←18+
← Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

Episode 18 — Bos Ku Yang Cantik Ku Jadikan Pemuas Nafsu

EPISODE 18
"Dino.. Ayo bangun sarapan.." kata Ci Jeny sambil mencium pipiku. Aku tarik Ci Jeny, aku peluk dan aku cium bibirnya. "Kamu ini disuruh bangun malah cium dan peluk aku.." kata Ci Jeny. "Makasih Ci.. Enak sangat luar biasa.." kataku sembari bangun. "Tuh Ci Vero ngomel dua nungguin kamu, tadi dia yang mau bangunin kamu. Aku bilang saja kalau kita subuh baru selesai.." kata Ci Jeny sambil tersenyum. "Hemm.. Ya sudah, nanti habis sarapan saya sama Ci Vero, biar adil," jawabku. Setelah aku cuci muka dan gosok gigi, aku ke ruang makan yang sudah lengkap makanan untuk menambah staminaku. Bahkan sudah disiapkan telur setengah matang sama penjaga villa yang tentunya disuruh sama Ci Lina. "Hemm.. Yang habis lembur, tapi aku lihat kamu masih segar saja Din. Aku kira kamu sudah loyo, makanya aku suruh buat siapin kamu telur setengah matang buat stamina kamu.." kata Ci Lina. "Makasih ya Ci Lina sudah perhatian sama saya.." kataku. "Ok, sekarang kita makan. Habis ini jangan lupa ya Din.. Awas kalau sampai lupa.." kata Ci Vero sambil cemberut. Kita semuanya tertawa melihat Ci Vero seperti itu. Tiba-tiba aku punya keinginan buat kasih Ci Vero sensasi yang lain, dan mungkin bisa bikin Ci Jeny maupun Ci Lina akan penasaran. "Ci.. Saya ada ide nih, mungkin tidak pernah terpikirkan oleh Ci Vero.." kataku. "Apa lagi, pasti yang aneh-aneh, giliran sama aku.." kata Ci Vero. "Hahaha.. Saya jamin Ci Vero pasti akan bisa merasakan sensasinya.." jawabku. "Hemm.. Apaan sih Din, bikin aku jadi penasaran.." sahut Ci Jeny. "Gimana kalau kita lakukannya nanti di dalam mobil saja, di saat balik ke Jakarta.." kataku dengan semangat. "Hahhh.." kata mereka serentak. "Wah, kamu memang sudah gila Din. Ga ah, tar kelihatan orang malah repot.." jawab Ci Vero. "Beneran ga mau mencoba? Nanti sementara yang bawa mobil Ci Lina dan Ci Jeny di depan, jadi saya sama Ci Vero di belakang. Lagian mobilnya kan kaca filmnya gelap.. Serius saya pengen mencobanya. Tetapi kalau Ci Vero ga mau ya sudah, biar saya sama Ci Jeny saja nanti jalaninya.." kataku sambil melihat Ci Jeny yang kaget mendengar ucapanku. "Gimana Ci Jeny, mau kan kalau Ci Vero ga mau?" tanyaku ke Ci Jeny. "Buat kamu apa sih Din yang aku tolak.. Ya sudah, sana kamu kasih Ci Vero dulu, baru nanti sama aku," jawab Ci Jeny sambil tersenyum yang membuatnya semakin cantik. "Kalian berdua memang sudah gila.. Ya sudah aku mau, enak saja Jeny mau nambah.." kata Ci Vero. "Hehehe.. Akhirnya ada yang penasaran juga. Tapi lain kali boleh Din sama aku," kata Ci Lina. "Wah, kalian sudah kena gilanya Dino, termasuk aku juga.." sahut Ci Vero dan dilanjut ketawa kita semuanya. Setelah selesai makan dan mandi, kita persiapan untuk balik ke Jakarta. "Jen, gw saja yang bawa mobilnya, tar kalau capek baru gantian.." kata Ci Lina. "Iya santai saja, tar kalau capek sampai Jakarta suruh Dino pijitin kita, Lin.." jawab Ci Jeny. "Bukan pijitin kali Jen.. Palingan baru dipegang sebentar lo minta yang lain.." kata Ci Vero sambil tertawa. Setelah memasuki tol, tempat duduk Ci Vero sedikit aku rebahkan. "Maaf yang di depan, jangan ada yang lihat ke belakang ya.." kataku sambil melihat ke Ci Jeny yang langsung mengacungkan jempol tangan ke arahku. Setelah posisinya rebahan, aku segera tindih tubuh Ci Vero. Aku cium bibirnya, kita saling melumat beberapa saat. Tanganku segera melepas pakaian yang dikenakan Ci Vero. "Din.. Jangan dilepas semua ya, pintunya.." Tetapi aku akan membuat Ci Vero telanjang bulat. Setelah aku lepas pakaian atas, giliran pakaian bawah. Walaupun sempat meminta aku untuk tidak melepaskan semua, tetapi Ci Vero tidak menolak ketika sampai terakhir celana dalamnya aku tanggalkan dari tubuhnya. "Kamu ini Din.. Ahk ssssttt.." terdengar rintihan Ci Vero ketika aku sudah mencium kemaluannya. Keduanya aku angkat dan aku rentangkan di pundak, dan aku posisi jongkok. Pahanya yang putih mulus bersih membuat aku semakin terangsang. Kadang aku cium dan jilat bagian pangkal pahanya. "Dinooo.. Akhss.. Akhss.. Owwhhss.. Ampun Din, enak banget.." rintihan Ci Vero ketika lidahku masuk ke dalam lubang vaginanya. "Ihh.. Cici kenceng amat.." desahan apa jeritan itu, ledek Ci Jeny. Ci Vero tidak menjawab. Kedua tangannya meremas rambutku kuat-kuat ketika lidahku menyapu lubang bagian atas dan aku sedot klitorisnya. Hampir 10 menit aku berikan cumbuan dan rangsangan buat Ci Vero yang akhirnya membuat pertahanannya jebol. "Ohh.. Din, aku ga tahan Din nih.." kata Ci Vero sambil mengangkat pinggulnya. "Sekarang Ci Vero yang di atas ya, ngadep ke depan biar saya di bawah.." kataku. "Ga mau.. Aku ngadep ke kamu saja. Malu dilihatin sama Jeny juga Lina.. Tuh lihat mereka sampai nelen ludah.." kata Ci Vero. "Sudahlah.. Jangan bikin kepengen aja cici ini, gw lagi nyetir nih.." sahut Ci Lina. Luar biasa sensasi yang aku dapatkan. Melihat tubuh Ci Vero yang padat montok telanjang di atas pangkuanku dengan buah dadanya putih menggelantung dengan putingnya terlihat sudah mengeras. Aku tidak membiarkan semua itu, aku remas buah dadanya, dan Ci Vero sudah mengatur posisinya supaya batang penisku masuk ke dalam vaginanya. Aku akan membuat sensasi lagi buat Ci Vero. Setelah batang penisku amblas ke dalam lubang kemaluannya, aku remas pantatnya yang bulat di saat lagi meliuk-liuk. "Dino.. Ohh.. Nikmat banget sayang.. Ohh.. Lagi, lagi.." terdengar rintihan dan desahan Ci Vero. Di saat itu aku sengaja turunkan kaca jendelanya, dan membuat Ci Vero kaget langsung memeluku. "Dino.. Aihh gila kamu, akhss.. Kelihatan orang, cepetan tutup.." teriak Ci Vero. Melihat itu, Ci Jeny sama Ci Lina tertawa lepas. "Hahaha.. Hati-hati, nanti gara-gara lihat tubuhnya cici bisa nabrak.." kata Ci Jeny. "Dino.. Dino.. Kamu ini memang iseng dan gemesin orangnya.." Aku tidak berkomentar apa-apa. Di saat Ci Vero menundukan badannya memeluku, aku angkat pantatnya dan aku turunkan kuat-kuat sambil aku angkat pinggulku. "Auww.. Hhhaass.. Gilaa Dino, mentok, akhss.. Ohh.. Oh ssss.." "Gimana Ci, sensasinya dapat ga?" tanyaku. "Hemmss.. Kamu bandel tapi pinter banget bikin sensasi baru Din.. Ohh ss.." jawab Ci Vero. "Aku seperti di alam terbuka, dengan kenikmatan bercampur rasa malu dan takut dilihat orang-orang. Itu yang membuat rasanya tak bisa diungkap.." kata Ci Vero. Hampir 1 jam kita lakukan dengan perasaan berdebar sampai pada akhirnya aku sama-sama Ci Vero melepaskan klimaks secara bersamaan. "Ohh ss.. Dinnn.. Aku mau klimaks lagi Din.. Ohkss, gila, ini yang ke tiga aku klimaks.. Ayo Dinooo.. Ohk ssss.." teriak Ci Vero di saat mencapai klimaksnya. "Kamu ini Din.. Sudah keluar punya kamu, masih saja kelihatan masih tegak keras seperti mau nambah lagi.." kata Ci Jeny. "Lo mau Jen? Biar gw pindah ke depan.." jawab Ci Vero sambil memakai pakaianya. "Hemm, pengen sihh.. Tapi kapan-kapan saja nyobain di mobilnya ya Din.." kata Ci Jeny sambil tersenyum. "Iya pasti Ci.. Ya sudah, nanti di rest area depan berhenti dulu biar saya yang bawa mobilnya.." kataku. "Gak apa-apa Din kalau kamu masih capek.." jawab Ci Lina. "Saya capek kalau saya di dalam mobil nyetir sendiri tanpa ada bidadari yang cantik-cantik ini.." kataku. "Huhh, dasar buaya jago ngegombal.." jawab Ci Jeny. Akhirnya perjalanan ke Jakarta sampai dengan selamat dan antar Ci Lina terlebih dahulu. Satu hal yang membuat aku senang, sebelum masuk rumah Ci Lina ngomong ke aku. "Din.. Jujur aku bisa merasakan seneng perjalanan kemarin karena ada kamu. Sebagai bonus buat kamu, kasih tau Ci Vero, besok dokumen revisinya aku suruh antar ke kantor.." kata Ci Lina yang membuat aku hampir tak percaya. "Kamu ga usah pura-pura, aku sebenarnya sudah menebak misi kalian. Tetapi sekali lagi karena kamu bisa bikin aku nyaman dan kamu sudah beberapa kali melindungi aku tanpa memikirkan keselamatan diri kamu, anggap saja itu sebagai ucapan terima kasih untuk kamu.." kata Ci Lina sembari mencium dan memeluku. "Terima kasih Ci.. Dan di lain itu, kalau memang Ci Lina memerlukan saya, kapanpun saya siap. Ya sudah, saya pamit.." kataku. Apa yang disampaikan Ci Lina tadi aku katakan ke Ci Vero dan Ci Jeny. Aku lihat respon mereka sangat senang sekali, bahkan Ci Vero langsung memeluk dan mencium pipiku. "Hebat kamu Din.. Terima kasih kamu sudah bisa berhasil membuat Lina merevisi dokumen itu. Nanti kamu ikutkan Kemalang, ada satu lagi yang akan aku minta pertolongan sama kamu. Tapi besok saja di kantor aku ceritakan." Seperti biasa aku datang ke kantor pagi ini. Aku lihat mobil Ci Vero sudah ada, dan sepertinya Ci Jeny sama Ko Ahan. Hem, ga bisa manja-manjaan urusannya, kataku dalam hati. "Pagi Pak Dino.." langsung disuruh ke dalam kata Rini. "Ya pagi Mbak.." jawabku, langsung ke dalam. Aku ketok pintu ruangan Ci Jeny. "Ya, masuk.. Siapa?" terdengar suara Ci Vero yang menjawab. Ketika aku masuk, Ci Vero langsung tersenyum sambil memberi kode dengan telunjuk jarinya, kalau ada suaminya Ci Jeny. "Pagi Din.. Hari ini kamu ga usah ke lapangan, nanti kamu antar aku saja.." kata Ci Vero. "Iya Ci.. Nanti saya telepon ke gudang.." jawabku. Baru aku duduk, dari dalam Ci Jeny keluar dan menghampiriku. "Pagi Din.. Gimana, capek ga hari inii.." katanya sambil melihat ke dalam, dan tiba-tiba langsung memeluku dan mencium pipiku dan langsung melepaskan sambil tersenyum menggoda. Aku dan Ci Vero sampai kaget melihat sikap Ci Jeny. "Jen.. Jangan gila ya.." kata Ci Vero pelan. "Hehehe.. Biar Dino semangat aja, lagian Ko Ahan lagi serius main HP. Sini Din, kita di dalam saja.." kata Ci Jeny. Ketika aku masuk ke dalam, aku lihat Ko Ahan masih asyik main HP. "Pih.. Tuh si Dino, katanya tadi mau ngomong.." kata Ci Jeny. "Bentar Din.. Duduk dulu, bentar lagi selesai.." kata Ko Ahan. "Ci, rencana Kemalang nanti jadi?" tanyaku ke Ci Jeny. "Jadilah.. Kita berangkat hari Kamis pagi.." jawabnya sambil melihatku. Aku mau godain Ci Jeny, pengen tau reaksinya kalau ada suaminya. "Hemm.. Bingung saya, bisa ikut ga ya.." kataku. "Ga ada alasan kamu harus ikut, kemarin bilang juga sudah mau. Iya kan Ci.." kata Ci Jeny sambil melihat ke arahku, melotot sambil ngepalin tangannya ke arahku. "Yahh.. Tapi saya ada urusan mendadak soalnya.." jawabku masih pengen lihat reaksinya. Tiba-tiba Ci Jeny berjalan keluar ruangan tanpa bicara apa-apa, baru setelah di ruangan depan. "Din, tolong bantu beresin ini sebentar.." panggilnya. Hemm.. Kayaknya marah juga nih Ci Jeny sama aku, dari nada bicaranya agak lain. Aku segera menyusul ke ruangan depan, dan begitu aku sampai, tanpa bicara Ci Jeny langsung memeluku dan mendorong ke arah pintu supaya tertutup. Belum hilang rasa kegetku bibirnya, langsung mencium bibirku. Beberapa saat kita saling melumat.. Entah bagaimana perasaannya saat itu. "Din.. Aku tau kamu tadi cuma menggoda aku kan.. Sekarang ini balasannya.." kata Ci Jeny meremas kemaluanku. "Aduhhh Ci, sakit.." teriaku lumayan kencang. "Pelan-pelan dong kalau angkat, biar ga ke jepit meja.." katanya sengaja dikeraskan suaranya sambil berbisik. "Kamu jangan teriak, kedengaran ke sebelah, gregetan aku sama kamu. Awas ya.. Nanti aku balas." "Hehehe.. Ci, kalau begini kelihatan cantik dan nafsu-in banget," kataku. "Dasar Dino tukang ngegombal dan mesum.." katanya sambil kembali mencium aku. "Ayo kembali ke dalam.." kata Ci Jeny, mendahului aku. Setelah kembali ke dalam, Ko Ahan sudah selesai main HP. "Emangnya ngangkat apaan seh, berisik banget.." tanya Ko Ahan. "Itu aku suruh naikin dokumen ke rak atas, pas turun ga sengaja kakinya kepentok bangku.." jawab Ci Jeny. Aku hanya tersenyum di saat Ci Jeny melihat ke arahku sambil meletin lidahnya. "Din.. Gw denger lo jago bela diri?" kata Ko Ahan. "Ahh.. Cuma bisa sedikit Koh.." jawabku. "Kamu ini suka merendah, sudah berapa kali kamu nolongin aku sama Cici.." kata Ci Jeny. "Iya Han.. Sudah kayak di film, waktu berantem dan bikin babak belur preman.." sahut Ci Vero. "Jadi begini Din, mulai sekarang tugas utama kamu kawal Ci Vero sama Ci Jeny. Masalah kerjaan di lapangan bisa seminggu sekali kamu kontrol.." kata Ko Ahan. Sebenarnya aku tidak diminta sama Ko Ahan tiap hari selalu nemenin mereka. Tapi dengan begini lebih leluasa, yang terpenting kerjaanku tetap beres. "Siap Bos.. Kalau memang harus begitu, nanti biar saya atur sama orang di lapangan." "Kamu sudah dikasih tau juga kan, nanti ikut Kemalang?" tanya Ko Ahan. "Sudah Koh.. Saya juga sudah bicarakan sama yang di rumah.." jawabku. "Ya sudah.. Nanti kalau kurang jelas tanya sama Ci saja.." kata Ko Ahan. Aku sekarang benar-benar merasakan sudah berada dalam lingkup keluarga bos. Aku tidak mengira perubahannya bisa sampai seperti ini. "Din.. Kamu antar aku sekarang ya.." kata Ci Vero. "Han.. Gw mau keluar, paling sampai jam 2.." kata Ci Vero ke Ko Ahan. "Pih.. Aku ikut Cici ya, itu mau ngurus masalah Hilda.." tiba-tiba Ci Jeny ngomong sama Ko Ahan. "Ya sudah sana.. Nanti baliknya bawa makan sekalian.." jawab Ko Ahan. Akhirnya kita bertiga jalan keluar dari kantor. Entah kemana tujuannya, aku sendiri belum tau. "Ci, kan ada Ko Ahan.. Bukannya nemenin?" kataku sambil melihat Ci Jeny yang duduk di sebelahku. "Iya nih.. Kayaknya takut banget Dino jalan sama aku, Din.." sahut Ci Vero. "Emangnya go boleh, hemm.." jawab Ci Jeny sambil mencubit lenganku. "Aduhhh.. Ampun Ci, mainnya cubit nih sekarang.." kataku. "Hemm.. Maunya main di mobil," katanya, melihat ke arahku sambil manyunin bibirnya, sehingga terlihat lucu tapi cantik. "Ci, kita mau kemana?" tanyaku ke Ci Vero. "Ke kampusnya Hilda Din.. Oh iya, kemaren aku bilang kamu kalau mau kasih tugas baru. Semoga saja kamu bisa.." kata Ci Vero. Belum sempat aku tanya lagi, Ci Jeny sudah memotong pembicaraanku sama Ci Vero. "Gini Din.. Hilda semenjak kuliah, perilakunya berubah drastis. Uang yang selalu dikasih yang biasanya buat sebulan, sekarang seminggu saja sudah habis, dan belum lama Cici nemuin semacam narkoba dan kondom di dalam tasnya. Pasti terpengaruh, entah temennya atau cowoknya.." kata Ci Jeny. Setahuku Hilda anaknya pendiam tapi judes dan sombong, usianya paling sekitar 19 tahun. Anaknya cantik, tinggi, dan penampilannya selalu modis. Aku pernah sekali waktu ngantar dia pulang ke rumah. "Jadi tugas saya gimana Ci?" tanyaku. "Kamu harus masuk dalam kehidupan dia.. Nanti aku atur, biar aku bilang kamu sementara jadi sopirnya dia sekaligus pengawalnya.." kata Ci Vero. "Baiklah kalau memang harus begitu, semoga saja saya bisa.." jawabku. "Aku percaya sama kamu Din, tolong, sebelum semuanya terlambat.." kata Ci Vero. Dalam perjalanan semuanya dijelaskan sama Ci Vero, apa yang menjadi kebiasaannya, yang disukai maupun yang tidak disukai sama Hilda. Setelah menunggu beberapa saat di kampus, Hilda datang bersama temennya, cowok yang menurut Ci Jeny itu cowoknya. "Mami sudah lama nunggunya?" tanya Hilda ke Ci Vero. "Sekitar 15 menit. Ya sudah kita pulang, apa kamu mau kemana, biar sekalian kita anterin kamu.." jawab Ci Vero. "Aku pengen jalan seh, Mam, sama Alex.." kata Hilda. "Mami sudah jemput kamu, lain kali saja.." kata Ci Vero. "Terserah mamih aja.." jawabnya sambil menunjukkan wajahnya yang kurang suka. Wah.. Sekarang Hilda bener-bener cantik banget, energik, sudah seperti model. Tetapi sorot matanya menandakan cewek yang keras kepala dan sombong. Wajar saja, karena anak orang kaya dan selalu dimanjakan. Aku sampai tidak berani untuk menatap matanya. Tetapi aku harus bisa menaklukkan dia, dan itu tugas yang harus aku jalankan.
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 17
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal