←18+
← As Elegant As Aurora

Episode 07 — As Elegant As Aurora

EPISODE 07
Andhika Dewa... Foto profilnya... dia merangkul mesra seorang perempuan di tepi pantai. Senyum lebar, lengan itu melingkar erat di pinggang si perempuan. Dan perempuan itu... Cindy. Entah kenapa dadaku tiba-tiba sesak. Seperti ada yang mencabut isi diriku sampai kering. Gelas teh panas yang tadi kupanaskan aku taruh lagi ke meja, uapnya mengepul entah ke mana. Mataku masih terpaku pada smartphone Cindy itu. Hingga saat ini, ada empat voice call masuk dari nama itu. Lalu tak ada lagi. Apa laki-laki ini... pacarnya? Kalau begitu, selama ini... Cindy... Tanganku bergerak mendekati smartphone itu. Namun sebelum jariku menyentuhnya, Cindy sudah lebih dulu muncul dari arah dapur. "Eh, kak Dimas, hehe, nih udah jadi nasi gorengnya. Maaf ya agak lama, yuk dimak—" "Cindy." Suaraku datar, berat. "Sebenernya, perasaan kamu ke aku itu gimana?" "Eh?" Dia berhenti langkah. "Maksudnya?" "Jawab." "Kakak kenapa sih?" Ia menatap mataku, alisnya mengernyit heran. "Selama ini kamu cuma anggep aku tempat pelampiasan nafsu kamu, kan?" Cindy tertegun. Dua piring nasi goreng itu ia letakkan di meja dengan gerakan yang mulai gemetar. "Gak bisa jawab? Hah?" Nadaku meninggi, tak kusadari lagi. "Berarti bener, dong? Atau... aku cuma jadi pelarian sesaat gara-gara kamu bosen sama pacar kamu?" Aku perlahan berdiri, membuat bayanganku menjulang di hadapannya. Cindy membulatkan matanya. Mulutnya terbuka sedikit, seperti ingin berkata sesuatu tapi suaranya tak kunjung keluar. "Aku enggak punya pac—" "Bacot." Potongku dingin. "Siapa itu Andhika Dewa? Hah?!" Aku meraih smartphone itu dari meja, lalu kuputar layarnya menghadap dia. Empat notifikasi panggilan tak terjawab dari nama itu terpampang jelas, tak mungkin dibantah. Cindy kembali diam. Bibirnya tampak bergetar, matanya bergantian dari layar itu ke wajahku. "K-kak... d-dia—" "Dasar." Aku menggeleng pelan. "Cewek rendahan." Cindy terperanjat. Seluruh tubuhnya seperti kaku sesaat. PLAK! Tamparan keras mendarat tepat di pipi kiriku. Kepalaku menyentak ke kanan. Telingaku berdenging, dan untuk beberapa detik satu-satunya yang kudengar hanyalah degup jantungku sendiri. "Cukup, kak!" Mata Cindy berkaca-kaca, berkilat menyala di balik genangan itu. Ia merebut smartphone dari tanganku dengan paksa, mencabut kabel charger dari lantai, lalu meraih tasnya yang tergeletak di sampingku. Ia menatap mataku dalam-dalam—dan di balik air yang mulai tumpah itu, ada sesuatu yang retak. "Aku..." suaranya serak. "Kecewa sama kakak." Air mata yang terbendung selama ini akhirnya jatuh. Cindy menangis sesenggukan, kecil dan membuyar, sambil berlalu keluar dari kontrakanku. Pintu berderit lalu tertutup keras. Aku merebahkan diri di sofa. Tangan bergenggam di pipiku yang memerah perih. Mataku menatap kosong ke arah dua piring nasi goreng yang masih mengepul—dua piring yang kini terasa jauh lebih dingin dari ruangan ini. To be continued...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 06
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal