←18+
← As Elegant As Aurora

Episode 23 — As Elegant As Aurora

EPISODE 23
Episode 23 "Yakin nggak mau diblowjob sama aku juga...?" godanya sambil melepas kacamata dan menggigit bibir bawahnya. Eeerrrgghhh.... Sialan! "Kakak ganteng... jawab dong..." Nadanya menggoda, begitupun ekspresi menggairahkan yang masih ia berikan untukku. Aku masih tidak mampu menjawab. Pucchi sudah bermain dengan kancing jeansku, tinggal menunggu waktu sampai celana itu jatuh. "Oh... oke, kalau diem berarti mau..." "Eh?!" Dengan sigap, ia menurunkan jeans dan celana dalamku sekaligus. Dalam sekejap, bagian bawah tubuhku telanjang bulat. Penisku berdiri tegak begitu terbebaskan, dan Pucchi berbinar-binar memandangnya, seperti orang yang baru bertemu kembali dengan sesuatu yang sangat dirindukannya. Tangannya yang mulus dan halus mengenggam batangku, menimbulkan sensasi yang menjalar sampai ke ujung kepala. Perlahan, ia mengocok penisku sebelum akhirnya mengulumnya dengan bibir tebal nan seksi itu. Tangan kirinya memainkan buah zakarku sementara tangan kanannya sesekali mengocok pelan batang yang sudah basah oleh liurnya. GILA! INI GILA! ENAK BANGET! Blowjob yang diberikannya benar-benar melayang di puncak kenikmatan. Kedua tanganku cuma tergeletak lemas di sofa, kepalaku mendongak ke langit-langit. Sensasi yang ia berikan sukses membuatku merem melek, dan desahan yang semula kupendam akhirnya lolos juga. Rasa saat ia menghisap penisku sungguh istimewa. Slrrp Slrrp Slrrp "A-ahh... P-Puch... Enaakk..." "Mmpph... ah, iya kann... hehe... mmhh..." Pucchi dengan lihainya terus mengulum penisku bagai sebatang permen kesukaannya. Lidahnya menjilati kepala kontolku, tangan kanannya mengocok batangnya, dan buah zakarku masih manja dibelai tangan kirinya. Bunyi decakan menggairahkan terdengar dari sana, saking nikmatnya Pucchi bermain dengan kontolku. Tiba-tiba, Pucchi melahap nyaris seluruh batang penisku ke dalam mulutnya yang hangat. Deepthroat itu membuatku mendongak dan mendesah mentah-mentah. "Aaarrhh...." Setelah beberapa saat membiarkan kemaluanku tertahan di dalam mulutnya, Pucchi kembali menjilati dan mengocoknya seperti semula. Sesekali ia merapikan rambut yang menutupi wajahnya. Ya ampun... melihatnya begitu liar dengan kondisi setengah telanjang membuat birahiku memuncak tak terkendali. Aku bangkit berdiri cepat, dan Pucchi yang masih mengulum penisku itu ikut bergeser mengikutiku. Ia memandangku dengan tatapan menggoda, kontolku masih terkunci di dalam mulutnya. ERGHH! Kedua tanganku menahan belakang kepalanya, lalu perlahan aku memaju-mundurkan pinggul, menyodok-nyodokkan kontolku ke dalam mulutnya. Lenguhan-lenguhan kecil kami hasilkan kompak seiring sodokan demi sodokan yang kuberikan. Pucchi yang semula kaget perlahan-lahan pasrah, membiarkan mulutnya kubombardir. Ah... Ah... Aahh.... Sungguh, tiap tusukan itu benar-benar kenikmatan yang memanjakan seluruh sarafku. Aku yakin Pucchi di bawah sana juga menikmatinya. "Mngh... Mnnghh..." Desahan lembutnya membelai telingaku. Ya ampun... aku tidak tahan lagi. Aliran spermarku sudah mencapai ujung. Aku mempercepat tempo sodokanku, dan tak lama kemudian, Crot Crot Crot Aku menghentikan gerakan pinggulku. Semua sperma itu termuntahkan di dalam mulutnya. Bibir Pucchi tetap mengisap-isap kecil batang kontolku di posisi itu. Ia menatapku dengan tatapan khasnya lagi, matanya sedikit berair, wajahnya memerah merona. Aku tersenyum lalu menarik penisku keluar, dan Pucchi langsung menelan seluruh spermarku sebelum memberi senyum manis padaku. Pucchi yang baru saja hendak merapikan rambutnya langsung kudorong hingga tubuhnya terbaring di lantai, payudaranya menjulang indah karenanya. Gadis itu meringis, namun tak lama ekspresi terkejut tercetak di wajahnya saat aku menindih tubuhnya lalu mulai meremas-remas kedua gunungan itu. Kenyal, dan padat. Aku memberikan gerakan memutar di sana. Bibirnya pun sayang untuk dianggurkan—kepalaku kuturunkan dan mulutku melumat bibir tebal dan lembutnya dengan penuh nafsu. Remasanku pada toketnya tetap berlanjut. Gadis ini langsung membalas lumatanku, bahkan aku sempat kewalahan karenanya. Dengan yakin aku masukkan lidahku ke dalam mulutnya, dan lidahnya menyambut dengan mengaitnya. Saling bertukar liur, bergelut liar antara bibir kami. Cumbuan penuh birahi itu diiringi napas kami yang saling memburu. Merasa cukup dengan bibirnya, bibirku beralih menikmati teteknya. Puting kanannya kuisap pelan dan sesekali kujilat, sementara tangan kananku bertugas memilin puting kirinya yang juga sudah mengeras. Kuberlakukan bergantian hingga kedua putingnya basah oleh liurku. Rangsangan yang kuberikan membuat Pucchi menggelinjang, lenguhan-lenguhan seksi ia perdengarkan, dan aku tidak bisa berbohong—suara itu membuat gairahku semakin menguak. Di tengah ke-liaran kutelan menikmati kedua gunungannya itu, kedua tangan Pucchi bergerak melepas celana jeansnya. Aku yang menyadarinya langsung mengarahkan tangan kiriku menyusup ke celana dalamnya. Ternyata memek gadis ini sudah becek... Kutambah rangsangan di memek itu. Perlahan, tanganku mengusap-usap bibir vaginanya sementara tangan kanan dan lidahku terus bermain di teteknya. Kemudian dengan dua jariku, kutusuk-tusuk pelan lubang memeknya. Gerakan maju-mundur itu membuat lenguhannya semakin keras, dan Pucchi dengan sigap membekap mulutnya sendiri. Tak butuh waktu lama sampai aku merasakan tubuhnya menegang—sepertinya ia akan segera orgasme. "Kmmgphh..!!" Pucchi mendapat orgasme pertamanya. Cairan itu membasahi celana dalamnya dan jariku yang masih tertancap di lubang memeknya. Pucchi melepas bekapannya, menatapku sayu. "Hhh.. ka-" "Pake kacamata." "H-hah...?" "Pake kacamata!" Aku tidak mau tau. Aku harus mendapatkan kenikmatan lubang memek itu dengan kontolku, dan melihatnya berkacamata akan menambah gairahku untuk melakukannya. Pucchi mengangguk lalu bangkit mengambil kacamatanya, sementara aku sibuk menelanjangi diriku sendiri. Kaus dan kemeja itu kulempar sembarangan, lalu kuhampiri Pucchi yang baru saja selesai menanggalkan celana dalam warna merah mudanya. Tangan kanannya kutarik kasar, lalu kuhempaskan tubuh mungilnya itu ke kasur kamar ini. "Hhh... udah gatel ya, kak....?" SIAL! Ia memberiku tatapan menggoda itu lagi, lengkap dengan bibir bawah yang digigit. Aku tidak menjawab pertanyaan bodohnya. Penisku sudah mengacung tegang kembali melihat gadis ini terbaring telanjang bulat di kasur—pemandangan yang tidak kuduga sama sekali hari ini. Kedua kakinya kutarik kuat hingga tubuhnya ikut terseret dan pantatnya kini menempel di pinggir kasur. Selangkangannya kubuka lebar-lebar, memperlihatkan memek kemerahmudaan yang dihiasi bulu-bulu halus menggemaskan di sekelilingnya. Aaahhh.... Lenguh kami nyaris berbarengan saat kontolku berhasil masuk ke dalam vaginanya. Tidak heran—sepertinya pacar gadis inilah yang telah mengambil keperawanannya. Ya, walau begitu, kesempitan memek ini masih bisa kunikmati. Beberapa detik kubiarkan liang itu memijat dan menelan seluruh batangku. Aku memandangi Pucchi yang tersenyum tipis dengan mata sayu. "S-senpai..." Shit!!! Suaranya ia buat-buat. Lenguh manjanya itu mirip para gadis Jepang pemeran JAV... Aku mulai memaju-mundurkan pinggulku pelan-pelan. Kenikmatan ini tidak mau kuakhiri cepat. Tubuh mungilnya ikut bergoyang seiring sodokanku. Pucchi memejamkan mata dan terus menggigit bibir bawahnya, kedua tangannya terbaring di atas kepala. Plok Plok Plok Pinggulku bertemu dengan selangkangannya, sodokan demi sodokan kuberikan perlahan. Di posisi ini, aku bisa menikmati pemandangan toketnya yang menjulang dan tubuh putih mulusnya—apalagi wajah seksinya karena kacamata yang ia kenakan. "Ahh... h-hai, senpai... hai..." Suara manja buatannya kembali terdengar. Ya ampun... Tak lama, aku mempercepat tempo genjotanku. Pucchi tersentak, sepertinya ia belum siap dengan gerakan mendadakku. "Kyaahhh... s-senpai...!" Plok Plok Plok Lenguhan-lenguhan aku keluarkan juga seiring semakin nikmatnya suasana ini. "Kyaahh... K-kimochii... mmmpphh..." Pucchi mendongak, kedua tangannya kini mulai memilin putingnya sendiri. Rangsangan tambahan itu membuatnya semakin menggelinjang, gerakan tubuhnya yang kian liar membuat sprei berantakan seadanya. Tak lama, tubuh Pucchi mengejan. Ia menggeleng cepat, rambut pendeknya semakin kusut. Kurasa sebentar lagi ia akan mencapai orgasme keduanya. "Aaahhh...! Senpai! Mmpgh!" Orgasme kedua ia raih. Tangannya kembali terbaring lemas di kasur. Napas Pucchi terdengar pendek-pendek, keringat membasahi seluruh tubuhnya. Kontolku masih kutancapkan di dalam memeknya. Membiarkannya istirahat sebentar menjadi keputusanku saat ini, walau nafsuku sudah di puncak. Iseng aku menoleh ke kiri—dan kutemukan segulung lakban hitam di atas meja belajar. "Hhh... kak Dimas... hehe... arigatou... udah puasin aku, hehe... enak banget..." Aku masih terdiam. Sayang rasanya jika ejakulasi kedua belum juga kucapai... "K-kak, hehe... itu... bisa ditarik dulu enggak...?" Aku meraih segulung lakban itu, lalu menangkap kedua tangannya. "Eh?! Kak!" "Sssttt." Dalam sekejap, tangannya sudah terikat rapat dengan lakban. "Sekali lagi ya..." Ia agak ragu, baru kemudian mengangguk pelan. "T-tapi kok pak-" "Sstt... anggep aja kamu lagi diculik. Udah, diem." Aku menempelkan dua lapis lakban di bibirnya. Pucchi hanya nurut, tidak ada perlawanan lagi seperti tadi. Tak lama, ia memasang wajah memelas dan tangannya ditariknya sendiri ke atas. "Mmhh... mmmhhh...." Lenguhan tertahan itu ia buat-buat lagi. Ia pasti tahu ia bisa membuka mulutnya lebar-lebar dan lakban itu akan lepas dengan mudahnya. Ya ampun... gadis ini berbakat akting juga... Aku melempar lakban itu ke sampingnya, lalu melanjutkan genjotan yang sempat terhenti. Plok Plok Plok Aku semakin berpendar melihat kondisi Pucchi yang kian kacau. Keadaannya bagai seorang sandera—dan itu membuatku semakin bernafsu membombardir liang memeknya. Ahh... Ahh.. Aakkhh... Sodokan demi sodokan terus kuberikan berkali-kali. Perlahan aku merendahkan tubuhku, lalu menjilati lehernya yang kini lekat dengan aroma peluhnya. "Mmmh...!!" Kubenamkan wajahku di sana. Lehernya yang menggoda terus kujilati, tak lupa napas hangatku kutiupkan di sana. "Ehmmpphh...!" Pucchi kembali menggelinjang. Puas dengan lehernya, telinga kanannya menjadi sasaranku selanjutnya. Air liur kulumurkan di sana, sesekali kugigit kecil, lalu kutiup-tiup. Tubuhnya semakin menggelinjang karenanya. Lenguhan-lenguhan kasar kini terdengar sangat jelas di telingaku. Sambil terus menggenjot memeknya, rangsangan terus kuberikan padanya. Plok Plok Plok Tempo yang kuberikan semakin cepat. Aku sudah bisa merasakan aliran spermarku lagi. Tiba-tiba tangan Pucchi yang terikat itu mengalung di belakang leherku, ia kembali mengejan. Tak sampai beberapa detik, Pucchi mendapat orgasme ketiganya. Dan sepertinya aku akan segera menyusul. Aku mencabut kontolku lalu mengocoknya cepat—tepat setelah kuarahkan ke wajah Pucchi... Crot Crot Rambut, wajah, dan... aku lupa dengan kacamata yang masih ia kenakan. Akibatnya, sperma itu turut menempel di sana. "Mmmmmmm!!!" "Ehh... m-maafhh... aku bersihin." "Jorok!!" Aku melepas sisa lakban yang masih menempel di pipi kirinya. Kacamata itu pun kulepas. "Udah udah! Aku sendiri aja nanti... Lepasin ini dulu... Perih tau, kak..." Ia cemberut sambil menyodorkan kedua tangannya yang masih terikat. "Ehehe... maaf..." Dengan langkah agak sempoyongan, aku mendekati meja belajar itu, mencari— "Gunting di laci kanan." "Oh, ok..." Sesuai perkataannya, sebuah gunting kutemukan di dalam laci kanan. Aku kembali padanya yang kini sudah duduk. Lakban itu kugunting. "Aw..." rintihnya saat lakban itu kulepas dari kulit tangannya. Ternyata itu menyisakan bekas merah. "Eh, m-maaf." "Santai kak, hehe.... Makasih..." Pucchi memajukan wajahnya, lalu mengecup pipi kananku. Kurasa sekarang wajahku memerah... "Pucchi..." Pandanganku tertuju ke kasur yang berantakan parah. Bahkan sekarang mungkin sudah beraroma keringat kami berdua yang tercampur. "Iya?" "T-terus ini gimana...? Pacar kamu bakal curiga dong kalau kamarnya kacau gini—" "Udah. Kakak tenang aja, biar aku yang urus... hehe." Ia tersenyum sambil menepuk-nepuk bahuku. "Serius...?" "Iya..." "Gimana caranya?" "Udah ah, bawel. Kakak pulang aja. Ini ntar urusanku sama pacarku. Tenang." "Hhh... oke." Tapi tetap saja, aku tetap khawatir. Gadis yang barusan kukentot adalah pacar kakak tingkatku. Aku bisa terjerat masalah besar jika ketahuan... Tapi... Ah, sudahlah... Semoga skenario yang mungkin sudah ia siapkan itu benar-benar berhasil. Aku berbalik, lalu memunguti kembali pakaian-pakaianku. "Jadi ceritanya kamu bawa aku kesini buat ambil barang itu cuma akal-akalan kamu doang ya...?" Aku mengenakan celanaku. "Hehe... maaf..." Ia yang masih duduk telanjang bulat itu tersenyum lebar. "Habis... kakak ganteng sih..." "Hah?" "...ya walau enggak se-ganteng si atletis pacarku sih. Tapi, gimana ya, pesona kakak itu... beda... Hehe. Terus gara-gara kakak cerita kalau kakak ada di gedung sekre it-" "Sstt... itu jangan disebar ya. Rahasia kita." "Hahaha, oke." Aku tersenyum padanya. Sepertinya aku harus bergegas pulang—khawatir pacarnya bisa datang kapan saja. Kemeja itu kumasukkan ke tas, kaus putih ini saja yang kukenakan sebagai atasan. "Sampai ketemu di Bazaar Budaya, kak." "Hahaha, siap deh." Aku membuka kunci pintu lalu berjalan keluar menuju lift. Sepertinya aku akan langsung tidur begitu sampai di kontrakan. Tugas translation yang dikumpulkan besok sepertinya bisa kukerjakan dini hari nanti... "Kyaaahhh... senpai...!" Tiba-tiba ekspresi Pucchi tadi muncul di pikiranku. Aku menggeleng cepat sambil terus berjalan. Bruk "Eh?" Karena tidak memperhatikan langkah, aku menabrak seseorang yang datang dari kananku—sepertinya ia baru keluar dari lift dan sibuk dengan smartphone-nya. "Eh kak, maaf... aku enggak lihat jalan..." Ia mendongak. Ternyata seorang gadis... yang... imut... Tubuhnya hampir semungil Pucchi, berambut pendek juga—hanya saja poni depannya terlihat mirip barcode. Matanya sayu, pipinya gembul membuat gadis ini semakin menggemaskan. Aku menahan napas. "M-maaf ya kak, permisi..." Ia sedikit merundukkan kepala lalu berlalu, sepertinya ia juga tinggal di apartemen ini. Aku terpaku di posisiku sambil memperhatikannya dari belakang. Celana panjang lumayan ketat yang ia kenakan cukup mencetak lekukan tubuh bagian bawahnya. Aku buru-buru menarik pandanganku, khawatir sesuatu yang buruk bisa terjadi. Kakiku melangkah ke salah satu lift, menekan tombol, dan menunggunya. To be Continued...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 22
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal