←18+
← Bb M - Baby Maker (Ribak Sude Story)

Episode 06 — Bb M - Baby Maker (Ribak Sude Story)

EPISODE 06
Episode 6 — Aida "Ngapain sih, bang?" Aida terkikik geli, merasakan gerak-gerikku di balik selimut tebal itu. Bibirku mematuk-matuk naik menyusuri pahanya yang mulus, dan kini berhenti tepat di depan miss V-nya yang indah itu. Perlahan ia menyibakkan sedikit selimut, mengintipku yang sedang berkutat di selangkangannya. "Alo... apa kabar yang di dalam sana? Aku mau titip anakku di sini, ya? Boleh, kan?" begituku mengobrol pada vaginanya. Salah, ya? Harusnya Aseng junior yang ngobrol dengan miss Vaginawati milik Aida ini. "Hi-hihihi... Akh!" Aida yang tadinya terkikik geli sontak mengerang saat lidahku menyapu panjang dari bawah sampai kena kumis Hitler-nya. Enak kali rasanya. Seger-seger kecut! Refleks ia melebarkan kedua kakinya hingga vaginanya merekah terbuka, langsung menghantarkan kelembaban dan aroma yang bikin mabuk. Aromanya berbeda dengan milik istriku — lebih segar, ada sedikit aroma bunga. Mungkin dari sabun pembersih miss V yang ia pakai. Lidahku langsung bermain-main di sana bak bertemu teman lama yang bersua kembali. Kucucup-cucup isi liang kawin Aida sampai punggungnya melengkung menahan nikmat, dadanya membusung. Perempuan ini mendesah-desah seksi, sesekali tubuhnya bergetar, dadanya ikut berkibaran. Tanganku menjangkau, meraup kedua gunung itu. "Ahmm..." desahnya makin lepas. Empuk sekali daging toket Aida. Kuremas-remas kenyal massa dada itu dengan gemas, sementara mulut dan lidahku tetap sibuk di kemaluannya. Lalu itilnya menjadi titik fokusku. Lidahku berulang kali menyentil daging kecil itu — daging yang sebelumnya hanya bisa kulihat dari foto. Gelinjang liar kaki Aida menggapai-gapai, lalu kini nemplok di kedua bahuku, memudahkannya menjejalkan kemaluannya yang gatal terus kugaruk dengan mulutku. Tanganku bekerja ambideks — meremas dan memilin kedua toketnya. Gelinjang gelinya kian liar, tubuhnya menjengat tinggi, tanda orgasmenya datang. Tapi lidahku terus mencucup isi liang itu, menguras seluruh cairan yang tersimpan di dalamnya. "Bha-ang... Bhaang Asheengg... Enaak kali, bhaang... Pintar kali abhaang..." Ia memujiku saat selesai mengejang orgasme. Suaranya tak kira-kira lagi. Namanya juga sudah keenakan, mana peduli apapun. "Gak pernah akhu kek gih-ni... bhaang..." Desahnya menjengit berkali-kali, kedutan kenikmatan itu mengalir bak listrik susulan. "Paok kali si Agus tuh, ya? Bikin kau keenakan pun tak pande..." bisikku lirih sembari memanjat naik. Sekalian kulepas celana yang masih membungkus tubuh bawahku, sekaligus sempaknya. Aseng junior sudah megap-megap kesempitan di dalam kandangnya. "Abang pun paok juga..." jawabnya. Eh, marah pula dia karena kuejek lakiknya. "Kenapa gak dari kemaren-kemaren kemarinya... Kan aku bisa kek gini dari kemaren juga..." lanjutnya. Ternyata bukan marah karena lakiknya kuhina — tapi karena telat aku manjakannya. Mantap lah. "Iya-ya... paok kali abang..." jawabku tetap berbisik, memposisikan Aseng junior di gerbangnya. Ibarat bola, Aseng junior striker-ku. Siap menusuk jantung pertahanan lawan. Tapi... "Aida... ada syarat yang mau abang ajukan. Kita lanjut kalau Aida setuju syarat ini..." Aku berhenti dengan manuver Aseng junior. Aku sudah lama memikirkan ini, dan kurasa inilah saatnya. "Ah abang... pakek syarat-syaratan... Apa sih, bang?" Aida tak sabar. Padahal aku tinggal cuss... "Pertama... semua yang kita lakukan ini gak boleh pakai perasaan. Abang murni mau menolong Aida. Bukan si Agus, bukan siapapun. Paham?" Ia mengangguk. "Jadi setelah ini, di luar sana kita tetap seperti biasa. Kayak tetangga yang baik kayak biasanya..." "Kedua... ini hanya antara kita berdua. Tidak ada orang lain yang boleh tahu, atas alasan apapun. Mengerti?" Ia mengangguk lagi, takzim. "Jadi kita gak akan membicarakan ini atau memberi tahu orang lain. Siapapun." "Yang ketiga... kalau memang Aida bisa hamil... jagalah anak ini baik-baik. Ini akan jadi anak Aida dan Agus. Bisa?" Kutatap tajam matanya. Ini syarat yang paling penting. Sekali lagi ia mengangguk yakin. "Walaupun secara biologis mungkin ini anak abang, tapi akui dia sebagai anak lakikmu." "Ya udah... segitu aja. Masok ya, Da?" bisikku setelah semua terucap. Lagi pula kepala Aseng junior sudah masuk kotak penalti — one on one dengan kiper, tinggal melesatkan dan mencetak gol. Aida hanya perlu mengangguk membolehkan. Kubaringkan tanganku di bawah ketiaknya, ia angkat, dan kuciumi ketiak kirinya. Wangi sisa deodoran masih ada. Kujilati ketiak mulus tembem itu dengan rakus sampai ia berjengit geli. Pinggangku sudah bergerak pelan, Aseng junior mematut bola, mencari posisi tendangan yang tepat. "Uhmm..." Aida mengerang merasakan benda tumpul panjang itu masuk perlahan. Aseng junior berhasil menjebol gawang lawan. Hangat terasa di selebrasi kemenangan. Euforia gemuruh di kupingku ketika dinding kemaluan Aida mengapit batangku yang tenggelam penuh di dalamnya. Kaki Aida melilit pinggangku, kedua tangannya memeluk leherku, lalu ia kecup leherku pelan-pelan. Kugenjot dengan lambat, dan Aida melenguh. "Besar kali, bang... Penuh memek-ku, bang..." "Enak, kan?" tanyaku lirih, tetap bergerak perlahan. "Enak, bang..." jawabnya menatapku sedalam-dalamnya. Bibirnya membuka sedikit, memintaku menciumnya. Lupa, mungkin, pada kesepakatan tadi. "Maaf, Da... aku gak bisa menciummu. Nanti kita bisa baper karena sudah kayak gini. Hubungan kayak gini gak bisa pakai perasaan. Nanti kita berdua bisa rusak. Ini syarat pertama tadi..." kataku tegas. Walaupun aku tega melakukan semua ini di belakang istriku, aku masih punya prinsip: ciuman hanya untuk istriku. "Iya-ya, bang..." jawab Aida, ingat lagi pada syarat pertamaku. Tapi kakinya tak kalah — malah mempererat kepitan di pinggangku, memintaku terus menggenjot. Pinggangku lentur memompanya naik-turun. Memek Aida makin basah, keluar-masuk Aseng junior makin lancar. Enak sekali. "Ini gantinya... kalau ini boleh..." Kubenamkan wajahku ke dada kirinya. Pentingnya jadi incaran pertama. Kusedot-sedot tetek itu dengan gemas, puas di yang kiri pindah ke kanan, begitu terus. Tubuh kami erat menyatu, kulit ke kulit. Kulit halusnya mulai berkeringat, begitu juga aku — mungkin gara-gara selimut ini. Kulepas penutupnya, dan kami kini terbuka di udara. Terasa lebih sejuk. Gesekan kulitku dengan kulit Aida terasa nyaman sekali. Memeluk wanita selain istriku tak lagi jadi beban pikiran malam ini — yang ada hanya kenyamanan lembutnya kulit perempuan ini. Apalagi kenikmatan yang dirasakan Aseng junior yang masih keluar-masuk teratur di liang kawin itu. Aida mendesah-desah keenakan. "Enak, bang... lebih cepat, bang..." desahnya tak sabar. Aku tak bisa lama-lama bercinta. Dari penetrasi sampai ngecrot, paling 15–20 menit saja. Gak muluk-muluk sih, tapi itu cukup memuaskan aku dan istriku. Tapi bagi Aida, ini sudah terhitung lama. Agus pasti peltu — masuk, goyang-goyang, crot. Lagi pula Aida sudah orgasme tadi. Kuperbaiki posisiku. Dua tangan menahan tubuh, lutut menahan bagian bawah, lalu pinggangku mulai kugerakkan lebih cepat dan bertenaga. Batangku kugesek-gesekkan ke klitoris Aida untuk rangsangan tambahan. Perempuan itu makin lepas mendesah. Makin cepat, makin cepat. Aseng junior udah gak sanggup menahan diri. "Daa... Daa... Keluar aku, Daa!! Bunting kau, Aida! Bunting! Hamil!" erangku tertahan. Crot-crot-crot! Enak kali, boy! Kalau memang Aida bisa hamil, kurapikan benihku ini sampai menyentuh indung telurnya dan membuatnya hamil beneran. "Akkhh..." Aida memelukku erat sekali — ternyata ia juga mencapai puncaknya, orgasme yang menyambut semburan ejakulasiku. Tanpa bisa dielakkan, ia kecup pipiku. Kuyakin itu tak sengaja. Kubiarakan saja, karena aku masih menikmati desir nikmat crotanku barusan. Enak, seperti biasanya. Lama aku dan istriku berdiskusi soal kontrasepsi. Istriku lebih menganjurkan aku pakai kondom, menolak suntik KB maupun spiral. Aku berdalih kondom kurang enak, dan menganjurkan spiral. Akhirnya ia mengalah dan memilih spiral. Tubuhku lunglai di atas tubuh Aida. Begitu juga Aida, lemas tak berdaya. Aseng junior yang baru saja membongkar muatannya di dalam memek Aida masih kejet-kejet keenakan — masih merasakan enak susulan saat liang itu memeras-remas sisa spermaku. Kucabut pelan-pelan Aseng junior dari sarang barunya. Sejumlah besar sperma mulai meleleh keluar. Kubambil sebuah bantal dan kuselipkan di bawah bokongnya sampai posisi perutnya lebih tinggi dari dadanya. Ia paham dan membiarkanku. Kakinya masih terbuka lebar dengan lemas. Sperma itu tertahan di dalam sana. Napasnya masih ngos-ngosan, matanya nanar menatapku, mengikuti setiap gerakku. Aku memeluknya dari samping ketiak kanannya. Kuciumi sisi tepi teteknya yang montok indah, kuremas-remas juga. Lalu tanganku membelai-belai perutnya. "Semoga jadi ya, Aida... jadi anak yang Aida pengenin..." bisikku di ketiaknya. Aida mengatur napas, lalu meraba kemaluannya sendiri. Dirasakannya basah lengket oleh spermaku yang menggenangi liang itu. Dilihatnya sebentar. "Semoga aja, bang... makasih ya, bang... abang udah mau ngabulin keinginan awak ini. Abang gak nyesal, kan? Karena awak gak nyesal sedikit pun, bang..." bisik Aida. Kami bertatapan di posisi ini. "Kenapa Aida yakin abang bisa memberi anak?" tanyaku. Aku belum pernah menanyakan ini sebelumnya, dan baru sekarang kepikiran. "Awak gak boong, ya bang... awak sering mimpi kayak gini sama abang Aseng. Trus ada anak awak yang mirip kali kek Salwa. Bukan cuma sekali dua kali, bang... berulang-ulang sampe awak jadi kepikiran terus..." jelasnya. Mimpi? "Saking kepikirannya, awak jadi sering nyegat abang yang lagi gendong Salwa. Awak gendong Salwa udah kayak ngegendong anak awak sendiri rasanya..." "Ya udah... kalau Aida memang bisa hamil... hamillah, Aida nih..." kataku sambil mengelus-elus perutnya di bawah pusar. "Emang bisa langsung jadi, bang?" tanyanya malah ragu. "Kan Aida yang percaya bisa langsung hamil. Kalau dikasih Tuhan... jadi ya jadi..." jawabku sambil mengelus kumis Hitler-nya. "Tapi kan abang berulang-ulang juga sama kakak, kan? Kalok gitu... lagi-lah, bang..." kata Aida — lututnya kebetulan menyenggol Aseng junior yang ternyata sudah bangkit lagi. Ini gara-gara aku mengelus-elus gundukan tembem itu tadi. Baru kusadari Aseng junior sudah berdiri kembali. Bangkit, dan memposisikan tubuhku di depan tubuhnya. "Tunggu, bang... gini aja kalau gak bisa ciuman..." kata Aida sambil membalikkan tubuhnya, lalu menungging di hadapanku. "O-mak... mantap kali nih, Da..." Mataku terbelalak melihat bokong Aida yang menjulang menghadapku. Pantatnya yang montok, putih dan padat itu berkilat oleh keringat pergumulan kami sebelumnya. Kuremas kedua buah pantat itu dengan gemas sampai lubang kawin dan lubang pantatnya ikut merekah sedikit. "Mantap, bang? Cepatlah..." katanya tak sabar. Digoyang-goyangkannya pantatnya pelan. Aseng junior makin menegang keras melihat pemandangan ini. Seksi sekali pose Aida malam ini. Memeknya yang masih berlumuran spermaku tadi berkilat-kilat kena cahaya lampu. Kudekatkan kepala Aseng junior dengan arahan tangan kanan, dan langsung terbenam kepala-nya. Hangat sekali. "Aahh..." keluh Aida sampai kepalanya terangkat dari kasur, menahan proses masuk. Aseng junior meluncur masuk lancar. Sejumlah cairan kental meluber keluar dari liangnya, tapi pasti banyak pula yang terdorong masuk ke rahimnya. Kupegangi kedua pinggulnya sebagai penopang tubuhku, lalu mulai genjotan. Enak kali, boy! Kepitan liangnya menjepit erat Aseng junior. Aida gelisah menerima gerakan awalku, dan pompaanku mulai teratur keluar-masuk. "Bhaang... ehnaak khaali, bhaanng..." erangnya pecah. Kepalanya mendongak-menunduk bergantian, menerima lesakan teratur genjotanku. Di pangkal batang mulai berbuih putih — sisa spermaku. Lubang pantatnya berkedut-kedut lucu menerima gempuran keluar-masukku. "Aah... ahh... ahh..." Tubuhnya gemetar tak kuasa menahan gelombang orgasme, lalu ambruk — tak lagi dalam posisi merangkak. Ia kini tengkurap di atas ranjang. Aseng junior membal karena terlepas dari sangkarnya. Bahunya naik-turun, napasnya memburu, mulutnya membuka lebar mencari udara sebanyak-banyaknya. Kulebarkan kakinya, kutaruh bantal di perutnya, lalu kuposisikan Aseng junior masuk kembali dari sela pantatnya. Bisa masuk — dan terasa sangat menjepit. Kutekan perlahan, dan Aseng junior tenggelam lagi begitu Aida mulai pulih dari orgasmenya barusan. Terus kugenjot Aida di posisi itu sampai aku ngecrot lagi. Istirahat sebentar, lalu mulai lagi dengan posisi aku berdiri di lantai dan Aida berbaring di tepi ranjang, ganjalan bantal kembali di bawah pantatnya. Ia sangat senang mencoba posisi-posisi ini — katanya dengan Agus ia tak pernah sempat eksplorasi, karena Agus sudah keburu loyo dan capek. Terakhir kalinya aku ngecrot di posisi Aida berbaring miring. Lututku ngilu sekali merasakan nikmatnya crot di posisi ini. Kenikmatan itu meluncur bebas di seluruh urat syaraf. Kupeluk tubuhnya erat-erat dari belakang sambil terengah-engah. Aseng junior terkulai lemas dengan puas — sudah empat kali ngecrot bebasnya di liang kawin Aida. Malam ini puas sekali pokoknya. Tanganku yang lemah masih memerah tetek Aida, sementara Aida membelai-belai Aseng junior. Mungkin berharap dia masih bisa bangun. Kupepet tubuhnya sampai ia tak bisa berbuat lebih pada Aseng junior. Aku hanya bisa menciumi harum rambutnya yang bercampur keringat. "Udah banyak kali masuk bibit anakku... mudah-mudahan ada yang jadi ya, Aida?" bisikku, masih mempermainkan pentil susunya perlahan. Aku tidak menjelaskan padanya tentang pertarunganku dengan dukun kimak yang sudah mengguna-gunainya dan Agus — kalau memang mereka sesungguhnya sudah sembuh, jika guna-guna itu benar menjadi penyebab mereka tak kunjung dikaruniai anak. "Mudah-mudahan ya, bang... ini seharusnya masa suburku... mudah-mudahan jadi anak... anak dari bang Aseng... yang mirip Salwa..." lirih ia berkata.
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 05
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal