EPISODE 03
Nyot! Nyot!
Dua benda kenyal itu sukses membuat jantungku berdegup liar. Teror Aida terus berlanjut. Ia memanfaatkan kebiasaannya meminta Salwa untuk kugendong. Orang-orang satu gang sepertinya sudah maklum dengan kebiasaannya itu dan menganggapnya biasa — apalagi ia tidak sendirian di kerumunan kecil ibu-ibu yang kumpul minum jamu dari pedagang keliling saat aku dengan agenda rutinku mengajak Salwa jalan-jalan keliling gang.
Kembali ke 'Nyot! Nyot!' tadi. Saat mengoper Salwa ke Aida, ia dengan sengaja menempelkan kedua gundukan payudaranya pada lenganku. Kejadian itu berlangsung begitu cepat karena posisi kami memang rapat demi keamanan proses serah terima si bayi. Betina satu itu tersenyum lebar dan aku asli salah tingkah.
Salah tingkah karena merasakan kenyal nan empuk itu menekan lenganku walau cuma sekejap. Seolah mengirim sinyal, 'Ini loh yang akan abang dapatkan kalau menerima tawaranku — bahkan lebih hebat lagi, berkali-kali lipat.'
Aku sudah melihat isi bra yang ia kenakan, tahu betapa bulatnya sepasang gunung itu, tahu warna puting susunya, bahkan hafal di mana letak tai lalat di bawah payudara kanannya yang berjumlah dua biji berdekatan. Secara detail, aku hapal semuanya!
"Makanya, Da... biar cepat punya anak... taunya gendong Salwa terus, huh..." ledek salah satu ibu yang lumayan rumpi di gang ini.
"Maunya loh, kak... tau belum dikasih-kasih nih..." jawabnya sambil melirikku sebentar. Sindiran halus. Memang belum dikasih anak sama Tuhan — tapi sebenarnya juga belum dikasih enak sama aku.
"Iya, cuma goyang-goyang aja masak nggak bisa, sih?" sambung ibu lain yang cukup vulgar. Kalau sesama ibu-ibu saja, mungkin omongan mereka lebih parah dari ini. Mereka tertawa riuh mendengar guyonan itu. Termasuk nenek penjual jamu.
"Ih... udah jungkir-balik aku, buk... nggak dikasih juga... padahal dah pengen kali aku punya anak kayak si Salwa ini..." jawab Aida lagi sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya membuai Salwa, membelakangiku. Yang kulirik malah goyangannya. Mampus!
"Nih, nduk, jamumu..." kata sang nenek penjual jamu sambil mengangsurkan gelas berisi cairan entah jamu apa.
Aida buru-buru mengembalikan Salwa padaku. Ia sedikit menunduk, dan hasilnya aku dapat menyaksikan sedikit belahan dadanya dari kerah rendah berkancing terbuka pada daster batiknya. Yang sudah kulihat jelas kemarin. Me-refresh memoriku akan keindahan kedua gunungan itu. Dan satu sentuhan pamungkas — ahh... tangannya yang tiba-tiba dengan nakal mengelus Aseng junior yang terstimulasi oleh pemandangan barusan. Semuanya berlangsung cepat.
Seolah semua itu terjadi alami dan ia tidak menunjukkan perubahan raut wajah sedikit pun, ia menerima gelas jamu itu lalu meminumnya. Lanjut ke obrolan para emak-emak. Aku cepat-cepat melipir menjauh untuk menenangkan Aseng junior yang berontak.
---
"Pah... titip Salwa bentar ya... Mama mau beli telor di grosir depan..." kata istriku yang sudah memegang kunci kontak motor. Anak sulungku memang doyannya makan nasi pakai telor. Bisa diceplok atau dadar, pokoknya telor.
"Ya... hati-hati..." jawabku singkat. Rio langsung nangkring di jok depan, ikut mamanya belanja. Pasti minta jajanan lagi. Salwa hanya bengong menatap mamanya menyetarter motor dan dadah-dadah ke arahnya. Salwa duduk manis di baby walker beroda dan aku mengawasinya sambil main game di HP di teras rumah yang berhadapan dengan halaman luas kami. Selayaknya kawasan pinggiran kota, rumah di sini jarang berpagar — seperti rumah tinggalku ini.
Lagi asyik-asyiknya main HP, terdengar suara perempuan itu lagi, dan begitu kutoleh, ia sudah berjongkok di depan Salwa. Entah dari mana datangnya. "Salwaaa... ketemu lagi..." katanya dengan nada ceria seperti biasa. Ia membuat wajah-wajah lucu untuk sekadar menarik perhatian Salwa.
Tapi bukan wajah lucunya yang membuatku melotot menatapnya — melainkan posisi jongkoknya itu. Ampun, mak!
Sekali dua kali ia melirik padaku dan mengangkat alis kirinya, memberi kode. Dari posisi jongkoknya, aku bisa melihat semua isi bagian dalam rok daster itu. Paha putih mulusnya yang padat mengangkang lebar, hingga aku bisa melihat permukaan celana dalam berwarna kremnya yang tebal dan tembem abis. Bahannya cukup tipis, hingga sinar matahari sore menerangi pemandangan spektakuler itu dengan begitu jelas. Ingin kubernyanyi, "Di sana... tempat lahir beta..." dengan suara nge-bass, nyeruduk-nyeruduk nyungsep di situ kalau tidak ingat-ingat dulu.
Sambil terus bercengkrama dengan Salwa, Aida beberapa kali sengaja menggaruk pahanya hingga ujung rok dasternya semakin bergulung naik. Makin mendidih kepalaku melihat atraksi itu. Aku makin tak konsen mengendalikan game racing di HP. Mataku berpindah-pindah channel dari layar HP ke CD Aida. Halah!
"Bang Aseng? Pin BBM-nya berapa?" tanya Aida, seolah mengerti kegelisahanku. (Kejadian ini sudah lama, beberapa tahun silam, ya. Jadi masih zaman mainan BBM.) Ia merogoh ke dalam dadanya dan mengeluarkan sebuah HP. Tiba-tiba aku berharap bisa bertukar tubuh dengan HP bereda banyak tombol itu.
"Aa..." aku terbengong beberapa saat. Lama mencerna maksudnya karena pikiranku masih fokus pada segitiga: sempak, belahan dada, dan HP!
"Pin-nya, bang? Biar gampang kita komunikasinya... liatin apa, sih?" ulang Aida, terus memamerkan aset yang ia tawarkan dari bukaan kerah dasternya. Ia tersenyum simpul atas hasil jeratannya. Kenapa si Agus kimak itu nggak bisa membuntingin betina satu ini, sampai aku yang kena getahnya begini. Kimak-kimak!
Kusebutkan pin BBM-ku dan langsung dapat ping darinya. Kusimpan kontak Aida dengan nama 'Aida tetangga'. Selesai urusan HP, dan pemandangan itu kembali tersaji dengan kurang ajar di depan mataku. Ia membetulkan posisi kakinya sambil terus bermain dengan Salwa. BAJINGAAAN!
Terjadi kerutan di bahan katun lembut CD itu saat kakinya mengatup — memperlihatkan belahan isi sempaknya — lalu mengetat kembali ketika kakinya membuka lebar. Kalau HP jaman itu sudah secanggih kamera sekarang, pasti sudah kuzoom perbesar maksimal, andzink!
Aida tersenyum-senyum penuh kemenangan, berhasilnya ia menggodaku dengan aset-asetnya. Ia sama sekali tak melihatku saat mengerjaiku. Seolah ia hanya fokus bermain dengan Salwa dan tak sengaja melakukan semua ini. Diciumnya berulang-ulang pipi dan bibir Salwa. Dan siksaan berikutnya datang menghempas.
Tangan kirinya yang berada di sisi luar gang menelusup masuk — masuk ke dalam CD-nya — dan melakukan gerakan garukan yang erotis. BUJANGK! PUKIMAK!
Tonjolan jari-jemarinya tampak bergerak perlahan, menggaruk belahan isi surga dunia itu. Dari posisinya, bergantian jari telunjuk dan tengahnya bergerak ritmis. Aida tampak menggigit bibir bawahnya sambil terus bercanda dengan Salwa.
Aku ternganga tentunya. Pemandangan ini terlalu erotis untuk mataku yang tiba-tiba terasa kering. Gawat! Jangan sampai mata minusku kambuh gara-gara ini. Dulu waktu SMP aku sempat berkaca mata minus dan baru sembuh waktu SMA.
"Ahhss..." desahnya, lalu mengeluarkan jarinya dari dalam CD. Ujung kedua jarinya melata perlahan, seumpama slow motion — dari paha, perut, dada, leher, dan berakhir di depan hidungnya. Dihirupnya aroma bekas garukannya tadi. "Uhmm..." dengan penuh perasaan, lalu dimasukkan ke dalam mulut. Dicecapnya dengan lidah. Sekali seksi. Semua dengan mata terpejam. Lalu ia membuka matanya yang berbinar-binar bahagia.
Ingin rasanya aku melompat dan menerkamnya. Melakukan apa yang ada di kepalaku saat itu juga. Hanya aktifitas di jalanan gang itulah yang membuatku tetap waras dan urung melakukannya. Mataku belum segelap itu.
Aida lalu mengangkat Salwa dari baby walker. Kedua tangannya masuk di kedua ketiak Salwa, dan keempat pasang jarinya menahan kepala bagian belakang bayiku agar tidak terdongak ke belakang. Ah... Aida makin pintar menggendong bayi sekarang. Kayaknya sudah cukup pantas untuk punya bayi sendi...ri. Apa? Ku-enyahkan pikiran itu. Setidaknya kucoba.
Tanpa dinyana, ternyata perempuan itu sudah ada di depanku. Diserahkannya Salwa padaku. Ada yang basah-basah. "Salwa ngompol, tuh... gantiin celananya... hihihi..." gelak Aida lucu. Pantesan ia menggendong Salwa seperti itu — tidak menempel ke tubuhnya seperti biasa. Rupanya bayiku pipis.
"Humph..." aroma ini? Dua jari kiri Aida menempel di bawah hidungku. Sontak aroma semerbak yang sedap-sedap menyeruak masuk ke rongga hidungku dan langsung disambar kelenjar pembau di belakang mataku. Hinggap, lalu diproses oleh otakku sebagai: bau vagina segar!
"Hihihiii... enak, bang Aseng... gatel tadi... pengen digaruk... Bang Aseng nggak pengen ikut ngegaruk?" godaan setan ini semakin luar biasa binal. Ia mengemut dua jarinya itu dan membuat gestur binal seperti kucing. Aku hanya geleng-geleng kepala.
Jakunku naik-turun berulang kali karena meneguk ludah berkali-kali — aku kehausan. Haus akan hal-hal enak. Mama Salwa pulang nanti akan langsung kugas sebagai pelampiasan. Aku langsung permisi masuk untuk mengganti celana Salwa yang basah. Aida melirik-lirik ke bawah, ke arah Aseng junior yang sudah membuat tenda di celanaku.
---
Sore itu istriku terheran-heran — biasanya aku nggak pernah minta jatah sore-sore begini. Biasanya malam hari atau pagi sebelum Subuh. Karena kedua anak kami masih terjaga, ya harus quickie saja. Gaya debog pisang, istilah istriku. Istriku tidur menyamping sambil menyusui Salwa, hanya menaikkan rok dasternya, melepas celana dalam, cukup dibuat basah sebentar lalu dicoblos. Di ruang tamu depan terdengar suara TV yang ditonton Rio, duduk anteng dengan jajanannya, sementara kami di kamar sedang ngos-ngosan.
"Papa kenapa? Tumben sore-sore minta mensek... ngebayangin siapa?" tanyanya belum sempat beres-beres. Istriku hanya menurunkan kembali rok dasternya menutupi kakinya. Sebuah handuk kecil kami pakai untuk mengelap sisa pergumulan. Ia memang sudah memakai kontrasepsi spiral tak lama setelah nifasnya selesai.
"Ya ngebayangin kamu, lah, ma... siapa pulak yang papa bayangin?" ngelesku, tak berani menatap wajahnya. Aku memperhatikan Salwa yang masih menyusu pada mamanya. Nyot-nyot, dikenyot-nyot!
"Napa? Mau nyusu juga? Mau jadi saudara sepersusuan Salwa?" guyon istriku, menyadari aku memperhatikan dadanya yang sedang disedot Salwa. Aku malah teringat kala Salwa mencoba menyusu pada payudara Aida yang tak ber-ASI. Mengingat itu, Aseng junior menggeliat bangun lagi. Hal itu disadari istriku. Ia sudah paham tabiatku. Aku meremas-remas pelan payudara yang tidak disedot Salwa. Padat dan penuh dengan ASI. Makanan bergizi bagi bayiku.
"Udah, pa... masuk aja lagi... minggu depan mama mulai halangan lagi, loh... puas-puasin aja sekarang..." kata istriku menarik kembali rok dasternya ke atas, menampilkan bagian bawah tubuhnya yang masih basah. Masih ada bekas permainanku sebelumnya di sana. Pastinya akan melancarkan jalan masukku. Aku posisikan diriku kembali di depan istriku yang masih berbaring menyamping sambil menyusui Salwa. Bayi kami sepertinya tak keberatan tempat tidur yang kami bagi bersama ini berguncang karena ulahku.
Kupuaskan diriku menikmati istriku sore ini. Lahan yang halal dan sah untuk kugarap sesuka kemauanku. Istriku juga lumayan menikmatinya, walau sedikit menahan desahan karena ada Salwa di sampingnya yang sudah tertidur. Total empat kali ngecrot aku sore itu. Sebelum azan Maghrib, aku dan istriku sudah mandi wajib.
---
Lelah karena aktifitas seharian, istriku dan kedua anakku sudah masuk kamar pukul setengah sembilan. Aku masih di depan TV, gonta-ganti channel mencari acara menarik. Ada film di stasiun swasta yang sudah diputar 3724 kali, dan acara variety show yang lumayan monoton dengan penonton bayaran yang cantik-cantik.
Ping!
Salah satu kontakku mengirimi ping. Malas-malasan kulihat siapa. Pukul 22.12 WIB. 'Aida tetangga' yang mengirim pesan. Belum tidur dia?
Mulai komunikasi kami lewat BBM.
Aseng: blm tidor da?
Aida: blom bg aseng lge kepanasan ni
Aseng: napa? rusak kipas angin klen?
Aida: gatel bg pengen digaruk
Aseng: apa yg digarux
Tak lama, ia mengirim gambar — penampakan dada utuh Aida tanpa penutup sehelaipun. FAKK! Tanpa sadar tanganku merayap mencari jalinan kerjasama dengan Aseng junior.
Aseng: apa tu? krg jelas
Tak lama masuk gambar kedua: celana dalam mungil berwarna pink yang ia kenakan. Sontak aku mengelus-elus Aseng junior yang mendadak manja pengen disayang.
Aseng: lucu itunya. Lg?
Tanpa ba-bi-bu masuk foto ketiga yang jauh lebih bombastis. Tepian celana dalam pink mungil itu ditarik ke samping, memperlihatkan isinya yang kurindukan. Vaginanya mungil juga, belahannya agak merekah lembab. Ada titik genangan cairan bening di sekitarnya, kemungkinan keringat. Rambut hanya tumbuh di atas gundukan pubic seperti kumis Hitler. Makin kencang kubelai Aseng junior yang tercekik sampai megap. Urat-urat kebiruan muncul di sekujur tubuh Aseng junior.
Dan seolah melengkapi keindahan malam itu, masuk foto berikutnya. Dibukanya belahan vagina Aida, hingga kelihatanlah semua keindahan masterpiece itu. Aku bisa meresapi gerinjal lekukan daging — labia minora yang bermahkotakan klitoris mungil di atasnya. Cairan basah yang menggawangi lubang mungil yang mengintip terpaksa karena dibuka paksa oleh tangan pemiliknya. Lubang anusnya sedikit gelap dengan kerutan halus di sekitarnya. Kulit selangkangannya yang halus dan putih serupa latar paling tepat untuk semua ini. Sempurna. Aku bahkan tak pernah sedeg-degan seperti ini melihat kelamin wanita, walau tak secara langsung — hanya lewat media.
Aida: gantian pls
Kukirimkan dua foto dengan jeda setengah menit. Foto pertama saat aku mencekik Aseng junior hingga urat-urat kasarnya bertonjolan. Foto kedua: muntahan putih Aseng junior yang melumuri sekujur tubuhnya.
Aseng: crot utk yg k5
Lama Aida tak membalas. Sekitar dua menit — yang kuhabiskan memelototi ulang foto-foto berharga pribadi milik tetanggaku itu. Aseng junior tak kunjung lemas, tetap tegak mengacung di elusanku.
Aida: udh 5x? lemez dong
Aseng: mlm ini br 1x td sore 4x
Aida: kuat y ngayalin Aida y?
Aseng: Aida g tgg jwb
Aida: kan ad kakk smpe 4x lg hhh
Aseng: imut
Aida: apnya imut?
Aseng: cdny wkwk
Aida: gd y
Aseng: gak ada ato apa
Aida: GEDE
Aseng: woi capslock!
Aida: kmari bg kutunggu