←18+
← Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

Episode 01 — Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

EPISODE 01
Episode 1 Aku Dino, tiga puluh tahun, sudah berkeluarga dan punya anak. Aku bekerja di perusahaan keluarga seorang keturunan — dari direktur, wakil direktur, sampai manajer, semua atasanku diisi kakak-beradik dari satu marga. Dan di sinilah semua cerita ini bermula. Karena kesombongan dan galaknya manajerku — Ci Jeny, begitu aku memanggilnya. Umurnya tiga puluh lima. Cantik, putih mulus, dengan body yang lumayan sexy untuk ukuran ibu-ibu kantoran. Posisiku di perusahaan itu supervisor lapangan merangkap kepala gudang di pelabuhan. Siang itu, saat aku sedang beraktivitas di pelabuhan, HP-ku berbunyi. Kulihat layar — Ci Jeny yang menelepon. "Halo... iya Ci, ada apa?" tanyaku. "Nanti pulangnya kamu beliin saya nasi ayam. Sambelnya minta yang banyak, sayurannya dipisah, sama teh panas. Terus bawa ke kantor. Itu saja." Katanya begitu lalu tutup. Baru saja aku mau bertanya sambelnya yang mana, pembicaraan sudah diputus. Setelah pekerjaan beres, kupenuhi pesanannya. Komplit, sesuai yang diminta. Perjalanan ke kantor makan waktu sekitar tiga puluh menit. "Ci, ini pesanannya," kataku sambil meletakkan plastik di atas mejanya. "Lama amat sih. Jadi telat aku pulangnya. Sekarang kamu anterin pulang, nanti baliknya naik ojek saja." Dia membuka bungkusan itu sambil bicara. "Ini bukan sambel goreng ya? Terus tehnya juga sudah dingin. Ga pernah beres kalau disuruh." Dia mengomel. Karena sudah terlalu sering begitu, aku sudah kebal. Malah aku sibuk memperhatikan bibirnya yang geram-geram marah. Hem... cantik judes. Coba bibir itu kucek, kugigit biar ga bawel, gumamku dalam hati. "PAK!.. Ci Jeny membanting buku di meja. "Kurang ajar banget sih lo! Ngapain juga lihat sampai begitu!" Sergahnya membangunkanku dari lamunan. "Maaf Ci... saya nggak lihat apa-apa kok," kataku berbohong. Setelah memasukkan makanan itu ke tas, dia berdiri dan mencari kunci mobil di laci — sikap itu membuatnya sedikit menundukkan badan. Wow... rezeki nih. Teteknya mulus, walaupun nggak terlalu gede, kelihatan dari celah kemejanya. Kontolku langsung berdiri tanpa basa-basi. Aku buru-buru keluar ruangan. Daripada ketahuan, gawat. "Ci, saya tunggu di depan ya," kataku. "Sudah puas mata lo lihat punya aku? Kurang ajar ya!" Byur — aku disiram air dari gelasnya. "Lihat apa Ci? Saya lihatin apa?" jawabku sambil berlalu pergi. Makin lama aku di situ, makin kacau nanti. Waduhh... jalan tol macetnya parah. Bisa pulang malem urusannya, kataku sambil mencolek spion. Dari spion tengah, tampak Ci Jeny sudah tertidur di kursi penumpang. "Citt!" Aku menginjak rem mendadak gara-gara melihat mobil di depanku berhenti. Untung tidak menabrak. Tetapi tidak beruntung untuk orang di dalam mobil. "Mata lo lihat ke mana, Din! Tolol banget sih bawa mobilnya! Lagi tidur malah kejedot!" katanya sambil memegangi jidatnya. "Eh... lo ketawain aku??" katanya kesel melihat aku menahan senyum. Aku tidak menjawab. Mending diam. Sampai di rumahnya sudah malam, jam tujuh. Suaminya sedang duduk di teras. Setelah menyerahkan kunci mobil ke supir, aku pamitan. "Koh, saya langsung pulang ya." "Kamu naik apa?" tanya Koh Ahan. "Ojek, Koh. Biar cepet, sudah malam soalnya," jawabku. "Ya sudah, makasih. Nih, buat bayar ojeknya." Dia menyerahkan lima puluh ribu. "Makasih, Koh." "Hemm... besok pasti pengennya anterin pulang lagi kalau dikasih uang begitu," suara Ci Jeny tiba-tiba dari sampingku. "Hehehe... saya pamit, Ci," jawabku sambil buru-buru meninggalkan rumah itu. --- Pagi harinya, jam sembilan, aku datang ke kantor untuk absen. "Dion, beliin buku sama kertas HVS di toko depan," suruh seorang staf perempuan yang sok berkuasa dan senang car mukanya ke bos. "Mba... saya di sini bukan OB dan bukan orang kantor. Saya orang lapangan. Dan yang bisa suruh-suruh saya di kantor ini cuma bos," kataku sewot. "Kan saya suruh kamu karena OB-nya lagi keluar," jawabnya. "Terus nyuruh saya kayak gaji saya aja," balasku. "Dino...!" Terdengar suara Ci Jeny memanggilku. "Siap, Bos! Ada apa, Ci?" tanyaku. "Bos, Ci... yang beneran kalau ngomong. Lo sebelum jalan antar aku dulu," kata Ci Jeny. "Ke mana, Ci?" "Jalan aja! Ga usah pakai banyak tanya." Jawaban yang bikin aku sewot. "Nanya salah, ga nanya nanti salah jalan diomelin... hemm..." aku mengumam pelan. "Lo kayak nenek-nenek ya, banyak ngedumel," katanya sambil tersenyum. Waduhhh... seperti ketiban duren kulihat Ci Jeny senyum begitu. Kelihatan cantiknya. Hampir dua tahun kerja di situ, paling tiga kali dia senyum — dan ini salah satunya. Aku mengantar Ci Jeny ke sebuah mal. Dia menyuruhku menunggu di mobil. Hampir satu jam. Aku kepingin kencing. Ah, masuk ke dalam saja, sekalian cuci mata, kataku dalam hati. Selesai dari toilet, ketika aku melewati depan sebuah resto, mataku tanpa sengaja tertuju pada seseorang yang aku kenal... Wah... itu Ci Jeny! Sama siapa, kok terlihat akrab banget — dan main suap-suapan saat makan. Jiwa penskandal-ku langsung otomatis. Kutarik HP, kufoto dan kurekam video. Tiba-tiba HP-ku berbunyi, panggilan masuk. Loh... dari Ci Jeny? Aku buru-buru mencari tempat yang aman agar suaraku tidak terdengar, tapi masih bisa memantaunya. "Iya Ci... ada apa?" tanyaku. "Din, aku masih di toko buku sama temen-temen cewek. Kamu balik ke kantor saja, takutnya lama. Nanti kalau ditanya Koh Ahan, bilang begitu," katanya, lalu langsung menutup pembicaraan. Aku jadi curiga. Kenapa Ci Jeny harus berbohong pada suaminya sendiri? Aku harus mencari tahu kebenarannya. Tidak lama, Ci Jeny keluar dari resto bersama seorang lelaki. Dan yang membuatku terkejut, lelaki itu melingkarkan tangannya ke pundak Ci Jeny — dan sebaliknya, Ci Jeny melingkarkan tangan kirinya ke pinggang lelaki itu. Bagus... Ini bisa jadi bahan untuk membuatnya tidak semena-mena lagi padaku, kalau dugaanku benar. Aku mengikuti mereka terus, sampai mereka memasuki hotel yang masih berada di sekitar mal itu. Aku mengabadikan lagi beberapa foto, lalu pulang. Hem... aku sudah memegang kunci penting untuk hidupku. Yang akan merubah Ci Jeny menjadi lembaran baru — menjadi budakku. Setelah absen, aku sengaja lewat di depan ruangan Ci Jeny. Kulihat dia sedang melihat HP sambil senyum-senyum. Yes... saatnya mulai. Bersambung...
BERSAMBUNG…
Episode berikutnya sudah tayang — lanjut baca di bawah ya.
Ep. 02 →
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal