EPISODE 06
Aku menuang air panas dari termos ke dalam dua gelas yang sudah berisi serbuk jahe. Walaupun semua pintu dan jendela sudah kututup rapat, udara dingin masih saja menyelinap masuk. Cuaca akhir-akhir ini memang aneh — hujan selalu datang dikawal angin kencang, padahal beberapa jam sebelumnya langit masih cerah tanpa tanda-tanda akan turun air.
Setelah kuhangsir hingga serbuknya larut sempurna, aku membawa dua gelas penghangat itu dengan nampan menuju ruang depan, tempat Cindy menunggu. Semoga dia tidak menunggu terlalu lama. Tadi aku sudah meminjamkan selimutku padanya, karena dingin ini memang terasa menusuk sampai ke tulang.
Namun begitu aku tiba di ruang depan, si pipi gembul itu ternyata sudah tertidur pulas di sofa. Selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya, hanya kepalanya yang tersisah di luar. Rambut panjangnya berantakan, menutupi sebagian wajahnya. Aku menghela napas. Kini tayangan kartun sore itulah yang menonton Cindy tidur. Aku menggeleng pelan.
Dua gelas beruap itu kutaruh di meja dengan sehati mungkin, berusaha tidak mengeluarkan suara berisik. Biar saja dia beristirahat — abis hari ini kami panas-panasan berkeliling lapak buku bekas. Buku yang dicarinya tergolong langka, jadi kami agak kesulitan menemukannya. Untung saja jerih payah kami tidak sia-sia. Aku masih ingat betapa bahagianya aku ketika akhirnya dia mendapatkan buku itu — senyumnya melebar lepas. Senyum paling manis dari semua gadis yang pernah kulihat.
Kupekamat posisi tidurnya. Tanpa bantal, kakinya dilipat ke depan sampai membentuk gundukan kecil di balik selimut. Kalau tidak salah, posisi itu namanya foetus.
Sepertinya dia memang kelelahan. Padahal baru beberapa menit kuninggal ke dapur. Aku menggoyang-goyang bahunya pelan, berbisik agar dia tidak kaget.
"Cin... tidur di kamarku aja... kasihan kamu tidurnya enggak enak gitu..."
Cindy melenguh pelan, mengucek matanya.
"Ngghh... kak..."
Dia bangun duduk, lalu menguap lebar. Matanya masih sayu, berat untuk dibuka penuh.
"Ini ada jahe panas, buat anget-anget. Mau diminum sekarang, atau kutaruh aja di kamar?"
"Nggh... enggak usah kak... aku di sini aja... hehe..."
"Serius? Di sini dingin lho. Di kamarku deh, anget. Lagian tadi posisi tidur kamu kayak gitu — kasihan kaki sama leher kamu."
"Mmm... ya udah deh..."
Cindy bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamarku, selimut masih melilit tubuhnya seperti kepompong. Aku mengekor di belakangnya sambil membawa gelas jahe panasnya.
Dia merebahkan diri di kasur full size-ku, lalu memiringkan badan ke kanan.
"Aku taruh sini ya. Jangan lupa diminum."
Cindy mengangguk tanpa mengubah posisi. Pipi gembulnya makin menonjol. Percayalah, itu sangat menggemaskan.
"Udah ya, aku tutup pintunya."
"Jangan kak... di sini aja..."
"Eh?"
"Di luar kan dingin... kakak di sini aja..."
Nafasku tertahan di ambang pintu.
"Pliss..."
"I-iya deh, iya. Aku ambil jaheku dulu ya."
***
Senar gitar akustik itu kupetik satu per satu, memainkan sebuah lagu instrumental. Aku duduk di pinggir kasur, membelakangi Cindy yang sepertinya sudah tenggelam dalam tidurnya lagi. Di luar, hujan masih lebat menghantam kaca jendela.
Gitar kuletakkan ke stand-nya. Aku berjalan ke meja kecil di samping kasur, menyesap jahe yang tinggal hangatnya. Lalu mataku tertuju pada Cindy. Entah kenapa, otakku tiba-tiba menyuruhku untuk berbaring di sebelahnya dan meremas-remas payudaranya.
Akh... aku ereksi.
Tonjolan itu mencuat jelas di balik celana pendekku.
Jangan...
dia baru capek...
enggak...
biar dia istirahat...
Perlahan aku berbaring di sampingnya, memiringkan badan hingga punggungnya menempel di dadaku. Tanganku menyusup perlahan ke dalam selimut, langsung mendarat di payudaranya yang masih terbungkus kaus.
"Kak..." Tangan kirinya meraih pergelangan tanganku.
"Eh?! M-maaf... Cin... kakak enggak sengaja—"
"Iya... aku paham... gapapa kak..."
Dan kudengar... Cindy malah membimbing tanganku, menekan jari-jariku ke lekuk payudaranya sendiri.
"Mmmhhh..."
"T-tapi, Cin, kamu masih capek—"
"Gapapa kak..."
Cindy mengubah posisinya. Kini ia terlentang, selimut yang tadi menutupi tubuhnya disibakkan ke samping. Payudaranya tampak semakin menyembul dalam posisi itu.
"Hehe."
Lengkungan senyum itu muncul lagi di wajahnya. Dia mengangkat kaus merah mudanya sampai ke atas dadanya, memperlihatkan kedua payudara besarnya yang masih terbungkus bra hitam.
"Buru kak... dingin... hehe..."
Aku tidak akan menyia-nyiakan undangan seperti itu. Aku menindih tubuhnya, lalu mulai menggerayangi kedua gunung itu.
"Aaahh... mmhhh..."
Aku memutar dan meremas kedua bongkahan itu beberapa saat sebelum mencoba melepas pengait branya agar bisa bermain lebih jauh lagi.
Sepertinya dia menangkap maksudku. Cindy mengangkat tubuhnya sedikit, pengait itu langsung lepas, dan kuangkat branya ke atas. Putingnya yang menggemaskan itu mengeras hanya dalam beberapa saat kucubit-cubit. Cindy mencengkeram sprei kuat-kuat, matanya terpejam.
Aku merunduk, lalu menjilati sekeliling putingnya. Cindy menggelinjang.
"Ih... geli kak... mmhh..."
Dari menjilat, kini kuhisap putingnya bergantian — kiri, kanan, kiri lagi. Cindy semakin menggeliat. Kedua tangannya merangkul erat belakang kepalaku, membelai rambutku, seolah menahan posisiku agar tidak berhenti menghisap. Desahannya mengalir tanpa jeda.
"Aahh... e-nak... mmmhh..."
Aku terus mengisap dan memainkan payudaranya dengan penuh birahi. Cindy mulai berkeringat, aroma khas tubuhnya membangkitkan nafsuku semakin liar. Aku menggigit putingnya.
"Aak—"
Ctak!
Cindy sontak menjitak kepalaku.
"Ih! Jangan gigit! Sakit tau!" protesnya sambil cemberut.
"Ehe, maaf maaf... habis gemesin..."
Cindy menarik wajahku mendekat, nafas hangatnya menyapu wajahku dengan jelas. Dengan birahi yang masih membara, kami saling bercumbu. Tanganku tetap asyik bermain di kedua payudaranya.
Decakan mulut kami terdengar jelas di dalam kamar. Kami saling melumat, bertukar liur, sampai bibir kami lembab dan bahkan dagu kami pun basah oleh ludah sendiri. Aku ikut berkeringat. Karena gerah, kaos merah di tubuhku kuangkat dan kulempar sembarangan.
"Kak... gerah... lepasin sekalian dong..." rengek Cindy, memintaku melepas branya juga.
"Dih, manja."
Permintaannya kubotahi. Kaos dan branya kulempar entah ke mana. Kini kami sama-sama bertelanjang dada. Aku kembali mencumbunya, tanganku melanjutkan petualangan di payudaranya yang makin keras terasa itu. Lehernya pun tak luput dariku — kucium, kujilat, sampai keringat kami saling bertemu dan aroma khas kami berdua memenuhi seluruh kamar.
Aku beralih ke selangkangannya. Tak lama setelah menarik celana panjang dan celana dalamnya ke bawah, kupahami bahwa Cindy sudah basah kuyup. Tanpa basa-basi, selangkangannya kubuka lebar-lebar, lalu kubenamkan wajahku ke sana, menjilati seluruh area di sekitar memeknya.
Kedua paha Cindy menyilang dan menjepit kepalaku. Paha mulusnya empuk banget. Hehe.
"Aaahhh... terus kaakk... mmmhhh..."
Lidahku yang semula hanya menjilat bagian luar memeknya, kini masuk menyelam ke dalam liang vaginanya. Kutjap-tjap lidahku di sana, bermain di dalam kelembapan yang terus membanjir.
"Mmhh...! Kaaakkk...! Aaaakkkhh...!!"
Desahannya makin kencang, tubuhnya menegang liat — lalu Cindy menyemburkan cairan orgasmenya tepat ke wajahku. Spreiku juga jadi korban. Sekali lagi aroma khas cairan itu memenuhi kamar. Huft... sepertinya sprei ini harus kuganti hari ini juga.
Nafas Cindy sengal, dadanya naik turun cepat. Matanya sayu.
"Ehehe..."
"Udah capek ya?"
"Ah... enggak kok, hehe. Udah kak... lepasin dulu tuh celananya..."
Aku menoleh ke bawah. Yah, kontolku memang sudah tegang kaku di sana dari tadi.
"Yakin?"
Dia mengangguk. Padahal aku tahu dia sudah kelelahan. Tapi ya gimana? Nangung. Hehe.
Aku menurunkan celana pendek dan celana dalamku sekaligus. Kontolku langsung mengacung tegang begitu bebas dari sarangnya. Aku berdiri sambil menempel di dinding, dan Cindy berjongkok di depan kontolku, bersiap memainkannya.
"Eh, Cin."
"Iya, kak?"
"Coba dong jepit pake tetek kamu."
"Eh?"
"I-iya... jadi kontol aku dicoba deh jepit pake tetek kamu."
"Oohh..."
Cindy memegang kedua payudaranya, mendekatkannya ke kontolku... lalu tiba-tiba ia menjepitkan keduanya dengan kasar.
"OOOHH...!" Aku mendongak saat daging payudara Cindy melingkupi kontolku.
"Ehe... enak ya? Ehehehe..."
Cindy mulai menggosok-gosok kontolku dengan payudaranya naik turun. Sensasi berbeda dari kelembutan dan keempukan dagingnya membuatku mendesah keenakan. Kontolku rasanya dipijat-pijat dari segala arah. Nikmat sekali.
Cindy makin antusias — mengusap, menekan, memeras. Aku sukses dibuatnya merem melek.
"Mmmhhh...! Cindy... aahhh...!"
Cindy berhenti sesaat dengan posisi jepit, lalu menekan-nekan kedua payudaranya.
"Akh... aaahhh....!"
"Rasain ini kak! Ahaha!"
Ia makin cepat mengocok kontolku dengan teteknya, sampai tubuhku menegang dan kuwrasai banjir spermani hampir mencapai ujung kontol.
"C-Cindy...! Aku k-keluarrr...!!!"
Aku menarik kontolku dari sela teteknya, lalu mengarahkannya cepat-cepat ke wajah Cindy.
Crot
Crot
Crot
Crot
Semua penyemprotanku mendarat tepat di wajah Cindy, membuatnya belepotan oleh cairan sperma yang masih hangat. Wajahnya tampak kacau balau.
Nafasku pun jadi sengal. Dadaku naik turun, keringat masih menempel di seluruh tubuhku.
"Ehehe..."
Cindy ambruk ke kasur, begitu pula aku yang terkapar di sampingnya. Aku memandangi wajahnya yang belepotan itu. Dengan mata sayu, ia tersenyum padaku sebelum memejamkan matanya. Tak lama, pandanganku makin kabur... hingga akhirnya, semuanya gelap.
***
"Nnggh..."
Aku membuka mata perlahan. Langit-langit kamar menjadi pemandangan pertamaku. Aku mengucek mata dan bangun duduk. Cindy tidak ada di kamarku. Jam digitalku menampilkan angka: 06.35. Sepertinya aku ketiduran sampai pagi.
Tunggu... di mana Cindy?
Pertanyaanku terjawab saat aku keluar kamar — tentu saja setelah berpakaian dulu. Kkulihat dia sedang memasak di dapur, pakaiannya juga sudah rapi kembali.
"Pagi kak," sapanya dengan wajah segar.
"Pagi."
"Ehehe... maaf ya kak, aku obrak-abrik dapur kakak. Aku masakin nasi goreng ya."
"Emang bisa?"
"Bisa dong, hehe. Udah, kakak nunggu aja di depan sambil nonton TV. Udah aku buatin teh panas di sana."
"Wah? Serius? Okedeh."
Aku meninggalkannya di dapur dan menuju ruang depan. Benar saja — segelas teh panas sudah menunggu di meja. Kutyalakan TV dan duduk di sofa, menanti nasi goreng buatan Cindy. Ehehe... kapan lagi dapat dimasakin cewek secantik dia?
Tapi... ini aneh.
Cindy selalu membiarkanku bermain-main dengan tubuhnya, tanpa risih sama sekali. Bahkan sekarang dia ada di dapur, memasak untukku. Apakah aku perlu menanyakan ini? Apakah inilah saatnya kutanyakan perasaan aslinya padaku?
Tiba-tiba, smartphone Cindy yang sedang dicharge di atas meja berdering — sebuah voice call masuk. Di layar, terlihat foto seorang laki-laki yang sepertinya seumuran dengan Cindy.
Andhika Dewa...
Dan foto profilnya... dia merangkul mesra seorang perempuan di pinggir pantai...
Perempuan itu...
Cindy.
To be continued...