EPISODE 11
Part 11
"Masuk, Pak. Saya Dino, pesuruh Bu Jeny," kataku pada dua lelaki yang datang berminat melihat unit mobil.
"Ini manager lapangan, Pak, yang urus bagian luar," kata Ci Jeny. Wajahnya kulihat pucat pasi.
"Bu, saya ke dalam saja ya. Ga enak ada tamu, nanti dilanjut lagi," godaku pelan.
"Dino, kamu di sini saja. Cuma tanda tangan kontrak kan, Pak, jadi ga lama."
Kulihat wajah cantik itu gelisah. Duduknya kaku, tangannya mencengkeram lipatan rok seperti menahan sesuatu yang menggelora di bawah sana. Aku nyaris tertawa melihatnya.
"Iya, Pak Dino. Soalnya saya lihat Bu Jeny lagi kurang sehat," kata tamunya sopan.
Setelah ngobrol sebentar dan kontrak ditandatangani, tamu itu pamit.
Begitu pintu tertutup kembali, Ci Jeny langsung lari ke ruangan dalam. Aku mengikuti dari belakang dengan senyum lebar.
Ci Vero tentu kaget melihat kondisi Ci Jeny yang berantakan.
"Kurang puas apa semalam, masih mau nambah di kantor begini?" sindirnya sambil ketawa.
"Cici... ini lebih parah dari itu! Aku barusan dikerjain Dino! Keadaan begini begini disuruh ngadepin tamu. Katanya 'biar greget'!" Ci Jeny mengeluh, suaranya parau.
"Hahh... gimana sih rasanya? Kalau aku sih udah ga bisa ngomong deh," balas Ci Vero malah makin riot tertawa.
"Awas ya, Din! Kalau sampai Ci Vero ga kamu gituin juga, berarti kamu ga adil, ga asyik lagi!" kata Ci Jeny dengan suara nyaris mau nangis.
"Sudah ah, kita lihat saja nanti," jawabku sambil memeluknya dari belakang, merasakan hangat tubuhnya yang masih lemas.
"Terima kasih, Ci... sudah mau turutin kemauan saya," bisikku sambil mencium pipinya yang halus.
Pov Ci Jeny
Dari awal Dino masuk kerja, memang aku kurang suka. Anaknya sebenarnya baik. Cuma setiap ketemu aku dan ada kesempatan, matanya jelalatan, bikin risih. Sepertinya dia menatapku bukan dengan hormat, tapi dengan nafsu.
Orangnya otaknya mesum banget. Sama bosnya saja dia berani curi-curi pandang.
Aku mencoba mencari kesalahan fatal miliknya supaya ada alasan memecatnya.
Tapi Dino adalah karyawan kesayangan abangku. Pintar, kerja cepat, hasil lapangannya selalu bagus. Makanya sebagai pelampiasan, aku sering memarahinya, kadang kuomongin macam-macam. Tapi herannya dia tetap saja ga berubah. Tetap sopan, tetap nurut. Cuma mesumnya jadi minus dia.
Sampai akhirnya aku harus berurusan dengan dia... karena keteledoranku sendiri. Keteledoran yang membuatku terjebak seperti ini.
Awalnya aku takut dan marah sekali. Berani-beraninya dia mengancamku, menuntut imbalan yang memalukan.
Dino... kamu siapa? Sadar diri dong, aku ini bosmu!
Tapi aku ga punya pilihan lain. Kalau suamiku tahu ulahku di luar, rumah tanggaku jadi taruhannya. Belum lagi beban moral yang bakal kuterima dari keluarga dan semua orang yang mengenalku. Akhirnya... aku terperangkap dalam cengkraman Dino.
Aku harus jadi pemuas nafsunya. Dan kadang aku harus melakukan hal-hal aneh yang tidak akan pernah kulakukan pada lelaki mana pun.
Waktu pertama kali harus berhubungan intim dengan Dino, aku gemetar. Ada yang lain dalam diriku saat itu. Awalnya aku ga bisa terima harus menyerahkan seluruh tubuh dan kehormatanku kepada lelaki yang ga kucintai, yang statusnya cuma bawahanku sendiri.
Saat aku harus telanjang di depannya, mukaku terasa panas. Campuran marah dan malu yang menjerit di dalam dadaku.
Tetapi setelah aku mencoba pasrah... rasa itu langsung berubah. Cara dia memberikan kepuasan luar biasa. Pengalaman yang belum pernah kurasakan seumur hidup. Tanpa jijik dia melakukan oral padaku, dan rasanya membuatku melambung dalam kenikmatan, lepuh-lepuh birahi yang kuingkari bertahun-tahun akhirnya pecah satu per satu.
Apalagi saat aku dipaksa mengoral kontolnya... kepingin aku gampar mukanya. Kurang ajar dia memperlakukan aku. Tapi anehnya, justru di situlah aku sadar aku sudah tenggelam.
Berjalannya waktu, Dino berhasil mengubahku. Perhatiannya, tanggung jawabnya menjaga aku, kekonyolannya... semuanya terangkum dalam kehidupan yang selama ini ga pernah ada. Dan itu nyaman. Asyik. Bahkan aku sekarang merasakan ada bagian dalam hidupku yang bertahun-tahun hilang, kini hadir kembali lewat dia.
Semakin hari aku semakin terbawa pada rasa nyaman ini. Dan kini rasa takut itu berubah arah... rasa takut itu muncul justru ketika Dino tidak bersamaku.
Pov Dino
Seperti biasa, pagi-pagi aku ke kantor. Mau ga mau, aku sekarang jadi karyawan kesayangan bos. Ada yang nyinyir, ada juga yang senang dan mendukung. Mereka taunya karena kerjaku di lapangan bagus, jadi aku bisa dekat dengan bos. Coba kalau mereka tahu bosnya sekarang jadi budakku... bisa jantungan semua.
Sekarang aku keluar-masuk ruangan ga ada yang berani tegur. Mau ngapain, ada bos besar, nanti dimarahin. Tapi aku tetap menjaga jarak, tetap menghormati Ci Jeny dan Ci Vero di depan karyawan kantor.
Baru aku mau masuk ke dalam...
"Pagi, Din... udah sarapan belum?" sapa Ci Jeny. Pagi itu dia terlihat cantik gemesin.
Pakaianya santai, rambut dikuncir ke belakang, rok pendek biru, kaos berkerah biru muda, sepatu putih. Sekilas mataku melirik ke pahanya yang mulus.
"Hei... ditanya malah bengong. Liatin apaan?" tanyanya.
Dan tentu saja semua orang di ruangan itu menoleh ke arahku.
"Pagi juga, Ci... bos cantik. Ehh, maaf, maksud saya... hemm... belum sarapan, Ci," jawabku seolah takut dan keceplosan ngomong cantik.
"Hari ini saya kelapangan atau ke mana, Ci?" tanyaku hormat. Padahal semalam Ci Jeny sudah chat, hari ini dia mau ngajakku nemenin main golf.
"Kerjaan udah beres kan yang di lapangan?" tanyanya.
"Udah, Ci. Cuma rumputnya terlalu lebat, jadi biar nanti saya yang rapihin ya?" kataku sambil tersenyum. Kulirik kanan-kiri, ga ada yang melihat ke arahku.
Reaksinya langsung kulihat. Melotot, lalu cemberut memunculkan bibir bawahnya. Hemm... tambah cantik saja amoyku, kataku dalam hati.
"Hemm... ya sudah, kamu saja yang rapihin. Kan kamu yang tahu rapih atau ga-nya. Biar dari dalam kelihatan bersih dan enak dilihatnya," jawabnya.
Jawaban yang membuatku ga kuasa menahan tawa.
"Apanya yang lucu, kok malah ketawa?" dia menggeplak tanganku pelan.
"Ga ada, Ci, maaf. Mau jalan sekarang?" tanyaku.
Sebab semalam, setelah chat, aku minta VC sebentar. Dan aku minta Ci Jeny telanjang bulat, jalan-jalan di balkon rumahnya. Waktu itu sudah jam sepuluh malam.
Seperti biasa, awalnya dia ngotot ga mau. Setelah kuputuskan HP-ku, beberapa detik kemudian VC-ku nyambung... dan dia sudah dalam keadaan bugil total. Dengan takut-takut dia berjalan di balkon rumahnya yang menghadap langsung ke jalan raya, tangan menutupi teteknya yang padat, tiba-tiba saja aku mendengar dia bertanya pelan.
"Din... menurut kamu tubuhku kelihatan gemuk ga? Soalnya beberapa hari ini aku makan bisa enak. Apalagi kalau makannya ada kamu..." katanya sembari malu-malu memutar tubuhnya perlahan di depan kamera.
"Tubuh ideal, sexy, dan montok. Cuma ada satu, Ci, yang mengganggu," jawabku.
"Apaan? Udah keriput ya?" dia menunduk sambil menunjukkan buah dadanya yang montok kenyal, putingnya merah menggairahkan.
"Bukannn... kulit masih kinclong, kenceng begitu. Tapi itu, Ci... bulu jembutnya terlalu lebat. Kurang rapih," kataku.
"Ohhh... iya, aku belum sempat rapihin. Jadi gimana dong? Aku cukur bersih aja ya?" tawarnya.
"Ga usah. Besok aja kalau ada waktu. Biar saya yang rapihin dan cukurin," jawabku.
"Ihhh... ga ahhh! Malu lah aku sama kamu!" jawabnya bikin gregetan saja.
"Supaya ga malu, nanti cukurnya sambil aku jilatin ya... masih malu ga?" godaku.
"Hemmmm... ya sudah. Sampai besok ya, Din," katanya, lalu mengakhiri VC dengan senyum malu yang membuatku ga bisa tidur.
Bersambung