedeh. Siap aja aku." "Sip deh, makasih kak udah acc. Ehehe." Pucchi menyantap sushi terakhirnya. Wajahnya saat mengunyah terlihat menggemaskan. Duh... kenapa kepalaku justru memutar ingatan saat gadis ini jadi fantasiku saat masturbasi?! Aku menelan ludah, mengusap wajah. Pergilah dulu, pikiran kotor! "Eh, iya. Katanya temenmu mau kesini?" "Iya nih, enggak tau kenapa dia, kak. Katanya otw." "Oh, hehe." Aku menyeruput ocha pesananku. "Kamu ikut BEM ya?" "Oh, enggak kak, hehe. Ini coba-coba ikut kepanitiaan aja kok. Di divisi PR aku dapet kontak kakak dari kak Mira. Kenal?" "Oh, ya ya, seangkatan sama aku." Aku menyeruput minumanku lagi. "Terus... kamu mau masuk BEM?" "Emm... belum tau sih, kak. Pengennya lanjut HMJ dulu aja, hehe." "Ohh..." Aku mengangguk. "Eh, kak. Kita pernah ketemu enggak sih sebelumnya? Kok kayaknya aku ngerasa pernah ketemu sama kakak, ya?" "Oohh, itu... kamu inget pas di gedung sekre himpunan? Kamu nabrak aku pas lari-lari di lantai satu. Kamu bawa berkas—" "Oohhh, itu kak Dimas toh? Ehehehe, maaf waktu itu aku buru-buru ngurus administrasi beasiswa ke akademik, takut keburu tutup." "Owalah, aku pas itu baru baca nama kamu, udah kamu ambil aja kertasnya. Ahahaha!" "Oh, iya, maaf. Hahahaha!" "Aku juga pernah foto sama kamu pas jadi cosplayer di Sakura Fest kemarin." "Wah, kalo itu aku lupa, kak. Hehehe..." "Oh, iya ya. Rame juga kan itu." "Iya, hahaha." Pucchi mengambil smartphonenya, membaca sebuah pesan, sepertinya. "Kak, maaf, tunggu bentar ya." "Oh iya iya." Aku pun mengeluarkan smartphoneku. Hanya ada pesan dari grup LINE kelasku. Sepertinya Cindy masih kerja kelompok. "Kak Dimas..." "Iya?" Aku menoleh. "Emm... temenku ternyata ada urusan mendadak, jadi enggak bisa kesini... aku enggak ada barengan pulang... Kak Dimas ada aplikasi ojek online?" "Halah, udah aku anter aja sini. Daripada keluar duit kan?" "Eh, duh. Aku enggak enak, kak..." "Santai ah. Emang kosmu di mana?" "Daerah Senayan, kak. Nanti aku tunjukin jalannya." "Oh, okedeh." "T-tapi... ini aku harus ke Kuningan dulu, kak... mau ambil sesuatu..." "Santai. Aku anter. Enggak apa-apa." "Serius, kak?" Aku mengangguk. "Okedeh. Makasih ya, kak... maaf ngerepotin." "Haish, santai. Udah? Sekarang?" "Udah. Yuk, kak..." *** Singkat cerita, aku sudah berada di sebuah apartemen di Kuningan. Dia mengajakku ikut ke atas karena butuh bantuan mengambil barang di atas lemari. Aku hanya menurut. Kami sampai di depan sebuah kamar. Pucchi mengambil kunci dari tas kecilnya lalu membuka pintu itu. "Loh, kamu juga tinggal di sini?" "Enggak, kak. Ini kamarnya pacar aku." Aku menelan ludah. "Lah, terus pacar kamu?" "Dia lagi ngurus skripsi, kak. Masih sibuk banget di kampus. Jadi ya, aku disuruh ambil sendiri barangnya..." "Oohh..." Aku dipersilakan masuk. "Mana barangnya?" "Bentar, kak. Duduk dulu aja di sofa." "Oh, oke." Aku yang baru saja duduk di sofa kamar apartemen itu tercekat ketika melihat Pucchi tiba-tiba mengunci pintu dari dalam. "Lho? Kok dikunci...?" Pucchi berbalik, melempar tasnya ke samping. Ekspresi seksi tiba-tiba dilemparkan padaku. Bibir tebalnya terbuka sedikit. "Kak Dimas..." Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat. Sambil melangkah perlahan ke arahku, Pucchi melepas satu per satu kancing kemeja birunya. Begitu semua kancing lepas, kemeja itu ia sibak dan buang sembarangan. Atasan sleeveless-nya pun ditanggalkan cepat. Terbongkarlah tubuh putih mulusnya, tanpa luka atau goresan. Perut rata dengan pusar yang dalam terlihat sangat seksi, dan payudara 'pas digenggam'-nya berguncang sesaat setelah bra pinknya dilepas — sukses membuatku menelan ludah dan mematung di sofa. "Hhh... kak... aku bisa minta tolong...?" bisiknya pelan di telinga kiriku. Napas kasarnya terasa hangat menyengat. Jantungku berdegup kencang ketika tangan kanannya mulai menurunkan ritsleting jeansku. "Puasin aku ya..." bisiknya lagi. "Sejak pacar aku sibuk skripsi... aku enggak pernah dapet jatah..." Pucchi mulai meremas pelan kontolku yang masih terbungkus celana dalam. "J-jangan, Pucchi..." "Oh iya. Aku tahu. Jadi... kak Dimas itu yang lagi diblowjob sama cewek di sekre lantai 3, kan...?" Dia menatapku licik. Aku menahan napas. Mataku membulat... Aku memuntahkan spermasku di dalam mulutnya. Sebelumnya aku sudah merangkul erat belakang kepalanya, tidak membiarkannya menghindar. Cindy kembali mengernyitkan dahinya. "Uhukk... uhukk..." Dia terbatuk setelah menelan spermasku. "Eh, ini masih ada dikit. Bersihin... sekalian dong." Cindy menurut. Ia menjilati lagi kontolku sampai tak ada lagi sperma yang menempel di sana. Napas quesengal, wajahku memerah, pandanganku agak kabur. "Huft... banyak juga ya, kak." Cindy bangkit berdiri. "Hehe..." Aku mengenakan lagi celanaku yang tadi dipelorotkannya. "Eh, ya ampun!" "Apa?" "Pintunya enggak ditutup!" "Ah, enggak. Enggak ada yang lihat. Santai lah." "Ish, dasar. Ahahaha," Astaga... Jadi waktu itu... dia sempat mengintipku dengan Cindy ya... "Yakin enggak mau diblowjob sama aku juga...?" godanya sambil melepas kacamata dan menggigit bibir bawahnya. Eeerrrgghhh.... Sialan! To be Continued...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 21
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal