EPISODE 14
Episode 14
Perjalanan cuma sepuluh menit karena lokasinya persis di belakang rumah Ci Lina. Dari kejauhan sudah terlihat tiga orang yang sedang gedor-gedor pintu pagar, sementara tiga lainnya berdiri mantau-mantau keadaan.
"Siap ya, Ci..." kataku.
"Gak! Aku gak siap... Kalau kamu belum cium aku." Jawabnya sambil cemberut.
"Iya, aku cium. Sini." Aku mengecup pipinya lembut. "Manja banget sekarang. Nah, sekarang siap ya, Ci."
Ci Jeny tersenyum, dan senyum itu manis sekali.
Aku sengaja menyuruh Ci Jeny turun duluan, tetapi posisinya tetap dekat, masih dalam jangkauanku.
"Woooww... amoy, bro! Gila cantiknya! Dan itu... lihat!" Seru mereka satu per satu. Dan yang membuatku salute, Ci Jeny sepertinya sudah tidak tahu malu-malu lagi. Ia berdiri anggun di depan para lelaki kasar itu tanpa getar sedikit pun.
Begitu mereka asyik menggodanya, aku turun. Belum sempat mereka mengucap sepatah kata pun, aku beri mereka gebrakan. Satu tendangan melesat ke arah dua orang di depan—langsung terjungkal. Yang satu terkejut menerima serangan tiba-tiba, tendangan melingkar menyapu kakinya, dan begitu tubuhnya menghantam tanah, pukulan telakku arahkan tepat ke mukanya sampai terpental.
Menyadari tiga rekannya ambruk begitu cepat, tiga orang yang tadi gedor-gedor pager berlari mengarah padaku. Namun satu di antara mereka melihat Ci Jeny, dan langsung berusaha menangkapnya.
Brekkk...
Karena gerakan Ci Jeny yang terlambat menghindar, kaosnya yang tersentak—sobek separoh. Bahu, lengan, dan sebagian dada atasnya telanjang, dan aku melihat buah dada mulusnya yang seharusnya hanya milikku terpampang di udara terbuka. Dada panas. Darahku mendidih.
Melihat Ci Jeny dalam bahaya, aku segera menariknya—memang sejak awal aku pastikan dia tetap dalam jangkauanku.
Plak! Krrakk!
Aku tarik tangan laki-laki itu ke arahku dan menghantamnya dengan lutut. Tulang siku tangannya patah berserakan bunyinya. Lelaki itu menggelinding sambil meraung kesakitan.
"Pake ini, Ci," kataku, yang memang sudah membuka jaket dan baju kuturunkan lebih dulu sebelum menghadapi dua orang sisanya. Aku lihat tubuh Ci Jeny telanjang bagian atas, buah dadanya terlihat, dan dia langsung mengambil posisi jongkok menutupi bagian depan tubuhnya.
"Hati-hati, Din..." katanya sambil memakai pakaian yang kuberikan.
Haduhh... di saat begini masih saja perhatian sama aku... gumamku dalam hati.
"Ya, Ci..." jawabku, lalu langsung menangkis satu pukulan yang datang.
Dari kejauhan sudah terlihat security dan warga datang membawa pentungan. Melihat situasi yang tidak lagi menguntungkan mereka, dua orang itu dengan menahan sakit langsung kabur menggunakan motornya—takut amukan warga.
Aku memeluk Ci Jeny yang masih ketakutan, supaya dia tenang.
"Maafin saya sudah melibatkan enci dalam bahaya..." kataku pelan.
Dari dalam rumah, Ci Lina sudah keluar dan menarik Ci Jeny masuk.
Setelah memberi keterangan ke security dan warga, aku dan Ci Jeny masuk ke dalam rumah Ci Lina.
"Gila habis lo, Din! Salut banget lihatnya!" Seru Ci Lina.
Aku hanya tersenyum.
"Din... kamu tadi kayaknya marah banget sama yang narik bajuku sampai sobek. Aihh... aku dengernya ngilu pas tangannya kamu patahkan..." kata Ci Jeny.
"Saya pasti marah. Apalagi kalau sampai mencelakai kamu—bisa saya bunuh. Itu pelajaran saja sudah kurang ajar sama enci, bikin Ci Jeny sampai telanjang," kataku.
Ci Jeny tiba-tiba memelukku erat.
"Tapi kamu beneran gak apa-apa, Ci?" tanyaku.
"Ehem... kalau begini sudah bukan kayak nyonya sama pegawainya ya..." timpal Ci Lina sambil tersenyum. "Cara kamu manggil dia jadi terdengar lebih mesra," katanya lagi.
"Bisa aja lo, Lin..." balas Ci Jeny.
"Sialan tuh orang! Gw lagi mau mandi, sudah telanjang malah gedor-gedor pager!" omel Ci Lina.
"Lo juga sialan! Gw baru mau begitu sudah dicumbu sama Dino tadi!" jawab Ci Jeny, disusul tawa kami berdua.
"Jen... besok gw mau ke Bandung. Hemm... boleh pinjam Dino gak?" kata Ci Lina.
"Jangan dulu deh. Gw harus ngomong dulu sama Cici."
"Emangnya Vero juga pakai Dino..." protes Ci Lina.
"Hemmm... ngejerit-jerit..." jawab Ci Jeny, dan lagi-liga tawa pecah di antara mereka.
"Gila... hebat lo, Din. Bos lo yang dikenal galak dan judes sama karyawannya bisa lo taklukkan. Keduanya pula!" Ci Lina menggeleng-geleng.
"Jen, gw lihat lo tadi pakai kaos tipis gak pakai bra. Emangnya lupa?" tanya Ci Lina.
"Tanya sama Dino! Gw disuruh dia! Gila rasanya dilihat orang sampai merinding," kata Ci Jeny.
"Gak kebayang gw kalau jadi lo..." sahut Ci Lina.
"Hahaha... coba aja nanti lo jalan sama Dino, habis dikerjain. Cici aja pernah dikerjain sama dia."
"Gw serius... jadi penasaran jalan sama lo, Din. Tapi gw males ngomongnya sama Vero," kata Ci Lina.
Aku melihat Ci Jeny memberiku kode. Entah apa maksudnya, aku belum tahu.
"Emangnya lo ke Bandung acara apa? Kalau gak penting, tar sabtu aja barengan kesana," kata Ci Jeny.
"Mau lihat villa yang baru gw beli sih... Tapi kalau ada Vero, males lah gw," jawab Ci Lina.
"Kan ada gw juga sama Dino. Penasaran gak, gimana gilanya Dino kalau ngerjain gw sama Cici?" goda Ci Jeny.
"Tar gw disuruh telanjang bulat di jalan! Kacau! Mendingan gw mati aja, malunya gak kebayang!" kata Ci Lina, dan kita tertawa barengan.
"Tar gw yang atur. Tinggal gw jemput aja, lo siap jalan," kata Ci Jeny.
"Ok deh. Lo kalau mau terusin, di kamar saja sono. Gw mau mandi," kata Ci Lina.
Gila, pikirku. Ternyata bos-bos kalau lagi kumpul seperti tidak ada batasnya. Dan sekarang... aku sudah masuk dalam lingkaran mereka.
Setelah itu aku dan Ci Jeny pulang dari rumah Ci Lina.
"Gimana, Din, menurut kamu?" tanya Ci Jeny di perjalanan.
"Cantik. Kelihatan pintar dan oke lah," jawabku.
"Dino... dasar mata mesum! Gak boleh lihat cewek bening!" Ci Jeny mencubit perutku.
"Aduhh... sakit! Memangnya maksudnya yang bagaimana? Ensi saja gak jelas ngomongnya," kataku sambil melepaskan cubitannya.
"Usaha kita buat masuk ke Lina! Itu maksudnya! Bukan fisiknya Lina..." katanya sambil cemberut.
"Hemmm... ada yang sudah mulai cemburu kayaknya..." kataku sambil melirik ke arahnya.
"Dah ah! Sebel aku sama kamu! Kita pulang saja. Anterin aku!" Katanya lalu diam, membuang muka ke arah lain.
Gila... Ci Jeny semakin ke sini sepertinya malah jatuh cinta sama aku. Gawat urusannya kalau main perasaan, kataku dalam hati.
"Ci... besok saya gak usah ke kantor ya. Saya di lapangan saja sampai hari Sabtu nanti." Kataku, iseng pengen tahu reaksinya—padahal saat itu masih hari Kamis.
Ci Jeny langsung menoleh ke arahku. Tangan kiriku digenggamnya.
"Kamu marah, Din? Sama aku, apa salahku? Gak boleh kalau aku cemburu? Jujur ya... kalau bukan karena urusan Cici, aku gak rela kamu sama Lina," katanya lembut, matanya menatapku dalam.
"Baru kali ini bosku yang cantik lembut banget... sampai menusuk ke hati," kataku sambil tersenyum.
"Kali ini aku serius, Din. Kamu yang sudah buat aku seperti ini. Kalau sekarang aku lakukan semua ini cuma karena takut ancamanmu—kamu salah. Aku lakukan semua ini dengan hati," katanya sambil meremas tanganku.
"Ensi gak salah, dan tentunya boleh. Cuma saya minta tetap jaga komitmen awal itu saja. Siapa sih yang gak bangga dicemburuin wanita secantik ensi... dan bos saya sendiri pula. Tapi ingat ya, kalau wanita sudah cemburu... hati-hati, cinta sudah bermain dengan perasaan."
Ci Jeny diam, tak bereaksi. Beberapa saat kemudian...
"Iya... aku sadar, kalau aku cinta sama karyawan ku sendiri..." katanya, lalu menyenderkan kepalanya di lenganku.
---
Seperti biasa aku datang ke kantor kesiangan. Saat aku sampai, mobil Ci Vero sudah ada, tapi mobil Ci Eny belum terlihat.
Aku langsung masuk.
"Dino, kamu absen dulu ya," kata staf di depan.
"Aku absennya langsung ngadep bos aja," jawabku. Sebel banget sama orang ini. Awas, nanti aku kerjain kamu.
Seperti biasa aku mengetuk pintu—harus tetap menjaga wibawa bos. "Permisi, Ci..." sambil kubuka pintu.
"Kamu Din ya... kemarin main golf gak ajak-ajak aku sih. Takut diganggu ya..." kata Ci Vero sambil tersenyum.
"Saya kan yang ngajak Ci Jeny," jawabku.
"Jeny? Apa ci Jeny? Kamu pinter banget basa-basinya..." katanya sambil tertawa.
"Rini! Bawain kopi buat Dino sekarang! Jangan lama!" Ci Vero berkata ketus kepada staf di depan lewat earphones.
"Ci Vero, gak usah begitu lah. Gak enak sama mereka," kataku.
"Kamu ini... biar sudah dapetin bosnya, masih saja merendah di depan temanmu."
"Ci, maaf... Ci Jeny kok gak kelihatan ya? Mobilnya juga gak ada. Apa lagi kurang sehat?" tanyaku.
"Hemm... baru kemarin sudah kangen? Sama aku kayaknya gak pernah nanya-nanyain..." jawab Ci Vero sambil ngeledekku.
"Ensi bisa saja! Saya juga selalu chat ke WA, tapi gak pernah dibalas. Takut kecapean saja terus sakit," kataku.
"Masa sih kamu WA aku? Coba aku lihat," katanya sambil berjalan ke arahku, lalu memelukku dari belakang sambil menunjukkan HP-nya.
Dan pada saat itu juga, Rini yang bawa kopi membuka pintu... dan melihat Ci Vero sedang memelukku dari belakang.
Aku... dari belakang.
Bersambung