←18+
← Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

Episode 13 — Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

EPISODE 13
Episode 13 Ci Jeny Ci Lina "Sembarangan aja bosen, terus dioper. Emangnya ini barang?" celetuk ci Jeny sambil tertawa kecil. "Lin, kalau lo mau, kapan aja gw bisa kasih pinjem. Kita barengan juga bisa." "Iya kan, Din... Kuat kan aku sama Lina?" goda ci Jeny kepadaku sambil tersenyum, matanya mengerling penuh arti—sebuah kode yang langsung kutangkap. Di dalam hati aku tersenyum puas. Sepertinya aku sudah berhasil membuat ci Jeny berjalan sesuai harapanku. Bahkan ini lebih dahsyat dari yang kubayangkan. "Siap, saya. Asal ada perintah," jawabku menggoda. "Oke, kalau begitu anterin gw sampai rumah. Gw masih takut, lagian satu arah kan," kata ci Lina. "Ya sudah, lo jalan duluan, gw di belakang," sahut ci Jeny. Akhirnya kami mengantar ci Lina sampai depan rumahnya, lalu kami pun berbalik arah menuju apartemen. "Bin..." ci Jeny membuka pembicaraan serius di tengah perjalanan. "Secara tidak sengaja, Lina sudah masuk dalam lingkaran rencana gw. Gw kasih tau ya, Lina itu salah satu bos yang perusahaannya saingan kita. Dulu dia pernah bikin masalah sama ci Vero—ada kesalahan yang sebenarnya masih bisa direvisi, tapi karena Lina keras kepala dan nggak mau, ci Vero sampai rugi hampir lima ratus juta." "Ohh... terus hubungannya sama saya?" tanyaku pura-pura polos. "Aku sudah pakai berbagai cara, tapi dia tetap nggak mau. Keras banget orangnya. Makanya aku rencanakan kamu jadi umpannya—karena kamu cerdas." "Awalnya aku juga ragu memasukkan kamu bisa bikin dia berubah. Tapi lihat kejadian tadi, lihat sikap Lina sama kamu... aku yakin pasti bisa. Taklukkan Din! Bikin dia seperti aku, baru kamu bisa suruh dia apa saja. Pasti ci Vero senang banget, dan tentunya... kamu makin nggak bisa lepas dari aku." Ujarnya penuh semangat. "Siap, bos! Cuma... maksudnya seperti aku tadi gimana? Saya kurang paham," kataku, masih berpura-pura tidak mengerti. "Kamu ini ngeselin banget!" Tiba-tiba tanganku digigitnya. "Ampun! Iya-iya, saya ngerti, Cici yang manja," ledekku. "Dino! Udah ah... Kita ke apartemen saja, aku mau mandi dulu." Katanya sambil menyenderkan kepalanya di bahuku. Sesampainya di apartemen, aku merebahkan tubuhku di ranjang yang empuk itu. "Din... begitunya setelah aku mandi saja ya," katanya—dan aku tidak bisa menahan tawa. "Begitu gimana seh, Ci? Yang jelas kalau ngomong!" Jawabku membuatnya langsung melompat ke ranjang dan mencium bibirku. "Semakin hari kamu berani ya, godain aku terus. Jangan begitu, bagaimanapun juga perempuan itu malu..." Katanya sambil manyun, masih rebahan di dadaku. "Aku mandi, kamu pesan makanan ya Din... Apa... mau mandi bareng?" Tawarnya menggantung di udara. "Aku nanti saja, kalau selesai begitunya," jawabku. "Bener-bener kamu ya! Nih, rasain..." Ci Jeny meremas batang kontolku lewat celana. "Aduh! Ampun! Iya, aku minta maaf!" Aku tertawa sambil menghindar. Sambil tiduran aku memesan makan lewat online, sementara ci Jeny sudah masuk ke kamar mandi. Cewek yang satu ini kalau mandi lama amat—hampir tiga puluh menit baru keluar. Baru saja kupikirkan begitu... "Lama ya nunggunya..." katanya dari balik pintu. Dan bersamaan dengannya keluar, terdengar suara bel apartemen. Wah, makanan datang. Tiba-tiba saja ide gila itu muncul lagi di kepalaku. "Ci, itu pasti mau antar makanan. Ci yang ambil—tapi pakai handuk saja," kataku sambil bangkit dan membalutkan handuk ke tubuhnya. Tanpa sepengetahuannya, ujung handuk itu kuselipkan ke lipatan, cuma sedikit. Kemungkinan besar handuknya bakal copot sendiri. "Gak mau! Mulai deh isengnya," kata ci Jeny. Aku tidak menjawab. Hanya menatap wajahnya, memberi kesan marah atas penolakannya itu. Akhirnya dia tidak berani menatap mataku. "Iya... iya... aku yang ambil," ujarnya pasrah. Hmm... diam-diam aku mengintip dari balik pintu. Dari belakang kulihat handuknya sudah mulai kendur, siap melorot kapan saja. Haduh, jangan sekarang... batin gelisah. Pintu terbuka. Mas karyawan hotel yang mengantar sempat kaget melihat ci Jeny hanya dengan penampilan begitu. Dan tepat ketika ci Jeny hendak menerima makanannya... "Auwww!" Ci Jeny menjerit kaget. Makanan itu jatuh ke lantai karena handuknya benar-benar terlepas! Tubuh telanjangnya yang luar biasa itu terpampang jelas di depan mata pegawai hotel itu. "Maaf... maaf, Bu, saya tidak melihat apa-apa!" Kata mas itu, buru-buru memalingkan mukanya. Ci Jeny panik, buru-buru meraih handuknya dan menutupi bagian depan tubuhnya. "Dino! Din! Tolong aku ini!" Teriaknya memanggilku. "Eh, kenapa, Ci?" Kataku sambil berlari menghampiri. "Makanannya jatuh..." katanya sambil menunjuk lantai. "Mas... bukannya bantuin, malah diem saja," timpuku. Yang tidak disadari ci Jeny—meski bagian depan sudah tertutup, dalam posisi berjongkok mengambil makanan yang berserakan, vaginanya justru terlihat jelas dari balik. "Ohhh... ampun, maaf, Bu! Saya nggak lihat itu!" Kata mas itu—yang setelah tadi membalikkan badan untuk membantu, malah melihat vaginanya ci Jeny tepat di depan matanya. Begitu sadar apa yang baru saja dilihat si mas, ci Jeny langsung lari masuk ke dalam. Kulihat ci Jeny tengkurap di ranjang, dan terdengar suara tangisan... Hmm, aku sudah keterlaluan. Entah kenapa hatiku jadi menyesal dan kasihan. "Ci... maafkan saya. Sudah dong, jangan menangis," pintalku. "Kamu jahat, Dino..." ujarnya lirih. "Ya sudah, buat menebus kesalahan saya, saya pijitin. Kan tadi habis main golf, capek kan?" Kataku. Jujur, aku paling nggak bisa berhadapan dengan wanita yang menangis. Rasanya serba salah. Kupijat mulai dari telapak kakinya, terus naik ke betisnya yang mungil. "Hemmm... enak, Din. Kamu pinter juga ya," katanya. "Pinter seh nggak, cuma bisa dikit-dikit," jawabku sok rendah hati. "Serius, enak banget... Tapi sini ah, nggak rela aku kamu jadi tukang pijat," Katanya sambil membalikkan badan dan menarikku untuk memeluknya. "Kamu lihat reaksi masnya tadi gimana, Din?" Tanya ci Jeny. "Seperti orang di jalan nemu durian jatuh. Durian montong yang legit," jawabku. "Bisa saja kamu! Awalnya aku lihat dia kaget, walau miringin wajah, tapi sempat beberapa kali ngelirik ke aku," cerita ci Jeny. "Berhasil dong, berarti," kataku santai. "Maksudnya?" Ci Jeny bangkit, dan mulai melepas bajuku satu per satu. "Kalau sampai lelaki melihat tubuhnya ci biasa saja tanpa respon nafsu, berarti gagal. Tapi kalau yang melihat jadi kayak kebo bagong... berhasil," jawabku sambil mengangkat pinggulku ketika ci Jeny menurunkan celanaku. "Begitu ya... Terus apa yang kamu rasakan sekarang?" Tanyanya lagi. "Aku sayang ci," jawabku. "Mulai lagi gombalnya. Coba tunjukkan rasa sayangnya." Mendengar ci bilang begitu, aku jadi bingung. Hmm, asal saja lah—batinku. Aku mendekatkan wajahku, kucium lembut bibirnya. "Ci... aku sayang kamu. Walaupun hubungan kita sekarang di bilang begini... aku akan tetap menjaga kamu. Tapi batasannya tetap harus kita jaga, biar kita bisa selalu seperti ini. Kamu mau, dan bisa kan, Cici sayang?" Kataku sok romantis. Ci Jeny langsung memelukku erat. "Kamu tadi panggil aku apa? Cici sayang?" Tanyanya gemas. "Maaf, Ci, kalau saya lancang. Cuma maksudnya... belajar romantis." "Ihhh! Kenapa harus minta maaf? Kayak tadi saja," katanya mulai manja. Kucium pipinya lembut, dan ciumanku berpindah ke lehernya yang jenjang. "Dinnn... sssahhhh mmm... Jangan kamu merahin ya, sayanggg..." Aku meremas pantatnya dengan lembut. "Ohhasss... kamu pinter banget ya naklukin perempuan, Din..." Erangnya membuat darahku makin naik. Tiba-tiba telepon ci Jeny berbunyi. Awalnya dia minta biarkan saja, tapi aku minta dilihat dulu siapa. "Lina yang nelpon ternyata," kata ci Jeny sambil menjawab. "Jen, lo dimana sekarang? Masih sama Dino?" "Iya masih, di apartemen gw. Kenapa, Lin? Gw baru mau mulai..." Jawab ci Jeny kesal. "Gawat! Orang-orang tadi datang ke rumah gw—ternyata mereka ngikutin kita! Tolong, Jen, kemari secepatnya! Mereka datang enam orang!" Ci Jeny memandangku panik. "Din, gimana ini? Ini kesempatan buat kamu masuk ke dalam rencana aku tadi." "Ya sudah. Ci, cari kaos pendek yang seksi—kalau ada yang tipis lebih bagus—terus kamu pakai tanpa bh, dan pakai rok yang tadi buat main golf," perintahku. "Din, jangan bercanda deh... kalau lagi serius," ci Jeny menatapku ragu. "Saya juga nggak bercanda. Dengar ya, mereka sekarang berenam. Dengan penampilan ci seperti yang saya bilang tadi, pasti mereka akan fokus ke ci. Nah di saat itu, saya dobrak mereka," jelasku. "Tapi kalau sampai mereka nanti... memperkosa aku..." "Berani mereka! Akan saya bunuh semua kalau sampai mereka berani begitu sama ci," jawabku tegas—dan itu membuat ci Jeny tersenyum bangga. "Aku bangga punya kamu, Din... Ya sudah, sekarang kita buruan kesana!" Begitu kami siap, ci Jeny memandangku heran. "Hey... ngapain seh lihatin aku sampai begitu?" "Saya nggak percaya... ci Jeny yang cantik seperti ini bisa jadi bidadari saya," kataku jujur. "Gombal lagi lah!" Ci Jeny tertawa kecil. Bersambung...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 12
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal