EPISODE 04
"Halo Jinan?"
"Halo, Dim. Lo ke mana aja sih? Gak diangkat-angkat."
"Ehe, maaf. Tadi baru di jalan."
"Oh, ya udah... Gini, besok lo habis kuliah ada kegiatan gak?"
"Gue kosong, gimana?" Aku membuka kunci rumah.
"Nah, temenin gue ke toko musik, ya."
"Hah? Toko musik?"
"Iya, jadi gini, Dim. Gue mau beli gitar akustik, tapi gue kan enggak tau gimana cara milihnya. Maksudnya, yang bagus gitu. Makanya besok gue minta tolong lo nemenin, pilihin yang kira-kira pas buat gue. Gue bingung minta temenin siapa lagi. Cuma lo sih yang gue kenal paham banget soal ginian."
"Ohh... oke oke, bisa gue."
"Jam 4 ya? Bisa?"
"Bisa kok." Aku duduk di sofa, meletakkan kunci kontak di meja.
"Okee, makasih ya, Dim. Ntar gue kabarin lagi. Daah."
"Sama-sama, dah..."
Panggilan itu berakhir. Aku meletakkan smartphone di samping kunci kontak. Tiba-tiba dadaku hangat, hatiku berbunga-bunga. Aku menampar pipiku sendiri, mencubit tangan—bukan, ini bukan mimpi! Gadis cantik idolaku itu... memintaku menemaninya... AAAAKKKK!!!
DUG
Lututku menghantam bagian bawah meja. Aku meringis—sial, sakit! Sepertinya aku terlalu gembira. Bahkan smartphone dan kunci kontakku sampai bergeser dari posisinya.
Aku menoleh ke arah karpet. Ingatanku memutar ulang adeganku bersama Cindy beberapa jam lalu. Masih saja aku tak menyangka—dari gadis yang polos dan kaku itu, ternyata dia menyimpan sisi yang begitu... unik.
Tapi kenapa Cindy... mau? Apa dia... menyukaiku?
Aku menggeleng cepat, menyadarkan diri dari delusi ini. Aku berdiri lalu menggulung karpet yang masih menyimpan bekau aroma cairan Cindy tadi. Walaupun baunya sudah tidak terlalu menyengat, tentu akan jadi masalah besar jika Hary atau orang lain nanti menciumnya.
***
Aku duduk di sofa, memainkan jariku di atas layar smartphone, menekan satu per satu tuts hitam yang bergulir dari atas layar, merangkai nada demi nada menjadi sebuah lagu. Game Piano Tiles ini jadi senjata andalanku untuk membunuh waktu. Walau terdengar membosankan, aku menikmatinya. Kau harus mencobanya juga. Selain memang aku suka game berbau musik, hanya ini game yang aku punya di smartphoneku.
Teeett
Aku salah menekan tuts. Permainan terhenti. Aku menoleh ke jam dinding—setengah lima. Jinan belum juga sampai. Oh iya, jadi sore ini kami sepakat, Jinan yang menjemputku dengan mobilnya, lalu aku yang menyetir ke lokasi toko musiknya. Jadilah aku tak perlu bolak-balik, karena letak tokonya berlawanan arah dengan rumah Jinan.
Tin Tin
Ah, itu pasti dia. Aku bergegas mengenakan varsity merahku dan berjalan keluar. Honda Jazz biru milik Jinan sudah bersiap di depan gerbang. Aku mendekat setelah memastikan pintu dan gerbang terkunci. Jinan keluar dari kursi kemudi.
Dia terlihat keren dengan hoodie putih, celana jeans, dan sepatu Nike senada dengan hoodienya. Kacamata berframe hitam melengkapi wajahnya. Rambut panjangnya tergerai keluar dari kerudung hoodie itu. Wajah natural tanpa make-up saja sudah cukup membuat jantungku berdebar tak keruan.
"Oi, Dim. Ngelamun aja."
"Eh, apa? Enggak kok."
"Apaan enggak-enggak, haha. Ngelamunin siapa lu?"
"Udah udah, ayo buru." Aku menarik pelan bahunya agar dia menyingkir dari depan pintu. Sialan, Jinan wangi banget, anjir.
"Ah, pasti ngelamunin Cindy nih, hihihi." Dia berlalu ke depan mobil menuju pintu penumpang.
"Ih enggak! Gue enggak ngelamunin dia!" protesku, kepala masih mencuat keluar sementara setengah tubuhku sudah masuk ke dalam mobil. Jinan menutup mulutnya. Aku bisa dengar dia terkekeh.
Dan kami pun berangkat menuju toko. Lima belas menit pertama kami hanya diisi lagu yang mengalun dari mp3 player di dashboard mobil Jinan, sampai akhirnya dia membuka pembicaraan.
"Dim."
"Iya?"
"Sibuk apa lo sekarang?"
"Nyetir." Jawabku polos.
"Bukan itu, bego! Maksud gue, sekarang lo kan udah gak ikut organisasi jurusan lagi. Nah, lu sekarang ngapain aja tiap hari? Tolol!"
Aku terkekeh mendengar nada kesalnya.
"Hahaha, sabar, Buk. Ya, gue habis kuliah di kontrakan aja sih. Internetan, baca-baca novel. Gitu-gitu. Kenapa emang?"
"Lo emang gak kepikiran ikut organisasi lain?"
"Emang kenapa?"
"Enggak... kan lo dulu, pas satu departemen sama gue di organisasi jurusan, kinerjanya bagus tuh. Gue juga tau lo orangnya cekatan, tanggung jawab, ya gitu lah. Tapi gue masih bingung lo mutusin buat gak lanjut di organisasi jurusan pas akhir semester kemarin. Alesan lo waktu itu juga enggak masuk akal. Lo sebenernya kenapa?"
"Ha? Ya... gue males aja."
"Gak mungkin. Lo ada masalah ya di sana?"
"Enggak."
"Bener?"
"Iya, Jinan Safa Safira... gue males aja lanjut, udah. Pengen fokus kuliah aja."
"Ooohhh... okedeh. Hihihi, dasar. Orang kayak lo bisa males juga ya."
"Sebenarnya... bukan itu alasanku. Sepertinya, ini bukan saatnya aku cerita... Atau malah... tidak akan pernah aku ceritakan kepadanya, atau siapapun. Hanya aku dan 'gadis itu' yang tahu masalah ini... Kejadian malam itu... tak akan pernah aku lupakan..."
Aku dan Jinan sempat tergabung dalam organisasi jurusan. Kebetulan kami berada di departemen yang sama—departemen yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Jadi kami yang mengadakan kegiatan-kegiatan sosial: donor darah, kunjungan ke panti asuhan, mengajar anak jalanan, dan lain sebagainya.
Saat itu ada dua anggota lain selain kami yang menjadi 'eksekutif muda'—istilah untuk mahasiswa baru yang masuk ke organisasi itu. Sekarang pun, keduanya memutuskan tidak lanjut, sehingga tersisa Jinan seorang yang kini menjadi kepala departemen, membawahi tiga anggota dari mahasiswa semester tiga, dan akan ditambah dari mahasiswa baru nantinya. Hahaha, padahal dulu akulah yang digadang-gadang bakal jadi kepala departemen.
"Jinan."
"Kenapa, Dim?"
"Lo ada budget berapa nih buat gitarnya?"
"Gue bawa dua juta sih, gimana?"
"Okedeh, bisa dapet gitar yang menurut standar gue bagus." Aku menginjak rem perlahan, lampu lalu lintas di depan menyala merah. "Tapi kok lu pengen beli gitar? Emang lu bisa main?" lanjutku, penasaran.
"Hehe, enggak tau sih gue kemasukan apa. Tiba-tiba aja gue pengen nyoba jadi pemain musik, gak cuma dengerin doang. Gatau deh ntar gimana, bisa main enggak. Haha. Keluarga gue kan enggak ada yang punya darah seni."
"Yang penting niat sama giat latihan, Nan. Bakat itu cuma mempercepat belajar doang, kok."
Lampu berubah hijau. Aku perlahan menginjak pedal gas.
"Hahaha... okedeh. Lo dulu belajar sampe bisa, emang berapa lama?"
"Hmm... gue? Kalo kunci-kunci dasar gitu sampe bisa bunyi, paling sebulan."
"Gila. Lu yang punya bakat musik aja lama banget. Gimana gue entar."
"Dih, itu juga gara-gara gue males latihan, Nan... Tenang, kalo lo mau, gue bisa kok ngajarin."
"Serius?"
"Iye."
"Lu pasti minta bayaran mahal deh, yakin."
"Eh, enggak. Gratis kalo temen. Gue juga enggak mau buka les-lesan musik formal."
"Hahaha."
"Lagian, kalo bisa main gitar, cowok-cowok pasti pada antri tuh buat dapetin lo, hehe. Udah cantik, bisa main gitar pula. Beuh... idola para cowok."
"Apaan sih, Dim! Sae ae lu!" Dia memukul bahuku sambil tertawa, dan aku ikut tertawa bersamanya. "Hmm, masih jauh ya, Dim?" lanjutnya.
"Enggak kok. Tuh, tokonya." Aku mendorong dagu ke arah depan.
Kami sampai di toko musik yang terletak di antara sebuah apotek dan toko busana. Tempat ini langgananku untuk membeli senar atau aksesoris lain. Katanya sih, ini toko musik paling recommended.
Kami disambut deretan alat musik yang tertata rapi. Di bagian depan tersedia gitar, bass, biola, ukulele, dan berbagai aksesoris, sedangkan drum dan piano punya ruangan tersendiri di bagian belakang.
Aku membimbingnya ke bagian gitar-gitar akustik. Terpajang rapi di dinding, sebagian lagi berdiri di stand gitar. Pandanganku berkeliling, mencari-cari model yang kuincar. Cort, Gibson, Ibanez, Takamine... dan aha! Kutemukan gitar itu.
"Tuh, Nan. Biasanya sih, Yamaha APX 500II yang jadi best seller. Emang enak sih suaranya, model body-nya tipis, jadi menurut gue pas buat dimainin sama lo." Aku menunjuk gitar warna vintage white yang terpajang di pojok kanan atas. Jinan mengangguk.
"Coba ya?" tawarku.
"Oke."
"Mas." Aku mengangkat tangan kanan ke arah pegawai toko. Dia mengambil tangga dan menyerahkan gitar itu.
"Nih, coba dulu."
Jinan agak kebingungan saat aku menyerahkannya. Dia masih kikuk memegangnya.
"Eh, gimana mainnya?" Dia duduk di kursi terdekat, memposisikan diri layaknya orang yang siap memainkan gitar.
"Gini. Ini namanya kunci C." Aku menundukkan badan, membimbing jari-jarinya menekan senar-senar itu hingga membentuk akor C. Sial... sepertinya tidak seharusnya aku menyentuhnya. Kulitnya halus sekali. ARGH!
"Jangan ngaceng di sini, bangsat!" teriakku dalam hati.
"Ih, keras juga ya." Responnya saat mencoba menekan senar berukuran 0.12 itu.
"I-iya, soalnya emang segitu ukurannya. Bisa diganti sih sama yang lebih kecil, enggak terlalu sakit jadinya." Jelasku. Jinan mencoba menggenjreng gitar itu.
"Iiihh... kok enggak bunyi?" Dia cemberut saat tak ada satu nada pun yang terdengar.
"Haha, ya namanya baru pertama. Lagian, kuku jari kanan lo kepanjangan."
Mas pegawai toko itu terlihat menahan tawa melihat tingkah kami. Jinan terus saja mencoba menggenjreng dengan kunci yang sama, kadang memetik senar satu per satu, atau bertanya padaku bentuk akor lainnya. Setelah beberapa saat, dan setelah aku memastikan kondisi gitar ini bagus, aku bertanya padanya.
"Gimana?"
"Ya udah deh, ini aja. Gue juga suka putihnya. Cocok juga sih sama badan gue."
"Maksudnya?"
"Ya pas aja. Pas dimainin sama gue."
"Harga gimana? Cocok gak?"
"Satu delapan lima ratus." Jinan melihat tabel harga yang tergantung di headstock gitar.
"Harga normal sih itu," jelasku sambil ikut melihat tabel itu.
"Ya udah, deh."
"Oke, oke." Aku menoleh ke belakang. "Mas, ini deh." Aku menunjuk gitar itu kepada pegawai toko yang kelihatannya tak jauh lebih tua dari kami. Sigap ia menerima gitar itu dan membawanya ke kasir. Kami mengekorinya.
"Semuanya satu juta delapan ratus lima puluh ribu, Mbak." Kata petugas kasir itu pada Jinan. Ia menyerahkan sembilan belas lembar uang seratus ribu rupiah yang sudah disiapkannya pada perempuan kasir itu.
Ting!
Mesin kasir berdering, laci berisi uang itu terbuka. Perempuan kasir meletakkan uang-uang tadi ke dalamnya, lalu mengambil selembar lima puluh ribu rupiah dan menyerahkannya pada Jinan setelah struk belanja selesai dicetak.
Jinan menjinjing softcase berisi gitar itu dengan wajah sumringah.
"Cieh, gitar baru. Mau ngamen ke mana nih, Mbak?" godaku yang sudah menunggunya dari jauh.
"Ih, apaan sih, Dim! Gajelas." Jinan mencubit lengan kiriku. Aku meringis kesakitan. Sial, dia serius mencubitku. Aku mengelus-elus bekas cubitannya itu.
Aku membuka pintu mobil dan duduk di kursi kemudi. Jinan menyusul duduk di sampingku setelah menaruh gitar di kursi belakang.
"Lu udah makan?"
"Udah kok, Dim. Kenapa, lu laper?"
Krucukk...
Tiba-tiba perut Jinan berbunyi. Wajahnya memerah seketika.
"Eh."
"Hahahahaha! Jinan, Jinan... pake boong segala. Dah, gue traktir makan ya. Gue laper juga nih." Aku menyalakan mesin mobil.
"I-iya deh..." Dia menyembunyikan wajahnya di kerudung hoodie yang ditutupnya dengan kedua tangan. Aku gemas melihat tingkah lucunya itu.
"Oke."
***
Singkat cerita, aku dan Jinan menyerah setelah empat warung makan yang kami sambangi sudah close order, dan beberapa warung lainnya kebangetiran penuhnya. Akhirnya kami sepakat pulang dan makan di tempat masing-masing. Dan kini kami sampai di depan kontrakanku. Malam sudah larut ternyata.
"Huft... maaf ya, Nan. Malah enggak jadi makan."
"Enggak apa-apa, Dim. Makasih ya udah nemenin gue..."
"Yops." Aku membuka pintu.
Namun saat kaki kananku menapak aspal dan bersiap keluar, Jinan menarik lengan kiriku sehingga aku kembali duduk di posisiku.
"Kenapa, Ji—" Ucapanku terhenti. Dia, dengan bibir seksinya itu, tiba-tiba melumat bibirku.
OH SHIT MAN, WHAT'S SHE DOING?!
To be continued...