EPISODE 05
Episode 5 — Lampu Yang Kedua
Kedua tangan Jinan merangkul erat belakang kepalaku, mengunci setiap pelarianku. Lumatan bibirnya makin dalam, makin rakus, seperti dia sendiri sudah kewalahan menahan birahinya. Nafas kami saling memburu, hangat, tak beraturan. Otakku buntu total — nafsu sudah sepenuhnya mengambil alih kemudi.
"J-Jinan..." Aku berhasil meloloskan bibirku di sela satu tarikan napas. Dia menatapku dalam, pupil matanya bergoyang liar.
"Masuk... masuk ke kontrakan gue aja..." Aku mematikan mesin dan mencabut kontak.
Jinan mengangguk pelan, juga sudah diserang habis-habisan oleh nafsu yang sama. Kami turun dari mobil. Aku buru-buru membuka gerbang, lalu pintu rumah, sampai benar-benar hanya ada kami berdua di dalam sini.
Bahkan sebelum gemuruh pintu yang baru saja kukunci selesai terdengar, Jinan sudah melumat lagi bibirku. Kedua tangannya mencengkeram kepalaku erat-erat. Aku membalas lumatannya dengan buas yang sama — bertukar liur, lidah kami saling mengaduk di dalam mulut. Aku melempar kunci ke mana pun, lalu kedua telapak tanganku mulai menjelajah, nakal, meraba ke arah dadanya.
"Mmmhh... mmhh..." Desahannya bocor di tengah ciuman saat remasan pertamaku mendarat di toketnya yang masih terbungkus hoodie itu. Aku membimbing langkahnya mundur, menuju sofa yang tak jauh dari tempat kami berciuman.
Tubuh Jinan kudorong ke atas sofa begitu ciuman liar kami lepas — benang liur masih menghubungkan mulut kami sesaat sebelum terputus saat dia terduduk. Baru sekarang aku sadar, kacamatanya sudah tidak ada di wajahnya. Sebelum dia sempat bangkit, kitarik ritsleting hoodienya dan membukanya lebar-lebar. Tak ada satu pun perlawanan. Seolah seluruh tubuhnya sudah memberi izin: jamah aku lebih dalam lagi.
Dan ternyata... di balik hoodie itu cuma bra putih tipis pembungkus toket kecilnya. Jinan tidak mengenakan kaos atau baju apa pun sejak tadi. Aku langsung kembali meremasi kedua gundukan itu. Jinan menggigit bibir bawahnya, matanya terpejam rapat, desahannya menggelegar lagi. Malah, kedua tangannya sibuk melepas sendiri hoodie itu saat aku terus meremas-remas toketnya.
"Aahh... sshh... mmhh... terus... mmhh..." Hoodie itu akhirnya lepas dan terlempar ke lantai. "Lo... mmhh... lepas celana gue... aahh..."
Hm?
Permintaannya kupenuhi tanpa mikir. Jari-jariku membuka kancing jeansnya, sementara tangannya sendiri sibuk melepas pengait branya. Dan... sana. Toket kecil Jinan yang benar-benar telanjang, tak tertutup apa pun. Putingnya yang kemerahmudaan mungil itu — astaga, gemesin banget. Kulitnya yang putih bersih semakin membakar birahiku. Aku menarik jeansnya ke bawah; pantatnya mengangkat sedikit, memudahkanku. Jeans itu berhasil kupelorotkan sampai lututnya, tersisa cuma celana dalam putih yang masih menempel di tubuhnya.
Jinan meraih jaket varsityku. Tanpa basa-basi, dia membukanya lebar-lebar sampai semua kancingnya melepas berbarengan.
Lengan kanannya melingkari lenganku, menarik tubuhku mendekat. Aku kembali mencumbunya, sementara kedua tanganku kembali berkeliaran di dadanya. Kuremas toketnya perlahan, satu per satu. Tubuh Jinan ikut bergoyang mengikuti tiap rangsangan. Kami berdua sudah bermandikan keringat, terbakar oleh birahi masing-masing.
Jari-jariku beralih, mencubit puting mungil itu. Jinan meringis. Mungkin terlalu keras. Maaf ya... gimana ya, gemas sih.
"Aaahh... tetek gue... mmhh... ah..." Tangannya mencengkeram erat lengan sofa.
