←18+
← As Elegant As Aurora

Episode 24 — As Elegant As Aurora

EPISODE 24
"Halo, mbul?" "Kak, kontrakan kakak mati listrik enggak?" "Enggak kok, nyala nih." Aku meraih satu kaos dari dalam lemari. "Wifi ada kan?" "Ada. Kenapa? Mau nugas?" "Iya nih, daerah kosan mati listrik dari sore, katanya bakal sampai besok pagi. Masih banyak materi tugasku. Aku kesana ya?" "Aku jemput—" "Eh, enggak usah. Kakak repot ntar bolak-balik. Nanti aku ngojek aja." "Serius?" "Iya." "Yaudah deh, hati-hati ya." "Oke kak. Eh, iya... sekalian nginep deh. Enggak apa-apa kan?" "Ya terserah, aku mah boleh-boleh aja." "Okedehh, bentar aku siap-siap dulu." "Oke mbul, dah." "Dadah, muah..." AAAAKKKK GESREK! "Hehe... muahh.." Panggilan via whatsapp itu pun berakhir. Aku menghempaskan tubuh ke kasur, mengusap layar gawai sambil menggulir beberapa postingan Instagram, menunggu si gembul datang. Perjalanan dari Kuningan ke sini cukup menguras tenaga. Kesegaran tubuhku baru kembali setelah mandi tadi. Ah, bosan juga ya... Ingin sekali aku mengambil gitar, tapi tubuhku terasa lelah, dan kasur ini sepertinya terlalu sayang padaku — sulit rasanya menjauh darinya. Aku menghela napas, lalu memutuskan membaca One Piece. Kayaknya udah lumayan banyak chapter yang kelewat. Halaman yang kucari pun terbuka. Kalau tidak salah, terakhir kubaca Sanji baru saja tiba di Whole Cake Island. Dengan mata yang makin berat, aku perlahan menscroll layar yang menampilkan lembar-lembar manga tentang bajak laut itu... *** Beberapa kali mataku berkedip. Tangan kiriku masih menggenggam smartphone yang layarnya kini padam. Tapi sekarang, entah sejak kapan, selimut membalut tubuhku. Aku membuang napas pelan saat menangkap punggung seorang gadis dari sudut mataku. Cindy sedang berkutat dengan laptopnya — sepertinya dia tiba di sini saat aku terlelap... Selimut ini... dia yang memakaikannya, ya? "Mbul." "EH?!" Ia terperanjat. "Eh, eh. Maaf..." "Huhh... capek ya, kak?" Ucapnya agak sengal sambil memutar badan, tangan kanannya masih mengusap dada sebelah kirinya. "Kamu... kapan nyampe?" Tanyaku dengan suara yang masih berat. "Hhh... kapan ya? Emm..." Gadis manisku berkaus pink dan celana pendek selutut itu menoleh ke jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam. "Sekitar jam setengah 9 tadi kak. Pas aku nyampe kakak udah tidur, pules banget aku panggil enggak jawab, aku coba bangunin juga enggak melek-melek." "Ohh..." Aku menggaruk kepala, membuat rambut gondrongku makin berantakan. "Udah kakak kalo capek tidur lagi aja." Cindy kembali fokus ke komputer jinjingnya. "Ah, enggak. Aku temenin, sekalian nugas deh aku." Selimut kusingkap ke kiri, kakaku melangkah keluar kamar. "Kopi?" Langkahku terhenti di ambang pintu. "Teh panas aja kak." "Oke cinta." "Dih." Tawa kecilnya masih kudengar saat langkahku menjauh dari pintu kamar. Aku kembali dengan dua gelas minuman berbeda di kedua tanganku. Segelas teh panas kuletakkan di samping tangan kanannya yang sedang menggeser tetikus hitam itu. "Makasihh." "Sama-sama." Penasaran dengan tugas yang membuat Cindy begitu fokus, aku merendahkan tubuh, menempelkan dagu di bahu kanannya. "Tugas apa?" "Grammar, baru nyari referensi-referensi buat laporannya." "Buat kapan?" Aku mencium pipinya sebelum menarik dagu, lalu menyeruput kopi hitam buatanku tadi. "Baru tadi siang dikasih, buat minggu depan." "Lah k—" "Emangnya kakak? Tugas besok dikumpulin baru dikerjain sehari sebelumnya." Ejeknya tanpa melepas pandangan dari layar. "Dih, iya iya maba rajin..." Aku mengacak-acak rambut pucuk kepalanya. "Iiiihhh..." Dia memutar badan sedikit, memukul pelan lengan kananku, lalu merapikan rambutnya sambil menggembungkan pipi gembul itu. Ya ampun... "Kalo butuh bantuan bilang. Senior nih." Kataku agak sombong sambil berjalan ke tasku yang tergeletak di sudut kamar, tanpa menoleh. "Idih, iya iya. Ampun kakak senior, adek enggak tau apa-apa." Bunyi jarinya menekan-nekan tetikus terdengar. Dan tak lama kemudian, kami kompak tertawa geli. Meja lipat yang kubawa bersama tasku kini terpasang di atas kasur. Sebuah laptop dan mouse merah kuatur di atasnya. Layar langsung menampilkan halaman tugas American Prose yang sempat kukerjakan setelah sampai di kontrakan tadi. Tugas analisis yang dikumpulkan dua hari lagi kupindah, judul Translation kuketik di awal halaman kosong. File tugas dari dosen itu masih kucari di folder-folder. "Kak Dimas." "Iya?" "Gimana tadi?" "Soal Bazaar Budaya?" "He'em." "Oh, ya tadi si Pucchi jelasin, kalo itu nanti pengisi acaranya semua dari fakultas kita, ya aku diundang jadi salah satunya. Tadi udah ngomongin gambaran acaranya, sama riders aku..." Akhirnya file itu kutemukan. "...Terus ya masih soal itu sih, tapi udah fix aku bakal tampil, hehe. Besok-besok ada briefing lagi." "Hah? Riders? Semp—" "BUKAN! Riders tuh permintaan-permintaan aku buat panitia acaranya. Kayak makanan, akomodasi, peralatan manggung. Kayak gitu-gitu." "Ooohhh..." Cindy membalik badan, membulatkan mulutnya sambil mengangguk karena informasi barunya. "Cindy sekarang mesum ah." "Iiihh, enggak! Ya kan aku taunya itu merek..." Cindy cemberut menggemaskan. "Yang mesum mah kakak!" Katanya sebal, lalu kembali fokus mengetik. "Dih, hahaha." Begitupun aku, mulai mengetik terjemahan kalimat pertama dari teks berbahasa Inggris di sisi kanan layar. *** "Mbul, udah ntar aku aja yang nyuci." "Udah kak, sekalian!" Katanya dari dapur. Suara kran air terdengar setelahnya. Nasi goreng bapak-bapak yang dua minggu ini lewat di depan kontrakanku menjadi penyelamat perut kami yang kelaparan tadi — terutama perut si gembul. Cindy yang menyelesaikan dua tugas sekaligus itu bahkan memesan satu setengah porsi. Pantas saja pipinya enggak kekontrol... Aku menaikkan volume televisi yang sedang menayangkan konser Sheila on 7. Selalu terpukau melihat penampilan mereka, terutama Eross. Selalu bermimpi suatu hari bisa seperti dia. Kini Bila Kau Tak di Sampingku tengah dibawakan Duta, Eross, Adam, dan Brian. Takkan kubiarkan kau menangis~ Takkan kubiarkan kau terkikis~ Terluka perasaan oleh semua ucapanku~ Maafkanlah semua sifat kasarku~ Bukan maksud untuk melukaimu~ Aku hanyalah orang yang penuh rasa cemburu~ Bila kau tak di sampingku~ Aku menghela napas. "Selama ini kamu cuma anggep aku jadi tempat pelampiasan nafsu kamu kan?" Cindy tertegun. "Gabisa jawab? Hah? Berarti bener dong?" Nadaku agak meninggi. "Atau aku cuma jadi pelarian sesaat gara-gara bosen sama pacar kamu?" Aku perlahan berdiri. Cindy membulatkan mata, mulutnya terbuka sedikit. Seolah ingin berkata, namun tidak bisa. "Aku enggak punya pac—" "Bacot. Siapa itu Andhika Dewa? Hah?!" Aku meraih smartphonenya, lalu menunjukkan layar yang menampilkan notifikasi panggilan tadi. Cindy kembali diam. Mulutnya tampak bergetar. "K-kak, d-dia b—" "Dasar, cewek rendahan." Cindy terperanjat. PLAK Tamparan keras mendarat tepat di pipi kiriku. Wajahku menoleh ke kanan. "Cukup kak!" Mata Cindy berkaca-kaca. Ia mencabut smartphone dari chargernya, meraih tas yang tergeletak di sampingku. Ia menatap mataku dalam. "Aku... kecewa sama kakak..." Entah kenapa ingatan itu kembali terputar di kepalaku. Sekarang aku tidak habis pikir pernah membentak gadis itu dengan kata-kata sedengkut itu. Walau alasannya cemburu, membuatnya menitikkan air mata saja sudah cukup membuatku tak pantas disebut laki-laki lagi. Namun gadis itu, sampai detik ini, masih bersamaku... Aurora... Aku kembali menghela napas pelan. Selang beberapa menit, jeda iklan mengambil alih tayangan. Aku meraih smartphone, mengusap layarnya. Satu pesan LINE dari Hary. 22.48 Dim, bokep baru. Asik nih dieue abis jogging. Mau? Astaga... dasar jomblo. Miris banget sih lu, Har... Kebanyakan liat video begituan kan enggak baik. Batinku. 22.48 LINK NJIERRR!!! "Kak." Aku tersentak. Gawai ini nyaris jatuh. "I-iya, mbul?" Jawabku pada gadis yang melangkah dari dapur. "Makasih, ya." Cup Sebuah kecupan hangat mendarat di pipi kananku. Cukup untuk membuat senyumku merekah dan wajahku memerah. "Ehehe... sama-sama, kenyang gak?" Smartphone itu kuletakkan lagi di meja kecil di hadapanku. "Kenyang! Hehe." Dia menghempaskan pantat ke sofa, mengambil posisi di samping kananku, lalu membaringkan diri dengan paha kiriku sebagai bantalan kepala. Otomatis, pipi gembulnya jadi sasaran jari-jariku yang gemas. Aku menguyel-uyel pipi kirinya, dan Cindy tak peduli — ia sibuk dengan smartphone, chatting dengan temannya, sepertinya. Sambil terus memainkan pipinya, aku berganti-ganti saluran TV. Entah kenapa aku nggak betah menunggu iklan berakhir untuk satu acara. "Kak Dimas." Kepalanya menggeleng pelan, minta uyel-uyel gemas itu dihentikan. "Iya?" "Kalo aku pindah sini boleh?" Ya ampun... kasihan pipi kamu nanti... Uyel-uyel terus... "Boleh-boleh aja." Aku berganti mengusap dahinya. "Tapi kosmu nanggung dong, udah bayar 1 semester kan?" Pencarianku di tayangan berita malam kuhentikan. "Baru bayar setengahnya kok, hehe." Dia nyengir sambil mendongak ke arahku. "Terus...?" "Ya Kamis kan itungannya sewa habis tuh, tinggal bilang aku pindah, hehe." "Oh, ya... aku mah boleh-boleh aja." Aku kembali mengusap dahinya. Cindy tersenyum lebar. "Hehe, makasih. Ntar kita patungan deh bayar sewanya." "Hahaha, itu mah santai." Aku mengacak-acak poni sampingnya. "Ehehe." Cindy kembali berkutat dengan gawainya. Aku kembali mengganti saluran TV — dan Sheila on 7 sudah kembali di atas panggung. "Kamu enggak tidur? Besok kuliah pagi kan?" "Kakak?" "Aku ntar deh, mau lihat ini dulu." "Yaudah deh, jangan begadang lho." Mulutnya ditutupi saat menguap, lalu ia bangkit berdiri turun dari sofa. "Iya iya." "Malem, kak." "Malem, mbul." To be Continued...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 23
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal