EPISODE 04
Episode 5
Kubiarkan Aida menunggu karena aku memang tidak akan datang malam itu. Chat itu tak kutindaklanjuti. Semua riwayat percakapan barusan kuhapus bersih agar tidak sampai ketahuan istriku. TV kumatikan, lampu-lampu kuredupkan satu per satu, kupastikan semua pintu dan jendela terkunci rapat, lalu aku masuk ke kamar.
Di kamar, semua orang tercintaku sudah tenggelam dalam tidur yang nyenyak. Istriku terlentin di antara Rio dan Salwa. Tempat tidur king size ini memang harus rela dibagi untuk empat orang, dan aku harus berebut ruang dengan Rio yang tidurnya berantakan minta ampun. Daster istriku tersingkap sampai ke perut, dan sebelah payudaranya menggantung bebas keluar dari kainnya — tak sempat dimasukkan setelah menyusui Salwa. CD-nya terlihat menggoda di sana, tapi aku tak sampai hati membangunkannya hanya untuk memuaskan birahiku yang memuncak gara-gara chat dengan Aida barusan. Ia sudah cukup lelah mengurus rumah dan dua anak kami.
Aida... Aida... Perempuan hamil tujuh bulan itu betul-betul membuatku blingsatan tanpa arah. Rayuannya naik tangga, dari yang paling ringan sampai yang hardcore banget. Yang terakhir, ia mengirimkan foto jarinya yang menembus masuk lubang memeknya. Lihat itu saja, aku ngecrot sekali lagi.
Beberapa kali ia berhenti membalas chat. Kutangkap, ia sedang sibuk masturbasi — sama seperti yang kulakukan. Katanya ia sendirian di rumah karena suaminya, si Agus, masuk kerja malam. Sebenarnya jam masuknya tengah malam, tapi dia pamit lebih cepat satu jam demi dedikasi di posisi barunya, dan pulangnya juga dilambatkan satu jam. Sementara itu Aida terus mendesakku datang ke rumahnya, memenuhi tawarannya, karena di sana tak ada siapa-siapa kecuali dirinya sendiri yang sedang memuaskan hasrat sendirian.
Tawaran yang sangat menggiurkan. Sepanjang malam aku bisa menggagahi perempuan yang sudah pasrah kubuat apa saja. Gang ini juga sudah sepi jam segini — tak akan ada yang tahu siapa yang keluar masuk rumah Aida. Kepalaku panas memikirkan segala kemungkinan. Aseng juniorku yang sudah beberapa kali ngecrot pun tampak senang, ngaceng tak udah-udah. Kimak kali memang junior ini. *(kimak: makian orang Medan, singkatan dari pukimak, kurang lebih artinya memek mamak. Wkwk.)*
Kembali ke depan TV tanpa menyalakannya. Duduk saja, menghayal Aida. Malam semakin larut, tak ada ping masuk karena data HP sudah kumatikan. Tapi kuyakin, Aida mengirim ping berkali-kali demi menarik perhatianku. Dan aku... ketiduran.
Bangun-bangun, aku memimpikan Aida. Kubilang itu mimpi buruk — karena dalam mimpi itu aku ketahuan istriku sedang menggenjot Aida di ruang tamu rumahku sendiri. Tapi istriku cuma berdiri di depan pintu, menatap tanpa ekspresi apa pun. Datar. Nah, ekspresi datar itulah bagian paling seram. Karena kalau istriku marah, dia diam begitu saja.
Kimaknya lagi, sempakku terasa lengket. Aku mimpi basah! Kimak-kimak. Udah tua segini masih mimpi basah? Padahal udah berkali-kali ngecrot kan malam ini? Setauku, pria itu mengalami mimpi basah kalau cadangan spermanya tak kunjung keluar dalam jangka waktu tertentu. Pria lajang misalnya. Apalagi anak remaja yang belum mengenal seks. Lah aku, sudah beberapa kali ngecrot begini, kok masih bisa mimpi basah? Aneh?
Atau gara-gara terlalu kepikiran Aida yang seksi? Sampai-sampai kebawa ke mimpi? Dalam mimpi tadi, kulihat seluruh tubuh Aida yang polos telanjang, dan kami bercinta gila-gilaan yang diakhiri aku ngecrot di dalam memeknya. Dan aku benar-benar ngecrot waktu itu — bekasnya nyata di sempakku sekarang. Imej tubuh telanjang Aida itu mungkin kumpulan semua informasi yang sudah kudapat selama ini — dari pandangan langsung ataupun foto. Alam bawah sadarku mengeja dan menjadikannya bunga tidur. Indah kali bunga tidurnya. Tubuh telanjang Aida, maksudku. Tapi tetap, ekspresi istriku lebih serem, ding.
Skip-skip
Paginya, Salwa tak mau tahu apa pun selain jalan-jalan pagi. Setelah dimandikan dan wangi, ia langsung merengek minta diajak keluar. Aku harus menyiapkan jawaban kalau bertemu Aida. Pasti ia akan menjegatku di depan rumahnya.
Tapi pintu rumahnya masih tertutup rapat. Belum bangun dia? Padahal sudah kusiapkan segala macam alasan kalau-kalau ia merajuk. Baguslah kalau begitu. Salwa dan aku melintas di depan rumahnya. Tumben gang ini sepi. Biasanya jam segini sudah ramai — anak-anak berangkat sekolah, orang dewasa berangkat kerja, beberapa penjual sarapan keliling. Hanya ada kami berdua di gang ini.
Tok-tok!
Terdengar ketukan di kaca jendela di kiriku.
Jendela kaca rumah Aida. WHAT THE FAKK!
Aida berdiri di balik jendela, menempelkan seluruh tubuhnya sampai nyeplak ke kaca — telanjang bulat. Matanya menatap sayu, ujung jarinya digigit. Kedua puting toketnya tergencet indah di kaca, berikut pangkal pahanya. Memek mungilnya mengintip dengan jembut kumis Hitler-nya. Lalu direnggangkannya kedua kakinya, satu tangannya melebarkan bibir kemaluannya. Dengan jari telunjuk dan jari manis ia membuka labia mayoranya, jari tengah menggosok-gosok itil lalu terbenam masuk. Dikocok beberapa kali sambil melenguh nikmat. Beberapa kocokan, lalu dicabut. Cruut! Cairan bening menyemprot dan terpercik di kaca jendela transparan itu. Aida terengah-engah...
Apa ini?
"Kenapa, pa?"
"Heh? Kenapa?" tanyaku.
"Salwa udah siap mandi... Minta jalan-jalan tuh..." kata istriku.
Kuusap mukaku. Kimak! Gara-gara ketiduran abis mandi, aku bermimpi aneh lagi soal Aida. Dan... lengket lagi.
Setelah ganti sempak dan celana, aku melanjutkan rutinitas pagi — menggendong Salwa jalan-jalan keliling gang. Sebenarnya penasaran, apa mungkin kejadian di mimpi tadi jadi nyata. Tapi mustahil, karena aktivitas gang ini sudah ramai seperti biasa. Anak-anak berangkat sekolah, orang dewasa berangkat kerja. Seorang penjaja tahu lewat motor dengan teriakan khasnya, "TAA-HUUUU!"
Seorang ibu memanggil tukang tahu itu, dan si abang berhenti. Ibu-ibu lain ikut mengerubunginya membeli tahu putih — termasuk Aida. Ia sudah melirikku sambil manyun, lucu banget. Kepingin kucomot bibir manyunnya itu. Ibu-ibu itu menyapa Salwa, menjawil pipinya, ada yang menciumi pipi tembemnya yang kayak donat disiram gula halus. Aroma segar bayi baru mandi memang jadi kegemaran siapa pun.
Tak kurang Aida. Tahu yang baru dibelinya ditaruh begitu saja di piring di teras. Seperti biasa, ia langsung minta gendong Salwa. Tapi sebelum Salwa berpindah tangan, tangannya dengan kurang ajar meremas si Aseng junior.
"Akhh..." pelan keluhku kaget. Untung ibu-ibu lain dan penjaja tahu sudah pada bubar.
Aida
"Kenapa gak ke rumah tadi malam?" lirih tanya Aida dengan mata mendelik-delik lucu. Mulutnya mengatup-ngatup kayak ikan mas koki.
"Gak-lah! Gilak aja..." jawabku spontan.
"Tapi aku dah pengen kali, bang..." katanya masih lirih. Ia mencoba menggapai ke bawah lagi, ke arah Aseng junior. Dengan taktis aku menghindar.
"Mintak-lah sama lakikmu sana... Aku gak bisa, Da..." jawabku, sebenarnya ragu-ragu.
"Abang inilah... Udah kukasih pun... Udah rela kali aku, bang... Mau ya, bang?" rayunya menghiba. "Nanti malam lagi ya, bang? Plis..." Ia mendekap erat Salwa. Aku jadi takut anak bayiku dijepit kuat-kuat karena kesal pada bapaknya yang tak kunjung mengabulkan keinginannya. Keinginan mesumnya.
"Gak bisa aku, Da... Takut aku... Takut ketauan..." jawabku asal aja. Yang penting aku bebas dari rayuannya. Rayuan maut.
"Kalo takut ketauan di sini... kita ketemuan di luar aja, bang..." usulnya jenius. Jenius kampret. Kalau itupun aku tahu caranya. Masalahnya, aku gak mau. Atau belum mau. Yang mana yang benar?
"Gak, Da... Aku gak bisa, Da..." tolakku terus, sambil pura-pura lihat jam dan minta Salwa kembali. Tapi Aida nggak semudah itu mengembalikan Salwa. Ia menggerakkan tubuh Salwa sampai dada bayiku mendusel-dusel dadanya. Kimak! Perempuan ini gak pake bra. Teteknya gondal-gandul, kelihatan jelas menembus bahan katun daster bermotif bunga itu. Beberapa kali pentilnya kelihatan ngecap karena menegang. Salwa mewakiliku menjamah tubuhnya.
"Aku gak pakek apa-apa nih, bang, dibalik dasterku... Abang mau liat?" tawarnya kurang ajar. ANJIAANK!
Cepat-cepat aku geleng, malah ia mundur masuk ke teras rumahnya yang setinggi satu batu bata dari jalanan gang. Ia menggodaku terus. Senyumnya lebar. Anak bayiku cuma bengong, ngences aja gak bisa nolongin papanya yang kesusahan. Anakku cantik... Tolongin papa dong?
"Da... Jangan, Da..." panikku melihatnya membawa Salwa sampai ke belakang pintu rumahnya. Terasnya kecil, cuma cukup untuk parkir satu motor dan jejeran pot bunga koleksinya. Aida masih mendekap Salwa erat-erat. Keadaan memang sepi.
Nekat! Perempuan ini sudah nekat. Dengan satu tangan ia mengangkat rok dasternya ke atas, sementara tangan satunya tetap mendekap Salwa — dan aku sukses melihat apa saja yang tersembunyi di sana. Sebagian perut rata dan pusarnya, pangkal pahanya, dan si kumis Hitler itu. Melotot mataku. Benar kata dia, tak ada apa-apa di balik dasternya. Indah, melenakan, dan sekaligus menakutkan. Bentuk segitiga dengan lepitan kemerahan di tengah apitan kedua pangkal pahanya itu sukses membuatku keringat dingin. Indah nian. Amboi... Kepingin betul kuelus... kubelai... atau membukanya... membasahinya dengan lidah.
Cepat ia menurunkan rok dasternya kembali saat sebuah motor melintas — seorang bapak membonceng dua anaknya berangkat sekolah. Ia tersenyum lebar, maju ke depan tanpa rasa bersalah sedikit pun. Salwa diserahkannya kembali padaku tanpa bisa kucegah. Dan ia memberi bonus: menyentuhkan kedua payudaranya yang tanpa bra itu ke lenganku. Aku bisa merasakan kerasnya puting yang menegang. Lembut dan kenyal, melebur jadi satu. Daging empuk itu adem dan nyaman.
"Dadah, Salwa cantik... Nanti malam jumpa lagi ya..." katanya sambil melambaikan tangan. Kaku aku balik kanan dan ngacir pulang.
Tak nyaman rasanya, karena si Aseng junior sedang baris-berbaris pagi ini. Dia ngacung!
Skip-skip
Di kantor barulah aku berani menghidupkan data HP. Bergejolak masuk berbagai ping, teks, dan beberapa foto yang dikirim Aida semalam. Foto beberapa sudut kemaluannya yang sepertinya habis orgasme — beceknya bukan buatan. Bibir memeknya dibuka lebar-lebar tanpa malu-malu lagi. Lubang sempit itu seperti memanggil-manggilku untuk mencicipinya.
Jam 9.30 masuk satu foto baru. Seperti foto perbandingan — dua foto dijadikan satu. Ia bela-belain mengeditnya. Baru kutangkap maksudnya setelah beberapa saat memelototi. Di kanan, foto Aseng junior yang masih berlumuran sperma. Di kiri, foto memek Aida yang juga berlumuran sperma.
Aida: liat encer kan?
Bangsat! Dia memfoto hasil persenggamaannya dengan lakiknya, membandingkan kualitas speraku dengan punya Agus. Artinya, Agus yang baru pulang kerja pagi tadi ditodong ML — dan ini hasilnya. Encer sih. KIMAK!
Aida: encer gini g bisa buat bunting
Aida: kecil lg
Hampir kubanting HP-ku.
Entah sampai kapan kubiarkan Aida terus menerorku. Yang gilanya, aku suka dengan teror seperti ini. Kalo orang Medan bilangnya, 'Ngeri-Ngeri Sedap'. Sering dengar istilah ini kan? Yang dulu dipopulerkan politisi asal Medan itu. Gimana cara menghentikan teror ini? Kalau kubiarkan, bisa makin parah — atau berhenti sendiri karena Aida bosan tak kunjung kutanggapi tawarannya. Tapi bagaimana kalau ia nggak bosan-bosan dan terus berharap? Ia akan terus menerorku dengan teror erotis lainnya.
Dan kalau ia berhenti... atau mengalihkan terornya ke pria lain... Sayang juga! Barang bagus gitu. Belum tentu pria lain menolaknya. Tak terbayangkan ada pria lain yang menggenjot Aida, memanfaatkan kondisi rumah tangganya itu — walau tak pasti bakal hamil, pasti pria itu bersenang-senang banget. Abis-abisan menggarap perempuan cantik itu dengan segala macam gaya... Arrggghh! KIMAK!
Pria itu akan terus-terusan menggarap Aida sampai... sampai kapan? Aku juga kurang yakin guna-guna itu bekerja pada pria lain. Kalau teori awalku benar — guna-guna itu hanya terikat pada Agus-Aida — seharusnya kalau Aida dapat setoran sperma dari pria lain, ia hamil. Lalu bagaimana kalau guna-guna ini melekat per individu? Pada Agus, dan pada Aida. Bagaimana kalau ada guna-guna lain yang bertujuan melemahkan sang pria? Karena Agus memang mengalami penurunan stamina seksual — bertujuan melemahkan mental dan harga dirinya. Bagi pria, ini masalah kehormatan. Dengan begitu, dendam pengirim guna-guna berhasil merusak Agus yang sudah capai posisi bagus dalam pekerjaannya. Lalu merembet ke pekerjaan, ke pernikahannya... bahkan mungkin ke kesehatan dan nyawa!
Dan... ikut melemahkan pria ini juga. Korban kedua jatuh. Agus, dan pria ini. Lalu Aida akan menyasar pria berikutnya, dan terus begitu — seperti virus yang tak berkesudahan. Waduh! Sampai segitunya. Eh! Entah hapa-hapa yang kupikirkan nih?
Kukirimkan pesan baru pada Aida. Dan ia menanggapinya.