EPISODE 26
“Hiks... hiks...”
Pelukan di kedua lututku itu masih belum mengendur juga. Air mataku sepertinya sudah lelah menetes, hanya sisanya yang mengering di atas kulit lututku. Entah sudah berapa lama aku terkungkung di atas kasur ini, menghabiskan tisu demi tisu. Kejujuran itu benar-benar menyakitkan. Kata-kata kak Dimas sore tadi masih terngiang terus di kepala, menusuk-nusuk dada di setiap tarikan napasku. Aku tak pernah menyangka, pengakuan Aya yang datang ke kostku kemarin malam—pengakuan yang kuanggap omong kosong—hari ini terbukti benar adanya.
***
“Asal kamu tahu ya... aku... suka sama kak Dimas.”
“Hah? Sejak kapan?”
“Sejak kita ngentot.”
“Ha...?”
“Waktu kita makan di warung bakso, aku sempet ciuman sama kak Dimas di toilet. Terus, malemnya... dia ke kontrakanku... dan... yaudah, kita ngentot. Jujur, enak banget dikorek-korek pake kon-”
PLAK
“BOHONG!”
Detik-detik itu terasa membeku. Aku tak percaya kata-kata semacam itu bisa keluar dari mulut sahabatku sendiri. Dan tanganku—reflek—menampar keras pipi kanannya.
“Kak Dimas enggak mungkin ngelakuin hal kayak gi-”
“Oh, serius? Aku bahkan ragu dia enggak pernah nyentuh badan si kak Jinan itu.”
Dadaku terasa sesak, panas, seperti ditindih beban yang tak berwujud. Dalam sekejap, gadis yang berdiri di hadapanku ini terasa seperti orang asing. Bukan Aya yang kukenal bertahun-tahun.
“Cukup, Ay. Keluar.”
“Bahkan mungkin, enggak cuma aku sama kak Jinan aja. Bisa aja ada satu atau dua orang lagi yang udah pernah dientot sama kak Di-”
“KELUAR!”
Bentakanku pecah tanpa bisa kutahan lagi. Cukup untuk membuatnya melangkah keluar dari kamarku dengan wajah kaku. Dan begitu pintu tertutup, aku baru menyadari apa yang baru kulakukan—aku baru saja mengusir sahabatku sendiri. Pikiranku kacau balau. Aku hanya mampu menangis sepanjang malam itu. Bahkan ketika pesan dari kak Dimas masuk, jari-jariku gemetar tak sanggup membalasnya.
Perasaanku berantakan. Tubuhku yang lemas menghanyutku ke dalam tidur yang berat, hingga keesokan harinya aku terbangun dan memilih bolos kuliah—badan masih saja gemetar oleh shock yang belum kunjung hilang.
***
Tok. Tok. Tok.
Aku sedikit mengangkat kepala, menahan napas, menunggu suara di luar pintu itu berbunyi lagi.
“Cindy?”
Tok. Tok. Tok.
“Iya...?” Balasku dengan suara serak.
“Kamu kenapa? Mau cerita?”
Aku melepas kaitan di kedua lututku, meluruskan kaki, lalu menyandarkan punggung ke dinding. Isak tangisku kupaksa redam. Aku menengadah, menghela napas panjang, mencoba merapikan diri. Mungkin benar... saat ini hanya dia satu-satunya tempatku berbagi rasa.
“B-bentar, Dev...”
Kakiku turun dari kasur, menyentuh lantai, dan aku berjalan gontai menuju pintu. Begitu pintu terbuka lebar, gadis itu langsung menatapku penuh khawatir—lalu mendekapku hangat. Tangannya mengusap-usap punggungku perlahan, meredakan sisa isak tangisku yang masih tersisa. Aku terkulai lemas di dekapannya, membiarkan tubuh ini menemukan ketenangannya. Perlahan kami bergerak ke kasur dan duduk berdampingan di pinggirnya.
“Minum?” tawarnya. Aku hanya mengangguk.
Ia bangkit sebentar, kembali dengan segelas air putih dari dispenserku. Setiap tegukan membuat tenggorokanku yang kering perlahan segar kembali. Ia menerima kembali gelas yang kosong itu, lalu tangan kanannya mulai mengusap punggungku pelan-pelan.
“Jadi... gimana? Ceritain aja, Cin. Enggak apa-apa.”
Aku mengusap punggung tangannya sendiri. Beberapa saat kemudian, begitu dadaku terasa lebih ringan, ceritaku mengalir begitu saja. Aku menceritakan semua yang bisa kubagikan padanya—dan Devi mendengarkan semuanya dengan sabar. Tentang hubunganku dengan kak Dimas, tentang persahabatanku dengan kak Jinan, tentang pertengkaranku dengan Aya semalam, sampai pengakuan kak Dimas yang menghantamku sore tadi.
“Ya ampun...”
“Aku... bingung harus gimana lagi, Dev,” ucapku sambil menyisir poni dengan tangan.
“Menurutku... sekarang kamu harus perbaiki dulu hubungan kamu sama mereka. Dimulai dari ambil sikap sama pacar kamu.”
“Sikap?”
“Ya. Setahuku, kalian berdua belum putus, kan? Kamu yang minta waktu buat mikir kelanjutan hubungan kalian. Iya, kan?”
“I-iya...” aku sedikit merunduk, kedua kakiku mulai kua yoga-yunkan kecil. “... Aku cuma... jadi mikir. Apa aku itu satu-satunya di hatinya... atau cuma salah satunya...”
“Hmm... menurutku sih, kak Dimas itu... dari yang kamu ceritain ya... sebenernya dia orang baik.”
Ayunan kakiku berhenti.
“Hmm...”
“Apa yang bikin kamu ragu? Dari pengakuannya itu, aku rasa dia udah bener-bener nyesel. Sekarang semua tergantung hati kamu. Lanjut... atau udahan.”
Sebuah senyum tipis tergurat di wajahku. Aku menoleh ke arahnya.
“Oke? Kamu bisa selesaikan ini, pasti,” katanya sambil menepuk-nepuk pelan bahuku.
“Makasih, Dev.” Aku membalas senyumnya yang tak kalah tulus.
“Aku pamit ke kamarku dulu ya.”
“Iya.”
Ia memberiku satu pelukan hangat sebelum beranjak keluar.
“Mungkin kamu bisa cari yang lebih baik dari dia. Tapi kayaknya... aku ragu bakal ada yang bisa gantiin dia di hati kamu. Kamu udah terlanjur sayang, nyaman banget sama dia. Ya, enggak?” Ia tersenyum lagi. “Walau mungkin... semua bakal beda habis ini, Cin.”
Aku tersenyum lebih lebar padanya, sebelum gadis asal Bali itu akhirnya menutup pintu kamarku.
***
Kugantungkan handuk merah mudaku di tempatnya. Celana pendek putih dan celana dalam senada dengannya kulepas. Kaus bergambar Hello Kitty menyusul mereka. Payudara besarku berguncang bebas begitu kaus itu lepas—dan kini benar-benar telanjang, setelah bra hitamku menjadi yang terakhir menyingkir dari tubuhku.
Kusetel suhu shower pada kehangatan yang pas. Perlahan aku mendekatkan tubuh ke cucuran air itu. Aku terdiam sejenak, membiarkan aliran hangat itu merilekskan seluruh ototku yang tegang.
Tak lama, kuousap wajahku, lalu seluruh tubuhku, meratakan air sampai setiap sudut kulit basah olehnya. Gerakan tanganku terhenti tepat di kedua payudara besarku. Entah kenapa, mendadak birahi ini datang. Perlahan kedua tanganku meremas dua bongkahan itu pelan-pelan—dua toket besar yang katanya jadi idaman para lelaki untuk disentuh. Beberapa saat kemudian, kedua tangan itu beralih ke putingku yang mulai mengeras. Jari-jariku bergantian menjepit, memutar-mutar, dan menekan kedua tetek itu. Rangsangan yang kuberikan sukses membuatku memejamkan mata nikmat sendiri. Dan aku yang tak tahan lagi, perlahan menggeser tangan kananku meninggalkan puting, merambat turun ke selangkangan.
Dengan dua jari, kuousap-usap lipatan memekku, sementara tangan kiriku masih bermain dengan putingku. Kerja sama kedua tanganku ini membuatku semakin tenggelam dalam gairah. Perlahan, sambil tanganku terus mengelus titik sensitifku, kuturunkan tubuh sampai aku duduk di lantai kamar mandi dengan punggung bersandar ke dinding.
Kulebarkan kedua kaki, kutekuk agar dua jariku makin leluasa bermain di liang kewanitaanku. Klitorisku bertemu jariku, dan usapan pelanku pada organ itu membuatku menengadah sambil terpejam, mendesis nikmat.
Cucuran air shower turut menambah sensasi mengalir di tubuhku. Dua jariku itu bergerak makin liar—maju-mundur, memutar, kugantikan semua di sana, sementara puting ini kupilin-pilin dengan tangan satunya.
Tak berselang lama, aku mengejan. Gerakan di puting dan klitoku tak berhenti, sampai akhirnya cairan orgasme memancar dari lubang memekku dan membasahi dua jariku. Perlahan kubuka mata. Puting itu kulepas dari jari kiriku. Napasku masih terengah-engah. Memanjakan diri sendiri... tak pernah senikmat ini. Kedua kakiku masih terbuka, sebagaimana dua jariku yang belum juga beranjak dari vaginaku.
Aku...
Masih belum puas...
Perlahan, dua jariku itu masuk lebih dalam ke liang memekku. Tusukan perlahan mulai kulakukan di sana. Kondisiku yang sudah becek oleh cairanku sendiri, ditambah aliran air hangat, membuat jariku meluncur leluasa menembus-nembus liangku.
“Mmsshh... ahh...”
Aku mendesis lagi sambil memejam, menikmati sensasi dua jariku yang bercokol di dalam lubang hangatku. Tangan kiriku kembali bekerja, meremas-remas toketku yang sudah mengeras. Bongkahan halus itu terasa membesar di genggamanku. Dan kedua tanganku kembali berkolaborasi.
Tiba-tiba, sosok laki-laki itu muncul di kepalaku.
“Kak Dimas...” bisikku.
Dua jari berubah menjadi tiga. Tusukan itu kulanjutkan pelan-pelan, makin dalam. Imajinasiku melayang ke saat-saat 'nakal' kami berdua—saat dia menjamah seluruh tubuhku, memberiku kenikmatan yang membuatku melayang tinggi ke langit ketujuh.
“Aaahhh... kak Dimas...”
Tanpa sadar aku mendesis sambil menyebut namanya. Tiga jariku serasa memenuhi seluruh celah di sana. Remasanku pada toketku makin liar, sela-sela genggaman itu tetap menyempatkan memilin putingku, memainkan kedua tetek itu bergantian. Tempo tusukan maju-mundur itu kupercepat sebisaku. Aku menengadah lagi, menggigit bibir bawahku sendiri. Sensasi ini makin kuat menyeretku melayang dalam kenikmatan.
“Mmmnghh...!”
Desahanku kupatel sebisaku, seiring tubuhku yang kembali mengejan.
“K-kak Dimmhhh...!”
Tak lama, orgasme keduaku menghantam. Cairan hangat itu kembali membasahi jari-jari kananku yang masih tercelup di dalam memekku. Kedua kakiku kuluruskan setelah tiga jariku menarik diri dari vaginaku. Tangan kiriku terkulai lemas di lantai. Aku yang masih menengadah, perlahan membuka mata.
“Hhh...” Senyum puas kuhembuskan. Seketika beban stres ini terasa terangkat, menguap bersama uap air hangat.
Perlahan aku berdiri begitu napasku teratur kembali. Aku mengambil sabun, mengusapkannya ke seluruh tubuh, membersihkan bekas dosa dan keringat ini.
***
Kulangkahkan kakiku masuk setelah pagar yang tak terkunci itu kubuka. Pintu kontrakan tertutup rapat, dan sepeda motornya tak kudapati di garasi. Sepertinya kak Dimas sedang keluar sebentar—aneh, biasanya dia tak pernah lupa mengunci pagar. Aku merogoh tasku yang kecil, mengeluarkan sebuah kunci.
Krek. Krek.
Aku bergegas masuk begitu pintu terbuka. Langit di luar tiba-tiba bergelap, awan hitam makin pekat, membuatku tak nyaman berada di luar. Tanganku mencari saklar, menyalakan lampu tengah kontrakan. Ingatanku memutar ulang kejadian itu... saat dia mengantarku pulang selepas wawancara...
Aku duduk di sofa—tempat pertama kali dia menciumku saat hujan deras waktu itu. Entah mengapa aku tersenyum. Kejadian bodoh yang mengawali hubungan kami sampai hari ini. Aku menggeleng cepat, lalu menghela napas panjang.
Tayangan kartun sore ini sepertinya tak buruk untuk menemaniku menunggu kak Dimas pulang. Sejak kemarin dia benar-benar tak menghubungiku. Sepertinya dia memang ingin memberiku ruang sendiri. Sebenarnya aku ingin mengirim pesan agar kami bertemu... tapi mungkin, aku akan memberinya sedikit kejutan.
Tak lama, terdengar suara motor berhenti di depan kontrakan. Pagar terbuka. Aku bangkit berdiri, berjalan perlahan menuju pintu berniat menyambutnya. Namun sebelum sampai, langkahku membeku—terdengar satu suara motor lain yang juga berhenti di depan. Aku mempercepat langkah hendak mengintip dari jendela. Tapi terlambat. Pintu itu dibuka kasar.
Mataku membelalak. Sosok yang datang itu bukanlah orang yang kutunggu—bahkan orang yang paling tak kuharapkan bertemu lagi. Dia Andhika Dewa... mantan pacarku semasa SMA. Dan yang membuatku makin ketakutan, dia menggenggam sebilah pisau dan langsung berlari ke arahku. Reflekku berbalik, hendak lari dan berteriak.
“Aammppphh!!”
Terlambat. Ia berhasil membekap mulutku dari belakang, teriakanku terbungkam. Perlawananku berhenti seketika saat ujung pisau itu menempel di leherku. Jantungku berdegup makin cepat, air mata mulai tertampung di pelupuk mataku.
“Ssstt... Diem, sayang...”
To be Continued...