←18+
← As Elegant As Aurora

Episode 08 — As Elegant As Aurora

EPISODE 08
Episode 8 "Udah, istirahatin dulu aja, Nan." "Sakit juga ya, Dim." Perempuan itu meringis sambil mengibas-ngibaskan tangan kirinya. Jari-jarinya memang masih kaku, belum akrab dengan senar gitar yang barusan ia petik. "Ya, lo nya aja yang jarang latihan. Lama-lama juga biasa kok." Aku yang duduk di kursi menghadapnya mencoba menyemangati. Aku meraih gelas jus jeruk buatan Jinan dan menenggaknya setengah. Jinan bangkit dari pinggir kasur, meletakkan gitar putihnya di stand yang tak jauh dari tempatnya duduk. Ia memakai kaus putih dengan gambar-gambar kecil berserakan di dadanya, dan celana pendek dengan warna senada. Tiba-tiba aku merasakan tonjolan di dalam jeansku. Kontolku mengeras lagi. Aku menahan-nahan napas, berdoa agar baran itu tidak membesar lebih parah. Sialan! Jinan berjalan menuju meja belajarnya, meraih karet gelang, lalu menguncir kuda rambut panjangnya. Pandanganku menelusuri tubuhnya dari atas ke bawah. Benar-benar sempurna. Perempuan ini jelas merawat tubuhnya dengan sungguh-sungguh. Aku menahan napas lagi saat ia berbalik arah. Baru kali ini aku melihatnya semenawan itu dengan rambut panjangnya dikucir ke belakang. "Bentar ya, Dim. Matiin kran dulu." "Argh!" Belum sempat Jinan mencapai ambang pintu, aku sudah merengkuhnya dari belakang. Tangan kananku membekap mulutnya, kepalanya kutahan miring ke kanan, membuka ruang luas di lehernya yang putih mulus. "Mmmpgh...! Mmmph... Mmph..." Desahannya tertahan di balik telapak tanganku. Aku yakin ia kaget setengah mati dengan sergapanku. Bibir dan hidungku menyusuri lehernya, mengendus-endus harum kulitnya, sementara tangan kiriku tak tinggal diam—menggerayangi payudaranya yang munggil dari balik kaus dan branya. "Mmp— Dim... please... jangan sekarang... Ahh..." Jinan berhasil melepaskan bekapanku dengan tangan kanannya. "Enggak bisa..." Tangan kananku bergerak cepat, menurunkan celana pendeknya sampai ke lutut. Jinan menahan celananya dengan segala tenaga agar tidak melorot. Sia-sia. Aku meremas kasar kedua toketnya dan mencumbu lehernya semakin liar. "Aaahh... Dim... mmhh..." Kugiringkan tubuhnya ke kasur dengan kedua tangan yang masih sibuk meremas tetek dan menggumul lehernya. Celana pendeknya akhirnya lolos dari kedua kakinya, menyisakan celana dalam yang masih membungkus selangkangannya. Tubuhnya memantul kecil saat kuhempaskan ke kasur. Bibir tipisnya menyambut lumatan bibirku dengan penuh nafsu. Decakan kami makin jelas—berciuman, saling bertukar liur, lidah kami beradu dan saling mengait di dalam mulutnya. Aku bisa merasakan napas hangat Jinan yang mulai memburu, dan ia pasti juga merasakan napasku yang sama panasnya. Tanganku yang semula menahan kedua pergelangan tangannya kini turun, menggerayangi kedua toket kecilnya yang masih tersembunyi di balik kaus dan bra. Kuremas-remas, kuputar-putar bagai analog stik PlayStation. "Mmphh... Dim!" PLAK Ia menamparku setelah melepaskan ciuman itu dan mendorong dadaiku menjauh. "Dih, kenapa lu?" "Gue bilang jangan sekarang! Kran kamar mandi belum gue matiin. Minggir!" "Ih, tapi Nan, gue