←18+
← As Elegant As Aurora

Episode 27 — As Elegant As Aurora

EPISODE 27
Episode 27 "Kamu nurut, pisau ini juga nurut..." Bisikan itu merambat dingin ke telinga kananku. Tangannya menarik daguku, memaksaku mendongak. Aku bergidik ngeri saat pisau itu berpindah posisi—kini berbaring rapi menyentuh kulit leherku, siap menggorok kapan saja. Air mata yang tadi tertampung akhirnya tak mampu kubendung lagi; ia meluncur deras membasahi pipiku. Lututku lemas. Dadaku sesak dipenuhi degup jantung yang berlomba-lomba. Niat perlawanan yang baru saja kususun seketika kandas. Dari sudut mataku, dua orang lain masuk dan menghampiriku. Postur mereka sama—tinggi, tegap, dan jelas bukan orang baik-baik. Salah satunya mengenakan kaus merah, berkumis tipis, rambut agak gondrong. Satunya lagi berkaus hitam dengan sebagian rambut tersemir kuning emas. Umur mereka terlihat seangkatan denganku dan Andi. Ketakutan yang luar biasa ini sukses membelenggu seluruh anggota tubuhku. Melawan berarti kalah jumlah. Berteriak pun percuma—hujan deras kini menghantam di luar, suaraku takkan pernah tembus tembok air itu. "Ini ceweknya?" tanya salah satu dari mereka. "Gila, cantik bener," sahut yang lain sambil menyeringai mesum. "Udah-udah, iket dulu." Sesuai perintah Andi, salah satu dari mereka melingkarkan lakban di pergelangan tanganku, lalu mencampakkanku ke sofa. Andi berjongkok, menyejajarkan pandangannya dengan mataku yang sudah berlinang. "A-apa... apa mau kamu...?" tanyaku dengan mulut bergetar. Dia tersenyum kecil. "Ssshh... tenang, sayang. Nggak usah takut..." Ia merapikan rambutku yang berantakan karena hempasan tadi, lalu menyeka air mataku dengan ujung jarinya. "...aku... cuma pengen mampir kok." Aku yang tadinya hanya diam kini menepis tangannya yang hendak mengelus pipiku dengan kedua tangan terikat itu. "Ndi, nggak ada cowoknya. Sepi," sahut keduanya setelah mondar-mandir menghangus seluruh ruangan. Tak salah lagi. Satu-satunya nama yang bisa muncul di kepalaku saat ini hanya satu—kak Dimas. "Ka-kamu ngapain nyari kak Dimas?!" "Hmm? Oh, iya. Emm... kenapa ya...?" Andi berdiri, melipat tangan ke belakang, berjalan kecil mengelilingi sofa sambil menatapku seperti kucing menatap tikus yang terjebak. Kedua temannya kini mengambil posisi di sisi sofa, mengerumuniku. Tatapan dan senyum mereka menunjukkan jelas—mereka siap melakukan sesuatu yang buruk padaku. "Sebenernya... cuma pengen ngasih tau, kalau dia itu nggak pantas buat kamu." Mataku membulat. Seketika ingatanku melayang pada cerita kak Dimas tentang pelemparan batu ke jendela rumah ini. Isi surat itu... senada persis dengan yang baru saja diucapkan lelaki di hadapanku. "Ja-jadi kalian yang lempar batu kesini?" "Pinter banget sih kamu. Siapa tadi namanya, Ndi?" "Cindy." "Ohh... Cindy... hehe..." Lelaki berkaus merah di sebelah kananku mencolek pipiku—terlalu cepat untuk kutepis. Refleks itu membuatku menyembunyikan wajah di sikuku. "Eits... Cindy, sini, lihat aku." "Nggak!" Kubanting badanku menolak sentuhan Andi. Tapi tak bertahan lama—salah satu temannya menarik kedua tanganku ke atas, menekannya di balik sandaran sofa. Andi menggenggam daguku, memaksaku menatap matanya. "Oke, gini. Aku punya tawaran. Balikan sama aku, terus aku nggak bakal apa-apain Dimas." "Hah?! Mana mungkin aku mau sama cowok brengsek kayak kamu! Kamu udah nyakitin aku dulu, sekarang dengan kamu ginian aku, bakal bikin aku balikan? Idiot! Cuih!" Reflek aku meludah ke wajahnya. PLAK! Sebelum sempat kumaki manusia sialan ini lebih lama, remote TV yang tergeletak di meja sudah kuraih tangannya dan menghantam pipi kananku. Wajahku tersapu ke kiri. Air mataku kembali jatuh menemani perih yang kini menyala-nyala di pipiku. Saat kuberani menatapnya lagi, mata Andi sudah berubah. Cahaya di dua bola mata itu padam, digantikan sesuatu yang menakutkan. "Zal, pegangin terus," Andi menoleh ke lelaki di kananku. "Hajar." "Wahaha! Siap!" Aku panik. Rontaku mulai mengamuk saat Andi mulai menyeret celana pendekku ke bawah, sementara temannya yang berkaus hitam itu menarik kausku ke atas dengan kasar. "Eh?! J-Jangan!!" Perlawananku tak sanggup melawan mereka berdua. Dalam hitungan detik aku nyaris telanjang. Andi berhasil melucuti seluruh celanaku hingga ke mata kaki, dan temannya berhasil mengangkat kausku sampai kedua payudaraku yang terbungkus bra hitam itu tersingkap. Teriakanku mati di tenggorokan saat lelaki berkaus merah di belakangku membekap mulutku dengan telapak tangannya. "Ssttt... berisik!" Aku mengerang, terus menggeleng. Payudaraku dicangkul keluar dari cangkang bra. Dua gunung dagingku memenuhi telapak tangannya, ia getar-getarkan pelan—bersamaan dengan saat selangkanganku dibuka lebar-lebar oleh Andi. Kedua tangannya menahan kuat pahaku agar tak merapat. Eranganku makin menjadi saat remasan kasar di dadaku bertemu dengan lidah Andi yang menjilat liang kewanitaanku di bawah sana, dua-duanya bersamaan. Dengan liarnya, area paling sensitifku itu ia lahap. Gelinjang tubuhku tak bisa kutahan, apalagi saat kedua putingku juga dipilin berulang-ulang. Tubuhku boleh berkata menikmati—tapi hatiku memberontak setengah mati diperlakukan seperti ini. Perlawananku melemah perlahan. Air mataku makin deras, mengalir sampai ke telapak tangan yang membekap mulutku. "Gila boi, teteknya gede. Enak banget." Lelaki berambut semir itu kini melahap payudara kananku. Air liurnya melumuri putingku, membuatku bergelimang rasa geli dan jijik—ditambah jepitan dua jarinya di puting yang satunya. Ia bergantian menyerang kedua bongkahan yang mulai mengeras itu, sementara Andi masih melancarkan serangannya pada klitorisku. Tangan kasarnya menggerayangi pahaku naik-turun. Semua rangsangan itu mereka lancarkan tanpa ampun, tanpa menyisakan satu detik pun dari tubuhku yang tak mereka nikmati gratis. "Mmmpp!! Mmphh!!!" Aku terpejam, mengerang pilu. Tidak pernah kusangka, malam ini aku harus mengalami ini semua. Kak Dimas... tolong aku... Tiba-tiba lidah Andi menembus masuk ke liang kewanitaanku, bergerak liar di dalam sana—menjilati dinding vaginaku perlahan, telaten, seperti sengaja menyiksa. Kedua pahaku semakin memberontak, tapi kedua tangan Andi lebih kuat menahannya. Tubuhku kian tak terbendung saat temannya menggigit-gigit putingku yang sudah mengeras. Aku mengejan. Pinggulku terangkat tanpa kusadari. Kepala Andi terjepit di antara pahaku saat orgasme pertamaku pecah. Sesaat setelah semuanya terlucut dariku, kedua kakiku roboh lunglai. Meski begitu, payudaraku masih belum lepas dari serangan penuh nafsu lelaki itu. "Heh... heh. Bentar, Do." Andi berdiri, mengelap cairan orgasme dari wajahnya, menghentikan temannya secara mendadak. "Ah elah, lagi enak-enaknya netek juga," protes lelaki itu. "Angkat, Zal." Isak tangisku makin terdengar. Ini semua... masih belum berakhir. Tubuhku yang sudah lemas mereka pindahkan ke karpet. Tanganku masih ditahan di atas kepala oleh lelaki berkaus merah itu. Sementara yang tadi meremas dadaku kini terlihat melepas celana jeansnya. "Udah, Ndi! Udah!!!" Teriakku parau sambil terus meronta. "Telat." Andi melemparkan sesuatu ke temannya yang menahan tanganku. "Sumpelin." Perintahnya dingin, sambil ia turut melepas celana jeansnya sendiri. Aku menutup rapat mulutku begitu benda itu—celana dalamku sendiri—didekatkan ke wajahku. Aku meronta, menggeleng sebisaku. Rambut panjangku berantakan, sebagian menutupi wajah yang kini basah oleh keringat. "Sshh! Heh! Nurut!" Ia menangkap wajahku, merapikan rambutku agar akses ke mulutku terbuka. Aku merapatkan kedua bibirku sekuat tenaga—sampai akhirnya ia menekan hidungku. Tubuhku kalah. Mulutku terbuka meminta udara, dan celana dalam itu berhasil disumpalkan ke dalam mulutku. Tak lama, si rambut semir datang membawa kain slayer, mengikatnya erat di belakang kepalaku. Praktis. Sumpalan itu terkunci. Tak bisa lagi kuludahkan keluar. "Mmmppgghh...!!!" Sreekk! Kaus yang kukenapun disobek. Sebilah pisau digunakan untuk menyayat beberapa bagian kaus agar bisa dilepas tanpa melewati tanganku yang terikat. Lelaki berkaus merah itu membantu temannya melepas bra hitamku paksa tanpa lepas menahan tanganku—kedua talinya diputus dengan kasar, pengait di punggungku diraih dan dibuka. Bra itu terlempar entah ke mana. Kini aku telanjang bulat sepenuhnya di hadapan mereka. Mataku membulat saat melihat dua batang penis yang mengacung tegang, terbebas dari sarangnya. Rambut lebat tak bercukur yang mengelilinginya membuatku ingin muntah. Seketika aku meronta lagi. Pikiranku sudah dipenuhi keyakinan yang mengerikan—perlakuan yang jauh lebih buruk akan segera datang. "Gantian ya?" Andi mencengkeram pahaku yang sengaja kututup rapat. Ia menatap kedua temannya, merundingkan sesuatu dengan tatapan. "Terserah, lu dulu sana. Gue mau netek lagi." "Eh enak aja, gantian dulu kek! Lu pegangin, gue juga mau mainin tuh tetek!" Saat mereka sibuk berdebat, aku masih bergumul dengan Andi yang berusaha membuka selangkanganku lagi. Sambil mengocok penisnya, satu tangannya berkelut dengan kedua pahaku yang ngotot tak mau membuka. Perlawanan itu kalah setelah kedua payudaraku tiba-tiba diremas kasar oleh dua teman Andi yang kini mengapitku kanan-kiri. Selangkanganku terbuka dengan mudah. Aku terpejam saat melihat Andi bersiap menusukkan penisnya ke liang vaginaku. "Mmpphh!!!" Aku memekik, melotot, saat Andi langsung mengentakkan pinggulnya—membenamkan seluruh batang kemaluannya yang besar itu sampai ke akar ke dalam liang kewanitaanku. Vaginaku berkedut, memijit kontolnya yang memenuhi liang itu sampai penuh. Aku menatapnya sayu, dan di mata Andi tergambar sesuatu. Keheranan. Sepertinya ia baru menyadari sesuatu. "Anjing lah, udah nggak perawan ternyata." "Udah ngentot sama Dimas nih berarti. Parah emang." "Dasar cabe lu! Ahahaha!" Aku terpejam. Andi mulai menggenjot vaginaku dengan keras, sementara kedua payudaraku masih dimainkan dua temannya—diremas kasar, putingku dipilin-milin. Bahkan kini kurasakan mereka menghantam dan menggesekkan penis mereka di antara gunung dadaku. Semakin membuatku ngeri, semakin kurenggangkan mata ini. Kuberas tenaga menahan setiap desahan agar tidak lolos. Ini bukan kenikmatan yang pernah kuinginkan. Kak Dimas!! Cepet balik!!! Plok. Plok. Plok. Pinggul Andi terus menghantam selangkanganku. Liang vaginaku yang sudah becek dari rangsangan tadi makin mempermudah tusukan batang kemaluannya yang sangat keras itu. "Aaahh! Gila! Masih enak aja ini memek! Mmmhh!!" "Jangan lama-lama Ndi, gue juga mau nyoba cok." "A-Aarrhh! Gue keluar, anjeng!" pekik lelaki di kananku. Crot. Crot. Crot. Tak lama, wajahku berlumuran cairan hangat milik lelaki itu. "Ah elah, lemah banget sih lu, udah crot aja." "Bacot. Hhh..." Crot. Crot. Crot. Hanya berselang beberapa detik, wajahku kian belepotan oleh semburan lelaki di sisi kiriku. Pipi, dahi, bahkan beberapa helai rambutku ikut lengket oleh cairan itu. Bau amisnya menyengat hidung sampai membuatku mual. "Lemah lu berdua anjer! Belum juga nyelup!" Seru Andi sambil kian mempercepat temponya. Aku yang terkejut akhirnya melepaskan desahan-desahanku yang paling keras—walau masih tertahan sumpalan celana dalam dan kain slayer itu. Kini tersisa Andi seorang yang menyentuh tubuhku; kedua temannya hanya kudengar terengah-engah dari kejauhan. Rangsangan yang terus mereka lancarkan sejak tadi membuat tubuhku kembali menegang. Andi terus menggenjot, seiring pinggulku yang mengejan tak karuan. Aku memekik di balik sumpalan itu. Orgasme keduaku pecah, dan penis Andi terlumuri cairan milikku. "Hahaha! Gila. Enak kan?! Rasain nih kontol!" Andi terus memompa dengan intens, bagai ingin menghancurkan habis vaginaku. Rintihan kasar terus keluar dari tenggorokanku tanpa bisa kubendung. Nafasku kian terengah—dan kini aku bahkan sudah tak mampu mengeluarkan air mata lagi. Andi yang sedari tadi menggenjot penuh nafsu itu tiba-tiba berhenti. Mataku langsung melotot. Crot. Crot. Crot. Andi menyemburkan seluruh spermanya ke dalam vaginaku. Ia tersenyum puas—tanpa satu pun rasa bersalah atau takut di wajahnya. Kubalas ia dengan pekikan pilu di balik sumpalan. Andai mulut ini bebas, segudang makian sudah kuterjangkan ke wajahnya. Lelaki ini benar-benar sudah gila—ia sama sekali tak memikirkan resiko dari perbuatannya. Aku tak mampu lagi menggambarkan perasaanku saat ini. Marah, takut, cemas—semua bercampur jadi satu. Aku belum siap mengandung. Apalagi... anak dari laki-laki bejat seperti dia. "Wah anjir, gila lu, Ndi." "Ntar dia hamil panik lu." "Hah? Bodo amat." Andi mencabut penisnya. Aku yang syok hanya bisa terdiam dengan napas terengah-engah. "Dah tuh. Zal, Do. Siapa." Andi melangkah meninggalkanku. "Dih. Ogah gue nyelup, masih ada bekas sperma lu, anjing." "Ah elah, Do. Dikasih memek gratis kagak mau? Yaudah gue aja sini." Aku lemas tak bertenaga. Bahkan saat lelaki itu—yang ternyata sudah telanjang bulat—membalikkan badanku, tak ada satu pun perlawanan yang bisa kuberikan. Ia menampar-nampar pantatku dengan keras. Aku yang masih tengkurap hanya meringis menahan perih. "Woi, bangun!" Ia mengangkat pinggulku, meski tubuh bagian atasku masih tergeletak malas. Plak. Plak. Plak. Tamparan-tamparan itu kian keras dan kasar. Aku menyerah. Dengan sebisaku, tubuh ini kuangkat—menuruti posisi yang ia inginkan. Doggy style. Aku mulai kehilangan harapan. Hujan di luar bahkan semakin lebat. Aku pesimis kak Dimas akan datang. Dia pasti menunggu hujan mereda dulu—begitu pikirku, dan pikiran itu lebih menyakitkan dari semua tusukan yang akan datang. Mataku terpejam ngeri saat kepala penis itu digesek-gesekkan pelan ke bibir vaginaku. Beberapa kali mereka bergesekan, sebelum akhirnya lelaki itu memasukkan setengah batang penisnya. Pekikanku pecah lagi saat batang itu amblas seluruhnya ke dalam vaginaku. Tanpa memberiku waktu mengatur napas, ia langsung menangkap kedua payudaraku, meremasnya kasar, dan mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur. "Wogh! Mantab, Ndi! Selera lu emang gila sih!" Plok. Plok. Plok. Ia memulai dengan tempo lambat—dan beberapa kali aku merasa jijik saat kulitku bersentuhan dengan rambut-rambut selangkangannya. Di tengah sodokan itu, daguku tiba-tiba ditarik ke atas. Lelaki berkaus merah itu. Ia memotong lakban di tanganku, lalu melepas ikatan slayer di mulutku. "Yaudah gue di sini aja." Ia mencabut celana dalamku dari mulutku—sudah sangat basah oleh air liurku, bahkan untaian liur masih tercipta menggantung saat ia membuangnya sembarangan. Aku terbatuk. Mulutku terasa sangat lega. Tapi kelonggaran itu tak berlangsung lama—batang penis lelaki itu langsung dijejalkannya ke dalam mulutku. Sontak aku berteriak, mengangkat badan, satu tanganku mendorong pahanya, berusaha meloloskan diri. Usahaku sia-sia. Rambutku dijambak, kepalaku dikunci oleh kedua tangannya. "Isep woi! Jangan didiemin aja kontol gue!" Jambakannya makin kencang sampai aku meringis perih. Harga diriku... sampai tak bisa kurasakan lagi dalam diriku saat ini. Kedua tanganku lurus menopang tubuhnya, dan dengan terpaksa, aku mulai mengisap penis itu sambil menerima sodokan yang kian cepat dari belakang. Lelaki yang tadi menyumpal mulutku kini mendesis menikmati blowjob asalku. Napasku yang berat terdengar jelas di sela-sela lumatan dan jilatan paksa itu. "Wah tai lu, Do! Gue pengen denger dia desah malah lu sumpel lagi, bangsat!" "Bacot, anjing." Tiba-tiba lumatanku terhenti. Lelaki di depanku menggerakkan pinggulnya maju-mundur sendiri, menusuk-nusukkan penisnya ke dalam mulutku. Aku menjerit dalam hati. Kini aku benar-benar ditusuk dari depan dan belakang—ditambah serangan kasar di kedua payudaraku. Tubuhku kembali bergetar hebat dan aku memekik saat orgasme ketigaku tercapai. Tapi nafsu mereka berdua masih membimbing tubuh ini untuk terus memanjakan penis mereka—tanpa sedikit pun mempedulikan aku yang sudah tersiksa sampai tulang. "Aaahh..!!" Crot. Crot. Crot. Selang beberapa saat, tanpa aba-aba, sperma itu disemburkannya ke dalam mulutku. Aku yang sudah tak berdaya tak bisa meloloskan diri—kepalaku tertahan kuat oleh tangannya. "Telen!" Perintahnya setelah penis itu meninggalkan mulutku. Dan aku menurut. Dengan rasa jijik yang menjalar ke seluruh tubuh, aku menelan semua sperma itu. Aku terbatuk hebat begitu lendir menjijikkan itu melorot ke kerongkonganku. Bersamaan dengan itu, lelaki di belakang menarik penisnya keluar, tangannya yang menopang dadaku berpindah. Praktis—aku roboh tengkurap ke karpet, diterpa lemas yang luar biasa. Tubuhku dibalik lagi. Lelaki itu terlihat mengocok penisnya dengan cepat, dan tak lama... Crot. Crot. Aku terpejam, menghindar agar sperma itu tak mengenai mataku—tapi semburan itu jatuh tepat di payudaraku, beberapa menebal di putingku. Meski begitu, ia tersenyum puas, bangga sudah bisa membuatku berantakan seperti ini. Aku tergeletak tanpa tenaga—keringat membasahi seluruh tubuh, sperma lengket menodai beberapa bagian diriku. Aku merasa sangat rendah. Sangat kacau. Napasku sengal, kepalaku berputar, sampai tak ada satu kata pun yang bisa keluar dari mulutku. Mataku mendapati Andi yang juga sudah telanjang bulat itu tersenyum menyeringai sambil mengelus-elus penisnya yang sudah mengacung tegang lagi. Aku menatapnya perih, memohon dengan menggelengkan kepala. "Hahaha! Belum! Belum!" Aku berteriak dalam hati. Ini semua... masih belum berakhir. Andi dalam sekejap sudah mengangkat kaki kiriku. Dan untuk kesekian kalinya, liang vaginaku dihujam lagi. "Aahh...! u-udah, Ndi...!" "Hah? Apa? Enggak denger," tanyanya dengan nada dan wajah mengejek. Aku tahu, sebenarnya ia mendengar permohonanku barusan. "Udahh...!" Bentakku, memuntahkan seluruh isi hatiku. Tapi hanya dibalas tawa, dan genjotan yang terus berlanjut ke vaginaku. Kedua tanganku mencengkeram karpet merah itu kuat-kuat menahan perih di liang kewanitaanku. Aku menggigit bibir bawah sambil terpejam. "Desah woi!" PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku. Dan itu cukup memaksaku mendesah. "A-aah.." "Yang kenceng!" Genjotan itu kian intens. Dan reflek, aku mendesah. "A-Aaahh! Mmhh..!" "Bilang kontol ini enak!" "Aah... k-kontol e-nak!" "Apa? Yang kenceng, anjing!" "Mmmhh...! iya! K-kontol enaakkhh!! Aaahh...!!" "Hahaha! Dasar lontenya Dimas!" "Hahahaha!" Tawa mereka bertiga pecah bersamaan. Sementara aku terus terpejam, mendesah sebisaku. "Eh, anjing, masih ngaceng gue. Keinget pantatnya tadi gara-gara lu." "Dih, yaudah sikat lah. Perawanin tuh anus sekalian." "Eh bentar lah, ini masih enak." "Ganti posisi lah, Ndi. Gue mau nyodok tuh bokong sekarang." "Nggak! Jangan!!" Tolakku dengan bentakan keras. "Wahaha, yaudah. Sini, bantu." Andi menghentikan sodokannya—meski penisnya masih menjejal di dalam vaginaku. "Jangan! Enggak mauu!" Mohonku parau. PLAK! PLAK! "Diem ah!" Dua tamparan keras lagi kuterima dari Andi. Bahkan tatapan memelasku tak mampu menghentikannya. Dalam sekejap, tanpa bisa kulawan, kedua temannya memposisikan aku seperti anjing—Andi kini berbaring di bawahku dengan penisnya masih tertancap di vaginaku. Aku terus mengerang memohon agar tak satu pun jari menyentuh anusku. Tapi sepertinya itu percuma. Kedua tangan salah satu temannya sudah meremas kuat bongkahan pantatku, dan tak lama setelahnya—saat Andi terus memompa—aku merasakan kepala penis itu menyentuh duburku. "Hahaha! Buru, Do! Perawanin tuh anus!" "Yo'i! Hahaha!" "J-Jangaaagghh!!!" Aku mengerang kesakitan saat penis besar itu menembus masuk ke lubang anusku. Sakitnya berkali-kali lipat melebihi saat kak Dimas merobek selaput daraku dulu. Tak lama, anusku digenjot pelan oleh penis itu, bongkahan pantatku beberapa kali ditampar kasar—dibarengi Andi yang terus menggerakkan penisnya di vaginaku sambil meremas-remas payudaraku dari bawah. Tubuh ini kembali bergetar hebat. Rasanya aku tak kuat lagi bertahan di posisi ini—aku bisa roboh bebas kalau bukan karena ditopang tangan-tangan mereka. Aku merintih pilu. Pantatku yang baru dijejali benda asing itu perih sekali. "Anjir lah, ngaceng lagi gue. Ikut!" Tiba-tiba, lelaki bernama Zal itu memposisikan diri di hadapanku. Siap menjejalkan penisnya yang sudah tegang itu ke dalam mulutku. Aku yang nyaris mati rasa hanya pasrah saat mulutku dibuka paksa dan disumpal lagi oleh batang kemaluan itu. Lengkap sudah. Mulut, anus, dan vaginaku—ketiganya penuh oleh penis mereka bertiga. Tak butuh waktu lama sampai mereka menggenjot ketiga lubang itu bersamaan. Aku menangis pilu dalam hati. Sebagai perempuan, aku tak pernah diperlakukan serendah ini. Bahkan kurasakan, para lelaki ini tak sedikit pun menganggapku manusia—hanya sarana pemuas hawa nafsu mereka. "Aahh! Gila! Bokongnya mantep, bro! Sempit!" "Hahahahh...! Ini mulutnya anget juga!" "Hajar, bro! Hahaha!!" Serangan bertubi-tubi yang mereka lancarkan mengantarkanku pada orgasme keempat hari ini. Detik demi detik, tubuhku kian lemas setelah orgasme itu—tapi mereka bertiga masih terus menggenjot penuh nafsu. Keringatku bercampur dengan milik mereka. Desahan mereka terdengar begitu puas. Sementara aku... sudah tak mampu bersuara apa pun lagi. Aku nyaris kehabisan napas saat lelaki di depanku memaksakan deep throat sambil menahan kepalaku—untung itu tak berlangsung lama. Perih kini juga kurasakan di kedua bongkahan pantatku karena tamparan keras yang dijatuhkan berulang-ulang. Aku yakin kulitku sudah merah di sana. Hentakan di lubang anusku juga benar-benar menyiksa—ditambah putingku kini dimainkan jari-jari Andi yang terus menggenjot dari bawah. Sodokan mereka berlangsung beberapa menit lebih. Sampai akhirnya, mereka bertiga menyemburkan spermanya nyaris berbarengan. Crot. Crot. Crot. Crot. Mulut, anus, dan vaginaku seketika hangat dan penuh lendir lengket menjijikkan itu. Satu per satu penis mereka mencabut diri. Tak kuasa menahan rasa mual, aku muntahkan sperma yang masih tertahan di mulutku—bersama seluruh isi perutku—ke karpet. Sayangnya aku tak sempat memuntahkannya tepat di wajah Andi yang berada di bawahku. Ia lebih dulu mencabut penisnya dan menggeser tubuhnya menjauh. Badanku roboh ke kiri. Aku benar-benar mati rasa—tak bisa merasakan tubuhku sendiri. Napasku sengal. Seluruh badanku gerah dan lengket oleh keringat. Rambutku yang tadi masih wangi dan rapi usai keramas kini lepek dan bau, tergerai bebas berantakan. Dari posisi terbaring yang lemas itu, kupandangi mereka dengan penglihatan yang nyaris kabur. Aku tak habis pikir—masih bisakah mereka memasang senyuman itu setelah memperlakukanku sampai sejauh ini, tanpa sekecil apa pun rasa bersalah. Perlahan, pandanganku mulai menyempit. Energiku sudah mereka kuras habis. Aku tak bisa bertahan lebih lama lagi. Dan ternyata, sampai detik ini, sosok yang kutunggu itu belum juga datang. Padahal aku begitu berharap dia datang—menyelamatkanku sebelum mereka memperkosaku lebih jauh seperti ini. Kesadaranku terus kupertahankan dengan sisa-sisa tenagaku. Hingga pada akhirnya... semua berubah menjadi gelap... To be Continued...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 26
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal