←18+
← Bb M - Baby Maker (Ribak Sude Story)

Episode 07 — Bb M - Baby Maker (Ribak Sude Story)

EPISODE 07
Episode 7 Empat malam berturut-turut kusambangi rumah Aida di tengah gelap. Agus, suaminya yang kerja shift malam, tak pernah tahu bahwa bini indahnya sudah berkali-kali kutunggangi sampai kucrot berulang-ulang di dalam liang kawinnya. Apalagi kebetulan istriku sendiri sedang datang bulan dan sering merasa kurang enak badan. Berkat Aida, birahiku masih ada tempat menumpahkan semuanya. Biasanya aku keluar dari rumahnya pukul setengah lima pagi, setelah lebih dulu mengintip keadaan sekitar dari celah pintu. Kalau sudah yakin aman, barulah aku melengos pulang ke rumah, menemani istriku yang sedang terkapar lemas. Empat hari itu pun terkuras habis. Hari kelima adalah hari Minggu, dan Agus pasti ada di rumah. Seharian penuh. Di permukaan, kami berdua tetap bertingkah normal. Aida tetap ramah, tetap meminta menggendong Salwa saat aku membawa anakku berkeliling gang. Kami tetap bercanda khas tetangga, hangat di luar, terbakar di dalam. --- Aida Empat malam yang luar biasa. Empat malam penuh eksplorasi kebinalan yang terus memuncak. Aida makin lama makin berani, makin ekspresif menunjukkan sisi jalangnya yang selama ini terkubur. Aneka posisi dan gaya kami peragakan, dan anehnya, sebagian besar ide liarnya justru datang dari perempuan itu. Ia menyepong kontolku tanpa rasa malu sedikit pun — padahal menurutnya, seumur hidupnya belum sekali pun melakukannya pada suaminya sendiri. "Sebagai gantinya aku nggak bisa menciummu, Da," katanya sambil tersenyum nakal. Ia bahkan tak ragu mandi kucing padaku. Seluruh tubuhku dijilatinya dari ujung kaki sampai ujung telinga. Kulitku merinding kesemutan dibalur lidahnya yang hangat dan lihai itu. Lalu kugenjot ia berdiri menghadap cermin di dinding. Pantatnya kutinggungkan sedikit supaya kontolku mudah masuk. Aseng junior memompa lancar banget karena liang kawin Aida sudah becek kebangetan. Keluar-masuk dengan cepat sambil kuciumi lehernya yang harum. Aku nggak berani bikin cupang di sana — nanti dicurigai orang. Lagipula sampai sekarang aku nggak ngerti serunya ngecupang. Merah-merah doang. Kerokan aja lebih keren. Ekspresi Aida saat kugenjot dari belakang sangat binal. Mulutnya menganga, uap napasnya mengembun di permukaan cermin, matanya sayu sampai hanya kelihatan putihnya saja. Rasanya nikmat banget proses penghamilan ini. Aku senang-senang saja. Bisa crot bebas di dalam bini orang, yang kuharap bisa kuhamili. Bukannya mauku jadi begini — salahin aja Agus yang nggak bisa memuaskan bini sendiri dan tak kunjung menghamilinya. Ditikung tetangga kan nggak salah? Aseng junior mulai terasa geli-geli enak. Sudah hampir lima belas menit aku menggenjot Aida dalam posisi berdiri ini. Lututku lemas karena harus menekuk terus. Perutku beradu dengan pantat seksi telanjang Aida, kedua tanganku meremas-remas teteknya yang kenyal. Aida mengaduh-aduh, tubuhnya gemetar hebat pertanda orgasme menjemput. Ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang dan kutampung dengan kedua lenganku. Kelamin kami lepas sejenak saat kuseret ia ke ranjang. Sebelum kumasukkan lagi kontolku ke liang kawinnya, kuposisikan ia telentang dengan kaki tergantung di tepi ranjang. Kusedot dulu vaginanya, kujilat sekilas cairan orgasmenya yang rasanya segar dan asin, lalu kontolku meluncur masuk lagi. "Akh... bhaanng... ehnak-ehnak kali, bhang..." desahnya, tubuhnya melengkung, dadanya semakin membusung ke atas. Kupegangi pinggulnya dan mulai memompa lagi. Aseng junior sudah terasa linu nikmat di ujungnya. Bentar lagi muntah. Bongkar muatan di dalam liang kawin Aida — kali pertama di malam keempat ini. "Daa... hamil, Daa... hamil, Daaa... ugh... uh..." kejapku sambil menekan sedalam-dalamnya. Kontolku berkedut-kedut beberapa kali, menyemprotkan spermat jauh-jauh ke dalam rahim Aida. Dalam hati aku selalu berdoa, semoga satu saja dari jutaan spermaku berhasil membuahi sel telurnya dan tumbuh jadi janin. Entah yang malam-malam sebelumnya, atau malah malam ini. Bantal kembali kupasang sebagai ganjalan bokongnya supaya spermatku nggak bocor keluar dan bisa merembes masuk ke rahim. Di masa subur seperti ini, semua harus dioptimalkan. Kalau bisa milih, Aida lebih pengen bayi perempuan biar persis Salwa. Tapi laki-laki juga nggak apa-apa, katanya, soalnya bakal ganteng juga kayak Rio. Pokoknya yang penting bayi. Perempuan atau laki-laki, yang penting berisi. Aida mengelus-elus perutnya sambil mengaku setiap kali mengelus, ia berdoa agar cepat hamil. Aku berbaring di sampingnya, masih terengah-engah. Ia mengambil tanganku dan menciumnya berulang-ulang. Yang beginian masih kubiarkan, masih dalam batas wajar. Kontolku yang setengah ngaceng kubersihkan dengan handuk kecil yang memang sudah disiapkan Aida. Sambil terus mengusap perutnya, tangannya kembali mengocok aseng juniorku agar bangun lagi. "Besok kita stop dulu kan, Da?" kataku mengingatkan bahwa besok Agus ada di rumah seharian. "Iya... cepat sekali ya hari Minggu..." jawabnya kesal. Kami cuma bisa main saat Agus dapat shift pertama — masuk jam sebelas malam, pulang jam delapan pagi. Rotasi berikutnya baru kembali ke shift itu tiga minggu lagi. "Minta sama lakikmu aja besok-besok... siapa tahu dia sudah bisa..." godaku asal-asalan, sambil menikmati kocokan tangannya yang sesekali meremas gemas. "Walah... paling goyang bentar terus crot... apa enaknya..." kesalnya lagi. "Eits, Aida... nggak boleh gitu... ingat perjanjian kita... jangan baperan..." kataku mengingatkan syarat pertamaku. "Si Agus cuma kurang olahraga itu... biar nggak apa-apalah... Aida ajak dia olahraga... sepotsapot pagi kalian berdua... biar makin sehat... Aida pun makin seksi..." kataku sambil modus meremas teteknya. "Ish... dia nggak pernah mau, bang... capek aku nyuruh dia olahraga... badannya aja yang dibesar-besarkan... kontolnya pun makin kecil kutengok..." jawabnya makin gemas meremas kontolku sampai aku sampik sakit. Sumpah, sakit cuy! Lalu ia menarik kontolku ke arah mukanya, mengarahkannya ke bibirnya, sementara bokongnya masih terganjal bantal. "Ini yang paling paten kurasa..." katanya. Lidahnya langsung menari lincai menjilati kepala kontolku. Padahal debutnya baru di malam kedua, dan malam keempat ini skill-nya sudah level ahli. Ia menyedot-sedot hanya bagian kepala helmnya saja sampai aku linu setengah mati. Aku sampai harus meremas-remas rambut sendiri karena nikmatnya luar biasa. "Enak kali, Da... di mana kau belajar itu? Nikmat banget kurasa..." pujiku. Ia cuma tersenyum sebentar, lalu kembali menyedot. Tak lama, ia sudah memasukkan batang kontolku dalam-dalam ke mulutnya sampai mentok, mata terpejam rapat. Aku yakin banget dia belajar dari nonton bokep. Dari situlah jurus-jurus nikmat begini gampang dipelajari. Lidahnya menjulur keluar mengakomodir besar batangku yang panjangnya bisa mencapai lima belas senti kalau ngaceng berat seperti sekarang. Istilahnya, deep throat. Wah! Paten kali lah Aida ini. Paok banget deh si Agus itu. Kemudian kugenjot mulut Aida pelan-pelan. Kupegangi rahangnya, pinggulku bergerak maju mundur sambil kukangkangi dadanya yang masih terganjal bantal di bokongnya — masih dalam program meresapkan spermat ke rahimnya. "Daa... enak kali, Daa... semua lobangmu enak kali, Daa..." Erangku. Ia menghisap kontolku nggak tanggung-tanggung. Kek vacuum cleaner, kurasa. "Udah-lah... nanti keluar di mulutmu... sayang... keluar di sini aja..." buru-buruku mencabut kontolku dari mulutnya. Bibir dan dagunya belepotan liur yang sengaja ia biarkan. Wajahnya makin seksi begitu. Kuarahkan kepala kontolku ke liang kawinnya yang masih terbuka, bergenangan spermat. Dalam posisi berdiri, kupompa lagi — masuk lancar jaya karena keadaan sudah becek banget. Kudorong Aida sampai kami pindah ke tengah ranjang yang sudah kusut tak berbentuk. Kugasak terus ia dengan goyangan sedang. Tiap sodokanku selalu dalam sampai pahaku membentur pangkal pahanya. Ini sengaja kubuat — untuk mendorong semua spermatku sebelumnya berkumpul di dalam rahim. Untuk menambah rangsangan, aku menyusu di teteknya. Kusedot dan kuremas kiri-kanan bergantian dengan gemas. Aida mengerang keras, kepalanya dibanting-bantingnya ke segala arah. Lalu limitku datang. Dengan sodokan terakhir yang dalam, kubenamkan lagi semprotan-semprotan bibitku ke sanubari rahimnya. Hangat spermatku memenuhi kembali ruang pembentukan janin itu. Kami berdua terengah-engahan, tenggelam dalam ekstasi malam kedua itu. Kami saling berbaring, bercanda dan saling memuji setelahnya. Sayang banget, aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menciumnya. Padahal ekspresi paling pas setelah bercinta sepanas ini ya lewat ciuman. Aida juga merasakan hal yang sama sejak sentuhan pertama kami. Tapi janji tetap janji. Itu prinsip. --- Lima belas menit kemudian, setelah berhasil membangunkan lagi kontolku dengan kocokan tangannya yang halus, Aida minta mencoba posisi baru. Padahal posisi ini nggak direkomendasikan buat program hamil: WOT alias Wadon On Top. Tapi ya namanya juga pengen — apalagi entah kapan kami bisa main lagi. Aida duduk di pahaku. Cairan spermat yang terdeposit di liang kawinnya meluncur keluar mengikuti gravitasi. Beberapa lelehan kental mendarat di pahaku saat ia beringsut maju menduduki selangkanganku. Aida menutupi kemaluannya dengan telapak tangan untuk mencegah cairan berhargaku keluar lebih banyak, lalu ia berjongkok mengangkang di atas tubuhku. Ia memegangi kontolku dan mengarahkannya ke mulut liang kawinnya. Rasanya enak seperti biasa — hangat, becek, lengket. Seluruh batang kontolku sukses terbenam sampai mentok. Aida mendongak melengkung karena baru pertama kali liang kawinnya dijejali sedalam itu. Spermatku pun tak bisa dicegah mengucur deras dari sela-sela kemaluannya yang penuh. Aida tak peduli. Ia mulai bergerak. "Aashh..." desahnya saat gerakan naik-turun pertamanya terjadi, kepala kontolku menggerus mulut rahimnya. Enak sekaligus nyeri — mungkin ngilu baginya. Kubantu dengan meremas teteknya dan memilin pentilnya. Ia mencoba bergerak lagi dan mendesah lagi. Akhirnya ia beralih ke gerakan maju-mundur, mengulek batang kontolku di liang kawinnya yang sempit. Cara ini lebih nyaman buatnya, dan ia mengulanginya tanpa masalah. Ulekan Aida makin menggila sampai gerakannya mirip joget dangdut fenomenal itu. Ngebor, boy! Tak terperi rasanya. Enak kali, boy! Melawan gerakan ngebor fenomenal itu, aku cuma bisa meremas kenyal kedua tetek Aida bersamaan. Gerakannya makin liar dan cepat. Putarannya makin acak — kadang searah jarum jam, sekali waktu melawan arah jarum jam, kadang cuma maju-mundur menggerus kontolku sampai mabuk. Ia juga mendesah-desah keenakan, persis yang kurasakan. Kalau begini terus, limit waktuku nggak akan normal lagi. Padahal baru belum sepuluh menit Aida bergoyang. "Akhh... aahh... akhh..." erang Aida menegang. Kaki dan pahanya yang mengapit perutku menggeletar seperti kesetrum. Tubuhnya luruh ke depan, menerpaku. Untung tadi aku masih meremas teteknya, jadi bisa menahannya supaya nggak menimpuku tak terkendali. Kepalanya tersandar di samping leherku, teteknya menekan dadaku. Liang kawinnya berkedut-kedut pertanda orgasme. Napasnya menerpa leherku keras, terasa hangat sekali. Kuelus-elus punggungnya yang lembab keringat. "Lagi, bang..." katanya, menyandarkan pipinya di dadaku. Aku mulai menggerakkan pinggulku naik-turun. Kontolku merangsek keluar-masuk di liang kawin Aida yang becek. Kali ini aku yang mengatur tempo — tadi hampir jebol pertahananku gara-gara ngeboran dahsyat itu. Untung