←18+
← Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

Episode 09 — Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

EPISODE 09
Part 9 "Lah.. Cici tadi kan janji sama Dino. Kalau bisa nolongin, mau lakukan sama Dino.." Tiba-tiba Cici Jeny menjawab dengan nada ketus, sepertinya dia marah besar sama Cici Vero. "Aduh.. Kamu sudah dipelet sama dia! Buka matamu, Jen.. Malah belain dia!" "Bukan masalah dipelet atau nggak, intinya janji harus ditepati!" balas Cici Jeny tak mau kalah. "Sudah.. Ci Jeny sabar ya. Biar saya bicara sebentar sama Cici Vero yang terhormat ini," kataku menengahi. "Saya nggak masalah kalau Cici Vero mau mengingkari semua perkataan tadi. Saya juga kurang minat, saya masih ada Cici Jeny yang mau kapanpun nemenin saya.." Kataku sambil melirik Cici Jeny yang tersenyum malu. "Cuma ada satu hal yang mungkin nggak berarti juga buat Cici Vero. Tadi waktu Cici Vero tidur, yang masuk itu ambil HP-nya. Untung saya lihat, dan sudah saya amankan." "Ya udah, sini balikin!" katanya sambil mengulurkan tangan, meminta HP-nya. "HP saya balikin, tapi file di dalamnya sudah saya copy semua. Wow.. mantap sekali goyangannya.." Kataku dengan nada seenaknya — padahal itu cuma gertakan, karena memang posisi kami buntu setelah Cici Vero ngotot tidak menepati janjinya. "Hah?? Goyangan??" sahut Cici Jeny langsung menangkap api. Seolah ada listrik menyambar, wajah Cici Vero berubah pucat. "Itu.. itu kejadian sudah lama, Jen. Tiga tahun yang lalu. Dan aku sudah nggak sama dia lagi.." kata Cici Vero tergagap. Yes.. yes.. keberuntungan memang sedang berpihak padaku. "Din, jangan kamu sebar itu! Kamu lihat waktu aku di atas, jelas banget wajahku dicloseup!" Cici Vero makin panik. "Din, kita ke luar bentar.." Cici Jeny menarik tanganku ke balkon. "Din, beneran yang kamu lihat seperti itu? Coba, mana HP-nya.." tanya Cici Jeny serius. "Ci.. sebenarnya saya juga belum lihat. Saya asal bilang aja, karena Cici Vero ingkar janji.." jawabku jujur. "Hemm.. dasar kamu ini. Sekarang kirim ke aku. Nanti seandainya kamu dijebak sama Cici, aku punya videonya. Buat pegangan kita kalau sampai Cici macem-macem. Dia itu susah ditebak.." Kata Cici Jeny — dan anehnya, dia terdengar senang sekali. "Ci Jeny.. nggak apa-apa saya begitu sama Cici Vero? Nggak ada rasa cemburu?" Kataku sambil mengawasi reaksinya. "Yee.. cemburu ya nggak lah. Paling kalau lihat itu, aku malah ikut terangsang. Kecuali kalau kamu berani begitu sama perempuan lain di depanku — aku potong kecil-kecil titit kamu ini!" katanya sambil meremas penisku lewat celana. Luar biasa.. Cici Jeny sekarang hampir sempurna menjadi budakku. Tapi aku harus membuatnya benar-benar bertekuk lutut nanti. Sekarang, giliran Cici-nya yang akan menerima pembalasku. Setelah foto dan video terkirim ke HP Cici Jeny, kami masuk lagi ke dalam. "Cici! Gila lo ya! Coba kalau sampai HP ini dibawa begundal tadi.. bisa viral lo, Ci!" Kata Cici Jeny membesar-besarkan. "Jadi sekarang ini aku harus gimana, Jen?" tanya Cici Vero lirih. "Kok tanya aku? Tanya ke Dino, yang sudah Cici janjiin.." jawab Cici Jeny ketus. "Saya akan bikin semuanya aman. Cici Vero tidak usah khawatir. Cuma ada syaratnya yang harus diikuti.." Kataku tegas, memandangnya tajam. "Aku harus ngelakuin sama kamu??" Cici Vero menahan napas. "Itu salah satunya. Yang lebih lengkapnya: mulai sekarang, Cici Vero harus ikut semua kemauan saya. Apapun itu, di mana saja, dan kapanpun." "Sudah, tinggal bilang 'ok' saja, jalani beres, Ci. Nanti jangan kaget kalau Cici dibikin teriak-teriak sama si Dino.." kata Cici Jeny sambil menyeringai ke arahku. "Maksudnya..?" tanya Cici Vero bingung. "Maksud Cici Jeny begini, Ci.." Kataku sambil menunjukkan video di HP-ku. "Dino.. okhsss.. ahkss.. jangan disedot begituuu, yaaa begituuu.." Terdengar jeritan Cici Jeny dari speaker, waktu aku oral memek-nya kemarin. "Dino!! Gila kamu! Kapan itu kamu ambil? Jahat ya sama aku.." katanya sambil menggigit pundakku. "Aduh.. ampun, bosku yang cantik.." kataku sambil mengelus pipinya. "Awas nanti.." katanya, wajahnya memerah malu. "Waouww.. sampai merinding aku lihatnya. Kamu nggak jijik, Din? Pasti rasanya geli campur gimana gitu.. Ternyata kalian berdua diam-diam ada main juga.." Kata Cici Vero. "Bukan sekadar ada main, Ci. Ceritanya panjang. Tapi kalau nggak ada Dino, suatu saat rumah tangga gw bisa berantakan.." balas Cici Jeny. "Gimana, Ci Vero? Sanggup atau nggak, ibaratnya jadi budak saya? Akan saya bikin menjerit-jerit.." Kataku sambil memancing birahinya dengan pandangan. "Ok lah.. sekarang aku harus bagaimana?" katanya pasrah. "Sekarang Cici Vero mandi saja, biar bersih dari bekas preman bau tadi.." Kataku. Begitu Cici Vero masuk ke kamar mandi, aku langsung merangkul Cici Jeny. Aku nggak kasih kesempatan dia berkata apa-apa — langsung kulumat bibirnya yang tipis itu. Kami beberapa saat larut dalam rasa, dan ketika tanganku mulai merangkak naik mengangkat bajunya.. "Sana sama Cici Vero, bikin dia takluk ya. Sama aku nanti juga nggak apa-apa, lagian aku bau muntah kan.." Kata Cici Jeny sambil mencium bibirku sekali lagi. Aku segera menuju kamar mandi. Luar biasa, Cici Vero. Usianya cuma beda dua tahun dari Cici Jeny, tapi body-nya lebih tinggi dan buah dadanya lebih besar. Melihatku masuk, dia buru-buru menutupi tubuhnya. "Dino.. ke sini aja, jangan dilihat begitu.. ihh, jadi malu.." Kata Cici Vero. Aku melepaskan semua pakaianku hingga telanjang bulat, lalu masuk dan memeluknya hingga kami berdua sama-sama basah oleh air shower. "Rileks saja, Ci. Jangan tengang begitu. Emangnya saya mau berbuat jahat?" Kataku. "Aku malu di depan kamu seperti ini.." jawabnya pelan. Aku tidak menjawab lagi. Aku memeluk tubuh putih itu dari belakang, mematikan shower. Mulai dari leher putihnya kucium dan kugigit kecil-kecil, dan ketika lidahku menggelitik ke dalam telinganya— "Hemssss.. ahh.. geli.." desahnya. Tanganku tidak tinggal diam. Kuremas buah dada yang super padat itu, kucubit_putus putingnya sampai dia menggeliat. Aku minta Cici Vero sedikit melebarkan kakinya dan menunggingkan pantatnya. Ciumanku terus bergulir ke bawah. Aku mengambil posisi jongkok di belakang Cici Vero yang setengah menungging. "Ohhassstt.. hemmm.." Desahannya kembali terdengar ketika lidahku bermain di lobang pantatnya sambil kusekat sedikit. "Owhhs.. gila, Jen.. Dino, jangan dimasukin gituuu.. auuu akhhhsss.." teriaknya kencang. Tidak sampai di situ — jariku sudah bermain di lobang kemaluannya. "Ahksss.. Din.. ahksss.." Kembali, jeritan lebih sering daripada erangannya. Aku perhatikan kakinya sampai gemetar. "Dinn.. sudah.. aku nggak tahan.. ngilu ya, tapi nikmat.." Ketika kocokanku semakin cepat, aku pindah ke depan, menyapukan lidahku ke lobang vagina-nya, dan ketika clitoris-nya ku hisap– "DINNOO.. kamu gilaaa.. akhsas.. ser.. ser.. Dino, aku bisa sampai nyemprot air kencing ke muka kamu! Maaf, Din.. aku nggak tahan!" Kata Cici Vero. "Hihihi.. pesing deh muka Dino.." Kata Cici Jeny — ternyata dia sudah ada di situ, sambil merekam video apa yang barusan aku lakukan. "Baru kali ini lobang anus-ku dijilat sama dimasukin.. rasanya ngilu, tapi lama-lama geli enak. Sini, aku bersihin muka kamu.." Kata Cici Vero. "Nah gitu dong.. kan mesraan dikit.." kata Cici Jeny sambil tertawa. "Ihhh.. ngapain seh di sini, malu aku kalau diliatin.. Itu lo, direkam ya, Jen.." kata Cici Vero curiga. "Gak lah.. Tadi kesini kaget Cici teriak, taunya ke-enakan.." katanya sambil keluar dari kamar mandi. Bersambung
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 08
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal