EPISODE 02
Episode 2
Aku mengambil HP dan meng-chat dia...
"Kalau banyak senyum bikin awet muda dan tambah cantik.."
Chatku langsung dibalas.
"Kalau mau chat pake mata, salah kirim chat kamu ke aku. Dasar nggak bener.." Balasan itu akan jadi terakhir kalinya dia berbicara kasar padaku.
"Gak salah. Memang chat itu buat yang lagi seneng ketemuan temen lama, jadi senyumnya merekah, auranya makin cantik dan gemesin..." balasku.
Aku mengirim foto dia yang lagi di resto. Perasaanku campur aduk antara takut dan nekat. Kalau dugaanku benar, aku berada di atas angin. Tapi kalau salah... siap-siap kubawa angin, pecat tanpa pamit.
"Ke ruang aku sekarang lewat jalan belakang. Masuk dan langsung tutup pintunya." Balasan chatnya begitu singkat.
Dengan sedikit ragu aku berjalan ke ruangannya. Aku harus siap menerima apa pun yang akan terjadi.
Tanpa mengetuk pintu seperti biasanya, aku masuk dan menutup pintu.
"Kunci pintunya," katanya sambil menatapku tajam.
"Riniw... nanti kalau Dino datang suruh tunggu di depan. Jangan ganggu aku, mau istirahat sebentar," kata Ci Jeny melalui earphones ke bagian depan.
"Dino, maksudnya ini apa? Kamu mau main-main kurang ajar sama aku?" Kataku pelan tapi penuh wibawa.
"Coba Ci lihat yang baru..." kataku sambil mengirim video waktu dia jalan berpelukan dengan lelaki itu menuju hotel.
Duk. HP yang dipegangnya terlepas dan jatuh di meja. Wajahnya syok, mulai gelisah. Suasana hening sesaat.
"Maaf Ci, saya bisa jaga semua ini... kalau Ci Jeny mau ikut syarat saya. Kalau tidak, maaf, rumah tangga enci bisa bayangkan seperti apa."
Ci Jeny masih diam, kepalanya tertunduk, seolah malu padaku.
"Besok temui saya di hotel itu. Ci Jeny booking dan kabari saya di kamar berapa. Kalau sudah di dalam, kabari saya."
"Kamu coba ngancam saya dengan ini?" katanya.
Tapi aku yakin itu cuma pura-pura, biar seakan dia tidak salah dan dampaknya biasa saja.
"Maaf mana beraninya saya ngancam bos. Cuma kalau saya salah, bos nggak usah takut dan nggak perlu datang. Pecat saya sekarang. Permisi, tolong pikirkan tawaran saya." Kataku sambil berlalu.
Hampir semalam aku tidak bisa tidur. Kadang aku senang karena besok pasti Ci Jeny akan tunduk padaku. Tapi kadang juga aku membayangkan kalau dia nekat menyuruh orang menyikat aku... bagaimana?
Aku tertidur setelah subuh karena lelah berpikir. Ketika bangun, ternyata sudah jam sepuluh pagi. Wah, aku telat! Aku buru-buru mandi dan bersiap ke kantor. HP-ku ada notifikasi chat masuk.
"Aku sudah sampai di kamar 508 lantai 5. Kamu sudah jalan?" Ternyata chat dari Ci Jeny.
Baru kali ini dalam hidupku merasakan senang yang luar biasa.
"Lagi di jalan, tunggu ya Ci. Macet soalnya," balasku.
Dalam perjalanan sekitar tiga puluh menit, perasaanku masih seperti semalam. Kadang takut, kadang senang sampai aku tersenyum sendiri.
Aku menekan bel kamar dengan tangan sedikit gemetar. Masa sih tidak — di dalam sana ada bosku yang selama ini selalu memaki dan merendahkanku.
"Buruan masuk! Lama banget, kayak dari Hongkong saja kesinianya. Tutup pintunya!" Kata Ci Jeny sambil berjalan ke dalam.
Luar biasa... Ci Jeny berpenampilan santai dengan celana jin biru dan kaos putih berlengan panjang. Wajahnya cuma dibedak tipis dengan lipstik tipis yang membuat bibirnya semakin sensual. Yes... sebentar lagi kamu akan jadi budak nafsuku.
Aku perhatikan ketika Ci Jeny duduk, dari raut wajahnya terlihat ada rasa cemas dan ketidaksukaan dengan situasi sekarang.
"Sekarang aku sudah di sini. Tapi ingat, aku ini bos kamu, jadi jangan macam-macam. Din, aku juga minta tolong hapus semua yang kemaren. Nanti sebagai ucapan terima kasih, aku kasih uang yang cukup banyak." Katanya seperti memohon dan hendak menangis.
Baru kali ini Ci Jeny merendah di hadapanku. Yes, kartu as sudah aku pegang sekarang.
"Ci... saya sudah cukup dengan keadaan saya sekarang. Jadi maaf, saya nggak mau uang," kataku tegas.
Dia menatapku, tajam. Entah apa yang ada di benaknya saat itu.
"Terus kamu suruh aku ke sini mau apa dari aku??" katanya melemah.
"Jangan lemah begitu dong Ci. Cantiknya kurang greget. Aku suka Ci Jeny bosku yang galak, suka merendahkan aku. Jujur, kalau lagi diomelin, saya malah suka mikir — coba bibirnya yang sensual yang selalu ngomel itu aku lumat..." Kataku sedikit menyindir, tapi kutuju ke sasaran awal.
Aku lihat dia tidak marah seperti biasanya — padahal kataku seperti itu. Coba kemarin, bisa dia tampar dan pecat.
"Din... dari awal aku sudah tahu maksud kamu menyuruh aku ke sini. Dan setelah aku menawarkan uang, kamu tidak mau juga. Tapi ingat, aku sudah punya suami, dan kamu kenal baik sama dia." Katanya memelas — dan itu membuatku bersyukur. Tujuanku sudah ditebak Ci Jeny. Memang cerdas bosku yang cantik ini.
"Ci Jeny yang cantik... saya bisa paham maksud kata-katanya. Cuma, saya cuma pengen enci lakukan ke saya apa yang kemarin Ci Jeny lakukan sama temennya itu," pancingku.
"Dino... dia itu mantanku dan aku masih ada rasa sayang sama dia. Kan nggak mungkin aku harus berhubungan badan sama kamu," jawabnya.
Yes... masuk ke jebakanku juga...
"Ya sudah, kalau memang nggak mau..." Kataku sambil mengambil HP dan menghubungi suaminya.
"Halo Koh Ahan..." Baru saja aku berbicara, Ci Jeny langsung berlari ke arahku. "Aduhh, Ci!" Kataku — pasti kedengaran sama Koh Ahan. Kulihat Ci Jeny melotot padaku, dan yang membuatku kesakitan... tanpa ragu-ragu dia meremas kontolku!
"He... kenapa lo, Din?" tanya Koh Ahan.
Aku masih meringis kesakitan karena Ci Jeny masih mencengkeram kontolku erat.
"Gak Koh. Mau ijin saya hari ini gak ke kantor, mau beresin yang di lapangan. Ini barusan cinta anaknya bapak warung gigit pundak saya. Ya sudah Koh, terima kasih." Jawabku, langsung kututup pembicaraan itu.
"Ci... sakit tadi, kena telornya..."
"Untung gak aku bikin pecah telor kamu."
"Sekarang terserah kamu lah, Din. Yang penting jaga rahasia aku kemaren dan hapus. Aku tahu kamu memang suka cari kesempatan, curi-curi kesempatan. Kalau ada matamu selalu ingin menelanjangi aku. Apa lagi sekarang... sudah terbaca pikiranmu." Kata Ci Jeny berdiri dan langsung berbaring tengkurap di ranjang.
Hampir saja aku teriak kegirangan. Akhirnya... hayalan selama ini akan terwujud. Dan sekarang Ci Jeny sudah pasrah dengan keadaan.
Dengan sedikit gemetar aku mendekatinya dan rebahan di sampingnya. Dengan agak canggung, kulingkarkan tanganku ke pundaknya.
Bersambung...