Aida dapat duluan. "Mmm... mmm..." gumam Aida merasakan lesakan kontolku yang perlahan tapi teratur menggenjot liang kawinnya. Kuciumi ubun-ubunnya yang tepat di depan mataku. "Cup!" — dengan cepat dan tiba-tiba, Aida mematuk bibirku dengan bibirnya, lalu buru-buru menyandarkan lagi pipinya ke dadaku. Waduh! "Eh! Aida curang, ya?" kataku kaget, lalu meremas kedua buah dada gemas. Ia terkikik geli karena ulahnya barusan. Kuremas-remas terus teteknya sementara kontolku terus menggenjot makin cepat. Aida meremas bisepku dan juga mengecupi kulit dadaku. Sekali waktu lidahnya menjulur dan menggelitiki putingku sampai aku bergidik. Begitu tahu aku kegelian, Aida makin semangat menggelitiki puting dadaku dengan lidahnya. Terasa dingin dan geli abis. Ia menemukan mainan baru. Aku makin blingsatan keliarannya sampai gerakan genjotanku jadi tak teratur. Tak tahan, aku berusaha bangkit menghindar — dan duduk adalah pilihannya, sampai akhirnya posisiku sekarang memangku Aida. Kontolku tetap terendam dalam di liang kawinnya, dan karena posisinya lebih tinggi, teteknya pas di depan mataku. Balas dendam: kuulum puting teteknya, ganti perlakuan ia barusan. Ia mendesah-desah keenakan, meremas-remas rambutku gemas, menciumi rambutku dan memeluk kepalaku berkali-kali sambil bergoyang naik-turun pelan — pertemuan kelamin kami tetap terpompa walau perlahan. Kubantu menggerakkan tubuhnya. Lalu mata kami bertemu, sementara genjotan makin pelan. Gerakannya lembut sekali, syahdu sekali. Kaki Aida melingkar di pinggangku, tangannya melingkar di bahuku. Tanganku memeluk pinggangnya, kakiku melebar menahan tubuhnya. Entah bagaimana mulainya, kami malah saling mengulum bibir, hanyut dalam suasana yang begitu indah. Saling pagut dan kulum. Lidah saling dihisap bergantian, tukar-menukar ludah pun terjadi. Melupakan janji dan syarat... "Ahh..." kami berdua mencapai puncak bersama-sama. Spermatku menyemprot lagi di dalam liang kawinnya, menambah becek. Hangat yang kami rasakan berdua, dan kami berpelukan dalam rasa rindu yang dalam sekali. Kami tak peduli lagi apakah yang barusan akan menghasilkan janin. Kami cuma saling berpelukan, saling mengulum bibir seperti rindu berpuluh tahun. Berguling-guling bergantian — siapa yang di atas — memberikan ciuman terbaik kami. --- Malam itu jadi terakhir kalinya kami berdua sempat main. Dua minggu kemudian, kutangkap kabar dari tetangga bahwa Aida sedang tidak enak badan, mual-mual terus. Banyak yang memberi selamat karena akhirnya ia berhasil hamil walau masih sangat dini. Katanya ia sudah tes pakai test pack dari apotek dan sudah periksa ke bidan. Hasilnya: positif, Aida hamil. Wah. Aku memang joss ternyata. Bisa langsung hamil beneran tuh si Aida. Bagus deh Aida hamil. Aku turut senang dan bahagia. Tapi ya aku ekspresikan biasa saja di depan orang-orang. Di dalam hati, aku berteriak girang — itu anakku yang ada di rahimnya! Aku yang selama empat malam selalu menyiramkan bibitku ke dalam perut perempuan cantik dan seksi itu. Dalam empat malam aku berhasil menghamilinya, menggantikan lakiknya yang nggak becus menunaikan tugas reproduksinya. "Akhirnya hamil juga ya Aida... kasian udah lama nggak punya anak... akhirnya kesampaian juga..." kataku berbincang sore itu dengan istriku yang sedang memakaikan baju pada Salwa, bersiap jalan-jalan sore keliling gang. Aida tak kutemui seperti biasa — tak mencegat di depan rumahnya, karena ia sedang terus berbaring di kamarnya, kondisinya lagi tidak fit. BBM-ku yang menanyakan kabar pun tak dibalasnya. Sampai segitunya keadaannya. Tapi memang begitu adanya. Namanya juga lagi berbadan dua. Selamat deh untuk Aida yang keinginannya terpenuhi. Semoga bisa menjaga anakku dengan baik ke depannya. Adik Salwa itu, kan?
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 06
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal