EPISODE 10
Selamat pagi, salam semprot. Semoga semuanya di sini sehat walafiat dan sukses selalu. Biar nemenin ngopi pagi, silakan pilih sendiri mau ditemenin Ci Jeny atau Ci Vero. Saya siapkan dua-duanya.
Part 10
Ci Jeny keluar meninggalkan ruangan. Aku langsung menarik tubuh Ci Vero, membalikkan posisinya hingga nungging di hadapanku. Kepala penisku kugesek-gesekkan ke lubang vaginanya yang masih basah kuyup.
Hem... tubuh mahal memang beda. Kulitnya bersih, putih mulus, sampai lubang kemaluannya saja terlihat bersih dan menggoda.
"Din... sekarang..." kata Ci Vero sambil menuntun batangku ke lubang yang sudah licin oleh cairannya.
Blesss... sleepp...
Aku menekan perlahan, teratur, supaya Ci Vero bisa menikmati setiap inci kontolku yang masuk. Sementara tanganku meremas payudaranya yang keras dan kenyal dari belakang.
"Dinoo... akhh... kamu pinter banget bikin aku melayang dalam kenikmatan... sssttt..."
Hampir lima menit kami bergerak ritmis, lalu kutarik tubuhnya merapat ke dadaku. Satu kakinya kuangkat tinggi, dan mulai saat itu pula kutingkatkan kocokanku.
"Enak Din... terus... jangan berhenti... aku mau keluar lagi... ahkss... akhsss... ohhh Dino..." Rintihan Ci Vero menghantarku ke puncak kenikmatan yang sudah kesekian kalinya pagi itu.
Setelah selesai, kubopong tubuhnya yang lemas ke dalam kamar.
Ternyata Ci Jeny sudah melepas pakaiannya. Sekarang tinggal celana dalam dan bh hitam yang membungkus tubuh mungilnya.
"Jen, lo mau ganti-an?" tanya Ci Vero.
"Hemm... gimana, Din?" Ci Jeny menoleh ke arahku, alisnya terangkat menggoda.
"Gak usah ganti-an, mendingan gabung bareng. Tiga some sekalian," jawabku enteng.
"Dasar... maunya kamu itu. Cici sama adeknya mau dibarengin. Emangnya kamu kuat?" Ci Jeny tertawa kecil.
"Dicoba dulu, Ci. Kemaren kan masih ada hutang sama saya. Ingat gak?" kataku sambil menyeringai.
"Hihihi... iya deh," jawabnya, lalu langsung melepas bh dan celana dalamnya.
Gila... Ini benar-benar kejadian luar biasa dalam hidupku. Kedua wanita ini bos besar di perusahaan, ditakuti semua karyawan. Tapi kini mereka bisa jadi budak birahiku, siap memuaskan nafsumu kapan pun aku mau.
"Hei... ngapain malah bengong? Bingung ya, ada dua bidadari di depan kamu," Ci Jeny menggoda.
Aku meminta Ci Vero berada di atasku, sementara Ci Jeny jongkok mengarahkan vaginanya tepat di depan mulutku.
Begitu kontolku masuk ke dalam liang Ci Vero, kubantu dia mengejar kenikmatannya lebih dulu. Vagina Ci Jeny yang bersih, berwarna merah muda dengan aroma harum, kumainkan dengan lidahku dengan sepenuh hati.
"Dinn... ahh... sss... panjang banget punya kamu... akhhh... mentok, Din... satt..." Ci Vero menggoyang pinggulnya di atasku. Kutarik tangannya dan kuarahkan ke buah dada Ci Jeny. Awalnya keduanya menolak dan terlihat risih, tapi begitu aku berhenti bergerak—
"Iya... iya..." kata Ci Vero akhirnya, pasrah.
Kuselurupkan seluruh lidahku ke dalam lubang vagina Ci Jeny, klitorisnya sesekali kugigit kecil.
"Akhh... ahhh... sss... Din, geli banget... akhss... ohhh... aku keluar, Din..." Ci Jeny terguncang, dibantu remasan Ci Vero pada buah dadanya. Sensasi yang baru pertama kali dia rasakan membuat pertahanannya runtuh tak bertahan lama.
Kutarik kembali tubuh Ci Vero untuk memeluku erat. Pantatnya kuremas, kuangkat dan kuturunkan, dibantu dorongan pinggulku yang makin keras dan cepat.
"Yes... yes... ohhh... sss... ohhsss... hemmsss... kamu pinter, Din..." Hampir dua puluh menit Ci Vero bertahan sebelum akhirnya menjerit keras dalam kenikmatan.
Kurebahkan Ci Vero yang sudah lemas. Sekarang giliran Ci Jeny. Aku terlentang, lalu dia menaikiku. Kuberi bantal di bawah pantatnya sehingga bukit vaginanya terlihat tembem menghadap ke atas.
Tepat sasaran, langsung kugenjot tanpa ampun. Kali ini aku akan kasarin kamu, Ci, kataku dalam hati.
Kedua kakinya kukunci dengan kakiku, buah dadanya kuremas kencang.
"Din... ahhhh... kamu ini... ahh... mentok-mentok... ampun..." Awalnya Ci Jeny merasa kurang nyaman, tapi setelah beberapa saat...
"Tekan terus, Din... terus... ohhsssst... berasa banget... ohhssss..."
Kuberikan waktu hampir tiga puluh menit. Akhirnya aku pun merasakan lelah dan tubuhku mendekati klimaks.
"Ci... kita keluar barengan ya..." Kocokanku semakin cepat. Dan saat aku hendak keluar, langsung kucabut kontolku. Kuminta Ci Vero membuka mulutnya. Awalnya dia menolak, tapi entah kenapa dia langsung membukanya.
Croottt... crott...
Kutarik dan kuarahkan penyemprotanku ke wajah dan buah dadanya.
"Ahh... huk... huk... hummm... Dino... oo... kamu... hemm..." Saat dia hendak bangkit ke kamar mandi, kutahan dia. Bibirnya kulumat dalam-dalam, buah dadanya kuremas-remas sembari meratakan spermasku ke seluruh badannya.
Akhirnya kami bertiga terlentang dalam diam, sama-sama mengatur napas yang terengah-engah. Kutarik Ci Jeny dan Ci Vero untuk memeluku secara bersamaan, dan kami tertidur sampai pagi.
"Dino... bangun... hai, bangun! Jangan ini saja yang bangun!" Suara Ci Jeny membuyarkan tidurku.
Saat terbangun, ternyata Ci Jeny dan Ci Vero sudah rapi dan bersih — tentunya sudah mandi duluan.
"Sana mandi, baru kita ke kantor," kata Ci Vero yang duduk santai sambil nonton TV.
"Ehh, iya... kok gak dari tadi bangunin saya sih?" kataku sambil bangkit dari tempat tidur, masih dalam keadaan telanjang bulat.
"Repot kalau aku yang bangunin. Kita kan masih telanjang, urusannya pasti nambah lagi," jawab Ci Jeny sambil menarik tanganku dan menuntunku ke kamar mandi.
"Buruan ya mandinya," katanya.
Selesai mandi, mereka sudah siap keluar kamar. Kubergeuk cepol Ci Jeny, lumat bibirnya sebentar.
"Gantian dong, ciciku juga..." Ci Vero tersenyum nakal.
Kupeluk Ci Vero, lehernya kucium dan kjilat, lalu kutinggalkan tanda merah di buah dadanya.
"Ci, nanti setelah deket kantor saya turun terus naik ojek saja," kataku.
"Kenapa harus begitu? Kan bisa bareng," jawab Ci Vero.
"Saya gak enak sama yang lain, jangan sampai terlalu menyolok, Ci," kataku.
"Hemm... kamu ini, Din. Bikin aku semakin salut sama kamu," kata Ci Jeny.
"Salut apa sayang?" ledek Ci Vero.
"Yah, dua-duanya lah, Ci. Dasar kamu, senengnya bikin aku malu saja..."
Kami berpisah saat sudah dekat kantor. Jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi.
Aku pura-pura takut saat masuk ke kantor. Benar saja, begitu masuk, si bawel sudah sok banget.
"Jam segini baru datang? Dari tadi ditungguin sama Ci Vero, katanya."
"Ci, ini Dino baru datang," kata dia melalui earphone.
Tak lama, Ci Vero dan Ci Jeny keluar.
"Kebiasaan telat terus! Jam segini baru datang," kata Ci Vero dengan nada marah di depan orang banyak.
"Maaf, Ci. Semalam saya dikeroyok orang gara-gara nolongin dua wanita cantik. Setelah itu saya diajak ke rumahnya dan diobati pakai jamu... tapi baunya pesing," kataku.
Hampir saja Ci Vero dan Ci Jeny tertawa, tapi matanya melotot menahan diri ke arahku.
"Terus kamu nggak apa-apa?" tanya Ci Vero lagi. "Makanya jangan baik-baik banget. Sok jagoan nolongin orang."
"Gimana gak saya tolong, Ci? Ceweknya cantik-cantik lagi habis minum begitu. Bisa diperkosa kalau gak saya tolong. Ya semoga saja kalau ketemu di jalan masih ingat saya," jawabku.
"Huh, dasar ngarep banget kamu. Nah, mulai sekarang kamu pakai mobil inventaris dari kantor," kata Ci Jeny sambil menyerahkan kunci mobilnya.
"Ikut saya ke dalam. Ada kerjaan buat kamu," sahut Ci Vero sambil balik ke dalam.
Waduh, ini bercanda apa beneran? Kataku dalam hati.
"Rezekinya anak shaleh begini, mbak. Gak perlu cari muka," kataku sambil mengikuti ke dalam.
"Masih, Ci," kataku menyusul.
"Masuk, Din. Tutup pintunya," jawab Ci Jeny dari balik pintu ruangannya.
"Kamu capek gak? Kalau capek gak usah kelapangan, istirahat di dalam saja sama Ci Vero. Sebentar lagi ada tamu. Kalau sudah selesai sama mereka, nanti aku juga mau istirahat," kata Ci Jeny.
Hemm... pikiran jahatku langsung timbul, dan membayangkannya saja membuat batang penisku tegang. Aku membayangkan Ci Jeny di balik meja, kerja sambel melayani tamu tanpa pakaian bawah... gimana reaksinya nanti?
"Hei... bukannya istirahat, malah bengong," Ci Jeny menyentak.
"Ci... masih ingat sama perjanjian dulu kan?" tanyaku.
"Hemm... aku sudah lupakan itu. Sekarang intinya aku harus ikutin semua kemauan kamu. Gimana, puas?" katanya sambil memonyunkan bibirnya.
Luar biasa bosku ini. Cantiknya bikin adem pikiran. Beruntung banget aku bisa memilikinya, kataku dalam hati.
"En-ci cantik banget... hemm..." gumamku.
"Ehhhh... barusan ngomong apa? Coba ulangi yang agak keras," kata Ci Jeny sambil tersenyum.
"En-ci cantik banget, montok banget, dan hot banget," kataku tegas.
"Gak usah terlalu berlebihan begitu," katanya, tapi wajahnya terlihat jelas senang.
"Tadi kamu mikirin apa?" tanyanya.
Aku mendekati Ci Jeny, memeluknya, lalu kubisikan ke telinganya. "Saya mau enci buka pakaian bawahnya... semua."
Raut wajahnya langsung berubah — antara malu dan enggan.
"Aduh, Dino... jangan aneh-aneh deh. Yang bener aja, sekarang? Tapi... sebentar ya, soalnya tamunya sudah deket," kata Ci Jeny dengan nada cemas memelas.
"Gak boleh. Saya mau sampai nanti tamunya pulang," kataku sedikit mengintimidasi.
"Gilak ya kamu... nanti keliatan sama mereka... ahh, kacau kamu, Din. Yang lain saja ya..." katanya sambil memohon.
"Mana kelihatan? Yang penting enci duduk saja di balik meja. Nanti kalau mau atau perlu apa-apa, panggil saya," kataku.
"Gak... aku gak mau, takut kelihatan mereka, Din..." katanya sudah mau menangis.
"Ya sudah, saya permisi kalau begitu," kataku, lalu berjalan keluar dan menutup pintunya.
*Kalaupun tidak mau, sebenarnya aku maklum. Mungkin aku terlalu gila,* batin aku.
"Tuh, kamu dipanggil lagi sama bos. Disuruh ke tempatnya lagi, buruan! Tamunya udah datang," kata si carmuk.
Kubalik badan dan kumasuk lagi ke ruangannya.
"Tuh, lihat. Aku sudah telanjang bawahnya. Puas sekarang?" katanya seperti mau menangis.
"Tetapi aku minta kamu duduk di samping aku ya, Din... biar aku gak grogi," pinta Ci Jeny memelas.
"Hemm... oke lah," jawabku sambil jongkok — dan langsung kucium vaginanya yang tentu saja membuat Ci Jeny kaget aku berbuat begitu.
"Ihhh... cium itu bibir, ini bukan!" katanya manja, sambil memukul pelan pundakku.
Tak lama, terdengar pintu diketuk. Dan tentu saja... aku yang membuka pintu.
Bersambung