Jinan terpejam, mendongakkan lehernya saat aku mulai menciuminya di sana. Rambutnya yang wangi itu tak lupa kuhirup dalam-dalam. Desahannya makin liar begitu remasanku makin kasar.
"Dim... shh... mmmhh...!"
Tangan kananku turun, menyelinap ke celana dalamnya. Kuusahakan melepasnya supaya aku bisa beralih main ke memeknya. Sementara itu bibirku turun, mengisap toketnya yang menganggur.
"Mmmhh... gila... Dimm... aaahh..." Tangannya mendorong dadaku, seolah mau membebaskan toketnya dari isapanku. Tapi kubiarkan saja. Terus kuhisap dengan liar, jilat-jilat putingnya, bahkan berpindah ke toket satunya dan mengulanginya.
Celana dalam itu akhirnya berhasil lepas. Dan ternyata... sudah becek banget. Tangan kananku berkeliaran di sekitar lubang memeknya yang masih ditumbuhi bulu tipis. Nafas Jinan kian tak beraturan.
Aku melepas isapan di toketnya, lalu membuka lebar-lebar selangkangannya. Memeknya yang merah muda itu terbuka menyambutku — dan langsung kujilat dengan liar.
"Aaahh... mmhhh..."
Terus kuk jilat seluruh area di sekitarnya. Tubuh Jinan menggelinjang makin hebat.
Ah ya... ini bukan mimpi, kan? Perempuan yang selama ini cuma bisa kunikmati dalam fantasi, kini ada di hadapanku... dan aku sudah menjamah tubuhnya sejauh ini.
Aku beralih main di klitorisnya. Kuusap, kuputar-putar pelan. Jinan jelas menikmati sekali — kelihatannya dari ekspresinya yang sedang kuperhatikan itu. Beberapa saat kuterrus main di klitorisnya, sampai akhirnya kuputuskan beralih menusuk-nusuk memeknya dengan dua jari.
"Aaaahhh...!" Desahan Jinan pecah lagi begitu liang hangatnya kumasuki dua jari sekaligus.
Karena sudah becek banget, jariku melaju maju-mundur dengan lancar, bermain di dalam sana. Jinan kini memainkan toketnya sendiri — meremas-remas, memilin-milin putingnya.
"Mmmmmhhh...! Mmmhhh..!" Tubuh Jinan menegang. Ini dia... Jinan sampai di puncaknya.
Semburan cairan orgasmenya membasahi jariku dan bagian sofa di bawahnya. Dadanya naik turun, napasnya sengal, kepalanya bersandar ke sandaran sofa yang empuk. Kulit putihnya yang bermandikan keringat itu... seksi banget. Wajahnya tertutup rambut yang sudah berantakan.
"Duuh, basah kan sofa gue. Nakal sih lu."
"Hhh... elunya yang nakal... hhh..." Jawabnya dengan napas yang belum bisa diatur. Dia membetulkan rambut lepek yang menutupi wajahnya.
"Habis... lo nafsuin."
"Hah?"
"Eng-enggak... hehe..."
"Hhh... dasar. Mana sini kontol lo..."
"Kan, lu nakal." Aku membuka kancing jeansku. Kontolku yang sudah sangat tegang ini sejak tadi juga sudah menunggu momen ini.
"Buruan, gausah banyak bacot." Jinan memperbaiki posisi duduknya.
"Mau banget nih liat kontol gue?" Aku memelorotkan celana dalamku. Dan akhirnya... kontolku mengacung tegang, bebas dari sangkarnya.
"Anjir... gede banget." Mata Jinan membulat. Dia merapikan lagi rambutnya, menyelipkan beberapa helai ke belakang telinga. "Muat enggak ya...?"
"Coba aja." Aku merangkul erat belakang kepalanya, lalu mendorongnya tepat ke depan kontolku.
"Mmmh! Bentar! Nafsu amat sih?!" Jinan menahanku dengan kedua telapak tangan di pahaku — bibirnya sempat mengecup kepala kontolku tadi. "Ngeri gue tau ga." Perlahan, dia membuka mulutnya dan memasukkan kontolku ke dalamnya perlahan. Matanya terpejam.
"Ahh... iya..." Aku mendesah saat kehangatan mulut Jinan membelai batangku. Lidahnya menjilati kontolku. Dia mengulumnya perlahan, dan aku berhasil dibuatnya merem-melek. Kepalanya mulai bergerak maju-mundur. Aku mendongak, tenggelam dalam sensasi ini.
Desahanku memanjang saat temponya dipercepat. Kedua tanganku cuma membelai rambut Jinan — kubiarkan dia bermain-main sesukanya dengan kontolku. Aku suka caranya mengulum. Benar-benar nikmat.
Jinan melepas kulumannya. Tangan halusnya kini menggenggam batangku, lalu mengocoknya pelan. Kulit tangannya yang lembut menyentuh kulit kontolku... sungguh memanjakan.
Kocokan itu makin cepat, kadang melambat, terus begitu — sampai tubuhku menegang. Aliran spermasu mulai terasa merambat, hampir mencapai ujung kontolku.
"J-Jinan... mmmhh...!"
Crroot
Crroot
Crroot
Belum sempat aku memperingatkannya, spermasu sudah menyembur lebih dulu — tepat di wajahnya. Jinan langsung memejamkan mata. Aku berhasil membuat wajahnya belepotan seperti itu. Dan ini... bukan lagi dalam khayalan semata.
"JOROK...!!!" Jinan meraih tissue dan mengusap wajahnya, membersihkan sisa-sisa sperma yang melekat. Sementara aku menghempaskan tubuhku yang lemas ke sofa, tepat di sampingnya.
Aku menoleh ke arahnya. Perempuan itu juga menoleh. Matanya sayu, tapi senyum menggoda terukir di wajahnya. Aku membalas senyumnya.
Sepertinya... malam masih sangat panjang untuk kami lalui berdua...
***
"Kak Dimas?"
"E-eh? I-iya?" Guncangan di bahuku menyadarkanku dari lamunan.
"Aaaahhh...! Pelan-pelan Dim...!! Mmmhhh...!"
Aku menggeleng cepat. Kenangan malam itu terus berputar di kepala — saat Jinan berhasil kubuat menjerit jerit kenikmatan. Saat kontolku menghujam memeknya dalam-dalam. Suara pantatnya yang bergoyang tiap hujaman, desahannya yang liar, keringatnya yang lengket membasahi tubuhku... aakkhh!
Dan walau aku sadar, aku bukan orang pertama yang merebut keperawanan Jinan... tetap saja. Sensasi memeknya yang berkedut, memijit-mijit kontolku dari dalam — nikmat banget.
"Kakak mah ngelamun terus daritadi. Ngelamunin apa hayo?" Cindy mendekatkan wajahnya, mata belonya disipitkan curiga.
"Eh, enggak kok. Cuma mikirin kuliah tadi, hehe." Aku memundurkan kepala. Padahal, kalau saja kami tidak sedang ada di warung makan, bibir itu sudah kukumat habis.
"Oohh... kenapa? Mata kuliah apa emang?" Cindy kembali ke posisinya.
"Kajian novel Amerika." Aku menyesap kopi hitam biasaku. "Dosennya gaje. Tadi kayak tes gitu kan, eh soalnya keluar gak ada satupun yang pernah dia ajarin." Aku meliriknya. Padahal tadi cuma pemberian materi kayak biasa.
"Kakak kali yang males belajar." Cindy melahap suapan terakhir nasi goreng ayamnya.
"Dih dih, enak aja. Aku belajar ya."
"Ahahaha, canda kak." Dengan sedotan, dia menghabiskan es tehnya sampai luruh. Aku cuma tersenyum, lalu menyesap habis kopiku.
"Udah?"
"Udah kak, yuk." Cindy bangkit dari kursi besinya. Aku mengikutinya.
Sore ini, habis kelas, aku ketemu Cindy lagi. Tiba-tiba dia minta diantar ke perpustakaan universitas, katanya cari referensi buku. Aku gak bisa nolak — apalagi setelah dia menghipnotisku dengan wajah cemberutnya yang imut banget.
Dan setelah itu, pas mau kuantar pulang, perutnya keroncongan. Yah, sebagai orang yang peka, aku ajak kesini. Warung makan deket kampus. Hary dan aku juga sering jajan di sini.
Setelah kubayar semuanya, kami berjalan ke parkiran.
"Eh, kak kak kak!"
"Kenapa?" Aku menurunkan standar motorku lagi.
"Balik ke kampus dulu ya. Kayaknya dompet aku ketinggalan di sekre."
"Hah? Dompet?"
"Iya! Di situ ada flashdisk, isinya file-file yang harus aku kumpulin besok."
"File apaan?"
"Iiihh...! Udah, pokoknya ayo ke kampus dulu!" Cindy memasang wajah garang. Tapi tetap aja imut di mataku.
"Huft... iya deh. Yuk buruan naik."
Dan sampailah kami di komplek fakultas. Karena hari Jumat — kuliah maksimal cuma sampai jam satu, dan sekarang sudah pukul empat sore — kampus gak seramai biasanya. Bahkan dari parkiran aja udah keliatan sepi banget.
"Kaakk... temenin..." Dia narik-narik lengan bajuku.
"Dih, sendiri lah. Udah gede juga."
"Iiihh...! Kan sekrenya di lantai tiga, ini udah sepi juga. Takut..."
"Gak bakal ada apa-apa. Setan aja takut sama kamu."
"Iiihh...!"
"Aaakk...!" Cindy mencubit lenganku. Percayalah, itu sakit banget. Aku meringis.
"Ayo ih!" Cindy menarik tanganku. Yah, akhirnya kutemani juga. Padahal males banget harus naik ke lantai tiga.
Jadi, di fakultasku ada satu gedung khusus. Lantai dua dan tiganya jadi sekre — markas organisasi-organisasi di fakultas. Cindy bilang, tadi siang dia ngumpulin berkas tugas LKMPD di sekre organisasi jurusan, dan sempat ngeluarin beberapa barang dari tasnya. Hmm... katanya sih dia lupa masukin lagi dompetnya. Semoga aja gak sia-sia kami naik ke lantai tiga sore-sore gini.
Cindy berjalan beberapa langkah lebih dulu dariku. Dia sudah menaiki anak tangga menuju lantai dua, sedangkan aku, dengan langkah males, berusaha mengikutinya. Tepat saat mau melangkah, seseorang menabrakku dari samping.
"Ah, go-gomen... maaf kak..." Berkas yang dibawanya jatuh berceceran. Sepertinya dia terlalu fokus merapikan berkasnya tadi sampai gak lihat jalan. Perempuan berambut sebahu ini kelihatan lagi buru-buru.
"Enggak apa-apa. Aku bantu." Aku jongkok dan membantunya merapikan. Kutangkap tumpukan berkas itu — salah satunya berisi biodata.
"Put-"
Belum sempat aku baca nama lengkapnya, berkas itu tertutup lembaran di atasnya dan dia buru-buru mengambilnya dari tanganku. Oke, dia emang bener-bener buru-buru.
"M-makasih kak... maaf aku buru-buru..." Dia memeluk stopmap birunya, lalu berlari keluar gedung. Ah, buat apa juga aku tau namanya. Eh tapi... body-nya bagus juga ya. Bibir tebalnya tadi juga menggoda banget. Enggak! Enggak! Aku menggeleng cepat.
"Kak Dimas..."
Aku menoleh ke atas. Cindy sudah menunggu di ujung tangga dengan wajah kesal.
"Eh iya iya, bentar." Aku buru-buru menyusulnya.
Dan sampailah kami di lantai tiga. Sepi. Sepertinya cuma kami berdua di sini. Walau ada enam sekre, gak ada satu pun yang berisi orang — cuma langkah kaki kami yang kedengeran.
"Yah, dikunci ya? Aduuhh...! Gimana nih kak?!"
"Kuncinya ada di kotak surat kok. Nih." Aku membuka kotak surat yang tergantung di pintu dan mengambil sebuah kunci. Kok bisa aku tau? Ya jelas... aku kan dulu pernah gabung di organisasi jurusan ini.
"Oohh iya, kakak dulu pernah ikutan di sini juga ya."
Klek klek
Pintu coklat muda itu terbuka. Aku menyalakan lampu untuk menerangi ruangan 3x2 meter ini, lalu meletakkan tasku di karpet. Cindy langsung mencari dompetnya begitu masuk. Gak butuh waktu lama — dompet pink itu ketemu, ditaruh di etalase di pojok kanan sekre. Mungkin ada yang naruh di situ tadi. Dia kelihatan sangat lega.
"Yeeayy! Ketemu!" Tiba-tiba dia melompat-lompat kegirangan. T-tunggu. Bongkahan dada di balik sweater rajut pink itu ikut berguncang naik-turun. Kontolku tegang. Aku menelan ludah.
"C-Cindy... udah yuk..." Aku membalikkan badan, berusaha meredakan nafsu yang tiba-tiba menyelimutiku.
"Loh? Kakak kenapa?"
"Eng-enggak..."
Dude, act normally!
"Kok aneh?" Cindy menarik bahuku, berusaha membalikkan badanku, tapi kutahan. "Kak..."
Akhirnya kubiarkan dia membalikkan badanku.
"Iihh... kok berdiri sih kak?" Sepertinya Cindy menyadari tonjolan kecil di celana jeansku.
"Y-ya... tadi habisnya kamu lompat-lompat... dada kamu mantul-mantul..."
"Dasar, cowok emang ya!"
"Y-ya, cowok mana sih yang gak sange liat kayak gitu, Cin..."
"Huft, yaudah. Cepet aja ya."
"Eh? M-maksud kam-"
Cindy tiba-tiba melepas kancing jeansku dan memelorotkannya — celana dalamku juga. Kontolku yang sudah sangat keras langsung mengacung begitu keluar dari sangkarnya. Aku meraih dinding, bersandar di sana. "Eh, Cindy, eh, ben-OOOHH..!!"
Dan lagi, kelembutan kulitnya membelai batangku. Cindy sekarang berjongkok di atas lututnya, mulai memanjakanku dengan permainannya. Masih sama kayak sebelumnya — kocokannya tetap nikmat dinikmati, walau emang agak terasa 'sakit'.
Cindy menghentikan kocokannya, lalu lidahnya menjilati kepala kontolku.
"Mmmhh...!" Aku menggigit bibir bawah. Sensasi geli basah itu membuatku keenakan luar biasa. Kubuat desahanku jangan sampai kedengeran keras.
Dia kembali mengocok kontolku, tapi lidahnya tetap menjilat-jilat liar selama beberapa menit. Tanganku membelai rambut Cindy, lalu turun mengelus-elus pipinya.
"Ih, kok lama sih kak?"
"Aaahh... eng-enggak tau... mmhhh... terus aja..."
Setelah dapat sentuhan dari tangan dan lidahnya, kini kontolku merasakan kehangatan mulutnya. Yup, Cindy mengulum kontolku. Badanku menegang — reflek, aku jambak rambutnya karena kaget dengan sensasi itu.
"Ish, apaan sih kak?!" Cindy melepas kulumannya. Sepertinya sakit — ingat aku jambaknya kuat banget.
"M-maaf... habis enak sih... hehe..." Aku tersenyum, lalu membelai rambutnya lagi.
Setelah merapikan rambut berantakan yang menutupi sebagian wajahnya, Cindy kembali mengulum kontolku. Aku bisa merasakan lidahnya ikut menjilat-jilat pelan di dalam sana. Beberapa saat kemudian, Cindy mulai menggerakkan kepalanya maju-mundur.
Aku berhasil dibuatnya merem melek. Aku menggigit bibir bawahku lagi — lebih keras. Kubuat desahanku tertahan.
"Mmhhh... Cindy...! Mmmgghhh...!"
Crroot
Crroot
Aku menembakkan spermasu di dalam mulutnya. Sebelumnya aku sudah merangkul erat belakang kepalanya — Cindy gak bisa menghindar. Dia kembali mengernyitkan dahinya.
"Uhukk... uhukk..." Dia terbatuk setelah menelan spermasu.
"Eh, ini masih... ada dikit. Bersihin... sekalian dong." Cindy nurut. Dia menjilati lagi kontolku sampai gak ada lagi sperma yang nempel.
Nafasku sengal, wajahku memerah. Pandanganku agak kabur, tapi aku masih bisa berdiri.
"Huft... banyak juga ya kak." Cindy bangkit berdiri.
"Hehe..." Aku mengenakan lagi celanaku yang tadi dipelorotkannya.
"Eh ya ampun!"
"Apa?"
"Pintunya! Enggak ditutup!"
"Ah, enggak. Enggak ada yang lihat. Santai lah."
"Ish, dasar. Ahahaha,"
"Hahaha." Kami tertawa bersama, meninggalkan ruangan itu dan berjalan keluar.
Aku tersenyum padanya. Cindy membalas senyumanku dengan hangat.
Ah... Perasaan ini muncul lagi...
Cindy...
To be continued...