u—" PLAK Tamparan kedua mendarat di pipiku. Kali ini ia berhasil menyingkirkan tubuhku ke sisi kiri kasur, membebaskan dirinya dari tindihanku. "Bentar doang anjir! Lu gak bisa ya nahan nafsu ke cewek sedetik doang?" Ia mengelap air liur yang membasahi dagunya dengan punggung tangan. Aku terdiam, memandang punggungnya keluar kamar. Ia tak repot-repot memakai kembali celana pendeknya. "Jangan coba ikutin gue." Pintu kamarnya tertutup, dikunci dari luar. Anjir... Aku menghela napas, duduk di pinggir kasur sambil memijat pipi yang masih panas ditampar. Kalau dipikir-pikir, omongan Jinan ada benarnya juga. Aku harus mulai melatih nafsuku supaya tidak menguasaku sepenuhnya. Setidaknya aku harus bisa mengendalikannya, apalagi saat berada di depan seorang perempuan. Aku tak mau membayangkan jika suatu hari nanti aku tanpa sengaja memperkosa perempuan lain... Tapi kejadian tadi bisa dicegah, kalau saja Jinan tidak mengajakku ke rumahnya yang sepi ini—kedua orang tuanya lagi keluar kota untuk urusan kerja—dan kalau saja ia memakai celana yang menutup paha mulusnya itu. Ah, percuma juga mengatakan pembelaan seperti ini padanya. Ujung-ujungnya aku juga yang disalahkan. Ah, bukan. Sepertinya aku yang harus minta maaf padanya... Aku menggeleng cepat, menghela napas lagi. Hei. Entah kenapa, rasa penasaran yang datang tiba-tiba menggiringkan kakiku ke lemari pakaian Jinan. Dan betapa kagetnya aku ketika menemukan 'harta karun' di dalamnya. Bukan, bukan pakaian dalam atau yang semacam itu... "Jinan, nakal juga lo ternyata, hehehe..." Kepalaku pun didatangi ide untuk 'mengerjai' Jinan menggunakan 'harta karun' itu. Hei, rasa penasaranku... sepertinya kita memang harus sering berinteraksi. *** Plak. Plak. Plak. Kulit putih pantat Jinan kini memerah karena tamparanku yang berkali-kali mendarat di sana. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain menurut. Semua pakaiannya sudah kutanggalkan. Tak ada sehelai benang pun menempel di tubuhnya. Aku sendiri juga sudah telanjang bulat. "Mmpgh... Mmmpgh...!" Mulutnya sudah kusumpal dengan ball gag. Gerakan tangan dan kakinya kutahan dengan borgol. Semua benda itu kutemukan di lemari pakaiannya. Tak kusangka perempuan ini menyukai hal ekstrim seperti itu. Jujur, aku tidak terlalu paham soal BDSM—aku hanya pernah menontonnya sekali dua kali—tapi rasanya aku masih bisa 'mengerjainya' dengan sedikit improvisasi. Aku membalik badannya. Jinan menatapku sayu. Aku memang tidak bisa membaca pikiran orang lewat matanya, tapi kurasa saat ini Jinan ingin menyudahi semua ini... walau tubuhnya sudah sangat keenakan. Oh ayolah. Kau tak bisa membohongi dirimu sendiri dengan menolak nafsumu. Kuraih dua jepit jemuran yang sengaja kuletakkan di meja belajarnya tadi. Tangan Jinan menempel kuat di depan dadanya, menutupi kedua toketnya agar sulit kujangkau. Ia menggeleng cepat, memasang wajah memelas. Sepertinya ia tak setuju putingnya mau kujepit. Dan justru itu membuatku semakin berani. Kedua tangannya kutarik ke atas. Borgol itu kuikatkan ke besi kepala kasur memakai sebuah dasi. Jinan terlihat panik—kedua toketnya kini bebas tanpa pertahanan. Aku tersenyum nakal sambil menekan-nekan jepit jemuran itu. Terbuka-tertutup, siap menjepit kedua puting merah muda yang sudah mengeras itu. Tubuh Jinan meracau, bergeliat tak keruan. "Mmmpghh... Mmpgh... MmPPHH...!!" Percuma. Dua putingnya sudah sukses terjepit. Jinan mendongak sesaat setelah itu terjadi. Aku yakin sensasi yang ia rasakan saat ini sangatlah nikmat. Tubuhnya kembali bergoyang, matanya merem-melek. "Gimana? Enak? Hmm?" Jinan menggeleng cepat. Tapi tatapan sayunya tidak mampu menyembunyikan apa yang sebenarnya ia rasakan. "Gak mau ngaku?" Aku menarik pelan jepit jemuran itu. Rintihan Jinan terdengar dari balik mulutnya yang terbungkam. Hmm... entah itu rintihan atau desahan, aku tak yakin. Perlahan badannya terangkat mengikuti tarikan itu, mencoba mengurangi rasa perih di putingnya. Akhirnya ia mengangguk cepat, mengakui kenikmatan yang merasukinya. Perlahan kunakitmurkan jepitan itu hingga ia kembali terbaring normal. Matanya berkaca-kaca. Sepertinya memang tadi itu perih, hehe. Aku beralih ke memeknya. Borgol di kakinya kulepas agar aku lebih leluasa bermain di daerah selangkangannya. Begitu kubuka kedua kakinya, memek kemerahmudaan itu menyambutku. Aku berlutut di ujung kasur, mengangkat satu kakinya, lalu mendekatkan jari telunjuk dan tengahku ke arah klitorisnya dan mengusapnya pelan. Memutar. Maju-mundur. "MmPhGH..! Mmpphh..!" Desahannya makin keras setelah beberapa menit kubuat klitorisnya menerima rasangan itu. Jinan membuka satu matanya, memandangku sayu. Aku yakin dia sudah becek di sana. Dua jariku meninggalkan klitorisnya, bersiap menusuk-nusuk memeknya. Tanpa aba-aba, jari telunjuk dan tengahku langsung masuk ke liang hangat yang sudah becek itu. Jinan kembali mendongak, mendesah-desah. Tubuhnya bergoyang seiring dua jariku yang maju-mundur menusuk pelan memeknya. "MmPhHHH... NngHhNgh...!" Air liurnya luber, membasahi dagu dan lehernya. Wajahnya memerah. Napasnya mulai sengal. Kedua jariku mulai mengusap dinding memeknya, dan... Bingo. Sepertinya aku menemukan G-spotnya. Kutekan-tekan halus area itu. Jinan menggelinjang hebat. "Mmpgrh! MmGHHH...!" Pinggulnya bergetar, tubuhnya menegang. Jinan mencapai orgasme pertamanya. Cairan itu membasahi dua jariku. Selangkangannya, bahkan bagian kasur di bawahnya, ikut basah kuyup. Kedua jepit jemuran kulepas. Tangan Jinan langsung bergerak-gerak, matanya berkali-kali melirik ke arah borgol. Ia minta borgolnya dilepas juga. Aku tersenyum, lalu mengecup keningnya. Mata Jinan membulat. Sepertinya akan kubiarkan ia tetap di posisi ini. Ditambah keringat yang sudah membasahi kulit putihnya, nafsuku makin menggelegak. Tanpa memberinya istirahat yang layak, aku mulai memainkan kontolku—menggesek-gesekkan kepala dan batangnya di luar memeknya. Ia memandangku gelisah, sampai kepala kontolku mulai mendorong masuk ke dalam memeknya. Ini dia hidangan utamanya. "MMMPPGH...!" Sempit. Aku mendorong lagi perlahan, sampai setengah batang kontolku tertelan. Wajah Jinan memerah lagi. Ia memejamkan mata saat aku kembali berusaha memasukkan kontolku lebih dalam. "Aaahh... Jinann... mmhhh..." Kubiarkan kontolku berada di dalam memeknya beberapa saat, merasakan liang itu berkedut, memijit-mijit batangku dari dalam. Matanya masih gelisah. "Siap-siap..." Aku mulai menggenjot memeknya. Dimulai dengan tempo pelan, lalu makin cepat, makin cepat. Desahan kami beradu, memenuhi kamar Jinan. MMMMMMMHHHHH... MMMMHHHHHH... AAAHHHHHH... Hampir setengah jam berlalu, dan aku belum juga orgasme. "MphH..! MMPGHRH...!" Jinan mencapai orgasme keduanya. Sialan. Kucabut kontolku yang sudah berlumuran cairan orgasme Jinan. Dasi pengikat borgol ke besi kepala kasur juga kulepas. Jinan yang masih tersengal-sengal memandangku pasrah. Ia tahu semua ini belum selesai. Aku membalik badannya. Kedua tanganku mengangkat tubuhnya dari belakang—tubuhnya kini bertumpu pada kedua lutut dan siku. Plak. Plak. Plak. Sekali lagi kutampar-tampar pantatnya sampai memerah. Jinan merintih. Kuangkat sedikit pantatnya, lalu kuhujam lagi memeknya dari belakang. "Mmmpgh... Mmphhh..." Desahannya terdengar lebih lemah dari sebelumnya. Tapi itu tidak sedikit pun meredakan nafsuku untuk menikmati liang memeknya. Aku kembali menggenjot liang hangat itu. Plak. Plak. Plak. Bunyi getapan terdengar tiap kali selangkanganku menghantam pantatnya. Tubuh Jinan bergetar. Kasurnya kini tak hanya basah keringat dan cairan orgasmenya—air liurnya juga menetes dari balik ball gag, memercik ke seprei. Bau keringat kami bercampur, memenuhi rongga paru-paru. Punggung Jinan yang basah oleh keringat semakin menyalakanku. Tempo genjotanku kupacu sekuat tenaga. Setelah hampir sepuluh menit, akhirnya aku merasakannya. Aliran sperma sudah menjemput di ujung kontolku. Cepat-cepat kucabut kontolku. Tubuh Jinan roboh ke kanan, kini ia rebah menyamping. Aku mengocok-ngocok kontolku di atas wajahnya, dan tak lama kemudian... Crot. Crot. Crot. Walau tidak terlalu banyak, wajah Jinan sukses kulumuri dengan spermasku. Wajahnya benar-benar kacau. Berlumuran sperma, air liurnya juga membasahi sebagian wajahnya. Rambutnya lepek keringatan. Kedua matanya makin sayu. Napasnya masih sengal. Pipinya merah padam. Ball gag yang sedari tadi membungkam mulutnya akhirnya kulepas. Alat itu sudah basah oleh liurnya. Untaian air liur tersedia antara ball itu dengan bibirnya saat kuturunkan. Ia terbatuk-batuk. "Lo parah, Dim... uhuk... enggak sopan tau... uhuk... buka lemari orang... uhuk..." suaranya lemah. "Hhh... kalo enggak gini... lo gak bakal sepuas ini kan...? hhh..." "I-iya... tapi... akh... memek gue perih, anj...ing... lu main kasar banget..." "Ya maaf... habisnya lo nafsuin..." Aku membuka borgol di tangannya. "Apa?" Ia memposisikan diri duduk bersandar di tembok. "Eh, enggak... hehe..." "Anjir... tetek gue perih juga..." Ia turun dari kasur, mengambil beberapa lembar tisu untuk mengelap sperma dan air liur di wajahnya. "Nan." "Hmm? Kenapa...?" "Gimana kalau... kita pacaran...?" "Hah?" "Gue suka sama lo, Nan." Jinan terdiam. Ia tidak menoleh ke arahku. "Lo ngelawak ya?" "Enggak. Gue serius." Jinan kembali diam beberapa detik. "Maaf, Dim... gue... gak bisa." To be continued...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 07
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal