←18+
← As Elegant As Aurora

Episode 25 — As Elegant As Aurora

EPISODE 25
Episode 25 Aku memperhatikan gumpalan yang berguncang di hadapanku. Menggemaskan sekali melihat pipinya bergoyang-goyang, sibuk mengunyah ayam geprek yang baru saja masuk ke mulutnya. Melihatnya bahagia bertemu dengan makanan favoritnya, hatiku ikut hangat. "Pelan-pelan." "Hehe... hawbis ewnak," jawabnya, mulutnya masih penuh. "Ckckck." Aku mengambil sesendok nasi dan potongan ayam geprek level 0 dari piringku, lalu memakannya. Selepas kuliah sore ini dia mengajakku makan, merengek minta diantar ke warung langganan kami. Aku menyerah pada wajah memelasnya yang menarik-narik lengan kemeja yang kupakai hari ini. Padahal tadi aku pengen makan mie. "Kenapa, kak?" Tanyanya sambil menahan sendok berisi sesuap nasi setelah mendapatiku tersenyum padanya. "Hehe, enggak... kamu... makin cantik aja." "Halah. Gombal." Walau begitu, wajahnya bersemu merah. Cindy buru-buru melahap sesuap nasi itu. Aku tersenyum makin lebar. "Kok merah gitu mukanya? Haha." "Kepedesan." "Lah, kamu level 2 mana kepedesan?" "Iiihh..." Dia merunduk, tapi tangannya masih sibuk mengunyah. Sepertinya aku yang menang. Sesendok terakhir pun aku lahap. Cindy lebih dulu menghabiskan makanannya. Es teh di gelas jumbo itu disedotnya sampai menyisakan seperempatnya. Selain ayamnya memang enak dan gelasnya jumbo, harga yang relatif murah jadi alasan kami selalu memilih warung ini. Dia menyandarkan tubuh, mengelap bibir dengan tisu. Perasaanku saja, atau pipinya memang makin gembul? Suap terakhir aku lahap, sementara es teh Cindy sudah habis. Ekspresi bahagia di wajahnya tidak bisa membohongiku. Syukurlah. Happy tummy, happy Cindy. "Kak." "Kenapa? Nambah?" Tebaku sambil menyedot es tehku yang tinggal setengah. "Hehe..." Dia nyengir. "Yaudah lah, sana nambah." "Makaseehh." Dia menghampiri etalase, memesan makanan lagi. Aku yang sudah kenyang hanya bisa senyum dan geleng-geleng. Tingkahnya selalu menghiburku. Rasa leleh dan kesal gara-gara kuis dadakan di kelas Sejarah Amerika seketika menguap. *** Slurrp... Slurrp... "Mmmmh..." "Mbul." Dia tidak merespon. Cindy yang terpejam itu terus menjilat dan mengulum batang itu dengan nikmat. Lidahnya menari indah, menjelajah tiap inci kenikmatan di sana. Bibirnya tak kalah antusias — batang itu masuk nyaris semuanya, lalu diisap-isapnya pelan. Slurrp... Slurrp... "Mmm..." "Mbul!" "Eh? Iya kak?" Akhirnya dia menoleh ke arahku. Aku tahu sebatang es krim stroberi yang kubeli di minimarket tadi adalah favoritnya, tapi kenapa ekspresinya harus kayak tadi sih... Kan jadi pengen... Minta es krimnya. "Nih, yang ini bukan?" Aku menyerahkan buku tebal berjudul Theory of Translation padanya yang duduk di sofa. Cindy menerimanya sambil terus menikmati batang es krim itu. Aku menelan ludah, melihatnya membuka-buka buku dengan tangan kiri, ujung es krim digigit-gigit kecil. Tak lama, ujung batang itu patah dan dilahap mulutnya. Untuk kedua kalinya aku menelan ludah. Entah kenapa aku jadi ngilu. "INI ES KRIM DOANG ANJIR! LU SANGEAN BANGET SIH!" Aku menggeleng cepat, lalu duduk di sebelahnya. "Bener?" "Mmm... iya nih, ada materinya. Pinjem dulu ya, kak." "Mbul." "Hmm?" Dia menoleh sambil mengemut es krim itu. "M-minta dong." Tanganku meraih es krim dari tangannya. "Mmm! Tobeli aku! Gak boleh!" Suaranya dibuat-buat. Cindy menjauhkan es krim dari jangkauanku. "Ya ampun... dikit doang..." "Hehe, canda. Nih." Suaranya kembali normal, es krim itu disodorkannya padaku. Satu gigitanku di sisi kanan langsung membuatnya menarik kembali camilan dingin itu. "Iihh! Kok banyak?!" "Hehe..." Aku nyengir. Cindy melanjutkan kulumannya di sana sambil menyuakan buku itu ke dalam tasnya. "Udah? Apalagi?" "Udah, yuk kak." Merasa semua yang ia butuhkan sudah didapat, Cindy bangkit berdiri lalu menarik tangan kananku, membuatku terburu bangkit dan mengikuti langkahnya menuju motorku yang terparkir di depan kontrakan. "Oh iya kak," Es krim stroberi itu akhirnya habis. "Kenapa?" "Ternyata besok kelas pagiku kosong. Aku besok ngojek aja ya ke kampus." Dia mengenakan helm bergambar Hello Kitty-nya. "Oh, okedeh." Aku memakai helmku, menyalakan mesin. Setelah memastikan Cindy duduk nyaman di belakang, kutarik tuas gas. Motor melaju sedang, mengantarnya pulang ke kost. "Hehe, makasih kak." Dia memberi senyum hangatnya. "Sama-sama." "Ati-ati." Cindy melambaikan tangan. "Yops." Aku membalas senyumnya lalu memutar arah kembali ke kontrakan. *** Aku menghela napas. Lima belas menit berlalu, Cindy belum juga muncul. Biasanya dia akan memberi kabar kalau makan siang dengan temannya. Namun sampai detik ini, tidak ada satu pesan pun. Whatsapp-ku semalam hanya dia tinggalkan dua centang biru. Siang ini pesan baruku bahkan tidak dibaca — padahal terakhir dia online lima menit lalu, jadi mustahil dia tidak punya akses internet. Pun sama dengan LINE, berakhir dengan tanda read saja. Aku membaringkan tubuh di pelataran joglo fakultas, dan pikiranku mulai menerawang, mencari apa yang membuatnya begini. Kemarin, setelah mengantarnya pulang, aku mengerjakan tugas lalu menonton Youtube sampai jam 10 malam. Tak ada satu pesan pun dari Cindy — malah aku yang mengirim, dan berakhir tanpa balasan. Sepertinya bukan gara-gara aku jarang menghubungi; itu memang waktu kegiatan kami masing-masing, dan dia tidak pernah sepeka itu. Sebelum aku mengantarnya pulang... Es krim... Tunggu... Jangan bilang kalau... dia berekspresi seperti kemarin gara-gara... Cindy kangen titit? Seakan ada lampu terang menyala di atas kepalaku. Tentu saja! Cindy pasti ngambek gara-gara kode-nya kemarin tidak kusadari, dan 'batang' yang sesungguhnya ia inginkan tidak ia dapatkan hari itu. Memang sih, sudah beberapa hari kami tidak begituan. Aku jadi teringat si Pucchi yang merasa kurang 'dipuaskan'. Ah, sepertinya pepatah 'laki-laki itu tidak peka' benar-benar bisa disematkan padaku kali ini. Aduh, sok-sokan pakai kode segala sih. Masih berbaring, aku merogoh smartphone dari kocek celana jeansku. Kugeser layar, menekan ikon Whatsapp. Pesanku masih belum dibaca. Aku mengetik beberapa pesan baru. 12.26 Mbul ngambek ya? Notifikasi di bawah kontaknya menunjukkan dia online satu menit yang lalu. 12.27 Mbul bales dong... 12.27 Kamu dimana kok enggak ke joglo? 12.27 Kamu kenapa sih? 12.28 Kangen titit? Jujur, aku sendiri agak risih mengetik pesan barusan... Aku menunggu dengan harapan pesan-pesan itu dibalas kali ini. Kubaringkan badan lagi — dan barulah tersadar, Jinan juga tidak mampir ke joglo seperti biasanya. Apa dia lupa dengan traktiran satu bulannya? Padahal aku sudah berbaik hati menjalankan 'ganti rugi' itu. Baiklah, sepertinya aku akan menunggu dua orang yang tadi mengurus sesuatu di ruang akademik kembali. Drrtt Drrtt Ah, akhirnya Cindy membalas. Sudah kuduga, titit adalah jawabannya. Walau sebenarnya aku juga tidak menyangka. 12.31 Kak 12.31 Yeay mbales! Hehe. 12.32 Ketemu di taman deket kontrakan kakak jam 3 Anjir ini anak... ngajak main di tempat terbuka? 12.32 Okedeh. Hehe 12.32 Ini kamu dimana? kok enggak ke joglo? Dan dua pesan terakhirku itu kembali berakhir dua centang biru. Sepertinya dia sedang menahan diri untuk tidak bertemu denganku. Aku menghela napas panjang — sore nanti akan kubuat dia kembali seperti semula. Lagi pula, sepertinya 'dia' juga sudah rindu dikulum bibir tipis itu, hehe. "Dim." Aku terperanjat. "Lu kenapa sih senyum-senyum sendiri?" "Biasa, Ton. Paling baru chat-chat sama si embul embul itu," jelas Hary. "Oh, adek tingkat itu ya?" Anton duduk di sisi kananku. "Udah bukan adek tingkat mah. Kesayangan. Ye nggak? Hahaha!" Hary menepuk keras bahu kananku. "Iya iya habis chattingan gue tadi. Udah udah, cari minum dulu ayok." "Si gembul enggak diajak?" Tanya Hary yang sepertinya kecewa. "Kelas tambahan paling." *** Aku turun dari motor, melangkahkan kaki di jalan setapak taman ini. Sore ini terasa berbeda. Ayunan, perosotan, dan beberapa arena permainan anak-anak itu kesepian. Tak ada satu orang pun saat mataku menyapu sekeliling. Senyumku merekah saat mendapati satu-satunya orang duduk bersandar di bangku sudut kanan taman. Aku mengendap-endap mendekat — sepertinya akan kuberikan sedikit kejutan. "Kak." Gagal. Dia berdiri lebih dulu sebelum kedua tanganku menutup matanya. Sepertinya sejak tadi dia sudah mengamati gerakanku. Aku mengitari bangku itu lalu menghampiri gadisku yang kini mengenakan jaket pink dan celana pendek selutut. "Halo m—" "Apasih?!" Dia menepis tanganku, membalikkan tubuh menghadapku — tapi langsung melengos, dan kudapati mukanya yang kecut. Baiklah, aku mulai curiga. Tidak biasanya ia begini. "Loh? Kamu tuh yang kenapa, mbul? Kok aku chat enggak bal—" "Sekarang. Aku mau kakak jujur..." Dia melipat tangan di depan dada, menatapku serius. Namun kedua mata itu jelas berkaca-kaca. Dia menghela napas. Entah mengapa suasana berubah tegang. "...selain kak Jinan sama Aya... kakak udah berhubungan badan sama siapa lagi...?" Aku mematung, menatapnya dengan mulut sedikit ternganga, ingin berkata sesuatu namun tertahan. Jantungku berdegup kencang, tubuhku tiba-tiba terasa dingin. Aku tidak menyangka akan langsung dipojokkan dengan pertanyaan itu. Saat-saat yang dulu kup takutkan kini benar-benar terjadi. "Kak Dimas, jawab!" "K-kamu tau dar—" "Jawab, kak!" Aku gelagapan, mendiamkan Cindy beberapa saat. Mulutku kelu, masih tak mampu menjawab. PLAK Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku. Kurasakan seluruh luapan perasaan hati kecilnya di sana — hati kecil yang kini terluka karena perbuatan bodohku. "Ternyata bener ya yang dibilang Aya..." Bibirnya bergetar. "Aya...?" batinku. Kurasa dia bisa melihat ekspresi terkejutku begitu nama itu disebut. Bagaimana mungkin Aya tahu kalau Jinan juga pernah berhubungan dengaku? Atau jangan-jangan... Jinan yang memberitahunya langsung pada Aya—aarrggh entahlah! "Aku kurang apa lagi sih kak? Hiks... Aku kurang ngasih apa ke kakak?! Hiks... Semua udah aku kasih buat kakak!" Dia membentakku sambil menunjuk-nunjuk wajahku. Cindy mulai terisak, menatapku kesal. Tubuhnya bergetar. "Ngomong kak!" "M-mbul..." Perlahan aku memegang kedua bahunya. Pipinya basah oleh air mata, wajahnya memerah. Jujur, melihat wajah pilu itu membuatku ingin menghajar diriku sendiri. "A-aku... minta maaf..." Aku menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Itu semua... aku yang salah..." Cindy tetap menolak menatap wajahku. "Oke, aku jawab... Jujur... sama siapa lagi? S-sama... Pucchi." Aku mengusap-usap bahunya, menenangkan dirinya yang kini makin tersedu-sedu. Cindy mendorongku. Respon itu sama sekali tidak kuhiraukan — bahkan aku sudah siap menerima tamparan kedua yang akan ia daratkan dengan tangan kanannya. "Hiks... hiks..." Entah mengapa, tangannya ia turunkan lagi saat nyaris menyentuh pipiku. Dia menggeleng pelan, sedikit menundukkan kepala. Aku tidak mengerti. Tamparan tadi adalah hal yang sepantasnya kuterima sebagai laki-laki brengsek. "K-kenapa enggak..." "Aku... hiks... enggak tau... hiks..." Perlahan aku mendekat, lalu mendekap erat Cindy seolah tak mau kehilangan sosoknya. "Mbul... aku bener-bener minta maaf." Wajahnya ia benamkan di bahuku, kedua tangannya mencengkram erat kemeja kotak-kotakku. Kubiarakan kemejaku basah oleh air matanya. Punggungnya kujusap pelan, menenangkan isaknya. "Jujur... itu semua karena nafsu. Aku enggak ada perasaan sama sekali sama mereka. Di hati aku ini cuma ada kamu doang. Cindy Hapsari." "Halah...hiks... mulut manis... hiks..." Cindy melepas dekapannya lalu mendorongku lagi — kali ini lebih lemah. "Aku butuh waktu sendiri..." Pintanya dengan suara bergetar. Dia merapikan rambutnya yang berantakan, menyeka air mata sebisanya. "Mbul..." "Biarin aku sendiri dulu kak!" Dia menepis tanganku yang hendak menggenggamnya. Perlahan ia mundur — dan entah mengapa kedua kakiku lemas, tak bisa bergerak mengejarnya yang berlari meninggalkanku. Punggungnya yang makin menjauh membuat ketakutanku akan kehilangannya makin dekat. Dengan tubuh lemas, kududuki bangku itu, merendahkan kepala, membenamkan wajah ke kedua telapak tangan. "******!!! TOLOL!!! CINDY LU APAIN SIH??!!!" Perlahan telapak tanganku basah oleh air mata. Tubuhku bergetar, dipenuhi penyesalan. Janji yang pernah terucap dari mulut ini kini telah aku ingkari. Untuk kedua kalinya, aku membuat Cindy kecewa dan berlinang air mata karena kebodohanku. Setelah ini, aku tidak akan terkejut dan harus siap, bilamana Cindy datang kembali padaku di pelukan laki-laki lain — yang bisa membuat senyumnya lebih lebar daripada aku, yang bisa membuat hari-harinya lebih indah dan berwarna. Walaupun... aku masih berharap, dia akan kembali lagi di dekapanku... laki-laki brengsek ini... To be Continued...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 24
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal