←18+
← Bb M - Baby Maker (Ribak Sude Story)

Episode 05 — Bb M - Baby Maker (Ribak Sude Story)

EPISODE 05
Episode 5 Tepat pukul 22.30 WIB aku menyelinap keluar dari rumah. Seperti biasa, gang pada jam segini sepi tak berpenghuni. Apalagi malam ini udara terasa dingin menusuk — hujan baru saja turun seusai Maghrib. Di beberapa titik masih ada genangan air yang memantulkan cahaya lampu jalan. Istri dan anak-anakku sudah larut dalam tidurnya sejak tadi. Kutelusuri gang sunyi ini sebentar, memastikan sikon. Aman... Benar-benar sepi dan senyap. Di ujung sana, di jalan raya, kendaraan masih berseliweran. Dari beberapa rumah masih terdengar suara TV tertelan samar oleh dinding, tapi lebih banyak rumah yang lampunya sudah padam — penghuninya terbuai di atas kasur masing-masing. Lampu teras rumah Aida sudah padam. Tanda yang kutunggu. Aku berbelok masuk. Dengan gerakan cepat kukibaskan pintu yang memang tak dikunci, lalu masuk dan menggerendelnya dari dalam. Ruang depan ikut gelap gulita. Aku menembus kegelapan itu, masuk lebih dalam. Rumah ini punya dua kamar, ruang TV, dapur sekalian ruang makan, dan kamar mandi. Hanya satu kamar yang lampunya menyala — sesuai perjanjian kami. Kuketuk pintu kamar itu dua kali, langsung kubuka dan masuk. Aida tergeletak di atas ranjang, membelakangiku, menyamping berselimut. Kututup pintu dan mendekat. Hal pertama yang menarik pandanganku: lekuk pinggulnya yang menonjol menggunung di balik selimut. Pinggul perempuan sehat — pinggul yang seharusnya sanggup memelihara janin dalam rahimnya. Semua potensi itu dirusakkan oleh tangan jahil manusia culas yang memanfaatkan ketiadaan penanggung jawab. Perempuan sehat yang seharusnya berhak atas karunia anak. Mengandungnya, melahirkannya, membesarkannya hingga dewasa. Aida "Aida..." bisikku lirih. Cukup untuk sampai ke telinganya. Aida berbalik, dan yang pertama kutangkap adalah air matanya. Berlinangan di pipi putihnya. Matanya sedikit memerah. Apa ini? Pergolakan batin? Menyesal? Dia masih bisa membatalkan semua ini kalau mau. "Kenapa, Da? Jadi?" tanyaku pelan, memastikan keinginannya. Aku siap mundur kapan pun ia mau. "Tentu jadi, bang..." jawabnya lirih, ikut berbisik. "Kenapa menangis? Aku nggak mau ada yang terpaksa... Kita berdua harus sama-sama ikhlas..." bisikku lagi. "Aida cuma senang, bang... Akhirnya Aida bisa punya anak juga..." Katanya tetap menjaga volume. Walau pelan, di kesunyian seperti ini selirih apa pun terdengar begitu jelas. Semoga tidak merambat keluar. "Mudah-mudahan jadi, ya, Da... Semoga..." sahutku kikuk. Mataku melirik kanan-kiri, mempelajari kamar yang sehari-hari menjadi domain Agus. Malam ini menjadi jajahanku — karena aku akan menggagahi istrinya di dalamnya. Kamar standar: spring bed enam kaki, sebuah meja rias, lemari pakaian empat pintu, cermin, beberapa gantungan baju, dan kotak-kotak sepatu berserakan di lantai. Aroma wewangian samar mengambang — mungkin Aida menyemprotkannya tadi. Penerangan cukup dari lampu LED 45 watt di kamar berukuran empat kali empat meter ini. "Mm... bang?" desis Aida, bingung harus mulai dari mana. Aku pun sama. Kalau dengan istriku di rumah, aku bisa langsung melucuti semua pakaian — lalu gas. Tapi dengan Aida? "Awak buka baju dulu ya, Da..." Kataku pelan, mulai menarik kaosku ke atas. Mata Aida nanar menatap tubuhku. Tubuhku kini lumayan berisi, 65 kilo — cukup ideal dengan tinggi 165 sentiku. Dulu waktu remaja aku tergolong kurus. Kini aku bertelanjang dada di depan Aida yang masih berbaring tertutup selimut. Ia tersenyum lebar, bahagia. Air matanya sudah dihapusnya. Wajahnya tinggal memancarkan rona gembira. "Aida sering intip-intip bang Aseng kalau lagi buka baju kek gini, loh..." Ia terkikik geli, menutup mulutnya dengan dua tangan. Mungkin ia mulai terangsang. Kebiasaanku memang kebablasan membuka baju saat menyapu halaman — apalagi ada pohon mangga golek setinggi tiga meter yang rajin menjatuhkan daun, penyumbang sampah terbanyak di halamanku. "Bang Aseng putih kali... kek Cina betulan..." ungkapnya terkikik lagi. "Gantian, lah..." Kataku menutupi gugup. Aku juga pengin lihat, kan? Aida langsung menyibak selimut penutup tubuhnya. JREENG! WADAW! Dia tidak memakai apa-apa di balik selimut itu! Tubuh seksi menyerbu retinaku di bawah terang lampu 45 watt. Tangannya cepat menutupi dada dan selangkangannya. Ternyata ia masih malu-malu. Tenang... aku tahu solusinya. Kugenggam tepi selimut itu dan kutarik kembali menutupi tubuhnya. Aida memasang mimik protes campur bingung. "Kok ditutup lagi, bang?" tanyanya heran. Kini hanya bahu, leher, kepala, dan dua tangannya yang tersisah di luar selimut. "Aida masih malu, kan? Gini aja..." Kataku mendekat, lalu menunduk menyelusup masuk ke dalam selimut dari sisi kakinya. Kudengar napas Aida terkesiap kaget melihat aksiku. Sekarang ada gundukan besar di selimut bagian kaki — tubuhku yang masuk ke dalamnya. Ia tak siap dengan ini. Wajahnya tak bisa kulihat, gelap gulita di balik kain itu. Kita mulai prosesnya... Memasuki alam lain, begitu dua bakiak kayu merah berstiker norak tempelan itu kujejak. Seketika aku tak lagi berada di kamar Aida. Sebuah bangunan mirip gudang tua terbentang, dinding-dindingnya berdiri merana. Bekas tanaman merambat menyalim di sepanjang dinding tinggi, dan sebuah pohon tak terlalu besar sudah mati meranggas. Beberapa nisan kayu mencuat sembarangan di sekitar akarnya. Kegelapan malam menganga dari atap yang sudah lama hilang — hanya menyisakan galangan-galangan kayu lapuk dimakan usia. Tak ada bintang, tak ada bulan. Dimensi yang berbeda. Berhadapan denganku kini seorang tua enam puluhan, menggenggam sebilah klewang berkarat kemerahan sepanjang sembilan puluh sentimeter. Ia baru membuka mata, menyadari kehadiranku. Jarak kita sekitar enam meter, terhalang nisan-nisan kayu. Aku berdiri tegak, bertelanjang dada, berbakiak kayu andalan. "Apa maumu? Keluar dan jangan kembali!" Hardiknya serak namun keras. Ada bau amis keluar dari mulutnya — bau yang seakan berasal dari karat yang menggerogoti klewang panjang berbahaya itu. Kalau tergores senjata itu... terus pasti kena tetanus! "Bapak yang mengirim sengkolo pada Agus dan Aida?" Tanyaku masih baik-baik. Di kanan-kiri orang tua itu muncul dua sosok seperti pocong bermuka hitam begitu ia menaburkan semacam bunga rampai. Kain pembungkus mereka lusuh, bercak darah menghitam dan lumpur di mana-mana. "Kau paham... Jadi menjauhlah..." Peringatannya keras, melotot. Wajah kasarnya mengetat, urat-urat bertonjolan. Disabetkannya klewang karat itu — kedua pocong berkelebat melayang ke arahku. WHUSH! Menyambar cepat, maksudnya memberi peringatan agar aku buru-buru pergi. Aku cukup berkelit menghindar. Kedua pocong kembali ke posisinya. Kurogoh kantung celanaku, keluarkan beberapa lembar daun — empat helai di tangan kananku. "Tolong, pak, cabut kembali sengkolo itu dari Agus dan Aida... Kasihan mereka berdua. Pengin kali orang itu dua punya anak..." Kataku sambil memosisikan keempat daun itu di antara jari-jari kananku, dibantu tangan kiri. "Kalau aku nggak mau... kau mau APA?!" Gertaknya balik. Ah! Kenyang aku dengan mop-mop-an kayak gini. Sudah tua masih maenan begitu. Di Medan ini, kalau kalah mop, udah dihitung kalah. Ya nggak, lae? "Begadoh lah kita, KIMAK!" Tak kupandang lagi umurnya. Sudah kupilul kimak pulak uwak tua itu. Aku bergerak maju. Kletak-kletuk! Ketukan bakiak kayu nyaring menggema seiring langkah lariku yang cepat. Keempat daun di jari kananku sudah kusebarkan. Si kimak itu memerintahkan kedua pocongnya bergerak, sembari bersiap menyambutku dengan tebasan klewangnya. Sekejap saja aku sudah di depannya — cukup kaget dia bisa bergerak secepat ini. Kubahu satu bakiak ke tangan kanan untuk menangkis klewang yang menyambar membabat leherku. KLAKK! Kaki kiriku yang masih berbakiak naik mengincar dagunya. Ia masih sempat berkelit, jadi aku harus berputar setinggi pinggang untuk serangan berikutnya. Tendangan susulan urung kulakukan — pocong pertama menubrukku. Si kimak mundur beberapa langkah. Sebuah benda hijau memanjang menahan tubruk itu: daun Utara, pelindungku. Lalu sambaran lain mengoyak pocong yang terhenti tadi. Ada sobekan di kain pembungkusnya, lipatan-lipatan tebal tersayat beberapa gulungan. Benda hijau lainnya sukses mengoyaknya lebih jauh — daun Selatan, sang penyerang. Pocong itu terbanting ke tanah, tapi bangkit melayang kembali. Pocong kedua, melayang tak jauh dari si kimak, kini dihujam daun Barat dan daun Timur. Keempatnya adalah perwujudan daun-daun yang tadi kuapit di antara jariku. Si kimak kebingungan menghadapi metode bertarungku. Dia kira cuma dia yang bisa mengendalikan semacam itu. Punyaku empat — lebih banyak. Kubahu lagi bakiak ke kaki kanan. Serangan baru dimulai. Aku berlari cepat lagi, bising bunyi bakiak kayunya, lalu melompat kencang. Kedua bakiak tertinggal di titik pijakan. Tubuhku berdesing meluncur ke arah si kimak. Ia tersenyum seolah sudah menang, segera membabatkan klewangnya. KTUK! Kagetlah si kimak — klewangnya hanya membabat benda padat: bakiak kayu sebelah kiriku yang terbanting jatuh di depannya, sementara diriku bebas, terbuka, menyodokkan tendangan telak berbakiak kanan ke rahang kirinya. Ia terseret mundur, tak bisa jauh, karena pergelangan tangan penyangga klewangnya kucekik tangan kiriku, sementara bakiak kanan sudah berpindah kembali ke tangan kananku. Dengan remasan kecil, klewang itu terlepas dari genggamannya. PLAK! PLAK! PLAK! Tiga kali tamparan bakiak menghantam kepala bagian kirinya — dua kali ke telinga, sekali ke rahang. Saat ia limbung, kukutip bakiak kiri dari tanah. Bersiap serangan pamungkas. Kedua bakiak terangkat tinggi di kedua tanganku. "GUGUR GLUGUR!" Seakan gunung runtuh menghimpit si kimak — kedua bakiak kudampingkan, menggencet, menimpa, luruh dengan seluruh tenaga menekan lawan saat jurus GUGUR GLUGUR mendarat telak. Lawan yang kesekian kalinya kalah konyol karena sepele, dengan senjata ampuhku ini. Kugosok-gosokkan kedua bakiak merah itu ke pelipisku — tanda terima kasih atas bantuannya kali ini. Si kimak terkapar di tanah. Tangan dan kakinya berkejat-kejat, tak kuasa menahan kesadaran. Kedua pocong muka hitam itu tinggal tulang-belulang, disayat-sayat keempat daunku. Kain pembungkusnya kapik-kupak kek kena mesin potong rumput. Begitu bakiak itu kupakai lagi di kakiku, keempat daun kembali ke tanganku dengan ukuran normalnya. Setelah jadi pedang daun, balik jadi daun, mengering, lalu hancur. "A-apa-kah itu... ba-bak-bakiak Bulan Pencak yang tersohor?" Tanya si kimak tersengal, masih terkapar di tanah dingin nan kotor. Tubuhnya mengepulkan asap tipis. Beberapa helai bunga rampai berserakan di kakinya. "Ah... Wawak kenal rupanya sama stiker Nirvana ini... Metal juga, wawak, ya?" Kataku berkelakar soal stiker yang menempel di sekujur bakiak yang dikenalinya sebagai bakiak Bulan Pencak. Stiker Nirvana di bakiak kanan, Bob Marley dan lambang Peace di bakiak kiri. "Ribak sude rupanya... Ah..." Lalu ia tak sadarkan diri. Klewang berkarat dan tulang-belulang pocong muka hitamnya menghilang tanpa bekas. Sepasang pocong muka hitam itulah yang selama ini menguntit Agus dan Aida di setiap kehidupan seks mereka. Satu bertugas melahap semua sperma Agus agar Aida tak terhamil, sambil merusak kesehatan fisik dan mentalnya. Yang satunya mencegah siapa pun menghamili Aida dan menikmati kesehatan mental tuan rumahnya. Perlahan kegelapan dingin nan angker tempat pertarungan tadi berubah menjadi kegelapan hangat di balik selimut milik Aida. Guna-guna yang menyerang Agus dan Aida sudah berhasil kutumpas. Dan kini aku bisa melihat sepasang kaki mulus putih milik Aida menjulur pasrah di depanku. "Misi selesai..." bathinku. Kukecup lutut kiri Aida — dan ia bergidik geli. Tidak ada jeda waktu antara pertarungan tadi dengan keadaan sebenarnya, karena itu semua terjadi di alam yang sama sekali berbeda... Gitu, deh.
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 04
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal