←18+
← Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

Episode 12 — Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

EPISODE 12
Part 12 Aku dan ci Jeny duduk agak ke pojok, di depan kami ada dua Bapak-bapak yang sejak kami datang tak berhenti melirik ke arah ci Jeny. Aku nggak heran sih — siapa pun lelakinya pasti terpukau kalau melihat ci Jeny. Cantik, penampilannya energik layaknya ABG, dengan kulit putih bersih. Apalagi sekarang ia memakai rok pendek, paha mulusnya terlihat bebas dari kaki meja sampai ke atas. "Ci, lihat yang di depan kita?" tanyaku pelan. "Iya, risih banget dilihatin terus begitu. Rasanya pengen siram air aja mukanya," jawabnya kesal. "Mainkan saja sekarang. Nanti saya yang kerjain," kataku sambil tersenyum. "Maksudnya gimana? Awas ya, jangan macem-macem," katanya mencurigai. Aku mengulurkan tangan, menggenggam pahanya yang mulus dan halus, merentangkan sedikit, lalu menaikkan roknya lebih ke atas. Paha dalamnya kini tersingkap sedikit ke arah meja sebelah. "Hemmm... mulai deh," kata ci Jeny seraya menggigit bibirnya menahan senyum. "Sebentar, aku mau ke situ. Enci cuek saja," kataku sambil menggerakkan kakinya pelan di bawah meja. Aku berdiri dan berjalan ke meja tempat Bapak tadi duduk. "Pak, maaf, mau ambil sambalnya itu. Sudah habis," kataku sopan. "Iya, silakan, Mas," jawabnya — tapi matanya masih tertuju ke arah ci Jeny yang memang sedang menggoda dengan posisi duduknya. Tanpa sepengetahuan dia, aku menuangkan sambal ke mangkuk mie ayamnya. Lalu sambil pura-pura sibuk, kugeser gelas minumannya dan kugantikan dengan kobokan cuci tangan. "Dah beres," kataku pada ci Jeny. "Sekarang tinggal tunggu hasilnya." Aku duduk lagi dan pura-pura mengelus paha ci Jeny. "Ihhh, Dinoo... aku geli," katanya berbisik. "Geli apa enak," kataku sambil meraba bagian paha dalamnya, jari-jariku bermain di kulitnya yang lembut, naik sedikit demi sedikit. "Hemmm... Dino, tar kalau aku terangsang, awas ya," kata ci Jeny sambil mencubit pahaku. Tak lama, terdengar "Huk... huk..." Bapak tadi terbatuk-batuk keselek makan sambal yang kuberi. Saking pedesnya, langsung dia meraih minuman tanpa melihat — dan... yes! Air kobokan diminumnya! Aku dan ci Jeny tertawa ngakak melihatnya. Tapi Bapak itu tampak marah, dan sepertinya dia menghampiri meja kami. "Hai, Mas! Sialan lo ya, kerjain gw! Mau ngajak ribut?!" katanya sambil membanting badan ke arahku. Ci Jeny hendak berdiri mendamprat balik, tapi kutarik tangannya. Aku berdiri, menatap tajam ke arahnya. "Pak... makanya kalau punya mata, jangan jelalatan. Kayak nggak pernah lihat perempuan cantik. Saya perhatikan Bapak dari tadi — lihatin istri saya terus. Sampai duduk pun, mata Bapak kurang ajar, lihatin paha istri saya ini. Coba kalau saya nggak larang, sudah disiram muka Bapak sama istri saya," kataku tegas. "Lagian ngapain makan pakaiannya kayak gitu?" jawabnya masih ngeyel. "Dengerin ya, Pak. Saya sama istri saya ini mau main golf. Apa harus pakai baju daster?" jawabku lebih kencang. Semua yang sedang makan di warung itu menoleh ke arah kami. "Maaf ya, coba sopan Bapak ini — lihatin perempuan nafsu banget, sudah tau ada suaminya!" kataku makin lantang, biar semua orang dengar. Akhirnya Bapak itu malu sendiri. Bayar, lalu pergi sambil menggeleng. Kulihat ci Jeny senyum-senyum, lalu menggenggam tanganku di atas meja. "Din... nggak salah denger kan aku barusan?" tanya ci Jeny masih sambil senyum. Aku menatap wajahnya. Kami terdiam sejenak, tatapan mata kami saling menyimpan makna masing-masing. "Emangnya nggak mau dan nggak boleh aku ngomong begitu?" kataku dengan nada bercanda. "Ihhhh... ngeselin banget sih kamu ini," kata ci Jeny sambil mencubit lenganku. "Ingat komitmen awalnya, boskuu yang cantik," kataku. "Ngegombal mulu bisanya," katanya sambil mengajakku udahan dan berangkat main golf. Sesampainya di mobil, ci Jeny melanjutkan pembicaraannya. "Din... aku seneng kalau lihat kamu marah, atau nggak suka ada yang kurang ajar sama aku," kata ci Jeny pelan. "Aku nggak suka kalau ada orang kurang ajar sama siapa pun yang jalan bareng saya," jawabku. "Hemmm... tapi kenapa kadang malah suruh aku buat pamerin tubuh aku ke orang lain?" katanya. Aku diam. Dari pertanyaan pertamanya tadi, aku sudah tahu ujungnya akan ke sini. "Saya cuma merasa bangga dan senang — bukan hanya saya saja yang mengagumi enci. Dan saya ingin melihat mereka yang melihatnya. Puas hati saya kalau sudah begitu," kataku berdalih. Agak lama kami terdiam, hanya suara mesin mobil yang mengisi keheningan. "Hemmmm... tapi kamu akan selalu menjaga aku kan, Din? Kamu ada di saat aku butuh kan? Aku akan selalu buat kamu bahagia, Din..." katanya sambil menyenderkan kepalanya di pundakku. "Ci... maaf, apa perasaan enci sama saya sekarang?" tanyaku pengen tahu — sampai di mana usahaku untuk menaklukkan ci Jeny ini. "Nggak tau, Din... yang aku rasakan sekarang merasa nyaman dan kayak bahagia. Tapi tidak ada rasa ketakutan seperti waktu aku sama mantanku dulu," jawabnya lirih. Kami sampai di lapangan golf daerah Sentul. Sepanjang waktu aku mengikuti ci Jeny kayak asprinnya. "Hei, Lina!" panggil ci Jeny. "Wah, aku kira lo nggak dateng, Jen," kata temennya sambil melambaikan tangan. "Kenalin, Lin..." katanya, dan mereka berbisik-bisik lalu tertawa. "Don, ini ci Lina yang aku pernah suruh kamu ke rumahnya," bisik ci Jeny. Aku berjabat tangan dengan ci Lina. Hemm... orang berduit memang beda — semuanya mendekati sempurna. Tangannya halus, cantik, terawat. Hidungnya mancung. Wajahnya kelas atas. "Ayo, Din! Jangan bikin malu. Baru jabat tangan saja sudah piktor," kata ci Jeny sambil menggandeng tanganku. "Kamu tenang saja. Nanti aku atur biar kamu bisa begitu sama Lina," kata ci Jeny tanpa ekspresi. "Saya nggak salah denger, Ci... dan nggak paham maksudnya," kataku heran. "Semangat banget mau dapat bangsa baru. Emangnya kurang? Udah ada tiga, sama yang di rumah," katanya sambil meletakkan lidahnya, ngeledekku. "Aduhh... apa apaan sih, pakai remas bokongku. Gemes yaa..." kataku sambil mengusap bokongku yang dia remas tadi. Setelah selesai acara main golf, kami pulang bersama. Ci Lina keluar dari lokser bareng kami dan berdiri di depan mobil tempat aku duduk. Tiba-tiba mobil ci Lina dihadangi dua motor dengan empat orang laki-laki yang memaksa ci Lina turun. "Din! Cepat kamu turun! Pasti ada masalah sama Lina," kata ci Jeny panik. Aku dan ci Jeny langsung berjalan menghampiri mereka. "Bu, saya dari finance. Mobil ibu ini sudah tiga bulan nunggak. Jadi terpaksa harus kami bawa," kata orang yang mengaku dari pihak finance. "Wah, situ salah, Mas. Mobil ini saya beli cash," kata ci Lina. "Ya sudah, sekarang ibu ikut kami ke kantor," kata mereka memaksa. "Nggak! Saya mau pulang, capek. Tolong telepon saja kantornya," kata ci Lina. Sepertinya mereka sudah beradu mulut cukup lama. "Maaf, Mas... surat penarikan sesuai data mobilnya ada nggak?" tanyaku, karena kasihan melihat ci Lina dikeroyok empat orang sambil adu argumen. "Ehh, siapa lo! Pergi, nggak usah ikut campur!" kata yang badannya paling gede. "Lohh, kalau memang ada dan benar, tinggal tunjukkan kan beres. Atau bisa ke kantor polisi," kataku lagi. "Banyak omong lohh!" Aku didorong ke belakang sampai terhuyung-huyung. "Ci, ajak ci Lina masuk ke dalam mobil saja. Biar jadi urusan saya," kataku tenang. "Hati-hati ya, Din," kata ci Jeny — dia sudah tahu kalau aku bisa bela diri. Aku menghampiri mereka yang jelas-jelas meremehkanku. Bug! Bug! Krak! Satu pukulan telak menghantam perutnya. Ketika temannya mau memukul dari belakang, aku berbalik badan dan tendangannya memutar mengenai pundaknya — terpental, menghantam papan trotoar sampai patah. "Gw nggak ada urusan sama lo semua. Tapi kalau lo berani maksa ke mereka, gw bikin hancur tangan lo. Kalau perlu, kayak kayu ini!" Prak! Prak! "Ayo maju sekalian! Biar cepet!" kataku sambil mengangkat kayu sebesar betis orang dewasa yang sengaja kupungut tadi — untuk demo, membuat nyali mereka ciut. Dan benar saja. Melihat kayu kuhancurkan jadi dua bagian, apalagi dua temannya sudah terkapar, mereka langsung menyerah. "Maaf, bang... kita salah. Jangan diperpanjang," kata mereka sambil membangunkan temannya lalu ngacir. Kulihat ci Lina dan ci Jeny sudah keluar dari mobil. Aku sempat kaget karena ci Lina langsung memelukku. "Makasih ya, Din... aku tadi ketakutan banget. Gila, kamu hebat! Dua gebrakan saja sudah bikin mereka babak belur. Eh, mana tanganmu yang hantam kayu tadi? Luka nggak?" kata ci Lina sambil memegangi dan memperhatikan tanganku. "Hemm... ada yang punya neh..." kata ci Jeny sambil menyeringai. Disambut tawa kami bertiga. "Jen, kalau lo sudah bosen, oper aja ke gw. Bisa diandalkan," kata ci Lina sambil menjentikkan alis. Bersambung
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 11
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal