EPISODE 13
Episode 13 — Bagian 1/2
Setelah berpisah dengan Pipit di kafe hotel siang tadi, aku kembali membelah kemacetan ibu kota provinsi Sumatera Utara untuk beredar ke kantorku. Panas, lelah, dan sisa jam kerja yang masih harus kunikmati dengan setia.
Pipit tidak pulang ke rumahnya. Dia memilih membuka kamar di hotel itu dan aku akan menyusulnya nanti malam. Itu rencana yang sudah kami susun bersama — sebenarnya usulan Pipit sendiri, dan aku iya-kan saja. Kalau laki dan perempuan sekamar di hotel pada malam hari, apa yang akan terjadi, hayooo?
Tidur?
Teng-tong! Jawaban Anda benar. Silakan nyemplung ke sunge Deli yang keruh berlumpur penuh ikan sapu-sapu.
"Bang Aseng? Tadi dicariin bu Sandra?" Tiba-tiba asisten Factory Manager itu sudah menyamper mejaku.
"Bu Sandra? Dia udah nyampe Medan?" Aku kaget. Dicari justru saat aku tidak ada di tempat. Gaswat!
"Belom... besok dia pulangnya... Tadi dia nyariin abang lewat telepon. Kata anak-anak abang lagi permisi keluar, ya?" kata gadis hijaber bernama Tiwi itu.
"Ih... kaget aku, Wi... Kirain dia udah nyampe Medan..." Beneran kaget. Bisa-bisa aku kena semprot karena tidak berada di posisi saat dia tidak ada. Secara langsung, dialah yang menugaskanku meng-handle pabrik selama dia ke luar kota, dibantu Tiwi. Walaupun tidak ada masalah berat, tetap ada laporan yang harus kukerjakan. Kucek HP-ku. Tiga miss-call dari bu Sandra selama aku di perjalanan pulang dari hotel tadi.
"Woles, bang... Tadi Tiwi bilangnya ke bu Sandra kalau abang lagi di lapangan... Jadi HP-nya gak kedengeran..." Tiwi kooperatif sekali.
"Ish... makasih kali-la, Wi... Nanti abang traktir naek odong-odong-lah..." kataku berterima kasih.
"Yah... odong-odong... memangnya awak anak-anak apa... Huu..."
---
"Seng? Aman pabrik?" Tanya bu Sandra lewat saluran telepon.
"Aman, kak..." Jawabku. Saat itu aku berdiri di semacam balkon yang menghadap ke pabrik. Bu Sandra sering mengamati pabrik dari titik ini secara langsung — mengawasi tiap lini produksi atau menerima laporan verbal dari para kepala bagian. Secara umum semuanya berjalan sesuai jadwal.
"Gak ada kendala, kan? Mesin yang baru itu masih ngulah?"
"Udah jinak, kak... Udah dikasih kepala kerbo baru, langsung jinak dia..." He-he-he... Gimana pulak aku memanggil manajer pabrik dengan 'kakak'? Kakak ketemu gede?
"Bagus deh kalo begitu... Tadi wa telpon lu... kemana lu?" Sindirnya tentang ketiadaanku tadi. Nah-loh. Orang Medan yang ngomong pakai elu-gua itu pasti ada beberapa sebabnya. Satu, pelarian dari Jakarta dan sekitarnya — entah residivis nyuri sempak atau apa sampai lari ke Medan. Kedua, sok gaul karena kebanyakan nonton sinetron orang kaya di TV. Ketiga, Cina Medan. Mayoritas bersuku Hokkien yang tersebar luas di Sumatera, dan beberapa di antaranya memang ngomong elu-gua.
"Di lapangan, kak..." Jawabku tetap ngeles sesuai alibi Tiwi. "Makanya gak kedengaran bisingnya..."
"Ah... palingan lu ngelayap keluar, kan?" Dia menggep-gepku. Pasti dia sempat bertanya ke anak lain di kantor.
"Ish... kek gak tau aja sama awak, kak Sandra ini..." Jawabku, tak mau ngeles lagi.
"Ya udah... abis Maghrib lu jemput wa di Polonia... Wa pulang sore ini juga... bosen wa di Jakarta, macetnya kek kimak kali rasa..." Putusnya tiba-tiba.
"HA? Maghrib? Supir kakak kan ada... masak awak yang disuruh jemput? Mau kakak naik motor kujemput?" Kaget aku. Tak kebayang seorang manajer naik motor pulang dari Polonia. Sampai rumah, hair-do-nya pasti jigrak-jigrak.
"Paok kali lu, Seng... kao pinjam-la mobil kantor satu, bawa pulang dulu... Pokoknya jemput kakak abis Maghrib, ya?" Pungkasnya.
"Iyalah..." Eh. Cemana bisa aku sedekat ini dengan perempuan yang posisinya hanya satu tingkat di bawah Direktur perusahaan ini? Usianya terpaut tiga tahun dariku — pas kalau kupanggil kakak. Seusia kakak kandungku, bahkan dia memang teman kakakku dulu. Satu kuliahan. Beberapa kali ia main ke rumah, tapi aku tak terlalu memperhatikan. Ketemu lagi justru di perusahaan ini. Dia gigih meniti karier sampai posisinya sekarang. Dan karena kenal dengannya, karierku pun sedikit terbantu. Gitu aja, sih.
---
Pesawatnya dijadwalkan mendarat jam delapan malam. Aku sudah sampai Polonia setengah jam sebelumnya. Sore tadi istriku pasti kaget aku pulang bawa mobil — biasanya aku pinjam mobil kantor hanya untuk jalan-jalan jauh di akhir pekan. Tapi setelah kujelaskan, dia paham kedekatanku dengan bu Sandra. Apalagi bu Sandra pernah beberapa kali datang ke rumah. Dua kali kami mengadakan syukuran penabalan nama kedua anak kami, dia rajin datang.
Sementara menunggu pesawat landing, aku chatting dengan Pipit, mengabari bahwa aku belum tahu jam berapa bisa menyamper dia di hotel. Kalau sudah jelas, akan kuberi tahu. Katanya sudah bosan menunggu di kamar. Dia mengaku sedang di rumah lakiknya, Imran.
Chatting senada juga kusampaikan pada Yuli. Aku masih dalam "program penghamilannya". Ciee, program. Program bayi tabung iya. Ini program menghamili binor. Kalau Aida hanya butuh empat hari, berapa hari yang dibutuhkan untuk Yuli? Lakiknya tidak ada sampai seminggu ke depan — mungkin aku harus rutin setoran sperma padanya selama itu.
Tak lama, ada pemberitahuan pesawat yang kutunggu sudah mendarat dan sedang menepi. Aku tidak perlu buru-buru; bu Sandra pasti banyak barang bawaan yang harus di-claim. Kutunggu di pintu kedatangan, dan sudah kulihat tampangnya yang suntuk sambil menyeret tas koper beroda. Sebenarnya mau kutolong tas berat itu, tapi dia tak kunjung keluar dari pembatas karena masih sambil teleponan. Kubutakkan gagang kopernya begitu dia lewat, dan mengikutinya menuju pintu keluar.
"Pulang, kak?" Tanyaku begitu dia selesai menelepon di kursi penumpang depan mobil. Naga-naganya dia hendak melempar HP itu ke dashboard, tapi urung, dan malah... "Aagghh... sakit, kak!" Teriakku kaget. "Ish... apa-lah kakak ini? Aku gak ngapa-ngapain digigit!" Kuelus-elus lengan kiriku yang barusan digigitnya. "Ih, kan? Bauk! Belom gosok gigi ini pasti..." Sakit beneran. Sampai berbekas.
"Biarin! Palak kali wa sama Cina satu itu... udah tua gak tau diri..." Meluap kekesalannya. Aku tahu orangnya. (Lah, Cina maki Cina lain. Entah hapa-hapa cici satu ini.)
"Palak sama koko itu, jangan tangan awak pulak yang jadi sasarannya, kak... Baek-baek awak jemput kakak... dah kayak supir pulak aku jadinya..." Kataku sambil mengendarai mobil keluar dari kawasan bandara Polonia yang berada di tengah kota. Kak Sandra pasti kesal pada suaminya sendiri. Ko Johanes, sering dipanggil ko Amek, jarang ada di Medan. Lebih sering di Singapur mengurus bisnisnya — yang kutahu, bisnis spare part komputer dan sejenisnya. Sebulan paling banter seminggu di Medan. Kak Sandra sering curiga suaminya punya selingkuhan, atau malah sudah kawin lagi di sana.
"Gak enak kalok kursi ini yang wa gigit... tangan lu-lah yang wa gigit... lu kan dah kek Cina jugak..." Katanya malah nambah, mukul lenganku yang barusan digigitnya. Plak!
"Aduh, kak... sakit tau!" Kuelus-elus lagi. Ini orang mukul pake tenaga penuh. Sabarlah, untungnya awak ini. "Gak pulang koko itu, kak?" Tanyaku. Pasti ini masalahnya.
"Entahlah, Seng... cantik kali wa rasa komputer di Singapur itu sampek dientotnya tiap malam..." Kesalnya berlanjut. Dia melipat tangan di depan dada, membuang pandangan ke jalanan. Jalanan malam sepi, hanya beberapa kendaraan lewat di kegelapan. Lampu jalan jingga kekuningan memberi nuansa berbeda di atas aspal hitam. Kabut tipis dari pepohonan di tepi jalan menghalau sayup lampu di tajuk tertingginya. Belitan sabuk pengaman membelah dada kak Sandra, tambah membusung oleh lipatan tangannya. Aku sudah sering melihat ini — sehari-harinya ia selalu begitu. Kurasa satu pabrik ikut menikmati pemandangan ini. Panlok-panlok jenis ini memang suka berpakaian provokatif dan terbuka.
"Lagi M keknya si kakak, nih..." Kataku, tetap fokus ke jalan. Gak-lah aku menatap itu terus, walopun memang besar bempernya. Lirik-lirik aja. Dikiiit aja.
"Cobak-lah lu pikir... wa ini kurangnya apa-hah? Wa cantik, kan? Wa selalu jaga penampilan wa... salon sana-sini supaya tetap cantik... wa juga yang modalin usaha itu sampek sebesar sekarang-hah? Trus gara-gara masalah kecil aja dia gak pulang-pulang-hah? Orang itu gak ada otak memang..." Semburnya malah ke aku. Dia bersandar ke pintu mobil dan menghadapku — rok pendeknya sedikit terbuka ke arahku, walau gelap.
"Kak... o-kak... kakak awak yang cantik... orang itu lakik kakak-loh, kak... Kalok mau marah, marah sama ko Amek aja-lah... jangan ke awak... awak ini apalah... cuma remah-remah kuaci aja-nya awak, kan?" Aku paham dia maunya apa. Cuma mau curhat, kakak awak yang cantik ini. Bahkan sudah sering dia curhat padaku. Sampai-sampai istrikupun khawatir — karena seringnya, perselingkuhan itu dimulai dari curhat-curhatan begini.
"Dituduhnya wa yang mandul... udah sering kami periksa... sampek ke Penang bolak-balik... kuajak program bayi tabung gak mau dia... entah mungkin-pun dia yang mandul, gak tau wa... ntah-lah... payah cakap wa udah..." Cetusnya, membuang pandangan kembali ke luar jendela. Jadi kak Sandra dan ko Amek sudah hampir sembilan tahun menikah tapi belum dikaruniai anak. Orang kaya yang banyak duit itu ikhtiar-nya beda sama kita yang kere. Maenannya langsung dokter spesialis mahal, konsultasi ke yang paling top di luar negeri — tapi belum kesampaian juga. Dari curhat-curhatnya, kak Sandra bahkan sudah mencoba cara ekstrim: pejantan lain, alias lelaki bayaran. Tetap tidak berhasil. Dari situ mungkin dia sendiri yakin kalau dialah yang mandul — buktinya pria lain pun tak bisa menghamilinya.
Kulirik dia yang masih bersandar memandang ke luar jendela. Kakinya masih seperti tadi. Sorot lampu mobil yang berbelok dari persimpangan sekilas memberiku pemandangan isi roknya. "Kak... kaki dijaga-lah, kak... ada laki-laki normal di sini-loh, kak..." Kataku mengingatkan. Dia tidak peduli, tetap di posisi itu.
"Itu... belok situ..." Perintahnya, menunjuk arah tujuannya. Loh... itu kan hotel tempat Pipit menginap. Kuturuti, memasuki entrance hotel. Petugas di depan menurunkan koper kak Sandra dari bagasi, lalu aku mencari parkir kosong. Kususul dia ke lobby dan menemukannya menungguku dekat counter resepsionis, mengetik sesuatu di HP. Begitu melihatku mendekat, dia langsung berjalan ke lift. Aku mengekor.
"Gak pulang nih, kak?" Tanyaku di dalam lift. Ia sudah menekan tombol lantai enam. Lembut lift membawa kami naik hingga pintu terbuka. Kak Sandra hanya menggeleng diam, keluar tanpa banyak bicara. Room boy sudah membukakan pintu dan memasukkan koper ke kamar, diberi tip. Didorongnya aku masuk, lalu ditutupnya pintu.
"Kalo mau makan, pesan room service aja... wa mau mandi..." Katanya, tak memberiku kesempatan apapun. Beginilah kalau sudah sama kak Sandra. Dia memang suka menang sendiri. Walopun aku bawahannya secara struktural, itu kan di kerjaan — di luar, masa terus disamakan juga. Nasib-nasib. Ya udah, aku pasrah saja, memeriksa isi kulkas kamar dan mengambil minuman ringan. Kutarik satu kursi, duduk mepet ke jendela yang gordennya kubuka lebar. Pemandangan kota Medan malam terhampar. Kelap-kelip lampu tower provider di beberapa titik. Di kejauhan, kedip lampu pesawat yang akan mendarat. Siluet gedung-gedung menggambarkan malam yang sepi. Kamar hotel ini juga sepi.
Aku tak mungkin meninggalkan kak Sandra sendirian di sini. Entah apa yang akan dia lakukan. Kemungkinan besar: ke pub hotel, minum sampai tenggen, lalu dimanfaatkan pria-pria oportunis. Atau dia yang memanfaatkan mereka. Sama-sama berbahaya, dan tak bisa kubiarkan. Kuharap dia hanya butuh teman curhat seperti biasa, lalu aku pamit jam dua belas. Sekarang sudah jam sembilan malam... tiga jam cukuplah kurasa. Kan ada janjian dengan Pipit di hotel ini juga.
Ppt: bang Aseng sama siapa tu?
Aseng: sm bos ni, ppt. Liat dimana tadi?
Ppt: oooo bos cw y? ;p
Itu chatting singkatku dengan Pipit yang menunggu di kamarnya. Tepat saat aku naik tadi, dia melihatku berjalan bersama kak Sandra memasuki lift. Sudah dua kali dia memergokiku bersama perempuan lain. Aku tak perlu membela diri kali ini — karena aku memang tidak sedang melakukan apa-apa. Pipit hanya mau memberi tahu nomor kamarnya ternyata. Kuberi tahu aku akan sangat terlambat. Dia paham.
"Lu gak pesan makan?" Tiba-tiba kak Sandra sedang mengubek-ubek kopernya mencari sesuatu. Ia keluar hanya memakai piyama handuk hotel, rambut dibungkus handuk. Posisinya yang menunduk membuatku bisa melihat sebagian besar dada kirinya yang tak terbungkus bra dari lipatan piyama yang kendor. Samar kulihat pentilnya. Dikit aja, tapi.
"Udah kenyang awak, kak..." Jawabku, tetap duduk di kursiku dekat jendela.
"Kenyang liat tetek wa, lu?" Katanya menyadari apa yang kuliat dari tadi. Aku hanya tertawa, dan ia pun tak kunjung memperbaiki piyamanya. Tetap menunduk mencari sesuatu di koper, menghadap tepat ke arahku. Memanggil-manggil macan tidur si kakak cantik. Bergoyang-goyang kala mengaduk isi kopernya.
"Kenapa gak pulang ke rumah sih, kak?" Tanyaku. Mungkin beginilah dia bisa lebih terbuka.
"Ngapain wa pulang... rumahnya kosong gitu... paling juga sama bibik-bibik aja... trus wa ngobrol sama bibik gitu...?" Katanya, menemukan yang dicarinya — beberapa potong pakaian — lalu kembali ke kamar mandi. Tak lama dia keluar lagi. "Bagus wa ngobrol sama elu orang aja..."
"Kak... ngobrol itu ada kondisinya, kak... kakak enak ngobrol santai gitu... lah awak... tegang yang ada, kak... kakak pake bajunya kek gitu..." Kataku, jelas salah tingkah. Gimana tidak? Kak Sandra keluar dari kamar mandi masih dengan handuk membungkus rambut, cuma pake mini dress pendek longgar tanpa bra dan celana dalam saja. Tetek gondal-gandulnya bergoyang saat ia berjalan. Apalagi pentilnya ngecap jelas di bahan kain.
Sandra
"Biasa aja deh lu... wa juga gak bisa ngapa-ngapain... wa lagi palang merah... nih..." Santai saja dia malah mencondongkan pinggangnya ke depan — bagian yang tebal disumpal pembalut. Lah, kalau gak palang merah, mau ngapain juga?
Lalu dia naik ke ranjang, menarik selimut menutupi kakinya sampai pinggang, bersandar. Tetek gede dan pentilnya tetap mengganggu pandanganku. Hadeeh. "Eh, anak lu yang paling kecil dah gede dong?" Tanyanya santai. Cuek. Aku gak bisa cuek, kimak!
"Hampir sembilan bulan, kak..." Jawabku, mengantongi HP dan duduk bersandar di kursiku. Lumayan jauh jarak kami — sekitar sepuluh langkah di kamar yang cukup besar ini. Lumayan untuk mengurangi ketajaman resolusi mataku.
"Enak lu pada ya... buat anak kek kelinci... wa yang bertahun-tahun gak dikasih juga..." Kembali ia pada kalimat pembuka terkenalnya. Dia pernah bilang begitu juga pada seorang staff cewek yang baru sebulan menikah langsung hamil. Tapi karena dia memang ceplas-ceplos, tidak ada yang tersinggung dengan gaya bicaranya.
"Beda-beda rejeki, kak... kami dikasih cepat... kakak agak lama..." Jawabku standar.
"Wa suka palak liat anak muda yang buatnya disemak-semak eh jadi... wa yang buatnya mahal-mahal di Bahama... Hawaii... legal... gak jadi, bertahun-tahun... dibuang pulak di semak-semak... anji** gak tuh orang..." Kesal sekali kak Sandra pada berita-berita begitu. Engkau tak sendiri, kak. Dakupun demikian adanya.
"Lu tau gak tukang kusuk yang bisa ngusuk perut supaya peranakan wa kuat... ada yang kasih tau gitu waktu kemaren di Jakarta... apalagi lu kan kenal banyak orang pintar di sini..." Cerocosnya tak disangka-sangka. Kusuk peranakan itu bukan main-main. Hanya orang tertentu yang bisa — biasanya orang tua yang sudah tinggi jam terbangnya. Dalam hal orang pintar, aku pernah mengenalkan orang pintar yang 'menjinakkan' salah satu mesin produksi kami yang berulah dan nyaris memakan korban hingga harus diberi persembahan: seekor kerbau jantan dipotong, kepalanya ditanam di pondasi mesin untuk membuatnya adem, dagingnya dibagikan ke karyawan. Sejak itu tak ada masalah lagi. Semua itu harus dilakukan karena mesin itu vital dan investasinya besar.
"Ng? Nanti awak tanya bini awak-lah, kak... gak pernah pulak kami kusuk-kusuk kek gitu... kalo dukun patah tau awak, kak..." Kataku. Memang tak ada channel ke hal begituan.
"Dukun patah untuk apa? Nyambungin hati wa yang lagi patah ini? Hak hak hak hak..." Tawanya terbahak-bahak. Persis orang mabok kak Sandra kalau ketawa begitu. Matanya cipit, tinggal segaris, sementara teteknya berguncang-guncang. Sempat-sempatnya kulihat matanya — orang itu cuma tinggal tetek aja semuanya. "Kalo cuma dukun patah gampang nyari di Medan sini... udah betabur yang bikin spanduk patah tulang gitu..." Ingetnya pada beberapa aliran pengobatan patah tulang dari suku Karo yang terkenal di daerah ini.
"Siapa tau mau nyambungin burungnya ko Amek yang kakak patahin... kan bisa..." Sambungku mencoba menghiburnya. Makin pecah tertawa kak Sandra. Kami tertawa-tawa sepanjang malam. Turun-naik pembicaraan. Kadang sedih, serius, ngelucu, terus paok-paokan, ketawa-ketiwi, ngomongin pabrik, gosip murahan. Entahlah. Semua yang teringat kami obrolkan. Karena lapar, dia memesan makanan dan terus mengobrol sambil makan. Aku menemaninya sampai hampir tengah malam.
"Udah ya, kak... awak pulang... abis ini tidur aja yang nyenyak... jangan kelayapan... awak udah kasih foto kakak ke yang jaga pub itu... jangan dikasih masuk orang di foto ini..." Kataku memperingatkan. Aku pernah dibuatnya repot harus menggendongnya keluar dari pub setelah mabuk berat. Lakiknya entah ada di mana saat itu. Menjelang pagi aku pontang-panting mengejarnya ke sana.
"Kimbek-lah kao, Seng... itu-itu aja-pun yang kau ingat..." Katanya, rupanya malu, sambil memukul lenganku. "Iya... tidur-lah wa ini... besok da kerja lagi..." Katanya mengantarku sampai pintu, menutupi tubuh bagian bawahnya dengan selimut yang diseret-seret.
"Da-dah, kakak Sandra..." Kataku iseng melambaikan tangan.
"Da-da..." Balasnya sambil menggoyangkan teteknya ke kanan-kiri. Itu dada betulan. Boing-boing! Aku kabur menuju lift. Ia tertawa-tawa di balik pintu.
---
Pipit
Pipit mengintip dari pintu yang sedikit terbuka untuk melihat siapa yang mengetuk. Begitu melihatku, dibukanya lebar dan aku masuk. Kamar ini tidak sebesar kamar kak Sandra karena kamar regular. Pemandangan jendelanya hampir sama — ini di ketinggian lantai empat.
Disuguhinya aku sekaleng minuman ringan dan cemilan. Kami terdiam beberapa saat, duduk berhadapan di meja kecil. Suasana jadi agak canggung karena hanya ada kami berdua di kamar ini. Tadi siang walau juga cuma berdua di kafe, itu masih tempat umum — orang lain bisa masuk kapan saja. O-iya, jangan lupa si khodam itu masih memelototiku.
"Jadi..." Suaranya pelan sekali membuka omongan. Aku terkesiap, teringat kalau aku ada urusan di sini. Bukan karena ngantuk — aku hanya terbawa suasana tadi. Dari ketawa-ketiwi meriah, tiba-tiba sunyi senyap begini.
"Jadi-jadi, Pit... duh... sori... kaget awak jadinya... Pipit sih maen diam-diam... awak jadi diam-diam juga..." Aku malah jadi latah. Padahal aku gak latahan, kok. Gugup malah. Padahal aku kemari cuma mau menolong si khodam yang terbelenggu ini, kan? Bukan yang lain-lain. Bukan mau menghamili Pipit kek Aida dan Yuli. Bukan! Bukan itu.
"Pipit tadi gak... itu... foto-foto lagi, kan?" Tanyaku hati-hati, memilih kata-kata dengan hati-hati.
Ia tergelak dan langsung menutup mulutnya karena merasa lucu. Bisa kukira dia tidak memotret momenku berdua dengan kak Sandra sesaat sebelum masuk lift. Kalau iya-pun, pasti Pipit mau menghapusnya lagi seperti kejadian dengan Yuli kemaren.
"Gak loh, bang... gak Pipit foto tadi... tapi Pipit kaget loh, sampe dua kali nemuin abang di momen begitu... abang Aseng nakal, ya?" Katanya setelah selesai tertawa, meski masih senyum-senyum. Setidaknya kecanggungan kami lebih cair sekarang — dia bisa tertawa.
"Itu tadi bos awak di pabrik, Pit... baru balik dari Jakarta... mau diantar pulang gak mau... malah maunya belok ke hotel ini juga... awak temanilah ngobrol-ngobrol... curhat dia... banyak jugak masalahnya... mirip-mirip jugak sama Pipit sedikit..." Kataku, tak terlalu berharap dia percaya bongak-ku. Tapi dia manggut-manggut paham.
"Abang Aseng dah kayak konsultan gitu yah... banyak pasiennya..." Katanya malah menyimpulkan begitu. Kalau bisa disebut pasien, memang pasien-lah mereka semua. Awak cuma jadi tukang donornya. Yang periksa awak, yang ngobatin awak, yang jadi babak belur ya awak jugak. Ia tertawa kecil lagi sambil menutup mulutnya dengan manis. Binik orang ini memang-lah manis cantik gitu. Itu penyakitnya. Cemana gak jadi penyakit? Berduaan di kamar hotel dengan binik orang yang cantik — apa gak namanya carik penyakit, Seng?
"Jadi abang Aseng gak pake menyan-menyan gitu?" Tanya Pipit kepo, karena aku tidak membawa peralatan tempur apa-apa. Tangan kosong aja, alias mokondo.
"Iduplah nanti alarm kebakaran hotel ini kubuat kalok bakar menyan, Pit... gak-lah... mana ada aku pake menyan-menyan gitu... syirik itu... marah Tuhan, masuk neraka aku nanti..." Kataku memutar-mutar bola mata jenaka, mencoba mencairkan suasana yang makin akrab. Kembali ia tertawa, kali ini lebih lepas dan tak ditutup mulut. Tertawanya ternyata lucu — keras dan ngebass. Mantan laki apa ya cewek ini? Yang menarik perhatian malah dadanya yang sedikit berguncang kala bahunya naik tertawa.
"Tau gak kalo bahasa Padang-nya tertawa itu galak... jadi Pipit galak... Pipit tertawa..." Kataku dengan banyolan garing. Aku sendiri yang malah tertawa. Pipit tertawa karena mentertawakanku. Jadinya kami saling mentertawakan. Mentertawakan tragedi ini. Tragedi apa? Tragedi Aseng junior yang tak mendapat jatah malam ini karena harus berada di kamar hotel sambil menertawakan nasib ngenes ini. Yang seharusnya bisa enak-enakan di rumah Yuli, menikmati apem mlenuk paling juara se-gang. Aah... enaknya. Harusnya.
Kami berdua membersihkan sisa air mata yang keluar karena tertawa-tawa. Sisa tawa memudar, dan kurasa sudah waktunya untukku bekerja. Tugasku kali ini adalah membantu sang khodam lepas dari belenggunya. Entah apa yang menungguku di sana — tapi setidaknya aku sudah bersiap dengan segala kemungkinan. Yang baik, ataupun yang buruk sekalipun.
Episode 13 (Bagian 2/2)
Aku bangkit berdiri dan memberi isyarat pada Pipit agar tetap duduk, karena aku mendekat ke sisi kirinya. Tanganku teracung ke atas, menggapai sang khodam berwujud kakek-kakek itu. Jariku menyentuh ujung akar tebal yang membelenggunya — dan seketika aku tersedot masuk dengan cepat, terlempar ke dalam sebuah alam di dimensi lain. Sebuah teritorial milik seseorang. Daerah kekuasaan siapa gerangan ini?
Padang savana luas dengan rumput kering menguning coklat terbentang di hadapanku. Khodam itu masih kugenggam di bagian keningnya. Ia tetap melayang di udara, tapi kali ini aku bisa melihat kelanjutan akar tebal yang membelenggu tubuhnya — bagian awal yang sebelumnya tak terlihat. Ternyata akar itu adalah rangkaian raksasa yang menggurita di permukaan tanah savana. Akar-akar itu menopang sebuah pohon tak terlalu besar, tak jauh di belakangku. Sejenis beringin, dengan cakupan akar yang luar biasa luas. Tingginya baru sekitar dua meter, dan daunnya belum terlalu lebat seperti seharusnya.
Tunggu dulu. Beringin tak seharusnya tumbuh di tempat seperti ini. Biasanya ia hidup di tanah yang kaya air, bersama pohon-pohon lainnya. Padang savana ini pasti miskin air, hanya mengandalkan hujan yang langka. Ada dua kemungkinan: entah pohonnya yang salah pilih tempat tumbuh, atau tempatnya yang salah. Beda, lho artinya. Ini masalah dimensi. Pertama, pohon ini seharusnya tak ada di sini — yang bisa tumbuh di savana hanya jenis rumput dan semak tertentu. Kedua, lingkungannya yang berubah — atau dirubah — sehingga beringin ini tak bisa tumbuh semestinya. Bingung? Sama.
Setelah kuhampiri, ternyata pohon ini tumbuh cukup sehat dan kuat. Batangnya kokoh dengan kulit beralur tegas, cabang dan rantingnya berkembang wajar sesuai umurnya. Tingginya dua meter menandakan beringin ini masih muda. Yang tidak wajar justru akarnya. Bentuk liar menggurita seperti ini seharusnya dimiliki pohon berusia ratusan tahun. Menjalar jauh ke mana-mana. Apa untuk mencari air yang kurang?
Mencari, dan mencari... dan malah menangkap khodam kakek-kakek itu. Membelenggu dan menghisapnya! Apa khodam itu menjadi sumber makanan pengganti yang tak didapatnya dari lingkungan? Weit e minit.
Pohon ini adalah sentral dimensi ini. Ini pusatnya. "Eits!" kagetku. Aku mendapat kilasan statis memori ketika mencoba menyentuh batangnya. Kuulangi sentuhan itu. Aku bisa merasakan, bahkan melihatnya. Ini kumpulan memori seseorang yang kukenal. Ini memori Pipit!
Ternyata ini dimensi milik Pipit. Secara tak sadar ia telah menjadi seorang Menggala Suba karena memiliki khodam yang selalu mengikutinya. Semua yang pernah ia ceritakan padaku kini bisa kulihat jelas lewat ingatannya langsung. Dari masa kecil, remaja, hingga dewasa. Masa bermainnya, pacaran, kehilangan perawan, hamil, menikah, cerai, bertengkar, kabur, bekerja, menikah lagi, sakit — dan mendambakan anak. Bahkan aku bisa merasakan pedihnya.
Kutarik paksa tanganku untuk menghentikan banjir informasi dari memori Pipit. Rasanya seperti lendir lengket yang rekatan cukup kuat. Kakek khodam terikat di sana oleh akar besar, hanya berjarak lima meter dariku. Aku memeriksa pangkal akar besar itu, lalu menelusuri akar-akar lainnya — dan menemukan sesuatu yang mengejutkan. Akar itu juga membelenggu makhluk astral lain. Makhluk bertubuh besar, berbulu lebat, berkulit kemerahan, bermuka seram dengan beberapa taring menonjol — yang sering disebut genderuwo. Tubuhnya dibelenggu persis seperti kakek khodam. Ia hanya bisa melotot memandangku dengan ekspresi yang sama: minta tolong. Tubuhnya kini kurus kering. Ada apa ini?
Jaraknya sekitar 25 meter dariku, dan pohon beringin itu tumbuh di puncak gundukan tanah savana tertinggi — pusat dari seluruh dimensi ini. Dari sini aku bisa melihat beberapa makhluk lain yang juga dibelenggu. Ada sejenis kuntilanak kurus berwajah gosong, kera ceking berbulu merah, genderuwo kurus lainnya, dan kerangka manusia kerdil semacam tuyul yang kutenggarai sudah habis dihisap pohon beringin itu. Kuperiksa semuanya.
Kalau begini ceritanya, namanya nggak jelas nih. Aku belum pernah nemu kasus pelik kek gini. Diantara semua ini, mana satu sebenarnya makhluk media Suba milik Pipit? Aku jadi tak yakin lagi kalau kakek khodam itu adalah yang sebenarnya. Atau malah salah satu dari sekian banyak makhluk astral ini? Tapi yang mana? Kalau kutanya satu-satu, pasti mereka akan mengaku-aku. Makhluk seperti mereka tak bisa dan tak boleh dipercayai. Sesat jadinya.
Rencanaku membebaskan kakek khodam batal sudah. Dari sekian banyak makhluk astral yang memasuki dimensi ini, tujuannya cuma satu: menyerang Pipit. Mereka pasti suruhan dari beberapa individu yang bermaksud mencelakai Pipit. Bisa dari orang yang sama, beda orang, atau bahkan beda motif. Pusing nggak? Pusing-lah pala berbie.
Eh! Kok paok kali kao, Seng? Kan sudah jelas jawabannya! Pohon itulah media Suba Pipit yang sebenarnya. Ia menangkap semua penyerang gelap yang bermaksud mencelakai Pipit. Tak langsung dihancurkan, tapi dimanfaatkan menjadi energi. Karena semua makhluk astral ini berniat jahat, niat jahat mereka terkonversi menjadi penyakit yang terkumpul menjadi wujud kista — mengganggu peranakannya. Menghalanginya punya anak karena rahimnya terganggu. Dan karena pohon adalah makhluk vegetatif tanpa akal, ia hanya tahu itu energi gratis yang bisa dipakai — tak peduli baik atau jahat.
-----------------------------------------
"Pohon beringin pelindung Pipit di hadapanku... berikan saya sebuah pencerahan... informasi... Apa tujuan hidupmu?" tanyaku langsung pada sang pohon yang akarnya melindungi Pipit. Aku duduk bersila selama komunikasi ini. Tapak tanganku menempel di batang, dibatasi sehelai daun keladi sedang yang sengaja kubawa.
"Kau sudah datang... Cino?" jawabnya. Benar, kan? Pohon bersuara ngebass inilah yang menulis di cermin berembun itu. Bukan kakek khodam. Hanya karena kakek itulah yang paling dekat dengan Pipit, hanya dialah yang terlihat jelas. "Tujuanku hanya melindungi anak manusia ini dari banyaknya gangguan... Cino tahu anak manusia ini sangat bermasalah hidupnya... Setidaknya aku tak akan membiarkan mereka menambah masalah lagi..." Yang dia maksud "mereka" adalah makhluk-makhuk astral itu.
"Tapi karenanya malah Pipit mendapat penyakit akibat energi buruk mereka, bukan?" kataku membuka argumen.
"Setidaknya itu akan menjadi ujian buatnya... agar tetap menjauhi masalah..." Cerdas sekali jawabannya. Ternyata dia jauh dari kata vegetatif. Pikirannya malah visioner. Kalau di dunia nyata mungkin dia bisa jadi Komisaris BUMN. Halaah! "Mereka ini sudah terputus hubungannya dari pemiliknya karena jangkauan mereka terputus oleh air asin..."
Air asin? Oo... Rupanya ilmu dukun-dukun atau siapa-lah yang mengirim ilmu hitam ini terputus karena sang target sudah menyeberangi pulau. Pipit yang berasal dari Jawa dan menyeberang ke Sumatera sebenarnya sudah aman dari serangan ilmu hitam ini — karena ilmu itu ternyata masih cetek, tak bisa nyebrang pulau. Tapi para makhluk astral yang kadung terbelenggu beringin tetap terbawa sampai ke Medan sini. Begitu rupanya.
"Jadi selama ini yang membisikinya itu bukanlah kamu, pohon beringin?" tanyaku penasaran. Apakah salah satu dari makhluk astral ini?
"Benar sekali, Cino... Dia yang selalu membisiki anak manusia ini... Bisikannya terdengar baik tetapi sebenarnya menyesatkan... Waktu itu aku masih kecil dan tak sanggup membelenggunya... Yang pertama berhasil kutangkap adalah tuyul-tuyul kecil dan kuhisap habis sehingga kekuatanku bertambah... Dan akhirnya aku berhasil menangkapnya..." jelasnya sambil menunjuk si kakek khodam. Pasti seru sekali proses penangkapan semua makhluk astral pengganggu saat itu. Tapi pastinya saat itu terjadi pula guncangan-guncangan supranatural pada Pipit.
"Jadi apa yang bisa kubantu, pohon beringin? Sepertinya kamu sebenarnya bisa mengatasi ini semua..." tanyaku. Untuk inilah aku datang ke dimensi ini — daerah kekuasaan Pipit.
"Ada gangguan di dasar akarku... Kemungkinan besar di sanalah juga semua akar penyakit yang diderita anak manusia ini... Aku tak bisa menjangkaunya kecuali membahayakan diriku sendiri..." jelasnya gamblang. Di sana rupanya. Saat kutunduk, terasa hangat samar-samar dari bagian bawah pohon beringin ini.
"Akan kucoba... Permisi..." kataku lalu melepas koneksi komunikasi kami. Aku yang bersenjata daun empat penjuru angin bisa berkomunikasi dengan sesama tumbuhan. Salah satu kelebihanku yang telah menguasai jurus Gugur Glugur. Aku mengeluarkan salah satu bekal daun yang kubawa sebagai calon senjata. Sehelai daun kaku panjang berwarna hijau tua kekuningan dengan bintik-bintik bergaris — tanaman Lidah Mertua. Kutemukan ini di taman depan hotel. Secara bentuk, ini akan jadi pedang yang handal karena ketebalannya.
KROSAAKK!!
Kutusukkan pedang Selatan tebal itu ke dasar akar pohon beringin dengan penuh kehati-hatian agar tak melukai akar si pohon. Terasa menyentuh sesuatu yang lembek dan berair. Tembus tertusuk. Bau anyir segera menyeruak menusuk hidung. Seperti darah busuk dari bangkai yang sudah terpendam lama. Kutusuk lagi berulang-ulang membuat beberapa lubang agar seluruh isinya bisa keluar. Benar saja, tak lama lumeran cairan serupa darah kental menggelegak mendesak keluar dari dasar akar beringin. Pohon vegetatif itu terdiam saja. Ada getaran-getaran kecil yang sesungguhnya terjadi di sekitarku. Kuperhatikan terus aliran darah busuk itu. Baunya menusuk hidung. Tapi harus tahan. Swiisshhh!!
Blak! Tangkis dan lompat mundur menjauh.
Sebuah akar berukuran besar putus oleh tebasan bertahanku barusan.
"Kau..."
"Tidak perlu gusar begitu, Siluman... Aku ini bukan anak kemaren sore yang bisa kau tipu-tipu..." sahutku atas kegusaran beringin itu. Apa yang terjadi? Ini intrik yang sudah berumur setua bumi. Tipu daya. Menyaru sebagai kebaikan padahal sejatinya kejahatan.
Beringin itu mulai bergerak secara mencengangkan. Pernah liat pohon berjalan? Kek film Lords of the Ring? Di cerita itu pohonnya besar. Di sini ia kecil saja tapi akarnya luar biasa masif. Ia menarik semua akarnya yang menjalar tak menentu lalu menjulang tinggi serupa tiang listrik. Beberapa makhluk astral yang masih dibelenggunya tetap terbawa-bawa. Ia menyatukan akar-akarnya dengan saling belit menjadi sepasang kaki besar. Tubuhnya masih sebatang beringin kecil, tapi di selangkangannya akarnya masih menetes darah busuk bekas tusukanku.
"Nah... Gitu-lah... Maen terang-terangan aja kita..." kataku sambil mendongak. Padahal ngemop (gertak) aja-nya ini. Ini udah kek pertarungan Daud melawan Goliath kurasa. Awak seukuran manusia normal melawan siluman beringin setinggi lima meter.
"Bagaimana kau tahu aku ini siluman?" tanyanya masih gusar. Penyamaran bertahun-tahun terbongkar.
"Ah... geleng (mudah)-nya itu... Kalau kau jadi pohon... jadi pohonlah yang betol... Mana ada pohon bisa nulis-nulis di kaca... Kou kira paok kali aku, kan? Kau yang lebih paok lagi..." kataku mengulur waktu, memancing emosinya. Aku bergeser pelan-pelan ke kanan. Ia bergerak ke kiri. Bagus. Dia sudah melepaskan Pipit di dasar lubang berdarah busuk itu. Biar begitu saja dulu — sementara dia aman walau berlumuran darah gelap nan busuk. Tubuhnya tergolek lemah.
"Waktu kau jadi manusia... kau pasti bejad kali sampek kenak penyakit kotor itu, kan?" usikku. Tebasku, kalok nggak raja singa ya herpes. Yah! Dia marah. Pakek ngentak-ngentak kaki kek bocah gak dikasih beli balon. "Untung-lah kau milih jadi siluman... jadi gak ada perempuan yang ketularan kau..." tambahku memanas-manasin kompor mledug. Walau tertawa-tawa, pedang Selatan jelmaan daun Lidah Mertua tetap kugenggam erat, siap digunakan.
"UWAAARRRHHH!!!" Amuk siluman beringin itu mengangkat kakinya, terpancing emosi. Hentakan kakinya yang besar menghantam bumi dengan keras. Untung aku melompat sebelum hantaman terjadi. Selagi melompat, kucoba memapas kaki akarnya. BLAK! Keras kali, mak! Mungkin kalau pake pedang daun pisang Cloud Strife kemaren-pun belum tentu putus. Aku bergulingan menjauh dan ia mengejarku.
Berkali-kali kemudian ia menghujaniku dengan hentakan kaki lagi. Ia sepertinya bernafsu melumatkan tubuhku dengan gencetan kaki raksasanya. Aku hanya menjauh dan sesekali menangkis dengan pedang daun Lidah Mertua. Saat sudah cukup dalam jarak aman, kupanggil bantuan. Ini akan menyeimbangkan skor.
"Aku memanggilmu... Temanku Pandapotan Samuel Hutagalung anak Efraim Mangatas Hutagalung..." setelah sebelumnya mengerahkan Lini pemanggilan secukupnya. Memanggil bantuan sekaliber Kojek akan memakan banyak tenaga Lini.
"Yoo, lae? Kou panggil pulak aku tengah malam kek gini? Orang lagi enak-enak tidur..." gerutu teman seperjuanganku.
"Ah... Nanti aja-lah komplennya... Cak kou tengoklah itu... Lae-lah lawannya yang paling pas..." tunjukku pada siluman beringin setinggi lima meter yang kini menyadari lawannya bertambah satu. "Besar, kan?"
"U-WOW!... Siluman pohon beringin!... Langka kali lawan kek gini, Seng... Udah lama aku gak olah raga-ah... Pemanasan dulu kita, ya?" Ternyata Kojek cepat antusias melihat calon lawannya. "Gak kou panggil sekalian si Iyon? Biar kita rame-ramekan dia..." Ia membuka singlet putih yang jadi pakaian tidurnya tadi — tapi tidak dengan celana pendeknya. Kojek selalu membuka bajunya kalau sedang serius mau berkelahi. Badannya memang kurus ceking lagi hitam mengkilat, tapi soal tenaga dia selalu jadi andalan kami.
"Gak cukup tenagaku, Jek... Kalok kou mau... kao aja-lah yang manggil..." usulku. Aku harus menghemat tenaga. Sudah setengah kekuatanku terpakai. Harus hemat-hemat.
"Gak usahlah... Keknya dia masih kerja jam segini... Aku aja-pun dah cukup kurasa..." katanya. Kojek lalu menyiapkan jurus andalannya. Mengerahkan aliran lini ke satu titik di tubuhnya. Di punggung hitamnya muncul semacam tato timbul bergambar babi hutan dengan taring melengkung panjang. Kedua tangan Kojek meniru posisi taring itu. "HORTUK! (taring babi hutan) HEAAAAAHHHH!!" Tiba-tiba Kojek melesat maju dengan posisi menunduk. Kala berlari, kedua tangannya menggaruk tanah bak traktor. Tanah porak-poranda dengan cepat, dan garukan itu menghantam kaki kanan raksasa siluman beringin.
Tubuh siluman itu limbung karena kaki yang barusan dihantam Kojek patah dengan telak. Bak dihantam traktor gila. Suara berdebum membahana seolah pohon baru ditebang. Siluman beringin berusaha bangkit. Kojek meneriakkan nama "BABIAT BALEMUN" (harimau besar, ganas) — pertanda munculnya tato timbul bergambar harimau di sekujur tangan kanannya. Serta merta ia mencabik-cabik sisa kaki kanan siluman beringin. Terdengar auman Kojek kala melakukan kegilaannya. Kami tak pernah mau dekat-dekat kalau ia sudah mengeluarkan Babiat Balemun, karena ia seakan mengeluarkan semua amarah yang selalu dipendamnya. Bak harimau mengamuk, ia menghancurkan lawan dengan cakar tangannya. Habis berderai-derai kaki kanan lawan dibuatnya tanpa ampun. Serpihan kaki dari jalinan banyak akar berserakan.
Kaki kiri yang masih utuh mencoba membalas kegilaan Kojek. Ia hendak menggencet Kojek yang sangat dekat dengan tubuhnya. Tapi Kojek dengan mudah menghindarinya bak seekor monyet yang lincah. Ia malah melompat dan nemplok di tulang kering kiri siluman beringin, bermaksud mencabiknya juga. Tak pikir panjang, siluman beringin menghentakkan kakinya agar getarannya menjatuhkan lawan. Kojek terjatuh karena pegangannya terlepas akibat getaran yang pada skala manusia normal lebih mirip goncangan. Lawan jatuh, ia bermaksud menggencet Kojek yang mendarat di tanah.
BROOKKK!!
Suara rengkahan tanah terdengar sangat memilukan. Kojek ditindih kaki kirinya yang masih utuh. Tapi aku sempat mendengar Kojek mengucapkan "NABIRONG!" Birong itu bahasa Batak untuk hitam. Untuk apa dia mengumpat si-hitam? Kulitnya pun hitam jugak-nya?
Kaki kiri siluman beringin yang cukup besar itu kemudian membelah dua untuk menggantikan kaki kanannya yang sudah hancur. Kini siluman itu punya dua kaki lagi dan bisa berdiri tegak. Di bekas pijakannya tadi ada tubuh hitam Kojek yang sudah digencet. Tubuhnya utuh — tapi membuat lekukan indentasi persis bentuk tubuhnya di tanah keras. Perlu kalian ketahui, kala memakai jurus Nabirong ini tubuh Kojek akan keras seperti baja hitam. Satria baja hitam, dong? Hehehe... Siluman beringin yang tak menyadari ini mundur mencariku yang menjauh. Apa yang kulakukan? Malah membiarkan Kojek bertarung sendirian padahal ini urusanku, kan? Bukan, lae... Aku sengaja melakukan ini untuk menyelamatkan tujuan utamaku di daerah kekuasaan seseorang ini. Tentu saja: menyelamatkan Pipit.
Aku baru saja mengeluarkan tubuh Pipit dari genangan darah busuk di lubang bekas berkubangnya bersama beringin itu. Genangan itu berubah menjadi kecoklatan pekat. Baunya minta ampun busuk. Kuseret ia sejauh mungkin dari lubang terkutuk di titik tertinggi daerah ini. Dengan begini, Pipit sepenuhnya sembuh dari penyakit yang dideritanya akibat akumulasi berbagai energi negatif — ulah si siluman beringin yang memerangkap banyak makhluk astral dari golongan hitam.
Sepasang kaki siluman beringin kini lebih ramping karena sebenarnya satu kaki yang dibagi dua. Tapi hasilnya ia bisa berlari kencang menyusulku. "NABALGA!" Siluman itu terhenti di tengah pengejaran karena ditahan sesuatu. Sepasang tangan besar menahan kedua kakinya yang sangat besar dan berbahaya itu. Tangan besar? Balga itu bahasa Batak untuk besar. Sudah selesai. Siluman beringin itu sudah selesai. Kojek membesarkan tubuhnya bahkan lebih besar dari si siluman yang setinggi lima meter. Tubuh jangkung kurusnya kini sudah setinggi delapan meteran. Dipatah-patahkannya kedua kaki siluman yang terbuat dari jalinan akar beringin seperti mematahkan ranting tak berarti saja. Menyisakan tubuh berupa batang beringin kecil setinggi dua meter.
"PARBEGU!"
Ini dia puncak kekuatan Kojek. Tapi untuk apa ia melakukan itu? Siluman itu pastinya tak bisa berkutik lagi. Kojek pasti sudah gatal kembali menggunakan ini kala menemukan lawan yang tepat. Tapi tepatkah? Bukannya siluman itu sudah tak berdaya? Jangan lupa, siluman beringin itu masih membelengu beberapa makhluk astral sebagai sumber energinya. Ternyata untuk itu Kojek menggunakan Parbegu. Begu adalah bahasa Batak untuk setan atau hantu. Kojek jadi hantu? Lebih mengerikan dari itu. Dia jadi pemakan hantu!
Wajah Kojek yang seram kek gembong preman penguasa jalan Sekip jadi lebih seram dari sebelumnya. Matanya merah, kulit hitamnya memerah, muncul taring panjang di keempat sudut mulutnya. Mulutnya kemudian terbuka lebar dengan mencengangkan. Lebar tak wajar! Ia melakukan gerakan menghisap. Menghisap semua lawan yang ada di depannya. Yang pertama ditelannya adalah semua makhluk astral yang dibelenggu siluman beringin dengan akarnya, kemudian menyusul beringin itu sendiri. Kakek tua, genderuwo, kuntilanak, siluman monyet, pocong — semuanya disedot abis. Lalu Kojek, dengan jenaka tak pantas yang mengerikan, sendawa. "ERRGGHH!!"
Temanku itu kembali ke wujud semulanya — pria kurus jangkung berkulit hitam dengan rambut kriwil nanggung. Dia cengengesan mengusap-usap perutnya yang katanya kenyang setelah jurus mengerikan itu.
"Kurang andaliman (bumbu khas suku Tapanuli) tadi kek-nya..." jenaka temanku ini masih mengusap perutnya yang kerempeng. Mulutnya berdecap-decap.
"Ah... Gak ada kenyang-kenyangnya kao... Gak-lah bisa gemuk jugak kao, Jek, makan banyak-pun... Ntah udah hapa-hapa aja yang udah kao makan selama ini... Gelik pulak aku dekat sama kao... Kao jilat pulak nanti aku... Hi-ih..." geli aku membayangkan harus memakan makhluk-makhluk astral kek tadi. Tapi itu pulak ilmu yang dikuasai temanku ini. Apa mau kubilang?
"Ah... Karna cewek-nya pulak rupanya..." pungkas Kojek setelah melihat sosok Pipit yang berangsur-angsur membaik tubuh spiritualnya. Sisa darah busuk tadi tinggal sedikit di tubuhnya. "Tapi cantik pulak... Dapat aja ya kao...?" lanjutnya setelah lebih dekat. "Tau-nya si boru Jawa orang rumah (binik)-mu?" tanyanya perihal istriku. Tentunya Kojek kenal betul dengannya.
"Hmm... Gak-lah, Jek... Ini kerjaan sampinganku-nya... Jangan ember kao, ya, kalo jumpa binik-ku... Rahasia top secret ini..." kataku membersihkan sisa-sisa darah kotor di bagian betis Pipit. Pipit selama ini dalam keadaan tidak tahu apa-apa karena sisi spiritualnya tak memiliki pengalaman — ia menjadi Menggala Suba yang memiliki daerah kekuasaan berupa padang savana ini secara tidak sengaja. Entah bagaimana statusnya nanti setelah siluman beringin yang memanfaatkannya selama ini sudah ditelan Kojek. Secara teori, media Menggala Suba-nya telah musnah. Berhenti menjadi Menggala?
"WANI PIRO?" tereak Kojek malah memerasku. Gak pantas kali kao ngomong Jawa, kimak!
"Kimbek kao, ya!" makiku — yang dibalas dengannya tertawa-tawa kek orang nyedot kecubung satu ladang.
-----------------------------------------
"Apa tadi itu, bang?" tanya Pipit yang kebingungan. Tentu saja ia bisa melihat semua kejadian ganjil barusan di padang savana yang merupakan daerah kekuasaannya. Ia bisa melihat, tapi tak bisa melakukan apa-apa. Itu hal wajar bagi Menggala Suba pemula. Seiring waktu akan semakin menguasai.
"Gak usah dipikirin, Pit... Lupain aja... Yang penting... Pipit udah sembuh... Dah itu yang penting..." kataku mencoba meyakinkannya. Diliriknya jam tangan mungil di pergelangan tangan kirinya. Waktu tidak berubah sama sekali. Masih sama persis seperti aku memulai tadi.
"Tapi Pipit harus tau, bang... Apa yang terjadi pada Pipit sebenarnya..." desaknya penasaran.
Aku menarik nafas panjang dulu. "Kalo mau diceritain rumit, Pit... Itu tadi alam spiritual... Jangan ditanya lebih jauh... Cukup segitu aja... karena Pipit gak bakal balik kesana lagi... Penyakit yang Pipit derita adalah akumulasi dari tipu daya golongan jin dan manusia... Entah kapan masuknya satu siluman yang berpura-pura menjadi pelindung untuk menjalankan rencana jangka panjangnya... Pipit yang punya banyak masalah dengan orang... mengundang begitu banyak kekuatan jahat yang menyerang... Siluman penipu tadi menangkap semua penyerang itu untuk kepentingannya sendiri... Seperti yang awak bilang tadi... semuanya malah berakumulasi menjadi penyakit yang Pipit alami... Intinya... Mereka-mereka itu tidak bisa dipercaya... Selalu ada agenda tersembunyi dibalik kebaikan yang mereka tunjukkan..." jelasku panjang lebar.
Keningnya berkerut-kerut mencoba memahami dan mencerna penjelasanku. Tentu saja tadi itu semua garis besar saja, tapi karena Pipit yang menjalaninya, pasti ia lebih paham. Lalu ia menanyakan beberapa hal — apakah ada orang yang mengirim semacam guna-guna, sihir, santet dan semacamnya. Kujawab: banyak. Buktinya ada banyak makhluk astral yang tertangkap siluman beringin di perangkap akarnya. Tapi tak perlu kuberitau siapa-siapa saja. Tentu akan ada balasan tersendiri bagi pelakunya.
"Trus... Mm... Gini... Pipit malu nyeritainnya... Jadi... ini yang terakhir mau Pipit tanya... Kenapa Pipit sering mimpi... ML sama bang Aseng, ya?" tanya Pipit shy-shy cat. GUBRAK!