EPISODE 02
Episode 3 — Tawaran
Pusing kepalaku memikirkan tawaran menggiurkan dari Aida kala itu. Sangat menggiurkan, sekali lagi, sangat menggiurkan. Aida itu bodinya memang aduhai betul. Tingginya sekitar sebahuku, rambut pendek seleher memamerkan keindahan kulitnya yang putih mulus. Tubuhnya tak terlalu montok, dadanya terlihat sekali dengan bokong yang pas dipandang — apalagi kalau digenggam.
Tawaran untuk menghamilinya jelas mengubah semua imej yang selama ini mengisi pikiranku menjadi bayangan dirinya yang telanjang bulat, mendesah-desah menerima genjotanku. Wah... indah sekali bayangannya. Air liurku beberapa kali kuseka dengan punggung tangan.
Aku bukannya orang suci-suci amat. Sudah lama kutinggalkan dunia semacam ini. Kalau bisa dibilang, setelah berkeluarga dan punya anak, inilah masa tobatku. Tobat dari segala macam kubangan seperti itu. Masa aku harus nyebur lagi hanya karena satu tawaran dari perempuan bernama Aida. Aida si bahenol. Putih dan menggairahkan...
Kan? Bayangan perempuan itu lagi yang nangkring di otakku. Bayangan ia berbaring dengan pasrah, kaki terbuka lebar, mempersilahkanku masuk dan menghamilinya.
Apa semudah itu menghamilinya? Dengan istriku memang sangat mudah. Terlalu mudah malah. Bayangkan saja, saat di pelaminan dulu ia sedang menstruasi sehingga aku uring-uringan di malam pertama karena tak bisa nyoblos. Begitu bisa, eh, dia langsung tekadang anak pertamaku. Mungkinkah semudah itu dengan Aida nanti, kalau aku setuju mengambil tawarannya?
Kenapa lakinya tak pernah berhasil menghamilinya? Mereka berdua sudah konsultasi ke dokter dan dua-duanya tak ada masalah sebenarnya. Lalu masalah muncul ketika Agus mendapat promosi dan mulai gemuk karena taraf ekonominya naik. Agus jadi doyan makan. Hubungan intim mereka mungkin sedikit terganggu.
Okelah, seandainya Aida tak hamil-hamil juga olehku, kan itungannya kami berdua sudah selingkuh. Gimana kalau dia baper? Gimana kalau dia macam-macam dan ember? Bodo amat dengan keluarganya. Lah, gimana dengan keluargaku? Aku sudah cukup nyaman dengan keadaanku sekarang. Keluarga yang bahagia, aman, tentram. Masa aku harus mempertaruhkan semuanya hanya karena satu perempuan itu? Lagipula aku tak merasa kurang dengan istriku. Ia melayaniku dengan baik di segala bidang — mengurus rumah, anak, sampai ranjang, semuanya lengkap, tak ada yang kurang. Lalu kenapa aku harus merusaknya dengan perempuan lain?
"Bang Aseng... jadi, bang?" tanya Aida lagi ketika kami berjumpa sore itu. Padahal aku sudah sengaja menghindari melewati rumahnya. Tapi perempuan ini gigih amat, sampai bela-belain mencariku dan Salwa yang sedang berjalan-jalan di gang sebelah. Di depan sebidang tanah kosong yang hanya ditanami pohon-pohon pisang kami bertemu. Aku tak mungkin menghindar lagi.
"Eh... Aida... gimana ya?" jawabku bingung. Padahal aku sudah memutuskan untuk menolak. Tapi begitu bertemu orangnya, casing-nya yang bagus begini malah menggoyahkan imanku. Apalagi imanku memang lemah. Wajah cantiknya membuat si Aseng junior-ku cenut-cenut pengen test drive. Tanpa sempat kutolak, Salwa sudah berpindah tangan ke pelukannya.
"Mau-lah, bang Aseng..." pintanya lagi dengan muka memelas. Duh, aku jadi membayangkan wajahnya bagaimana kalau sedang digenjot keenakan.
"Aku gak sampe ati, Da..." jawabku coba-coba. "Aku kenal sama lakikmu. Itu kan namanya udah selingkuh. Gak bisa-lah aku, Da..." tolakku sehalus mungkin.
"Tolonglah, bang... aku udah pengen kali punya anak, bang..." rengeknya. Tubuhnya menunduk-nunduk, lalu ia menciumi rambut Salwa.
"Tapi gak kek gini caranya, Aida. Apa kata orang kalau ketahuan? Rusak kita semua..." tolakku terus.
"Si Agus udah gak akan mungkin bisa, bang Aseng. Kami udah nanya ke orang pintar... katanya dia udah diobatin orang yang gak senang dia jadi superpaisor. Dibuat orang itu gak bisa punya anak, bang..." jelas Aida panjang lebar.
"Hah? Didukunin orang lakikmu?" kagetku.
"Iya, bang..." jawabnya. Ada titik air mata di sudut matanya.
"Kesitu dulu kita..." ajakku ke tengah lahan kosong itu. Di tengahnya ada gubuk kecil yang kerap dipakai bermain judi di malam hari. Aida duduk memangku Salwa dan aku duduk tak jauh darinya. Di sini aku bisa bicara dengan aman, tak terganggu orang lalu-lalang yang suka memperhatikan.
"Cemana ceritanya? Kok bisa kelen nanya ke dukun? Bukannya ke dokter?" tanyaku, kepo tentu saja.
"Udah capek kami ke dokter, bang. Sekali konsultasi dua ratus ribu, sampek lima ratus ribu pun pernah..." jawabnya. "Kami coba-coba-lah ke orang pintar. Taunya betul, bang. Si Agus dibuat orang biar gak bisa punya anak. Didoainlah kami sama orang pintar itu... tapi gak sembuh juga. Kami cari orang pintar lain... kek gitu juga, bang..." jelasnya lebar-lebar.
Agus didukun orang? Memang aura pria itu tak sehat. Seperti ada sesuatu yang terus mengikutinya. Aku sudah lama menyadarinya — sekitar enam, tujuh bulan ini — saat kami bertemu di gotong royong lingkungan. Tapi tak kusangka itu guna-guna atau sejenisnya. Kalau sudah begini biasanya, bisa menjalar ke mana-mana.
"Waktu ke orang pintar itu... apa katanya?" tanyaku untuk memastikan.
"Biasalah, bang. Udah sembuh katanya. Udah dibuang katanya. Buktinya gak berhasil juga..." jelasnya, lebih rileks sekarang. Ia mengelus-elus lengan Salwa.
"Jadi sebetulnya kalian aslinya gak ada masalah, kan?" tanyaku lagi, berharap dia paham maksud pertanyaanku.
"Sekarang iya... sekarang jadi loyo Agus, bang. Sebentar aja dah keluar. Mana dikit... encer lagi..." katanya tanpa malu. Ini aib suaminya, masa diumbar ke lelaki lain. Setelah itu ia tersadar dan menunduk, menutup mulutnya dengan tangan. Ini malah menjelek-jelekkan lakinya sendiri.
"Yaah... begitulah..." kataku, lalu melirik dadanya yang disandari kepala Salwa.
Kalau kulihat-lihat, sebenarnya mudah saja menyingkirkan guna-guna yang melekat pada mereka berdua ini. Kenapa kukatakan mereka berdua? Karena dukun itu menyerang dengan guna-guna yang sepaket dan berdasarkan keadaan. Sepaket artinya menempel pada suami dan istri — berarti ada di Agus dan di Aida. Sesuatu yang mengikuti Agus itu juga ada lemah di diri Aida. Mengenai keadaan, guna-guna ini hanya bekerja saat mereka sedang bersenggama. Jadi sesering apa pun mereka berhubungan dalam pernikahan, guna-guna dengan kekuatan jahatnya menghalangi mereka menghasilkan keturunan. Mungkin inilah yang kurang dipahami para dukun yang mencoba menyembuhkan mereka. Pikiran picik mereka tak menyadari kalau lawannya berpikir lebih panjang dan penuh perhitungan. Alhasil, guna-guna ini sulit dibasmi tuntas. Dukun mengira guna-guna itu sudah dibuang, tak tahu kalau ia bisa kembali begitu mereka berhubungan suami-istri lagi. Kasarnya: si jin, media guna-guna ini, memakan semua sperma milik Agus!
"Jadi... gimana, bang? Aku udah gak tau lagi harus bagaimana. Aku gak mau anak dari laki-laki lain, loh... cuma dari abang Aseng aja..." katanya, mengulang tawaran menggiurkan itu.
"Apa lakikmu tau?" tanyaku paok-paok bodoh. Bego malah.
"Ya enggak-lah, bang! Cari mati namanya itu..." jawabnya manyun sampai bibirnya maju-maju. Pengen rasanya menggigit bibir itu. "Ish..." pekiknya kecil, menghindar karena aku hampir mencubit bibirnya karena gemes. Mencubit dengan lima jari, mencomot mungkin lebih tepatnya.
"Abang getek... maen cubit-cubit..." rajuknya sambil memeluk erat Salwa.
"Yah... dicubit dikit aja gak boleh. Gimana mau masuk?" kataku. Ups! Mampus, muncungku. Betulan getek pulak.
"Betul, bang? Kalok betul kukasih-pun semua, bang..." mukanya berseri-seri mendengar kalimatku tadi. Ia memegangi dada kirinya, sedikit meremas.
"Gak, Da... maen-maennya aku..." tolakku kaget. Kenapa ia menanggapi begitu? Udah kepengen betul-lah betina satu ini.
"Betol loh aku, bang. Gak maen-maen, bang. Tengok-lah ini..." Tanpa ragu ia mengangkat sebelah kaosnya dan menampakkan sebelah dadanya yang masih terbungkus bra biru langit.
Glek!
Bulat nian sebelah dada itu! Putih, padat, dan kelihatannya empuk sekali. Tidak-tidak! Cepat-cepat kubuang pandangan, beralih dari dada Aida ke rumpun pisang kepok yang tinggi-tinggi berdaun lebar.
Indah sekali tetapi. "Tengoklah ini, bang..." lirih bisik Aida lagi. Aarrhh... puting itu! Puting indah berwarna coklat muda, mencuat keras. Walau hanya sekilas, ternyata Aida berani mengeluarkan sebelah toketnya dari cup branya. Waaah... bahaya nih!
"Salwa pun mau, bang..." tambahnya lagi. Dengan sangat kurang ajar, Aida menjejalkan teteknya ke mulut Salwa. Anak bayi itu mangap-mangap saja, gak tau papanya lagi panas dingin dikasih tontonan begini. Salwa maen sedot aja, padahal pasti tak akan ada susu yang keluar dari sana. "Geli, bang... lidah Salwa kasar... lidah papanya pasti lebih enak, nih..." goda Aida terus.
Mati aku! Aseng junior udah menggeliat dari tadi dan selangkanganku terasa hangat.
"Da... Aida! Jangan gitulah... gak tahan aku, Da..." kataku dengan suara serak, menggeleng-geleng tak tahan beneran ini.
"Bang Aseng... liat ini, bang... enak, bang..." desahnya sambil meremas payudaranya yang sedang diunyel-unyel Salwa yang berharap mendapat ASI dari sana. Tak cukup, Aida juga mengeluarkan sebelah teteknya yang lain. Kaosnya sudah bergulung di bawah leher. Sepasang payudaranya kini menjadi tontonan segar sore yang terasa sangat gerah bagiku dan si Aseng junior. Tanganku gatal ingin menjamah dan meremas-remas dua buah gunung indah itu.
Nyamuk-nyamuk di kebun pisang bak jadi malaikat penolong bagiku. Gigitannya sukses membuat Salwa menangis — tangan dan kakinya bentol merah. "Duh, Salwa... cayank... gigit nyamuk, ya?" Aida sadar melihat tangisan Salwa, gigitan nyamuk membuat tangan dan kaki mungilnya gatal.
Masih dengan napas memburu, kusambar Salwa dari dekapan Aida dan beranjak menjauh. Pulang.
"Bang Aseng... tadi kenak, loh..." kata Aida mengingatkanku — saat kukarungi Salwa darinya, kedua tanganku sempat, tanpa sengaja, menyenggol kedua benda kenyal yang tumbuh indah di dadanya itu. Sebelum sempat aku balik kanan, ia meremas kedua dadanya... dan aku kabur dari kebun pisang laknat itu. Setan-setan kurang ajar di sana jejingkrakan girang melihat kejadian barusan.
Sampai rumah aku kena semprot omelan istriku karena tangan dan kaki Salwa bentol-bentol — kebanyakan maen di kebun katanya. Aish! Kalaulah istriku tau sama siapa aku di kebun tadi?