←18+
← As Elegant As Aurora

Episode 03 — As Elegant As Aurora

EPISODE 03
Episode 3 "Eh oiya kak, aku nge-charge hapeku ya." Dia menunjuk ke arah rol kabel di sebelah kanan bawah TV. Chargernya sudah tertancap di sana. "Oh, iya." Aku buru-buru menutupi selangkanganku dengan bantal di samping kananku, lalu menumpukan dagu di atasnya, berpura-pura santai. "Kak Dimas." "Iya?" Aku menoleh dengan posisi konyol ini. "Kakak suka banget sama musik ya?" "Kok tau?" "Tuh, ada keyboard. Tadi di kamar kakak aku lihat ada gitar akustik... gitar elektrik juga. Poster di kamar kakak musik semua. Apalagi ini, kaos-kaosnya pun nggak jauh-jauh dari musik. Hehe." "Hehe, iya." Aku memperbaiki posisi dudukku. "Instagramnya kakak juga banyak video nge-cover lagu." DEG... "Hihihi... udah aku follow kok, kak. Follow back ya. Hihi." Cindy cekikikan sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan. Aku menahan napas. "I-Iya..." Wajahku memerah. Dia pasti sadar aku menyukai salah satu foto di Instagramnya. Foto yang hampir kupakai sebagai bahan bacolan tadi malam. Setelah itu, tak ada percakapan lagi selama beberapa menit. Cindy fokus ke tayangan kartun. Kemaluanku masih saja keras. Hawa dingin ruangan ini semakin memperkuat nafsuku — semakin kutahan, semakin kuat hasrat ini membakar dadaku. Aku menoleh ke arahnya. "Cindy..." Dim, jangan nekat. "Iya kak?" Dia menoleh. "Emm... gini..." Tahan, Dim. Tahan! "Kenapa kak?" Dia mengernyitkan dahi. Kedua mata kami bertemu. Aku menatapnya dalam-dalam. Jarak wajah kami hanya tiga puluh senti. Perlahan, aku mendekatkan wajahku. "Ka-mpp..." Belum selesai dia berucap, aku sudah lebih dulu mencumbu bibir tebalnya itu. Kedua tanganku meraba-raba belakang lehernya. Tak ada respon. Sama sekali tak ada respon darinya. "Eh... m-maaf..." Aku berpaling, menjauh dan berdiri membelakanginya. Kedua tanganku menutupi wajahku yang tertunduk. Jantungku berdebar tak keruan. Aku nggak habis pikir bisa sekurang ajar itu — langsung nyium dia begitu saja. "Kak Dimas..." Aku bergeming. "Kok berhenti...?" Suaranya lembut. Dan suara itu mengejutkanku. Aku melepas kedua telapak tanganku dari wajah, lalu menoleh. Cindy meletakkan handuk yang dikalungkan di lehernya tadi ke punggung sofa. "Eng... enggak apa-apa?" Dia tersenyum. Tangan kirinya menepuk-nepuk sofa di tempat dudukku tadi — mengisyaratkanku kembali ke sana. Aku lekas duduk, meraih dagunya dengan tangan kiriku, lalu mendekatkan wajahnya. Cindy memejamkan mata. Napas hangat kami bertemu sejenak sebelum akhirnya bibir kami saling bercumbu. Kedua tangannya merangkul erat di belakang kepalaku, sementara tanganku kembali meraba lehernya yang tertutup rambut panjang yang masih terasa basah. Ciuman kami berlanjut. Kami bertukar liur di dalam mulut. Lidahku menari liar di mulutnya, lalu dikait oleh lidahnya yang anak bets. Kami menikmati ciuman ini. "Ahahahahaha! Lihat itu, Patrick!" "Hohohoho! Iya, Spongebob! Aku lihat! Ohohoh—" Aku meraih remote dan mematikan TV tanpa melepas ciuman kami. Ciuman kami makin liar sampai dagu kami basah oleh air liur. Decakan kami terdengar makin keras. Bibirku berpindah menciumi lehernya — rambutnya masih harum. Kedua tanganku turun ke dadanya, meremas kedua payudaranya lewat kaos. Tunggu. Dia nggak pakai beha? "Mmmhhh... sshh... uummhh..." Desahannya terdengar pelan di telingaku. "Cin, nggak pakai beha ya?" "Mmmhhh... iya... hehe... aahh... soalnya basah... mmmhh... terus kak..." Dia masih memejamkan mata, menggigit bibir bawahnya. Dia menikmati ini? "Lepas ya?" Aku memegangi ujung kaosnya. Cindy tersenyum, kedua tangannya yang semula terkulai di bahuku kini ia angkat ke atas. Kupandang itu sebagai persetujuan. Segera aku mengangkat kaosnya. Perlahan terlihat perutnya yang datar, pusarnya yang menggoda — lalu kaos itu tersangkut di dadanya karena memang terlalu sempit untuk Cindy. "Aduh, susah nih." "Iih... geli kak, buruan." Perlahan aku menariknya dengan susah payah. Dadanya bergoyang saat terbebas dari kaos itu. Kedua bongkahan itu kencang dan penuh, menantangku untuk meremasnya lagi — yang kini sudah tak terhalang apa pun. Kulit putih mulus Cindy semakin membakar gairahku. "Wah... gede juga ya..." Begitu kaos itu terbuang, kedua tanganku langsung meremas kasar payudaranya. "Ahhh... mmmhhh... pelan-pelan kaaakk... mmmhhh..." "Enggak bisa." Bibirku kembali menciumi lehernya. Sesekali kuhirup aroma keringatnya yang mulai membasahi tubuhnya. Hawa dingin yang tadinya menyelimuti kami kini kalah telak oleh panasnya nafsu kami berdua. "K-kaakk..." "Hmm?" Aku menghentikan remasan dan ciumanku. "Ganti posisi ya... sempit di sini..." Tangannya menyingkirkan tanganku dari dadanya. Dia mengambil bantal di sofa, lalu rebah terlentang di karpet. Kedua tangannya disilangkan ke atas sehingga ketiak mulusnya terlihat. Payudaranya terangkat, menantang. "Yuk, lanjut kak." "S-SIAPP!" Aku menindihnya, lalu melepas kaosku yang bikin gerah. Kini aku menjilati ketiak mulusnya sambil kedua tanganku masih bermain-main dengan dadanya. Jariku kuputar-putar di sekitar putingnya yang kemerahmudaan itu hingga dia gatal dan menggelinjang. "Iiihhh... kaaakk... mmmhhh... jangan gituuu... aahh..." Desahan itu kembali terdengar. Melodi paling indah di telingaku. Puas dengan ketiaknya, aku kembali mencumbu bibirnya. Jariku mulai mencubit-cubit dan memelintir putingnya yang sudah mengeras. Cindy semakin menggelinjang. Kedua tangannya yang tadi tersilang kini mencengkeram kedua bahuku. Payudaranya naik turun cepat. Aku melepas ciuman dan beralih ke perutnya, menjilati liar pusarnya. "Mmmhhh... en-aaakk..." Kepalanya mendongak. Karena makin gemas, aku mengisap payudara kirinya. Payudara kanannya kusibukkan dengan tanganku, lalu bergantian. Sampai akhirnya tubuh Cindy menegang. "Aaaakkhh... kaaakk... aku... keluaaarr... mmmhhhh...!!" Kulirik ke arah selangkangannya. Celananya sudah basah kuyup. Cindy squirt. Dadanya naik turun, napasnya sengal. "Masih kuat...?" "Ehem." Dia tersenyum. Aku menurunkan celana training itu. Ternyata dia juga nggak pakai celana dalam. "Ih, kamu sengaja ya?" "Apa kak?" "Nggak pakai daleman." "Iiihh... kan basah semua... nggak nyaman tau pakai yang basah-basah. Lagian, emang aku mau pakai daleman cowok?" Aku menahan tawa sambil melepas celana training itu sampai kini Cindy benar-benar telanjang bulat. Tak ada sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya. Lekuk tubuhnya akhirnya bisa kunikmati tanpa halangan. Vaginanya yang kemerahmudaan itu belum banyak ditumbuhi bulu. Aku mengangkat kaki kanannya dan menahannya, lalu mulai menjilati sekitar vaginanya. Tangan satu lagi meraba-raba pahanya yang halus. Cindy yang merasakan rangsangan itu kembali mendesah dan menggelinjang. "Aahhh... enaaakk... t-terus kaaakk..." Kini dia memainkan sendiri payudaranya. Ah, baguslah — biar aku fokus dengan bagian bawah tubuhnya. Setelah puas menjilati memeknya, aku bersiap memasukkan kedua jariku ke sana. "Tahan ya, Cin. Tapi enak kok." Jari telunjuk dan tengahku pun masuk ke dalam lubang hangat itu. Karena sudah basah, dengan mudah aku mengocok dan bermain di dalamnya. "Mmmmhhh... e-en-aaakk... mmmhh..." Cindy memejamkan mata. Aku menusuk-nusuk memeknya, memaju-mundurkan kedua jari dengan tempo pelan. Cindy mengernyitkan dahi, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Kutempuhkan lebih cepat, kedua kakinya ikut bergerak-gerak tak keruan. "Aaww... kak... pelan-pelan... mmmhhh... sakiiitt... Mmhhh..." Kedua tangannya meremas karpet menahan perih. Aku nggak menggubris. Aku terus menusuk-nusuk dengan tempo cepat. Bahkan makin cepat. Desahannya makin keras, muka Cindy memerah. Badannya menegang, matanya terpejam rapat, tangannya meremas karpet kuat-kuat. Sepertinya dia sudah di ujungnya lagi. "Aaaahhh... ak-u... keluar lagii kaaakk...! aahhh... aaahh..!" Cindy squirt untuk kedua kalinya. Cairannya membasahi jariku dan karpet di bawahnya. Bau khasnya memenuhi lubang hidungku. Dada Cindy naik turun, napasnya makin sengal dari tadi. Dia mengusap wajahnya yang basah keringat. "Hehe... kakak nakal ya..." Dia tersenyum. Aku membalas senyumnya, lalu meraih kursi dan duduk di sana. Penisku sudah sangat tegang dari tadi, menunggu untuk dibebaskan dari sarangnya. "Hehe... bentar ya kak..." Dia berjongkok di hadapanku, menurunkan perlahan celana pendekku. Matanya membulat melihat tonjolan besar di balik celana dalamku. "Waduh, udah nunggu dari tadi ya? Hihi..." Cindy membuka celana dalamku, menurunkannya sampai mata kaki. "Ih, ya ampun... gede banget, kak. Ngeri." Matanya membulat lagi melihat kontolku yang sudah mengacung tegang memanjang. "Hehe, habis udah nahan dar—oohh..!" Sensasi listrik menjalar ke seluruh tubuh saat Cindy tiba-tiba mengocok pelan kontolku. Kulit tangannya yang halus itu benar-benar bikin aku keenakan. Caranya mengocok pun nggak buruk. "Eh, caranya gini kan ya, kak?" Tanyanya polos. Dia menahan tangannya, menoleh ke arahku. "I-iya... enak kok... lanjut aja..." Aku memejamkan mata. Cindy melanjutkan kocokannya. Kubiarakan dia bermain bebas. Temponya makin cepat, tangan satunya memijit-mijit buah pelirku pelan. Aku mencengkeram pinggiran kursi kuat-kuat. Badanku menegang. Aku merasakan aliran sperma sudah hampir mencapai ujung kontolku. "Cindyy...! ak-u... aahhh...!" Croot. Croot. Croot. Aku menyemburkan sperma ke wajahnya. Aku memejamkan mata. Sensasi ini begitu nikmat. "Iiihh! Kakak jorok!" Dia menutup mata, lalu mengusap semua sperma yang menempel di pipi dan jidatnya dengan kedua tangan, menyampahkannya ke karpet. "Hehe... maaf... enak sih..." "Duh, masih mau ya kak?" Responnya saat melihat kontolku yang masih saja tegang. "Hehehe..." Aku menekan pipi gembulnya sampai mulutnya terbuka. Masih belum mau istirahat, aku bersiap memasukkan kontolku ke dalam mulutnya. "Eh?! Kak! U-mmph?!" Teriakannya tertelan seiring kontolku masuk ke mulutnya. Kedua tangannya berusaha mendorong kakiku agar kepalanya bebas. Tapi aku lebih dulu menggenggam erat belakang kepalanya. Aku dorong kepalanya sampai nyaris seluruh kontolku masuk ke mulutnya. Tenaga Cindy tak cukup melawan. Tangannya meronta, mencoba membebaskan mulutnya — sepertinya ia sesak. Tapi apa boleh buat? Yang bisa Cindy lakukan kali ini hanyalah menurutiku. Kehangatan mulut dan lidahnya membuatku kembali rem melek. Setelah beberapa saat, aku membimbing kepalanya maju-mundur. Sensasi itu kembali menjalar ke seluruh tubuh. Perlahan, Cindy mulai mengisap kontolku sendiri sambil memaju-mundurkan kepalanya. Aku melepas kedua tanganku, mengusap-usap rambutnya. Kubebaskan dia memainkan kontolku. Dia berhenti sejenak, merapikan poni yang menghalangi wajahnya, lalu lanjut melumat kontolku. Tangannya kembali memijat buah pelirku. "Aaaahhh... Cindy... Mmmmhhh..." Tanganku terkulai, kubiarkan menggantung bebas. Aku menggigit bibir, mendongak. Tubuhku basah keringat — sama seperti Cindy. Detak jantungku makin cepat. Dadaku naik turun. Sementara Cindy masih dalam temponya. Sesekali dia berhenti, lalu menjilat dan melumat pelan kontolku. "Aahh... Cindyy... mmmhhh... enaaakk... aaahh..." Aku mendesah kencang. Sampai akhirnya, aku sampai di batasku lagi. Aku sengaja nggak kasih tahu dia, dan... Croot. Croot. Croot. Aku menahan kepalanya, memastikan spermatku tumpah habis di mulutnya. Aku bisa melihat Cindy mengernyitkan dahi. Sepertinya dia jijik dengan sperma di dalam mulutnya. "Mmmh... nghmgnhh... mnghngg..." Racaunya karena kontolku masih menancap di mulutnya. "Telen aja, Cin... nggak apa-apa kok." Aku mengusap-usap rambutnya dan menarik kontolku keluar setelah semua spermatku tumpah. Cindy terlihat canggung sejenak, baru kemudian menelannya dengan mata terpejam. "Gimana?" Dia terbatuk, lalu membuka lebar mulutnya — tanda dia benar-benar telah menelan semua spermatku. "Hehe, enak kan?" Aku bersandar santai. Cindy mengangguk pelan. Ia tersenyum lagi, dengan tubuh basah keringat dan rambut acak-acakan. Ah, sepertinya... satu ronde lagi masih kuat. I have to fuck her right now. Tapi tiba-tiba mataku terasa berat. Kepalaku berputar. Perlahan semua menjadi gelap. Aku ambruk ke karpet... *** "Kak...? Kakak...? Kak Dimas?" Aku perlahan membuka mata setelah merasakan guncangan di bahuku. Cindy berjongkok di sampingku. Dia sudah berpakaian lengkap, wangi segar — sepertinya baru mandi. Dia kembali memakai kaos hitam pinjamanku tadi, tapi kini pakai celana training yang berbeda dari punyaku... tunggu... apa dia... menggeledah lemariku...? Sementara aku? Aku masih telanjang bulat. Apa aku... pingsan? "Akhirnya... Kakak, ih, bikin takut. Kirain udah jadi mayat." Cindy perlahan berdiri. Aku mengucek mata, lalu berusaha bangkit duduk. "Sembarangan kamu kalau ngomong ya..." Suaraku masih berat. "Hihi... lagian kakak lemah banget sih, gitu aja pingsan." Ejeknya sambil menyisir rambut basahnya. "Hah? Pingsan? Ngg..." Sial. Pasti gara-gara masturbasi kemarin. Lagipula tubuhku memang sedang lelah karena tidur pagi-pagi belakangan ini. Kulirik jam dinding. Pukul 5 tepat. Lah, hampir dua setengah jam... "Iya, lemah." "Ish, apa sih. Aku capek tau semalem ngelembur tugas." "Alesan." Dia menghempaskan tubuhnya ke sofa. Dadanya berguncang. Dan kontolku kembali tegang. "IIIHH...! Kok itu berdiri lagi?! Mandi sana! Mandi! Bau tau nggak! Kakak jorok!" Dia melempar sisir merah mudanya ke arahku. Aku menangkisnya sambil tersenyum nakal. "Gausah ya! Buruan kak, aku mau pulang!" Rengeknya. "Yaudah ayo, aku anter seka—" Aku bangkit berdiri sebelum dia memotongku. "MANDI DULU!" Cindy melempar handuk, tepat mengenai wajahku. "Ih, bawel banget sih. Suka-suka aku lah." "Yaudah aku balik pakai ojek." Dia memanyunkan bibir sambil meraih smartphone-nya. Jarinya bermain di layar — sepertinya bersiap memesan ojek. "Dih, dih, ngambek." "Habis... kakak bilang katanya mau anter aku? Ini udah reda lho hujannya. Aku juga nungguin kakak bangun dari tadi." Dia memasang wajah memelas, seperti anak kecil yang kecewa nggak dibelikan permen. "Iya, iya, aku mandi dulu." Aku melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri — dengan kontol yang masih mengacung tegang, membuatku agak sulit berjalan. "Kak Dimas..." "Oh, mau lagi ya?!" Aku berbalik dengan antusias. "IH, ENGGAK!" "Terus kenapa?" "M-makasih ya... hehe..." Dia nyengir sambil membuat love sign ala Korea dengan jari kanannya. Aku cuma tersenyum, lalu melangkah masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan menyingkirkan bau keringat yang lama-lama bikin mual. Setelah mandi dan ganti baju, aku mengantarnya pulang ke kos yang berjarak sekitar dua kilometer dari kontrakanku. Sepanjang perjalanan, nggak ada percakapan di antara kami — sampai dia memberitahu lokasi pasti kosnya. Dan kami sampai. Di depan kos putri dua lantai bernuansa hijau yang menyegarkan. Terlihat nyaman. "Makasih ya, kak Dimas, hehe. Ini pakaiannya aku pinjem dulu, nggak apa-apa kan ya?" "Bawa dulu aja, hehe." Dia tersenyum, lalu membuka gerbang. "Cindy..." "Iya kak?" "A-... nggak... nggak jadi, hehe. Makasih juga ya." Dia kembali tersenyum, lalu melambaikan tangan. Aku menyalakan mesin motor dan berputar kembali ke kontrakanku. Begitu menepikan motor di garasi, tiba-tiba saku celanaku bergetar. Segera kukeluarkan smartphone itu. 5 missed calls. Nama seorang perempuan yang kukenal tertampil di layar. "Jinan?" To be continued...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 02
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal