EPISODE 17
Setelah istirahat beberapa saat aku dan ci Lina keluar duduk di teras.
"Ci.. kapan kita bisa lagi.." kataku memancing ci Lina.
"Hihihi.. kamu ini, yang seharusnya nanya aku. Kalau aku maunya nanti malam lagi, tapi gimana Jeny sama Vero.." jawab ci Lina sambil tersenyum.
"Wah saya sekarang punya tiga bidadari dong," kataku. "Harus rukun ya, pokoknya adil.." kataku lagi sambil tertawa.
Dan tidak lama ci Jeny dan ci Vero datang.
"Din, bantuin sini.." teriak ci Jeny.
Aku segera datang dan aku bopong tubuh ci Jeny.
"Dinoo... kamu ini, baru ga ketemu sebentar sudah kangen. Bukan aku, tetapi belanjaannya," kata ci Jeny sambil tersenyum.
"Ohhh belanjaannya, kirain yang belanja. Ya sudah, saya turunin ya.." kataku.
"Ga mau.. bawa aku ke dalam.." kata ci Jeny manja sambil peluk aku.
"Kalian berdua emang sudah gila..." kata ci Vero sambil manyun. "Awas ya, Din.. kalau aku ga dijatah.." kata ci Vero sambil ngepalin tangan ke aku.
Disambut dengan tertawanya, kita semua. Aku turunkan ci Jeny di ruang tamu.
"Bukannya barusan sudah sama Lina.. lihat cewek cantik, masih nafsu saja kamu ini, Din.." kata ci Vero.
"Gimana, Lin.. dapat ga yang lo cari dari Dino?" kata ci Vero.
"Ampun.. gw sampai merinding, Ci. Berapa kali gw harus nyerah sama Dino.." kata ci Lina.
Gila.. mereka bicara soal sex sepertinya biasa, tetapi yang aku heran mereka melakukan begitu tidak gonta-ganti pasangan, dan menurut mereka aku orang ketiga yang sampai berhubungan badan, selain suami sama mantannya.
"Ci, enakan berenang aja yuk.. biar seger, baru mandi.." kataku.
"Boleh juga, Din. Kemarin sudah dibersihin sama diganti airnya.." kata ci Lina.
"Gw ga bawa baju renang.." sahut ci Jeny.
"Pakai pakaian dalam saja, bh sama cd. Kalau perlu telanjang juga ga masalah. Malu sama siapa??" kata ci Vero.
"Ga mau ahh.. itu mah yang diharapkan Dino.." kata ci Jeny sambil melirik ke aku.
"Saya lagi dah yang kena.." kataku pura-pura sewot.
"Ahh lo Jen, kalau di dalam aja minta ditelanjangi terus sama Dino.." sahut ci Lina sambil tertawa.
"Awas ya, Din, kalau kamu nanti macam-macam.." kata ci Jeny sambil mencium aku.
Aku bagaikan raja yang dikeliling permaisuri dan selirnya.. berada di villa mewah bersama wanita-wanita cantik kelas atas. Mungkin nasibku lebih beruntung dibanding dengan suaminya.
Aku lihat ci Jeny hanya memakai bh dan celana dalam warna merah, sedangkan ci Vero bh dan celana dalamnya warna hitam, dan ci Lina bh sama celana dalamnya biru.
Tubuh mereka semuanya montok putih, sungguh luar biasa idaman para lelaki.
"Dino.. kamu emang ga bosen ya lihatin kita satu-satu.." kata ci Jeny sambil cipratin air ke mukaku.
Tentunya dibilang seperti itu, aku malu juga..
"Ci, kalau ada sesuatu yang indah, cantik dan menarik di depan mata kita dan kita tidak memandangnya, itu tidak menghargai yang memberikan keindahan itu.." kataku berkelit.
"Bisa saja kamu.. memang dasar mata mesum. Aku sudah hafal, Dino, mata kamu itu.." jawab ci Jeny dibarengi tertawa kita.
Memang di antara mereka bertiga, ci Jeny yang paling greget buat aku. Entah karena apa, aku susah membedakan, karena memang mereka hampir mempunyai nilai super semua. Mungkin karena sebelumnya ci Jeny yang paling sering berhubungan dengan aku di kantor, dan sekarang pun ci Jeny yang lebih manja.
"Cik, saya ke toilet sebentar.." kataku yang merasakan mules perutku.
"Ya sudah, sana jangan lama-lama.." katanya.
Aku segera berlalu menuju ke dalam villa. Sekitar 15 menit, ketika aku balik ke kolam, mereka semua tidak ada. Wah, pada mau bercanda, kataku. Soalnya aku lihat ada bh ci Vero berada di pinggir kolam.
Aku coba cari, barang kali mereka sengaja mau ngerjain aku, tetapi sampai di seputaran kolam tidak ada. Aku masih belum mempunyai firasat apa-apa. Coba aku cari ke sekitaran gazebo, mungkin mereka istirahat di sana.
Setelah agak dekat, aku dengar seperti ada orang tertawa, suara laki-laki.
"Hahaha.. niat hati mau rampok hartanya, malah dapat plus apem surabinya..."
Aku lihat dari semak-semak.. kacau, ada empat orang berbadan besar membawa golok semuanya. Awalnya aku sudah mau menerjang mereka, tetapi aku perhatikan sekitar untuk mengatur strategi. Gila.. ci Vero sudah dalam keadaan telanjang bulat, duduk di pangku salah seorang dari mereka, terlihat pucat ketakutan. Ci Lina sepertinya pun sudah telanjang bulat, sambil berdiri diciumin oleh mereka, dan ci Jeny masih memakai bh-nya namun celana dalamnya sudah dilepas dan sekarang sedang diciumin.
Darahku langsung mendidih melihat perempuan yang sudah tunduk melayaniku diperlakukan seperti itu.
"Wah.. wah.. ada pesta kayaknya di sini.." kataku sambil keluar dari persembunyian.
Melihat keberadaanku, secara serempak ci Jeny, ci Vero dan ci Lina memanggilku.
"Dino, tolong..."
"Diam.. atau aku putuskan leher kalian.." kata salah satu dari mereka, yang membuat tiga wanita cantik langsung diam, hanya sorotan mata yang memohon pertolongan.
Sepertinya keadaan sangat mengancam jiwa mereka. Kalau aku maju dan tetap saja ci Jeny, Vero dan Lina masih disandera, susah aku buat melindunginya. Tetapi kalau aku telat menolong mereka, pasti akan diperkosa sama berandalan itu. Tetapi mereka bertiga nasibnya tergantung sama aku dan sangat mengharapkan aku.
"Ok.. saya tidak akan mengganggu kalian. Kalian bebas mau melakukan apa saja sama mereka," kataku, dan saat itu aku lihat dari sorot mata ci Jeny terlihat kecewa mendengar perkataanku tadi.
"Kalau itu sama, pergi ngapain masih di sini. Atau mau kita bunuh kamu?"
"Tetapi saya tidak akan pergi dari sini. Silahkan bunuh saya.. jadi saya tidak melihat kebiadapan kalian terhadap wanita," kataku.
Aku akan mencoba menggunakan ilmu pernafasan yang selama ini aku pelajari dan belum pernah aku pergunakan. Nyatanya saja waktu itu aku tetap terluka, tanganku kena golok. Tetapi keadaan memaksaku dan aku harus bisa, atau lebih baik aku mati.
Aku diam sejenak. Setelah aku yakin bahwa badanku sudah siap, aku merasakan ada hawa hangat mengalir ke seluruh tubuhku.
"Ayo sekarang.. bunuh saya. Jangan jadikan wanita-wanita buat sandera. Kalau saya masih bertahan terhadap golok, lekas angkat kaki dari sini."
Aku berjalan ke arah orang yang sudah melecehkan ci Jeny. Melihat kedatanganku dengan tangan kosong, dia langsung melepaskan ci Jeny.
"Kamu tunggu di sana ya, Gelis.. nanti akang lanjutin.." kata dia yang ditujukan ke ci Jeny. Modar sia lalaguan.. Srett... Bug.. Bug.. dua kali sabetan golok tepat menghantam pundaku dan perutku. Dengan keyakinan dan tekad untuk menyelamatkan ci Jeny, golok yang mengenai badanku terasa disabet kayu dan tidak ada luka sama sekali. Sedangkan ci Jeny yang melihat aku dalam bahaya hanya mampu berteriak-teriak.
"Awas, Dino... kamu jangan nekat.. awasss..." sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan ketika golok sudah menyabet badanku.
"Ayo maju lagi.. sekalian berempat, biar gampang mencincang tubuhku.." kataku yang berharap mereka semua menyerang bersamaan dan melepaskan ci Vero dan ci Lina.
Dan usahaku memancing amarah mereka berhasil.. sandera sudah dilepaskan dan sekarang ci Vero sama ci Lina sudah bergabung dengan ci Jeny.. saatnya aku bertindak.
Dua orang dari depan dan dua orang dari belakang, secara bersamaan menyerangku. Tetapi aku masih melihat celah, di mana yang menyerang dari depan lebih lambat beberapa detik. Aku berbalik badan, satu sabetan golok kembali menghantam bagian leher. Bug...
Begitu tidak mempan melukai badanku, aku tarik goloknya dan aku sikut tepat di mulut orang yang menyerang tadi.. Prak.. dia terpental ke belakang dengan giginya copot dan mengucurkan darah. Satu lagi, tendangan aku arahkan ke dada yang sudah dekat sekali, goloknya mengenai bagian kepalaku.
Bug.. ahh.. suara tendangan tepat di dadanya dan terdengar lengkuhanya sebelum tubuhnya menghantam tanah.
Dua orang sudah aku buat babak belur terkapar di tanah. Aku lihat yang baru saja terkena tendanganku mengeluarkan darah dari mulutnya.
Melihat dua temannya yang menyerang dari belakang terkapar, dua yang menyerang dari depan menarik serangannya dan mundur beberapa langkah.
"Ayo, siapa lagi yang mau aku bikin sekarat seperti mereka. Kalau tidak, segera pergi dari sini.." kataku, sudah memasang kuda-kuda siap menerjang.
Tanpa berucap sepatah pun, mereka membawa temannya pergi meninggalkan villa. Aku segera menghampiri ci Jeny, ci Vero dan ci Lina yang terlihat masih ketakutan.
"Sudah aman sekarang.." kataku.
Mereka bertiga memelukku sesaat.
"Din, aku semakin salut sama kamu. Sudah beberapa kali menyelamatkan aku. Aku janji akan balas semua ini. Kalau kamu butuh sesuatu, aku pasti bantu.." kata ci Lina.
"Dengerin tu, Din.. masalah materi ataupun apa, jangan sungkan untuk bicara sama kita.." ucap ci Vero sambil memegang tanganku.
Tetapi aku lihat ci Jeny masih memeluku seakan tidak mau lepas.
"Din.. aku milikmu seutuhnya. Aku tidak perduli lagi siapa kamu. Jangan pernah kamu pergi dari ku, Dino..." katanya sambil meminta aku untuk mencium bibirnya.
Akhirnya acara berenang tidak kita lanjutkan dan setelah dapat keterangan dari penjaga villa, kalau mereka itu adalah preman di situ yang ditakutin. Tetapi bagi tiga wanita-wanita yang mempunyai banyak koneksi di kepolisian, ci Vero meminta rekannya di Polda Jabar untuk meringkus mereka.
"Din, kamu nekat ya.. aku tadi sudah mikir kalau kamu pasti luka parah disabet golok berkali-kali, tapi aku kaget ternyata kamu ga kenapa-kenapa. Sedangkan waktu dulu itu bukannya kamu terluka?" kata ci Jeny.
"Mungkin saya pasrah. Niat saya untuk melindungi bidadari-bidadari cantik.." kataku sambil tersenyum.
"Dasar buaya.. masih bisa ngegombal.." balas ci Jeny.
"Gila, aku tadi kaget banget begitu mereka tiba-tiba sudah ada di situ dan aku lihat kamu ga ada, Din. Coba kalau kamu telat datangnya..." kata ci Vero.
"Kalau Dino telat datangnya, pasti kita sudah diperkosa. Amit-amit ga kebayang, aku harus begitu sama orang macam mereka.." kata ci Lina menyahuti.
"Sekarang kan sudah aman.. nanti enci semua tidur di kamar yang itu, biar saya tidur di sini jagain," kataku.
"Apa.. mau aku kasih ini.." kata ci Jeny sambil kepalin tangannya ke arahku.
"Jadi gimana, enci, mau sama saya di sini.." kataku menggodanya.
"Kita di kamar itu, biar Vici sama Lina di kamar yang sana.." katanya.
"Ya sudah, saya ikut saja. Sekarang saya mau di depan dulu sambil ngopi, baru juga jam 8.." kataku sembari berdiri.
"Ikut, Din.." kata ci Jeny sudah menggandeng tanganku.
Malam itu cuaca cerah tetapi udara cukup dingin dan suasana sepi, bapak penjaga villa juga sudah pulang ke rumahnya.
"Din.. minggu depan aku sama keluargaku juga ci Vero mau ke Malang. Kamu ikut ya.." kata ci Jeny.
"Waduh.. nggak enak saya, Ci.." jawabku.
"Ga enak kenapa coba, kamu juga sudah kenal semuanya kan.." kata ci Jeny sambil menyenderkan kepalanya di bahuku.
"Pokoknya kamu harus ikut, kalau ga, aku marah sama kamu.." kata ci Jeny.
Aku perhatikan wajahnya yang cantik dengan hidungnya yang mancung dan bibirnya tipis. Aku ga tau harus bagaimana menghadapinya, karena semakin hari ci Jeny semakin perhatian dan sayang sama aku, dan aku sendiri juga ada rasa lain jika dibandingkan ke ci Vero dan ci Lina.
"Kamu kenapa, Din.. tumben ga usil??" tanya ci Jeny sambil menatap mataku.
"Saya jadinya takut, Ci, sama hubungan kita, karena saya takut akan ada rasa.. sama saja nantinya saya dengan mantan enci yang dulu.." kataku membelai rambutnya.
"Kita jalani saja, Din. Kalau kamu tanya aku bagaimana perasaanku sama kamu, jawabannya pasti sama. Aku takut kamu pergi dari kehidupanku. Aku seperti menemukan sesuatu yang membuat aku gembira, marah dan cemburu," jawab ci Jeny.
"Yah, kita jalani saja semestinya.." kataku sambil aku peluk ci Jeny, dan pada kesempatan itu ci Jeny langsung mencium bibirku.
"Din.. hemmmm mau coba di sini ga..." kata ci Jeny.
"Coba ngapain, Ci.." tanyaku karena memang tidak tahu maksudnya.
"Ihhh.. kamu ga paham banget sih..." kata ci Jeny cemberut. "Di sini, ga usah di kamar begitunya."
"Encikku sekarang sudah ga tahan ceritanya.. tar kalau ada yang lihat gimana.." kataku.
"Aku pengen ngrasain di luar, Din. Ayo dong.." katanya sambil merengek seperti anak kecil.
"Kalau gitu di gazebo saja ya, Ci. Kalau di sini, tar ci Vero sama ci Lina tiba-tiba kesini terus gimana??" kataku.
"Biarin saja, emangnya kenapa.." jawab ci Jeny sambil tersenyum merasa menang.
"Mau dan rela berbagi, yang lagi kepengen.." kataku menggoda.
"Cepetan gendong aku ke gazebo... aku tahu kalau kamu sebenarnya pengen mereka ikutan kan.. dasar buaya.." katanya sambil merangkulkan kedua tangannya ke leherku.
Setelah sampai gazebo, aku rebahkan tubuhnya..
"Ci.. terima kasih atas semua yang enci berikan kepada saya.." kataku.
"Hemm.. aku curiga, Dino yang jahil, ngeyel dan mesum bisa romantis.." katanya.
"Ya sudah, kalau dianggap bercanda," kataku pura-pura marah.
Ci Jeny menarik tanganku. Setelah aku rebah di sampingnya, dia langsung mencium bibirku.
"Di sini dingin, Din..." kata ci Jeny.
"Enci, saya pangku saja, biar ga begitu dingin."
Dalam posisi duduk, ci Jeny duduk di pangkuanku. Aku cium pipinya, terus kembali bibir kita berpagut. Tanganku mencoba menelusup ke dalam bajunya. Aku remas pelan buah dadanya sambil aku elus-elus.
"Din.. kamu buka saja bh-nya.." pinta ci Jeny.
Setelah bh aku lepaskan, tanganku semakin bebas untuk meremas buah dadanya yang sudah mulai mengeras.
"Dinn... ohhssss... kamu bikin sensasi baru lagi..." terdengar rintihan pelan dan disertai desahan ketika aku cium lehernya yang jenjang.
Ci Jeny sepertinya sudah menurunkan celana panjangnya sampai ke lutut dan berusaha melepaskan kancing celanaku.
"Din.. ohhssss.. aku sudah ga tahan.. cepet masukin."
Kini seranganku masih di seputar buah dadanya. Dengan menggunakan mulutku untuk mencium dan menjilati puntungnya yang mengeras, yang menandakan kalau ci Jeny sudah terangsang.
"Auww.. Dinnn.. akhssssa....." kembali rintihan ci Jeny terdengar sambil menggoyang pinggulnya ketika kedua jariku bermain di lobang kemaluannya yang sudah basah.
"Ci.. ga jadi rapiin ini jadinya," sambil aku tarik bulu kemaluan ci Jeny.
"Ohhssss, Din.. jangan kamu tarik begitu, sayang... iya, besok saja.." jawab ci Jeny.
Setelah berhasil menurunkan celanaku, ci Jeny sudah berusaha memegang batang penisku dan mengarahkan ke lobang kemaluannya. Tetapi aku menahan.
"Dinn.. kenapa ga segera dimasukin? Aku beneran sudah ga tahan, Din..." katanya memohon.
Aku harus membuatnya memohon.. sampai di mana ci Jeny membutuhkan aku.
"Ci.. kedinginan ga.." kataku sambil melepaskan bajunya.
"Iya.. kenapa kamu malah melepaskan baju aku.." katanya sembari protes tetapi tidak menolak ketika aku melepaskan pakaiannya, hingga kini sekarang telanjang bulat.
"Saya pengen lihat tubuh yang indah ini kedinginan."
Setelah kita sama-sama telanjang bulat, ci Jeny tetap posisi aku pangku tetapi duduknya membelakangi. Setelah merasakan pas batang penisku ke dalam lobang vaginanya, ci Jeny segera menurunkan pinggulnya.
"Ohhh.. Din... punya kamu keras banget, berasa menggesek di punyaku.. hemmmm.. ssss...."
Aku meminta ci Jeny kedua tangannya ke belakang memegang kepalaku dan buah dadanya aku berikan serangan dengan remasan.
"Dinooo... ohsss... oksss...." terdengar rintihan ci Jeny ketika lehernya aku jilatin dan remasanku ke buah dadanya semakin agresif.
Luar biasa, sensasi yang aku rasakan, di tempat terbuka aku melakukan dengan wanita cantik montok dan putih dengan gerakan agresif dan erangan sesekali menyebut namaku.
Tangan kiriku sudah mulai gerilya di klitorisnya, aku tekan dan aku putar, sehingga membuat ci Jeny seperti orang terkena sengatan listrik. Tubuhnya menggelinjang dan disertai jeritan.
"Ohhksss, Din.. Dino.. owwsss... hemmmm.. akhssss.. akhssss..."
Tubuhnya mulai terlihat melakukan gerakan lebih cepat menaik-turunkan pinggulnya dan kadang memutar pinggulnya, sehingga batang penisku serasa mentok ke dalam vaginanya.
Setelah berjalan 15 menit, ci Jeny semakin mempercepat gerakan dan disertai jeritan, ci Jeny mencapai klimaksnya.
"Dinooo.. ohhksss... aku keluar dinnn.... akhssss.. mmmm."
Aku membiarkan tubuh itu diam sejenak. Aku minta supaya ci Jeny berdiri di pinggir gazebo dengan kaki satunya dinaikan di pinggiran gazebo.
"Dino, kamu memang hebat dalam memberikan sensasi.." katanya sambil memegang batang penisku, mengarahkan ke dalam lubang vaginanya.
Dengan posisi berdiri, aku peluk tubuhnya dari belakang dan setelah itu,
"Belsss... ohhhh ssss.... yess, Din... oh ssss..." rintihan ci Jeny kembali terdengar begitu batang penisku membelah lobang vaginanya.
Aku berikan kocokan yang lembut sembari aku remas buah dadanya yang putih padat dari belakang.
"Dinnn... ahk ssssttt... hemmmm.... tekan lebih dalam, Din.... ohh sss..." dan ketika kocokanku sedikit kuhentakan juga kupercepatan, terlihat ci Jeny sangat menikmati. Tubuhnya yang putih mulus itu terlihat menggelinjang.
"Ahk ssssttt... akhssss... Dino... nikmat sekali, Din.... oh ssss...." sekitar 10 menit terlihat ci Jeny sudah mulai mau mencapai klimaks. Aku semakin percepat kocokan batang penisku ke dalam vaginanya dan di saat ci Jeny mencapai klimaksnya, batang penisku aku diamkan di dalam vaginanya dan merasakan semburan air kenikmatan.
"Din, kamu masih belum mau keluar?" tanya ci Jeny.
"Belum, Ci.. apa enci capai?" tanyaku sambil memeluk tubuhnya.
"Gendong aku ke kamar.. kamu cukur bersihkan bulu kemaluanku, baru nanti kita lanjut ya, Din.." kata ci Jeny setengah memohon.
Tanpa aku menjawab, aku langsung bopong tubuhnya yang masih telanjang bulat ke dalam villa.
Setelah di kamar mandi yang berada dalam kamar, ternyata ci Jeny sudah menyiapkan semuanya untuk mencukur bulu kemaluannya. Dengan pelan aku mulai mencukur bulu kemaluannya. Ci Jeny dalam posisi duduk di pinggiran bathtub dengan kedua kakinya dinaikan.
Setelah bersih, aku sirami dengan air hangat... wow, vaginanya terlihat bersih dengan lobangnya yang masih sempit, nampak berwarna merah pink dan terlihat sudah mulai basah dengan air kenikmatan, karena di saat aku mencukur tadi, kadang jari tanganku mengusap bibir vaginanya dan klitorisnya.
"Din... aku sudah ga tahan, sayang... kita lanjutkan di kamar saja. Puaskan aku malam ini, Din.." kata ci Jeny yang membuat aku semakin yakin kalau bosku ini sekarang sudah bertekuk lutut sama aku.
"Din, sekarang aku yang mau di atas. Aku mau bikin kamu bisa sampai keluar, supaya bisa bareng klimaksnya..." kata ci Jeny yang sudah mengambil posisi di atas tubuhku.
Di saat vaginanya digesekan batang penisku terasa hangat dan basah, dan untuk beberapa saat ci Jeny sudah memasukkan batang penisku ke dalam lobang vaginanya.
"Hemm.. oh ssss.. Din.... gimana, sayang, enak ga.." tanyanya sambil memaju-mundurkan pinggulnya.
"Berasa, Ci.. punya enci berasa menyedot punya saya..." kataku yang membuatnya tersenyum.
Aku perhatikan wajahnya yang cantik dengan matanya yang agak sipit, hidungnya yang mancung dan tubuhnya yang padat montok, semakin mengairahkan meliuk-liuk di atas tubuhku.
Melihat aku menatap wajahnya, ci Jeny langsung mencium bibirku. Aku remas pantatnya yang bulat dan sedikit aku tekan.
Luar biasa, ci Jeny seakan ingin memberikan sesuatu yang bisa membikin aku bahagia. Gerakannya makin cepat dengan membusungkan buah dadanya ke depan disertai goyangan pinggulnya, membuat kita sama-sama menikmati. Hampir 15 menit, akhirnya pertahanan kita sama-sama sudah mencapai klimaks.
Ci Jeny mencengkeram dadaku kuat dan aku pun ikut membantu dengan mengangkat pinggulku di saat ci Jeny menekan.
"Dinnooo... ohk ssss.. aku sudah ga tahan, sayanggg, kita keluarin bareng.. akhssss.. mmm."
"Iya, Ci.. saya juga sudah mau keluar.." jawabku.
Dan tak beberapa lama, akhirnya kita berdua mencapai klimaks secara bersamaan. Dengan nafas yang terengah-engah, ci Jeny merebahkan tubuhnya di sampingku dan akhirnya kita tertidur sampai pagi.